Nama siswa :
Kelas :
Nilai :
Mp :Berhitung cepat
Waktu :30 menit
1. 42 x 25 =
2. 26 x 25 =
3. 72 x 25 =
4. 88 x 25 =
5. 16 x 25 =
6. 47 x 43 =
7. 38 x 32 =
8. 84 x 86 =
9. 91 x 99 =
10. 64 x 66 =
11. 55 x 55 =
12. 65 x 65 =
13. 35 x 35 =
14. 85 x 85 =
15. 45 x 45 =
16. 123 x 11 =
17. 234 x 11 =
18. 5271 x 11 =
19. 77215622 x 11 =
20. 81273 x 11 =
21. 34 x 5 =
22. 86x 5 =
23. 12 x 5 =
24. 72 x 5 =
25. 66 x 5 =
26. 42: 5 =
27. 24 : 5 =
28. 22: 5 =
29. 36 : 5 =
30. 123 : 5 =
31. 12 x 12 =
32. 15 x 15 =
33. 17 x 17 =
34. 19 x 19 =
35. 16 x 16 =
36. 41 x 41 =
37. 51 x 51 =
38. 81 x 81 =
39. 71 x 71 =
40. 31 x 31 =
41. 41 x51 =
42. 21 x 71=
43. 81 x 51 =
44. 31 x 61 =
45. 51 x 61 =
46. 134 x 11 =
47. 145111 x 11 =
48. 56666 x 11 =
49. 14 x 25 =
50. 44 x 46 =
Senin, 21 Februari 2011
berhitung
Manfaat Rumus Berhitung Cepat Matematika
Saya senang mengoleksi berbagai macam teknik berhitung cepat – aritmetika cepat. Beberapa rumus cepat ini saya peroleh dari guru-guru matematika saya. Sebagian yang lain saya peroleh dari membaca literatur. Bagian terpenting dari rumus cepat ini saya peroleh sendiri melalui ketekunan meneliti.
Sempoa (abacus) adalah salah satu teknik berhitung cepat yang sangat mengagumkan. Selesai soal dibacakan, selesai juga proses perhitungan. Kita tinggal membaca hasil perhitungan tersebut pada sempoa. Bila sudah mahir mental aritmetika, kita tinggal membaca jawaban tersebut pada mental imajinasi kita.
Kumon adalah pendekatan yang berbeda. Kumon merupakan pendekatan pembelajaran cepat matematika. Tetapi isi matematikanya sendiri mirip dengan konsep matematika yang kita kenal selama ini. Metode Kumon mengandalkan pada pengulangan dan kemahiran. Dengan cara ini, (anak-anak) kita menjadi lebih mudah belajar matematika.
Jarimatika menampilkan beberapa variasi menarik dari teknik sempoa. Jarimatika mengelaborasi 10 jari kita untuk menggantikan peran sempoa. Terdapat beberapa trik khusus yang menarik memanfaatkan jari-jari kita.
Sakamoto, saya kenal pada awalnya sebagai pendekatan geometri kepada berbagai konsep matematika. Dengan pendekatan geometri, matematika menjadi lebih tervisualisasikan. Bukankah satu gambar bermakna seribu kata?
APIQ saya dirikan untuk memanfaatkan berbagai keunggulan teknik berhitung cepat. Dari sempoa kami belajar betapa petingya alat peraga fisik. APIQ memfasilitasi siswa dengan berbagai macam mainan fisik matematika seperti Onde Milenium, Kartu Milenium, Super Marble, dan lain-lain. Tentu saja setelah asyik bermain secara fisik, anak-anak akan menyerap konsep matematikanya secara mental.
Dari Kumon kami belajar betapa pentingnya pendekatan bertahap dalam matematika. APIQ memfasilitasi siswa dengan pendekatan bertahap mulai dari anak mengenal angka (bilangan) sampai menguasai kalkulus. Program ini menjadi perkerjaan besar bagi kami di APIQ.
Jarimatika di luar dugaan kami. Kami telah mengajarkan konsep jarimatika sebelum kami mendengar tentang lembaga Jarimatika. Jarimatika memberi pelajaran pada kami bahwa yang sederhana dapat menjadi sesuatu yang sangat menarik. APIQ memperkaya diri dengan berbagai trik menggunakan jari.
Visualisasi geometri lebih kita tekankan lagi setelah mengenal Sakamoto. Tetapi APIQ melangkah lebih jauh dari sekedar visualisasi. APIQ mengembangkan mainan alat peraga khusus untuk berbagai konsep matematika penting. Untuk pecahan, APIQ mengembangkan mainan lingkaran milenium. Untuk luas, keliling, volume APIQ mengembangkan dadu milenium.
Kami mempercayai:
Gambar bermakna seribu kata
Peraga bermakna seribu gambar
Saya sempat agak ragu-ragu. Mengapa repot-repot belajar berhitung cepat? Bukankah sudah ada kalkulator? Bukankah sudah ada komputer?
Berhitung cepat bukan berarti tidak boleh menggunakan kalkulator. Pun bukan berarti tidak boleh memanfaatkan komputer. Orang yang ahli menggunakan kalkulator dan komputer juga tidak dilarang belajar berhitung cepat. Jadi, kita tidak perlu mempertentangkan berhitung cepat dengan mesin hitung cepat.
Banyak manfaat dari belajar berhitung cepat. Salah satu manfaat terpenting adalah menjadi lebih kreatif. Orang yang memiliki banyak koleksi teknik berhitung cepat akan selalu terbuka pada ide-ide kreatif baru. Tokoh-tokoh besar dunia banyak yang menggemari permainan berhitung cepat.
Gauss, tokoh besar matematika, terkenal sebagai orang yang mengatakan:
”Mathematic is queen of science. And queen of mathematic is arithmetic.”
“Matematika adalah ratu ilmu pengetahuan. Dan ratu matematika adalah aritmetika.”
Anda yang pernah mempelajari matematika perguruan tinggi pasti mengenal Gauss. Apalagi Anda yang belajar di teknik elektro atau fisika pasti banyak mempelajari teori Gauss. Khususnya ketika mempelajari teori medan.
Gauss terkenal sebagai kalkulator berjalan – mesin hitung berjalan. Ia dapat melakukan perhitungan cepat hanya dalam kepala. Tanpa alat bantu apa pun. Gauss mengejutkan orang-orang di sekitarnya, bahkan gurunya, ketika menyelesaikan sebuah perhitungan hanya beberapa detik. Sementara orang-orang pada umumnya membutuhkan waktu lebih dari setengah jam.
Richard Feynman adalah peraih nobel fisika yang menggemaskan. Feynman memiliki hobi terus memainkan angka-angka. Ia dikenal juga sebagai kalkulator berjalan. Bahkan ia bisa menghitung nila log 2 sampai ketelitian 7 digit di belakang koma hanya dalam beberapa detik. Ketika ditanya oleh orang-orang bagaimana cara melakukannya, Feynman menjawab, ”Saya telah menghafalnya semalam.” Itulah gaya Feynman.
Berikut ini contoh perhitungan yang disukai Feynman. Saya mengenal sebelumnya dari Trachtenberg. Dan saya sudah melakukan berbagai visualisasi dengan teknik perkalian bintang di APIQ.
542 = 2916
552 = 3025
562 = 3136
572 = … … …
582 = … … …
Cobalah mengisi titik-titik di atas degan menebaknya. Anda pasti bisa langsung menebaknya. Berhasil? Coba lagi yang ini:
592 = … … …
512 = 2601
522 = … … …
532 = … … …
Tentu kita dapat menghitungnya dengan cara seperti biasa. Kita juga dapat menyelesaikannya dengan kalkulator. Tetapi apa kreatifnya? Apa asyiknya? Ini lah cara asyiknya!
542 = 2916
29 kita peroleh dari 25 + 4
16 kita peroleh dari 42
562 = 3136
31 kita peroleh dari 25 + 6
36 kita peroleh dari 62
572 = 3249
32 kita peroleh dari 25 + 7
49 kita peroleh dari 72
Bagi Anda yang akan menempuh UN, SPMB, dan UMPTN 2008, teknik berhitung cepat juga dapat membantu Anda. Anda juga dapat mengembangkan teknik berhitung cepat sendiri sesuai kebutuhan Anda. Tadinya saya akan menulis teknik berhitung cepat limit dengan teorema L’Hospital. Tapi saya khawatir akan menjadi terlalu panjang. Mohon doanya agar saya dapat menulis teorema L’Hospital pada kesempatan berikutnya.
Cobalah bermain-main dengan teknik berhitung cepat!
Rasakan asyiknya!
Jaga tetap open mind!
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
(agus Nggermanto; pendiri APIQ)
APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan
Para pelajar dan mahasiswa bila diminta untuk menyelesaikan 10 soal berhitung berikut ini:
1. 798586462259 + 857288288257 + 857694857 + 7865968790 + 8596878
2. 9785869886785095453 – 7689542 + 95867 - 7586975867 + 687988
3. 975864788546345855897613 x 789467878551939
4. 12798643,5833549879598599 x 897546,89466266356
5. 978755465564665446835684 : 589459986346
6. 98765,8621222154665456864664 : 876676788997997999,998966836
7. 978869786986455468931562
8. 3487963255,664554689319879852
9.
10.
Manfaat Rumus Berhitung Cepat Matematika
Gauss, tokoh besar matematika, terkenal sebagai orang yang mengatakan:
”Mathematic is queen of science. And queen of mathematic is arithmetic.”
“Matematika adalah ratu ilmu pengetahuan. Dan ratu matematika adalah aritmetika.”
Anda yang pernah mempelajari matematika perguruan tinggi pasti mengenal Gauss. Apalagi Anda yang belajar di teknik elektro atau fisika pasti banyak mempelajari teori Gauss. Khususnya ketika mempelajari teori medan.
Gauss terkenal sebagai kalkulator berjalan – mesin hitung berjalan. Ia dapat melakukan perhitungan cepat hanya dalam kepala. Tanpa alat bantu apa pun. Gauss mengejutkan orang-orang di sekitarnya, bahkan gurunya, ketika menyelesaikan sebuah perhitungan hanya beberapa detik. Sementara orang-orang pada umumnya membutuhkan waktu lebih dari setengah jam.
Richard Feynman adalah peraih nobel fisika yang menggemaskan. Feynman memiliki hobi terus memainkan angka-angka. Ia dikenal juga sebagai kalkulator berjalan. Bahkan ia bisa menghitung nila log 2 sampai ketelitian 7 digit di belakang koma hanya dalam beberapa detik. Ketika ditanya oleh orang-orang bagaimana cara melakukannya, Feynman menjawab, ”Saya telah menghafalnya semalam.” Itulah gaya Feynman.
Berikut ini contoh perhitungan yang disukai Feynman. Saya mengenal sebelumnya dari Trachtenberg. Dan saya sudah melakukan berbagai visualisasi dengan teknik perkalian bintang di APIQ.
542 = 2916
552 = 3025
562 = 3136
572 = … … …
582 = … … …
Cobalah mengisi titik-titik di atas degan menebaknya. Anda pasti bisa langsung menebaknya. Berhasil? Coba lagi yang ini:
592 = … … …
512 = 2601
522 = … … …
532 = … … …
Tentu kita dapat menghitungnya dengan cara seperti biasa. Kita juga dapat menyelesaikannya dengan kalkulator. Tetapi apa kreatifnya? Apa asyiknya? Ini lah cara asyiknya!
542 = 2916
29 kita peroleh dari 25 + 4
16 kita peroleh dari 42
562 = 3136
31 kita peroleh dari 25 + 6
36 kita peroleh dari 62
572 = 3249
32 kita peroleh dari 25 + 7
49 kita peroleh dari 72
Bagi Anda yang akan menempuh UN, SPMB, dan UMPTN 2008, teknik berhitung cepat juga dapat membantu Anda. Anda juga dapat mengembangkan teknik berhitung cepat sendiri sesuai kebutuhan Anda. Tadinya saya akan menulis teknik berhitung cepat limit dengan teorema L’Hospital. Tapi saya khawatir akan menjadi terlalu panjang. Mohon doanya agar saya dapat menulis teorema L’Hospital pada kesempatan berikutnya.
Cobalah bermain-main dengan teknik berhitung cepat!
Rasakan asyiknya!
Jaga tetap open mind!
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
(agus Nggermanto; pendiri APIQ)
Saya senang mengoleksi berbagai macam teknik berhitung cepat – aritmetika cepat. Beberapa rumus cepat ini saya peroleh dari guru-guru matematika saya. Sebagian yang lain saya peroleh dari membaca literatur. Bagian terpenting dari rumus cepat ini saya peroleh sendiri melalui ketekunan meneliti.
Sempoa (abacus) adalah salah satu teknik berhitung cepat yang sangat mengagumkan. Selesai soal dibacakan, selesai juga proses perhitungan. Kita tinggal membaca hasil perhitungan tersebut pada sempoa. Bila sudah mahir mental aritmetika, kita tinggal membaca jawaban tersebut pada mental imajinasi kita.
Kumon adalah pendekatan yang berbeda. Kumon merupakan pendekatan pembelajaran cepat matematika. Tetapi isi matematikanya sendiri mirip dengan konsep matematika yang kita kenal selama ini. Metode Kumon mengandalkan pada pengulangan dan kemahiran. Dengan cara ini, (anak-anak) kita menjadi lebih mudah belajar matematika.
Jarimatika menampilkan beberapa variasi menarik dari teknik sempoa. Jarimatika mengelaborasi 10 jari kita untuk menggantikan peran sempoa. Terdapat beberapa trik khusus yang menarik memanfaatkan jari-jari kita.
Sakamoto, saya kenal pada awalnya sebagai pendekatan geometri kepada berbagai konsep matematika. Dengan pendekatan geometri, matematika menjadi lebih tervisualisasikan. Bukankah satu gambar bermakna seribu kata?
APIQ saya dirikan untuk memanfaatkan berbagai keunggulan teknik berhitung cepat. Dari sempoa kami belajar betapa petingya alat peraga fisik. APIQ memfasilitasi siswa dengan berbagai macam mainan fisik matematika seperti Onde Milenium, Kartu Milenium, Super Marble, dan lain-lain. Tentu saja setelah asyik bermain secara fisik, anak-anak akan menyerap konsep matematikanya secara mental.
