Rabu, 27 Juni 2012

model pembelajaran tematik













MODEL

PEMBELAJARAN TEMATIK

KELAS AWAL
SEKOLAH DASAR





PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASI0NAL
2006
DAFTAR ISI


BAB I                         : PENDAHULUAN ……………………………………………………  1
A.     Latar Belakang Pembelajaran Tematik …………………………..   2
B.     Tujuan …………………………………………………………….  2
C.     Ruang Lingkup …………………………………………………….2
BAB II            :  KERANGKA BERPIKIR…………………………………………….3
A.     Karakteristik Perkembangan Anak Usia Kelas Awal SD………….3
B.     Cara Anak Belajar……………………………………………….…3
C.     Belajar dan Pembelajaran Bermakna………………………………4
D.     Pengertian Pembelajaran Tematik…………………………………4
E.      Landasan Pembelajaran Tematik…………………………………..5
F.      Arti penting Pembelajaran Tematik………………………………..6
G.     Karakteristik Pembelajaran tematik…………………………….….6
H.     Rambu-Rambu………………………………………………….….7
BAB III          :  IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK…..…………………..8
A.     Implikasi bagi Guru……………………………………………….8
B.     Implikasi Bagi Siswa…………………………………………...…8
C.     Implikasi  terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media...8
D.     Implikasi terhadap pengaturan ruangan …………………………..8
E.      Implikasi terhadap pemilihan metode …………………………….9
BAB IV           :    TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN …………………………10
A.     Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar  dan Indikator dalam tema.............................……………………………………10
B.     Menetapkan Jeringan Tema …………………………………......11
C.     Penyusunan Silabus ……………………………………...……...11
D.     Penyususnan Rencana Pembelajaran ……………………………11
BAB V            :    TAHAP PELAKSANAAN ………………………………………...12
A.     Tahapan Kegiatan………………………………………………..12
B.     Pengaturan Jadwal Pelajaran …………………………………....13
BAB VI           :    PENILAIAN ……………………………………...………………...14
A.     Pengertian …………………..……………………………………14
B.     Tujuan……………………………………..……………………..14
C.     Prinsip …………………………………………………………...14
D.     Alat Penilaian ……………………………...………………….....14
E.      Aspek Penilaian ………………………………...………………..15
PENUTUP …………………………………………………………………………...…15

LAMPIRAN
1 Contoh Pemetaan Estándar Kompetensi Dengan Tema ………………………………17
2. Contoh Jeringan Tema ………………………………………..………………………27
3. Contoh Silabus ………………………………………………………………………..31
4. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ……………………………...………….34






BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang Pembelajaran Tematik

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD  kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA  2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah,  muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit  taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % Peserta didik berada pada  pendidikan prasekolah lain.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.  


B.  Tujuan

Tujuan penyusunan dokumen model pengembangan silabus tematik pada kelas awal Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran tematik.
2.      Memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran tematik yang sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar.
3.      Memberikan keterampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan,  melaksanakan dan melakukan penilaian dalam pembelajaran tematik.
4.      Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan pembelajaran tematik

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada kelas I - III Sekolah Dasar, yaitu: Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan.


BAB II
KERANGKA BERPIKIR


A.   Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD

Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.

Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.

Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

B.  Cara Anak Belajar

Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. 

Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.

Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:

1.   Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.  Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.

2.   Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.

3.   Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .

C.  Belajar dan Pembelajaran  Bermakna

Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak    jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.

Belajar bermakna (meaningfull learning)  merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.  Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.

D. Pengertian Pembelajaran Tematik

Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar,  konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan  memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
 1)  Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan,  waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.


E.   Landasan Pembelajaran Tematik

 Landasan Pembelajaran tematik mencakup:

Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada  pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.  Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.

Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.

Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).

F.   Arti Penting Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan  terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).

Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat yaitu: 1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, 2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan  tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. 4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat,

G. Karakteristik Pembelajaran Tematik

Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1.      Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2.      Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3.      Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4.      Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
5.      Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6.      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
7.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

H. RAMBU-RAMBU

1.      Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
2.      Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
3.      Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri.
4.      Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
5.      Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral
6.      Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat



BAB III
IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK


Dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup:

A.   Implikasi bagi guru

Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.


B.  Implikasi bagi siswa

  1. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal.
  2. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah

C.  Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media

  1. Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. 
  2. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).
  3. Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.
  4. Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi


D.  Implikasi terhadap Pengaturan ruangan

Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi:
·         Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan.
·         Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung
·         Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet
·         Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas
·         Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar
·         Alat, sarana dan sumber  belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.


E.   Implikasi terhadap Pemilihan metode

Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap.



BAB IV
TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN


Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

A.   Pemetaan Kompetensi Dasar
Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:


1.   Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator
Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal  sebagai berikut:
·         Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik
·         Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
·         Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat diamati


2.      Menentukan tema
a.                 cara penentuan tema
Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni:

Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.

Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

b.                 Prinsip Penentuan tema
Dalam  menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:
·        Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa:
·        Dari yang termudah menuju yang sulit
·        Dari yang sederhana menuju yang kompleks
·        Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.
·        Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa
·        Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya


3.    Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator
Lakukan  identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.


B.  Menetapkan Jaringan Tema
Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat  kaitan antara tema,  kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema. 


C.  Penyusunan Silabus
Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian.



D.  Penyusunan Rencana Pembelajaran

Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:
1.      Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).

2.     Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.


3.      Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.

4.      Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).


5.      Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.

6.      Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian).



BAB V
TAHAP PELAKSANAAN


1.   Tahapan kegiatan
Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit)

a.   Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi

b.   Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai  strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.

c.   Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut
Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.


Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari dapat dijabarkan menjadi:

Contoh 1:

Kegiatan
Jenis kegiatan
Kegiatan pembukaan
Anak berkumpul bernyanyi sambil menari mengikluti irama musik

Kegiatan inti
·         Kegiatan untuk pengembangan membaca
·         Kegiatan untuk pengembangan menulis
·         Kegitan untuk pengembangan berhitung
·          
Kegiatan penutup
Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita







Contoh 2:
Kegiatan
Jenis kegiatan
Kegiatan pembukaan
Waktu berkumpul (anak m,enceritakan pengalkaman, menyanyi, melakukan kegiatan fisik sesuai dengan tema)

Kegiatan inti
·         Pengembnagan kemmapuan menulis (kegiatan kelompok besar)
·         Pengembnagan kemampuan berhitung kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)
·         Melakukan pengamatan sesuai dengan tema, misalnya mengamati jenis kendaraan yang lewat pada tema transporasi, menggambar hewan hasil pengamatan

Kegoiatan penutup
  • Mendongeng
  • Pesan-pesan moral
  • Musik/menyanyi


2.       Pengaturan Jadwal pelajaran
Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan. Guru bersama dengan guru mata pelajaran  pendidikan agama, guru pendidikan Jasmani dan guru muatan lokal perlu bersama-sama menyusun Jadwal pelajaran.  Contoh jadwal yang dapat dikembangkan adalah:


Waktu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
7-7.35
Matematika

B. Indo
Mat
BI
Penjaskes
IPA
7.35-8.10
Matematika

B. Indo
Mat
BI
penjaskes
IPA
8.10-8.45
Matematika

B. Indo
Mat
KTK
P. Agama
mulok
8.45-9.00

Istirahat

9.00-9.35
B. Ind
Mat

IPS
KTK
P. Agama
mulok
9.35-10.10
B. Ind
Mat

IPS
KTK
















BAB VI
PENILAIAN


A. Pengertian

Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar. 

B. Tujuan 

Tujuan Penilaian pembelajaran tematik adalah:
1.      Mengetahui percapaian indikator yang telah ditetapkan
2.      Memperoleh umpan balik bagi guru, untuk pengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran
3.      Memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa
4.      Sebagai acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remedial, pengayaan, dan pemantapan).

C. Prinsip

1.  Penilaian di kelas I dan II mengikuti aturan penilaian mata-mata pelajaran lain di sekolah dasar. Mengingat bahwa siswa kelas I SD belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.
2.   Kemampuan  membaca, menulis dan  berhitung  merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas I dan II. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.
3.   Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing-masing Kompetensi Dasar dan Hasil Belajar dari mata-mata pelajaran.
4. Penilaian dilakukan secara terus menerus  dan  selama  proses belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti dan menyanyi pada kegiatan akhir.
5. Hasil karya/kerja siswa dapat digunakan sebagai bahan masukan guru dalam mengambil keputusan siswa misalnya: Penggunaan tanda baca, ejaan kata, maupun angka.


D.  Alat Penilaian

Alat penilaian dapat berupa Tes dan Non Tes. Tes mencakup: tertulis, lisan, atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa, dan porto folio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuiah buku bantu. Sedangkan Tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya untuk mengetahui  tentang penggunaan tanda baca, Jean, kata atau angka

Berikut adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru:

A. Kewarganegaraan dan
Pengetahuan Sosial
: Tes Lisan

·        Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang dialami
·        Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang berkesan
·        Mengekspresikan perasaan waktu memberi kesan.

B. Bahasa Indonesia
: Perbuatan

·        Kelancaran membaca
·        Melafalkan kata
·        Melagukan/intonasi
·        Cara bertanya jawab
Tugas
·        Melengkapi kalimat

C. Ilmu Pengetahuan Alam
: Perbuatan

·        Mendemonstrasikan cara menggosok gigi


: Lisan

·        Menyebutkan cara memelihara gigi
·        Menjelaskan manfaat menggosok gigi




E.  Aspek Penilaian

Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran yang terdapat pada tema tersebut. Dengan demikian penilaian dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema, melainkan sudah terpisah-pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar, Hasil Belajar  dan Indikator mata pelajaran.

Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran yang terdapat pada kelas satu dan dua Sekolah Dasar, yaitu: Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan.
   

PENUTUP
Pedoman ini merupakan acuan minimal, sehingga sekolah dan guru dapat mengembangan sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing.



LAMPIRAN-LAMPIRAN:

1.        CONTOH PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI DENGAN TEMA
2.        CONTOH JARINGAN TEMA
3.        CONTOH SILABUS
4.        CONTOH RENCANA PEMBELAJARAN













































Lampiran 1
 
 

PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI,  KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR DENGAN TEMA
KELAS  I

Mata pelajaran

Standar Kompetensi (*)

 

Kompetensi Dasar (**)

 

Indikator (***)

Tema dan Waktu Per Minggu

Diri Sendiri
Keluar ga
Ling-kung an
Tran spor-tasi
Kesehatan, Kebersihan & Keamanan
Hewan & Tumbuhan
Pekerja-an
Gejala Alam dan Pe-ristiwa
Rekreasi
Negara
Alat Komunikasi
4
3
4
3
4
3
2
4
3
2
2
Matematika
Bilangan
Melakukan
Penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20
Membilang banyak benda
·  Membilang atau menghitung secara urut 
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
Ö
Ö
Ö
·  Menyebutkan banyak benda   
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
Ö
Ö
Ö
·  Membandingkan  dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit, atau sasma banyak
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
Ö
Ö
Ö
· Membaca dan menulis lambang bilangan
-
Ö
Ö
Ö
-
Ö
-
-
-
-
Ö
· Menyatakan masalah sehari-hari yang terkait penjumlahan dan pengurangan sampai 20 
-
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
-
Ö
-
Ö
Geometri dan pengukuran
Mengguna
kan pengukuran waktu dan panjang

Menentukan waktu (pagi, siang, malam),   hari, dan jam ( bulat)

·             Menceritakan pengalaman saat pagi, siang atau malam hari
v
v
v
v
v
-
v
-
v
-
-
·    Menyebutkan perbedaan antara pagi dan malam hari
v
v
v
v
v
-
v
-
v
-
-
Mengelompokkan berbagai bangun ruang sederhana (balok, prisma, tabung, bola, dan kerucut)

