Minggu, 14 Agustus 2011

HAKIKAT BELAJAR MENGAJAR

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah yang senantiasa memberikan hidayah dan kasih sayang kepada setiap makhluk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini..
Sebagai seorang manusia penulis tidak luput dari berbagai permasalahan, sehingga kritik dan saran sangat diharapkan penulis dari para pembaca untuk pengembangan selanjutnya. Selain dari itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupan tidak langsung.
Mudah-mudahan dengan adanya karya tulis ini dapat dijadikan bahan referensi untuk pengembangan selanjutnya.
Bandung, September 2009


PENULIS

DAFTAR ISI




BAB I

PENDAHULUAN


1.1             Latar belakang Masalah

                        Negara yang menginginkan kemajuan dalam kehidupan bernegaranya senantiasa membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan kompeten dibidangnya masing-masing. Melahirkan SDM yang dibutuhkan tidaklah semudah seperti membalikan telapak tangan pada umumnya tetapi semua itu membutuhkan proses, dan proses yang dimaksud adalah pendidikan. Dalam pendidikan harus jelas siapa pendidiknya, apa yang di didik, dan siapa peserta didiknya, sehingga deskripsi kerja dari masing-masing peran (komponen) memudahkan untuk dipahami dan memudahkan saat proses evaluasi.
Tidak sedikit masyarakat (guru dan siswa) memiliki paradigma bahwa guru itu mengajar dan siswa yang diajar, dalam hal ini berarti guru adalah pemain dan siswa penonton, komunikasi hanya satu arah dari guru ke siswa, guru masih dominan dan siswa yang pasif (datang, duduk, dengar, lihat, berlatih, dan ….lupa). Demikian pula pada siswa, karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas, mereka sudah merasa nyaman dengan kondisi menerima konsep daripada memberi atau mengungkapkan konsep yang dipahami sebelumnya.
Lebih parah lagi jika mereka tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya, mereka hanya memandang bahwa belajar adalah kewajiban yang dipikul atas perintah orang tua, guru, dan lingkungannya, belum memandang bahwa belajar suatu kebutuhan.


1.2             Prosedur Pemecahan Masalah

            Pendidikan identik dengan “Belajar” dan “Pembelajaran”. Sebelum melakukan pendidikan, pendidik wajib mengetahui dan memahami definisi pendidikan, hakikat belajar, dan hakikat pembelajaran karena hasil didikan selain tergantung dari peserta didik itu sendiri juga tergantung dari pendidik dan bahan apa yang diberikan pendidik kepada peserta didik.

1.3             Maksud dan Tujuan

            Karya tulis ini dibuat sebagai salah satu bahan informasi tentang hakikat belajar dan pembelajaran, mengajak untuk merubah dan memperbaiki paradigma-paradigma yang tidak sesuai dengan makna dari belajar dan pembelajaran sebenarnya. Adapun tujuan lainnya yaitu:
1.         Memberikan definisi-definisi tentang belajar dan pembelajaran kepada masyarakat disertai pendapat dari beberapa ahli.
2.         Memberikan informasi dan gambaran umum mengenai hakikat belajar dan pembelajaran kepada pendidik dan peserta didik.
3.         Sebagai penuangan ilmu dan pengetahuan selama ditugaskan untuk mempelajari tentang hakikat belajar dan pembelajaran.

1.4             Batasan Masalah

1.         Memaparkan definisi-definisi belajar dan pembelajaran menurut beberapa ahli.
2.         Memberikan gambaran umum mengenai hakikat belajar dan pembelajaran, karena teori-teori teknik belajar dan pembelajaran itu senantiasa dinamis disesuaikan dengan kondisi yang ada, tetapi hakikatnya memiliki hasil akhir yang sama.

1.5             Sistematika Uraian

            BAB I PENDAHULUAN
Mencangkup penjelasan masalah yang ada dan solusi yang dipilih untuk menyelesaikan masalah tersebut
BAB II HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Memaparkan dan menjelaskan mengenai hakikat belajar dan pembelajaran.
BAB III PENUTUP
Mencangkup kesimpulan dan saran penulis tentang hakikat belajar dan pembelajaran.

