Minggu, 31 Juli 2011

berani sama matematika

Matematika sering kali dianggap pelajaran momok. Tak cuma si anak yang kebingungan, orang tua pun sering dibuat kalang kabut.

Segala daya dikerahkan para orang tua bagi anaknya. Mulai dari les sampai ikut bimbingan belajar. Tapi beberapa waktu terakhir ada lembaga yang khusus menyelenggarakan kursus matematika. Ada yang menggunakan Metode Kumon, sementara lainnya menggunakan alat bantu sempoa.

Kembangkan potensi individu
Sebenarnya nama Kumon adalah nama keluarga penemu metode belajar matematika, Toru Kumon. Guru matematika SMU di Jepang itu pada tahun 1954 pertama kali menyusun sendiri bahan pelajaran matematika untuk membimbing anaknya belajar matematika. Setelah terbukti memberi hasil memuaskan pada anaknya dan juga anak didik dan tetangga dekatnya, ia pun ingin menerapkan cara belajar dan bahan pelajaran ini kepada sebanyak mungkin anak. Tak heran dengan sifatnya yang universal, kini Metode Kumon telah dapat diterapkan di 40 negara, termasuk Indonesia.

Prinsip dasar metode yang disebarluaskan ke Indonesia pada Oktober 1993 ini adalah pengakuan tentang potensi dan kemampuan individual tiap siswa. "Maka, seseorang yang mendaftar kursus Kumon harus mengikuti tes penempatan," tutur Suita Sary Halim, pimpinan penyelenggara kursus Kumon. Tes penempatan itu untuk mengetahui titik pangkal siswa, supaya siswa dapat mengerjakan bahan pelajaran sesuai dengan kemampuannya. Tak heran bila soal itu biasanya bisa selesai dalam batas waktu tertentu, biasanya hanya dalam hitungan menit.

Setelah itu, ia akan terus berlatih mengerjakan soal-soal latihan sesuai kemampuan, daya konsentrasi dan ketangkasan, bukan berdasar tingkat kelas formal atau usia siswa saja. Siswa SD kelas II bisa saja menghadapi soal latihan untuk SD kelas I, "Karena mungkin yang ia kuasai benar baru pelajaran di kelas I," ujar Suita.

Sebagai contoh, mungkin saja ada siswa SD kelas II yang harus belajar penambahan yang termudah. Misalnya, 1 + 1 = 2, 2 + 1 = 3, 3 + 1 = 4, 4 + 1 = 5, 5 + 1 = 6, dst. Namun begitu jangan dianggap enteng karena ia harus menyelesaikan sebanyak 50 soal hitungan serupa hanya dalam waktu 2 menit. Latihan itu dilakukan berulang kali, sampai ia menguasai dan mampu di luar kepala menjawab soal serupa. Selanjutnya, ia akan meningkat ke bagian berikut, namun dengan tingkat perbedaan kesulitan yang sangat kecil, misalnya 1 + 2 = 3, 2 + 2 = 4, dan seterusnya.

Maka jangan kaget bila dalam kelas bisa ditemukan siswa dalam berbagai tingkat usia. Begitu pun, beberapa siswa yang duduk di tingkat kelas yang sama tidak berarti akan memulai mengerjakan soal latihan yang sama pula. "Kembali lagi karena masalah potensi dan kemampuan yang berbeda dari tiap siswa. Maka yang diterapkan adalah belajar perseorangan," tutur Suita sambil menambahkan tiap siswa Kumon mendapat bahan pelajaran yang berbeda dengan siswa lainnya, baik jumlah lembar kerja maupun tingkat bahan pelajarannya.

Karena mulai belajar dari bagian yang tepat, dalam arti sesuai dengan kemampuannya, dan program dibuat secara perseorangan, siswa tidak akan menemui kesulitan belajar. Yang muncul justru perasaan senang belajar matematika. Penyebab yang lain karena di lembaga ini tidak tertutup kemungkinan untuk merevisi dan mengembangkan bahan pelajaran agar anak-anak tidak mengalami kesulitan dalam belajar dan tidak kehilangan semangat belajarnya. Selain itu prestasi antara satu siswa dengan yang lain tidak dibanding-bandingkan, sehingga kalaupun ada yang agak lambat mencapai kemajuan tidak akan merasa kecil hati dan putus asa.

Uniknya, berkat metode yang mengunggulkan kemampuan dan semangat belajar perseorangan itu, biasanya setelah 6 bulan - 1 tahun, siswa sudah bisa mencapai tingkat pelajaran di sekolahnya, setelah itu melampauinya.
Kemajuan dari hasil belajar siswa Kumon memang sangat bervariasi. Ada siswa yang menyelesaikan seluruh bahan pelajaran Metode Kumon, hingga level Q mengenai probabilitas dan statistika, dalam waktu 2 tahun 10 bulan. "Namun, sekecil apa pun kemajuannya, kami akan selalu mengakui setiap hasil yang telah mereka capai dan menunjukkan jalan agar pada diri setiap anak timbul rasa percaya diri dan keberanian," ujar Suita sambil menambahkan pada umumnya prestasi siswa sesudah mengikuti kursus metode ini meningkat, terutama dari segi akademis.


Disiplin berlatih
Kumon menilai kunci keberhasilan belajar matematika adalah dengan banyak berlatih. Tak heran bila selama belajar dengan Metode Kumon siswa akan mendapat banyak porsi latihan. Dalam tiap satuan lembar kerja terdapat puluhan soal, sehingga untuk satu materi bahasan ia akan mengerjakan hingga ratusan soal latihan. Maka, untuk menyelesaikan seluruh topik bahasan, bila ia jadi siswa sejak tingkat pertama, jumlah soal latihan yang dikerjakannya tentu mencapai puluhan ribu!

Di Kumon, menurut Suita, siswa yang sudah punya kemampuan cukup yang bisa maju ke tingkat lebih tinggi. Bagi yang belum cukup akan terus mendapat pengulangan, sehingga nantinya ia tidak mendapat kesulitan saat mengerjakan bahan pelajaran yang lebih tinggi.

Selain itu Kumon memberlakukan sistem nilai 100, artinya tiap latihan harus benar dikerjakan semua sebelum bisa berganti lembar pelajaran. Siswa yang melakukan kesalahan harus memperbaiki sendiri sampai mendapat nilai 100. Cara ini dinilai efektif agar siswa tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Namun, kenaikan tingkat sering kali tidak terasa. Ini karena perubahan bahan pelajaran dibuat sedemikian kecil, bahkan halus dan sistematis. Bahan pelajaran meningkat seiring dengan kemampuan penalaran sendiri, jarang sekali ia harus minta bantuan pembimbing. Cara ini akan membentuk kebiasaan belajar mandiri yang berguna untuk menggali potensi diri-sendiri.

Selain materi pelajaran, waktu belajar siswa pun digodok matang. Siswa umumnya datang ke kelas 2 kali seminggu dengan waktu belajar rata-rata 30 menit, tergantung tingkat bahan pelajarannya. "Namun, di luar hari kelas, mereka mendapat PR dengan jumlah yang tepat sesuai kemampuannya setiap hari," ujar Dani Wulansari, staf lembaga Metode Kumon.

Semua cara belajar itu diterapkan pada seluruh peserta kursus tanpa memandang usia, karena Kumon memang bisa diikuti oleh siswa pada usia berapa pun. "Pendaftarannya pun terbuka setiap saat," ujar Dani sambil menambahkan sebaiknya siswa mempelajari metode ini sejak usia dini, karena hasilnya tentu akan lebih memuaskan. Yang terutama dirasakan adalah kemampuan berpikir matematis akibat latihan mengkoordinasikan angka-angka menggunakan otak dan tangan. Khususnya latihan hitungan dengan Metode Kumon akan terasa sangat membantu untuk mengenal matematika tingkat SMP dan SMA, sehingga ia akan dengan mudah mengerjakan soal-soal persamaan, pemfaktoran, juga diferensial dan integral.

Dengan demikian, Metode Kumon bukan hanya meningkatkan penguasaan matematika, tapi juga berbagai kemampuan belajar pada anak, mulai dari konsentrasi dan ketangkasan kerja, semangat kebiasaan belajar mandiri, kebiasaan belajar setiap hari. Bila ia bisa menyelesaikan soal latihan matematika dari sekolah dengan cepat, maka ia bisa menggunakan sisa waktu untuk mempelajari ilmu lain. Alhasil, pelajaran lain pun pasti akan meningkat.


Dari pasir sampai manik-manik
Konon dengan sempoa seorang anak dapat menjawab sederetan soal hitungan penjumlahan dan pengurangan hanya dalam beberapa menit. Yang dilakukannya cuma menjentak-jentikkan biji manik-manik sempoanya dengan cekatan.

Sempoa memang bukan barang baru. Diduga alat hitung ala abakus pertama dimiliki suku Babilonia dalam bentuk sebilah papan yang ditaburi pasir. Di atasnya orang bisa menorehkan berbagai bentuk huruf atau simbol. Tak heran bila ia disebut abakus yang dalam bahasa Yunaninya abakos, artinya 'menghapus debu'. Ketika berubah fungsi menjadi alat hitung, bentuknya pun diubah. Permukaan pasir itu menjadi papan yang ditandai garis-garis lengkap dengan sejumlah manik-manik satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya.

Alat itu makin disempurnakan di zaman Romawi. Papannya dibuat berlekak-lekuk cekung agar saat menghitung manik-manik mudah digerakkan dari atas ke bawah.

Orang Cina mengembangkan "hsuan-pan" (nampan penghitung) alias abakus itu menjadi dua bagian. Pada jeruji atas dimasukkan dua manik-manik dan jeruji bawah lima manik-manik. Di abad pertengahan abakus makin tersebar luas, di antaranya sampai ke Eropa, Arab, dan seluruh Asia.

Abakus sampai di Jepang pada abad ke-16. Namun Jepang mengubah susunan manik-manik menjadi satu pada jeruji atas dan empat di jeruji bawah. Satu manik-manik jeruji atas bernilai lima dan empat di jeruji bawah (dimulai dari tengah ke kiri) bernilai satuan, selanjutnya puluhan, ratusan, dan seterusnya. Sedangkan di bagian tengah ke kanan untuk menghitung bilangan desimal. Rupanya abakus ala Jepang ini yang belakangan populer kembali, termasuk di Indonesia.


Menanam sempoa di otak
Munculnya mesin hitung elektronika di AS tahun 1946, rupanya tidak menggoyahkan kepopuleran sempoa. Malah anak yang sudah sangat fasih menghitung dengan metode sempoa telah dibuktikan mampu mengalahkan cara hitung dengan komputer.

Belakangan berbagai kursus mental aritmatika sempoa memang menjamur di kota-kota besar. Menurut salah satu penyelenggara kursus, yaitu Yayasan Aritmatika Indonesia (YAI) yang mengambil lisensi dari Malaysia, berhitung metode sempoa hanya melibatkan hitungan tambah, kurang, kali, dan bagi.

Satu paket belajar terdiri atas 10 tingkat yang kenaikannya harus melalui ujian. Pada tingkat I - III anak belajar penjumlahan dan pengurangan. Pada tingkat IV diajarkan perkalian dan pembagian. Bila satu tingkat selesai dalam tiga bulan, berarti untuk menamatkan 10 tingkat perlu waktu 30 bulan atau 2,5 tahun. Umumnya bila sudah sampai tingkat terampil, mungkin setelah belajar 6 bulan - 1 tahun, sekitar tingkat II atau III, murid diharapkan mampu menghitung tanpa alat bantu apa pun. Sepuluh baris pertanyaan perkalian tiga digit angka dengan tiga digit angka bisa selesai kurang dari 30 detik!