·             Membedakan berbagai bentuk sesuai dengan cirinya
-
v
v
v
v
-
v
v
-
v
v
·             Menyebutkan hasil pengelompokkan bangun ruang sederhana
-
v
v
v
v
-
v
v
-
v
v
Pendidikan Jasmani, olahraga dan kesehatan
Permainan dan olahraga
Mempraktekkan gerak dasar ke dalam permainan sederhana/
Aktivitas jasmani dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya

Mempraktikkan gerak dasar jalan, lari dan lompat dalam permainan sederhana, serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi dan percaya diri.
·  Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
--
Ö
·   Berjalan dengan berbagai pola langkah dan kecepatan.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
--
Ö
·   Berlari dengan berbagai pola langkah dan kecepatan.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö

Ö
Ö
--
Ö
·   Melompat ke berbagai arah.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
--
Ö






















PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI,  KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR DENGAN TEMA
KELAS  I

Mata pelajaran

Standar Kompetensi (*)

 

Kompetensi Dasar (**)


Indikator (***)



Tema dan Waktu Per Minggu

Diri Sendiri
Keluar ga
Ling-kung an
Tran spor-tasi
Kesehatan, Kebersihan & Keamanan
Hewan & Tumbuhan
Peker-jaan
Gejala Alam dan Peristiwa
Rekreasi
Negara
Alat Komunikasi
4
3
4
3
4
3
2
4
3
2
2
Pengetahuan sosial
Memahami identitas diri dan keluarga, serta skikap saling menghormamati dalam kemajemukan Keluarga
Mengiden-tifikasi identitas diri, keluarga, dan kerabat
·  Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan 
Ö
Ö
--
Ö

Ö
-
Ö
Ö
Ö
Ö
·  Menyebutkan nama ayah, ibu, saudara dan wali.  
Ö
Ö
Ö
Ö

Ö
-
Ö
Ö
Ö
Ö
·  Menyebutkan alamat tempat tinggal.
Ö
Ö
Ö
Ö

Ö
-
Ö
Ö
Ö
Ö
· Menyebutkan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah.
Ö
Ö
Ö
Ö

Ö
-
Ö
Ö
Ö
Ö


PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI,  KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR DENGAN TEMA
KELAS  I

Mata Pelajaran

Standar Kompetensi (*)

 

Kompetensi Dasar (**)


Indikator (***)



Tema dan Waktu Per Minggu

Diri Sendiri
Keluar ga
Lingkung- an
Tran spor-tasi
Kesehatan, Kebersihan & Keamanan
Hewan & Tumbuhan
Pekerja-an
Gejala Alam dan Pe-ristiwa
Rekreasi
Negara
Alat Komunikasi
4
2
4
2
4
3
2
2

3
2
2
Ilmu Pengetahuan Alam
Makhluk Hidup dan proses kehidupan
Mengenal anggota tubuh serta kegunaannya serta cara perawatannya
1.1 Mengenal  bagian-bagian tubuh dan kegunaannya
·  Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh  
Ö
Ö
-
Ö
Ö
-
-
-
Ö
-
-
·  menceritakan kegunaan bagian-bagian tubuh
Ö
Ö
-
Ö
Ö
-
-
-
Ö
-
-
·  Menyebutkan anggota gerak tubuh.
Ö
Ö
-
Ö
Ö
-
-
-
Ö
-
-
Benda dan Sifatnya
Mengenal berbagai sifat benda dan kegunaannya melalui   pengamatan perubahan bentuk benda





Mengidentifikasi benda yang ada di lingkungan sekitar berdasarkan cirinya melalui pengamatan
·          Mengelompokkan benda dengan berbagai cara yang diketahui anak

v
v
v

v
v

v
v
v
·          Menunjuk sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna, bentuk dan ciri tertentu
-
v
v
v
-
v
v
-
v
v
v
·          Memasangkan benda sesuai dengan pasangannya
v
v
-
v
v
v
-
-
v
v
-

PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI,  KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR DENGAN TEMA
KELAS  I

Mata Pelajaran

Standar kompetensi (*)

 

Kompetensi Dasar (**)


Indikator (***)



Tema dan Waktu Per Minggu

Diri Sendiri
Keluar ga
Ling-kung an
Tran spor-tasi
Kesehatan, Kebersihan & Keamanan
Hewan & Tumbuhan
Pekerja-an
Gejala Alam dan Pe-ristiwa
Rekreasi
Negara
Alat Komunikasi
4
3
4
3
4
3
2
4
3
2
2

Seni
Budaya
dan Keterampilan
Seni rupa
Mengapresiasi karya seni rupa
1.1 Meng-identi-fikasi  unsur rupa pada benda di alam sekitar
·  Mengelompokkan berbagai jenis: bintik gari, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar.  
-
-
Ö
Ö
Ö
-
-
-
Ö
-
Ö
·  Mengelompokkan berbagai ukuran: bintik, garis, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar.
-
-
Ö
Ö
Ö
-
-
-
Ö
-
Ö
·  Menyebutkan unsur rupa di lingkungan sekolah.
-
-
Ö
Ö
Ö
-
-
-
Ö
-
Ö
Seni musik
Mengapresiasi karya seni musik
Mengiden-tifikasi unsur/elemen musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan tubuh manusia
·          Bertepuk tangan dengan pola












Seni Tari
Mengapresiasi karya seni tari
Mengiden-tifikasi  fungsi tubuh dalam melaksanakan gerak di tempat
·          Bergerak bebas sesuai irama musik













PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI,  KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR DENGAN TEMA
KELAS  I

 

Mata Pelajaran

Standar Kompetensi (*)

 

Kompetensi Dasar (**)

 

(Contoh)

Indikator (***)