BAB II

HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


2.1             Definisi Pendidikan, Belajar, dan Pembelajaran

                        Berikut beberapa pengertian tentang pendidikan, belajar, dan pembelajaran:
·           Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. (UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 1).
·           Moh. Surya (1997): “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.”
·           Witherington (1952): “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.”
·           Crow & Crow (1958): “Belajar adalah diperolehnya kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru.”Hilgard (1962): “Belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi.”
·           Di Vesta dan Thompson (1970): “Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman.”
·           Gage & Berliner : “Belajar adalah proses perubahan perilaku yang muncul karena pengalaman.”
·           Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.(UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 20).

2.2             Pandangan Masyarakat tentang Belajar dan Pembelajaran

Tidak sedikit masyarakat yang mengetahui tentang hakikat belajar dan pembelajaran yang sebenarnya (sesuai dengan definisi-definisi diatas), mereka yang mengetahui lebih banyak yang memang berkecimpung di bidang kependidikan. Tidak sedikit pula masyarakat yang belum mengetahui tentang hakikat belajar dan pembelajaran yang sebenarnya. Mereka lebih memaknai bahwa guru bertugas mengajar dan siswa yang diajar. Dalam hal ini berarti guru adalah pemain dan siswa penonton, komunikasi hanya satu arah dari guru ke siswa, guru masih dominan dan siswa yang pasif. Demikian pula pada siswa, karena terbiasa menjadi penonton dalam kelas, mereka sudah merasa nikmat dengan kondisi menerima konsep daripada memberi atau mengungkapkan konsep yang dipahami sebelumnya. Inilah beberapa paradigma masyarakat tentang hakikat belajar dan pembelajaran, setiap paradigma yang mereka pahami akan terlihat hasil akhirnya pada peserta didiknya.

2.3             Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik dikenal dengan istilah kompentensi. Peserta didik yang kompeten mengandung arti bahwa peserta didik telah memahami, memaknai, dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan kata lain, peserta didik telah bisa melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill).
Dalam ilmu pendidikan belajar pada intinya adalah usaha untuk mewujudkan perubahan tingkah laku. Tingkah laku akan berubah jika mempelajari sesuatu yang belum pernah diketahui sebelumnya, kemudian mengetahui, paham, dan mampu menerapkannya. Perubahan tingkah laku ini yang akan menentukan masa depan setiap orang yang belajar. Inilah hakikat pembelajaran, yaitu membekali peserta didik untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa “tanpa tergantung pada orang lain”, karena ia telah memiliki kompetensi kecakapan hidup.
Seseorang yang belajar dengan sungguh-sungguh perubahan perilaku akan terwujud. Menurut Moh. Surya (1997) cirri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu:
1.      Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional)
      Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan.
2.      Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan  pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.
3.      Perubahan yang konvensional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang.
4.      Perubahan yang bersifat positif
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menunjukkan ke arah kemajuan.
5.      Perubahan yang bersifat aktif
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.
6.      Perubahan yang bersifat permanen
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya.

7.      Perubahan yang bertujuan dan terarah
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang
8.      Perubahan perilaku secara keseluruhan
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh perubahan dalam sikap dan keterampilan.

