Kamis, 18 Agustus 2011

MODEL PEMBALAJARAN KOOPERATIF



A .  Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Menurut Muhainin pembelajaran adalah usaha membelajarkan siswa untuk belajar. Kegiatan pembelajaran akan melibatka siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien.
Menurut Slameto strategi adalah suatu rencana tentang pendayagunaan dan penggunaan potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengajaran.
Rusiyan (1992) berpendapat, bahwa strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang ditentukan. Hal senada juga dikemukakan oleh Djamarah (2002), bahwa secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis – garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan, (Yatim riyanto,2010 : 131). Salah satu strategi pembelajaran adalah pembelajaran kelompok (kooperatif learning).
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akedemik (academic skill), sekaliigus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill.
Kategori tujuan dalam pembelajran kooperatif :
a.    Individual : keberhasilan seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri tidak dipengaruhi orang lain.
b.   Komfetitif : keberhasilan seseoarang dicapai karena kegagalan orang lain (ada ketergantungan negatif).
c.    Kooperatif : keberhasilan seseorang karena keberhasilan orang lain, orang tidak dapat mencapai keberhasilan dengan sendirian.
Langkah – langkah umum pembelajaran kooperatif 
a.  Berikan informasi dan sampaikan tujuan serta skenario pembelajaran.
b. Organisasikan siswa dalam kelompok kooperatif.
c.  Bimbing siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran.
d. Evaluasi
e.  Berikan penghargaan.
B . Jenis – jenis pembelajaran kooperatif
  Ada beberapa model atau jenis pembelajaran kooperatif diantaranya yaitu : Student Team Achievemen Division (STAD); Jigsaw;Group Investigation (GI);Rotating Trio Exchange;Group Resume; dan Team Game Tournament (TGT).
Dari beberapa model pembelajaran tersebut, model yang digunakan untuk mengetes kemampuan siswa yang homogen adalah model pembelajaran kooperatif model JIGSAW.


1.      Pembelajaran Kooperatif  Tipe Jigsaw
Metode pengajaran jigsaw dikembangkan oleh Eliot Aronson dan kawan- kawannya. Dalam metode jigsaw, para siswa bekerja dalam tim yang heterogen , seperti dalam STAD dan TGT. Para siswa diberikan tugas yang berbeda dan diberikan “lembar ahli” yang terdiri atas tugas- tugas yang berbeda yang harus menjadi fokus perhatian masing masing anggota tim saat mereka mengerjakan tugas. Siswa- siswa dari tim yang berbeda yang mempunyai fokus tugas yang sama bertemu dalam “kelompok ahli” untuk mendiskusikan tugas mereka sekitar tiga puluh menit. Para ahli tersebut kemudian kembali kepada tim mereka dan secara bergantian mengajari teman satu timnya mengenai tugas yang mereka selesaikan. Yang terakhir adalah para siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topik, (Robert E. Slavin, 2009 : 236)
Langkah- langkah pembelajaran Kooperatif  tipe Jigsaw sebagai berikut :
1.      Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota kelompok minimal 4 atau 5 orang.
2.      Tiap anggota kelompok diberi tugas yang berbeda.
3.      Tiap anggota dalam tim mempelajari tugas yang diberikan.
4.      Anggota dari tim yang berbeda yang mempunyai tugas yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan tugas mereka.
5.      Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang tugas yang mereka kuasai.
6.      Tiap Tim ahli mempersentasikan hasil diskusi.
7.      Guru memberi evaluasi.
8.      Penutup.
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam Tipe Jigsaw adalah sebagai berikut :
1.      Menggunakan strategi tutor sebaya.
2.      Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok ASAL dan kelompok AHLI.
3.      Dalam kelompok ahli siswa belajar secara kooperatif untuk menyelesaikan tugas yang sama sampai mereka menjadi ahli.
4.      Dalam kelompok asal siswa saling mengajarkan keahlian masing- masing.
Gambar 1
                              Bagan Pelaksanaan Jigsaw   




&     $        @

&     $    @

&     $    @





&    &    &

$     $      $

@   @   @




&     $    @

&     $    @

&     $    @
Keterangan :  A Klasikal       B Kelompok Asal       C  Kelompok Ahli
(Yatim Riyanto, 2009 : 271)
2.      Tipe STAD ( student Team achihievement divisions)
Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.