Dari Kumon kami belajar betapa pentingnya pendekatan bertahap dalam matematika. APIQ memfasilitasi siswa dengan pendekatan bertahap mulai dari anak mengenal angka (bilangan) sampai menguasai kalkulus. Program ini menjadi perkerjaan besar bagi kami di APIQ.
Jarimatika di luar dugaan kami. Kami telah mengajarkan konsep jarimatika sebelum kami mendengar tentang lembaga Jarimatika. Jarimatika memberi pelajaran pada kami bahwa yang sederhana dapat menjadi sesuatu yang sangat menarik. APIQ memperkaya diri dengan berbagai trik menggunakan jari.
Visualisasi geometri lebih kita tekankan lagi setelah mengenal Sakamoto. Tetapi APIQ melangkah lebih jauh dari sekedar visualisasi. APIQ mengembangkan mainan alat peraga khusus untuk berbagai konsep matematika penting. Untuk pecahan, APIQ mengembangkan mainan lingkaran milenium. Untuk luas, keliling, volume APIQ mengembangkan dadu milenium.
Kami mempercayai:
Gambar bermakna seribu kata
Peraga bermakna seribu gambar
Saya sempat agak ragu-ragu. Mengapa repot-repot belajar berhitung cepat? Bukankah sudah ada kalkulator? Bukankah sudah ada komputer?
Berhitung cepat bukan berarti tidak boleh menggunakan kalkulator. Pun bukan berarti tidak boleh memanfaatkan komputer. Orang yang ahli menggunakan kalkulator dan komputer juga tidak dilarang belajar berhitung cepat. Jadi, kita tidak perlu mempertentangkan berhitung cepat dengan mesin hitung cepat.
Banyak manfaat dari belajar berhitung cepat. Salah satu manfaat terpenting adalah menjadi lebih kreatif. Orang yang memiliki banyak koleksi teknik berhitung cepat akan selalu terbuka pada ide-ide kreatif baru. Tokoh-tokoh besar dunia banyak yang menggemari permainan berhitung cepat.
Gauss, tokoh besar matematika, terkenal sebagai orang yang mengatakan:
”Mathematic is queen of science. And queen of mathematic is arithmetic.”
“Matematika adalah ratu ilmu pengetahuan. Dan ratu matematika adalah aritmetika.”
Anda yang pernah mempelajari matematika perguruan tinggi pasti mengenal Gauss. Apalagi Anda yang belajar di teknik elektro atau fisika pasti banyak mempelajari teori Gauss. Khususnya ketika mempelajari teori medan.
Gauss terkenal sebagai kalkulator berjalan – mesin hitung berjalan. Ia dapat melakukan perhitungan cepat hanya dalam kepala. Tanpa alat bantu apa pun. Gauss mengejutkan orang-orang di sekitarnya, bahkan gurunya, ketika menyelesaikan sebuah perhitungan hanya beberapa detik. Sementara orang-orang pada umumnya membutuhkan waktu lebih dari setengah jam.
Richard Feynman adalah peraih nobel fisika yang menggemaskan. Feynman memiliki hobi terus memainkan angka-angka. Ia dikenal juga sebagai kalkulator berjalan. Bahkan ia bisa menghitung nila log 2 sampai ketelitian 7 digit di belakang koma hanya dalam beberapa detik. Ketika ditanya oleh orang-orang bagaimana cara melakukannya, Feynman menjawab, ”Saya telah menghafalnya semalam.” Itulah gaya Feynman.
Berikut ini contoh perhitungan yang disukai Feynman. Saya mengenal sebelumnya dari Trachtenberg. Dan saya sudah melakukan berbagai visualisasi dengan teknik perkalian bintang di APIQ.
542 = 2916
552 = 3025
562 = 3136
572 = … … …
582 = … … …
Cobalah mengisi titik-titik di atas degan menebaknya. Anda pasti bisa langsung menebaknya. Berhasil? Coba lagi yang ini:
592 = … … …
512 = 2601
522 = … … …
532 = … … …
Tentu kita dapat menghitungnya dengan cara seperti biasa. Kita juga dapat menyelesaikannya dengan kalkulator. Tetapi apa kreatifnya? Apa asyiknya? Ini lah cara asyiknya!
542 = 2916
29 kita peroleh dari 25 + 4
16 kita peroleh dari 42
562 = 3136
31 kita peroleh dari 25 + 6
36 kita peroleh dari 62
572 = 3249
32 kita peroleh dari 25 + 7
49 kita peroleh dari 72
Bagi Anda yang akan menempuh UN, SPMB, dan UMPTN 2008, teknik berhitung cepat juga dapat membantu Anda. Anda juga dapat mengembangkan teknik berhitung cepat sendiri sesuai kebutuhan Anda. Tadinya saya akan menulis teknik berhitung cepat limit dengan teorema L’Hospital. Tapi saya khawatir akan menjadi terlalu panjang. Mohon doanya agar saya dapat menulis teorema L’Hospital pada kesempatan berikutnya.
Cobalah bermain-main dengan teknik berhitung cepat!
Rasakan asyiknya!
Jaga tetap open mind!
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
(agus Nggermanto; pendiri APIQ)
APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan
Para pelajar dan mahasiswa bila diminta untuk menyelesaikan 10 soal berhitung berikut ini:
1. 798586462259 + 857288288257 + 857694857 + 7865968790 + 8596878
2. 9785869886785095453 – 7689542 + 95867 - 7586975867 + 687988
3. 975864788546345855897613 x 789467878551939
4. 12798643,5833549879598599 x 897546,89466266356
5. 978755465564665446835684 : 589459986346
6. 98765,8621222154665456864664 : 876676788997997999,998966836
7. 978869786986455468931562
8. 3487963255,664554689319879852
9.
10.
Manfaat Rumus Berhitung Cepat Matematika
Gauss, tokoh besar matematika, terkenal sebagai orang yang mengatakan:
”Mathematic is queen of science. And queen of mathematic is arithmetic.”
“Matematika adalah ratu ilmu pengetahuan. Dan ratu matematika adalah aritmetika.”
Anda yang pernah mempelajari matematika perguruan tinggi pasti mengenal Gauss. Apalagi Anda yang belajar di teknik elektro atau fisika pasti banyak mempelajari teori Gauss. Khususnya ketika mempelajari teori medan.
Gauss terkenal sebagai kalkulator berjalan – mesin hitung berjalan. Ia dapat melakukan perhitungan cepat hanya dalam kepala. Tanpa alat bantu apa pun. Gauss mengejutkan orang-orang di sekitarnya, bahkan gurunya, ketika menyelesaikan sebuah perhitungan hanya beberapa detik. Sementara orang-orang pada umumnya membutuhkan waktu lebih dari setengah jam.
Richard Feynman adalah peraih nobel fisika yang menggemaskan. Feynman memiliki hobi terus memainkan angka-angka. Ia dikenal juga sebagai kalkulator berjalan. Bahkan ia bisa menghitung nila log 2 sampai ketelitian 7 digit di belakang koma hanya dalam beberapa detik. Ketika ditanya oleh orang-orang bagaimana cara melakukannya, Feynman menjawab, ”Saya telah menghafalnya semalam.” Itulah gaya Feynman.
Berikut ini contoh perhitungan yang disukai Feynman. Saya mengenal sebelumnya dari Trachtenberg. Dan saya sudah melakukan berbagai visualisasi dengan teknik perkalian bintang di APIQ.
542 = 2916
552 = 3025
562 = 3136
572 = … … …
582 = … … …
Cobalah mengisi titik-titik di atas degan menebaknya. Anda pasti bisa langsung menebaknya. Berhasil? Coba lagi yang ini:
592 = … … …
512 = 2601
522 = … … …
532 = … … …
Tentu kita dapat menghitungnya dengan cara seperti biasa. Kita juga dapat menyelesaikannya dengan kalkulator. Tetapi apa kreatifnya? Apa asyiknya? Ini lah cara asyiknya!
542 = 2916
29 kita peroleh dari 25 + 4
16 kita peroleh dari 42
562 = 3136
31 kita peroleh dari 25 + 6
36 kita peroleh dari 62
572 = 3249
32 kita peroleh dari 25 + 7
49 kita peroleh dari 72
Bagi Anda yang akan menempuh UN, SPMB, dan UMPTN 2008, teknik berhitung cepat juga dapat membantu Anda. Anda juga dapat mengembangkan teknik berhitung cepat sendiri sesuai kebutuhan Anda. Tadinya saya akan menulis teknik berhitung cepat limit dengan teorema L’Hospital. Tapi saya khawatir akan menjadi terlalu panjang. Mohon doanya agar saya dapat menulis teorema L’Hospital pada kesempatan berikutnya.
Cobalah bermain-main dengan teknik berhitung cepat!
Rasakan asyiknya!
Jaga tetap open mind!
Bagaimana menurut Anda?
Salam hangat…
(agus Nggermanto; pendiri APIQ)
Selasa, 15 Februari 2011
realibilitas instrumen
RELIABILITAS INSTRUMEN
Ada beberapa cara pendefinisian dan penginterpretasian reliabilitas tes. Tes disebut reliable jika skor pengamatan dikorelasikan dengan tinggi dengan skor yang sebenarnya, dengan merupakan koefisien reabilitas tes. Reabilitas dapat diekspresikan sebagai koefisien korelasi antara skor pengamatan pada dua tes yang parallel. Jika dua tes parallel diberikan pada populasi yang diuji dan hasil skor pengamatan dikorelasikan, maka korelasi ini (symbol dimana X dan X’diamati skornya pada kedua tes paralelnya) adalah koefisien reabilitas.
Pada kasus umum, skor sebenarnya tidak dapat diperoleh, dan tidak mungkin untuk menguji apakah tes tersebut parallel. Oleh karena itu, reabilitas seharusnya diperkirakan dengan metode lain.
Definisi reliabilitas tes
Koefisien reliabilitas untuk sejumlah skor dari sekelompok uji adalah koefisien korelasi antara himpunan skor dan himpunan lain skor pada tes yang sama dihitung dengan independen/terpisah dari anggota kelompok yang sama
Dari definisi tersebut di dapat 3 aspek penting:
1. Koefisien reliabilitas mengimplikasikan bahwa reliabilitas bukan sifat tes itu sendiri tetapi lebih pada kapan instrumen diaplikasikan pada bagian kelompok yang diuji.
2. Definisi operasional khusus dari penggunaan koefisien korelasi sebagai reliabilitas pengukuran.
3. Definisi operasional dikatakan dua atau lebih pengukuran terpisah, menghitung dari tes ekuivalen dari perlakuan yang sama untuk masing-masing anggota kelompok.
(ini adalah inti dari definisi)
Definisi teori
Untuk tujuan teoritis kita mengasumsikan bahwa skor tes dipisah-pisah dalam dua komponen: true skor dan error skor.
Hipotesis true skor individual adalah rata-rata skor orang yang akan dihitung jika pada beberapa tes yang sama. Hubungan antara skor ini:
X= T + E
dengan variansi tes skor:
Thorndike mengelompokkan kemungkinan sumber variansi pada skor adalah untuk megidentifikasi kontribusi dari 2 tipe variansi.(lihat hal 74). Beberapa factor mengemukakan mengapa individu memperoleh skor yang berbeda pada tes yang sama pada dua kesempatan, dan mengemukakan mengapa ujian di teskan pada saat/kesempatan yang sama diperoleh skor yang berbeda anat individu yang berbeda. Diskusi lebih detail dapat dilihat pada Stanley, untuk mendapatkan 4 tujuan dapat digeneralisasi sebagai: .(lihat hal 74).
1. Semua sumber variansi tidak penting dioperasikan dalam setiap situasi.
2. Beberapa factor mempunyai kontribusi terhadap skor eror dalam beberapa situasi tes tetapi berkontribusi true skor dalam situasi tes yang lain.
3. Reliabilitas bukan sekedar factor intrisik tes, realibilitas nilainya berdasarkan tes kelompok, isi tes, dan kondisi saat tes.
Reabilitas merupakan tingkatan hasil penilaian siswa yang sama ketika:
a. mereka menyelesaikan tugas yang sama
b. dua atau lebih guru menilai hasil pekerjaan mereka pada tugas yang sama
c. mereka menyelesaikan dua atau lebih tugas yang berbeda namun dengan tingkat kesulitan yang sama pada suatu kesempatan yang sama ataupun berbeda.
Realibilitas membatasi Validitas
Meskipun validitas yang tinggi memerlukan relaibilitas yang tinggi pula, mundur itu tidak benar. Pengukuran reliabilitas yang tinggi tidak menjamin diperoleh interpretasi atau keputusan yang valid. Hal ini dikarenakan reliabilitas bukanlah satu-satunya criteria di dalam validitas.
Sebagai ilustrasi: Nona Cortez mengajar aritmatika kelas tujuh. Beliau merefleksikan siswa-siswanya pada perhitungan yang mana diharapkan siswa-siswanya mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari dan mendata ketrampilannya ini. Dia kemudian membuat tes perhitungan dan problem solving untuk menilai kemampuan siswa-siswanya pada ketrampilannya. Karena tes tertulis yang dibuat sangat banyak item, nona cortes dapat percaya diri bahwa apa yang dibuatnya akan sangat reliable.
Strategi umum untuk menghitung koefisien reliabilitas adalah mengatur penilaian pada sekelompok siswa satu kali atau lebih dan diperoleh skor. Kemudian satu atau dua pendekatan digunakan untuk memeriksa kekonsistenan.
Dalam konteks skor kekonsistenan korelasi ini disebut sebagai koefisien reliabilitas.
Indeks pengekspresian variansi dalam skor kekonsistenan disebut sebagi standar eror pengukuran.
Bagaimanapun mengetahui skor reliable tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa tes tersebut valid. Penilaian dari keandalan akan mempengaruhi kualitas (validitas) dari keputusan. Berikut sebagi contoh pengambilan keputusan:
1. Nona Cortez memutuskan penguasaan 80% dari target yang diharapkan dalam perhitungan kelulusan. Bagaimanapun tes hanya mengambil contoh dari sub-sub yang harus dikuasai. Dari tes yang dilakukan beberapa siswa dapat menguasai 80% atau bahkan lebih dari target yang diharapkan (dikatakan lulus tes), dan beberapa dapat menguasai kurang dari 80% (dikatakan tidak lulus tes). Siswa yang tidak lulus tes ini dikelompokkan sebagai siswa yang kompetensinya masih kurang.