BAB III

PENUTUP


3.1             Kesimpulan

            Tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa guru itu yang mengajar dan siswa yang diajar. Kondisi seperti inilah yang membedakan kualitas hasil akhir setiap orang yang belajar, karena orang-orang yang selalu belajarlah yang akan melahirkan SDM-SDM yang benar-benar berkualitas sesuai dengan bidangnya masing-masing. SDM inilah yang menentukan kemajuan suatu bangsa.
            Untuk menciptakan SDM yang berguna bagi bangsanya, diperlukan suatu sistem pendidikan yang benar-benar dibutuhkan. Sistem pendidikan tidak lepas dengan istilah belajar dan pembelajaran harus dikemas secara professional dan proporsional.
Aturan proses pendidikan setidaknya terdiri dari pendidik, peserta didik, bahan yang akan diberikan pada peserta didik (materi), dan selebihnya adalah pendukung untuk kesuksesan proses pendidikan. Semua hal itu harus dikemas sebaik mungkin, karena hal-hal itulah yang dominan memberikan pengaruh pada hasil akhir.
Guru mengajar dan siswa yang diajar, menitik beratkan bahwa siswalah yang wajib belajar sehingga gurulah yang aktif dan siswa yang pasif karena dalam hal ini gurulah yang selalu memberikan konsep yang dia pahami, sedangkan siswa hanya menerima konsep tersebut apa adanya. Paradigma-paradigma lama seperti inilah yang masih dipertahankan dan belum berubah menjadi paradigma membelajarkan siswa. Justru yang harus dijadikan paradigma adalah guru sebagai sutradara sedangkan siswa yang menjadi pemain, jadi guru yang memfasilitasi aktifitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri.

3.2             Saran

Sistem pendidikan, khususnya sistem belajar yang telah ditetapkan sebaiknya dijadikan pedoman karena system itulah yang menjadi standar pengukuran atau indikator keberhasilan dalam proses pendidikan. Mencapai keberhasilan pendidikan tidak akan pernah terlepas dari belajar dan pembelajaran, karena kedua hal itulah yang menjadi dasar dan modal utama dalam pendidikan. Jadi hakikat belajar dan pembelajaran harus benar-benar diketahui, dipahami, dan diwujudkan secara nyata bukan teoritis.

DAFTAR PUSTAKA


http://akhmadsudrajat.wordpress.com (diakses 16 September 2009, 15:02)
http://ic-ypsa.blogspot.com (diakses 16 September 2009, 15:05)
http://elmuttaqie.wordpress.com/2008/11/18/pengertian-dan-hakekat-pembelajaran (diakses 16 September 2009, 15:30)
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/30/taksonomi-perilaku-individu/ (diakses 26 September 2009, 19:30)
http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Negara_Maju_dan_Negara_Berkembang_9.1 (diakses 26 September 2009, 19:32)
http://www.idp-europe.org/symposium/files/Wednesday_Plenary/Anupam-Ahuja_Miriam-D-Skorten_Teacher-Education_id.pdf (diakses 26 September 2009, 19:33)
http://pkab.wordpress.com/2008/04/29/model-belajar-dan-pembelajaran-berorientasi-kompetensi-siswa/ (diakses 26 September 2009, 20:00)


Model problem solving

RESUME
Tentang
MODEL PEMBELNAJARAN PROBLEM SOLVIG



E:\IzzY file\pictures\lambang\STKIP.jpg
 









OLEH

1.  TAUFIKURRAHMAN
2.  JALALUDDIN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN P.MIPA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) HAMZANWADI SELONG
T.A 2010/2011


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah swt,karena dengan limpahan kasih dan rahmatnya kepada kita semua sehingga tugas resume ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Terimakasih kami ucapkan pada dosen pengampu yang senantiasa membimbing kami dalam menyusun tugas ini,dan terimakasih pula kami ucapkan kepada kerja sama kelompok yang kompak sehingga resume ini dapat disusun dengan sebaik-baiknya.Terimakasih pula kepada rekan-rekan seperjuangan yang telah membantu kami dalam mencari refrensi sehingga tersusun resume ini.
            Kami menyadari sepenuhnya bahwa resume ini jauh dari sempurna,oleh karena itu,dengan tulus dan rendah hati kami mengharapkan kritikan dan saran dari rekan-rekan guna untuk perbaikan selanjutnya,Akhirnya harapan kami adalah semoga resume yang sederhana ini dapat bermanfaat,baik bagi kami pribadi maupun untuk rekan-rekan mahasiswa serta bagi seluruh masyarakat pada umumnya.








