semuanya

Social Icons

Social Icons

Cari Blog Ini

Memuat...

Featured Posts

Rabu, 27 Juni 2012

MODEL PENGAJARAN LANGSUNG

  1. RUANG LINGKUP PENGAJARAN LANGSUNG
1.      Istilah dan Pengertian
Meski tidak ada sinoniim dan resitasi yang berhubungan erat dengan Model Pengajaran Langsung (MPL), tetapi istilah model pengajaran langsung sering disebut juga dengan Model Pengajaran Aktif.
Pengajaran langsung adalah suatu model pengajaran yang bersifat teacher  center. Menurut Arends (1997), model pengajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaita dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur denan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Selain itu model pembelajaran langsung ditunjukan pula untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memproleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.
Cirri-ciri model pengajara lanmgsung (dalam kardi & Nur, 2000 : 3 adalah sebagai berikut :
1)                  Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar
2)                  Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran dan
3)                  Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil
Selain itu, juga dalam pengajaran langsung harus memenuhi suatu persyaratan, yaitu ada alat yang akandidemonstrasikan dan harus mengikuti tingkah laku mengajar (sintaks)
2.      Tujuan Belajar dan Hasil Belajar Siswa
Para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam pengetahuan, yakni pengetahuan deklaratif (dapat diungkapkan dengan prosedural) adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan procedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.suatu contoh pengetahuan deklaratif misalnya konsep tekanan, yaitu hasil bagi antara gaya (F) dan luas bidang benda yang dikenai gaya (A). jadi dapat ditulis secara matematis p = F/A. pengetahuan procedural yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif diatas adalah bagaimana memproleh rumus dan persamaantentang konsep takanan tersebut.
Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang studi, matematika, fisika dan kimia merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana atau informasi faktual, yaitu pengetahuan deklaratif sederhana yang diperoleh seseorang, namun dapat digunakan. Berbeda dengan informasi faktual , pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya memerlukan penggunaan pengetahuan dengan cara tertentu, misalnya membandingkan dua rancangan penlitian, menilai hasil karya seni. Sering kali penggunaan pengetahuan proudural memerlukan penguasaan pengetahuan deklaratif. Para guru selalu menghendaki agar siswa-siswa memproleh kedua macam pengetahuan tersebut, supaya mereka dapat melakukan segala sesuatu dengan berhasil.

3.      Sintks atau Pola Keseluruhan dan Alur Kegiatan Pembelajaran
Pada model pengajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pengajaran dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru.
Pengajaran langsung menurut kardi (1997 : 3), dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan  atau praktik dan kerja kelompok. Pengajaran langsung digunakan langsung untuk menyampaikan pelajaran yang telah ditarnspormasikan langbsung oleh guru kepada siswa. Penyusun waktu yang duguanakan untuk mencapai tujuan pembelajran harus seefesien mungkin, sehingga guru dapat merancang tepat waktu yang digunakan.
Sintaks model pengajaran langsung tersebut disajikan dalam 5 tahap, seperti :





Sintaks Model Pengajaran Langsung

Fase
`Peran Guru
Fase 1
Mendemonstrasikan tujuan dan mempersiakan siswa
Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pemtingnya pelajaran, mempersiapkan untuk belajar.
Fase 2
Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Guru mendemontrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap
Fase 3
Membimbinmg pelatihan
Guru merencanakan dan memberi bimnbingan pelatihan awal
Fase 4
Mengecek pemahaman dan memberikan pemahaman umpan balik
Mencetak apakah siswa telah berhasil malakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.
Fase 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Guru mempersiapkan kesempatan melkukan pelatiha lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

Pada fase persiapan, guru memotivasi siswa agar siap menerima presentasi materi pelajaran yang dilaklukan melalui demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pengajaran diakhiri dengan pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihandan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa, pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan pada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajri ke dalam situasi kehidupan nyata.



4.      Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Pengajaran langsung memerlukan prencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif, pengajaran langsungmensyaratkan tiap detail  keterampilan atau isi didefinisikan secar seksama dan demonstrasi serta jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secaara seksama (kardi dan Nur, 2000 : 8).
Menurut kardi dan Nur (2000 :8-9), meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini tertama berpusat pada guru. Sistem pengelolaan yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memerhatikan, mendengarkan dan resitasi (tanya jawab). Pembelajaran                                                                                                                                                                 yang terencana. Ini tidak berati bahwa pembelajaran bersifat otoriter, dingin dan tanpa humor. Ini berati bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.

