Selasa, 10 Januari 2012

LAPORAN KKN PENDAMPINGAN BUTA AKSARA (KF) TAHUN AKADEMIK 2011-2012


LAPORAN
KKN PENDAMPINGAN BUTA AKSARA (KF)
TAHUN AKADEMIK 2011-2012




 








Nama                  : TAUFIKURRAHMAN
NPM                  : 08210209
Program Studi    : Pendidikan Matematika
Lokasi  KKN     : Dsn Tembeng Putik Timuk I
                           Desa Tembeng Putik Kec. Wanasaba, LOTIM
                          



JURUSAN MIPA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) HAMZANWADI SELONG
TAHUN 2011
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KKN PENDAMPINGAN BUTA AKSARA
TAHUN AKADEMIK 2011-2012

Lokasi KKN    :    Dsn. Tembeng Putik Timuk 1 ,Desa Tembeng Putik Kec.Wanasaba     Kab. Lotim

Diajukan untuk melengkapi salah satu tugas
Kuliah Kerja Nyata (KKN)


Menyetujui ;
22 Desember , 2011
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)



 (SRI SUPIYATI, M.Pd.Si)
                                                           Nis.3303011296




KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga laporan akhir Kulyah Kerja Nyata  (KKN) ini dapat saya selesaikan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Selanjutnya ucapan terima kasih saya sampaikan atas segala bantuan serta sumbangsih yang sangat berharga sejak mulai terselenggaranya Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini hingga laporan ini selesai, terutama di tujukan kepada yang terhormat :
1.        Ibu SRI SUPIYATI M.Pd,Si, selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)
2.        Bapak Drs. Masduki selaku Kepala Desa Tembeng Putik
3.        Bapak Hammi selaku kepala Dusun Tembeng Putik Tmuk 1
4.        Pengurus dan rekan-rekan PA NW Tembeng Putik selaku penyedia Posko KKN KF
Adapun dalam penyusunan laporan KKN ini, penulis menyadari banyak kekeliruan dan kekurangan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, sehingga penyusunan laporan berikutnya dapat lebih baik. Semoga Allah swt, senantiasa memberikan imbalan yang setimpal atas segala budi baik yang telah di berikan kepada saya khususnya dan kami umumnya dan semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
Amin Ya Robbal Alamin
                                                                Tembeng Putik, 22 Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL---------------------------------------------------------------------- i
HALAMAN PENGESAHAN---------------------------------------------------------- ii
KATA PENGANTAR-------------------------------------------------------------------- iii
DAFTAR ISI------------------------------------------------------------------------------- iv
DAFTAR TABEL-------------------------------------------------------------------------
BAB I PENDAHULUAN----------------------------------------------------------------
A.    Latar Belakang---------------------------------------------------------- 1
B.     Lokasi Pelaksanaan KKN----------------------------------------------- 3
C.    Identitas Warga-warga Belajar------------------------------------------ 3
BAB II PELAKSANAAN PROGRAM---------------------------------------------- 5
A.    Bentuk dan Tahapan Pelaksanaan Program------------------------------ 5
B.     Hasil Pelaksanaan Program---------------------------------------------- 7
C.    Faktor Pendukung dan Penghambat------------------------------------- 9
D.    Masalah dan Alternatif Pemecahan Masalah----------------------------- 10
BAB III PENUTUP----------------------------------------------------------------------- 11
A.    Kesimpulan-------------------------------------------------------------- 11
B.     Saran-Saran------------------------------------------------------------- 11
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1.      Matrik Program
2.      Daftar Validasi Warga Belajar Keaksaraan Fungsional
3.      Buku Kehadiran Warga Belajar
4.      Buku Kemajuan Warga Belajar
5.      Agenda Harian Tutor
6.      Buku Kehadiran Tutor
7.      Buku Kegiatan Warga Belajar Keaksaraan Fungsional
8.      Hasil Evaluasi Tahap I, II, dan III
9.      Rekapitulasi Hasil Evaluasi Akhir Keaksaraan Fungsional
10.  Foto Kegiatan
11.  RPP dan Sulabus




BAHAYA VALENTINE



Memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak media
massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine's Day atau biasanya disebut hari kasih sayang. Biasanya pada 14 Februari mereka saling mengucapkan "selamat hari Valentine", berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta.
Sangat disayangkan banyak ABG khususnya teman-teman kita, para remaja putri muslimah yang terkena penyakit ikut-ikutan dan mengekor budaya Barat atau budaya ritual agama lain akibat pengaruh TV dan media
massa lainnya. Termasuk dalam hal ini perayaan Hari Valentine, yang pada dasarnya adalah mengenang kembali pendeta St.Valentine. Belakangan, Virus Valentine tidak hanya menyerang remaja bahkan orang tua pun turut larut dalam perayaan yang bersumber dari budaya Barat ini. 