                                                                                                Masbagik ,11,Agustus 2011
                                                                                                           
                                                                                                            Penulis







STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
(PROBLEM SOLVING)

A.     Pengertian problem solving (starategi pembelajaran berbasisi masalah (SPBM)
 Polya (1985) mengartikan pemecahan masalah sebagai satu usaha mencari jalan keluar dari satu kesulitan guna mencapai satu tujuan yang tidak begitu mudah segera untuk dicapai, sedangkan menurut utari (1994) dalam (hamsah 2003) mengatakan bahwa pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, menemukan teknik atau produk baru. Bahkan didalam pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah mempunyai arti khusus, istilah tersebut mempunyai interpretasi yang berbeda, misalnya menyelesaikan soal cerita yang tidak rutin dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut jhon Dewey belajar memecahkan masalah itu berlangsung sebagai berikut : “individu menyadari masalah bila ia dihadapkan kepada situasi keraguan dan kekaburan sehingga merasakan adanya semacam kesulitan”.
Menurut jhon dewey (dalam sajana :2001:19) belajar memecahkan masalah adalah intaraksi antara stimulus dengan respon, merupakan hubungan dua arah belajar dan lingkungan.
Pengajaran berdasarkan maslah merupakan pendekatan yang efektip untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memperoleh imformasi yang sudah jadi dalam benaknya dan meyusun pegetahuan ereka sendidi tentang dunia social dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok  untuk mengembangkan pengatahuan dasar maupun komflek (ratumanan, 2002: 123).
Menurut arends (1997), pengajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang atutentikdengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri,  mengembangkan ikuiri dan  keterampilan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
Menurut Djamarah (2006:91) mengemukakan bahwa : “Metode problem solving yang bukan hanya sekedar metode mengajar ,tetapi juga merupakan suatu metode berpikir,sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode problem solving dapat diartikan sebagai metode mengajar yang banyak menimbulkan aktivitas belajar karena siswa dihadapkan dengan masalah ,merumuskan dan menguji kebenaran dari hipotesis sampai pada menarik kesimpulan sebagai jawaban dari masalah.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari metode problem solving adalah melatih anak untuk memecahkan masalah sendiri,baik yang sederhana sampai yang sulit dan melatih anak untuk mandiri.dan problem solving dapat diartikan juga sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapisecara ilmiah.

B. Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM (Problem Solving)
SPBM dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah.
Terdapat 3 ciri utama dari SPBM yaitu :
1)      SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran,artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa,SPBM tidak hanya mengharapkan siswa sekedar mendengarakan,mencatat,kemudian menghafal materi pelajaran,akan tetapi melalui SPBM siswa aktif berfikir,berkomunikasi,mencaari dan mengolah data,dan akhirnya menyimpulkan.
2)      Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah,SPBM menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran,aratinya,tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3)      Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah,yaitu proses berfikir deduktif dan induktif,dan dilakukan secara sistematis dan empiris.Sistematis berarti berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu,sedangkan empiris berarti proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Strategi pembelajaran dengan problem solving dapat diterapkan,jika :
·        Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran ,akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
·        Apabila guru bermaksud untuk mengembangakan keterampilan berpikir rasional siswa,yaitu kemampuan menganalisis situasi,menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru,mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat,serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
·        Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
·        Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggungjawab dalam belajarnya.
·        Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan)
Menurut arends (2001:349) berbagai pengembagan pengajaran   berdasarkan masalah telah memberikan model pengajaran dan memiliki karaktristik sebagai berikut:
1.      pengajjuan pertanyaan atau masalah
2.      bepokus pada keterkaitan antar disiplin
3.      penyelidikan autentik.
4.      Mengasilkan prodek dan memamerkannya
5.      Kolaborasi.

C. Hakikat Masalah dalam SPBM / Problem Solving
            Masalah dalam SPBM adalah masalah yang bersifat terbuka,artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti.SPBM  memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi.Tujuan yang ingin dicapai oleh SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis,analitis,sistematis,dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
            Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara sitiuasi nyata dan kondisi yang diharapkan ,atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan.Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya keresahan, keluhan, kerisauan, atau kecemasan.
Beberapa kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam SPBM :
1)      Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik (conflict issue) yang bisa bersumber dari berita,rekaman video,dan yang lainnya.
2)      Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa,sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
3)      Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal),sehingga terasa manfaatnya.
4)      Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5)      Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.
Mennurut trianto (2009:94)  meyatakan bahwa ciciri utama pembelajaran berdasarkan masalah meliputi suatu tujuan atau masalah, memmusatkan keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik kerjasama dan mengerjakan karya dan pengargaan. Pemelajaran  yang berdasarkan masalh tidak dirancang untuk membantu guru memberikan imformasi sebayak – banyaknya terhadap siswa.
Berdasarkan krakter tersebut adalah pembelajaran berdasarkan masalah memiliki tujuan:
1.      membanntu siswa mengembagkan keterampilan bepikir dan keterampilan pemecahan malsah.
2.      Belajar pranan orang dewasa autentik.
3.      Menjadi pembelajar yang mandiri.