5.      Penelitian tentang Keefektifan Guru
Landasan penelitian dari model pengajaran langsung dan berbagai komponennya, bersal dari bermacam-macam bidang. Meskipun demikian, data penunjang empiriks yang paling jelas terhadap model pengajaran langsung berasal dari penelitian tentang keefektifan guru yang dilakuakan pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Penelitian Stalling dan Kaskowitz (dalam Arends, 2001 : 267) menunjukkan pentingnya waktu yang dialokasikan pada tugas (time on task). Penelitian ini juga menyumbanag dukungan empiriks penggunaan pengajaran langsung. Beberapa orang guru menggunakan metode-metode yang sangat terstruktur dan formal, sedangkan guru-guru yang lain menggunakan metode-metode yang informal. Stalling dan kolegannya ingin mengungkapkan, manakah diantara program-program itu yang dapat berfungsi baik dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Prilaku guru dalam 166kelas diamati, siswa-siswa di tes. Banayk hal yang dapat diungkap alokasi waktu dan penggunaan tugas yang menggunakan model poengajaran langsung lebih berhasil dan memproleh tingkat keterllibatan yang tinggi daripada mereka yang menggunakan metode-metode informal dan berpusat pada siswa.

  1. PELAKSANAAN PENGAJARAN LANGSUNG
Sebagaimana halnya setiap mengajar, pelaksanaan yang baik model pengajaran langsung memerlukan tindakan-tindakan yang keputusan-keputusan yang jelas dari guru selama berlangsungnya perencanaan, pada saat melaksanaan pembelajaran, dan waktu menilai hasilnya. Beberapa diantara tindakan-tindakan tersebut dapay di jumpai pada model-model pengajaran yang lain, langkah-langkah atau tindakan tertentu merupakan ciri khusus pengajaran langsung. Ciri utama unik yang terlihat dalam melaksanakan suatu pengajaran langsung adalah sebagai berikut :
1.      Tugas-tugas Perencanaan
Pengajaran langsung dapat diterapkan di bidang study apapun, namun model ini paling sesuai untuk  mata pelajaran yang berorientasi pada penampilan atau kinerja seperti menulis, membaca, matematika, musik dan pendidikan jasmani. Di samping itu pengajaran langsung juga cocok untuk mengajarkan komponen-komponen keterampilan dari mata pelajaran sejarah dan sains.
a.       Merumuskan Tujuan
Untuk merumuskan tujuan pembelajaran dapat digunakan model Mager dalam Kardi  dan Nur (2000 : 18), Mager mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran khusus harus sangat spesifik. Tujuan yang di tulis dalam format Mager di kenal sebagai tujuan prilaku dan terdiri dari tiga bagian :
1)      Perilaku siswa, apa yang akan dilakukan siswa/jemis-jemis perilaku siswa yang diharapkan guru untuk dilakukan sebagai bukti bahwa tujuan itu telah tercapai.
2)      Situasi Pengetesan, di bawah kondisi tertentu perilaku itu akan teramati atau di harapkan terjadi
3)      Kriteria Kinerja, di tetapkan standar atau  tingkat kinerja sebagai standar atau tingkat kinerja yang dapat diamati.
Singkatnya, menurut Mager tujuan yang baik perlu berorientasi pada siswa dan spesifik, mengandung uraian yang jelas tenteng situasi penilaian (kondisi evaluasi), dan mengandung tingakat ketercapaian kinerja yang di harapkan (kriteria keberhasilan).
b.      Memilih Isi
Kebanyakan guru pemula meskipun telah beberapa tahun mengajar, tidak dapat mengharapkan akan menguasai sepenuhnya materi pelajaran yang di ajarkan. Bagi mereka yang masih dalam proses menguasai sepenuhnya m,ateri ajar, disarankan agar dalam memilih materi ajar mengacu pada GBPP kurikulum yang berlaku dan buku ajar tertentu (Kardi dan Nur, 2000 : 20).
c.       Melakukan Analisis Tugas
Analisis tugas adalah alat yang digunakan oleh guru untuk mengidentifikasi dengan presisi yang tinggi hakikat yang setepatnya dari suatu keterampilan atau butir pengetahuan terstruktur dengan baik, yang akan di ajarkan oleh guru. Ide yang melatar belakangi analisis tugas ialah bahwa informasi atau keterampilanyang kompleks tidak dapat dipelajari semuanya dalan kurun waktu tertentu. Untuk mengembangkan pemahaman yang mudah dan pada akhirnya penguasaan, keterampilan dan pengertian kompleks itu lebih dahulu harus di bagi menjadai komponen bagian, sehingga dapat diajarkan berurutan dan logis dan tap demi tahap (Kardi  dan Nur, 2000 : 23).
d.      Merencanakan Waktu dan Ruang
Pada pengajaran langsung, merencanakan dan mengelola waktu merupakan kegiatan yang sangat penting. Ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh guru yaitu memastikan bahwa waktu yang telah disediakan sepadan dengan bakat dan kemampuan siswa dan memotivasi siswa agar mereka tetap melakukan tugas-tugasnya denga perhatia yang optimal, mengenal dengan baik siswa-siswa yang akan di ajar, sangat bermanfaat untuk menentukan alokasi waktu pembelajaran. Merencanakan dan mengelola ruang untuk pengajaran langsung juga sama pentingnya.