Sejarah Valentine 
Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St.Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya.
Claudius II melihat St.Valentine meng-ajak manusia kepada agama Nashrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya. Dalam versi kedua , Claudius II meman-dang para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St.Valentine menentang perintah ini dan terus mengada-kan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan. Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan "Dari yang tulus cintanya, Valentine." Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nashrani ber-sama 46 kerabatnya.
Versi ketiga menyebutkan ketika agama Nashrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkum-pul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan " dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini."
Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat "dengan nama tuhan Ibu" dengan kalimat " dengan nama Pendeta Valentine" sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nashrani.
Versi lain mengatakan St.Valentine di-tanya tentang Atharid, tuhan perdagangan, kefasihan, makar dan pencurian, dan Jupiter, tuhan orang Romawi yang terbesar. Maka dia menjawab tuhan-tuhan tersebut buatan manusia dan bahwasanya tuhan yang sesungguhnya adalah Isa Al Masih, oleh karenanya ia dihukum mati. Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dzalim tersebut.
Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya itu merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi!!!
Hukum Valentine
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi'ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: "Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ." (HR. At-Tirmidzi).
Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir, adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu ke-mungkaran yang besar. Ibnul Qayyim berkata, "Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya!" dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutu-kan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid'ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah."
Abu Waqid Radhiallaahu 'anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut.
Para sahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata, "Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath." Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, " Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, 'Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.' Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).
Adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala' dan bara' ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu'min dan membenci orang-orang kafir serta menyelisihi mereka dalam ibadah dan perilaku. Serta mengetahui bahwa sikap seperti ini di dalamnya terdapat kemas-lahatan yang tidak terhingga, sebaliknya
gaya hidup yang menyerupai orang kafir justru mengandung kerusakan yang lebih banyak.
Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap
gaya hidup mereka akan membuat mereka senang, lagi pula, menyerupai kaum kafir dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah berfirman, yang artinya:
" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim ." (Al-Maidah:51)
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya." (Al-Mujadilah: 22)
"Dan janganlah belas kasihan kepada kedua pezina tersebut mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat." (An-Nur: 2)
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah (tuntunan Allah dan Rasul-Nya). Tidak ada suatu bid'ah pun yang dihidupkan kecuali saat itu ada suatu sunnah yang ditinggalkan. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka'at shalatnya membaca,
"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pu-la jalan) mereka yang sesat." (Al-Fatihah:6-7)
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela. 
Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang mempe-ringatinya. Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi perayaan ini adalah dari ritual agama lain!
Hadiah yang diberikan sebagai ung-kapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan terobsesi oleh budaya dan
gaya hidup mereka.
Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.
Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.
Semoga Allah senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan:
" Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku." (Al-Hadits).


Fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin:
Pertanyaan:
Pada akhir-akhir ini ini telah tersebar dan membudaya perayaan hari Valentine -terutama di kalangan pelajar putri, padahal ia merupakan salah satu dari sekian macam hari raya kaum Nashrani. Biasanya pakaian yang dikenakan berwarna merah lengkap dengan sepatu, dan mereka saling tukar mawar merah. Bagaimana hukum merayakan hari Valentine ini, dan apa pula saran dan anjuran anda kepada kaum muslimin. Semoga Allah selalu memelihara dan melindungi anda.
Jawab:
Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:
Pertama: ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari'at Islam.
Kedua : ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) - semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan.
Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.

Arti Sebuah Cinta

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, ¡§Kami sama-sama cinta, suka sama suka.¡¨ Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya Muhammad . Allah berfirman:
¡§Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.¡¨ (Ali ¡¥Imran: 14)
Rasulullah ƒâ dalam haditsnya dari shahabat Tsauban ƒê mengatakan: ¡¥Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.¡¦ Seseorang berkata: ¡¥Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?¡¦ Rasulullah ƒâ berkata: ¡¥Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.¡¦ Seseorang bertanya: ¡¥Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?¡¦ Rasulullah ƒâ menjawab: ¡¥Cinta dunia dan takut mati.¡¦ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Asy-Syaikh ¡¥Abdurrahman As-Sa¡¦di dalam tafsirnya mengatakan: ¡§Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ¡¥Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah ƒ¹ memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.¡¨

Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: ¡§Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.¡¨ (Madarijus Salikin, 3/9)

Hakikat Cinta
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

Cinta kepada Allah
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ¡¨Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:

¡§Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.¡¨ (Ali ¡¥Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: ¡§(firman Allah) ¡¥Niscaya Allah akan mencintai kalian¡¦, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah ƒâ, faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah ƒâ maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.¡¨
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. Rasulullah ĉ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Đ:
¡§Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.¡¨ (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al Qur¡¦an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah ƒ¹.
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah ƒ¹. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)

Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah ƒ¹ berfirman:

¡§Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.¡¨ (Al-Hujurat: 7)

¡§Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.¡¨ (Al-Baqarah: 165)

¡§Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.¡¨ (Al-Maidah: 54)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah ƒâ adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: ¡§Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.¡¨

Macam-macam cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ¡¥Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah ƒ¹ƒnberfirman:

¡§Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.¡¨ (Al-Baqarah: 165)

Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah ƒ¹ƒnberfirman:

¡§Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.¡¨ (Al-Fajr: 20)
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah ƒ¹ berfirman:ƒn

¡§Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ¡¥alaihis salam) berkata: ¡¥Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.¡¨ (Yusuf: 8)
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.

Buah cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ƒä mengatakan: ¡§Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.¡¨ (Majmu¡¦ Fatawa, 1/95)
Asy-Syaikh ¡¥Abdurrahman As-Sa¡¦di ƒä menyatakan: ¡§Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.¡¨ (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a¡¦lam. ƒ¯




Mabuk cinta biasanya terjadi dari dua belah pihak antara yang mencintai dan yang dicintai, terkadang kedua belah pihak saling mencintai satu sama lainnya, namun adakalanya gejolak cinta itu bertepuk sebelah tangan.

Orang yang terkena panah asmara ini adalah orang yang paling celaka hidupnya, paling hina, paling gelisah dan paling jauh dari Rabb mereka.

Ibnu Taimiyah berkata :"mabuk asmara dapat membuat penderitanya kurang akal dan ilmu, rusak agama dan akhlaknya, lalai akan seluruh kebaikan agama dan dunia. Dan akibat buruknya bisa menjadi berlipat ganda".

Orang yang dimabuk asmara akan selalu mengkhayalkan kekasih hatinya tidak sesuai dengam keadaan yang sebenarnya, hingga akhirnya penyakit ini akan menimpa dirinya. Kalaulah dia tau secara mendalam orang yang dikaguminya, ia tidak akan sampai dimabuk cinta, walaupun sudah terjalin rasa cinta dan hubungan dalam dirinya.

Kasmaran adalah penyakit kronis yang akan merusak jiwa, menghilangkan katentraman, bahkan penyakit ini ibarat lautan berombak yang akan menenggelamkan siapapun yang mengarunginya. Penyakit ini laksana samudra yang tak bertepi. hampir tidak ada seorangpun yang dapat selamat darinya.