D. Tahapan-Tahapan Problem Solving
          Jhon Dewey,seorang ahli pendidikan berkebangsaan amerika menjelaskan 6 langkah dalam metode proble solving ,yaitu :
1)      Merumuskan masalah,yaitu langkah siswa menetukan masalah yang akan dipecahkan.
2)      Menganalisis masalah,yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
3)      Merumuskan hipotesis,yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
4)      Mengumpulkan data,yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
5)      Pengujian hipotesis,yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
6)      Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah,yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesisdan rumusan kesimpulan
Menurut Djamarah (2006:92) mengemukakan bahwa :Langkah-langkah dalam metode problem solving sebagai berikut :
1)      Adanya  masalah yang jelas untuk dipecahkan
2)      Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.
3)      Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut
4)      Menguji jawaban sementara tersebut
5)      Menarik kesimpulan
David Jhonson & Jhonson mengemukakan ada 5 langkah problem solving melalui kegiatan kelompok :
1)      Mendefinisikan masalah,yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik,hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji.
2)      Mendiagnnnnosis masalah,yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah,serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah.
3)      Merumuskan alternatif strategi,yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas.
4)      Menentukan dan menerapkan strategi pilihan ,yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5)      Melakukan evaluasi,baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan,sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.
Dari beberapa bentuk problem solving yang dikemukkakan para ahli,maka secara umum problem solving dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Menyadari masalah,implementasi problem solving harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan.Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada.
2)      Merumuskan masalah,yakni bahan pelajaran dalam bentuk topik yang dapat dicari dari kesenjangan,selanjutnya difokuskan pada masalah apa yang pantas untuk dikaji.Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah,dan siswa dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk mengkaji,merinci,dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas ,spesifik dan dapat dipecahkan.
3)      Merumuskan hipotesis,yaitu sebagai proses berfikirilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir deduktif dan induktif,maka merumuskan hipotesis merupakan langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan.Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah siswa dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan.
4)      Mengumpulkan data,dalam tahapan ini siswa didorong  untuk mengumpulkan data yang relevan,dan kemampuan yang diharapkan pada tahap ini adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan dan memilih data,kemudian memetakan dan menyajikannya dalam berbagai tampilan ssehingga mudah difahami.
5)      Menguji hipotesis,kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji,dan diharapkan pula siswa dapat mengambil keputusan dan kesimpulan.
6)      Menentukan pilihan penyelesaian ,kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya,termasuk memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.
Polya(1985) mengajukan empat langkah fase penyelesaian masalah yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembali semua langkah yang telah dikerjakan.
Fase memahami masalah tanpa adanya pemahaman terhadap masalah yang diberikan, siswa tidak mungkin menyelesaikan masalah tersebut dengan benar, selanjutnya para siswa harus mampu menyusun rencana atau strategi. Penyelesaian masalah, dalam fase ini sangat tergantung pada pengalaman siswa lebih kreatif dalam menyusun penyelesaian suatu masalah, jika rencana penyelesaian satu masalah telah dibuat baik tertulis maupun tidak.
 Langkah selanjutnya adalah siswa mampu menyelesaikan masalah, sesuai dengan rencana yang telah disusun dan dianggap tepat. Dan langkah terakhir dari proses penyelesaian masalah menurut polya adalah melakukan pengecekan atas apa yang dilakukan. Mulai dari fase pertama hingga hingga fase ketiga. Dengan model seperti ini maka kesalahan yang tidak perlu terjadi dapat dikoreksi kembali sehingga siswa dapat menemukan jawaban yang benar-benar sesuai dengan masalah yang diberikan. Tingkat kesulitan soal pemecahan masalah harus di sesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Hasil penelitian Driscol (1982).
Pada anak usia sekolah dasar kemampuan pemecahan masalah erat sekali hubungannya dengan pemecahan masalah. Disadari atau tidak setiap hari kita diperhadapkan dengan berbagai masalah yang dalam penyelesaiannya, sering kita diperhadapkan dengan masalah–masalah yang pelik dan tidak bias diselesaikan dengan segera. Dengan demikian, tugas guru adalah membantu siswa dalam menyelesaikan masalah dengan spektrum yang luas yakni membantu siswa dalam memehami masalah, sehingga kemampuan dalam memahami konteks masalah bisa terus berkembang menggunakan kemampuan inguiri dalam menganalisa alasan mengapa masalah itu muncul.
 Dalam matematika hal seperti itu biasanya berupa pemecahan masalah yang didalamnya termuat soal cerita untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah hal yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan menyangkut berbagai hal teknik dan strategi pemecah masalah,pengetahuan, keterampilan dan pemahaman merupakan elemen–elemen penting dalam belajar matematika terkadang guru menghadapi kesulitan dalam mengajarkan cara menyelesaikan masalah dengan baik. Sementara dipihak lain siswa mengalami kesulitan bagaimana menyelesaikan masalah yang diberikan guru, kesulitan ini muncul, karena mencari jawaban dipandang sebagai satu-satunya tujuan yang ingin dicapai, karena hanya terfokus pada jawaban.
.Berbicara pemecahan masalah, kita tidak bisa terlepas dari tokoh utamany yaitu Polya. Menurut polya dalam pemecahan masalah. Ada empat langkah yang harus dilakukan, Keempat tahapan ini lebih dikenal dengan See (memahami problem), Plan (menyusun rencana), Do (melaksanakan rencana) dan Check (menguji jawaban) sudah menjadi jargon sehari-hari dalam penyelesaian problem sehingga Polya layak disebut dengan “Bapak problem solving.”
Gambaran umum dari Kerangka kerja Polya:
1. Pemahaman pada masalah (Identifikasi dari tujuan)
Langkah pertama adalah membaca soalnya dan meyakinkan diri bahwa anda memahaminya secara benar. Tanyalah diri anda dengan pertanyaan :
·        Apa yang tidak diketahui?
·        Kuantitas apa yang diberikan pada soal?
·        Kondisinya bagaimana?
·        Apakah ada kekecualian?
Untuk beberapa masalah akan sangat berguna untuk membuat diagranmnya dan mengidentifikasi kuantitas-kuantitas yang diketahui dan dibutuhkan pada diagram tersebut. Biasanya dibutuhkan
membuat beberapa notasi ( x, a, b, c, V=volume, m=massa dsb ).
2. Membuat Rencana Pemecahan Masalah
Kedua: Carilah hubungan antara informasi yang diberikan dengan yang tidak diketahui yang memungkinkan anda untuk memghitung variabel yang tidak diketahui. Akan sangat berguna untuk membuat pertanyaan: “Bagaimana saya akan menghubungkan hal yang diketahui untuk mencari hal yang tidak diketahui? “. Jika anda tak melihat hubungan secara langsung, gagasan berikut ini mungkin akan menolong dalam membagi masalah ke sub masalah
a.          Membuat sub masalah
b.         Pada masalah yang komplek, akan sangat berguna untuk membantu jika anda membaginya kedalam beberapa sub masalah, sehingga anda dapat membangunya untuk menyelesaikan masalah.
c.          Cobalah untuk mengenali sesuatu yang sudah dikenali.
d.         Hubungkan masalah tersebut dengan hal yang sebelumnya sudah dikenali. Lihatlah pada hal yang tidak diketahui dan cobalah untuk mengingat masalah yang mirip atau memiliki prinsip yang sama.
e.          Cobalah untuk mengenali polanya.
f.           Beberapa masalah dapat dipecahkan dengan cara mengenali polanya. Pola tersebut dapat berupa pola geometri atau pola aljabar. Jika anda melihat keteraturan atau pengulangan dalam soal, anda dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi dari pola tersbut dan membuktikannya.
g.          Gunakan analogi, Cobalah untuk memikirkan analogi dari masalah tersebut, yaitu, masalah yang mirip, masalah yang berhubungan, yang lebih sederhana sehingga memberikan anda petunjuk yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah yang lebih sulit.