Tema dan Waktu Per Minggu

Diri Sendiri
Keluar ga
Ling-kung an
Tran sportasi
Kesehatan, Kebersihan & Keamanan
Hewan & Tumbuhan
Pekerja-an
Gejala Alam dan Pe-ristiwa
Rekreasi
Negara
Alat Komunikasi
4
3
4
3
4
3
2
3
4
2
2
Bahasa Indonesia
Mende-ngarkan
Memahami bunyi bahasa, perintah, an dongeng yang dilisankan

Membedakan bunyi bahasa
·  Membedakan berbagai bunyi/suara tertentu secara tepat.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
Ö
-
Ö
· Menirukan bunyi/suara tertentu seperti: suara burung, ombak, kendaraan, dan lain-lain.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
Ö
-
Ö
· Mengenal bunyi bahasa.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
Ö
-
Ö
· Membedakan bunyi bahasa.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
Ö
-
Ö
· Melafalkan bunyi bahasa secara tepat.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
-
Ö
-
Ö
Berbicara
Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi, secara lisan dengan perkenalan dan tegur sapa, pengenalan benda dan fungsi anggota tubuh.
Memperkenalkan diri sendiri dengan kalimat sederhana dan bahasa yang santun
·  Menyebutkan data diri (nama, kelas, sekolah, dan tempat tinggal) dengan kalimat sederhana
Ö
Ö
Ö
Ö
-
-
-
-
-
-
-
· Menyebutkan nama orangtua dan saudara kandung.
Ö
Ö
Ö
Ö
-
-
-
-
-
-
-
· Menanyakan data diri dan nama oratua serta saudara teman sekelas
Ö
Ö
Ö
Ö
-
-
-
-
-
-
-
Membaca
Memahami teks pendek dengan membaca nyaring
Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
· Mengenali huru-huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata dan kalimat sederhana.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö

·                             Membaca nyaring satu paragraf dengan lafal dan intonasi yang tepat.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
·                             Membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang benar
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö

Menulis
 Menulis permulaan dengan menciplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi dan menyalin
Menjiplak berbagai bentuk gambar,
lingkaran dan bentuk huruf
·  Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
·   Menebalkan berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf.
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö





















PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI,  KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR DENGAN TEMA
KELAS  I

 


Mata Pelajaran

Standar Kompetensi (*)

Kompetensi Dasar (**)


Indikator (***)



Tema dan Waktu Per Minggu

Diri Sendiri
Keluar ga
Ling-kung an
Tran sportasi
Kesehatan, Kebersihan & Keamanan
Hewan  & Tumbuhan
Pekerja-an
Gejala Alam dan Pe-ristiwa
Rekreasi
Negara
Alat Komunikasi
4
2
4
2
4
3
2
2
2
2
2

Kewarganegaraan


1.1 Menjelaskan perbedaan jenis kelamin, agama dan suku bangsa
·  Menyebutkan berdasarkan jenis kelamin anggota keluarga.
Ö
Ö
-
-
-
-
-
-
-
Ö
-
· Meyebutkan agama-agama yang ada di Indonesia.
Ö
Ö
-
-
-
-
-
-
-
Ö
-

Keterangan:
*           : Diambil dari SK-KD
**          : Diambil dari SK-KD
***         : Diambil dari penjabaran SK-KD ke dalam indikator



Text Box: Tema
LINGKUNGAN
Minggu I


Kewarganegaraan
·    Menyebutkan jenis kelamin anggota keluarga.
·  Meyebutkan agama-agama yang ada di Indonesia
 
Text Box: BAHASA INDONESIA
• Membedakan berbagai bunyi/suara tertentu secara tepat.
• Menirukan bunyi/suara tertentu seperti: suara burung, ombak, kendaraan, dan lain-lain.
• Mengenal bunyi bahasa.
• Menyebutkan data diri (nama, kelas, sekolah, dan tempat tinggal) dengan kalimat sederhana
• Menyebutkan nama orangtua dan saudara kandung
• Menanyakan data diri dan nama orangtua serta saudara teman sekelas
• Menjiplak berbagai bentuk gambat, lingkaran, dan bentuk huruf.


Text Box: SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN 
• Mengelompokkan berbagai jenis: bintik gari, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar 
• Bergerak bebas sesuai irama musik
• Menyebutkan unsur rupa di lingkungan sekolahText Box: PENGETAHUAN ALAM
• Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh 
• Menyebutkan kegunaan bagian-bagian tubuh 
• Mengelompokkan benda dengan berbagai cara yang diketahui anak.
• Menunjukkan sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna, bentuk dan ciri t ertentuText Box: ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
• Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan  
• Menyebutkan alamat tempat tinggal.Text Box: PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN
• Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat.
• Berjalan dengan berbagai pola langkah dan kecepatan.Text Box: MATEMATIKA
• Membilang atau menghitung secara urut  
• Menyebutkan banyak benda   
• Membandingkan  dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit, atau sasma banyak
• Membedakan berbagai bentuik sesuai dengan cirinya





















Text Box: Tema
LINGKUNGAN
Minggu IIText Box: BAHASA INDONESIA
• Membedakan berbagai bunyi/suara tertentu secara tepat.
• Menirukan bunyi/suara tertentu seperti: suara burung, ombak, kendaraan, dan lain-lain.
• Mengenal bunyi bahasa.
• Membedakan bunyi bahasa.
• Melafalkan bunyi bahasa secara tepat.
• Menyebutkan data diri (nama, kelas, sekolah, dan tempat tinggal) dengan kalimat sederhana
• Menyebutkan nama orangtua dan saudara kandung
• Menanyakan data diri dan nama oratua serta saudara teman sekelas
• Mengenali huru-huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata dan kalimat sederhana.
• Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf


Text Box: SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN 
• Mengelompokkan berbagai ukuran: bintik, garis, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar 
• Menyebutkan unsur rupa di lingkungan sekolah
• Bertepuk tangan dengan polaText Box: PENGETAHUAN ALAM
• Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh 
• Menyebutkan kegunaan bagian-bagian tubuh 
• Memasangkan benda sesuai dengan pasangannya
• Menunjuk sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna, bentuk dan ciri tertentuText Box: ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
• Menyebutkan nama ayah, ibu, saudara dan wali.   
• Menyebutkan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumahText Box: PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN
• Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat.
• Berjalan dengan berbagai pola langkah dan kecepatan.Text Box: MATEMATIKA
• Membilang atau menghitung secara urut  
• Menyebutkan banyak benda   
• Membandingkan  dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit, atau sasma banyak
• Menceritakan pengalamannya saat pagi, siang atau malam hari























Text Box: Tema
LINGKUNGAN
Minggu IIIText Box: BAHASA INDONESIA
• Melafalkan bunyi bahasa secara tepat.
• Menyebutkan data diri (nama, kelas, sekolah, dan tempat tinggal) dengan kalimat sederhana
• Menyebutkan nama orangtua dan saudara kandung
• Menanyakan data diri dan nama oratua serta saudara teman sekelas
• Mengenali huru-huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata dan kalimat sederhana.
• Membaca nyaring satu paragraf dengan lafal dan intonasi yang tepat.
• Membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang benar
• Menebalkan bebagai bentiuk gambar, lingkaran dan bentuk huruf
•


Text Box: SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN 
• Mengelompokkan berbagai jenis: bintik gari, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar 
• Mengelompokkan berbagai ukuran: bintik, garis, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar Text Box: PENGETAHUAN ALAM
• Menyebutkan kegunaan bagian-bagian tubuh 
• Menyebutkan anggota gerak tubuh.
• Mengelompokkan benda dengan berbagai cara yang diketahui anakText Box: ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
• Menyebutkan alamat tempat tinggal.
• Menyebutkan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
• Menghitung jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam lingkungan rumahnyaText Box: PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN.
• Berlari dengan berbagai pola langkah dan kecepatan.
• Melompat ke berbagai arah.Text Box: MATEMATIKA
• Membaca dan menulis lambang bilangan
• Membandingkan  dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit, atau sasma banyak
• Menyebutkan perbedaan antara pagi dan malam hari
• Menyebutkan hasil pengelompokkan bangun ruang sederhana
























Text Box: Tema
LINGKUNGAN
Minggu IVText Box: BAHASA INDONESIA
• Menyebutkan data diri (nama, kelas, sekolah, dan tempat tinggal) dengan kalimat sederhana
• Menyebutkan nama orangtua dan saudara kandung
• Menanyakan data diri dan nama oratua serta saudara teman sekelas
• Mengenali huru-huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata dan kalimat sederhana.
• Membaca nyaring satu paragraf dengan lafal dan intonasi yang tepat.
• Membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang benar
• Menebalkan berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf


KEWARGANEGARAAN
·          Menyebutkan jenis kelamin anggota keluarga.
·         Meyebutkan agama-agama yang ada di Indonesia
 
Text Box: SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN 
• Mengelompokkan berbagai jenis: bintik gari, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar 
• Mengelompokkan berbagai ukuran: bintik, garis, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar


Text Box: ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
• Menyebutkan alamat tempat tinggal.
• Menyebutkan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
• Membuat silsilah keluargaText Box: PENGETAHUAN ALAM
• Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh 
• Menyebutkan kegunaan bagian-bagian tubuh 
• Menyebutkan anggota gerak tubuh.
• Memasangkan benda sesuai dengan pasangannyaText Box: PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN
• Berlari dengan berbagai pola langkah dan kecepatan.
• Melompat ke berbagai arah.Text Box: MATEMATIKA
• Menyatakan masalah sehari-hari yang terkait penjumlahan dan pengurangan sampai 20
• Membandingkan  dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit, atau sasma banyak
• Menceritakan pengalaman sat pagi, siang atau malam hari
• Membedakan berbagai bentuk sesuai dengan cirinya




















Lampiran3:  CONTOH SILABUS

Mata Pelajaran
KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR
KEGIATAN BELAJAR
SARANA/SUMBER
PENILAIAN
BAHASA INDONESIA
MENDENGARKAN
Membedakan bunyi bahasa
·    Menirukan bunyi/suara tertentu seperti: suara burung, ombak, kendaraan, dan lain-lain.
·   Menirukan bunyi suara burung
·   Bermain peran menjadi berbagai kendaraan
·   Menirukan suara ombak

Kaset dan tape
Pengamatan
BERBICARA
Memperkenalkan diri sendiri dengan kalimat sederhana dan bahasa yang santun
·    Menyebutkan nama orangtua dan saudara kandung
·   tanya jawab tentang nama orang tuanya dan saudara kandungnya (berpasangan)



·    Menanyakan data diri dan nama orangtua serta saudara teman sekelas
·   tanya jawab tentang nama orang tuanya dan saudara kandungnya (berpasangan)
·   melakukan permainan menanyakan data diri temannya



·    Menyebutkan data diri (nama, kelas, sekolah, dan tempat tinggal) dengan kalimat sederhana
·   melakukan permainan menanyakan data diri
·   bercerita tentang data dirinya



MENULIS
Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran dan bentuk huruf
·    Menjiplak berbagai bentuk gambat, lingkaran, dan bentuk huruf
·   Menjiplak kartu kata
·   Menjiplah bentuk-bentuk gambar
·   Menjiplak bentuk-bentuk geometri
·   Kartu kata
·   Kartu bentuk gambar
·  Kartu bentuk geometri

MATEMATIKA
Membilang banyak benda
·   Membilang atau menghitung secara urut 
·   Membilang benda-benda di kelas
·   Membilang sambil Memantulkan bola
·  Bola

·    Menyebutkan banyak benda   

·   Mengamati lalu menyebutkan nama benda yang dilihatnya


·    Membandingkan  dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit, atau sasma banyak
·   Praktek langsung mengambil dua kumpulan benda lalu dihitung
·   Batu-batuan


Menentukan waktu (pagi, siang, malam, hari dan jam (bulat)
·   Menceritakan pengalamannya saat pagi, siang atau malam hari
·   Bercerita tentnag pengalamannya