2. Seorang penasehat ingin mengetahui apakah kemampuan matematika siswa atau kemampuan komunikasi siswa tinggi. Skor siswa pada tes kemampuan matematika tidak seperti skor tes pada kemampuan bahasanya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah siswa mempunyai kemampuan yang berbeda dalam 2 kemampuan tersebut? Kemmapuan siswa dalam hal yang berbeda akan berbeda pula, penasehat membutuhkan seberapa besar perbedaan dari true skor dalam kaitan dengan kesalahan perhitungan. Jika jarak skor sangat jauh maka kemungkinan tidak reliable. Jika skor tidak reliable maka penasehat dapat dengan kurang percaya diri mengemukakan bahwa perbedaan skor mengindikasikan perbedaan dalam kemampuan komunikasi dan kemampuan matematika.
Salah satu masalah utama dalam penelitian adalah masalah cara mngumpulkan data informasi yang akurat dan objektif. Hal ini menjadi sangat penting dikarenakan kesimpulan penelitian hanya akan dapat dipercaya apabila didasarkan pada informasi yang juga dapat dipercaya.
Reliabilitas merupakan penerjemah dari kata reliability , Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi sisebut sebagai pengukuran yang reliable. Walaupun reliabilitas mempunya banyak nama lain seperti keterpercayaan, keterandalan, kesetabilan, dan sebagainya namun ide pokok yang tekandung dalam konsep eliabilitas adalah sejauh man ahasil suatu pengukuran dapat dipercaya.
Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relative sama, selama asfek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah. Namun konsep reliabilitas dalam arti reliabilitas alat ukur erat kaitannya dengan masalah eror pengukuran (error of measurement). Eror pengukuran sendiri menunjukan pada sejauh mana inkonsistensi hasil pengukuran terjadi apabila pengukluran dilakukan berulang kali pada kelompok subyek yang sama. Konmsep reliabilitas dalam arti reliabilitas hasil ukur erat kaitannya dengan eror dalam pengambilan sampel (sampling error) yang menace kepada inmkonsistensi hasil ukur apabila pengukuran dilakukan berulang kali pada kelompok insividu yang berbeda.
Koefisien Reliabilitas
Secara empiric tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas. Pada awalnya tinggi rendahnya reliabilitas tes dicerminkan oleh koefisien korelasi antara sekor pada dua tes yang parallel, yang dikenakan pada sekelompok individu yang sama. Semakin tinggi koefisien korelasi termaksud berarti konsistensi atara hasil pengenaan dua tes tersebut semakin baik dan hasil ukur kedua tes itu dikatakn semakin reliable.
Koefisien korelasi antara dua variable dilambangkan oleh huruf r. Apabila skor pada tes pertama diberi lambing X dan skor pada tes kedua diberi lambing X’, maka koefisien korelasi antara kedua tes tersebut adalah . Symbol inilah yang digunakan sebagai symbol koifisien korelasi.
Walaupun secara teoritik besarnya koifisien relibialitas berkisar mulai dari 0,0 dampai denga 1,0 akan tetapi kenyataanya koefisien sebesar 1,0 dan sekecil 0,0 tidak pernah dijumpai. Disamping itu, walaupun koifisien korelasi dapat saja betambah negative (-), koefisien reliabilitas selalu mengacu pada angka positif (+) dikarenakan angka negative tidak ada artinya bagi intefretasi reliabilitas hasil ukur. Koifisien korelasi = 1,0 berarti adanya konsistensi yang sempurna pada hasil ukur yang bersangkutan. Konsisten yang sempurna seperti itu tidak dapat terjadi dalam pengukuran aspek-aspek psikologis dan social yang menggunakan manusia sebagi subyeknya dikarenakan terdapatnya berbagai sumber eror dalam diri manusia dan dalam pelaksanaan pengukuran yang sangat mudah mempengaruhi kecermatan hasil pengkuran.
Dalam penilaian pendidikan, sering timbul pertanyaan bahwa apakah koefisien reabilitas dari soal yang digunakan cukup bagus? Koefisien yang sempuna adalah 1, akan tetapi dalam penilaian pendidikan yang subyeknya adalah manusia maka hal tersebut adalah tidak mungkin. Dari penilaian dengan tipe-tipe instrumen yang berbeda, mempunyai tingkatan yang berbeda pula tentang koefisien reliabilitasnya.
Standar penilaian untuk soal pilihan ganda, koefisien reliabilitasnya 0,85-0,90.
Standar penilaian untuk soal open ended, koefisien reliabilitasnya 0,65-0,80
Standar penilaian untuk soal portofolio, koefisien reliabilitasnya 0,40-0,60
Disamping tehnik-tehnik korelasi, berkembang pula tehnik analisis varians skor dan tehnik analisis varian eror. Walaupun demikian untuk melambangkan koifiseien reliabilitas umumnya tetap digunakan symbol .
Konsepsi mengenai Reliabilitas
Konsepsi reliabilitas dalam teori skor murni klasikal dapat dipahami dari beberapa intefretasi. Suatu tes dikatakan sebagi memilki reliabilitas tinggi apabila, misalnya, skor tampak tes itu berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. Reliabilitas dapat pula ditafsirkan sebagai seberapa tingginya korelasi antara skor tampak pada dua tes yang parallel.
Allen dan Yen (1979) menguraikan enam data untuk memandang koefisien reliabilitas tes. Dalam uraian mereka, koefisien reliabilitas disombolkan oleh sebagai parameter reliabilitas populasi umum. Guna penyederhanaan kita akan menggunakan symbol sebagai lambang reliabilitas dalam aliran statistic maupun dalam parameter populasi. Lambang varian polulasi , dalam pengertian yang sama, akan digantikan oleh lambang varian sampel S2.
Interpretasi 1
= korelasi skor -tampak antara sua tes yang parallel
Interprestasi ini mngatakan bahwa reliabilitas tes ditentuka oleh sejauhmana skor-tampak pada dua tes yang parallel berkorelasi. Bila pada dua tes yang parallel setiap subyek memperoleh skor yang sama dan pada masing-masing tes terdapat varian skor subyek, yaitu varian skor-tampaknya tidak sama dengan 0, maka tes tersebut mempunyai reliabilitas sempurna dengan koifisien sebesar = 1,00. Sebaliknya apabila skor-tampak pada suatu tes tidak berkorelasi sama sekali dengan skor tampak pada tes paralelnya maka kedua tes tersebut sama sekali tidak reliable dan koifisien reliabilitasnya adalah . Interprestasi ini menjadi asumsi dasar dalam pendekatan reliabilitas bentuk parallel (parallel – forms) dan pendekatan reliabilitas bentuksejajar (alternate-form)
Interpretasi 2
2 = besarnya populasi varian X yang dijelaskan oleh hubungan antara liniernya dengan x’
Interpretasi ini berasal dari penafsiran koifisien determinasi sebgaimana biasanya dilakukan pada p[enafsiran koifisien korelasi linier pearson. Jadi didalam hal ini besarnya kuadrat koifisien reliabilitas dapat dipandang sebagai proporsi varians skor pada tes lainnya yang parallel.
Interpretasi 3
Rxx’ = st2 / sx2
Koifisien reliabilitas merupakan besarnya perbandingan antara varian skor-murni dan varian skor-tampak pada suatu tes, atau merupakan provorsi varians skor-tampak yang berisi varian skor-murni. Suatu koifisien reliabilitas sebesar 0,8 berarti bahwa 80 persen dari varian skor merupakan varian skor murni.
Bila semua perbedaan yang terjadi pada skor tampak subyek merefleksikan perbedaan skor murni yaitu sx2 =st2, maka reliabilitas tes tersebut adalah sempurna dengan koefisien rxx’ = 1,00.
Intertpretasi 4
= rxt2
Koifisoen reliabilitas merupakan kuadrat koifisien korelasi antara skor-tampak dengan skor murni. Jadi apabila koefisien reliabilitas rxx’ = 0,64 maka rxt = = 0,80. Bila besarnya koifisien rxx’ = 0,49 maka rxt = = 0.70.
Dari kedua contoh itu tampak bahwa koefisien korelasi antara skor-tampak dengan skor-murni selalu akan lebih besar dari pada koefisien reliabilitasnya, selama koefisien reliabilitas itu tidak sama dengan 0 atau 1. Kalau skor tampak pada tes atau variable lain itu diberi symbol Y maka fakta tersebut mendukung pernyataan bahwa rxt rxy
Menuru tinterpretasi ini yaitu, = rxt2 korelasi maksimal antara X dan Y adalah . Dalam simbolisasi valisitas, skor X sendiri meruipakan skor tes dan skor Y merupakan skor kriteriasedangakan koefisien validitas disimbolkan oleh rxy.
Interpretasi 5
rxx’ = 1 – rxe2
Besarnya proporsi varian skor tampak yang berkaitan dengan varian eror ditunjukan oleh rxe2. Sedangkan semakin besar proporsi itu maka semakin eratlah kaitan antara skor-tampak yang diperoleh subyek dengan dengan eror dan semakin rendahnya reliabilitas tes. Idealnya antara skor tampak dan eror sama sekali tidak boleh berkorelasi sehingga rxe = 0. Hal ini hanya terjadi apabila reliabilitas tes adalah maksimal.
Interpretasi 6
rxx’ = se2 / sx2
Interpretasiini mengaitkan reliabilitas dengan varian eror dan varian skor tampak. Disisi lain kita dapat melihat bahwa derajat heterogenitas skor subyek yang ditunjukanb oleh besarnya sx2 mempunyai pengaruh pnting terhadap koefisien reliabilitas. Dengan asumsi varian eror tetap, tinggi rendahnya koefisien reliabilitas akan tergantung pada besar kecilnya varian skor tampak pada subyek yang bersangklutan. Pada kelompok subyek yang homogen yaitu yang memiliki sx2 kecil, harga se2 / sx2 akan relative lebih kecildibandingkan dengan hargannya pada kelompok subyek yang heterogen (yang terdistribusi dengan sx2 besar)
Estimasi Reliabilitas
Estimasi reliabilitas dapat dilakukan melalui salah satu pendekatan umum yaitu pendekatan tes ulang (test – retest), pendekatan tesw sejajar (alternetif – forms) dan pendekatan konsistensi interlan (internal-consistency)
• tes - retest reliabilitas mengukur stabilitas nilai.
Pendekatan ini menunjukan konsistensi pengukuran dari waktu kewaktu dan mnghasilkan koefisien reliabilitas yang sering disebut sebagai koefisien stabilitas. Prinsip estimasinya adalah dengan menggunakan suatu ionstrumen pengukur dua kali dengan tenggang waktu tertentu, terhadap sekelompok subyek yang sama.
Komputasi korelasi antara distribusi skor dari kedua penggunaan tersebut menghasilkan estimasi reliabilitas instrument yang bersangkutan.
Kelemahan pendekatan test – retest adalah kurang pralktisnya penggunaan tes dua kali dan besarnya kemungkinan terjadi efek bawaan (carry –over-effects) dari suatu penggunaan tes kepenggunaan yang kedua.
• Pendekatan tes sejajar (alternetif – forms)
Pendekataan tes sejajar hanya dapat dilakukan apabila tersedia dua bentuk instrument pengukur yang dapat dianggap memnuhi asumsi parallel.
Pada kenyataan dilapangan bentuk parallel tidak selalu ada, karena biasanya penilaian bentuk parallel:
1. Prosedur penilaian hanya sekali digunakan pada masing-masing siswa
2. Tindalkan penilaian mengubah siswa
3. Hanya ada satu tindakan untuk menilai kemampuan ketertarikan
4. Sangat mahal utnuk membangun bentuk parallel dari penilaian
Salah satu indikator terpenuhinya asumsi paralel adalah setaranya korelasi antara skor kedua instrument tersebut dengan skor suatu ukuran lain.
Untuk dapat parallel kedua bentuk instrument harus disusun dengan tujuan mengukur objek psikologis yang sama berdasarkan blue print (pola rancangan) yang sama serta spesifikasi yang sama pula.
Estimasi reliabilitas dengan pendekatan bentuk sejajar dilakukan setelah kedua instrument tersebut dikenakan berturut-turut pada sekelompok subyek. Komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor dari penggunaan kedua instrimen itu menghasilkan koefisien reliabilitas yang berlaku bagi keduanya.
Kelemahan utama pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun dua alat ukur yang menuhi persyaratan paralel atau sejajar disamping pendekatan ini juga tidak menghilangkan sama sekali kemungkiana terjadinya efek bawaan.
• Pendekatan Konsistensi Internal (internal consistency)
Estimasi reliabilitas dengan pendekatan konsistensi internal didasarkan pada pada data dari sekali peggunaan satu bentuk alat uikur pada sekelompok subyek. Komputasi koefisien reliabilitasnya dilakukan setelah keselruhan instrument yang telah dikenakan pada subyek itu dibelah menjadi bebrapa bagian. Satu instrument dapat dibelah menjadi dua, tiga, empat atau lebih bagian bahkan dapat dibelah menjadi sebanyak sejumlah item-itemnya. Bentuk dan sifat alat ukur serta banyaknya belahan yang dibuat akan menentukan tehnik perhitungan koefisien relkiabilitasnya.
Diantara tehnik-tehnik komputasi reliabilitas konsistensi internal adalah:
a. Formula Spearman Brown
Dapat digunakan apabila jumlah item dalam tes adalah genab sehingga dapat dibelah menjadi dua bagioan yang seimbang.
Pembelahan ini dapat dilakukan dengan mengelompokkan item-item bernomor ganjil menjadi satu dan item-itembernomor genap menjadi satu pula.
Contoh:
Table 1
= koefisien korelasi antara antara skor belahan Y1 dan skor blahan Y2
Komputasi korelasi antara belahan y1 dan Y2 dari data pada table 1 menghasilkan = 0,827 sehingga koefisien reliabilitasnya yang dihitung dengan formula Spearman Brown adalah
b. Formula Rulon
Sebagaimana formula Sperman Brown juga dikenakan pada data skor suatu tes yang dibelah menjadi dua bagian yang seimbang.