Jika kita tanya kepada nikmat "apa yang menyebabkanmu sirna?" kita Tanya pada bencana "apa yang menyebabkanmu datang menghampiri?" kita Tanya pada kesedihan dan penderitaan "apa yang menyebabkanmu tertarik mendatangiku?" kita Tanya pada keselamatan "apa yang menyebabkanmu menjauh?" kita Tanya pada aib "apa yang menyebabkanmu tersingkap?" kita Tanya pada wajah "apa yang menyebabkan hilangnya cahayamu?" kita Tanya pada kehidupan "apa yang membuatmu menjadi keruh?" kita Tanya pada cahaya keimanan "apa yang menyebabkan cahayamu redup?" kita Tanya pada kehormatan diri " apa yang menyebabkanmu hina?" kita Tanya pada diri yang dihinakan setelah dimuliakan " apa yang telah merubah keadaanmu ini?" seluruhnya pasti akan menjawab " ini adalah buah dari penyakit asmara"

Jika kita melihat cinta yang melintas di dalam hati dan bagaimana denyutnya, anda pasti akan dapati bahwa mengalirnya cinta dalam hati lebih lembut daripada mengalirnya nyawa dalam jasadnya.

Seorang yang dimabuk asmara akan binasa di tangan orang yang dicintainya. Dia akan menjadi hamba yang hina. Jika kekasih hati yang ia cintai memanggilnya maka akan segera memenuhi panggilan itu. Jika ditanyakan padanya "apa yang engkau harapkan?" maka kekasih yang ia cintai itulah yang menjadi tumpuan dan harapannya. Ia tak akan hidup tenang dan tenteram tanpa kekasihnya.

Layakkah bagi orang yang berakal menggadaikan seorang raja yang dipatuhi dengan orang yang akan menggiringnya ke dalam adzab yang pedih???

Penyakit ini akan menghilangkan rasa malu, padahal malu adalah materi hidupnya hati. Hal itu juga kan berpengaruh pada penyimpangan amal dan hidayah, keadaan yang jelek akan ia anggap baik. Juga akan menimbulkan perangai buruk yang tidak terdapat dalam kejahatan laen. Akan menimbulkan kemurkaan Allah pada dirinya.

Yach banyak sekali kerugian yang akan kita dapatkan Karena mabuk asmara ini, coba kita tengok sebentar, apa sebenarnya penyebab dari mabuk asmara itu?

Berpaling dari Allah ; barangsiapa yang mengenal Allah akan menautkan hatinya pada-Nya, dan tidak akan mungkin berpaling mencari kekasih selain-Nya.

Kejahilan seseorang tentang bahaya yang muncul karena mabuk cinta.

Kekosongan hati ; "tidaklah mungkin penyakit ini muncul kecuali atas orang yang suka melamun dan menganggur"

ibnul qoyyim berkata "perkara yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah kehampaan hati dan jiwa. Karena sesungguhnya jiwa itu tidak akan pernah kosong. Jika tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat pasti akan terisi dengan hal-hal yang membahayakan"

Media informasi

Media informasi sangat berperan besar terhadap penyebaran penyakit ini. Lihatlah betapa vulgarnya acara-acara televisi, Koran, majalah, buku-buku, internet, VCD dan sebagainya meng

Taklid buta

Membaca kisah-kisah percintaan, puisi-puisi, syair, dan mendengarkan lagu-lagu tentang cinta akan menjerumuskan seseorang untuk mengekspresikan apa yg dia rasa dengan hal serupa. Dia akan mudah mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang disekelilingnya, tanpa tau itu hak atau batil.

Keliru dalam memahami makna cinta dan mabuk asmara

Persepsi yang salah dalam memaknai cinta , yaitu anggapan bahwa hakikat cinta itu adalah cinta yang dapat membutakan mata hati, membuatnya terombang-ambing dalam kesesatan. Siapa saja yang tergelincir ke dalamnya akan menjadi lembut, penih perasaan, menjadi mulia, dan sebainya. Mereka beranggapan barangsiapa tidak pernah merasakannya akan menjadi orang yang keras hati, tidak memiliki perasaan dan tidak memiliki sedikitpun kemuliaan.

Tertipu dengan ungkapan-ungkapan orang-orang yang membolehkan mabuk asmara

Sebagian orang membolehkan mabuk asmara dengan berdalil pada hadits "Barangsiapa yang jatuh cinta kemudian menahan dirinya, menyembunyikannya dan bersabar, setelah itu dia meninggal, maka dianggap mati syahid".

Ibnu Qoyyim berkata, hadits ini diriwayatkan oleh Suwaid bin Sa’id, dan telah diingkari oleh para ulama islam. Hadits ini batil dan palsu.

Syahid terbagi menjadi syahid khusus dan umum. Syahid khusus yaitu mati terbunuh di jalan Allah. Adapun syahid umum tersebut dalam hadits shahih dan tidak terdapat didalamnya yang mati karena menahan cinta.

Pamer kecantikan, tabaruj, dan membuka penutup wajah

Mengumbar pandangan mata

Terlalu bebas mengumbar pandangan akan melahirkan kebinasaan. Ketika seseorang leluasa memandang maka ia telah membuka hati untuk melampiaskan syahwatnya.

Percakapan melalui telpon, chatting, dsb

Taubat dari mabuk asmara

Bagi siapa saja yang telah terjerumus dalam cinta terlarang hendaklah ia bertaubat kepada Allah, baik dirinya sebagai orang yang mencintai, dicintai, ataupun pihak-pihak lain yang turut membantunya.

Caranya adalah dengan meninggalkannya, jangan menampakkan kepada orang yang dicintai, berusaha melupakannya, tidak menemuinya, dan tidak memandangnya. Serta memutuskan segala bentuk hubungan yang dapat membangkitkan kenangan lamanya.

Terapi penyakit mabuk asmara


  • Ikhlas karena Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata "sesungguhnya apabila hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, maka tidak ada yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik darinya"

Jika seorang hamba ikhlas kepada Allah, maka Allah akan memilihnya, menghidupkan hatinya, menariknya kepada-Nya. Maka sagala keburukan dan kekejian akan berpaling darinya dan ia sangat takut bila terjadi yang sebaliknya. Sedangkan hati yang tidak ikhlas, pada dasarnya terbuka secara mutlak untuk segala bentuk tuntutan, keinginan, dan cinta. Hati akan menerima segala sesuatu yang mendatanginya. Ibarat ranting kecil yang meliuk-liuk kesana kemari mengikuti kemana aarah angin.