2.      Langkah-langkah Pembelajaran Model Pengajaran Langsung
Langkah-langkah pengajaran model pengajaran langsung pada dasarnya mengikuti pola-pola pembelajaran secara umun. Menurut Kardi dan Nur (2000 : 27-43), langkah-langkah pengajaran langsung meliputi tahapan sebgai berikut :
a.       Menyampaikan Tujuan dan Menyiapkan Siswa
Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pelajaran itu.
b.      Menyampaikan Tujuan
Siswa perlu mengetahui dengan jelas, mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pembelajaran tertentu, dan mereka perlu mengethui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran itu. Pemyampaian tujuan kepada siswa dapat dilakukan guru melalui rangkuman rencana pembelajaran denga cara menuliskannya di papan tulis atau menempelkan informasi tertulis pada papan bulletin, yang berisi tahap-tahap dan isinya, serta alokasi waktu yang disediakan untuk setiap tahap.
c.       Menyiapkan Siswa
Kegiatan inti bertujuqan untuk menarik perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang akan dimiliklinya yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari.
d.      Presentrasi dan Demonstrasi
Fase kedua pengajaran langsung adalah melakukan persentasi atau demontrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci untuk berhasil ialah mempersentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif.
e.       Mencapai Kejelasan
Hasil-hasil penelitian secara konisten menunjukan bahwa kemampuan guru untuk memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, mempunyai dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. Sementara itu, para peneliti dan pengamat terhadap guru pemula dan sebelun berpengalaman menemukan banyak penjelasan yang kabur dan membingungkan. Hal ini pada umunya terjadi pada saat guru tidak menguasai sepenuhnya pokok isi bahasan yang dikerjakannya, dan tidak menguasai tekhnik komunikasi yang jelas.