Dan formula Rulon, komputasi reliabilitas didasarkan pada selisih skor subyek pada kedua belahan tersebut. Mrnurut Rulon selisih skor itulah sumber variasi eror dan karenannya bila dibandingkan dengan variasi skor akan dapat menjadi dasar mengestimasi reliabilitas tes.
Dirumuskan:
= variansi perbedaan skor belahan (d)
= variansi skor tes (X)
Pada table 1 perbedaan skor diantara belahan yaitu d telah di hitung dengan mengurangkan setiap harga Y2 dari Y1. Perhitungan varias d dan varian X menghasilkan = 1,378 dan = 14,04
Dengan demikiandiperoleh koefisien reliabilitas rulon
c. Formula Alfa
Untuk melakukan estimasi reliabilitas Alfa tes dapat dibelah menjadi beberapa bagian. Dalam pembelahan ini sangat penting untuk menjadikan banyaknya aitem dalam setiap belahan sama sehingga diharapkan belahan-belahan itu seimbang. Bila formula Allpa dikenakan pada tes yang dibelah tidak seimbang maka koefisien yang di peroleh akan rendah dan merupakan underestimasi terhadap reliabilitas sebelumnya.
Formula Alpa untuk tes yng dibelah dua
= koefisien relibilitas Alpa
= banyaknya belahan
= Varians skor belahan (j)
= variasn skor tes (X)
Bila tes dibelah menjadi tiga bagian maka formulanya untuk komputasi reliabilitas adalah
Sebagai contoh data pada table 1 kita belah menjadi 3 belahan yang masing-masing berisi 4 aitem
Y1 = Aitem 1 + 4 +7 + 10
Y2 = Aitem 2 + 5 +8 + 11
Y3 = Aitem 3 + 6 +9 + 12
Perhitungan terhadap varians-varians skor belahan dan varians skor tes pada data diatas menghasilkah:
Dengan demikian koefisien reliabilitas Alpa untuk hasil tes tersebut diatas adalah:
d. Formula Kuder Richardson 20
Formula KR-20 sebetulnya sama denagn formaula Alfa, akan tetapi formula KR – 20 hanya dapat dikenakan pada data skor dikotomi dari tes yang seolah-olah dibagi-bagi menjadi belahan sebanyak aitemnya.
Dirumuskan oleh:
k = banyaknya aitem
P = indeks kesukaran aitem
= varians skor tes (X)
Untuk contoh penggunaan pormula ini perhatikan table berikut:
sedangkan banyaknya item 12 dan = 14,04 sehingga koefisien reliabilitasnya dengan menggunakan formula KR-20 adalah:
Ada beberapa cara pendefinisian dan penginterpretasian reliabilitas tes. Tes disebut reliable jika skor pengamatan dikorelasikan dengan tinggi dengan skor yang sebenarnya, dengan merupakan koefisien reabilitas tes. Reabilitas dapat diekspresikan sebagai koefisien korelasi antara skor pengamatan pada dua tes yang parallel. Jika dua tes parallel diberikan pada populasi yang diuji dan hasil skor pengamatan dikorelasikan, maka korelasi ini (symbol dimana X dan X’diamati skornya pada kedua tes paralelnya) adalah koefisien reabilitas.
Pada kasus umum, skor sebenarnya tidak dapat diperoleh, dan tidak mungkin untuk menguji apakah tes tersebut parallel. Oleh karena itu, reabilitas seharusnya diperkirakan dengan metode lain.
Definisi reliabilitas tes
Koefisien reliabilitas untuk sejumlah skor dari sekelompok uji adalah koefisien korelasi antara himpunan skor dan himpunan lain skor pada tes yang sama dihitung dengan independen/terpisah dari anggota kelompok yang sama
Dari definisi tersebut di dapat 3 aspek penting:
1. Koefisien reliabilitas mengimplikasikan bahwa reliabilitas bukan sifat tes itu sendiri tetapi lebih pada kapan instrumen diaplikasikan pada bagian kelompok yang diuji.
2. Definisi operasional khusus dari penggunaan koefisien korelasi sebagai reliabilitas pengukuran.
3. Definisi operasional dikatakan dua atau lebih pengukuran terpisah, menghitung dari tes ekuivalen dari perlakuan yang sama untuk masing-masing anggota kelompok.
(ini adalah inti dari definisi)
Definisi teori
Untuk tujuan teoritis kita mengasumsikan bahwa skor tes dipisah-pisah dalam dua komponen: true skor dan error skor.
Hipotesis true skor individual adalah rata-rata skor orang yang akan dihitung jika pada beberapa tes yang sama. Hubungan antara skor ini:
X= T + E
dengan variansi tes skor:
Thorndike mengelompokkan kemungkinan sumber variansi pada skor adalah untuk megidentifikasi kontribusi dari 2 tipe variansi.(lihat hal 74). Beberapa factor mengemukakan mengapa individu memperoleh skor yang berbeda pada tes yang sama pada dua kesempatan, dan mengemukakan mengapa ujian di teskan pada saat/kesempatan yang sama diperoleh skor yang berbeda anat individu yang berbeda. Diskusi lebih detail dapat dilihat pada Stanley, untuk mendapatkan 4 tujuan dapat digeneralisasi sebagai: .(lihat hal 74).
1. Semua sumber variansi tidak penting dioperasikan dalam setiap situasi.
2. Beberapa factor mempunyai kontribusi terhadap skor eror dalam beberapa situasi tes tetapi berkontribusi true skor dalam situasi tes yang lain.
3. Reliabilitas bukan sekedar factor intrisik tes, realibilitas nilainya berdasarkan tes kelompok, isi tes, dan kondisi saat tes.
Reabilitas merupakan tingkatan hasil penilaian siswa yang sama ketika:
a. mereka menyelesaikan tugas yang sama
b. dua atau lebih guru menilai hasil pekerjaan mereka pada tugas yang sama
c. mereka menyelesaikan dua atau lebih tugas yang berbeda namun dengan tingkat kesulitan yang sama pada suatu kesempatan yang sama ataupun berbeda.
Realibilitas membatasi Validitas
Meskipun validitas yang tinggi memerlukan relaibilitas yang tinggi pula, mundur itu tidak benar. Pengukuran reliabilitas yang tinggi tidak menjamin diperoleh interpretasi atau keputusan yang valid. Hal ini dikarenakan reliabilitas bukanlah satu-satunya criteria di dalam validitas.
Sebagai ilustrasi: Nona Cortez mengajar aritmatika kelas tujuh. Beliau merefleksikan siswa-siswanya pada perhitungan yang mana diharapkan siswa-siswanya mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari dan mendata ketrampilannya ini. Dia kemudian membuat tes perhitungan dan problem solving untuk menilai kemampuan siswa-siswanya pada ketrampilannya. Karena tes tertulis yang dibuat sangat banyak item, nona cortes dapat percaya diri bahwa apa yang dibuatnya akan sangat reliable.
Strategi umum untuk menghitung koefisien reliabilitas adalah mengatur penilaian pada sekelompok siswa satu kali atau lebih dan diperoleh skor. Kemudian satu atau dua pendekatan digunakan untuk memeriksa kekonsistenan.
Dalam konteks skor kekonsistenan korelasi ini disebut sebagai koefisien reliabilitas.
Indeks pengekspresian variansi dalam skor kekonsistenan disebut sebagi standar eror pengukuran.
Bagaimanapun mengetahui skor reliable tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa tes tersebut valid. Penilaian dari keandalan akan mempengaruhi kualitas (validitas) dari keputusan. Berikut sebagi contoh pengambilan keputusan:
1. Nona Cortez memutuskan penguasaan 80% dari target yang diharapkan dalam perhitungan kelulusan. Bagaimanapun tes hanya mengambil contoh dari sub-sub yang harus dikuasai. Dari tes yang dilakukan beberapa siswa dapat menguasai 80% atau bahkan lebih dari target yang diharapkan (dikatakan lulus tes), dan beberapa dapat menguasai kurang dari 80% (dikatakan tidak lulus tes). Siswa yang tidak lulus tes ini dikelompokkan sebagai siswa yang kompetensinya masih kurang.
2. Seorang penasehat ingin mengetahui apakah kemampuan matematika siswa atau kemampuan komunikasi siswa tinggi. Skor siswa pada tes kemampuan matematika tidak seperti skor tes pada kemampuan bahasanya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah siswa mempunyai kemampuan yang berbeda dalam 2 kemampuan tersebut? Kemmapuan siswa dalam hal yang berbeda akan berbeda pula, penasehat membutuhkan seberapa besar perbedaan dari true skor dalam kaitan dengan kesalahan perhitungan. Jika jarak skor sangat jauh maka kemungkinan tidak reliable. Jika skor tidak reliable maka penasehat dapat dengan kurang percaya diri mengemukakan bahwa perbedaan skor mengindikasikan perbedaan dalam kemampuan komunikasi dan kemampuan matematika.
Salah satu masalah utama dalam penelitian adalah masalah cara mngumpulkan data informasi yang akurat dan objektif. Hal ini menjadi sangat penting dikarenakan kesimpulan penelitian hanya akan dapat dipercaya apabila didasarkan pada informasi yang juga dapat dipercaya.
Reliabilitas merupakan penerjemah dari kata reliability , Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi sisebut sebagai pengukuran yang reliable. Walaupun reliabilitas mempunya banyak nama lain seperti keterpercayaan, keterandalan, kesetabilan, dan sebagainya namun ide pokok yang tekandung dalam konsep eliabilitas adalah sejauh man ahasil suatu pengukuran dapat dipercaya.
Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relative sama, selama asfek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah. Namun konsep reliabilitas dalam arti reliabilitas alat ukur erat kaitannya dengan masalah eror pengukuran (error of measurement). Eror pengukuran sendiri menunjukan pada sejauh mana inkonsistensi hasil pengukuran terjadi apabila pengukluran dilakukan berulang kali pada kelompok subyek yang sama. Konmsep reliabilitas dalam arti reliabilitas hasil ukur erat kaitannya dengan eror dalam pengambilan sampel (sampling error) yang menace kepada inmkonsistensi hasil ukur apabila pengukuran dilakukan berulang kali pada kelompok insividu yang berbeda.
Koefisien Reliabilitas
Secara empiric tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas. Pada awalnya tinggi rendahnya reliabilitas tes dicerminkan oleh koefisien korelasi antara sekor pada dua tes yang parallel, yang dikenakan pada sekelompok individu yang sama. Semakin tinggi koefisien korelasi termaksud berarti konsistensi atara hasil pengenaan dua tes tersebut semakin baik dan hasil ukur kedua tes itu dikatakn semakin reliable.
Koefisien korelasi antara dua variable dilambangkan oleh huruf r. Apabila skor pada tes pertama diberi lambing X dan skor pada tes kedua diberi lambing X’, maka koefisien korelasi antara kedua tes tersebut adalah . Symbol inilah yang digunakan sebagai symbol koifisien korelasi.
Walaupun secara teoritik besarnya koifisien relibialitas berkisar mulai dari 0,0 dampai denga 1,0 akan tetapi kenyataanya koefisien sebesar 1,0 dan sekecil 0,0 tidak pernah dijumpai. Disamping itu, walaupun koifisien korelasi dapat saja betambah negative (-), koefisien reliabilitas selalu mengacu pada angka positif (+) dikarenakan angka negative tidak ada artinya bagi intefretasi reliabilitas hasil ukur. Koifisien korelasi = 1,0 berarti adanya konsistensi yang sempurna pada hasil ukur yang bersangkutan. Konsisten yang sempurna seperti itu tidak dapat terjadi dalam pengukuran aspek-aspek psikologis dan social yang menggunakan manusia sebagi subyeknya dikarenakan terdapatnya berbagai sumber eror dalam diri manusia dan dalam pelaksanaan pengukuran yang sangat mudah mempengaruhi kecermatan hasil pengkuran.
Dalam penilaian pendidikan, sering timbul pertanyaan bahwa apakah koefisien reabilitas dari soal yang digunakan cukup bagus? Koefisien yang sempuna adalah 1, akan tetapi dalam penilaian pendidikan yang subyeknya adalah manusia maka hal tersebut adalah tidak mungkin. Dari penilaian dengan tipe-tipe instrumen yang berbeda, mempunyai tingkatan yang berbeda pula tentang koefisien reliabilitasnya.
Standar penilaian untuk soal pilihan ganda, koefisien reliabilitasnya 0,85-0,90.
Standar penilaian untuk soal open ended, koefisien reliabilitasnya 0,65-0,80
Standar penilaian untuk soal portofolio, koefisien reliabilitasnya 0,40-0,60
Disamping tehnik-tehnik korelasi, berkembang pula tehnik analisis varians skor dan tehnik analisis varian eror. Walaupun demikian untuk melambangkan koifiseien reliabilitas umumnya tetap digunakan symbol .
Konsepsi mengenai Reliabilitas
Konsepsi reliabilitas dalam teori skor murni klasikal dapat dipahami dari beberapa intefretasi. Suatu tes dikatakan sebagi memilki reliabilitas tinggi apabila, misalnya, skor tampak tes itu berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. Reliabilitas dapat pula ditafsirkan sebagai seberapa tingginya korelasi antara skor tampak pada dua tes yang parallel.
Allen dan Yen (1979) menguraikan enam data untuk memandang koefisien reliabilitas tes. Dalam uraian mereka, koefisien reliabilitas disombolkan oleh sebagai parameter reliabilitas populasi umum. Guna penyederhanaan kita akan menggunakan symbol sebagai lambang reliabilitas dalam aliran statistic maupun dalam parameter populasi. Lambang varian polulasi , dalam pengertian yang sama, akan digantikan oleh lambang varian sampel S2.