Langkah – langkah :
n      Guru menyampaikan materi
n      Siswa membetuk kelompok untuk menyelesakan masalah
n      Menyerahkan/mempresentasikan hasil kerja kelompok
n      Memberi tes/kuis
n      Memberikan penghargaan kelompok

Student Team Achievment Divisions (STAD)
(tim Siswa Kelompok Prestasi)
1.membentuk kelompok yang anggotanya =4 orang secara heterogen (campuran menurut jenis kelamin,prestasi,suku,dll)
2.guru menyajikan pelajaran
3.guru member tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok,anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain sampai semua anggota kelompok itu mengerti.
4.guru member kuis atau pertanyaan kepada seluruh siswa,pada saat menjawab kuis tidak boleh salang membantu.
5.memberi evaluasi
6.kesimpulan

3.      TIPE GI
A . Pengertian
Group Investigation adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills).
Para siswa melilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan dalam suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. (Arends, 1997 : 120-121)
Para guru yang menggunakan metode GI umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.
Peran guru dalam group investigation adalah sebagai pembimbing, konsultan, dan memberi kritik yang membangun. Guru harus membimbing dan memilah pengalaman kelompok menjadi tiga tingkat. Pertama, tingkat problem-solving atau tugas (apa yang menjadi masalah utama? Faktor apa saja yang terlibat?). Kedua, tingkat manajemen kelompok (informasi apa saja yang kita perlukan). Ketiga, tingkat penafsiran secara individu (bagaimana kita menafsirkan atau mengartikan simpulan yang didapat).
Tujuan atau misi dari metode Group Investigation ini adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam rangka berpartisipasi dalam proses sosial demokratik dengan mengkombinasikan perhatian-perhatian pada kemampuan antar-personal (kelompok) dan kemampuan rasa ingin tau akademis. Aspek-aspek dari pengembangan diri merupakan hasil perkembangan yang utama dari metode ini (Sutikno, 2003: 27)

B.     Langkah-langkah Pembelajaran Group Investigation (GI)
Slavin (dalam Asthika, 2005:24) mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut:
1) Tahap Pengelompokan (Grouping)
Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta membentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini:
1)      siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan
kategori-kategori topik permasalahan.
2) siswa bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, 3) guru membatasi jumlah anggota masing-masing kelompok antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.
Misalnya:
1)      Dalam sub pokok bahasan Ekologi, siswa mengamati gambar fenomena banjir. Kemudian siswa menentukan kategori-kategori topic permasalahan yaitu menentukan sebab akibat dari banjir. Selanjutnya, siswa bergabung pada kelompok-kelompok belajar dan berdiskusi berdasarkan topik yang mereka pilih (dibimbing oleh guru).
2)      Setelah penyampaian topik bahasan yang akan diinvestigasi:
(a) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih topik yang menarik untuk dipilih dan membentuk kelompok berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki,
(b) Guru membatasi anggota kelompok 4 sampai 5 orang dengan cara mengarahkan siswa dan memberikan suatu motivasi kepada siswa supaya bersedia membentuk kelompok baru dan memilih topik.
2) Tahap Perencanaan (Planning)
Tahap Planning atau tahap perencanaan tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang:
(1) Apa yang mereka pelajari?
(2) Bagaimana mereka belajar?
(3) Siapa dan melakukan apa?
(4) Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut?
Misalnya pada topik Bahasan Ekologi, Siswa belajar bagaimana cara mencegah dan mengatasi bencana banjir. Siswa belajar dengan menggali informasi, bekerjasama dan berdiskusi, kemudian siswa membagi tugas untuk memecahkan masalah topik tersebut, mengumpulkan informasi, menyimpulkan hasil investigasi dan mempresentasikan di kelas.
3) Tahap Penyelidikan (Investigation)
Tahap Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut:
1)      siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki
2)      masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok
3)      siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat.
Misalnya: Siswa menemukan cara-cara mencegah dan mengatasi bencana banjir. Kemudian siswa mencoba cara-cara yang ditemukan dari hasil pengumpulan informasi terkait dengan topik bahasan yang diselidiki, dan siswa berdiskusi, mengklarifikasi tiap cara atau langkah dalam pemecahan masalah tentang topik bahasan yang diselidiki.
4) Tahap Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut:
1)      anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proteknya
masing-masing
2)      anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan
bagaimana mempresentasikannya
3)      wakil dari masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas
dalam presentasi investigasi.
Misalnya: Siswa menemukan bahwa sebab dari bencana banjir yaitu membuang smpah sembarangan di sungai, penebangan liar di hutan, dll., Kemudian siswa membagi tugas  sebagai pemimpin, moderator, notulis dalam presentasi investigasi.