Hal ini bisa terjadi karena anak sudah hapal lokasi satuan, puluhan, ratusan, dst. Cukup dengan membayangkan posisi manik-manik sempoa sambil memainkan jari-jari tangannya, ia bisa menemukan hasil hitungan. Pada tingkat ini ia sudah mampu menghitung cepat di luar kepala. Visualisasi penggunaan sempoa sudah tertanam dalam otaknya.

Namun, ada catatan penting lain, menurut sistem YAI, pelatihan aritmatika sempoa paling sesuai untuk anak usia 6 - 12 tahun karena mereka sedang dalam taraf mempelajari metode dasar eksakta.

"Pikiran mereka masih jernih, belum terlalu dipengaruhi metode aritmatika lain," tutur Ibu Tia, praktisi sistem YAI di Sanggar Kreativitas Bobo, Jakarta.

Akhirnya, selain bisa berhitung cepat, metode ini berguna untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi otak, khususnya otak kanan yang meliputi daya analisis, ingatan, logika, imajinasi, reaksi tinggi, dll. Menurut teori mental aritmatika, pemahaman atas disiplin dasar eksakta ini akan membuat anak mampu menguasai dan menggunakan secara optimal seluruh potensi dan kreativitas dirinya, termasuk menyerap ilmu-ilmu lanjutannya nanti. Untuk kehidupan sehari-hari latihan ini akan melatih mental anak agar menjadi lebih tekun serta disiplin.


Ilmu kemampuan dasar
Kemampuan menghitung dengan cepat, tentu akan menunjang anak dalam pelajaran matematika di sekolah. Atas pertimbangan itu Kepala Sekolah SD Dharma Karya Drs. H. Masduki memasukkan metode ini dalam mata pelajaran di sekolah yang dipimpinnya. "Karena saya pernah melihat ada anak SMP yang menghitung masih dengan alat bantu jari-jari tangan."

Selain itu, ia membaca di surat kabar rencana akan makin banyaknya diterapkan ilmu kemampuan dasar di tingkat pendidikan dasar. Menurut dia, "Salah satu ilmu kemampuan dasar adalah aritmatika yang meliputi penguasaan berhitung tambah, kurang, kali, bagi." Bila landasan berhitungnya cukup kuat, siswa tentu tak akan menghadapi masalah dalam memahami matematika yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan GBPP.

SD Dharma Karya mengajarkan metode sempoa aritmatika sejak tahun ajaran baru silam dengan mengambil dua jam dari 10 jam pelajaran matematika. Metode ini diperkenalkan pada siswa kelas I hingga VI. "Repotnya, kalau diajarkan pada siswa di kelas V atau VI, mental berhitung mereka sudah terbentuk yaitu menghitung dengan alat bantu jari tangan, sedangkan jumlah jari tangan sangat terbatas. Tak heran, kalau sering kali matematika sulit dikuasai karena tidak ada bekal ilmu berhitung," aku Wito, guru mata pelajaran metode sempoa.

Nantinya, murid kelas I sekarang saat duduk di kelas V akan mendapat pelajaran aritmatika sosial. "Siswa belajar menerapkannya dalam masalah sehari-hari, misalnya saat berbelanja," tutur Wito yang mengaku sempat bekerja keras merakit sempoa sederhana untuk dipakai berlatih murid-muridnya.

Ternyata Wito punya target yang sama dengan YAI, yaitu memasukkan sempoa bayangan ke otak anak. Tugas pertamanya adalah bagaimana agar muridnya lancar mengoperasikan sempoa. Di otak setiap gerakan bisa punya makna dalam hitungan. Sehingga kalau pun tanpa sempoa siswa tak akan kesulitan dalam berhitung.

Menurut Wito, murid-muridnya tak pernah bosan belajar dengan sempoa. Murid-muridnya tak merasa sedang belajar, malah lebih merasa sedang bermain manik-manik sempoa.

Masduki tak mengingkari masalah yang mungkin muncul. Berbeda dengan kursus, di mana satu anak punya sempoa sendiri yang bisa dipakai berlatih di rumah, sempoa di sekolahnya hanya dipinjamkan pada siswa saat pelajaran. Belum lagi jumlah siswa satu kelas yang mencapai 35 orang, sehingga mungkin saja ada anak yang agak lambat menguasainya. "Namun, selalu ada jalan keluar, misalnya memberi pengajaran remedial atau pengayaan," tutur Masduki yang, sama seperti guru dan orang tua mana pun, bertekad memberikan bekal terbaik untuk generasi penerusnya. (Shinta Teviningrum/Nanny Selamihardja)

menapa ingin jadi guu

Seringkali dalam pengalaman mengajar saya, saya ditanyai, “Kenapa anda memilih menjadi guru?” dan “Bagaimana anda mengatasi para siswa yang sama sekali tidak tertarik untuk belajar?” Seringkali pula sulit menjawabnya, selain mengatakan bahwa saya meyakini pentingnya pendidikan dan memberi pendidikan pada generasi muda. Saat ini, saya baru menyadari mengapa menjadi guru itu penting untuk saya. Setelah mulai bekerja di PPLH Bali, saya mengunjungi beberapa sekolah dasar di Denpasar dengan tim PPLH Bali lainnya dalam program Sekolah Hijau. Menyaksikan wajah-wajah para siswa ketika mereka memahami sebuah materi, atau mendapat tanggapan positif dari mereka mengenai apa yang kami lakukan bersama mereka selama ini, menjadi obsesi saya sebagai guru. Obsesi yang sulit dimengerti oleh siapapun, selain sesama guru.

Supaya kegiatan belajar mengajar dapat berjalan baik dan lancar, penting untuk mencari cara melibatkan semua siswa dalam kegiatan dan menyusun materi yang relevan dengan mereka. Metode menjadi hal yang lebih penting dalam perencanaan, daripada isi materi. Berbagai cara untuk melibatkan seluruh kelas serta menggunakan waktu secara efektif menjadi titik perhatian. Hasilnya, lebih sedikit waktu yang terbuang hanya untuk membuat para siswa mengerjakan tugasnya dan tetap konsentrasi pada tugas mereka.


Cara menyusun kurikulum terus berubah secara signifikan dari waktu ke waktu. Dalam menyusun kurikulum, pertimbangan mengenai bagaimana melakukan aktivitas dan merangkum materi dengan baik harus diikutsertakan. Tidak cukup mengetahui apa yang akan dipelajari, tapi juga bagaimana cara untuk menyampaikannya pada siswa. Partisipasi siswa, termasuk apa yang mereka ketahui dan minat siswa perlu dimasukkan dalam kurikulum. Kegiatan yang dimulai dengan inisiatif siswa terbukti lebih baik hasilnya daripada yang diperintah oleh guru. Sekarang bukan jamannya lagi guru merasa tahu segalanya, sedangkan siswa harus mendengarkan dan belajar. Penghargaan terhadap pengetahuan dan ketrampilan siswa sangat menunjang keterlibatan siswa. Belajar dari sesama temannya ternyata lebih baik daripada menerima ajaran guru.


Hal seperti diatas dapat diterapkan di semua materi. Seorang guru tidak perlu menjadi seorang ahli dalam satu bidang tertentu hanya untuk mengajarkan sesuatu. Antusiasme dan komitmen untuk menciptakan pelajaran yang menarik dan relevan menjadi hal yang lebih penting untuk membuat siswa mengembangkan pengetahuan dan pendapat mereka terhadap sebuah materi. (jnl)

SIKAP DAN PERILAKU GURU YANG PROFESIONAL

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Rustantiningsih
Saya Guru di SDN Anjasmoro 02 Semarang
Topik: Pendidikan Sikap
Tanggal: 3 Agustus 2007
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah, pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal (Mulyasa, 2005:10).
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian siswa guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM).
Ironisnya kekawatiran di dunia pendidikan kini menyeruak ketika menyaksikan tawuran antar pelajar yang bergejolak dimana-mana. Ada kegalauan muncul kala menjumpai realitas bahwa guru di sekolah lebih banyak menghukum daripada memberi reward siswanya. Ada kegundahan yang membuncah ketika sosok guru berbuat asusila terhadap siswanya.
Dunia pendidikan yang harusnya penuh dengan kasih sayang, tempat untuk belajar tentang moral, budi pekerti justru sekarang ini dekat dengan tindak kekarasan dan asusila. Dunia yang seharusnya mencerminkan sikap-sikap intelektual, budi pekerti, dan menjunjung tinggi nilai moral, justru telah dicoreng oleh segelintir oknum pendidik (guru) yang tidak bertanggung jawab. Realitas ini mengandung pesan bahwa dunia guru harus segera melakukan evaluasi ke dalam. Sepertinya, sudah waktunya untuk melakukan pelurusan kembali atas pemahaman dalam memposisikan profesi guru.

Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak yang tadinya sama-sama membawa kepentingan dan salng membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahan dengan cara-cara yang tidak benar.
Untuk itulah makalah ini saya susun sebagai bahan kajian bagi guru atau pendidik agar dapat berperilaku dan bersikap profesional dalam menjalankan tugas mulia ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka permasalahan yang hendak dikaji adalah:
1. Bagaimana sikap dan perilaku guru yang profesional itu?
2. Mengapa sikap dan perilaku guru bisa menyimpang?

C. Manfaat dan Tujuan
1. Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk:
a. Mendeskripsikan penyebab sikap dan perilaku guru bisa menyimpang.
b. Mendeskripsikan sikap dan perilaku guru yang profesional.
2. Manfaat penyusunan makalah ini secara:
a. Teoretis, untuk mengkaji sikap dan perilaku guru yang profesional.
b. Praktis, bermanfaat bagi: (1) para pendidik agar pendidik dapat bersikap dan berperilaku profesional, (2) para kepala sekolah, untuk memberikan pembinaan kepada para pendidik.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Sikap dan Perilaku

Thursthoen dalam Walgito (1990: 108) menjelaskan bahwa, sikap adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek. Berkowitz, dalam Azwar (2000:5) menerangkan sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakan atau menjauhi/menghindari sesuatu.
Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa sikap adalah kecenderungan, pandangan, pendapat atau pendirian seseorang untuk menilai suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek.
Struktur sikap siswa terhadap konselor terdiri dari tiga komponen yang terdiri atas:
1. Komponen kognitif
Komponen ini berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, dan keyakinan tentang objek. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap2. Komponen afektif
Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap sikap. Perasaan tersebut dapat berupa rasa senang atau tidak senang terhadap objek, rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.. komponen ini menunjukkan ke arah sikap yaitu positif dan negatif. Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap (Azwar, 2000:26), secara umum komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.
3. Komponen konatif
Komponen ini merupakan kecenderungan seseorang untuk bereaksi, bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap. Komponen-komponen tersebut di atas merupakan komponen yang membentuk struktur sikap. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan dan tergantung satu sama lain. Saling ketergantungan tersebut apabila seseorang menghadapi suatu objek tertentu, maka melalui komponen kognitifnya akan terjadi persepsi pemahaman terhadap objek sikap. Hasil pemahaman sikap individu mengakui dapat menimbulkan keyakinan-keyakinan tertentu terhadap suatu objek yang dapat berarti atau tidak berarti. Dalam setiap individu akan berkembang komponen afektif yang kemudian akan memberikan emosinya yang mungkin positif dan mungkin negatif. Bila penilaiannya positif akan menimbulkan rasa senang, sedangkan penilaian negatif akan menimbulkan perasaan tidak senang. Akhirnya berdasarkan penilaian tersebut akan mempengaruhi konasinya, melalui inilah akan mendapat diketahui apakah individu ada kecenderungan bertindak dalam bertingkah laku, baik hanya secara lisan maupun bertingkah laku secara nyata.
Katz (dalam Walgito, 1990:110) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian, atau fungsi manfaat.
Fungsi ini berkaitan dengan sarana tujuan. Di sini sikap merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Orang memandang sampai sejauh mana objek sikap dapat digunakan sebagai sarana dalam mencapai tujuan. Bila objek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya, maka orang akan bersikap positif terhadap objek sikap tersebut. Demikian sebaliknya bila objek sikap menghambat dalam pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap objek sikap tersebut. Fungsi ini juga disebut fungsi manfaat, yang artinya sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam mencapai tujuan. Fungsi ini juga disebut sebagai fungsi penyesuaian, artinya sikap yang diambil seseorang akan dapat menyesuaikan diri secara baik terhadap sekitarnya.
2. Fungsi pertahanan ego
Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego atau akunya. Sikap diambil seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam dalam keadaan dirinya atau egonya, maka dalam keadaan terdesak sikapnya dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego.
3. Fungsi ekspresi nilai
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. Dengan mengekspresikan diri seseorang akan mendapatkan kepuasan dan dapat menunjukkan keadaan dirinya. Dengan mengambil nilai sikap tertentu, akan dapat menggambarkan sistem nilai yang ada pada individu yang bersangkutan.