Interpretasi 1
= korelasi skor -tampak antara sua tes yang parallel
Interprestasi ini mngatakan bahwa reliabilitas tes ditentuka oleh sejauhmana skor-tampak pada dua tes yang parallel berkorelasi. Bila pada dua tes yang parallel setiap subyek memperoleh skor yang sama dan pada masing-masing tes terdapat varian skor subyek, yaitu varian skor-tampaknya tidak sama dengan 0, maka tes tersebut mempunyai reliabilitas sempurna dengan koifisien sebesar = 1,00. Sebaliknya apabila skor-tampak pada suatu tes tidak berkorelasi sama sekali dengan skor tampak pada tes paralelnya maka kedua tes tersebut sama sekali tidak reliable dan koifisien reliabilitasnya adalah . Interprestasi ini menjadi asumsi dasar dalam pendekatan reliabilitas bentuk parallel (parallel – forms) dan pendekatan reliabilitas bentuksejajar (alternate-form)
Interpretasi 2
2 = besarnya populasi varian X yang dijelaskan oleh hubungan antara liniernya dengan x’
Interpretasi ini berasal dari penafsiran koifisien determinasi sebgaimana biasanya dilakukan pada p[enafsiran koifisien korelasi linier pearson. Jadi didalam hal ini besarnya kuadrat koifisien reliabilitas dapat dipandang sebagai proporsi varians skor pada tes lainnya yang parallel.
Interpretasi 3
Rxx’ = st2 / sx2
Koifisien reliabilitas merupakan besarnya perbandingan antara varian skor-murni dan varian skor-tampak pada suatu tes, atau merupakan provorsi varians skor-tampak yang berisi varian skor-murni. Suatu koifisien reliabilitas sebesar 0,8 berarti bahwa 80 persen dari varian skor merupakan varian skor murni.
Bila semua perbedaan yang terjadi pada skor tampak subyek merefleksikan perbedaan skor murni yaitu sx2 =st2, maka reliabilitas tes tersebut adalah sempurna dengan koefisien rxx’ = 1,00.
Intertpretasi 4
= rxt2
Koifisoen reliabilitas merupakan kuadrat koifisien korelasi antara skor-tampak dengan skor murni. Jadi apabila koefisien reliabilitas rxx’ = 0,64 maka rxt = = 0,80. Bila besarnya koifisien rxx’ = 0,49 maka rxt = = 0.70.
Dari kedua contoh itu tampak bahwa koefisien korelasi antara skor-tampak dengan skor-murni selalu akan lebih besar dari pada koefisien reliabilitasnya, selama koefisien reliabilitas itu tidak sama dengan 0 atau 1. Kalau skor tampak pada tes atau variable lain itu diberi symbol Y maka fakta tersebut mendukung pernyataan bahwa rxt rxy
Menuru tinterpretasi ini yaitu, = rxt2 korelasi maksimal antara X dan Y adalah . Dalam simbolisasi valisitas, skor X sendiri meruipakan skor tes dan skor Y merupakan skor kriteriasedangakan koefisien validitas disimbolkan oleh rxy.
Interpretasi 5
rxx’ = 1 – rxe2
Besarnya proporsi varian skor tampak yang berkaitan dengan varian eror ditunjukan oleh rxe2. Sedangkan semakin besar proporsi itu maka semakin eratlah kaitan antara skor-tampak yang diperoleh subyek dengan dengan eror dan semakin rendahnya reliabilitas tes. Idealnya antara skor tampak dan eror sama sekali tidak boleh berkorelasi sehingga rxe = 0. Hal ini hanya terjadi apabila reliabilitas tes adalah maksimal.
Interpretasi 6
rxx’ = se2 / sx2
Interpretasiini mengaitkan reliabilitas dengan varian eror dan varian skor tampak. Disisi lain kita dapat melihat bahwa derajat heterogenitas skor subyek yang ditunjukanb oleh besarnya sx2 mempunyai pengaruh pnting terhadap koefisien reliabilitas. Dengan asumsi varian eror tetap, tinggi rendahnya koefisien reliabilitas akan tergantung pada besar kecilnya varian skor tampak pada subyek yang bersangklutan. Pada kelompok subyek yang homogen yaitu yang memiliki sx2 kecil, harga se2 / sx2 akan relative lebih kecildibandingkan dengan hargannya pada kelompok subyek yang heterogen (yang terdistribusi dengan sx2 besar)
Estimasi Reliabilitas
Estimasi reliabilitas dapat dilakukan melalui salah satu pendekatan umum yaitu pendekatan tes ulang (test – retest), pendekatan tesw sejajar (alternetif – forms) dan pendekatan konsistensi interlan (internal-consistency)
• tes - retest reliabilitas mengukur stabilitas nilai.
Pendekatan ini menunjukan konsistensi pengukuran dari waktu kewaktu dan mnghasilkan koefisien reliabilitas yang sering disebut sebagai koefisien stabilitas. Prinsip estimasinya adalah dengan menggunakan suatu ionstrumen pengukur dua kali dengan tenggang waktu tertentu, terhadap sekelompok subyek yang sama.
Komputasi korelasi antara distribusi skor dari kedua penggunaan tersebut menghasilkan estimasi reliabilitas instrument yang bersangkutan.
Kelemahan pendekatan test – retest adalah kurang pralktisnya penggunaan tes dua kali dan besarnya kemungkinan terjadi efek bawaan (carry –over-effects) dari suatu penggunaan tes kepenggunaan yang kedua.
• Pendekatan tes sejajar (alternetif – forms)
Pendekataan tes sejajar hanya dapat dilakukan apabila tersedia dua bentuk instrument pengukur yang dapat dianggap memnuhi asumsi parallel.
Pada kenyataan dilapangan bentuk parallel tidak selalu ada, karena biasanya penilaian bentuk parallel:
1. Prosedur penilaian hanya sekali digunakan pada masing-masing siswa
2. Tindalkan penilaian mengubah siswa
3. Hanya ada satu tindakan untuk menilai kemampuan ketertarikan
4. Sangat mahal utnuk membangun bentuk parallel dari penilaian
Salah satu indikator terpenuhinya asumsi paralel adalah setaranya korelasi antara skor kedua instrument tersebut dengan skor suatu ukuran lain.
Untuk dapat parallel kedua bentuk instrument harus disusun dengan tujuan mengukur objek psikologis yang sama berdasarkan blue print (pola rancangan) yang sama serta spesifikasi yang sama pula.
Estimasi reliabilitas dengan pendekatan bentuk sejajar dilakukan setelah kedua instrument tersebut dikenakan berturut-turut pada sekelompok subyek. Komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor dari penggunaan kedua instrimen itu menghasilkan koefisien reliabilitas yang berlaku bagi keduanya.
Kelemahan utama pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun dua alat ukur yang menuhi persyaratan paralel atau sejajar disamping pendekatan ini juga tidak menghilangkan sama sekali kemungkiana terjadinya efek bawaan.
• Pendekatan Konsistensi Internal (internal consistency)
Estimasi reliabilitas dengan pendekatan konsistensi internal didasarkan pada pada data dari sekali peggunaan satu bentuk alat uikur pada sekelompok subyek. Komputasi koefisien reliabilitasnya dilakukan setelah keselruhan instrument yang telah dikenakan pada subyek itu dibelah menjadi bebrapa bagian. Satu instrument dapat dibelah menjadi dua, tiga, empat atau lebih bagian bahkan dapat dibelah menjadi sebanyak sejumlah item-itemnya. Bentuk dan sifat alat ukur serta banyaknya belahan yang dibuat akan menentukan tehnik perhitungan koefisien relkiabilitasnya.
Diantara tehnik-tehnik komputasi reliabilitas konsistensi internal adalah:
a. Formula Spearman Brown
Dapat digunakan apabila jumlah item dalam tes adalah genab sehingga dapat dibelah menjadi dua bagioan yang seimbang.
Pembelahan ini dapat dilakukan dengan mengelompokkan item-item bernomor ganjil menjadi satu dan item-itembernomor genap menjadi satu pula.
Contoh:
Table 1
= koefisien korelasi antara antara skor belahan Y1 dan skor blahan Y2
Komputasi korelasi antara belahan y1 dan Y2 dari data pada table 1 menghasilkan = 0,827 sehingga koefisien reliabilitasnya yang dihitung dengan formula Spearman Brown adalah
b. Formula Rulon
Sebagaimana formula Sperman Brown juga dikenakan pada data skor suatu tes yang dibelah menjadi dua bagian yang seimbang.
Dan formula Rulon, komputasi reliabilitas didasarkan pada selisih skor subyek pada kedua belahan tersebut. Mrnurut Rulon selisih skor itulah sumber variasi eror dan karenannya bila dibandingkan dengan variasi skor akan dapat menjadi dasar mengestimasi reliabilitas tes.
Dirumuskan:
= variansi perbedaan skor belahan (d)
= variansi skor tes (X)
Pada table 1 perbedaan skor diantara belahan yaitu d telah di hitung dengan mengurangkan setiap harga Y2 dari Y1. Perhitungan varias d dan varian X menghasilkan = 1,378 dan = 14,04
Dengan demikiandiperoleh koefisien reliabilitas rulon
c. Formula Alfa
Untuk melakukan estimasi reliabilitas Alfa tes dapat dibelah menjadi beberapa bagian. Dalam pembelahan ini sangat penting untuk menjadikan banyaknya aitem dalam setiap belahan sama sehingga diharapkan belahan-belahan itu seimbang. Bila formula Allpa dikenakan pada tes yang dibelah tidak seimbang maka koefisien yang di peroleh akan rendah dan merupakan underestimasi terhadap reliabilitas sebelumnya.
Formula Alpa untuk tes yng dibelah dua
= koefisien relibilitas Alpa
= banyaknya belahan
= Varians skor belahan (j)
= variasn skor tes (X)
Bila tes dibelah menjadi tiga bagian maka formulanya untuk komputasi reliabilitas adalah
Sebagai contoh data pada table 1 kita belah menjadi 3 belahan yang masing-masing berisi 4 aitem
Y1 = Aitem 1 + 4 +7 + 10
Y2 = Aitem 2 + 5 +8 + 11
Y3 = Aitem 3 + 6 +9 + 12
Perhitungan terhadap varians-varians skor belahan dan varians skor tes pada data diatas menghasilkah:
Dengan demikian koefisien reliabilitas Alpa untuk hasil tes tersebut diatas adalah:
d. Formula Kuder Richardson 20
Formula KR-20 sebetulnya sama denagn formaula Alfa, akan tetapi formula KR – 20 hanya dapat dikenakan pada data skor dikotomi dari tes yang seolah-olah dibagi-bagi menjadi belahan sebanyak aitemnya.
Dirumuskan oleh:
k = banyaknya aitem
P = indeks kesukaran aitem
= varians skor tes (X)
Untuk contoh penggunaan pormula ini perhatikan table berikut:
sedangkan banyaknya item 12 dan = 14,04 sehingga koefisien reliabilitasnya dengan menggunakan formula KR-20 adalah:
metode yang tepat
Model pembelajaran yang tepat untuk peserta didik
.
Tujuan pembelajaran yang diinginkan tentu optimal, karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satunya adalah metodologi mengajar. Pembelajaran/pengajaran merupakan istilah kunci yang hampir tidak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena hubungan yang erat antara keduanya. Metodologi pembelajaran/pengajaran harus dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar pendidik. Jika menurut peserta didik, cara mengajar pendidik menarik, peserta didik akan tekun, rajin, dan antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan pada peserta didik baik tutur kata, tingkah laku, motorik, dan gaya hidupnya.Banyaknya metodologi pembelajaran mengharuskan pendidik memiliki metode mengajar yang beragam. Dalam proses belajar mengajar, pendidik tidak menggunakan hanya satu metode, tetapi harus bervariasi, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar peserta didik dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu. Dengan demikian, tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat terwujud/tercapai.
Kata metodologi berasal dari bahasa Latin yakni meta yang berarti jauh (melampaui) dan hodos yang berarti jalan (cara). Metodologi adalah ilmu mengenai cara mencapai tujuan. Dengan demikian, metodologi pengajaran adalah ilmu yang mempelajari cara untuk melakukan aktivitas yang sistematis dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik, yang berarti tercapainya tujuan pengajaran. Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, pendidik harus mengetahui, mempelajari, dan mempraktikkan beberapa metode mengajar pada saat mengajar.
Pembelajaran atau Pengajaran
Arifin (1978) mendefinisikan bahwa mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan penyampaian materi ajar kepada siswa agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Tyson dan Caroll (1970) mengemukakan bahwa mengajar adalah “A way working with students…a process of interaction, the teacher does something to student, the students do something in return”, Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar.
Tardif (1989) mendefinisikan mengajar sebagai tindakan yang dilakukan seseorang (pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (peserta didik) melakukan kegiatan belajar. Biggs (1991), seorang ahli psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu:
Kuantitatif
Mengajar diartikan sebagai transmission of knowledge, yakni penyebaran pengetahuan. Dalam hal ini, guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada peserta didik dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya peserta didik bukan tanggung jawab pendidik.
Institusional
Mengajar adalah penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini, pendidik dituntut untuk selalu siap menyesuaikan berbagai teknik mengajar terhadap peserta didik yang memiliki berbagai macam tipe belajar, bakat, kemampuan, dan kebutuhan.
Kualitatif
Mengajar adalah upaya memfasilitasi pembelajaran (facilitation of learning), yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar peserta didik mencari makna dan pemahamannya sendiri.
Metode Pembelajaran atau Pengajaran Metode ceramah
Metode ceramah (preaching method) adalah sebuah metode pengajaran dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa, yang pada umumnya mengikuti secara pasif (Syah M., 2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli serta daya paham peserta didik. Beberapa kelemahan metode ceramah adalah:
1. Membuat peserta didik pasif.
2. Mengandung unsur paksaan kepada peserta didik.
3. Mengandung sedikit daya kritispeserta didik (Daradjat, 1985).
4. Bagi peserta didik dengan tipe belajar visual akan lebih sulit menerima pelajaran dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki tipe belajar audio.
5. Sukar mengendalikan sejauh mana pemahaman belajar peserta didik.
6. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme.
7. Jika terlalu lama dapat membuat jenuh (Djamarah, S.B., 2000).
Beberapa kelebihan metode ceramah adalah:
1. Pendidik mudah menguasai kelas.
2. Pendidik mudah menerangkan banyak bahan ajar berjumlah besar.
3. Dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar.
4. Mudah dilaksanakan (Djamarah, S.B., 2000).
Metode diskusi
Muhibbin Syah (2000), mendefinisikan metode diskusi sebagai metode mengajar yang sangat berkaitan dengan pemecahan masalah (problem solving). Metode ini sering disebut sebagai diskusi kelompok dan resitasi/pelafalan bersama (socialized recitation). Tujuan metode diskusi dalam proses belajar mengajar adalah:
1. Mendorong peserta didik berpikir kritis.
2. Mendorong peserta didik mengekspresikan pendapatnya secara bebaS.
3. Mendorong peserta didik menyumbangkan buah pikirnya untuk memecahkan masalah bersama.
4. Mengambil satu atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang cermat.
Kelebihan metode diskusi adalah:
1. Menyadarkan peserta didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan.
2. Menyadarkan peserta didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang Iebih baik.
3. Membiasakan peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan peserta didik bersikap toleransi (Djamarah, S.B., 2000).