5) Tahap Presentasi (Presenting)
Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut:
(1)   penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi
bentuk penyajian
(2)   kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai
pendengar
(3)   pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan
atau tanggapan terhadap topik yang disajikan.
Misalnya: Siswa yang bertugas untuk mewakili kelompok menyajikan hasil atau simpulan dari investigasi yang telah dilaksanakan, kemudian siswa yang tidak sebagai penyaji, mengajukan pertanyaan, saran tentang topik yang disajikan, selanjutnya siswa mencatat topik yang disajikan oleh penyaji.
6) Tahap evaluasi (evaluating)
Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut:
1)      siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman efektifnya
2)      guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan
3)      penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.
Misalnya: Siswa merangkum dan mencatat setiap topik yang disajikan, siswa menggabungkan tiap topik yang diinvestigasi dalam kelompoknya dan kelompok yang lain, kemudian guru mengevaluasi dengan memberikan tes uraian pada akhir siklus.
C.    Ciri khas Pembelajaran Group Investigation (GI)
1.      menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.
2.      para siswa dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok.
3.      Keterlibatan siswa secara aktif dimulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
4.      Peran guru dalam group investigation adalah sebagai pembimbing, konsultan, dan memberi kritik yang membangun.
4.      Tipe  TPS / TSS
A.     Pengertian
Model pembelajaran Think-Pair- Share dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain.
Lie (2002:57) bahwa, “Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
TPS (Think-Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperaif, dari pada penghargaan individual ( Ibrahim dkk : 2000 ).
B.      Karakteristik
Ciri utama pada model pembelajaran kooperatif tipe think pair share adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yaitu langkah think (berpikir secara individual), pair (berpasangan dengan teman sebangku), dan share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)
C.    Keunggulan
a)      memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan
b)     siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah,
c)     siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang
d)     siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar
e)     memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12)
f)       Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
g)     Memperbaiki kehadiran
h)     Angka putus sekolah berkurang
i)        Sikap apatis berkurang
j)        Penerimaan terhadap individu lebih besar
k)      Hasil belajar lebih mendalam
l)        Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
     Ibrahim, dkk. (2000:6)
D.     Kelemahan
Kelemahan metode TPS adalah pembelajaran yang baru diketahui, kemungkinan yang dapat timbul adalah sejumlah siswa bingung, sebagian kehilangan rasa percaya diri, saling mengganggu antar siswa (Ibrahim,2000:18)
1.      Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas.
2.      Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas.
3.      Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang
4.      banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor
5.      lebih sedikit ide yang muncul
6.      jika ada perselisihan,tidak ada penengah
E.      Langkah –Langkah
a.  Tahap pendahuluan
Awal pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap ini, guru juga menjelaskan aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk setiap tahap kegiatan.
b. Tahap think (berpikir secara individual)
Proses think pair share dimulai pada saat guru melakukan demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu (“think time”) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannya, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.
c. Tahap pair (berpasangan dengan teman sebangku)
Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Guru menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan /pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara bersama.
d. Tahap share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)
Pada tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka.
e. Tahap penghargaan
Siswa mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok. Nilai individu berdasarkan hasil jawaban pada tahap think, sedangkan nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap pair dan share, terutama pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap seluruh kelas.
5.      Tipe TGT (team game tournament)
a.      Hakikat Model Cooperative Learning Tipe TGT
   Dari beberapa variasi model pembelajaran kooperatif,yang akan kita bahas kali ini adalah tentang model pembelajaran tipe Teams Games Tournament atau (TGT).
   Menurut Isjoni (2009:83-84),TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan,jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda.Guru menyajikan materi,dan siswa bkerja dalam kelompok mereka masing-masing.Dalam kerja kelompok,guru memberikan LKS kepada setiap kelompok.Tugas yang diberikan dikerjakan secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya.Apabila ada dari anggota kelmpok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan,maka anggota kelompok yang lain akan bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya,sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru.
Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran,maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik.dalam permaianan akademik siswa akan di bagi dalam meja-meja turnamen,dimana setiap meja turnamen terdiri dari sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing-masing.dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama.
Skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor.Skor kelompok di peroleh dengan menjumlahkan skor-skor yang di peroleh setiap anggota suatu kelompok,kemudian dibagi dengan banyaknya anggota kelompok tersebut.Skor kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan tim berupa serifikat dengan mencantumkan predikat tertentu.
Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif  yang mudah diterapkan,melibatkan aktifitas seluruh sisawa tanpa harus ada perbedaan status,melibatkan peran siswa sebagai tutor  sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcment.Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab,kerjasama,persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
b.      Keunggulan Model Cooperative Learning Tipe TGT
Sanjaya (2007:247-248) berpendapat bahwa strategi pembelajaran kooperatif memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut:
1.      Melalui strategi pembelajaran kooperaitf siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru,akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemamapuan berfikir sendiri,menemukan informasi dari sumber,dan belajar dari siswa yang lain.
2.      Sistem pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3.      Strategi pembelajaran kooperaitf dapat membantu anak unutk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4.      Strategi pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5.      Strategi pembelejaran kooperatif merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akdemik sekaligus kemampuan sosial,termasuk membangun harga diri,hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain,mengembangkan keterampilan memanage waktu,dan sikap positif terhadap sekolah.
6.      Melalui strategi pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri,menerima umpan balik.siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan ,karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7.      Strategi pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
Lebih lanjut Ahmadi (2005:91) menyebutkan berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari kerja kelompok,antara lain adalah sebagai berikut :
a.         Dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya potensi berpikir kritis dan analitis siswa secara optimal.
b.         Melatih siswa aktif,kreatif dan kritis dalam menghadapi setiap permasalahan.
c.         Mendorong tumbuhnya sikap demokrasi di kalangan siswa.
d.         Melatih siswa untuk meningkatkan kemampuan saling bertukar pendapat secara objektif,rasional,dan sistematis dalam berargumentasi guna menemukan suatu kebenaran dalam kerjasama antar anggota kelompok.
e.         Mendorong tumbuhnya keberanian mengutarakan pendapat siswa secara terbuka.
f.           Melatih siswa untuk selalu mandiri dalam menghadapi semua masalah.
g.         Melatih kepemimpinan siswa.
h.         Memperluas wawasan siswa melalui kegiatan saling bertukar informasi,pendapat,dan pengalaman antar mereka.
i.           Merupakan wadah yang efektif untuk kegiatan belajar.
     Selain beberapa manfaat ataupun keunggulan kerja kelompok sebagaimana yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut,penggunaan teknik kerja kelompok juga dapat memberikan sebagai keuntungan (Roestiyah,:2001:17) antara lain sebagai berikut :
a)        Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu msalah.
b)        Dapat memberikan kesempatan pada para siswa untuk lebih intensif mengdakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah.
c)        Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan diskusi.
d)        Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhan belajarnya.
e)        Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka,dan mereka lebih aktif berpartisifasi dalam diskusi.
f)          Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai pribadi temannya serta menghargai pendapat orang lain.
      Sedangkan keunggulan dari tipe teams games tournament (TGT) adalah selain dapat memotivasi siswa untuk berperan aktif dan juga menyenangkan dalam proses belajar-mengajar.dalam TGT ini pembelajaran disusun dalam bentuk permainan (games) yang dikemas dalam sebuah turnamen sehingga menjadi sebuah pelajaran koperatif yang mudah diterapkan,melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status,melibatkan siswa sebgai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan tanggung jawab,kerjasama,persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
c.      Langkah-Langkah Model Cooperative Learning Tipe TGT
       Menurut Slavin (2009:166),pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari lima langkah tahapan yaitu : 1) penyajian kelas (class precentation), 2) belajar dalam kelompok (teams), 3) permainan (games), 4) pertandingan (tournament), dan 5) penghargaan kelompok (team recognation),adapun penjelasan dari kelima langkah tahapan tersebut adalah :
(1). Penyajian kelas (class precentation)
                        Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas,biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah,diskusi yang di dampingi guru.Pada saaat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru,karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.Pada tahap ini,selain menyajikan materi,guru menyampaikan tujuan,tugas,atau kegiatan yang dilakukan siswa ,dan memberikan motivasi.
(2). Belajar kelompok (team study)