Berdo’a : merendahkan diri kepada Allah

Seseorang yang diuji dengan penyakit ini berarti dalam keadaan terjepit, dan Allah berjani akan memenuhi do’a hamba-Nya yang dalam kondisi terjepit.

  • Menahan pandangan

Ketika seorang hamba menahan pandangannya maka hati turut menahan syahwat serta keinginannya. Allah menjadikan menahan pandangan dan menjaga kemaluan sebagai kunci utama penyucian jiwa. Dan kesucian jiwa mengandung pengertian hilangnyaa segala macam bentuk kejahatan seperti perbuatan keji, kezhaliman, syirik, dusta, dan sebagainya.

  • Banyak berfikir dan berdzikir

Harusnya ia ingat bahwa seluruh langkahnya dicatat dan ia akan dimintai pertangggungjawaban. Seharusnya ia berfikir bahwa ungkapan perasaan dan perbincangan dengan kekasihnya akan ditanyakan nanti pada hari kiamat. Ingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian, dan betapa sakitnya sakarotul maut. Berpikir bahwa dirinya tidak rela jika ada mahramnya yang diincar dan dipacari, jika ia masih memiliki rasa cemburu, bagaimana ia tega berbuat hal yang sama kepada orang lain?

  • Menjauh dari orang yang dicintainya

Memisahkan diri dan menjauh akan mengusir bayangan orang yang dicintai. Hendaklah ia bersabar menanggung perpisahan beberapa saat meski awalnya sulit. Jangan sampai ia melihatnya, mendengar suaranya dan melihat sesuatu yang dapat mengingatkannya kepada kekasihnya.

  • Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat

Sebabnya asmara adalah kekosongan hati, oleh karena itu sibukkan diri dengan bekerja, belajar, dan berkarya.

  • Menikah

Meski bukan dengan orang yang dicintainya, sebab menikah mencukupi segalanya, penuh berkah dan menjadi solusi. Jika telah menikah maka hendaklah sering melakukan jima’, sebab jima’ dapat meredam gejolak syahwat yang tersimpan. Jika orang yang dicintainya adalah orang yang mungkin dinikahinya maka hendaklah ia menikah dengannya. Jika sulit menikahnya hendaklah memohon kepada Allah untuk memudahkannya.

menengok orang sakit, mengiringi jenazah, menziarahi kubur, melihat orang mati, berfikir tentang kematian dan kehidupan setelahnya

Senantiasa menghadiri majelis ilmu, duduk bersama orang-orang zuhud dan mendengar kisah-kisah orang sholih.

Memangkas habis ambisi dengan membuang putus asa disertai dengan keinginan keras untuk dapat menundukkan hawa nafsu

Sesungguhnya pangkal terjadinya al-isyq adalah menganggap indah sesuatu yang dikagumi, baik melalui pandangan ataupun pendengaran. Jika tidak diikuti dengan keinginan keras untuk bertemu lalu disertai dengan usaha untuk mendapatkannya niscaya mabuk asmara dapat dihindari.

Selalu konsisten menjaga sholat dengan sempurna, menjaga kewaajiban-keajiban sholat, baik berupa kekhusukan dan kesempurnaannya secara lahir maupun batin.

Menjaga kharisma agar tidak jatuh kepada kedudukan yang hina dina

Orang yang punya wibawa dan harga diri tidak mau terikat menjadi budak sesuatu.

Memelihara kemuliaan diri, kesucian dan menjaga kehormatannya

Harga diri seseorang itu akan tinggi dan kedudukannya akan muliaa sesuai dengan kadar kemuliaan dan kesucian dirinya.

Membayangkan cela yang terdapat pada diri orang yang dicintainya

Orang yang engkau cintai tidak identik dengan apa yang engkau khayalkan dalam hatimu. Maka carilah aibnya niscaya engkau akan dapat melepaskannya.

Memikirkan akan ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya

Dengan itu akan hilanglah segala perkara yang mendatangkan ujian yang lebih berat dari batas kewajaran yang dapat merugikan kedudukannya di dunia maupun di akhirat.

Memikirkan akibat perbuatannya

Cinta itu selalu diselimuti kesedihan, kecemasan, takut berpisah, kehinaan di dunia dan penyesalan di akhirat.

Memikirkan betapa banyak hal-hal yang bermanfaat menjadi luput disebabkan menyibukkan diri dengan cinta seperti ini

Melihat kondisi para pemabuk cinta

Bagaimana derita yang mereka tanggung, bagaimana hidup mereka yang dikucilkan oleh masyarakat, betapa berantakan segala urusan dunia dan akhirat mereka, dsb. Hal ini akan membuat orang yang berakal berpikir dua kali untuk lebih jauh mengarungi samudera asmara.

Siapa saja yang mengambil obat penawar ini, mudah-mudahan ia mendapat pertolongan dan taufik. Jika ia telah bermujahadah dan bersabar namun masih sedikit tersisa dalam hatinya, maka hal itu tidaklah tercela.

Junaid berkata "Manusia tidak dicela karena tabi’at yang tercipta dalam dirinya, yang dicela adalah jika ia melakukannya".

Ibnu Hazm berkata "tidak ada cela bagi orang yang tabiat dalam dirinya cenderung kepada kejelekan walaupun sangat tercela dan hina sekalipun selama ia tidak menampakkannya dalam perkataan maupun perbuatan. Bahkan bisa jadi akan lebih terpuji dibandingkan orang yang tabi’at dasarnya selalu mengajaknya untuk berbuat hal-hal yang mulia. Sebab tidak mungkin dapat mengalahkan tabi’at yang rusak kecuali jika ia memiliki akal yang utama.

Laa Haula Walaa Quwwata illaa billaahi

Smoga Allah berkenan membebaskan hati kita dari Al ‘Isyqu, amin

Semarang, 05102004, 00:25

Persiapan menyambut Romadhon, kita jelang Romadhon dengan hati yang bersih



DOA UNTUK KEKASIH HATI


>

> Allah Yang Maha Pemurah, terimakasih Engkau telah menciptakan dia dan

> mempertemukan saya dengannya.