f.        Melakukan Demonstrasi
Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi, bahwa sebagian besar yang dipelajari (hasil belajar) berasal dari mengamati orang lain. Belajar dengan meniru tingkah laku orang lain dapat menghemat waktu, menghindari siswa dari belajar melalui “trial and eror”
Agar dapat mendemonstrasikan suatu konsep atau keterampilan dengan berhasil, guru perlu dengan sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasio untuk menguasai komponen-komponennya.
g.       Mencapai Pemahaman dan Penguasaan
Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memerhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demonstrasi ini berarti, bahwa jika guru menghendaki agar siswa-siswanya dapat melakukan sesuatu yang benar, guru perlu berupaya agar segala sesuatu yang didemonstrasikan juga benar, banyak contoh yang menunjukan, bahwa anak/siswa bertingkah laku denga tidak benar karena mencontoh tingkah laku orang lain yang tidak benar.
h.       Berlatih      
Agar dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latiahan yang intensif dan memerhatikan asfek-asfek penting dari keterampilan atau konsep yang didemonstrasikan.
i.         Memberikan Latihan terbimbing
Salah satu tahap penting dalam pengajaran langsung adalah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan pelatihan terbimbing. Keterlibatan siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar langsung dengan lancar, dan memungkinkan siswqa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang baru.
Menurut Kardi dan Nur (2000 : 35-36), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menerapkan da melakukan pelatihan, yaitu :
1)         Menugasi siswa melakukan latiha singkat dan bermakna
2)         Memberikan pelatihan pada siswa sampai benar-benar menguasai konsep/ketrempilan yang dipelajari
3)        Hati-hati terhadap latihan yang berkelanjutan, pelatihan yang dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa
4)        Memerhattkan tahap-tahap awal pelatihan yang mungkin saja siswa melakukan keterampilan yang kurang benar atau bahkan salah tanpa di sadari.
j.        Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Tahap ini kadang-kadang disebut juga dengan tahap resitasi, yaitu huru memberikan beberapa pertanyaan lisan taupun tertuliskepada siswa dan guru memberikan respon terhadap jawaban siswa. Kegiatan ini merupakan aspek penting dalam pengajaran langsung, karena tanpa mengetahui hasilnya latiahan tidak mempunyai manfaat bagi siswa. Guru dapat menggunakan berbagai cara untuk memberikan unpan balik, sebagai mana umpan balik secar lisan, tes, dan kompoter tertulis, tanpa umpan balik spesifik, siswa tak mungkin dapt memperbaiki kekurangannya, dan tidak dapat mencapai tingkat penguasaan keterampilan yang mantap.
Menurut Kardi dan Nur (2000 : 38-42), untuk memberikan umpan balik yang efektif kepda siswa yang jumlahnya banyak dapat digunakan beberapa pedoman yang patut dipertimbangkan, sebagai berikut :
1)         Memberikan unpan balik sesegera mungkin setelah latihan
2)        Mengupayakan agar umpan balik jelas dan spesifik mungkin agar dapat membantu siswa dalam keterampilan.
3)        Umpan balik ditujukan langsung pada tingkah laku dan bukan pada maksud yang tersirat dalam tingkah laku tersebut.
4)        Menjaga umpan balik sesuai dengan tahap pengembangan siswa
5)        Memberikan pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar.
6)        Apabila memberi umpan balik yang negatif, tunjukan bagaiman melakkukan dengan benar.
7)        Membantu siswa memusatkan perhatiannya pada proses bukan pada hasil.
8)        Mengajari siswa cara memberi umpan balik kepada dirinya sendiri, dan bagaiman menilai keberhasilan kinerjanya sendiri. Belajar bagaimana menilai keberhasilan sendiri dan memberikan umpan balik kepada dirinya sendiri merupakan hal pentiang yang perlu dipelajari oleh siswa.
k.      Memberikan kesempatan latihan mandiri
Pada tahap ini, guru memberikan tugas kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang barusaja diperoleh secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan oleh siswa secara pribadi yang dilakukan di rumah atau di luar jam pelajaran. Menurut Kardi dan Nur (2000 : 42-43), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memberikan tugas mandiri yaitu :
ü   Tugas rumah yang diberikan bukan merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran, tetapi merupakan kelnjutan dari pelatihan untuk pembelajaran berikutnya.
ü   Guru seyogianya mengimformasikan kepada orang tua siswa tentang tingkat keterlibatan mereka dalam membimbing siswa di rumah
ü   Guru perlu memberikan umpan balik tentang hasil tugas yang dibeikan kepada siswa di rumah

3.      Strategi Pembelajaran Modeling
Satu ciri dalam pembelajaran langsung adalah diterapkan strayegi modeling. Strategi modeling adalah strategi yang dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa seseorang dapat belajar melalui pemgamatan prilaku orang lain. Strategi belajar modeling berangkat dari teori belajar sosial, yang juga disebut belajar melalui observasi atau menurut Arends disebut juga dengan teori pemodelan tingkah laku (Kardi dan Nur, 2000 : 11).