                        Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang dengan kemampuan akdemik,jenis kelamin,dan ras/suku yang berbeda.setelah guru menginformasikan materi,dan tujuan pembelajaran,kelompok berdiskusi dengan menggunakan LKS.dalam krlompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama,saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.
(3). Permainan (games)
            Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing-masing kelompok yang berbeda.Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi,dimana pertanyaan-pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok.
            Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang di rancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok.kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor.Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu.Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor.
(4). Pertandingan (tournament)
            Turnamen adalah sebuah struktur dimana game berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau akhir unit setelah guru      memberikan presentasi kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan.Dalam turnamen ini setiap siswa dari masing-masing kelompok di tempatkan pada meja-meja turnamen.Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta.dan diusahakan agar tidak ada peserta yann berasal dari kelompok yang sama.
            (5). Penghargaan kelompok (team recognition)
     Pemberian penghargaan (rewards) bedasarkan pada rerata poin yang diperoleh oleh kelompok dari permainan.Lembar penghargaan dicetak dalam kertas.
6.      Tipe TAI  (Team Assited Individualization atau Team Accelerated Instruction)
A.     Pengertian TAI
TAI yaitu Team Assited Individualization atau Team Accelerated Instruction merupakan pembelajaran yang memberikan bantuan secara individu kepada kelompok belajar siswa yang mempunyai permasalahan dalam kegiatan pembelajaran 
Model pembelajaran TAI termasuk dalam pembelajaran kooperatif.Dalam pembelajaran TAI,siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil (4-5 siswa) yang heterogen untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiapkan oleh guru,selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siwa yang memerlikannya.Keheterogenan kelompok mencakup jenis kelamin,ras,agama(kalau mungkin) dan tingkat kemampuan (tinggi,sedang,rendah).
Setiap siswa belajar pada aspek khusus pembelajaran secara individual.Anggota tim menggunakan lembar jawab yang digunakan untuk saling memeriksa jawaban teman se-tim dan semua bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban pada akhir kegiatan sebagai tanggung jawab bersama.Diskusi terjadi pada saat siswa saling mempertanyakan jawaban yang dikerjakan teman sekelompoknya.
B.      Teori  Pendukung
Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh slavin.Slavin (1985)membuat model ini dengan beberapa alasan  yaitu :
1.      Model ini mengkombinasikan keunggulan kooperatif dan program pengajaran individual.
2.      Model ini memberikan tekanan pada efek sosial dari belajar kooperatif
3.      TAI disusun untuk memecahkan masalah dalam program pengajaran,misalnya dalam hal kesulitan belajar iswa secara individual.
C.    Karakteiristik Model Pembellajaran Tipe TAI
1.      Model kelompok berkemampuan heterogen
2.      Kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah.
3.      Salah satu ciri khas tipe TAI adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan guru.Hasil belajar individual dibawa kekelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok,dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
4.      Pembentukan kelompok heterogen terdiri dari 4-5 siswa
5.      Model ini mengkombinasikan keunggulan kooperatif dan program pengajaran individual.
D.     Komponen-Komponen Model  Pembelajaran  TAI
1.      Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa.
2.      Placement Test yaitu pemberian pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.
3.      Student Creative yaitu melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan dimana keberhasilan individu ditentukan oleh keberhasilan kelompoknya.
4.      Team Study yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkan.
5.      Team Score and Team Recognition yaitu pemberian score terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompokyang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
6.      Teaching Group yaitu pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
7.      Fact test yaitu pelaksanaan test-test kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
8.      Whole-Class yaitu pemberian materi oleh guru kembali diakhiri waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah
(Suyitno,2004 :8).
E.      Tahap-Tahap pembelajaran TAI
Adapun tahap-tahap dalam model pembelajaran TAI adalah sebagai berikut:
1.      Guru menyiapkan materi bahan ajar yang akan diselesaikan oleh kelompok siswa.
2.      Guru memberikan pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.
3.      Guru memberikan materi secara singkat .
4.      Guru membentuk kelompok kecil yang heterogen tetapi harmonis berdasarkan nilai ulangan harian siswa,setiap kelompok 4 sampai 5 siswa.
5.      Setiap kelompok mengerjakan tugass dari guru  berupa LKS yang telah dirancang sendiri sebelumnya,dan guru memberikan bantuan secara individual bagi yang memerlukannya.
6.      Ketua kelompok melaporkan keberhasilan kelompoknya dengan mempersentasikan hasil kerjanya dan siap untuk diberi ulangan oleh guru.
7.      Guru memberikan post-test untuk dikerjakan secara individu.
8.      Guru menetapkan kelompok terbaik sampai kelompok yang kurang berhasil(jika ada) berdasarkan hasil koreksi.
9.      Guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan.