>

> Terimakasih untuk saat-saat indah yang boleh kami nikmati

> bersama.Terimakasih untuk setiap pertemuan yang boleh kami lalui bersama.

> Terimakasih untuk setiap saat-saat yang lalu. Saya datang bersujud

> dihadapan-Mu, Sucikan hati saya yaa Allah, sehingga dapat melaksanakan

> kehendak dan rencana-Mu dalam hidup saya.

>

> Yaa Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan

> saya merindukan kehadirannya. Janganlah biarkan saya melabuhkan hati

> saya di hatinya. Kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya dan usirlah

> dia dari relung hati saya. Gantilah damba kerinduan dan cinta yang

> bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan

> murni. Tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

>

> Tetapi jika Kau ciptakan dia untuk saya, yaa Allah, tolong satukan

> hati kami. Bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya.

> Berikan saya kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan untuk memenangkan

> hatinya.

> Urapilah dia agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya

> dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagaimana saya telah Kau

> ciptakan.

> Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi

> suka dan duka saya dengan dia.

>

> Yaa Allah Maha Pengasih, dengarlah doa saya ini. Lepaskanlah saya dari

> keraguan ini menurut kasih dan kehendak-Mu.

>

> Allah Yang Maha Kekal, saya tahu Engkau senantiasa memberikan yang

> terbaik buat saya. Luka dan keraguan yang saya alami pasti ada hikmahnya.

> Pergumulan ini mengajar saya untuk hidup makin dekat pada-Mu, untuk

> lebih peka terhadap suara-Mu yang membimbing saya menuju terang-Mu.

> Ajarlah saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang

> telah Engkau tentukan.

>

> Jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendak saya yang jadi dalam setiap

> bagian hidup saya, yaa Allah.

>

Ø      Amin.

    
     Penulis: Abu Aufa*
   
      alhikmah.com - Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada.Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

      

      Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

      

      Duhai...

      Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumah tangganya. 

      

      Allah Subhanahu wa Ta'ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

      

      Letih...

      Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.

      

      Duhai ukhti sholehah...

      Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

      

      Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia

      Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.

      

      Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya

      di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tausyiah - lah

      selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

      

      Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

      

      Sabarlah ukhti sholehah...

      Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum  mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.

      

      Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari  perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri.

      

      Semoga.

      

      WaLlahua'lam bi shawab.

      

      *MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*

      Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,

      

      

      Abu Aufa *

      (* Penulis buku Diari Kehidupan 2, telah diterbitkan oleh PT Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004, Catatan: Tulisan ini adalah hasil editing dari tulisan lamanya Abu Aufa yang berjudul Usah Kau Lara Sendiri.
    




>  Ya, ALLAH,
>
> Aku berdoa untuk seorang wanita,
> yang akan menjadi bagian dari hidupku.
> Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
> Seorang wanita yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya
> setelah Engkau.
> Seorang wanita yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.
>
> Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas.
> Seorang wanita yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.
> Seorang wanita yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati
> ketika
> aku berbuat salah.
> Seorang yang mencintaiku bukan karena ketampananku tetapi karena hatiku.
> Seorang wanita yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu
> dan situasi.
> Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang pria ketika
> berada disebelahnya.
>
> Aku tidak meminta seorang yang sempurna,
> Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna,
> sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.
> Seorang wanita yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
> Seorang wanita yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
> Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.
> Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
>
> Dan aku juga meminta:
> Jadikanlah aku menjadi seorang pria yang dapat membuat wanita itu bangga.
> Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU,
> sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU,
> bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
>
> Berikanlah SifatMU yang lembut sehingga ketampananku datang dariMU
> bukan dari luar diriku.
> Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
> Berikanlah aku penglihatanMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik
> dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.
> Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU
> dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari,
> dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi.
>
> Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat
> mengatakaan "betapa besarnya Tuhan itu karena Engkau telah memberikan
> kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna".
>
> Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang
> tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang
> Kautentukan.

SYUMULIYAH ISLAM (Kemenyuluruhan Islam)

        PENGERTIAN ISLAM
Pertanyaan ini menjadi penting untuk dijawab bukan saja untuk meluruskan berbagai pemahaman tentang Islam yang selama ini salah, keliru atau kurang sempurna, tapi juga untuk membangun komitmen ke-Islaman yang lebih utuh dalam kehidupan sehari-hari kita. Yang terjadi selama ini bukan saja adanya kesenjangan antara pemahaman Islam generasi sekarang  dengan pemahaman generasi sahabat Rasulullah saw tentang Islam, tapi juga ada kesenjangan antara Islam yang kita yakini sebagai “agama atau jalan hidup” dengan perilaku sehari-hari kita sebagai “kenyataan hidup.”
Dari akar katanya dalam bahasa Arab, Islam mempunyai arti-arti berikut: ketundukan, penyerahan diri, keselamatan, kedamaian, kesejahteraan. Makna ketundukan dan penyerahan diri kita temukan, misalnya, dalam ayat ini:
 “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah tunduk (menyerahkan diri) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan.” (QS: 3: 83)

Makna keselamatan kita temukan, misalnya, dalam ayat ini :
 “….Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS: 5: 15-16)

Makna kedamaian kita temukan, misalnya, dalam ayat ini :
 “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: 8: 61)

Makna kesejahteraan kita temukan, misalnya, dalam ayat ini:
 “Doa mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma” (Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua itu tidak dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah), dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam” (kesejahteraan dan kesentosaan). Doa penutup mereka ialah “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”(segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam).” (QS: 10: 10).