4. Fungsi pengetahuan
Fungsi ini mempunyai arti bahwa setiap individu mempunyai dorongan untuk ingin tahu. Dengan pengalamannya yang tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu, akan disusun kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga menjadi konsisten. Ini berarti bila seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu objek, menunjukkan tentang pengetahuan orang tersebut objek sikap yang bersangkutan.
Proses timbulnya atau terbentuknya sikap dapat dilihat pada bagan sikap berikut ini:
Faktor Internal
- Fisiologis
- Psikologis
Objek Sikap
Sikap
Faktor Eksternal
- Pengalaman
- Situasi
- Norma-norma
- Hambatan
- Pendorong
Reaksi
Bagan 1 : Bagan Proses Timbulnya Sikap
Dari bagan di atas tersebut dapat dikembangkan bahwa sikap yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor fisiologis dan psikologis serta faktor eksternal. Faktor eksternal dapat berwujud situasi yang dihadapi oleh individu, norma-norma yang ada dalam masyarakat, hambatan-hambatan atau pendorong-pendorong yang ada dalam masyarakat. Semuanya ini akan berpengaruh terhadap sikap yang ada pada diri seseorang.
Sementara itu reaksi yang diberikan individu terhadap objek sikap dapat bersifat positif, tetapi juga dapat bersifat negatif. Sikap yang diambil pada diri individu dapat diikuti dalam bagan berikut ini:

Keyakinan

Proses Belajar

Cakrawala
Pengalaman
Pngetahuan
Objek Sikap
Persepsi
Faktor- Faktor lingkungan yang berpengaruh

Kepribadian
Kognisi
Afeksi
Konasi
Sikap
Bagan 2 : Bagan Perseps dikutip dari Mar'at (1982:23) dengan perubahan.
Dilihat dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa sikap akan dipersepsi oleh individu dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan. Dalam persepsi objek sikap individu akan dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, keyakinan, proses belajar, dan hasil proses persepsi ini akan merupakan pendapat atau keyakinan individu mengenai objek sikap dan ini berkaitan dengan segi kognisi. Afeksi akan mengiringi hasil kognisi terhadap objek sikap sebagai aspek evaluatif, yang dapat bersifat positif atau negatif. Hasil evaluasi aspek afeksi akan mengait segi konasi, yaitu merupakan kesiapan untuk memberikan respon terhadap objek sikap, kesiapan untuk bertindak dan untuk berperilaku. Keadaan lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang bersangkutan.
Bringham dalam Azwar (2000:138) menjelaskan tipe ukuran sikap yang paling sering dipakai adalah questioner self-report yang disebut skala sikap dan biasanya meliputi respon setuju atau tidak dalam beberapa kelompok-kelompok. Ukuran self-report mudah digunakan namun ukuran itu dapat memiliki sifat kemenduaan (ambiguity) atau adanya ukuran lain. Sikap dari skala sikap ini adalah isi pernyataan yang berupa pernyataan langsung yang jelas tujuan ukuran atau pernyataan tidak langsung yang kurang jelas untuk tujuan ukurannya bagi responden.
Mengukur sikap bukan suatu hal yang mudah sebab sikap adalah kecenderungan, pandangan pendapat, atau pendirian seseorang untuk meneliti suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya, dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek. Dalam penelitian sikap, tergantung pada kepekaan dan kecermatan pengukurannya. Perlu diperhatikan metode yang berhubungan dengan pengukuran sikap, bagaimana instrumen itu dapat dikembangkan dan digunakan untuk mengukur sikap. Azwar (2000:90) menjelaskan bahwa, metode yang bisa digunakan untuk pengungkapan sikap yaitu:

1. Observasi perilaku

Kalau seseorang menampakkan perilaku yang konsisten (terulang) misalnya tidak pernah mau diajak nonton film Indonesia, bukanlah dapat disimpulkan bahwa ia tidak menyukai film Indonesia. Orang lain yang selalu memakai baju warna putih, bukankah dia memperlihatkan sikapnya terhadap warna putih. Perilaku tertentu bahkan kadang-kadang sengaja ditampakkan untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya. Dengan demikian, perilaku yang diamati mungkin saja dapat menjadi indikator sikap dalam kontek situasional tertentu, tetapi interpretasi sikap warna sangat berhati-hati apabila hanya didasarkan dari pengamatan terhadap perilaku yang ditampakkan oleh seseorang.
2. Pertanyaan langsung
Asumsi yang mendasari metode pertanyaan langsung guna pengungkapan sikap, pertama adalah asumsi bahwa individu merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri, dan kedua adalah asumsi keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya.

4. Pengungkapan langsung
Suatu metode pertanyaan langsung adalah pengungkapan langsung (direct assessment) secara tertulis yang dapat dilakukan dengan menggunakan item tunggal maupun dengan menggunakan item ganda. Prosedur pengungkapan langsung dengan item ganda sangat sederhana. Responden diminta untuk menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju atau tidak setuju. Penyajian dan pemberian respondennya yang dilakukan secara tertulis memungkinkan individu untuk menyatakan sikap secara lebih jujur. Pengukuran sikap yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pengungkapan langsung yaitu dengan menggunakan skala psikologis yang diberikan pada objek.
B. Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional
Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.
Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:
1. mengambil jalan pintas dalam pembelajaran,

2. menunggu peserta didik berperilaku negatif,

3. menggunakan destruktif discipline,

4. mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,

5. merasa diri paling pandai di kelasnya,

6. tidak adil (diskriminatif), serta

7. memaksakan hak peserta didik (Mulyasa, 2005:20).


Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni:

1. kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik,

2. kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,

3. kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,

4. kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.


Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Respon hanya akan timbul, apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang dikehendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbul didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik buruk, positif negati, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap (Azwar, 2000: 15).

Sedangkan perilaku merupakan bentuk tindakan nyata seseorang sebagai akibat dari adanya aksi respon dan reaksi. Menurut Mann dalam Azwar (2000) sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata namun juga ditentukan faktor eksternal lainnya.

Menurut penuturan R.Tantiningsih dalam Wawasan 14 Mei 2005, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar beberapa sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat hindari, diantaranya: Pertama, menyiapakan tenaga pendidik yang benar-benar profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh. Kedua, guru merupakan key succes factor dalam keberhasilan budi pekerti. Dari guru siswa mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. Ketiga, Budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah. Kempat, adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.

Terkait dengan hal di atas, Hasil temuan dari universitas Harvard bahwa 85 % dari sebab-sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain-lain adalah karena sikap-sikap seseorang. Hanya 15 % disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimiliki (Ronnie, 2005:62).

Namun sayangnya justru kemampuan yang bersifat teknis ini yang menjadi primadona dalam istisusi pendidikan yang dianggap modern sekarang ini. Bahkan kompetensi teknis ini dijadikan basis utama dari proses belajar mengajar. Jelas hal ini bukan solusi, bahkan akan membuat permasalahan semakin menjadi. Semakin menggelembung dan semakin sulit untuk diatasi.


Menurut Danni Ronnie M ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Enam belas pilar pembentukan karakter yang harus dimiliki seorang guru, antara lain:

1. kasih sayang,

2. penghargaan,

3. pemberian ruang untuk mengembangkan diri,

4. kepercayaan,

5. kerjasama,

6. saling berbagi,

7. saling memotivasi,

8. saling mendengarkan,

9. saling berinteraksi secara positif,

10. saling menanamkan nilai-nilai moral,

11. saling mengingatkan dengan ketulusan hati,

12. saling menularkan antusiasme,

13. saling menggali potensi diri,

14. saling mengajari dengan kerendahan hati,

15. saling menginsiprasi,

16. saling menghormati perbedaan.


Jika para pendidik menyadari dan memiliki menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya.

C. Faktor Penyebab Sikap dan Perilaku Guru Menyimpang

Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan walapun belum menunjukkan hasil yang optimal. Pendidikan tidak bisa lepas dari siswa atau peserta didik. Siswa merupakan subjek didik yang harus diakui keberadaannya. Berbagai karakter siswa dan potensi dalam dirinya tidak boleh diabaikan begitu saja. Tugas utama guru mendidik dan mengembangkan berbagai potensi itu.

Jika ada pendidik (guru) yang sikap dan perilakunya menyimpang karena dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, adanya malpraktik (meminjam istilah Prof Mungin) yaitu melakukan praktik yang salah, miskonsep. Guru salah dalam menerapkan hukuman pada siswa. Apapun alasannya tindakan kekerasan maupun pencabulan guru terhadap siswa merupakan suatu pelanggaran.

Kedua, kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik, mental, maupun emosional. Kesiapan fisik, mental, dan emosional guru maupun siswa sangat diperlukan. Jika kedua belah pihak siap secara fisik, mental, dan emosional, proses belajar mengajar akan lancar, interaksi siswa dan guru pun akan terjalin harmonis layaknya orang tua dengan anaknya.

Ketiga, kurangnya penanaman budi pekerti di sekolah. Pelajaran budi pekerti sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap, lantaran diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada. Namun realitas di lapangan pelajaran yang didapat siswa kabanyakan hanya dijejali berbagai materi. Sehingga nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan justru dilupakan.

Selain dari ketiga faktor di atas, juga dipengaruhi oleh tipe-tipe kejiwaan seperti yang diungkapkan Plato dalam "Tipologo Plato", bahwa fungsi jiwa ada tiga, yaitu: fikiran, kemauan, dan perasaan. Pikiran berkedudukan di kepala, kemauan berkedudukan dalam dada, dan perasaan berkedudukan dalam tubuh bagian bawah. Atas perbedaan tersebut Plato juga membedakan bahwa pikiran itu sumber kebijakasanaan, kemauan sumber keberanian, dan perasaan sumber kekuatan menahan hawa nafsu.

Jika pikiran, kemauan, perasaan tidak sinkron akan menimbulkan permasalahan. Perasaan tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, akibatnya kemauan tidak terkendali dan pikiran tidak dapat berpikir bijak. Agar pendidikan di Indonesia berhasil, paling tidak pendidik memahami faktor-faktor tersebut. Kemudian mampu mengantisipasinya dengan baik. Sehingga kesalahan-kesalahan guru dalam sikap dan perilaku dapat dihindari.

Bagaimanapun juga kualitas pendidikan di Indonesia harus mampu bersaing di dunia internasional. Sikap dan perilaku profesional seorang pendidik akan mampu membawa dunia pendidikan lebih berkualitas. Dengan demikian diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional Indonesia yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap dan perilaku guru yang profesional adalah mampu menjadi teladan bagi para peserta didik, mampu mengembangkan kompetensi dalam dirinya, dan mampu mengembangkan potensi para peserta didik. Sikap dan perilaku guru yang profesional mencakup enam belas pilar dalam pembangun karakter. Keenam belas pilar tersebut, yakni kasih sayang, penghargaan, pemberian ruang untuk mengembangkan diri, kepercayaan, kerjasama, saling berbagi, saling memotivasi, saling mendengarkan, saling berinteraksi secara positif, saling menanamkan nilai-nilai moral, saling mengingatkan dengan ketulusan hati, saling menularkan antusiasme, saling menggali potensi diri, saling mengajari dengan kerendahan hati, saling menginsiprasi, saling menghormati perbedaan.