Kelemahan metode diskusi adalah:
1. Tidak dapat digunakan dalam kelompok yang besar.
2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3. Cenderung dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Djamarah, S. B., 2000).
Metode demontrasi
Metode demonstrasi adalah metode pengajaran dengan cara memperagakan benda, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Syah M., 2000). Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan ajar (Djamarah, S. B., 2000).
Manfaat psikologis pengajaran dari metode demonstrasi adalah:
1. Perhatian peserta didik dapat lebih dipusatkan.
2. Proses belajar peserta didik lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
3. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri peserta didik (Daradjat, 1985).
Kelebihan metode dernonstrasi adalah:
1. Membantu peserta didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
2. Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
3. Kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya (Djamarah, S. B., 2000).
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut:
1. Peserta didik kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang akan diperagakan.
2. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
3. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang
menguasai apa yang didemonstrasikan (Djamarah, S. B., 2000).
Metode ceramah plus
Metode ceramah plus adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya. Terdapat tiga macam metode ceramah plus yaitu:
1. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
Metode ini adalah metode pengajaran yang menggabungkan antara ceramah dan tanya jawab serta pemberian tugas. Tata Cara metode campuran ini adalah:
a. Penyampaian materi oleh pendidik.
b. Pemberian peluang tanya jawab antara pendidik dan siswa.
c. Pemberian tugas kepada siswa.
2. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengombinasiannya, yaitu pertama pendidik menguraikan materi ajar, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
3. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
Metode ini merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan dan memperagakan materi serta latihan keterampilan.
Metode resitasi
Metode resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.
Kelebihan metode resitasi adalah (Djamarah, S. B., 2000):
1. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
2. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab, dan mandiri.
Kelemahan metode resitasi adalah sebagai berikut:
1. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan, yakni peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan temannya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
2. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
3. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.
Metode eksperimental
Metode eksperimental atau percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada peserta didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan (Djamarah, S. B., 2000). Metode eksperimental merupakan suatu metode mengajar yang menggunakan alat tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali, misalnya percobaan kimia di laboratorium.
Kelebihan metode eksperimental adalah:
1. Metode ini dapat membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata pendidik/pengajar atau buku.
2. Peserta didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi tentang ilmu dan teknologi.
3. Dengan ini, diharapkan terbina peserta didik yang akan menciptakan terobosan atau penemuan baru yang dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
Kelemahan metode eksperimental adalah:
1. Tidak cukupnya ketersediaan alat menyebabkan tidak setiap peserta didik berkesempatan mengadakan eksperimen.
2. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, peserta didik harus menunggu untuk melanjutkan pelajaran.
3. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.
Metode study tour
Study four (karya wisata) adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan basil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
Kelebihan metode study tour adalah:
1. Metode ini menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
2. Membuat materi yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
3. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.
Kelemahan metode study tour adalah:
1. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
2. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
3. Dalam study tour, unsur rekreasi sering kali lebih menjadi prioritas daripada tujuan utama, sehingga unsur studi terabaikan.
4. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik peserta didik di lapangan.
5. Biayanya cukup mahal.
6. Memerlukan tanggung jawab pengajar/pendidik dan sekolah atas kelancaran metode ini dan keselamatan peserta didik, terutama untuk study tour jangka panjang dan jauh.
Metode latihan keterampilan (drill method)
metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung ke tempat latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (mis, membuat tas dari mute). Metode ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis pada peserta didik.
Kelebihan metode latihan keterampilan adalah:
1. Meningkatkan kecakapan motorik, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
2. Meningkatkan kecakapan mental, seperti dalarn perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda simbol.
3. Dapat membentuk kebiasaan dan meningkatkan ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
Kelemahan metode latihan keterampilan adalah:
1. Menghambat bakat dan inisiatif peserta didik karena peserta didik lebih sering diarahkan untuk melakukan kebiasaan bukan keterampilan nalisis.
2. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
3. Kadang kala latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan menjenuhkan.
4. Dapat menimbulkan verbalisme.
Metode pengajaran beregu (team teaching method)
Metode pengajaran beregu adalah suatu metode mengajar dengan jumlah pendidik lebih dari satu orang, yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, masing-masing pendidik membuat soal, kemudian digabungkan. Jika ujian lisan, peserta didik yang diuji harus langsung berhadapan dengan tim pendidik tersebut.
Peer teaching method
Metode peer teaching atau pengajaran oleh teman sejawat adalah suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.
Metode pemecahan masalah (problem solving method)
Metode ini adalah suatu metode mengajar dengan memberikan soal latihan kepada peserta didik kemudian diminta pemecahannya.
Project method
Project method atau metode perancangan adalah suatu metode mengajar dengan meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai objek kajian.
Kelebihan project method adalah:
1. Memperluas pola pikir peserta didik dan menyeluruh dalam memandang serta memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
2. Melalui metode ini, peserta didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Kelemahan project method adalah:
1. Kurikulum yang berlaku di negara kita scat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.
2. Pengaturan penyusunan materi pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus
dari pendidik.
3. Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan peserta didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan.
4. Materi pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
Teileren method
Teileren method atau metode bagian adalah suatu metode mengajar dengan memberikan materi secara bertahap/sebagian-sebagian, misalnya paragraf per paragraf kemudian dilanjutkan lagi dengan paragraf lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya.
Metode global (Gauze method )
Metode global adalah suatu metode mengajar dengan meminta peserta didik membaca keseluruhan materi kemudian membuat resume atau kesimpulan dari apa yang mereka baca.
Nah, dari semua model pembelajaran yang sudah diterangkan di atas, manakah model pembelajaran yang tepat untuk peserta didik Anda?
.
Tujuan pembelajaran yang diinginkan tentu optimal, karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satunya adalah metodologi mengajar. Pembelajaran/pengajaran merupakan istilah kunci yang hampir tidak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena hubungan yang erat antara keduanya. Metodologi pembelajaran/pengajaran harus dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar pendidik. Jika menurut peserta didik, cara mengajar pendidik menarik, peserta didik akan tekun, rajin, dan antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan pada peserta didik baik tutur kata, tingkah laku, motorik, dan gaya hidupnya.Banyaknya metodologi pembelajaran mengharuskan pendidik memiliki metode mengajar yang beragam. Dalam proses belajar mengajar, pendidik tidak menggunakan hanya satu metode, tetapi harus bervariasi, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar peserta didik dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu. Dengan demikian, tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat terwujud/tercapai.
Kata metodologi berasal dari bahasa Latin yakni meta yang berarti jauh (melampaui) dan hodos yang berarti jalan (cara). Metodologi adalah ilmu mengenai cara mencapai tujuan. Dengan demikian, metodologi pengajaran adalah ilmu yang mempelajari cara untuk melakukan aktivitas yang sistematis dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik, yang berarti tercapainya tujuan pengajaran. Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, pendidik harus mengetahui, mempelajari, dan mempraktikkan beberapa metode mengajar pada saat mengajar.
Pembelajaran atau Pengajaran
Arifin (1978) mendefinisikan bahwa mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan penyampaian materi ajar kepada siswa agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Tyson dan Caroll (1970) mengemukakan bahwa mengajar adalah “A way working with students…a process of interaction, the teacher does something to student, the students do something in return”, Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar.
Tardif (1989) mendefinisikan mengajar sebagai tindakan yang dilakukan seseorang (pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (peserta didik) melakukan kegiatan belajar. Biggs (1991), seorang ahli psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu:
Kuantitatif
Mengajar diartikan sebagai transmission of knowledge, yakni penyebaran pengetahuan. Dalam hal ini, guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada peserta didik dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya peserta didik bukan tanggung jawab pendidik.
Institusional
Mengajar adalah penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini, pendidik dituntut untuk selalu siap menyesuaikan berbagai teknik mengajar terhadap peserta didik yang memiliki berbagai macam tipe belajar, bakat, kemampuan, dan kebutuhan.
Kualitatif
Mengajar adalah upaya memfasilitasi pembelajaran (facilitation of learning), yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar peserta didik mencari makna dan pemahamannya sendiri.
Metode Pembelajaran atau Pengajaran Metode ceramah
Metode ceramah (preaching method) adalah sebuah metode pengajaran dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa, yang pada umumnya mengikuti secara pasif (Syah M., 2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli serta daya paham peserta didik. Beberapa kelemahan metode ceramah adalah:
1. Membuat peserta didik pasif.
2. Mengandung unsur paksaan kepada peserta didik.
3. Mengandung sedikit daya kritispeserta didik (Daradjat, 1985).
4. Bagi peserta didik dengan tipe belajar visual akan lebih sulit menerima pelajaran dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki tipe belajar audio.
5. Sukar mengendalikan sejauh mana pemahaman belajar peserta didik.
6. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme.
7. Jika terlalu lama dapat membuat jenuh (Djamarah, S.B., 2000).
Beberapa kelebihan metode ceramah adalah:
1. Pendidik mudah menguasai kelas.
2. Pendidik mudah menerangkan banyak bahan ajar berjumlah besar.
3. Dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar.
4. Mudah dilaksanakan (Djamarah, S.B., 2000).
Metode diskusi
Muhibbin Syah (2000), mendefinisikan metode diskusi sebagai metode mengajar yang sangat berkaitan dengan pemecahan masalah (problem solving). Metode ini sering disebut sebagai diskusi kelompok dan resitasi/pelafalan bersama (socialized recitation). Tujuan metode diskusi dalam proses belajar mengajar adalah:
1. Mendorong peserta didik berpikir kritis.
2. Mendorong peserta didik mengekspresikan pendapatnya secara bebaS.
3. Mendorong peserta didik menyumbangkan buah pikirnya untuk memecahkan masalah bersama.
4. Mengambil satu atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang cermat.
Kelebihan metode diskusi adalah:
1. Menyadarkan peserta didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan.
2. Menyadarkan peserta didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang Iebih baik.
3. Membiasakan peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan peserta didik bersikap toleransi (Djamarah, S.B., 2000).
Kelemahan metode diskusi adalah:
1. Tidak dapat digunakan dalam kelompok yang besar.
2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3. Cenderung dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Djamarah, S. B., 2000).
Metode demontrasi
Metode demonstrasi adalah metode pengajaran dengan cara memperagakan benda, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Syah M., 2000). Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan ajar (Djamarah, S. B., 2000).
Manfaat psikologis pengajaran dari metode demonstrasi adalah:
1. Perhatian peserta didik dapat lebih dipusatkan.
2. Proses belajar peserta didik lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
3. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri peserta didik (Daradjat, 1985).
Kelebihan metode dernonstrasi adalah:
1. Membantu peserta didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
2. Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
3. Kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya (Djamarah, S. B., 2000).
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut:
1. Peserta didik kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang akan diperagakan.
2. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
3. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang
menguasai apa yang didemonstrasikan (Djamarah, S. B., 2000).
Metode ceramah plus
Metode ceramah plus adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya. Terdapat tiga macam metode ceramah plus yaitu:
1. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
Metode ini adalah metode pengajaran yang menggabungkan antara ceramah dan tanya jawab serta pemberian tugas. Tata Cara metode campuran ini adalah:
a. Penyampaian materi oleh pendidik.
b. Pemberian peluang tanya jawab antara pendidik dan siswa.
c. Pemberian tugas kepada siswa.
2. Metode ceramah plus diskusi dan tugas
Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengombinasiannya, yaitu pertama pendidik menguraikan materi ajar, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
3. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
Metode ini merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan dan memperagakan materi serta latihan keterampilan.
Metode resitasi
Metode resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.
Kelebihan metode resitasi adalah (Djamarah, S. B., 2000):
1. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
2. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab, dan mandiri.
Kelemahan metode resitasi adalah sebagai berikut:
1. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan, yakni peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan temannya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
2. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
3. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.
Metode eksperimental
Metode eksperimental atau percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada peserta didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan (Djamarah, S. B., 2000). Metode eksperimental merupakan suatu metode mengajar yang menggunakan alat tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali, misalnya percobaan kimia di laboratorium.
Kelebihan metode eksperimental adalah:
1. Metode ini dapat membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata pendidik/pengajar atau buku.
2. Peserta didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi tentang ilmu dan teknologi.
3. Dengan ini, diharapkan terbina peserta didik yang akan menciptakan terobosan atau penemuan baru yang dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
Kelemahan metode eksperimental adalah:
1. Tidak cukupnya ketersediaan alat menyebabkan tidak setiap peserta didik berkesempatan mengadakan eksperimen.
2. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, peserta didik harus menunggu untuk melanjutkan pelajaran.
3. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.
Metode study tour
Study four (karya wisata) adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan basil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
Kelebihan metode study tour adalah:
1. Metode ini menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
2. Membuat materi yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
3. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.
Kelemahan metode study tour adalah:
1. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
2. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
3. Dalam study tour, unsur rekreasi sering kali lebih menjadi prioritas daripada tujuan utama, sehingga unsur studi terabaikan.
4. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik peserta didik di lapangan.
5. Biayanya cukup mahal.
6. Memerlukan tanggung jawab pengajar/pendidik dan sekolah atas kelancaran metode ini dan keselamatan peserta didik, terutama untuk study tour jangka panjang dan jauh.
Metode latihan keterampilan (drill method)
metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung ke tempat latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (mis, membuat tas dari mute). Metode ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis pada peserta didik.
Kelebihan metode latihan keterampilan adalah:
1. Meningkatkan kecakapan motorik, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
2. Meningkatkan kecakapan mental, seperti dalarn perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda simbol.
3. Dapat membentuk kebiasaan dan meningkatkan ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
Kelemahan metode latihan keterampilan adalah:
1. Menghambat bakat dan inisiatif peserta didik karena peserta didik lebih sering diarahkan untuk melakukan kebiasaan bukan keterampilan nalisis.
2. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
3. Kadang kala latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan menjenuhkan.
4. Dapat menimbulkan verbalisme.
Metode pengajaran beregu (team teaching method)
Metode pengajaran beregu adalah suatu metode mengajar dengan jumlah pendidik lebih dari satu orang, yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, masing-masing pendidik membuat soal, kemudian digabungkan. Jika ujian lisan, peserta didik yang diuji harus langsung berhadapan dengan tim pendidik tersebut.
Peer teaching method
Metode peer teaching atau pengajaran oleh teman sejawat adalah suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.
Metode pemecahan masalah (problem solving method)
Metode ini adalah suatu metode mengajar dengan memberikan soal latihan kepada peserta didik kemudian diminta pemecahannya.
Project method
Project method atau metode perancangan adalah suatu metode mengajar dengan meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai objek kajian.
Kelebihan project method adalah:
1. Memperluas pola pikir peserta didik dan menyeluruh dalam memandang serta memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
2. Melalui metode ini, peserta didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Kelemahan project method adalah:
1. Kurikulum yang berlaku di negara kita scat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.
2. Pengaturan penyusunan materi pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus
dari pendidik.
3. Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan peserta didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan.
4. Materi pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
Teileren method
Teileren method atau metode bagian adalah suatu metode mengajar dengan memberikan materi secara bertahap/sebagian-sebagian, misalnya paragraf per paragraf kemudian dilanjutkan lagi dengan paragraf lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya.
Metode global (Gauze method )
Metode global adalah suatu metode mengajar dengan meminta peserta didik membaca keseluruhan materi kemudian membuat resume atau kesimpulan dari apa yang mereka baca.
Nah, dari semua model pembelajaran yang sudah diterangkan di atas, manakah model pembelajaran yang tepat untuk peserta didik Anda?
konsep belajar mandiri
05052010
KONSEP BELAJAR MANDIRI
Apa Gaya Belajar Itu?
Belajar di bidang formal tidak selalu menyenangkan. Apalagi jika Anda harus belajar dengan terpaksa . Misalnya, Anda harus belajar karena itulah satu-satunya cara untuk lulus, mendapat pekerjaan atau bahkan kenaikan pangkat. Contoh lain dari keterpaksaan adalah bila Anda menyukai belajar di kelas dengan bimbingan dosen, sedangkan Anda terpaksa kuliah di Universitas Terbuka (UT) yang mempunyai sistem belajar jarak jauh.
Menghadapi keterpaksaan untuk belajar jelas bukan hal yang menyenangkan. Tidak akan mudah bagi seseorang untuk berkonsentrasi belajar jika ia merasa terpaksa. Oleh karena itu, Anda perlu mencari jalan bagaimana agar belajar menjadi hal yang menyenangkan, atau …. walaupun tetap terpaksa, tapi dapat menjadi lebih mudah dan efektif.
Para ahli di bidang pendidikan mencoba mengembangkan teori mengenai gaya belajar sebagai cara untuk mencari jalan agar belajar menjadi hal yang mudah dan menyenangkan. Sebagaimana kita ketahui, belajar membutuhkan konsentrasi. Situasi dan kondisi untuk berkonsentrasi sangat berhubungan dengan gaya belajar Anda. Jika Anda mengenali gaya belajar Anda, maka Anda dapat mengelola pada kondisi apa, dimana, kapan dan bagaimana Anda dapat memaksimalkan belajar Anda. Apa gaya belajar itu?
Pengaruh Lingkungan Belajar
Lingkungan mempengaruhi kemampuan Anda dalam berkonsentrasi untuk belajar. Anda akan dapat memaksimalkan kemampuan konsentrasi Anda, jika Anda mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap konsentrasi. Jika Anda dapat memaksimalkan konsentrasi, Anda mampu menggunakan kemampuan Anda pada saat dan suasana yang tepat. Dengan demikian Anda dapat menghemat energi. Coba bayangkan jika Anda termasuk orang yang suka belajar di tempat yang sepi dan tenang, sementara teman Anda mengajak belajar di rumahnya sambil memasang musik dengan keras. Mampukah Anda berkonsentrasi dengan maksimal?
Faktor lingkungan yang mempengaruhi konsentrasi belajar adalah suara, pencahayaan, temperatur, dan desain belajar.
a. Suara
Tiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap suara. Ada yang menyukai belajar sambil mendengarkan musik keras, musik lembut, ataupun nonton TV. Ada juga yang suka belajar di tempat yang ramai, bersama teman. Tapi ada juga yang tidak dapat berkonsentrasi kalau banyak orang di sekitarnya. Bahkan bagi orang tertentu, musik atau suara apapun akan mengganggu konsentrasi belajar mereka. Mereka memilih belajar tanpa musik atau di tempat yang mereka anggap tenang tanpa suara. Namun, beberapa orang tertentu tidak merasa terganggu baik ada suara ataupun tidak. Mereka tetap dapat berkonsentrasi belajar dalam keadaan apapun.
b. Pencahayaan
Pencahayaan merupakan faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara. Mungkin karena relatif mudah mengatur pencahayaan sesuai dengan yang Anda butuhkan.
c. Temperatur
Pengaruh temperatur terhadap konsentrasi belajar pada umumnya juga tidak terlalu dipermasalahkan orang. Namun, Anda perlu mengetahui bahwa reaksi tiap orang terhadap temperatur berbeda. Ada yang memilih belajar di tempat dingin, atau sejuk; sedangkan orang yang lain memilih tempat yang hangat.
d. Desain Belajar
Jika Anda sedang membaca, menulis, atau meringkas modul yang membutuhkan konsentrasi, coba perhatikan, apakah Anda merasa lebih nyaman untuk melakukannya sambil duduk santai di kursi, sofa, tempat tidur, tikar, karpet atau duduk santai di lantai? Jika salah satu cara tersebut merupakan cara yang membuat Anda lebih mudah berkonsentrasi untuk belajar, maka mungkin Anda termasuk orang yang membutuhkan desain informal atau cara belajar tidak formal yang santai.
Jika Anda termasuk tipe yang membutuhkan desain formal, maka mungkin Anda lebih mudah berkonsentrasi jika belajar dengan kursi dan meja belajar. Lengkapi tempat belajar Anda dengan kalimat-kalimat positif, foto, gambar, atau jadwal belajar yang dapat meningkatkan semangat belajar Anda. Yang penting, sesuaikan dengan tipe Anda, baik tipe informal maupun tipe formal.
Anda telah mengetahui faktor-faktor dalam lingkungan yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar. Jadi, maksimalkan lingkungan tersebut untuk memaksimalkan konsentrasi belajar Anda.
Kenali Aspek Kesiapan Belajar Anda
Tahukah Anda, apa saja yang menjadi aspek kesiapan belajar? Aspek-aspek tersebut merupakan pilihan. Ada orang yang cocok dengan aspek ABC, sedangkan yang lain lebih cocok dengan aspek XYZ. Yang penting adalah Anda mengenali aspek yang menjadi penentu kesiapan belajar Anda. Jika Anda mengenalnya, Anda dapat mempersiapkan diri secara maksimal.
a. Motivasi
Motivasi tiap orang untuk belajar berbeda-beda. Motivasi sudah ada pada saat seseorang akan melakukan sesuatu, namun mungkin tidak Anda sadari. Anda perlu mengetahui apa sebenarnya motivasi belajar Anda. Atau bisa juga lebih khusus, misalnya apa motivasi Anda untuk mengambil matakuliah tertentu.
Mungkin Anda mengikuti perkuliahan di UT untuk mendapatkan gelar sarjana sebagai syarat kenaikan pangkat. Apapun motivasi Anda, cobalah untuk mengenalinya. Bergabunglah dengan mahasiswa lain yang memiliki motivasi yang sama. Dengan cara tersebut, Anda akan dapat saling memotivasi untuk berhasil. Sebagai contoh: mahasiswa yang mengikuti kuliah di UT sebagai upaya untuk persyaratan kenaikan pangkat, mungkin dapat berkumpul bersama mereka yang memiliki tujuan yang sama untuk saling memotivasi. Bayangkan, jika teman Anda berhasil untuk naik pangkat setelah lulus UT, Anda tentunya akan termotivasi untuk mengikuti jejaknya bukan?!
Anda juga dapat bergabung dengan mereka yang tujuan belajarnya berbeda untuk saling meningkatkan motivasi belajar. Apapun caranya, yang penting adalah memperkuat motivasi belajar Anda.
KONSEP BELAJAR MANDIRI
Apa Gaya Belajar Itu?
Belajar di bidang formal tidak selalu menyenangkan. Apalagi jika Anda harus belajar dengan terpaksa . Misalnya, Anda harus belajar karena itulah satu-satunya cara untuk lulus, mendapat pekerjaan atau bahkan kenaikan pangkat. Contoh lain dari keterpaksaan adalah bila Anda menyukai belajar di kelas dengan bimbingan dosen, sedangkan Anda terpaksa kuliah di Universitas Terbuka (UT) yang mempunyai sistem belajar jarak jauh.
Menghadapi keterpaksaan untuk belajar jelas bukan hal yang menyenangkan. Tidak akan mudah bagi seseorang untuk berkonsentrasi belajar jika ia merasa terpaksa. Oleh karena itu, Anda perlu mencari jalan bagaimana agar belajar menjadi hal yang menyenangkan, atau …. walaupun tetap terpaksa, tapi dapat menjadi lebih mudah dan efektif.
Para ahli di bidang pendidikan mencoba mengembangkan teori mengenai gaya belajar sebagai cara untuk mencari jalan agar belajar menjadi hal yang mudah dan menyenangkan. Sebagaimana kita ketahui, belajar membutuhkan konsentrasi. Situasi dan kondisi untuk berkonsentrasi sangat berhubungan dengan gaya belajar Anda. Jika Anda mengenali gaya belajar Anda, maka Anda dapat mengelola pada kondisi apa, dimana, kapan dan bagaimana Anda dapat memaksimalkan belajar Anda. Apa gaya belajar itu?
Pengaruh Lingkungan Belajar
Lingkungan mempengaruhi kemampuan Anda dalam berkonsentrasi untuk belajar. Anda akan dapat memaksimalkan kemampuan konsentrasi Anda, jika Anda mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap konsentrasi. Jika Anda dapat memaksimalkan konsentrasi, Anda mampu menggunakan kemampuan Anda pada saat dan suasana yang tepat. Dengan demikian Anda dapat menghemat energi. Coba bayangkan jika Anda termasuk orang yang suka belajar di tempat yang sepi dan tenang, sementara teman Anda mengajak belajar di rumahnya sambil memasang musik dengan keras. Mampukah Anda berkonsentrasi dengan maksimal?
Faktor lingkungan yang mempengaruhi konsentrasi belajar adalah suara, pencahayaan, temperatur, dan desain belajar.
a. Suara
Tiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap suara. Ada yang menyukai belajar sambil mendengarkan musik keras, musik lembut, ataupun nonton TV. Ada juga yang suka belajar di tempat yang ramai, bersama teman. Tapi ada juga yang tidak dapat berkonsentrasi kalau banyak orang di sekitarnya. Bahkan bagi orang tertentu, musik atau suara apapun akan mengganggu konsentrasi belajar mereka. Mereka memilih belajar tanpa musik atau di tempat yang mereka anggap tenang tanpa suara. Namun, beberapa orang tertentu tidak merasa terganggu baik ada suara ataupun tidak. Mereka tetap dapat berkonsentrasi belajar dalam keadaan apapun.
b. Pencahayaan
Pencahayaan merupakan faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara. Mungkin karena relatif mudah mengatur pencahayaan sesuai dengan yang Anda butuhkan.
c. Temperatur
Pengaruh temperatur terhadap konsentrasi belajar pada umumnya juga tidak terlalu dipermasalahkan orang. Namun, Anda perlu mengetahui bahwa reaksi tiap orang terhadap temperatur berbeda. Ada yang memilih belajar di tempat dingin, atau sejuk; sedangkan orang yang lain memilih tempat yang hangat.
d. Desain Belajar
Jika Anda sedang membaca, menulis, atau meringkas modul yang membutuhkan konsentrasi, coba perhatikan, apakah Anda merasa lebih nyaman untuk melakukannya sambil duduk santai di kursi, sofa, tempat tidur, tikar, karpet atau duduk santai di lantai? Jika salah satu cara tersebut merupakan cara yang membuat Anda lebih mudah berkonsentrasi untuk belajar, maka mungkin Anda termasuk orang yang membutuhkan desain informal atau cara belajar tidak formal yang santai.
Jika Anda termasuk tipe yang membutuhkan desain formal, maka mungkin Anda lebih mudah berkonsentrasi jika belajar dengan kursi dan meja belajar. Lengkapi tempat belajar Anda dengan kalimat-kalimat positif, foto, gambar, atau jadwal belajar yang dapat meningkatkan semangat belajar Anda. Yang penting, sesuaikan dengan tipe Anda, baik tipe informal maupun tipe formal.
Anda telah mengetahui faktor-faktor dalam lingkungan yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar. Jadi, maksimalkan lingkungan tersebut untuk memaksimalkan konsentrasi belajar Anda.
Kenali Aspek Kesiapan Belajar Anda
Tahukah Anda, apa saja yang menjadi aspek kesiapan belajar? Aspek-aspek tersebut merupakan pilihan. Ada orang yang cocok dengan aspek ABC, sedangkan yang lain lebih cocok dengan aspek XYZ. Yang penting adalah Anda mengenali aspek yang menjadi penentu kesiapan belajar Anda. Jika Anda mengenalnya, Anda dapat mempersiapkan diri secara maksimal.
a. Motivasi
Motivasi tiap orang untuk belajar berbeda-beda. Motivasi sudah ada pada saat seseorang akan melakukan sesuatu, namun mungkin tidak Anda sadari. Anda perlu mengetahui apa sebenarnya motivasi belajar Anda. Atau bisa juga lebih khusus, misalnya apa motivasi Anda untuk mengambil matakuliah tertentu.