Ber-Islam, dengan begitu, berarti menundukkan dan menyerahkan diri sepenuh-penuhnya, secara mutlak, kepada Allah swt untuk diatur sesuai dengan kehendak-Nya. Dan kehendak-kehendak Allah swt itu tertuang secara utuh dalam agama yang Ia turunkan kepada umat manusia, sebagai petunjuk abadi dalam menjalani kehidupan mereka di muka bumi, melalui perantara seorang Rasul, Muhammad saw, yang kemudian Ia beri nama “Islam.”
Asas ketundukan dan penyerahan diri itu adalah pengakuan yang tulus dari lubuk hati bahwa kita dan seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah swt. Karena itu Allah swt berhak mengatur segenap ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Selanjutnya Allah swt menjelaskan kehendak-kehendak-Nya dalam dua bentuk:
Pertama, kehendak Allah swt yang bersifat pasti, mutlak dan mengikat seluruh ciptaan-Nya, baik manusia maupun alam. Inilah yang kemudian kita sebut dengan “Sunnah Kauniyah.” Dalam pengertian ini, maka seluruh makhluk di jagad ini telah menyatakan ketundukan dan penyerahan dirinya (ber-Islam) kepada Allah swt. Perhatikan firman Allah swt berikut ini :
 “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, pohon-pohon, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari pada manusia? Dan banyak diantara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”  (QS: 22: 18),

Kedua, kehendak Allah swt yang bersifat pilihan, berupa aturan-aturan dan pranata sistim bagi kehidupan manusia. Inilah yang kemudian kita sebut “Syariat atau Agama.” Inilah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya :                                                                        
“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS: 45:18)

Manusia dan alam tidak bisa melepaskan diri dari kodrat sebagai ciptaan. Karena itu setiap penolakan terhadap kehendak-kehendak Allah swt, baik yang “kauniyah” maupun yang “syar’iyah”, selalu berarti pembangkangan terhadap Sang Pencipta, penyimpangan dari garis kebenaran, isolasi dan benturan dengan alam. Ujung dari pembangkangan itu adalah bahwa manusia selamanya akan tertolak oleh Allah, alam semesta dan  disharmoni dalam hubungan antar sesama manusia. Simaklah bagaimana Allah menolak mereka:
 “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS: 3: 85)

Sekarang simaklah bagaimana alam mengisolasi mereka :
 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: 7: 96)
 “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS: 22: 31)

Akan tetapi, apabila kehendak-kehendak Allah swt yang diturunkan dalam bentuk syariat atau aturan dan pranata sistim bagi kehidupan manusia, maka itu berarti bahwa Islam – yang kemudian menjadi nama bagi syariat tersebut – adalah jalan hidup, atau suatu sistim yang diturunkan Allah agar manusia menata kehidupannya dengan sistim itu.
Jadi, Islam bukan hanya ritual-ritual belaka yang kita lakukan sebagai sebentuk ketundukan kepada Allah swt. Islam jauh lebih luas dari sekedar ritual belaka. Islam adalah sistim kehidupan yang lengkap dan paripurna serta bersifat unversal. Ia mengatur kehidupan kita sejak kita bangun dari tidur sampai kita tidur kembali. Ia menata kehidupan kita sebagai individu dan masyarakat. Menata ibadah kita seperti ia menata ekonomi dan politik kita. Ia menata hukum kita seperti ia menata kehidupan social budaya kita. Ia adalah Qur’an dan pedang, masjid dan pasar, agama dan negara, iman dan ilmu, ibadah dan seni.
Allah S.W.T sebagai pencipta manusia, maka Dia pulalah yang paling mengetahui apa yang dibutuhkan manusia untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka hak prerogatif Allah untuk mengatur manusia (Hakimiyyatullah) bukan saja datang kodrat-Nya sebagai Pencipta, tapi juga pengetahuan dan keadilan-Nya. Dan karena itu pula, penyerahan diri kita kepada-Nya bukan lahir dari pengakuan akan kepenciptaan-Nya, tapi lahir dari pengetahuan kita tentang pengetahuan dan keadilan-Nya serta ungkapan rasa syukur atas karunia terbesar-Nya, yaitu agama  Islam.
 “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus”    (QS: 17: 9)
“Dan barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia akan terbebas dari rasa takut dan tiada pula mereka akan bersedih.” (QS: 2: 38)                                               
“Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”            (QS: 28: 77).

KARAKTERISTIK ISLAM

Sebagai sebuah sistim, Islam mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan sistim-sistim yang lain. Karakteristik adalah ciri-ciri umum yang menjadi bingkai dari keseluruhan ajaran Islam. Cara pandang Islam terhadap berbagai permasalahan eksistensial seperti Tuhan, alam, manusia dan kehidupan, serta interpretasinya terhadap berbagai peristiwa selamanya akan berada dalam bingkai ciri-ciri umum tersebut. Karakteristik ini pula yang kemudian menjadi letak  keunggulan Islam terhadap sistim-sistim lainnya. Ciri-ciri umum tersebut adalah rabbaniyah, syumuliyah, insaniyah, tsabat, tawazun, waqi’iyyah, ijabiyyah.

Rabbaniyyah
Rabbaniyyah adalah nisbat kepada kata Rabb yang berarti Tuhan. Artinya Islam ini adalah agama atau jalan hidup yang bersumber dari Tuhan. Ia bukan kreasi manusia,juga bukan kreasi nabi yang membawanya. Maka Islam adalah jalan Tuhan. Tugas para nabi adalah menerima, memahami dan menyampaikan ajaran itu kepada umat manusia :
 “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.”  (QS: 5: 67)

Sumber ajaran merupakan titik perbedaan paling signifikan antara berbagai ideologi. Sumber ajaran Islam adalah Allah swt, Tuhan semesta alam, Tuhan yang menciptakan manusia dan yang paling mengetahui hakikat manusia serta apa saja yang dibutuhkannya; kebutuhan fisik, ruh dan akalnya. Ia adalah sumber yang terpercaya yang memiliki semua hak dan kelayakan untuk mengatur manusia. Kekuatan sumber itu melahirkan rasa aman untuk menerima kebenaran dan menghilangkan keraguan. Ia bukan saja mambawa kebenaran mutlak, tapi juga terjaga validitasnya sepanjang masa.
 “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka janganlah kamu menjadi ragu (menerimanya).” (QS: 2:147 ).

Semua ideologi lain memiliki kelemahan mendasar karena sumbernya adalah manusia yang tidak pernah bisa membebaskan diri dari hawa nafsu, katerbatasan, kelemahan dan ketidakberdayaan. Ideologi manusia tidak pernah sanggup melampaui hambatan ruang dan waktu dan dengan mudah menjadi usang dan dibuang ke ruang masa lalu oleh ketidaksesuaian.