Sikap dan perilaku guru dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhinya berupa faktor eksternal dan internal. Oleh karena itu pendidik harus mampu mengatasi apabila kedua faktor tersebut menimbulkan hal-hal yang negatif.

B. Saran

Para pendidik, calon pendidik, dan pihak-pihak yang terkait hendaknya mulai memahami, menerapkan, dan mengembangkan sikap-sikap serta perilaku dalam dunia pendidikan melalui teladan baik dalam pikiran, ucapan, dan tindakan.

DAFTAR PUSTAKA Azwar Saifuddin, 2000. Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mar'at, 1981. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukuran. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Mulyasa, 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ronnie M. Dani, 2005. Seni Mengajar dengan Hati. Jakarta: Alex Media Komputindo.
R. Tantiningsih, 2005. Guru Cengkiling dan Amoral. Koran Harian Sore Wawasan. 14 Mei 2005.
Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: BP. Media Pustaka Mandiri.
Walgito, Bimo 1990. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

mitos matematika

Ads: 300x250

Senin, 19 November 2007

Lima Mitos Belajar Matematika

(Wednesday, 07 November 2007) -



BANYAK mitos

menyesatkan mengenai matematika. Mitos-mitos salah ini memberi andil

besar dalam membuat sebagian masyarakat merasa alergi bahkan tidak

menyukai matematika.



Akibatnya,

mayoritas siswa kita mendapat nilai buruk untuk bidang studi ini, bukan

lantaran tidak mampu, melainkan karena sejak awal sudah merasa alergi

dan takut sehingga tidak pernah atau malas untuk mempelajari

matematika. Meski banyak, namun ada lima mitos sesat yang sudah

mengakar dan menciptakan persepsi negatif terhadap matematika.









Mitos pertama,

matematika adalah ilmu yang sangat sukar sehingga hanya sedikit orang

yang atau siswa dengan IQ minimal tertentu yang mampu memahaminya. Ini

jelas menyesatkan. Meski bukan ilmu yang termudah, matematika

sebenarnya merupakan ilmu yang relatif mudah jika dibandingkan dengan

ilmu lainnya. Sebagai contoh, amati perbandingan soal untuk siswa kelas

6 sebuah SD swasta berikut ini. Soal pertama, “Sebutkan 3 tarian khas

daerah Kalimantan Tengah.” Soal kedua, “ Sebuah lingkaran dibagi

menjadi tiga buah juring dengan perbandingan masing-masing sudut

pusatnya adalah 2 : 3 : 4, maka hitung besar masing-masing sudut pusat

juring-juring tersebut“ .Ternyata, persentase siswa yang

menjawab benar soal kedua lebih besar dibandingkan persentase siswa

yang menjawab benar soal pertama. Tanpa ingin mengundang perdebatan,

contoh di atas menunjukkan, bahwa matematika bukanlah ilmu yang sangat

sukar. Soal matematika terasa sulit bagi siswa-siswa kita karena mereka

tidak memahami konsep bilangan dan konsep ukuran secara benar semasa di

sekolah dasar. Jika konsep bilangan dan ukuran dikuasai, maka pekerjaan

menganalisis dan menghitung menjadi hal yang mudah dan menyenangkan.





Mitos kedua,

matematika adalah ilmu hafalan dari sekian banyak rumus. Mitos ini

membuat siswa malas mempelajari matematika dan akhirnya tidak mengerti

apa-apa tentang matematika. Padahal, sejatinya matematika bukanlah ilmu

menghafal rumus, karena tanpa memahami konsep, rumus yang sudah dihafal

tidak akan bermanfaat. Sebagai contoh, ada soal berikut, “Benny merakit

sebuah mesin 6 jam lebih lama daripada Ahmad. Jika bersama-sama mereka

dapat merakit sebuah mesin dalam waktu 4 jam, berapa lama waktu yang

diperlukan oleh Ahmad untuk merakit sebuah mesin sendirian ?”.Seorang

yang hafal rumus persamaan kuadrat tidak akan mampu menjawab soal

tersebut apabila tidak mampu memodelkan soal tersebut ke dalam bentuk

persamaan kuadrat. Sesungguhnya, hanya sedikit rumus matematika yang

perlu (tapi tidak harus) dihapal, sedangkan sebagian besar rumus lain

tidak perlu dihafal, melainkan cukup dimengerti konsepnya. Salah satu

contoh, jika siswa mengerti konsep anatomi bentuk irisan kerucut, maka

lebih dari 90 persen rumus-rumus irisan kerucut tidak perlu dihafal.





Mitos ketiga,

matematika selalu berhubungan dengan kecepatan menghitung. Memang,

berhitung adalah bagian tak terpisahkan dari matematika, terutamapada

tingkat SD. Tetapi, kemampuan menghitung secara cepat bukanlah hal

terpenting dalam matematika. Yang terpenting adalah pemahaman konsep.

Melalui pemahaman konsep, kita akan mampu melakukan analisis

(penalaran) terhadap permasalahan (soal) untuk kemudian

mentransformasikan ke dalam model dan bentuk persamaan matematika. Jika

permasalahan (soal) sudah tersaji dalam bentuk persamaan matematika,
baru kemampuan menghitung diperlukan. Itu pun bukan sebagai sesuatu

yang mutlak, sebab pada saat ini telah banyak beredar alat bantu

menghitung seperti kalkulator dan komputer. Jadi, mitos yang lebih

tepat adalah matematika selalu berhubungan dengan pemahaman dan

penalaran.





Mitos keempat,

matematika adalah ilmu abstrak dan tidak berhubungan dengan realita.

Mitos ini jelas-jelas salah kaprah, sebab fakta menunjukkan bahwa

matematika sangat realistis. Dalam arti, matematika merupakan bentuk

analogi dari realita sehari-hari. Contoh paling sederhana adalah solusi

dari Leonhard Euler, matematikawan Prancis, terhadap masalah Jembatan

Konisberg. Selain itu, hampir di semua sektor, teknologi, ekonomi dan

bahkan sosial, matematika berperan secara signifikan. Robot cerdas yang

mampu berpikir berisikan program yang disebut sistem pakar (expert

system) yang didasarkan kepada konsep Fuzzy Matematika. Hitungan

aerodinamis pesawat terbang dan konsep GPS juga dilandaskan kepada

konsep model matematika, goneometri, dan kalkulus. Hampir semua

teori-teori ekonomi dan perbankan modern diciptakan melalui matematika.





Sedangkan mitos kelima menyebutkan,

matematika adalah ilmu yang membosankan, kaku, dan tidak rekreatif.

Anggapan ini jelas keliru. Meski jawaban (solusi) matematika terasa

eksak lantaran solusinya tunggal, tidak berarti matematika kaku dan

membosankan. Walau jawaban (solusi) hanya satu (tunggal), cara atau

metode menyelesaikan soal matematika sebenarnya boleh

bermacam-macam.Sebagai contoh, untuk mencari solusi dari dua buah

persamaan, dapat digunakan tiga cara yaitu, metode subtitusi,

eliminasi, dan grafik. Contoh lain, untuk membuktikan kebenaran teorema

Phytagoras, dapat dipergunakan banyak cara. Bahkan menurut pakar

matematika, Bana G. Kartasasmita, hingga saat ini sudah ada 17 cara

untuk membuktikan teorema Phytagoras. Solusi matematika yang bersifat

tunggal menimbulkan kenyamanan karena tegas dan pasti.





Selain

tidak membosankan, matematika juga rekreatif dan menyenangkan. Albert

Einstein, tokoh fisika terbesar abad ke-20, menyatakan bahwa matematika

adalah senjata utama dirinya dalam merumuskan konsep relativitasnya

yang sangat terkenal tersebut. Menurut Einstein, dia menyukai

matematika ketika pamannya menjelaskan bahwa prosedur kerja matematika

mirip dengan cara kerja detektif, sebuah lakon yang sangat disukainya

sejak kecil.





Memang,

cara kerja matematika mirip sebuah games. Mula-mula kita harus

mengidentifikasi variabel-variabel atau parameter-parameter yang ada

melalui atributnya masing-masing. Setelah itu, laksanakan operasi di

antara variabel dan parameter tersebut. Yang paling menyenangkan, dalam

melakukan operasi kita dibebaskan melakukan manipulasi (trik) semau

kita agar sampai kepada solusi yang diharapkan. Kebebasan melakukan

manipulasi dalam operasi matematika inilah yang menantang dan

mengundang keasyikan tersendiri, bak sedang dalam permainan atau

petualangan. Karena itu, tidak mengherankan jika terkadang kita

menjumpai siswa yang asyik menyendiri dengan soal-soal matematikanya.





Selain

itu, secara intrinsik matematika juga memiliki angka berupa bilangan

bulat yang mengandung misteri yang sangat mengasyikkan. Misalnya Anda

melakukan operasi perkalian maupun pertambahan terhadap dua bilangan

tertentu, maka terkadang akan muncul bilangan yang memiliki bentuk
simetri tertentu. Contoh lain, Anda dapat menunjukkan kemahiran menebak

dengan tepat angka tertentu yang telah mengalami beberapa operasi. Bagi

yang belum memahami matematika, kemampuan Anda menebak angka dianggap

sihir, padahal itu merupakan operasi.





Matematika

adalah ilmu yang mudah dan menyenangkan. Karena itu, siapa pun mampu

mempelajarinya dengan baik. Untuk itu, tugas utama kita adalah

merobohkan mitos-mitos sesat di sekeliling matematika

mamfaat ciuman

Manfaat berciuman antara bibir

Ternyata Berciuman itu mengeluarkan hormon bagus yang
diperlukan oleh tubuh kita... he..he..
tapi tentunya dengan pasangannya masing2 ya .... jangan dengan orang
lain

BER-CIUMAN..
Bagi yang jarang Ciuman, simak lah artikel ini, mungkin bisa membuat
sering2 jadi ciuman, and..kalo yang belom pernah, mulailah hari ini
(maximal malam minggu) dengan sebuah kissing. setuju? (dari pada BT
panas-panas)

Berciuman Juga Banyak Manfaatnya Selain menularkan beberapa jenis
virus, kuman, dan parasit, dari riset terungkap, berciuman menyimpan
banyak manfaat.

Bahwa berciuman bisa mengungkit sistem kekebalan tubuh akibat saling
berbagi bibit penyakit ke dalam rongga mulut, tubuh dikebalkan (mirip
mekanisme vaksinasi) oleh bibit penyakit yang sebelumnya tidak
dipunyai (Helen Fisher, PhD, anthropolog periset romantic love Rutgers
University, Newark, NJ).

Berciuman juga dinilai sebagai ajang meditasi (sensual meditation)yang
memberi ketenangan pada otak (Joy Davidson, PhD, psikolog pada Klinik
Sexology, Seatle).

Pada ciuman Perancis, ciuman yang luar biasa dalam, melibatkan hampir
seluruh otot wajah untuk ber-exercise, sehingga wajah tampak lebih muda
dan sumringah. Selain itu sentuhan ujung lidah yang sampai menyelusupi
seluruh bagian gusi dan gigi geligi selama berciuman Perancis merupakan
sapu pembersih kuman dan bibit penyakit dengan air liur ekstra, berfungsi
mencegah pembentukan karang gigi (oral plaque), seperti diungkapkan
Mathew Massina, DDS, dokter gigi Fairview Park, Ohio. Lebih dari itu,
Berciuman juga katanya dapat menurunkan berat badan, sebab mampu
membakar kalori dua kali lipat lebih banyak dari metabolisme normal
(Bryant Stamford, PhD, Universitas Louisville).