F.       Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Tipe TAI
KELEBIHAN
1.      Model ini memberikan tekanan pada efek sosial dari belajar kooperatif
2.      TAI dirancang untuk mengetasi kesulitan belajar siswa secara individual.
3.      Guru dapat mengetahui  kelemahan sisiwa pada bidang tertentu.
KELEMAHAN
1.      Kegiatan pembelajaran lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah.
2.      Penyampaian materi secara singkat.

7.      Tipe NHT
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan tiga langkah yaitu :
a)      Pembentukan kelompok;
b)      Diskusi masalah;
c)      Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh  Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :
1.      Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
2.      Memperbaiki kehadiran
3.      Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
4.      Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
5.      Konflik antara pribadi berkurang
6.      Pemahaman yang lebih mendalam
7.      Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
8.      Hasil belajar lebih tinggi


Kelebihan:
• Setiap siswa menjadi siap semua.
• Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
• Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
• Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
• Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

Perkembangan teori atom

   oleh                            
  ARMAN ASHARI
                                                                 Kelas: X-8 SMAN 1 MASBAGIK
1. Teori Atom John Dalton
Pada tahun 1803, John Dalton mengemukakan mengemukakan pendapatnaya tentang atom. Teori atom Dalton didasarkan pada dua hukum, yaitu hukum kekekalan massa (hukum Lavoisier) dan hukum susunan tetap (hukum prouts). Lavosier mennyatakan bahwa “Massa total zat-zat sebelum reaksi akan selalu sama dengan massa total zat-zat hasil reaksi”. Sedangkan Prouts menyatakan bahwa “Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa selalu tetap”. Dari kedua hukum tersebut Dalton mengemukakan pendapatnya tentang atom sebagai berikut:
  1. Atom merupakan bagian terkecil dari materi yang sudah tidak dapat dibagi lagi
  2. Atom digambarkan sebagai bola pejal yang sangat kecil, suatu unsur memiliki atom-atom yang identik dan berbeda untuk unsur yang berbeda
  3. Atom-atom bergabung membentuk senyawa dengan perbandingan bilangan bulat dan sederhana. Misalnya air terdiri atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen
  4. Reaksi kimia merupakan pemisahan atau penggabungan atau penyusunan kembali dari atom-atom, sehingga atom tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
  1.   
Model Atom DaltonModel Atom Dalton
 Seiring perkembangan teknologi, teori atom Dalton terbukti tidaklah sepenuhnya benar. Penelitian selanjutnya mengarah bahwa ternyata atom dapat dibagi menjadi bagian-bagian kecil lain yang merupakan partikel dasar atom itu sendiri yaitu proton, elektron baru disusul neutron. Artinya atom bukanlah bagian terkecil dari suatu materi.