Mungkin Anda mengikuti perkuliahan di UT untuk mendapatkan gelar sarjana sebagai syarat kenaikan pangkat. Apapun motivasi Anda, cobalah untuk mengenalinya. Bergabunglah dengan mahasiswa lain yang memiliki motivasi yang sama. Dengan cara tersebut, Anda akan dapat saling memotivasi untuk berhasil. Sebagai contoh: mahasiswa yang mengikuti kuliah di UT sebagai upaya untuk persyaratan kenaikan pangkat, mungkin dapat berkumpul bersama mereka yang memiliki tujuan yang sama untuk saling memotivasi. Bayangkan, jika teman Anda berhasil untuk naik pangkat setelah lulus UT, Anda tentunya akan termotivasi untuk mengikuti jejaknya bukan?!
Anda juga dapat bergabung dengan mereka yang tujuan belajarnya berbeda untuk saling meningkatkan motivasi belajar. Apapun caranya, yang penting adalah memperkuat motivasi belajar Anda.
model pembelajaran
Model-Model Pembelajaran
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.
Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.
Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
- Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
- Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
- Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
- Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
- Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
- Berpikir dan bertindak kreatif.
- Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
- Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
- Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
- Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
- Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
- Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
- Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:- Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
- Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
- Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
- Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
- Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
- Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
- Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
- Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
- Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
- Membutuhkan banyak waktu dan dana.
- Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini
Cooperative Script
Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:- Guru membagi siswa untuk berpasangan.
- Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
- Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
- Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
- Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
- Kesimpulan guru.
- Penutup.
- Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
- Setiap siswa mendapat peran.
- Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
- Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
- Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).
Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah:1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.
Numbered Heads Together
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Langkah-langkah:
Langkah-langkah:
- Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
- Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
- Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
- Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
- Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
- Kesimpulan.
- Setiap siswa menjadi siap semua.
- Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
- Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
- Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
- Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru
Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topikb. Merencanakan kerjasama
Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parasiswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
f. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.
Metode Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.Metode Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40
Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
Langkah-langkah:
- Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
- Guru menyajikan pelajaran.
- Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
- Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
- Memberi evaluasi.
- Penutup.
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.
Model Examples Non Examples
Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
Langkah-langkah:
- Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
- Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
- Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
- Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
- Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
- Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
- KKesimpulan.
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.
Model Lesson Study
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembankan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnyadisebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
a. Perencanaan.
b. Praktek mengajar.
c. Observasi.
d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.
3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.
4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui.
5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2).
Adapun kelebihan metode lesson study sebagai berikut:
- Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dari pada setiap tingkatan kelas.
- Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah.
Model Pembelajaran ARIAS
Abstrak. Model pembelajaran ARIAS dikembangkan sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Model pembelajaran ARIAS berisi lima komponen yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran yaitu assurance, relevance, interest, assessment, dan satisfaction yang dikembangkan berdasarkan teori-teori belajar.
Model ini sudah dicobakan di dua sekolah yang berbeda yaitu salah satu SD negeri di Kota Palembang (percobaan pertama) dan satu SD negeri di Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin (percobaan kedua). Hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa model pembelajaran ARIAS memberi pengaruh yang positif terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil percobaan tersebut model pembelajaran ARIAS dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa.
Kata kunci: motivasi berprestasi, hasil belajar siswa, ARIAS, kegiatan pembelajaran1. Pendahuluan
Salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah adalah rendahnya hasil belajar siswa. Suatu tes terhadap sejumlah siswa SD dari berbagai kabupaten dan propinsi menunjukkan hasil belajar siswa sangat rendah (Lastri 1993:12). Nilai Ebtanas siswa SD dalam kurun waktu lima tahun terakhir (1993/1994 sampai dengan 1997/1998) menunjukkan hasil belajar yang kurang menggembirakan (Depdikbud, 1998).
Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Menurut Suryabrata (1982: 27) yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan psikologis (misalnya kecerdasan motivasi berprestasi dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan instrumental (misalnya guru, kurikulum, dan model pembelajaran). Bloom (1982: 11) mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan dan ini menyangkut model pembelajaran yang digunakan.
Sering ditemukan di lapangan bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa rendah. Timbul pertanyaan apakah mungkin dikembangkan suatu model pembelajaran yang sederhana, sistematik, bermakna dan dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar. Berkenaan dengan hal itu, maka dengan memperhatikan berbagai konsep dan teori belajar dikembangkanlah suatu model pembelajaran yang disebut dengan model pembelajaran ARIAS. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa, telah dicobakan pada sejumlah siswa di dua sekolah yang berbeda. Hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa model pembelajaran ARIAS memberi pengaruh yang positif terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, model pembelajaran ARIAS ini dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, dan sebagai suatu alternatif dalam usaha meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Tujuan percobaan lapangan ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar.
2. Kajian Teori dan Pembahasan2.1 Model Pembelajaran ARIAS
Model pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller dan Kopp (1987: 2-9) sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319).
Model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan pengalaman nyata para instruktur (Bohlin, 1987: 11-14). Namun demikian, pada model pembelajaran ini tidak ada evaluasi (assessment), padahal evaluasi merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi perlu dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung. Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh siswa (DeCecco, 1968: 610). Evaluasi yang dilaksanakan selama proses pembelajaran menurut Saunders et al. seperti yang dikutip Beard dan Senior (1980: 72) dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Mengingat pentingnya evaluasi, maka model pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen evaluasi pada model pembelajaran tersebut.
Dengan modifikasi tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu: attention (minat/perhatian); relevance (relevansi); confidence (percaya/yakin); satisfaction (kepuasan/bangga), dan assessment (evaluasi). Modifikasi juga dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention menjadi interest. Penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence (Morris, 1981: 80). Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata attention menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannya pun dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, assessment dan satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Dengan mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata ARIAS sebagai akronim. Oleh karena itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran ARIAS.
2.2 Komponen Model Pembelajaran ARIASSeperti yang telah dikemukakan model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen (assurance, relevance, interest, assessment, dan satisfaction) yang disusun berdasarkan teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk membangkitkan dan meningkatkannya kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
Komponen pertama model pembelajaran ARIAS adalah assurance (percaya diri), yaitu berhubungan dengan sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil (Keller, 1987: 2-9). Menurut Bandura seperti dikutip oleh Gagne dan Driscoll (1988: 70) seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki. Sikap di mana seseorang merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sikap ini mempengaruhi kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan perbedaan dalam kinerja. Sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan (Petri, 1986: 218). Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus menerus (Prayitno, 1989: 42). Sikap percaya diri, yakin akan berhasil ini perlu ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, penuh percaya diri dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, siswa terdorong untuk melakukan sesuatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri adalah:
- Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara, memperlihatkan video tapes atau potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah satu cara menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa. Menurut Martin dan Briggs (1986: 427-433) penggunaan model seseorang yang berhasil dapat mengubah sikap dan tingkah laku individu mendapat dukungan luas dari para ahli. Menggunakan seseorang sebagai model untuk menanamkan sikap percaya diri menurut Bandura seperti dikutip Gagne dan Briggs (1979: 88) sudah dilakukan secara luas di sekolah-sekolah.- Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku).
- Memberi tugas yang sukar tetapi cukup realistis untuk diselesaikan/sesuai dengan kemampuan siswa (misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar). Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya menurut Keller dan Dodge seperti dikutip Reigeluth dan Curtis dalam Gagne (1987: 175-202) merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa.
- Memberi kesempatan kepada siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu keterampilan.
Komponen kedua model pembelajaran ARIAS, relevance, yaitu berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang (Keller, 1987: 2-9). Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka. Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu kalau apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan kehidupan mereka, dan memiliki tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah tujuan, dan sasaran yang jelas serta ada manfaat dan relevan dengan kehidupan akan mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan tujuan yang jelas mereka akan mengetahui kemampuan apa yang akan dimiliki dan pengalaman apa yang akan didapat. Mereka juga akan mengetahui kesenjangan antara kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan baru itu sehingga kesenjangan tadi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali (Gagne dan Driscoll, 1988: 140).
Dalam kegiatan pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran adalah:
- Mengemukakan tujuan sasaran yang akan dicapai. Tujuan yang jelas akan memberikan harapan yang jelas (konkrit) pada siswa dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut (DeCecco,1968: 162). Hal ini akan mempengaruhi hasil belajar mereka.- Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa sekarang dan/atau untuk berbagai aktivitas di masa mendatang.
- Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai- nilai yang dimiliki siswa. Bahasa yang jelas yaitu bahasa yang dimengerti oleh siswa. Pengalaman nyata atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat menjembataninya ke hal-hal baru. Pengalaman selain memberi keasyikan bagi siswa, juga diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan siswa secara mental, emosional, sosial dan fisik, sekaligus merupakan usaha melihat lingkup permasalahan yang sedang dibicarakan (Semiawan, 1991). (4) Menggunakan berbagai alternatif strategi dan media pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan. Dengan demikian dimungkinkan menggunakan bermacam-macam strategi dan/atau media pembelajaran pada setiap kegiatan pembelajaran.
Komponen ketiga model pembelajaran ARIAS, interest, adalah yang berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Menurut Woodruff seperti dikutip oleh Callahan (1966: 23) bahwa sesungguhnya belajar tidak terjadi tanpa ada minat/perhatian. Keller seperti dikutip Reigeluth (1987: 383-430) menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran minat/perhatian tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan berbagai bentuk dan memfokuskan pada minat/perhatian dalam kegiatan pembelajaran. Herndon (1987:11-14) menunjukkan bahwa adanya minat/perhatian siswa terhadap tugas yang diberikan dapat mendorong siswa melanjutkan tugasnya. Siswa akan kembali mengerjakan sesuatu yang menarik sesuai dengan minat/perhatian mereka. Membangkitkan dan memelihara minat/perhatian merupakan usaha menumbuhkan keingintahuan siswa yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
Minat/perhatian merupakan alat yang sangat berguna dalam usaha mempengaruhi hasil belajar siswa. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangkitkan dan menjaga minat/perhatian siswa antara lain adalah: - Menggunakan cerita, analogi, sesuatu yang baru, menampilkan sesuatu yang lain/aneh yang berbeda dari biasa dalam pembelajaran.
- Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran, misalnya para siswa diajak diskusi untuk memilih topik yang akan dibicarakan, mengajukan pertanyaan atau mengemukakan masalah yang perlu dipecahkan.
- Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran misalnya menurut Lesser seperti dikutip Gagne dan Driscoll (1988: 69) variasi dari serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras ke suara yang sedang, dan mengubah
- Mengadakan komunikasi nonverbal dalam kegiatan pembelajaran seperti demonstrasi dan simulasi yang menurut Gagne dan Briggs (1979: 157) dapat dilakukan untuk menarik minat/perhatian siswa.
Komponen keempat model pembelajaran ARIAS adalah assessment, yaitu yang berhubungan dengan evaluasi terhadap siswa. Evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan murid (Lefrancois, 1982: 336). Bagi guru menurut Deale seperti dikutip Lefrancois (1982: 336) evaluasi merupakan alat untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah dipahami oleh siswa; untuk memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok; untuk merekam apa yang telah siswa capai, dan untuk membantu siswa dalam belajar. Bagi siswa, evaluasi merupakan umpan balik tentang kelebihan dan kelemahan yang dimiliki, dapat mendorong belajar lebih baik dan meningkatkan motivasi berprestasi (Hopkins dan Antes, 1990:31). Evaluasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang telah mereka capai. Apakah siswa telah memiliki kemampuan seperti yang dinyatakan dalam tujuan pembelajaran (Gagne dan Briggs, 1979:157). Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh siswa untuk mengevaluasi diri mereka sendiri (self assessment) atau evaluasi diri. Evaluasi diri dilakukan oleh siswa terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap teman mereka. Hal ini akan mendorong siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. Mereka akan merasa malu kalau kelemahan dan kekurangan yang dimiliki diketahui oleh teman mereka sendiri. Evaluasi terhadap diri sendiri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar mengajar serta membantu siswa meningkatkan keberhasilannya (Soekamto, 1994).
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Martin dan Briggs seperti dikutip Bohlin (1987: 11-14) bahwa evaluasi diri secara luas sangat membantu dalam pengembangan belajar atas inisiatif sendiri. Dengan demikian, evaluasi diri dapat mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang ingin mereka capai. Ini juga sesuai dengan apa yang dikemukakan Morton dan Macbeth seperti dikutip Beard dan Senior (1980: 76) bahwa evaluasi diri dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu, untuk mempengaruhi hasil belajar siswa evaluasi perlu dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan evaluasi antara lain adalah:
- Mengadakan evaluasi dan memberi umpan balik terhadap kinerja siswa.
- Memberikan evaluasi yang obyektif dan adil serta segera menginformasikan hasil evaluasi kepada siswa.
- Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri.
- Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman.
Komponen kelima model pembelajaran ARIAS adalah satisfaction yaitu yang berhubungan dengan rasa bangga, puas atas hasil yang dicapai. Dalam teori belajar satisfaction adalah reinforcement (penguatan). Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan berikutnya (Gagne dan Driscoll, 1988: 70). Reinforcement atau penguatan yang dapat memberikan rasa bangga dan puas pada siswa adalah penting dan perlu dalam kegiatan pembelajaran (Hilgard dan Bower, 1975:561). Menurut Keller berdasarkan teori kebanggaan, rasa puas dapat timbul dari dalam diri individu sendiri yang disebut kebanggaan intrinsik di mana individu merasa puas dan bangga telah berhasil mengerjakan, mencapai atau mendapat sesuatu. Kebanggaan dan rasa puas ini juga dapat timbul karena pengaruh dari luar individu, yaitu dari orang lain atau lingkungan yang disebut kebanggaan ekstrinsik (Keller dan Kopp, 1987: 2-9). Seseorang merasa bangga dan puas karena apa yang dikerjakan dan dihasilkan mendapat penghargaan baik bersifat verbal maupun nonverbal dari orang lain atau lingkungan. Memberikan penghargaan (reward) menurut Thorndike seperti dikutip oleh Gagne dan Briggs (1979:
Langganan:
Komentar (Atom)
Catatan Yang Ditampilkan
Formulir
Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...
-
Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...
-
Sejarah Ilmu Matematika Kata "matematika" berasal dari kata μάθημα(máthema) dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai ...
-
Soal No. 1 Diberikan 4 buah garis dalam koordinat cartesius seperti terlihat pada gambar berikut. Tentukan gradien dari keempat garis ...