 3. Malaksanakan Rencana
            Ketiga. Menyelesaikan rencana anda. Dalam melaksanakan rencana yang tertuang pada langkah kedua, kita harus memeriksa tiap langkah dalam rencana dan menuliskannya secara detail untuk memastikan bahwa tiap langkah sudah benar. Sebuah persamaan tidaklah cukup!
4. Lihatlah kembali
Keempat. Ujilah solusi yang telah didapatkan. Kritisi hasilnya. lihatlah kelemahan dari solusi yang didapatkan (seperti: ketidak konsistenan atau ambiguitas atau langkah yang tidak benar ) Pada saat guru menggunakan strategi ini, sebaiknya ditekankan bahwa
penggunaan objek yang dicontohkan dapat diganti dengan satu model yang lebih sederhana,  misalnya :
1. Membuat gambar atau diagram.
Penekanan ini perlu dilakukan bahwa gambar atau diagram yang dibuat tidak perlu sempurna, terlalu bagus atau terlalu aktual, yang penting bagian-bagian terpenting dari gambar itu dapat memperjelas masalah.
2. Menemukan pola
Kegiatan matematika yang berkaitan dengan proses menemukan suatu poladari sejumlah data yang diberikan, dapat mulai dilakukan melalui sekumpulan gambar atau bilangan. Kegiatan yang mungkin dilakukan antara lain dengan mengobservasi sifat-sifat yang dimiliki bersama oleh
kumpulan gambar atau bilangan yang tersedia.
Sebagai suatu strategi untuk pemecahan masalah, pencarian pola yang pada awalnya hanya dilakukan secara pasif melalui permasalahan yang dikeluarkan oleh guru, pada suatu saat keterampilan itu akan terbentuk dengan sendirinya sehingga pada saat menghadapi permasalahan tertentu, salah satu pertanyaan yang mungkin muncul pada benak seseorang antara lain adalah :”Adakah pola atau keteraturan tertentu yang mengaitkan tiap data yang diberikan?”. Tanpa melalui latihan sangat sulit bagi seseorang untuk menyadari bahwa dalam permasalahan yang dihadapinya terdapat pola yang bisa diungkap.
3. Membuat tabel
Mengorganisasi data ke dalam sebuah tabel dapat membantu kita dalam mengungkapkan suatu pola tertentu serta dalam mengidentifikasi informasi yang tidak lengkap. Penggunaan tabel merupakan langkah yang sangat efisien untuk melakukan klasifikasi serta menyusun sejumlah besar data sehingga apabila muncul pertanyaan baru berkenaan dengan data tersebut, maka kita akan dengan mudah menggunakan data tersebut, sehingga jawaban pertanyaan tadi dapat diselesaikan dengan baik.
4. Memperhatikan semua kemungkinan secara sistematik
Strategi ini biasanya digunakan bersamaan dengan strategi mencari pola dan menggambar tabel. Dalam menggunakan strategi ini, kita tidak perlu memperhatikan keseluruhan kemungkinan yang bisa terjadi.Yang kitaperhatikan adalah semua kemungkinan  yang diperoleh dengan cara sistematik. Yang dimaksud sistematik disini misalnya dengan
mengorganisasikan data berdasarkan kategori tertentu. Namun demikian, untuk masalah-masalah tertentu, mungkin kita harus memperhatikan semua kemungkinan yang bisa terjadi.
5. Tebak dan periksa ( Guess and Check )
Strategi menebak yang dimaksudkan disini adalah menebak yang didasarkan pada alasan tertentu serta kehati-hatian. Selain itu, untuk dapat melakukan tebakan dengan baik seseorang perlu memiliki pengalaman cukup yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi

E. Keunggulan dan Kelemahan Problem Solving
1. Keunggulan problem solving (wina sanjaya, 2010:220)
  1. Problem solving merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
  2. Problem solving dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
  3. Problem solving dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
  4. Problem solving dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
  5. Problem solving dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan,disamping itu problem solving juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
  6. Melalui problem solving bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap  mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir,dan seesuatu yang harus dimengerti oleh siswa,bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
  7. Problem solving dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
  8. Problem solving dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  9. Problem solving dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
  10. Problem solving dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belejar pada pendidikan formal telah berakhir.
2. Kelemahan problem solving
  1. Jika siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
  2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
  3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari,maka mereka tidak akan belajar  apa yang mereka ingin pelajari
Kelebihan metode problem solving  menurut Djamarah dan Zain,antara lain :
a.       Metode ini dapat membuat pendidikan disekolah menjadi lebih relavan dengan kehidupan khususnya didunia kerja.
b.      Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah secara terampil apabiala menagdapi permasalah dalam kehidupan kelak suatu kemampuan yang samgat bermakna dalam kehidupan masusia.
c.       Metode ini merangsang kemammpuan utnuk berpikir siswa secara kreatip dan meyeluruh.
Kelemahan metode problem solving  menurut Djamarah dan Zain,antara lain :
a.       Menetukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingakah t berpikir siswa,tingkat sekolah,kelas,dan pengetahuan serta pengalaman yang telah dimiliki siswa,yang sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
b.      Proses belajar mengajar menggunakan metode ini biasanya memerlukan waktu yang cukup banyakdan harus mengambil waktu pelajaran lain 
c.       Mengubah kebiasaan siswa dari mendengarkan dan menerima informasi  dari guru menjadi belajar dengan banyak berfikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok yang terkadang memerlukan berbagai sumber belajar menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa
d.      Tidak semua pelajaran dapat mengandung masalah yang harus dipecahkan
e.       Kesulitan mencari masalah yang tepat atau sesuai dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa
f.        Banyak menimbulkan resiko,terutama bagi anak yang memiliki kemampuan rendah atau kurang
g.       Kesulitan dalam mengevaluasi secara tepat
h.       Memerlukan waktu dan perencanaan yang matang
F. Saran-saran dalam pelaksanaan metode problem solving
Agar metode problem solving dapat efektif dalam pelaksanaannya maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)      Dalam memilih masalah mempertimbangkan aspek kemampuan dan perkembangan peserta didik
2)      Siswa terlebih dahulu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
3)      Bimbingan secara kontinu dan persediaan alat-alat atau sarana pengajaran yang perlu di perhatikan
4)      Merencanakan tujuan yang hendak dicapai secara sistematis