IPS
Menguindentifikasi identitas diri,keluarga, dan kerabat

·                     Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan 

·                     Menyebutkan nama lengkapnya


·    Menyebutkan alamat tempat tinggal
·                          Menyebutkan alamat rumahnya


IPA
Makhluk Hidup dan Proses kehidupannya
Mengenal bagian-bagian tubuh dan kegunaannya
·   Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh
·     Menggambarkan tubuhnya lalu
·     menyebutkan nama bagian-bagian tubuhnya dan kegunaannya


·     Menyebutkan kegunaan bagian-bagian tubuh
Mengindetifikasi benda yang ada di lingkungan sekitar berdasarkan cirinya melalui pengamatannya
·      Mengelompokkan benda dengan berbagai cara yang diketahui anak.
·   Praktek pengelompokkan

Batu, daun, biji salak

·     Menunjukkan sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna, bentuk dan ciri tertentu
·     
·  Praktek langsung mengamati lingkungan dan menyebutkan sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna, bentuk dan ciri    tertentu


PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN
Mempraktikkan gerak dasar jalan, lari dan loncat dalam permainan sederhana, serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi dan percaya diri
·       Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat.

·     
·      Praktek langsung Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat.



·       Berjalan dengan berbagai pola langkah dan kecepatan

·   Praktek langsung berjalan dengan pola


SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
SENI RUPA
Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar
·       Menyebutkan unsur rupa di lingkungan sekolah

·  Mengamati lingkungan lalu menyebutkan benda-benda yang dilihatnya


·      Mengelompokkan berbagai jenis: bintik gari, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar

·         Mengamati lingkungan lalu mengelompokkan benda berdasarkan garis, bintik dsb


SENI MUSIK
Mengidentifikasi unsur/elemen musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan tubuh manusia
·    Bertepuk tangan dengan pola
·    Bermain tepuk tangan dengan berbagai pola yang dicontohkan


SENI TARI
Mengidentifikasi fungsi tubuh dalam melaksanaan gerak di tempat
·    Bergerak bebas sesuai irama musik

·    Mendengarkan musik dan bergerak bebas mengikuti irama


PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

·    Menyebutkan jenis kelamin anggota keluarga.

·   Menyebutkan jenis kelamin teman sebangkunya



·  Meyebutkan agama-agama yang ada di Indonesia
·   Menyebutkan agama yang dikenalnya







Lampiran 4: Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

KELAS                      :   I
TEMA                         :   LINGKUNGAN
MINGGU/HARI         :   I/Senin
ALOKASI WAKTU  : 5 x 35 menit

INDIKATOR:
Bahasa Indonesia:
·         Menanyakan data diri dan nama orangtua serta saudara teman sekelas

·         Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf

Matematika:
·         Membilang atau menghitung secara urut 
·         Menyebutkan banyak benda   
·         Menceritakan pengalamannya saat pagi, siang atau malam hari
IPA
·         Menunjukkan sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna, bentuk dan ciri tertentu
IPS
·         Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan 
SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
·         Bertepuk tangan dengan pola
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN
·         Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat.

SARANA DAN SUMBER BELAJAR:
·        Kartu-kartu kata
·        Lembar kerja (jam)
·        Bola

 

STRATEGI KEGIATAN

A.    Pembukaan (1 X 35 menit)

·        Berdoa bersama
·        Menyanyi lagu kasih ibu sambil bertepuk dengan variasi 1-2-1-2
·        Guru meminta beberapa anak untuk menyebutkan identitas dirinya seperti nama dan alamatnya, dan menceritakan suatu pengalaman yang menyenangkan dirinya
·        Guru meminta anak untuk berkeliling di kelas sambil melompat satu kaki dengan membilang (menghitung secara urut) lompatannya
·        Guru meminta beberapa anak mengemukakan tentang kegiatan yang dapat dilakukan pada waktu pagi hari, siang hari dan malam hari


B.        Inti (3 x 35 menit)

·        Di kelas anak secara individual diminta untuk mengamati berbagai benda yang ada dalam kelasnya. memilih benda yang ada di kelas, menghitungnya dan menuliskan lambang bilangan dari jumlah benda  yang dihitungnya (kegiatan ini dilakukan beberapa kali)
·        Kegiatan berikutnya (atau bagi yang sudah menyelesaikan kegiatan pertama) dapat membaca kalimat sederhana dari kartu-kartu kata yang sudah disiapkan guru
·        Guru meminta anak untuk melihat jam dinding dikelasnya, lalu anak diminta untuk menggambarkan jam didinding tersebut dilengkapi dengan penunjukkan jarum jam pada saat anak melihat dan menggambarkannya.

C.        Penutup (1 x 35 menit)

·        Guru bercerita tentang perlunya air bagi makhluk hidup, yang dilanjutkan dengan tanya jawab
·        Pesan-pesan moral bagi anak misalnya tentang perlunya hemat air, perlunya mandi/menjaga kebersihan
·        Berdoa pulang

Problem Based Learning


PBL

Ada beberapa definisi dan intepretasi terhadap Problem Based Learning (PBL). Salahsatunya menurut Duch (1995):

Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.

Sejarah PBL

Program inovatif PBL pertama kali diperkenalkan oleh Faculty of Health Sciences of McMaster University di Kanada pada tahun 1966. Yang menjadi ciri khas dari pelaksanaan PBL di mcmaster adalah filosofi pendidikan yang berorientasi pada masyarakat, terfokus pada manusia, melalui pendekatan antar cabang ilmu pengetahuan dan belajar berdasar masalah. Kemudian pada tahun 1976, Maastricht Faculty of Medicine di Belanda menyusul sebagai institusi pendidikan kedokteran kedua yang mengadopsi PBL. Kekhasan pelaksanaan PBL di Maastrich terletak pada konsep tes kemajuan (progress test) dan pengenalan keterampilan medik sejak awal dimulainya program pendidikan. Dalam perkembangannya, PBL telah diadopsi baik secara keseluruhan atau sebagian oleh banyak fakultas kedokteran di dunia.