Bahkan jika berciuman berkategori sangat hot, sama besar dengan kalori
yang terbuang untuk berjalan tergopoh-gopoh (brisk walking). Tapi
jangan lupa, di balik sederet manfaat itu, berciuman juga bisa menularkan
penyakit gigi keropos (Journal of The American Dental Association).
Kita tahu bahwa pengeroposan gigi terjadi sebab ada kuman tertentu di
rongga mulut yang bersama karbohidrat dari sisa makanan yang terselip
di sela gigi akan menghasilkan senyawa asam. Senyawa asam ini yang
merusak permukaan enamel gigi, sehingga berangsur-angsur gigi
mulai keropos. Kuman pengeropos gigi ini rupanya ditularkan juga
sewaktu berciuman. Pada tataran yang lebih jauh, berciuman mempunyai
banyak makna.

Ciuman bernafsu birahi menghasilkan senyawa hormon yang berbeda
dengan ciuman romantik, atau ciuman persahabatan. Umumnya
berciuman itu berkhasiat menenangkan akibat dikeluarkannya calming
hormone bernama oxytocin dalam darah. Hormon ini konon deras
mengalir dalam darah selama orang jatuh cinta.
Hormon seks testosteron meningkat dalam darah sewaktu seks bergairah,
baik pada pria maupun wanita (wanita pun memproduksi hormon ini
dalam takaran yang lebih kecil dari pria). Pada situasi romantik, ada
hormon lain, yakni dopamine dan norepinephrine yang membanjir dalam
darah.

Pada tahapan memasuki cinta sejati, hormon oxytocin dan vasopressin
yang deras memasuki darah, pada saat mana orang berada di tingkat
puncak perasaan tenang damai sejahtera.
Ciuman merangsang otak. Otak memiliki terminal-terminal penangkap
sensasi bibir sama pekanya dengan yang diterimanya dari area erogen lain
pada tubuh, seperti dari puting susu, lalu menerjemahkannya kedalam
bentuk rasa bergembira (euphoria), penggugah seks, dan memberi puncak
perasaan tenang sejahtera yang paling dalam. Pesan para pakar, jangan
karena tahu berciuman bisa menjadi penurun berat badan, lalu
menjadikan berciuman sebagai tujuan program menurunkan berat badan
pribadi, sehingga membuatkita jadi rajin mencium. Cium asal mencium
tentu berbeda makna dan sensasinya. Misal kalau yang dicium bibir
kakek-kakek atau nenek-nenek,alih-alih bikin badan jadi kurus. Rajin
kissing dengan pasangan tanpa gigi geligi bukan sempurna lagi bisa jadi
malah bikin kita pegal linu dan masuk angin.

Nah Jika sudah tahu manfaat and akibatnya maka sekarang hati2lah untuk
berciuman, jangan sembarang berciuman jika itu bukan pasangan kita.
Bagi yang masih pacaran pastikan pacar anda akan menjadi pasangan
anda baru boleh anda cium, karna kita bisa rugi kalo sembarangan
memberi manfaat ciuman ini...it's ok...simak n simak ini..
Kissing?? Eitsss…kata nenek itu berbahaya lho! Bisa menimbulkan keinginan-keinginan yang lebih dari hanya sebuah ‘kiss’. Namun dibaliknya, arti dari sebuah ciuman itu selalu penuh dengan sejuta makna. Yang pasti, sebuah ciuman bisa melambangkan rasa hormat, peduli, kasih sayang dan cinta. Bagi dua pasang kekasih, ciuman ternyata ngga hanya untuk bikin cinta makin lengket, tetapi menurut beberapa ahli, ciuman itu juga menguntungkan buat kesehatan tubuh dan jiwa kamu. So, apa sih sebenernya yang terjadi dan tersembunyi dibalik sebuah ciuman?

AWAL MULANYA
Sejak jaman dahulu kala, manusia udah kenal dengan yang namanya ciuman. Ini terbukti dengan adanya sebuah catatan yang menyatakan bahwa ciuman erotik yang pertama, terjadi sekitar tahun 1500 SM di India. Tercatat pula, ekspresi cinta dari sepasang kekasih ketika itu ditandai dengan saling menggosokkan hidung. Nah, bentuk ciuman bibir yang kita kenal saat ini, awalnya berasal dari kebiasaan bangsa Romawi. Mereka selalu mencium cincin, jubah atau patung sebagai tanda penghormatan. Seiring dengan waktu, mereka menemukan lebih banyak arti dari sebuah ciuman. Antara lain, “osculum” yang berarti ciuman persahabatan, “basium” ciuman penuh gairah dan “savium” yang berarti ciuman yang mendalam. Buat jenis ciuman yang terakhir ini, kita mengenalnya dengan istilah “French kiss”. Dan sampai detik ini pun kebiasaan berciuman terus berlanjut hingga sekarang.

MANFAATNYA BUAT KAMU
Menurut penelitian, ciuman itu mampu memberikan rangsangan ke otak dan menghasilkan suatu hormon yang menimbulkan rasa gembira pada diri kita. Makanya, kamu-kamu ngga perlu heran, jika ketika kalian berciuman dengan seseorang yang paling kalian sayangi, akan menciptakan perasaan gembira dan senang yang membuat kamu seakan melayang. Sebuah ciuman mampu mengurangi kecemasan dan menghentikan sejenak otak yang selalu bekerja. Ini yang disebut dengan proses ‘sensual meditation’. Berciuman juga sanggup membangkitkan rasa percaya diri dari seseorang. Karena ketika kita berciuman timbul rasa bahagia, maka disaat perasaan bahagia itu muncul, rasa percaya diri kita juga akan bertambah. Para ahli menamakannya ‘sentuhan sensual’ yang punya efek baik bagi ‘well being’. Saat kita merasakan ketegangan, ternyata ciuman itu bisa bikin kita terlepas dari ketegangan itu. Mengapa? Karena saat kita berciuman, bibir kita membentuk senyuman, mata tertutup dan napas kita pun makin dalam. Nah, pakar ‘stress consultant’ bilang, sikap ini ialah sikap alamiah yang bakal terjadi saat kita sedang merasa santai. Jadi, yang namanya ciuman itu bisa juga dijadikan bentuk dari sebuah relaksasi. Akhirnya, yang terpenting dari ciuman itu adalah bisa bikin cinta kamu semakin erat. Alasannya karena ketika kamu mencium seseorang, artinya kamu udah memasuki batas-batas dari privacy orang tersebut. Ini menandakan kalo kamu udah menaruh kepercayaan padanya dan yang jelas kamu telah mengenalnya lebih dalam lagi. So, efek yang timbul dari sana ialah perasaan lebih memiliki, menyayangi dan lebih mencintai.

MANFAATNYA BUAT TUBUH KAMU
Pertama, bisa bikin kamu awet muda! Masa iya? Bener lho, soalnya menurut penelitian, berciuman itu membantu melatih otot pipi dan rahang, jadi ngga bikin wajah kamu cepet kendor. Hasilnya, kamu bakal terlihat lebih muda. Tapi, jangan jadiin awet muda buat alasan minta ‘kiss’ sama pacar kamu, bisa-bisa tiada hari tanpa ciuman deh! Wah, bisa gawat tuh…hehehe…Kedua, membantu nurunin berat badan. Nah, sepertinya yang ini oke juga yah. Ngga usah cape-cape diet, ciuman aja terus…*lol* . Pastinya, sang ahli bilang kalo ciuman panjang bikin metabolisme tubuh membakar gula lebih cepat dari yang biasanya. Jumlah kalori yang terbakar tergantung dari intensitas ciuman kamu, kurang lebih 10 kalori tiap 10 menit berciuman. Wow, cool!! Bayangin aja kalo kamu ciuman sehari 10 menit, sebulan kamu bisa turun berapa kilo yah? So, buat kamu yang suka ciuman sehari lebih dari sejam…bisa kurus banget donggg!!! Nah, harus hati-hati tuh, bisa-bisa gara-gara ciuman, tubuh kamu jadi tulang berbalut kulit….*hihihi*.Ketiga, membantu menjaga kesehatan gigi. Karena, saat kamu ‘kissing’ kamu dapat merangsang keluarnya air liur, dan ini adalah salah satu proses alamiah yang membantu proses pembersihan gigi kamu. Tapi, kamu ngga perlu ‘kissing’ yang heboh banget, buat bersihin gigi kamu, mendingan ke kamar mandi terus gosok gigi!Keempat, ciuman itu bisa bikin tubuh kamu tambah bugar. Seperti yang udah dibahas sebelumnya, ciuman dapat menimbulkan perasaan senang. Ahlinya bilang, disaat itulah adrenalin dilepaskan ke aliran darah, dan jantung akan memompa lebih banyak darah ke seluruh tubuh. Hasilnya, organ-organ tubuh kamu akan mendapatkan semacam efek ‘exercise’ seperti halnya ketika kamu berolahraga.Okay, udah tahu kan sekarang beberapa keuntungan dari sebuah ciuman? Ngga harus selalu identik sama yang namanya ‘nafsu birahi’, tetapi ternyata punya banyak manfaat dari sisi mental dan fisik. Anyway, kamu tetap harus bisa menahan diri jika kamu terlibat dengan sebuah ciuman. If you are not ready for it, don’t walk to far! *kiss*-clavelina-
Ciuman memang bukan tindakan yang bisa diatur-atur, keinginan untuk mencium sering kali timbul begitu saja karena Anda begitu menyayangi seseorang. Tapi jika ada gaya ciuman tertentu yang dapat membuatnya amat nyaman sehingga ia begitu dapat menikmatinya sampai meninggalkan kesan yang mendalam, boleh-boleh saja jika Anda praktekkan. Mudah-mudahan Dia semakin sayang pada Anda …

Butterfly Kiss
Mencium bagian tubuh si dia dengan mengedip-ngedipkan bulu mata hingga pasangan terasa geli. Ciuman ini bisa diberikan di pipi, ujung bibir, dahi atau perut.

Cheek Kiss
Biasanya ciuman ini diberikan pada saat kencan pertama sebagai tanda “aku suka padamu”. Ciuman pipi ini bisa semakin mesra jika Anda tahu caranya, letakkan tangan Anda di pundaknya lalu sebelum mencium usap dulu pipinya dengan bibir Anda, lakukan dengan penuh kelembutan.

Eskimo Kiss
Ciuman dengan cara saling menggosokkan hidung Anda dengan pasangan. Biar lebih seru dan seperti di Eskimo, lakukan di depan kulkas yang terbuka !

Eyelid Kiss
Sementara pasangan Anda sedang tidur, ciumlah kelopak matanya yang tertutup dengan sangat perlahan dan mesra. Ciuman yang sederhana tetapi bisa berarti sangat mendalam bagi si dia

Freeze Kiss
Ciuman yang dilakukan setelah bibir ditempeli es batu. Dingin tapi menyenangkan ! Ada cara lain yang tak kalah serunya, Anda dan pasangan berciuman sambil memainkan es batu dengan lidah di dalam mulut.

Earlobe Kiss
Ciumlah pasangan Anda tepat di telinganya, tapi jangan bersuara ! Cukup dengan hembusan nafas saja karena suara Anda akan membuatnya terperanjat.

The Whipped Cream Kiss
Merupakan jenis ciuman yang menggairahkan dan penuh nafsu. Celupkan jari Anda ke dalam whipped cream, lalu jilat jari Anda secara perlahan-lahan. Selanjutnya Anda dan pasangan saling berpelukan dan berciuman, ciuman yang manis karena di mulutAnda masih tersisa citarasa
whipped cream.