Karakteristik Bagi Orang Yang Mampu Melakukan Problem Solving,Pemecahan masalah telah dilakukan beberapa puluh tahun yang lalu diantaranya di lakukan oleh Dodson (1971); Hollander (1974) dalam Wono Setya Budi (2005:3). Menurut mereka kemampuan pemecahhan masalah yang harus ditumbuhkan adalah :
1.Kemampuan mengerti konsep dan istilah matematika.
2. Kemampuan untuk mencatat kesamaan, perbedaan dan analog.
3.Kemampuan untuk mengidentifikasi elemen terpenting dan memilih prosedur yang benar.
4. Kemampuan untuk mengetahui hal yang tidak berkaitan.
5.Kemampuan menaksir dan menganalisa.
6. Kemampuan mengvisualisasi dan menginterpretasi kuantitas.
7.Kemampuan untuk memperumum berdasarkan beberapa contoh.
8. Kemampuan untuk berganti metoda yang di ketahui.




DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Drs. Syaiful Bahri dan drs. Aswanzein. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Banjarmasin : Rineka Cipta.
Sanjaya,Dr Wina M.Pd.2010.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Edisi Ke7).Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Triyanto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarata: Kencana Prenada Media Group.  
WWW.meetabied-wordpress-com-teori-belajar-polya.pdf

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...