Hipotesa Dalton digambarkan dengan model atom sebagai bola pejal seperti pada tolak peluru. Seperti gambar berikut ini:
model atom dalton
Kelemahan:
Teori dalton tidak menerangkan hubungan antara larutan senyawa dan daya hantar arus listrik.
2. Teori Atom J. J. Thomson
Berdasarkan penemuan tabung katode yang lebih baik oleh William Crookers, maka J.J. Thomson meneliti lebih lanjut tentang sinar katode dan dapat dipastikan bahwa sinar katode merupakan partikel, sebab dapat memutar baling-baling yang diletakkan diantara katode dan anode. Dari hasil percobaan ini, Thomson menyatakan bahwa sinar katode merupakan partikel penyusun atom (partikel subatom) yang bermuatan negatif dan selanjutnya disebut elektron.
Atom merupakan partikel yang bersifat netral, oleh karena elektron bermuatan negatif, maka harus ada partikel lain yang bermuatan positifuntuk menetrallkan muatan negatif elektron tersebut. Dari penemuannya tersebut, Thomson memperbaiki kelemahan dari teori atom dalton dan mengemukakan teori atomnya yang dikenal sebagai Teori Atom Thomson. Yang menyatakan bahwa:“Atom merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan didalamya tersebar muatan negatif elektron”
Model atomini dapat digambarkan sebagai jambu biji yang sudah dikelupas kulitnya. biji jambu menggambarkan elektron yang tersebar marata dalam bola daging jambu yang pejal, yang pada model atom Thomson dianalogikan sebagai bola positif yang pejal. Model atom Thomson dapat digambarkan sebagai berikut:
Model atom Thomsonatom thomson
Kelemahan:
Kelemahan model atom Thomson ini tidak dapat menjelaskan susunan muatan positif dan negatif dalam bola atom tersebut.


3. Teori Atom Rutherford
Rutherford bersama dua orang muridnya (Hans Geigerdan Erners Masreden) melakukan percobaan yang dikenal dengan hamburan sinar alfa (λ) terhadap lempeng tipis emas. Sebelumya telah ditemukan adanya partikel alfa, yaitu partikel yang bermuatan positif dan bergerak lurus, berdaya tembus besar sehingga dapat menembus lembaran tipis kertas. Percobaan tersebut sebenarnya bertujuan untuk menguji pendapat Thomson, yakni apakah atom itu betul-betul merupakan bola pejal yang positif yang bila dikenai partikel alfa akan dipantulkan atau dibelokkan. Dari pengamatan mereka, didapatkan fakta bahwa apabila partikel alfa ditembakkan pada lempeng emas yang sangat tipis, maka sebagian besar partikel alfa diteruskan (ada penyimpangan sudut kurang dari 1°), tetapi dari pengamatan Marsden diperoleh fakta bahwa satu diantara 20.000 partikel alfa akan membelok sudut 90° bahkan lebih.
Berdasarkan gejala-gejala yang terjadi, diperoleh beberapa kesipulan beberapa berikut:
  1. Atom bukan merupakan bola pejal, karena hampir semua partikel alfa diteruskan
  2. Jika lempeng emas tersebut dianggap sebagai satu lapisanatom-atom emas, maka didalam atom emas terdapat partikel yang sangat kecil yang bermuatan positif.
  3. Partikel tersebut merupakan partikelyang menyusun suatu inti atom, berdasarkan fakta bahwa 1 dari 20.000 partikel alfa akan dibelokkan. Bila perbandingan 1:20.000 merupakan perbandingan diameter, maka didapatkan ukuran inti atom kira-kira 10.000 lebih kecil daripada ukuran atom keseluruhan.
Berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dari percobaan tersebut, Rutherford mengusulkan model atom yang dikenal dengan Model Atom Rutherford yang menyatakan bahwa Atom terdiri dari inti atom yang sangat kecil dan bermuatan positif, dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif. Rutherford menduga bahwa didalam inti atom terdapat partikel netral yang berfungsi mengikat partikel-partikel positif agar tidak saling tolak menolak.
Model atom Rutherford dapat digambarkan sebagai beriukut:
atom rutherford
Kelemahan:
Tidak dapat menjelaskan mengapa elektron tidak jatuh ke dalam inti atom.

4.      Teori Atom Bohr
Teori Atom Bohr

BohrSehingga menurut Bohr, adanya spektrum yang bersifat diskrit menandakan bahwa elektron berada pada lintasan-lintasan tertentu berdasarkan tingkat energinya. Hal ini dibuktikan dengan menggunakan teori kuantum Planck, hingga akhirnya Bohr mengemukakan postulatnya menjelaskan kestabilan atom dan spektrum atom hidrogen.
  1. Setiap elektron dalam atom mengelilingi inti dalam lintasan tertentu yang stationer disebut orbit/kulit.
  2. Elektron dapat berpindah dari kulit yang satu ke kulit yang lain dengan memancarkan atau menyerap energi.