Motivasi menggunakan PBL
Dalam pendidikan kedokteran konvensional, mahasiswa lebih banyak menerima pengetahuan dari perkuliahan dan literatur yang diberikan oleh dosen. Mereka diharuskan mempelajari beragam cabang ilmu kedokteran dan menghapal begitu banyak informasi. Setelah lulus dan menjadi dokter, mereka dihadapkan pada banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dari pengetahuan yang mereka dapat selama kuliah. Sistem pendidikan kedokteran konvensional cenderung membentuk mahasiswa sebagai pembelajar pasif. Mahasiswa tidak dibiasakan berpikir kritis dalam mengidentifikasi masalah, serta aktif dalam mencari cara penyelesainnya.
Prinsip-prinsip PBL

Dalam PBL, siswa dituntut bertanggungjawab atas pendidikan yang mereka jalani, serta diarahkan untuk tidak terlalu tergantung pada guru. PBL membentuk siswa mandiri yang dapat melanjutkan proses belajar pada kehidupan dan karir yang akan mereka jalani. Seorang guru lebih berperan sebagai fasilitator atau tutor yang memandu siswa menjalani proses pendidikan. Ketika siswa menjadi lebih cakap dalam menjalani proses belajar PBL, tutor akan berkurang keaktifannya.
Proses belajar PBL dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah yang ada di dunia nyata. Hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat, sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang akan dihadapi. Masalah-masalah yang didesain dalam PBL memberi tantangan pada siswa untuk lebih mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif.

Proses dalam PBL
Siswa dihadapkan pada masalah dan mencoba untuk menyelesaikan dengan bekal pengetahuan yang mereka miliki. Pertama-tama mereka mengidentifikasi apa yang harus dipelajari untuk memahami lebih baik permasalahan dan bagaimana cara memecahkannya.
Langkah selanjutnya, siswa mulai mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, laporan, informasi online atau bertanya pada pakar yang sesuai dengan bidangnya. Melalui cara ini, belajar dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan dan gaya tiap individu. Setelah mendapatkan informasi, mereka kembali pada masalah dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari untuk lebih memahami dan menyelesaikannya. Di akhir proses, siswa melakukan penilaian terhadap dirinya dan memberi kritik mambangun bagi kolega.

MODEL PEMBELAJARAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

            Pengertian

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Rasional

Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Pemikiran Tentang Belajar

Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.

Penilaian Otentik

prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.