Syumuliyyah
Artinya ajaran ini mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia; dari pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara; dari sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, lingkungan, pendidikan hingga  kebudayaan; dari etnis Arab ke Parsi hingga seluruh etnis manusia, dari kepercayaan, sistim hingga akhlak; dari Adam hingga manusia terakhir; dari sejak kita bangun tidur hingga kita tidur kembali; dari kehidupan dunia hingga kehidupan akhirat. Jadi kecakupan Islam dapat kita dari beberapa dimensi; yaitu dimensi waktu, dimensi demografis, dimensi geografis dan dimensi kehidupan.
Yang dimaksud dengan dimensi waktu adalah bahwa Islam telah diturunkan Allah swt sejak Nabi Adam hingga mata rantai kenabian ditutup pada masa Rasulullah Muhammad saw. Dan Islam bukan agama yang hanya diturunkan untuk masa hidup Rasulullah saw, tapi untuk masa hidup seluruh umat manusia di muka bumi :
 “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS: 3: 144)

Yang  dimaksud dengan dimensi demografis adalah bahwa Islam diturunkan untuk seluruh umat manusia dengan seluruh etnisnya, dan bahwa mereka semua sama di mata Allah swt sebagai ciptaan-Nya dan dibedakan satu sama lain karena asas ketakwaan :
 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya  Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS: 49: 13)
 “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS: 34: 28)

Yang dimaksud dengan dimensi geografis adalah bahwa ajaran Islam diturunkan untuk diterapkan di seluruh penjuru bumi. Maka Islam tidak dapat diidentikkan dengan kawasan Arab (Arabisme), karena itu hanya tempat lahirnya. Islam tidak mengenal sekat-sekat tanah air, sama seperti ia tidak mengenal batasan-batasan etnis.
 “Ingatlah ketika Tuhamu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami, senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman; ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS: 2: 30)
“Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu)                          Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus”. (QS: 81: 27-28)                                                
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)                        rahmat bagi semesta alam”.  (QS: 21: 107)

Yang dimaksud dengan dimensi kehidupan adalah bahwa Islam membawa ajaran-ajaran yang terkait dengan seluruh dimensi kehidupan manusia; sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, pendidikan, lingkungan dan kebudayaan. Itulah sebabnya Allah swt menyuruh berislam secara kaffah, atau berislam dalam semua dimensi kehidupan kita.
”Hai orang-orang yang berirman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan jangankah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya Syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS: 2: 208)
Ini pula yang dimaksud Allah swt bahwa Ia telah menyempurnakan agama ini dan karena itu meridhoinya sebagai agama terbaik bagi umat manusia :
 “Hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamamu, dan Ku-sempurnakan nikmat-Ku terhadapmu, dan Kuridhai Islam sebagai agamamu.” (QS: 5: 3)

Insaniyyah
Artinya bahwa ajaran Islam mendudukan manusia pada posisi kunci dalam struktur kehidupan ini. Manusia adalah pelaku yang diberi tanggungjawab dan wewenang untuk mengimplementasikan kehendak-kehendak Allah swt dimuka bumi (khalifah). Maka Allah swt memberi penghormatan tertinggi kepada manusia dalam firman-Nya :
 “Dan sesunguhnya kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS: 17: 70)

Selanjutnya Allah swt menyusun ajaran-ajaran Islam sedemikian rupa sesuai dengan fitrah dasar manusia :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas ) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ( QS: 30:30)

Islam datang untuk membebaskan umat manusia dari perbudakan sesama manusia. Di hadapan Rustum menjelang Perang Qadisiyah, Rub’i bin ‘Amir menjelaskan misi itu ketika beliau berkata: “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia yang lain.” 
Hak asasi manusia - dalam semua bentuknya - merupakan bagian paling inheren dalam keseluruhan ajaran-ajaran Islam. Hak-hak asasi itu merupakan seperangkat kondisi dan wilayah kewenangan yang mutlak dibutuhkan manusia untuk menjalankan misinya dalam kehidupan ini. “Sejak kapan kamu memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan bebas?”, kata Umar Bin Khattab kepada ‘Amru  Bin ‘Ash saat puteranya menampar wajah seorang warga Qibthy (Kristen).

Tsabat dan Tathawwur
Tsabat artinya permanen, sedang Tathawwur artinya pertumbuhan. Ciri permanensi adalah turunan dari ciri Rabbaniyyah. Maksudnya adalah bahwa Islam membawa ajaran yang berisi hakikat-hakikat besar yang bersifat tetap dan permanen dan tidak akan pernah berubah dalam semua ruang dan waktu. Hakikat-hakikat itu melampaui batas-batas ruang dan waktu serta bersifat abadi.
Seperti hakikat abadi tentang wujud dan keesaan Allah, hakikat penyembahan kepada Allah, hakikat alam sebagai ciptaan dan wadah fisik bagi kehidupan kita, hakikat manusia sebagai makhluk yang paling terhormat karena misi khilafahnya, hakikat iman kepada Allah, malaikat, rasul, kitab suci dan takdir baik dan buruk serta hari akhirat adalah syarat diterimanya semua amal manusia, hakikat ibadah sebagai tujuan hidup manusia, hakikat aqidah sebagai ikatan komunitas Muslim, hakikat dunia  sebagai tempat ujian, hakikat Islam sebagai agama satu-satunya yang diterima Allah.  
Semua hakikat itu bersifat abadi dan permanen dan tidak berubah karena faktor ruang dan waktu. Hakikat-hakikat dasar dan nilai-nilai itu bukan saja tidak dapat berubah, tapi juga tidak mungkin bertumbuh; sebagaimana realitas dan pola-pola kehidupan manusia terus berubah dan bertumbuh.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas ) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS: 30:30).