          
Model atom Bohr dapat menjelaskan kestabilan atom dan spektrum atom hidrogen. Akan tetapi model ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
  • Hanya dapat menjelaskan spektrum atom hidrogen dengan akurat, belum dapat menjelaskan spektrum atom yang lebih kompleks.
  • Asumsi elektron mengelilingi inti atom dalam lintasan lingkaran belum tentu benar, dapat saja berbentuk elips.
  • Belum dapat menjelaskan adaya garis halus pada spektrum atom hidrogen. 




Pada tahun 1913, pakar fisika Denmark bernama Neils Bohr memperbaiki kegagalan atom Rutherford melalui percobaannya tentang spektrum atom hidrogen. Percobaannya ini berhasil memberikan gambaran keadaan elektron dalam menempati daerah disekitar inti atom. Penjelasan Bohr tentang atom hidrogen melibatkan gabungan antara teori klasik dari Rutherford dan teori kuantum dari Planck, diungkapkan dengan empat postulat, sebagai berikut:
  1. Hanya ada seperangkat orbit tertentu yang diperbolehkan bagi satu elektron dalam atom hidrogen. Orbit ini dikenal sebagai keadaan gerak stasioner (menetap) elektron dan merupakan lintasan melingkar disekeliling inti.
  2. Selama elektron berada dalam lintasan stasioner, energi elektron tetap sehingga tidak ada energi dalam bentuk radiasi yang dipancarkan maupun diserap.
  3. Elektron hanya dapat berpindah dari satu lintasan stasioner ke lintasan stasioner lain. Pada peralihan ini, sejumlah energi tertentu terlibat, besarnya sesuai dengan persamaan planck, ΔE = hv.
  4. Lintasan stasioner yang dibolehkan memilki besaran dengan sifat-sifat tertentu, terutama sifat yang disebut momentum sudut. Besarnya momentum sudut merupakan kelipatan dari h/2∏ atau nh/2∏, dengan n adalah bilangan bulat dan h tetapan planck.
Menurut model atom bohr, elektron-elektron mengelilingi inti pada lintasan-lintasan tertentu yang disebut kulit elektron atau tingkat energi. Tingkat energi paling rendah adalah kulit elektron yang terletak paling dalam, semakin keluar semakin besar nomor kulitnya dan semakin tinggi tingkat energinya.
atom Bohr
Kelemahan:
Model atom ini tidak bisa menjelaskan spektrum warna dari atom berelektron banyak.
5. Teori Atom Modern
Model atom mekanika kuantum dikembangkan oleh Erwin Schrodinger (1926).Sebelum Erwin Schrodinger, seorang ahli dari Jerman Werner Heisenberg mengembangkan teori mekanika kuantum yang dikenal dengan prinsip ketidakpastian yaitu “Tidak mungkin dapat ditentukan kedudukan dan momentum suatu benda secara seksama pada saat bersamaan, yang dapat ditentukan adalah kebolehjadian menemukan elektron pada jarak tertentu dari inti atom”.
Daerah ruang di sekitar inti dengan kebolehjadian untuk mendapatkan elektron disebut orbital. Bentuk dan tingkat energi orbital dirumuskan oleh Erwin Schrodinger.Erwin Schrodinger memecahkan suatu persamaan untuk mendapatkan fungsi gelombang untuk menggambarkan batas kemungkinan ditemukannya elektron dalam tiga dimensi.
atom modern
Persamaan Schrodinger
persamaan
x,y dan z
Y
m
ђ
E
V
= Posisi dalam tiga dimensi
= Fungsi gelombang
= massa
= h/2p dimana h = konstanta plank dan p = 3,14
= Energi total
= Energi potensial
Model atom dengan orbital lintasan elektron ini disebut model atom modern atau model atom mekanika kuantum yang berlaku sampai saat ini, seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Awan elektron disekitar inti menunjukan tempat kebolehjadian elektron. Orbital menggambarkan tingkat energi elektron. Orbital-orbital dengan tingkat energi yang sama atau hampir sama akan membentuk sub kulit. Beberapa sub kulit bergabung membentuk kulit.Dengan demikian kulit terdiri dari beberapa sub kulit dan subkulit terdiri dari beberapa orbital. Walaupun posisi kulitnya sama tetapi posisi orbitalnya belum tentu sama.

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...