            Penerapan CTL dalam pembelajaran

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.
Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL seperti dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya, M.Pd  (2005:110),sebagaiberikut:
                        Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
                        Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
                         Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
                         Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
                        Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi.
                        Pembelajaran interaktif menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:297) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. UUSPN No. 20 Tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
                        Dalam pembelajaran guru harus memahami hakekat materi pelajaran yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Pendapat ini sejalan dengan Jerome Brunner (1960) mengatakan bahwa: ‘’Perlu adanya teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas’’. Selanjutnya menurut Bruner teori belajar itu bersifat deskriptif, sedangkan teori pembelajaran itu preskriptif.
                        Hal ini menggambarkan bahwa orang yang berpengetahuan adalah orang yang terampil memecahkan masalah, mampu berinteraksi dengan lingkungannya dalam menguji hipotesis dan menarik generalisasi dengan benar. Jadi belajar dan pembelajaran diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir dan kemampuan menguasai materi pelajaran, dimana pengetahuan itu sumbernya dari luar diri, tetapi dikonstruksi dalam diri individu siswa. Pengetahuan tidak diperoleh dengan cara diberikan atau ditransfer dari orang lain, tetapi ‘’dibentuk dan dikonstruksi’’ oleh individu itu sendiri, sehingga siswa itu mampu mengembangkan intelektualnya.
Pembelajaran interaktif mempunyai dua karakteristik seperti dijelaskan oleh Dr. H. Syaiful Sagala, M.Pd. (2003:63), yaitu: (1) dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa sekedar mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berpikir; (2) dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.
                        Proses pembelajaran atau pengajaran kelas (Classroom Teaching) menurut Dunkin dan Biddle (1974:38) berada pada empat variabel interaksi yaitu:
 (1) variabel pertanda (pesage variables) berupa pendidik;
 (2) variabel konteks (context variables) berupa peserta didik, sekolah dan masyarakat;
 (3) variabel proses (process variables) berupa interaksi peserta didik dengan pendidik; dan
(4) variabel produk (product variables) berupa perkembangan peserta didik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Dunkin dan Biddle selanjutnya mengatakan proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik jika pendidik mempunyai dua kompetensi utama yaitu:
(1) kompetensi substansi materi pembelajaran atau penguasaa materi pelajaran;
(2) kompetensi metodologi pembelajaran.
Artinya jika guru menguasai materi pelajaran, diharuskan juga menguasai metode pengajaran sesuai kebutuhan materi ajar yang mengacu pada prinsip pedagogik, yaitu memahami karakteristik peserta didik. Jika metode dalam pembelajaran tidak dikuasai, maka penyampaian materi ajar menjadi tidak maksimal. Metode yang digunakan sebagai strategi yang dapat memudahkan peserta didik untuk menguasai ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru. Hal ini menggambarkan bahwa pembelajaran terus mengalami perkembangan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu dalam merespon perkembangan tersebut, tentu tidaklah memadai kalau sumber belajar berasal dari guru dan media buku teks belaka. Dirasakan perlu ada cara baru dalam mengkomunikasikan ilmu pengetahuan atau materi ajar dalam pembelajaran baik dalam sistem yang mandiri maupun dalam sistem yang terstruktur. Untuk itu perlu dipersiapkan sumber belajar oleh pihak guru maupun para ahli pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran aktivitasnya dalam bentuk interaksi belajar mengajar dalam suasana interaksi edukatif, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan artinya interaksi yang telah dicanangkan untuk suatu tujuan tertentu setidaknya adalah pencapaian tujuan intruksional atau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan pada satuan pelajaran. Kegiatan pembelajaran yang diprogramkan guru merupakan kegiatan integralistik antara pendidik dengan peserta didik. Kegiatan pembelajaran secara metodologis berakar dari pihak pendidik yaitu guru, dan kegiatan belajar secara pedagogis terjadi pada diri peserta didik. Menurut Knirk dan Gustafson (1986:15) pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan dan evaluasi. Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan sudah melalui tahapan perancangan pembelajaran.
Selanjutnya Knirk dan Gustafson (1986:18) mengemukakan teknologi pembelajaran melibatkan tiga komponen utama yang saling berinteraksi yaitu guru (pendidik), siswa (peserta didik), dan kurikulum. Komponen tersebut melengkapi struktur dan lingkungan belajar formal. Hal ini menggambarkan bahwa interaksi pendidik dengan peserta didik merupakan inti proses pembelajaran (instructional). Dengan demikian pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar. Dalam proses pembelajaran itu dikembangkan melalui pola pembelajaran yang menggambarkan kedudukan serta peran pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru sebagai sumber belajar, penentu metode belajar, dan juga penilai kemajuan belajar meminta para pendidik untuk menjadikan pembelajaran lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan  pembelajaran itu sendiri.
Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran aktif subjek, maka dipandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan Stimulus dan Respons. Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak, pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang. Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu. Mengapa demikian? Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku
.
Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, maka terdapat beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL menurut Sanjaya (2005:114) antara lain:
                        Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh.
Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir.
 Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan.
Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sedssserhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
Belajar pada hakikatnya adalah menagkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (Real World Learning)
Selanjutnya Sanjaya (2005:115) memberikan penjelasan perbedaan CTL dengan pembelajaran konvensional, antara lain:
                        CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa perperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
                        Dalam pembelajaran CTL siswa belajar melalui kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima, dan memberi. Sedangkan, dalam pembelajaran konvensional siswa lebih bnayak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajaran.
                         Dalam CTL pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat teoretis dan abstrak.
                        Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan.
                        Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri; sedangkan dalam pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah nilai dan angka.
                         Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat; sedangkan dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman, atau sakadar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.
                        Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
                        Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing; sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
                         Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi di mana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.
Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.
Berdasarkan perbedaan pokok tersebut di atas, bahwa CTL memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya. Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional hal ini sering terlupakan, sehingga proses pembelajaran tidak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire (Sanjaya, 2005:116-117) sebagai sistem penindasan.
Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL yakni:
(a) Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keleluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ‘’penguasa’’ yang memaksakan kehendak, melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
(b) Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
(c) Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian peran guru adalah membantu agar setiap siswa mempu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
(d) Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.
Sesuai dengan asumsi yang mendasarinya, bahwa pengetahuan itu diperoleh anak bukan dari informasi yang diberikan oleh orang lain temasuk guru, akan tetapi dari proses penemukan dan mengontruksinya sendiri, maka guru harus menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi. Guru perlu memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah organisme aktif yang memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri. Kalaupun guru memberikan informasi kepada siswa, guru harus memberi kesempatan untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna untuk kehidupan mereka.
             CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 (tujuh) asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Komponen tersebut antara lain konstruktivisme, inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), penilaian nyata (authentic assessment) Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Kedua faktor itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis akan tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengonstruksinya. Piaget menyatakan hakikat pengetahuan sebagai berikut:
                        Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, akan tetapi selalu merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, akan tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
b. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
                        Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsep itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.
Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa dapat mengonstruksi pengetahuan melalui proses pengamatan dan pengalaman. Asas kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intektual, mental emosional maupun pribadinya.
Apakah inkuiri hanya bisa dilakukan untuk mata pelajaran tertentu saja? Tentu tidak. Berbagi topik dalam setiap mata pelajaran dapat dilakukan melalui proses inkuiri. Secara umum proses ikuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu: merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulakn data, menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan dan membuat kesimpulan.
Penerapan asas ini dalam pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Apabila masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data. Manakala data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk mengui hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan.
Ketiga, bertanya (questioning). Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Oleh sebab itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.
Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: (1) menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran; (2) membangkitkan motivasi siswa untuk belajar; (3) merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu; (4) memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan; dan (5) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
Keempat, masyarakat belajar (learning community). Dalam CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dialukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan; yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.
Kelima, pemodelan (modeling). Maksudnya adalah, proses pembelajaran dengan menggunakan sesuatu contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasionalkan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberi contoh bagaimana cara memainkan alat musik, guru biologi memberikan contoh bagaimana cara mengggunakan thermometer dan lain sebagainya.

            Proses modelling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Misalnya siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modelling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang memungkinkan terjadinya verbalisme.
Keenam, refleksi (reflection) adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan yang telah dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya.
Dalam setiap proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk ‘’merenung’’ atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkanlah secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
Ketujuh, penilaian nyata (authentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
Penilaian autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.

            Kesimpulan
Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini:
  1. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipejarinya.
  2. Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Lingkungan yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaraan secara keseluruhan.
            Saran
Diharapkan kepada semua guru, supaya didalam melakukan pembelajaran memilih model yang sesuai dengan materi dan karakter siswa serta fasilitas sekolah, sehingga hasil yang kita inginkan dapat tuntas. Dan begitu juga dengan teman-teman yang sedang melakukan  praktik microteaching atau sebagai calon guru juga diharapkan seperti itu.
DAFTAR PUSTAKA
Robert E.Slavin 2008 Cooperative Learning.Bandung:Nusa Media.
Irzani.2009.Strategi Belajar Mengajar Matematika.Mataram:Media Grafindo press.
Isjoni,2007. Cooperative Learning mengembangkan kemampuan belajar berkelompok.Bandung:Alfabeta
Erman Suherman,dkk.2003.Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.Bandung:Jica

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...