Foot Kiss
Ciuman romantis yang penuh ‘isyarat’. Mungkin pasangan Anda akan sedikit geli, jadi buatlah si dia merasa lebih rileks dan menikmati setiap ciuman Anda. Caranya, pijat-pijat dulu kakinya sembari dielus lalu mulailah aksi ciuman Anda dari bawah ke atas.

Quickie Kiss
Ciuman singkat yang dapat Anda berikan di saat Anda benar-benar sibuk. Kecup hidungnya lalu kecup bibirnya. Ciuman ini hanya membutuhkan waktu ¼ detik !

Forehead Kiss
Disebut ciuman ibu karena ciuman ini bersifat menenangkan bagi siapa saja. Tak ada ciuman di dahi yang dapat membangkitkan nafsu.

French Kiss
Bisa juga disebut The English Kiss atau Soul Kiss, gaya ciuman yang membutuhkan keahlian Anda dan pasangan memainkan lidah.

Fruit Kiss
Ciuman yang menggunakan potongan buah (anggur, stroberi, atau potongan apel). Caranya: Letakkan buah di antara mulut Anda lalu dekatkan mulut Anda padanya. Gigit buah setengahnya sampai bibir Anda dan pasangan saling menempel, lalu silahkanberciuman dengan bergairah.

Hand Kiss
Mencium punggung tangan pasangan dengan mesra lalu merambat ke bagian atas.

Lick Kiss
Sebelum ciuman berlangsung, mainkan lidah Anda pada bibir pasangan. Jika suasana makin ‘memanas’ barulah lidah Anda masuk ke dalam mulutnya. Wow !

Talking Kiss
Sesekali saat berciuman tak ada salahnya Anda mengucapkan I love you di dalam mulutnya. Hm … suasana berciuman semakin terasa romantis.

Nip Kiss
Ciuman yang erotis dan penuh sensasi. Saat berciuman, sesekali gigitlah bibirnya. Lakukan dengan benar dan jangan membuatnya menjerit kesakitan.

Sip Kiss
Sebelum mencium si dia, teguk sedikit minuman favorit Anda. Lalu tumpahkan di dalam mulutnya. Selanjutnya lumat bibirnya dengan perlahan dan biarkan si dia menikmati ciuman Anda.

The Buzzing Kiss
Ciumlah belakang telingannya dengan perlahan lalu dengan suara geraman dan dengungan mesra menuju ke lehernya. Gigit-gigit lehernya dengan perlahan sampai Anda menemukan mulutnya.

Vacuum Kiss
Ciuman yang dilakukan sambil meniup mulut pasangan sampai pipi mengembang. Lalu kempiskan sehingga ada angin bertiup bolak-balik dari mulut Anda ke mulut pasangan. Tapi hati-hati masuk angin !

Tongue Sucking
Merupakan variasi dari French Kiss, ketika Anda dan pasangan saling memainkan lidah, sesekali hisaplah lidahnya. Pasti si dia akan merasa lebih seksi.

Mari kita coba semuanya ,,, Hidup Ciuman ,,, Huehuehueuhue ,,, ;p~
 

Jumat, 29 Juli 2011

contoh proposal oo


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan dasar usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian , kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (Sisdiknas, 2004)
Dalam rangka peningkatan sumber daya manusia melalui jalur pendidikan khususnya matematika arah pengembangannya sangat terkait dengan perangkat atau kurikulum yang berlaku saat ini, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Didalam peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, BAB IV Standar Proses, Pasal 19 ayat 1 dinyatakan bahwa; proses pendidikan pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, motivasi dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode mengajar merupakan cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.(Nana sudjana, 1996:97). Selain itu juga, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal diharapkan dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri siswa. Salah satu potensi yang  dimaksud adalah kemampuan menyelesaikan soal-soal yang diberikan seorang guru . Kemampuan ini belum dikembangkan karena berhubungan erat dengan prestasi belajar.
Proses atau kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru khususnya guru matematika di dalam kelas sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Selama ini prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dapat dikatakan lebih rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Hal ini tidak lepas dari peran guru sebagai seorang pangajar dalam mengelola kelas saat pembelajaran berlangsung. Dalam BAB I Pasal 1, dinyatakan bahwa: guru adalah pendidik dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah. Tapi kenyataan yang ditemukan sekarang ini adalah masih banyak sekolah yang menggunakan model pembelajaran yang masih sederhana dengan materi pelajaran yang disusun oleh guru  secara monolog. Akibatnya kesempatan siswa untuk mengalami proses penemuan saran-saran penyelesaian soal secara praktis hampir tidak ada. Dapat dikatakan bahwa dalam proses pembelajaran lebih didominasi oleh guru, sehingga tidak ada timbal balik dari siswa. Permasalahan seperti ini juga timbul karena siswa terkadang takut untuk menyampaikan permasalahan-permasalahan yang ada saat proses pembelajaran berlangsung, akibatnya siswa kurang berkembang dan pembelajaran cenderung monoton.
Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru khususnya guru bidang studi matematika yaitu dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diterapkan dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme. Penggunaan LKS menuntut keaktifan siswa dimana LKS dapat membuat siswa belajar menurut kemampuannya, sehingga timbul kepercayaan pada diri sendiri dan dapat menarik minat dan motivasi siswa.
Selain itu guru sebagai pendidik juga harus  mampu memilih dan menentukan metode pembelajaran yang sesuai agar dapat menarik minat dan motivasi siswa. Pembelajaran semestinya diusahakan dapat memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut, oleh karena itu guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya.  Maka strategi yang diperlukan disini adalah sebuah strategi belajar guru model pendidikan yang dapat membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman  yang disebut dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme.
Filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldawin dan dikembangkan serta diperdalam oleh Jean Peaget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya.
Berdasarkan hasil observasi dan interview yang telah dilakukan dengan  salah seorang guru Matematika di SMP Negeri 1 Masbagik, dari keterangan guru tersebut dapat diperoleh bahwa sebagian besar guru di SMP Negeri 1 Masbagik masih menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu metode ceramah yang kemungkinan besar dapat menimbulkan pembelajaran yang monoton dan terpusat pada guru serta sikap arogansi antar siswa, siswa akan merasa diri paling benar, dan tidak saling menghargai serta kurang terjalinnya kerjasama antar siswa (individualisme).
Penerapan pendekatan pembelajaran konstruktivisme diharapkan mampu, merangsang siswa berfikir aktif dan kritis serta dapat menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri, memberikan nuansa baru bagi keunggulan-keunggulan tersendiri dalam mencapai proses-proses pencapaian prestasi belajar yang diharapkan melalui metode yang diterapkan. Terkait dengan hal ini peneliti ingin memberikan gambaran yang signifikan dalam penerapan pendekatan pembelajaran konstruktivisme untuk mengetahui efektifitas metode yang diterapkan terhadap prestasi belajar siswa dicapai oleh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Masbagik pada pokok bahasan relasi dan fungsi. Untuk itu peneliti merumuskan tema penelitian pada:
“Efektivitas Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme dengan Menggunakan LKS Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Masbagik  Tahun Pembelajaran 2011/2012”.

B.     Identifikasi Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.      Pembelajaran yang masih terpusat pada guru.
2.      Siswa masih takut untuk menyampaikan permasalahan-permasalahan yang timbul saat proses pembelajaran berlangsung.
3.      Kurangnya kemampuan guru untuk membangkitkan minat, bakat dan motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.
4.      Proses pembelajaran masih monoton, umumnya dari guru dan tidak adanya timbal balik dari siswa.
5.      Rendahnya prestasi belajar matematika siswa.
6.      Siswa masih belum mampu menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri untuk belajar.
7.      Penggunaan LKS yang diterapkan dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme selain mampu menarik minat dan motivasi belajar siswa dharapkan juga mampu meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.


C.     Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka perlu bagi penulis untuk membatasi masalah guna menghindari meluasnya cakupan pembahasan karena beberapa pertimbangan, antara lain keterbatasan waktu, tenaga dan biaya. Oleh karena itu penulis akan membatasi masalah pada objek penelitian dan subjek penelitian sebagai berikut :
1.      Pembatasan Objek Penelitian
                  Objek penelitian ini terbatas pada masalah efektifitas pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS terhadap prestasi belajar matematika siswa.
2.      Pembatasan Subjek Penelitian
                  Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Masbagik Tahun Pembelajaran 2011/2012.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS efektif terhadap prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan operasi aljabar kelas VIII SMP Negeri 1 Masbagik Tahun Pembelajaran 2011/2012?

E.     Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Masbagik Tahun Pembelajaran 2011/2012.

F.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diharapkan dari hasil penelitian ini adalah mencakup dua bagian.
1.      Manfaat secara teoritis
1)   Dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS.
2)   Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dorongan kepada para peneliti untuk melakukan penelitian lanjutan yang lebih luas dan mendalam.
2.      Manfaat secara praktis
1)      Manfaat Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk membangkitkan  interaksi yang efektif antara siswa dan melatih individu untuk bekerja sama mengatasi masalah-masalah pembelajaran sehingga mampu meningkatkan prestasi belajarnya.
2)      Manfaat Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi guru bidang studi Matematika agar dapat memecahkan masalah yang ada yang timbul khususnya pada bidang studi Matematika sebagai suatu alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, yaitu dengan menerapkan pendekatan  pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS.
3)      Bagi Peneliti 
Dengan keterlibatannya dalam penelitian ini, peneliti dapat mensosialisasikan salah satu pendekatan/model pembelajaran yaitu  konstruktivisme (pendekatan pembelajaran yang membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman).















BAB II
LANDASAN TEORI

A.     Kajian Teori
1.      Belajar
a.        Pengertian Belajar
Belajar (Learning) merupakan kegiatan paling pokok dalam mencapai perkembangan individu dan mempermudah pencapaian tujuan institusional suatu lembaga pendidikan. (Cece Rakhmat, 2006:47). Hal ini berarti berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat bergantung  dalam proses belajar yang dialami siswa  termasuk di lingkungan formal terkecil seperti ruang kelas di sekolah.
Berkaitan dengan pendefinisian belajar, dikalangan ahli psikologi terdapat keragaman baik dalam cara menjelaskan maupun mendefinisikannya. Berikut beberapa pendapat para ahli tersebut. (a). Witherington (1950) mengemukakan belajar sebagai sebuah perubahan kepribadian yang dimanifestasikan kepada suatu pola respon individu yang mungkin berupa keterampilan,  sikap atau peningkatan pemahaman atas sesuatu; (b). Cronbach (1954) mengatakan belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman; (c). Crow dan Crow (1958) merumuskan pengertian belajar sebagai perolehan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Hal tersebut termasuk cara-cara lain untuk melakukan suatu usaha penyesuaian diri terhadap situasi yang baru; (d). Skinner (1968) mengatakan belajar ialah proses adaptasi tingkah laku secara progresif; (e). Hilgard dan Brower (1975) mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu; perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya); (f). Gagne (1977) menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. (Cece Rakhmat, 2006:48).
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Belajar akan memberikan manfaat kepada individu yang bersangkutan dan masyarakat. Setiap individu akan mendapatkan manfaat belajar dari meningkatnya kualitas hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat, belajar mempunyai peran penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi ke generasi.






b.             Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar yaitu :
                           1.     Faktor Internal Siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek yakni: 10 aspek fisiologis yaitu aspek yang bersifat jasmaniah dan 2) aspek psikologis yaitu aspek yang bersifat rohaniah seperti inteligensi siswa, sikap siswa dan bakat siswa. (Cece Rakhmat, 2006:49).
                           2.     Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar).
Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah: (a). Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa; (b). Lingkungan non sosial seperti gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal siswa, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar; (c). Faktor pendekatan belajar seperti cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. (Cece Rakhmat, 2006:49).