Berbeda dengan para pakar psikologi tingkah laku murni, para pakar teori pemodelan tingkah laku percaya, bahwa sesuatu tiu telah dipelajari apabila pengamat memerhatikan dengan sadar bahwa tingkah laku, dan kemudian menyimpan di dalam ingatan jangka panjang. Prilaku demikian dapat dituangkan kembali dalam perbuatan serupa oleh si pengamat.
Menurut Bandura (1986) ada empat elemen penting yang perlu diperhatiakan dalam pembelajaran melalui pengamatan. Keempat elemen itu adalah perhatian (atensi, mengulang (retensi), mengolah (produksi), dan motivasi.
Ada dua alasan yang mendasari mengapa di terapkan strategi modeling dalam suatu pembelajaran. Alasan pertama adalah utuk mengubah prilaku baru peserta didik melalui  model pengamatan pembelajaran yang dilatihkan adalah perlu. Dengan melalui pengamatan guru (model) yang dilakukan kegiatan semisal demonstrasi atau eksprimen, maka peserta didik dapat meniru prilaku atau langkah-langkah yang di modelkan atau terampil melakukan kegiatan seperti yang dimodelkan. Alasan yang kedua adalah mendorong prilaku peserta didik tentang apa yang dipelajari, memperkukat atau memperlemah hambatan.
Teori pembelajaran sosial memberikan penjelasan tentang peran paengamatan dalam pebelajaran. Teiri ini menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran prilaku dan penekanannya pada proses mental internal. Teoru pembelajaran sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura, seperti yang dikutip oleh kardi dan Nur (2000 : 11) menyatakan bahwa “ sebagian besar manusia belajar memlalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain.” Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan (modeling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah penting pelatihan pada peserta didik dalam melatihkan keterampilan proses.
Langkah modeling menurut Bandura terdiri dari fase atensi, fase retensi, fase produksi dan fase motivasi yang dalam pelatihan dilksanakan sebagai berikut :
Fase atensi : (1) guru (model) memberi contoh kegiatan tertentu (demonstrasi) di depan siswa sesuai dengan skenario`yang telah di sepakati. Peseta didik melakukan observasi terhadap keterampilan guru dalam melakukan kegiatan tersebut menggunakan lembar observasi yang telah disediakan, (2) guru bersama-sama peserta didik mendiskusikan hasil pengamatan yang dilakukan. Tujuan diskusi ini adalah untuk mencari kekurangan dan kesulitan peserta didik dalam mengamati langkah-lanngkah kegiatan yang disampaikan oleh guru dan untuk melatih peserta didik dalam meggunakan lembar observasi.
Fase Retensi : (1) diisi dengan kegiatan guru menjelaskan struktur langkah-langkah kegiatannya (demonstrasi) yang telah diam,ati oleh pesrta didik, untuk menunjukan langkah-langkah tertentu yang telah disajikan.
Fase Produksi, pada peserta ini peserta didik ditugasi utuk menyiapkan langkah-langkah kegiatannya  (demonstrasi) sendiri sesuai dengan langkah-langkah yang telah dicontohkan, hanya dari sudut yang berbeda. Selanjutnya, hasil kegiatan yang disajikan dalam bentuk diskusi kelas yang dilakukan secara bergiliran. Guru dan peserta diskusi akan memberikan refleksi pada saat diskkusi sesudah KBM berlangsung. Hal ini dilakukan bergabtian terhadap kelompok yang lain.
Fase motivasi berupa persentasi hasil kegiatan atau simpulan dan kegiatan diskusi. Pada saat diskkusi kelompok lain deberi kesempatan untuk menyampaikan hasil pengamatannya.
Akhirnya guru da peserta didik kan emnyimpulkan hasil kegiata serta overview untuk memberikan justifikasi hasil kegiatan yang telah dilakukan.
DAFTAR PUSTKA

Ibrahim,  M.,  Rachmadiarti, F.,  dan  Ismono.2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universsitas Press.
Ismail. 2003. Model-model Pembelajaran. Jakarta : Dit. Pendidikan Lanjutan Pertama.
Hasibuan, J.  J.  dan Moedjiono.  Proses belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Trianto.  2007.  Model Pembelajaran Terpadu (Integrate Model) dalam teori Praktik. Prestasi Pustaka: Jakarta.
Wiryawan, S.  A.,  dan Noorhadi.  1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Universitas Terbuka.

0 komentar:

Poskan Komentar