Itu sama sekali tidak berarti bahwa Islam mengebiri dan membekukan gerakan pemikiran dan kehidupan secara keseluruhan. Yang dilakukan Islam hanyalah memberi bingkai (frame of reference) di dalam mana pemikiran dan kehidupan manusia bergerak dan bertumbuh. Dalam bingkai itulah kaum Muslimin bergerak dan berkreasi, menghadapi tantangan perubahan hidup secara pasti dan elastis, bermetamorfosis secara teratur dan terarah, bertumbuh secara dinamis dan terkendali.
Bingkai seperti ini mutlak dibutuhkan untuk menciptakan rasa aman dan kepastian, keterarahan dan keutuhan, konsistensi dan kesinambungan. Kalau ada rahasia di balik soliditas dunia Islam selama lebih dari seribu tahun, itu karena adanya frame of reference tersebut. Itu kekuatan ideologi dan spiritual yang senantiasa memproteksi Islam  dari penyimpangan dan keusangan.
“Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.            (QS: 23: 71)

Tawazun
Artinya keseimbangan. Ajaran-ajaran Islam seluruhnya seimbang dan memberi porsi kepada seluruh aspek kehidupan manusia secara proporsional. Tidak ada yang berlebihan atau kekurangan, tidak ada perhatian yang ekstrim terhadap satu aspek dengan mengorbankan aspek yang lain. Karena semua aspek itu adalah satu kesatuan dan menjalankan fungsi yang sama dalam struktur kehidupan manusia.
Ada keseimbangan antara bagian-bagian yang bersifat fisik (zahir) dan metafisik (gaib) dalam keimanan. Ada keseimbangan antara kecondongan kepada materialisme dan spiritualisme dalam kehidupan. Ada keseimbangan antara aspek ketegasan hukum dan persuasi moral dalam bernegara. Ada keseimbangan antara Sunnah Kauniyah yang eksak dan pasti dengan kehendak Allah yang tetap bebas dan tidak terbatas (seperti dalam kasus istri nabi Ibrahim yang melahirkan di usia yang sangat tua, atau Maryam yang melahirkan tanpa proses biologis normal, atau pendinginan api bagi Ibrahim dan lainnya, semua ini tanpa harus mengganggu kepastian gerak alam yang dapat diobservasi oleh manusia secara empiris). Ada keseimbangan antara ibadah yang bersifat mahdhah (khusus) dengan ibadah dengan wilayah yang luas.
 “Dan segala sesuatunya Kami ciptakan dengan kadarnya masing-masing.”         (QS 54:49)
 “Engkau takkan penah menemukan pada ciptaan Allah Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang.”    (QS: 67: 3).

Ciri keseimbangan ini telah memproteksi Islam dari keterpecahan dan dikhotomi yang selalu ada dalam ideologi lainnya. Ada spiritualisme yang ekstrim dalam gereja di abad pertengahan, tapi juga ada materialisme yang ekstrim pada kaum sekuler. Ada porsi kelompok yang berlebihan dan sosialisme, tapi juga ada porsi individu yang ekstrim dalam kapitalisme liberal. Ini menciptakan pertentangan-pertentangan dalam struktur ideologi dan senantiasa mewariskan kegoncangan psikologis akibat ketidakutuhan dalam diri pada pemeluknya.

Waqi’iyyah
Artinya realisme. Islam diturunkan untuk berinteraksi dengan realitas-realitas obyektif yang nyata-nyata ada sebagaimana ia adanya. Selain itu ajaran-ajarannya didesign sedemikian rupa yang memungkinkannya diterapkan secara nyata dalam kehidupan manusia. Ia bukan nilai-nilai ideal yang enak dibaca tapi tidak dapat diterapkan. Ia merupakan idealisme yang realistis, tapi juga realisme yang idealis.
Tuhan adalah realitas obyektif yang benar-benar wujud  dan wujud-Nya diketahui melalui ciptaan-Nya dan kehendak-Nya diketahui melalui gerakan alam. Alam dan manusia juga realitas obyektif.
 “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikianlah ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling.  Dia menyingsingkan pagi dan manjadikan  malam  untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS: 6: 95-96)

Tapi konsep Islam juga didesign sesuai dengan realitas obyektif manusia, kondisi ruang dan waktu yang melingkupinya, hambatan internal dan eksternalnya, potensi ril yang dimiliki manusia untuk menjalani hidup. Islam memandang manusia dengan segala kekuatan dan kelemahannya; dengan ruh, akal dan fisiknya; dengan harapan-harapan dan ketakutannya; dengan mimpi dan keterbatasannya. Lalu berdasarkan itu semua Islam menyusun konsep hidup ideal yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata manusia dengan segenap potensi yang dimilikinya. Islam bukan idealisme yang tidak mempunyai akar dalam kenyataan.
 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….”.(QS: 2: 286.)

Ijabiyyah
Artinya sikap positif dalam menjalani kehidupan sebagai lawan dari pesimisme dan fatalisme. Keimanan bukanlah sesuatu yang beku dan kering yang tidak sanggup menggerakkan manusia. Keimanan adalah sumber tenaga jiwa yang mendorong manusia untuk merealisasikan kebaikan dan kehendak Allah dalam kehidupan ril. Islam memandang bahwa keimanan yang tidak dapat mendorong manusia untuk bekerja mengeksplorasi potensi alam dan potensi dirinya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, adalah keimanan yang negatif dan fatal.
Itulah sebabnya Islam memberi penghargaan besar kepada kerja sebagai bukti sikap positif dan dinamika dalam mengelola kehidupannya. Allah swt berfirman:
 “Katakanlah: “Bekerjalah kamu! Nanti Allah akan menyaksikan pekerjaanmu bersama Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (QS: 9:105 ).



Bacaan yang dianjurkan :
1.        Dasar-dasar Islam; Abul A’la Al Maududi
2.        Petunjuk Jalan; Sayyid Qutb
3.        Al Islam; Said Hawwa
4.        Karakteristik Islam; DR. Yusuf Al Qardhawi
5.        Salah Paham Terhadap Islam; Muhammad Qutb
6.        Komitmen Muslim; DR. Fathi Yakan
7.        Benarkah Kita Muslim; Muhammad Qutb
8.        Prinsip-prinsip Islam Untuk Kehidupan; DR. Abdullah Al Muslih
9.        La Ilaha Illallah Sebagai Aqidah, Syariah dan Sistim Kehidupan; Muhamad Qutb
10.     Al Ubudiyah; Ibnu Taimiyah


Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...