2.      Matematika
Matematika merupakan suatu ilmu yang melatih seseorang untuk berfikir efisisen, jelas, tepat dan cepat. Simbol dan konsep dalam matematika merupakan alat untuk mengatakan pendapat atau gagasan secara kuantitatif. Pada matematika diletakkan dasar bagaimana cara berfikir dan bertindak melalui aturan dalil dan aksioma.(Irzani, 2009: 5) .
Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya yang sudah diterima, sehingga keterkaitan antara konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas .(Irzani, 2009: 6) .
Matematika sebagai ilmu deduktif ini berarti proses pengerjaan matematika harus bersifat deduktif. Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan (induktif), tetapi harus berdasarkan pembuktian deduktif.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakekat belajar matematika adalah suatu kegiatan psikologi, yakni kegiatan aktif dalam memahami dan menguasai serta mengkaji berbagai konsep dan struktur yang terdapat dalam bahasa yang dipelajari serta hubungan antar objek-objek matematika sehingga diperoleh pengetahuan baru atau peningkatan pengetahuan dan perubahan tingkah laku.

3.      Pembelajaran Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. . (Wina Sanjaya, 2006:264)
Filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Von Glasersfeld menganggap bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya.(Paul Suparno, 1997:19). Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua factor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Kedua factor itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengkonstruksinya. Lebih jauh Piaget menyatakan hakikat pengetahuan sebagai berikut:
    1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, akan tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
    2.  Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
    3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan  bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang. (Paul Suparno, 1997:30).
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. (Paul Suparno, 1997:18). Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
1.         Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
2.         Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
3.         Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4.         Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
5.         Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
6.         Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar. (Paul Suparno, 1997:36).
Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompok dalam teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning). Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivism adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep atau prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi. (Irzani, 2009: 31).
Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut.

4.      Prestasi  Belajar
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, peranan prestasi belajar sangat penting. Prestasi belajar merupakan hasil dari kegiatan belajar dan tenaga pengajar, dan juga keberhasilan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
Prestasi belajar merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar, dimana prestasi memiliki pengertian dari hasil dari sebuah kegiatan yang dikerjakan, diciptakan baik secara individual maupun secara kelompok. Prestasi itu sendiri tidak akan dicapai jika seseorang tidak pernah melakukan sesuatu. (Djamarah, 1994 : 19). Sedangkan WJS Poerwardarminta (Djamarah, 1994: 20) berpendapat bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan dan sebagainya.
Dari kedua pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli di atas, jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan.
 Pakar lain, Harahap dkk (Djamarah, 1994: 21) mengatakan bahwa prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. Jadi prestasi dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang diperoleh dari suatu kegiatan dari suatu wujud dari pencapaian usaha. Kemajuan yang diperoleh itu tidak saja berupa ilmu pengetahuan, tetapi juga berupa kecakapan atau keterampilan. Semuanya bisa diperoleh dibidang suatu pelajaran tertentu. Kemudian untuk mengetahui prestasi setiap siswa terhadap mata pelajaran tertentu itu dilakukan dengan evaluasi.

Jadi prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh atau perubahan perilaku seseorang secara akademik berdasarkan kemampuan dan keterampilan yang diperoleh dari suatu kegiatan yang dilakukan secara individu maupun kelompok melalui proses belajar mengajar berupa angka atau nilai.
Prestasi belajar siswa dapat diketahui melalui hasil belajarnya. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama  yaitu factor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari dalam diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Hasil belajar siswa di Sekolah 70% dipengarui oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di Sekolah ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam tujuan mencapai tujuan pengajaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil (prestasi) belajar siswa di Sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa sendiri dan kualitas pengajaran.

5.      Lembar Kerja Siswa (LKS)

1. Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS merupakan lembar kerja bagi siswa baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler untuk mempermudah pemahaman terhadap materi pelajaran yang didapat. LKS (lembar kerja siswa) adalah materi ajar yang dikemas secara integrasi sehingga memungkinkan siswa mempelajari materi tersebut secara mandiri (http://pustaka.ut.ac.id). 
Lembar kerja siswa (LKS) merupakan salah satu perangkat pembelajaran matematika yang cukup penting dan diharapkan mampu membantu peserta didik menemukan serta mengembangkan konsep matematika (http://ahliswiwite.wordpress.com).
LKS merupakan salah satu sarana untuk membantu dan mempermudah dalam kegiatan belajar mengajar sehingga akan terbentuk interaksi yang efektif antara siswa dengan guru, sehingga dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam peningkatan prestasi belajar matematika siswa.
Dalam lembar kerja siswa (LKS) siswa akan mendapatkan uraian materi, tugas, dan latihan yang berkaitan dengan materi yang diberikan
.
Dengan menggunakan LKS dalam pengajaran akan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk ikut aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian guru bertanggung jawab penuh dalam memantau siswa kegiatan belajar siswa dalam proses belajar mengajar di kelas.
Penggunaan LKS sebagai alat bantu pengajaran akan dapat mengaktifkan siswa. Dalam hal ini, sesuai dengan pendapat Tim Instruktur Pemantapan Kerja Guru (PKG) menyatakan secara tegas “salah satu cara membuat siswa aktif adalah dengan menggunakan LKS”. Dari pendapat
tersebut dapat dipahami bahwa Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran kertas yang intinya berisi informasi dan instruksi dari guru kepada siswa agar dapat mengerjakan sendiri suatu kegiatan belajar melalui praktek atau mengerjakan tugas dan latihan yang berkaitan dengan materi yang diajarkan untuk mencapai tujuan pengajaran.

2.    Manfaat Lembar Kerja Siswa (LKS)

Manfaat Lembar Kerja Siswa (LKS), antara lain: (a). Sebagai alternatif guru untuk mengarahkan pengajaran atau memperkenalkan suatu kegiatan tertentu; (b). Dapat mempercepat proses belajar mengajar dan hemat waktu mengajar; (c). Dapat mengoptimalkan alat bantu pengajaran yang terbatas karena siswa dapat menggunakan alat bantu secara bergantian
. (http://ahliswiwite.wordpress.com).

3.    Tujuan Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS dibuat bertujuan untuk menuntun siswa akan berbagai kegiatan yang perlu diberikan serta mempertimbangkan proses berpikir yang akan ditumbuhkan pada diri siswa. LKS mempunyai fungsi sebagai urutan kerja yang diberikan dalam kegiatan baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler terhadap pemahaman materi yang telah diberikan.
Menurut tim instruktur PKG tujuan Lembar Kerja Siswa (LKS), antara lain: (a). Melatih siswa berfikir lebih mantap dalam kegiatan belajar mengajar; (b). Memperbaiki minat siswa untuk belajar, misalnya guru membuat LKS lebih sistematis, berwarna serta bergambar untuk menarik

perhatian dalam mempelajari LKS tersebut.
(http://ahliswiwite.wordpress.com).

4. Langkah-Langkah Penulisan LKS

a.    Melakukan analisis kurikulum; standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pembelajaran.
b.    Menyusun peta kebutuhan LKS
c.    Menentukan judul LKS
d.    Menulis LKS
e.    Menentukan alat penilaian
(http://203.130.201.221/materi_rembuknas2007/komisi%201/subkom-3-KTSP/SD/powerpoint/11_pengembangan_bahan_ajar.ppt.)
5.    Struktur LKS

Adapun struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut :
a.         Judul, mata pelajaran, semester, dan  tempat
b.         Petunjuk belajar
c.         Kompetensi yang akan dicapai
d.         Indikator,
e.         Informasi pendukung
f.           Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja
g.         Penilaian



B.     Kerangka Berpikir
Dalam pembelajaran konvesional yaitu yang masih menggunakan metode ceramah, guru mendominasi kegiatan. Siswa pasif, siswa masih bersifat individual, guru aktif dan segala inisiatif datang dari guru. Aktivitas anak terbatas pada mendengarkan, mencatat, kurang terbangunnya kerjasama yang positif antar siswa dalam rangka memahami konsep matematika  dan menjawab bila guru memberikan pertanyaan. Siswa
hanya  berfikir menurut apa yang digariskan oleh guru. Proses belajar mengajar semacam ini tidak mendorong siswa berfikir dan beraktivitas, hal ini tidak sesuai dengan hakekat pribadi siswa sebagai subyek belajar.
Untuk dapat mengoptimalkan pemahaman siswa pada konsep matematika, diperlukan suatu metode pembelajaran yang bisa menghubungkan pengalaman siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan dapat membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan pembelajaran konstruktivisme merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan diatas. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan agar siswa benar-benar aktif belajar, dapat menumbuhkan kerjasama yang positif dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa, serta dapat meningkatkan prestasi belajar yang maksimal dalam pembelajaran matematika.
Proses belajar akan lebih efektif  lagi secara optimal apabila peserta didik langsung secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu melakukan suatu tindakan atau upaya yang dilakukan oleh guru matematika dalam meningkatkan  motivasi, minat, dan keaktifan siswa. Adapaun tindakan yang dilakukan oleh guru yaitu dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diterapkan dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme.
Apabila dalam penyampain materi operasi aljabar menggunakan LKS yang diterapkan dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme, maka akan menarik motivasi dan minat siswa, serta meningkatkan keaktifan siswa yang akan menyebabkan terjadinya peningkatan prestasi belajar siswa. Sebaliknya apabila tidak menggunakan LKS yang diterapkan dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme, maka keaktifan siswa akan berkurang sehingga prestasi belajar siswa kurang optimal.
Dari uraian di atas maka penggunaan pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS dalam pembelajaran matematika dianggap perlu untuk membantu dalam rangka memahami konsep dan aplikasi matematika, menumbuhkan rasa kerjasama positif dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa, serta dapat meningkatkan prestasi belajar yang maksimal dalam pembelajaran matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Masbagik tahun pembelajaran 2011/2012.




KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR MATEMATIKA
 
Bagan Kerangka Berfikir









 

















Terdapat peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika pokok bahasan operasi aljabar  pada siswa kelas VIII SMP Negri 1 Masbagik
 
 





C.     Hipotesis Penelitian
Menurut Sugiyono (2010: 86), hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara atau kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Hal serupa dikemukakan oleh suharsimi (1998: 67), bahwa “hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan  penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”.
Berdasarkan kerangka berfikir di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Masbagik Tahun Pembelajaran 2011/2012.


BAB III
METODE PENELITIAN

            Pada bab ini akan dibahas secara berturut-turut mengenai: (a) waktu dan tempat penelitian, (b) jenis penelitian, (c) populasi dan sampel, (d) rancangan penelitian, (e) variabel penelitian, (f) definisi operasional penelitian, (g) teknik pengumpulan data, (h) instrumen penelitian, dan (i) teknik analisis data.

A.     Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012 yang berlangsung mulai dari bulan Juli sampai September 2011 di Kelas VIII SMP Negeri 1 Masbagik.

B.     Jenis  Penelitian
Sugiyono (2010: 107) mengemukakan bahwa penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Penelitian jenis eksperimen dianggap baik karena telah memenuhi persyaratan. Yang dimaksud dengan persyaratan dalam eksperimen adalah adanya kelompok lain yang tidak dikenai eksperimen dan ikut mendapatkan pengamatan. (Suharsimi Arikunto, 1998: 85).
Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol (Sugiyono, 2010: 112).
Karena dalam penelitian ini gejala yang akan diteliti sengaja diadakan, maka metode penelitian yang akan digunakan oleh peneliti dalam  penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen.

C.     Populasi dan Sampel Penelitian
1.      Populasi
Menurut Suharsimi Arikunto (1998: 115), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, maka penelitiannya merupakan elemen yang ada di wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Lebih lanjut Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa penelitian populasi hanya dapat dilakukan bagi populasi terhingga dan subjek tidak terlalu banyak.
Berdasarkan pendapat di atas maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Masbagik Tahun Pelajaran 2011/2012.

2.      Sampel 
Dalam penelitian pendidikan, subyek yang dikenai penelitian biasanya dilakukan terhadap sampel. Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 2006: 131). Sedangkan menurut (Sugiono, 2010: 81)  Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut .
Untuk menentukan jumlah sampel yang harus diambil dari suatu populasi peneliti menggunakan kriteria, apabila subyeknya kurang dari 100 maka semua subyek diambil, populasi  sehingga penelitian tersebut merupakan penelitian populasi. Tapi jika jumlah subyeknya besar atau lebih dari 100, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Suharsimi Arikunto, 2006: 134).
Karena penelitian ini adalah dengan sampel, maka yang digunakan untuk menentukan ukuran sampel adalah Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua kelas yang diambil dari populasi, yaitu satu kelas yang akan digunakan sebagai kelas kotrol dan satu kelas sebagai kelas eksperimen. Penentuan kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan secara rondom sampling (acak).

D.    Rancangan Penelitian
            1.      Desain Penelitian
Karena penelitian ini untuk mengetahui pengaruh suatu perlakuan secara sengaja maka objek penelitian dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Dalam penelitian ini desain yang digunakan adalah post-test group desaign dari model solomon (Suharsimi Arikunto 2006: 85).
Skema model Post-test Group Desaign adalah sebagai berikut:
E       : X        O1
P       :           O2
Dimana E = kelompok Eksperimen, P = kelompok Kontrol, X sebagai perlakuan atau treatment yang dalam hal ini adalah pendekatan pembelajaran kostruktivisme dengan menggunakan LKS, dan O adalah hasil post-test masing-masing kelompok.

            2.      Langkah-langkah  Eksperimen
Adapun urutan dalam langkah-langkah eksperimen adalah sebagai berikut:
1)      Identifikasi masalah
2)      Identifikasi variabel dan perumusan masalah
3)      Kajian teoritis dan perumusan hipotesis alternatif (Ha)
4)      Penyusunan rancangan penelitian yang meliputi:
a.       Identifikasi variabel
b.      Memilih desain penelitian
c.       Menentukan sampel eksperimen
d.      Menentukan sampel kontrol
e.       Menyusun instrumen penelitian
f.        Uji coba instrumen penelitian
g.       Perumusan hipotesis nihil (Ho)
5)      Pelaksanaan penelitian yang meliputi
a.       Memberikan perlakuan kepada kelompok eksperimen sesuai dengan jadwal pelajaran yang telah ditentukan
b.      Pengontrolan jalannya eksperimen
c.       Mengadakan post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
d.      Mengumpulkan data hasil penelitian
e.       Analisis data hasil penelitian dengan teknik yang telah ditentukan
f.        Pembuatan laporan penelitian

E.     Variabel Penelitian
Agar memperjelas apa, siapa, dan bagaimana penelitian ini, maka dipandang perlu untuk mengetahui variabel-variabel sebagai fokus pengamatan dalam penelitian ini.
Menurut Suharsimi Arikunto (1998: 99) mengemukakan bahwa variabel merupakan objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian, pendapat lain yang senada  mengemukakan juga bahwa variabel dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua bagian  yaitu sebagai berikut :
a.       Variabel bebas  (Independent Variabel)
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2010: 61). Berdasarkan pendapat tersebut maka yang menjadi variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS.
b.      Variabel terikat (depedent variabel)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2010: 61). Berdasarkan pendapat tersebut maka yang menjadi variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa.
Untuk lebih jelasnya mengenai hubungan antar variabel tersebut dapat digambarkan dalam bentuk hubungan sebagai berikut:
Keterangan:
X            =    Variabel bebas (metode mengajar)
Y            =    Variabel terikat (prestasi belajar siswa)

F.      Definisi Operasional Variabel Penelitian
Jika ada pertanyaan tentang apa yang diteliti maka jawabannya berkenaan dengan variabel penelitian. Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010: 60). Suharsimi Arikunto (1998: 97) mengatakan bahwa “variabel adalah objek penelitian yang bervariasi”. Ahli lain mengatakan “variabel  penelitian merupakan kumpulan konsep mengenai fenomena yang ditelti”.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel meliputi faktor-faktor atau gejala yang akan diteliti.
Setelah dijelaskan variabel-variabel dalam suatu penelitian maka perlu pengertian dari masing-masing variabel secara operasional yang mencerminkan keterkaitan variabel tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa “definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati. Dengan demikian yang perlu di definisikan secara oprasional adalah variabel bebas dan variabel terikatnya, yang menjadi variabel bebasnya adalah pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS.
Pendekatan pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan LKS adalah salah satu metode pembelajaran yang dibantu dengan menggunakan LKS untuk mengaktifkan kegiatan belajar siswa agar siswa tidak hanya mendengarkan dan menerima pelajaran tetapi mampu menyusun ide-ide baru. Sedangkan yang menjadi variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika siswa.
Prestasi belajar matematika siswa adalah hasil belajar siswa setelah mendapatkan pelajaran matematika yang diberikan oleh guru.

G.    Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan permasalahan variabel penelitian yang disebutkan maka metode pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode test. Test yaitu serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 1998: 139).
Tes adalah alat yang digunakan untuk mengukur penguasaan atau kemampuan para siswa setelah mereka selama waktu tertentu menerima proses belajar mengajar dari guru.
Jadi dapat disimpulkan bahwa test adalah suatu rangkaian pertanyaan yang harus dikerjakan oleh siswa yang dipakai untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami suatu konsep. Hal ini tentunya dengan melihat baik buruknya test yang digunakan.
Adapun tes yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerima materi yang sudah disampaikan melalui pembelajaran konstruktivisme dengan berbantuan LKS  yaitu soal-soal essay.

H.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan sesuatu yang amat penting dan strategi kedudukannya didalam keseluruhan kegiatan penelitian. Hubungan antara data dengan permasalahan, tujuan dan hipotesis penelitian. Data merupakan bahan penting yang akan digunakan untuk menjawab, permasalahan, mencari sesuatu yang akan digunakan untuk mencapai tujuan, dan untuk membuktikan hipotesis. Jika data merupakan kunci pokok dalam kegiatan penelitian sekaligus menentukan kualitas hasil penelitian.
Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data, kualitas instrumen akan menentukan kualitas data yang terkumpul. Itulah sebabnya menyusun instrumen bagi kegiatan penelitian merupakan langkah penting yang harus dipahami betul-betul oleh peneliti. Lebih lanjut dijelaskan oleh seorang ahli, instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2010: 148).
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data, agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Suharsimi Arikunto, 1998: 151). Pemilihan instrumen penelitian sangat ditentukan oleh beberapa hal yaitu: objek penelitian, sumber data, dan dana yang tersedia, jumlah tenaga peneliti, serta teknik yang yang akan digunakan untuk mengolah data bila sudah terkumpul.
Berdasarkan pendapat di atas, maka instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah test yang terdiri dari atas sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh responden.
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan menyelesaikan soal-soal relasi dan fungsi. Cara pelaksanaan soal test ini adalah siswa diminta mengerjakan seluruh soal yang disiapkan oleh guru. Test hasil belajar pada pokok bahasan Relasi dan fungsi yang terdiri dari 5 butir soal essay. Dalam hal ini, cara penilaiannya adalah masing-masing soal mempunyai skor berkisar dari 0 sampai 20 sehingga skor minimal idealnya 0 dan skor maksimal idealnya adalah 100.
Adapun rumus-rumus yang digunakan dalam pengujian validitas dan reliabilitas instrumen adalah sebagai berikut:
a.      Validitas Instrumen
Mengenai validitas instrument, seorang ahli mengatakan hasil penelitian dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti (Sugiyono, 2010: 172). Ahli lain mengemukakan bahwa “validitas  adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. (Suharsimi Arikunto, 1998: 160).
Berdasarkan pendapat di atas, maka validitas berarti ketetapan suatu instrument untuk mengukur apa yang hendak diukur.
Adapun rumus uji validitas yang digunakan adalah rumus korelasi product moment dengan angka kasar yang dikemukakan oleh Peorson sebagai berikut:
Keterangan :
rxy      = Angka indeks korelasi r product moment
N      = Jumlah Siswa
Sxy   = Jumlah hasil kali antara skor x dan skor y
Sx     = Jumlah seluruh skor x
Sy     = Jumlah seluruh skor y
Dengan Ketentuan jika rxy hitung > rxy tabel ( r Product moment) maka instrumen tersebut memiliki kriteria valid dan sebaliknya jika rxy hitung < rxy tabel ( r Product moment) maka instrumen tersebut memiliki kriteria tidak valid, pada taraf signikansi 5% (Suharsimi Arikunto, 1998: 162).



b.      Reliabilitas Tes
Adapun cara yang digunakan untuk menguji apakah instrumen yang digunakan reliabel atau tidak, digunakan rumus Spearman-Brown yang terlihat sebagai berikut :
Keterangan :
r11           = reliabilitas instrumen
k             = banyak soal
   = jumlah varians butir
        = varians total
 (Suharsimi Arikunto, 1998: 193)
Dengan criteria keputusan jika r > r berarti reliabel dan jika r < r berarti tidak reliabel.
c.  Tingkat Kesukaran Butir Soal
Soal yang baik ialah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Soal yang mudah tidak merangsang siswa untuk berpikir, sebaliknya soal yang sulit menyebabkan siswa cepat putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi. Besarnya taraf kesukaran disebut indeks kesukaran. Besarnya indeks kesukaran dari 0,0 – 1,0. Jika indeks kesukarannya 0,0 berarti soalnya sulit dan jika indeks kesukarannya 1,0 termasuk soal mudah. Dalam ilmu pendidikan indeks kesukaran  untuk soal bentuk uraian digunakan rumus berikut:
               Tingkat kesulitan=
Mean=
Hasi perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan tingkat kesukaran soal itu. Klasifikasi tingkat kesukaran soal dpat dicontohkan seperti berikut ini:
         0,00 – 0,30 ialah soal sukar
         0,31 – 0,70 ialah soal sedang
         0,71 – 1,00 ialah soal mudah
         (Ali Akbar, 2009:90).
d.    Daya Beda Instrumen
Daya beda (discriminating power) atau kita singkat DB adalah kemampuan butir soal atau THB membedakan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dan rendah.(Purwanto, 2009:102).
 Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan siswa yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan.(Ali Akbar, 2009:92). Secara teoritis peserta uji kelompok atas haruslah menjawab dengan benar butir- butir soal yang dikerjakan secarah lebih banyak daripada jawaban benar kelompok bawah. Jika terjadi jumlah jawaban benar peserta kelompok bawah libih banyak daripada  kelompok  atas, hal itu berarti menyalahi logika dan tidak memiliki konsistensi internal sehingga butir soal yang bersangkutan dinyatakan tidak baik. Sebuah butir soal yang baik adalah yang mempunyai daya untuk membedakan kemampuan antara peserta uji kedua kelompok tersebut. Untuk mencari daya beda rumus yang digunakan adalah:
 
            Keterangan:
                       D = Daya beda
                   SMI = Skor Maksimal Ideal                                  
                               
Tabel 3.4 : Kriteria Daya beda
Interval daya beda
Kriteria
         0,00 – 0,20        
0,21 – 0,40
0,41 – 0,70
0,71 – 1,00
Jelek
Cukup
Baik
Baik sekali
               (Ali Akbar, 2009:93)
I.       Teknik Analisis Data
Untuk memperoleh secara jelas mengenai data dari masing-masing variable serta untuk mengkaji hipotesis penelitian maka dilakukan analisa data dan dibagian ini akan dibahas berturut-turut.

         1.         Analisa Deskripsi Data
Data yang diperoleh dideskripsikan dengan mnggunakan statistic deskriptif yang meliputi penentuan skor maksimal ideal (SMi), harga rata-rata ideal (Mi), dan standar deviasi ideal (SDi). Untuk menentukan harga Mi dan SDi dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Mi        : ( Skor maksimal ideal + Skor minimal ideal)
SDi      : ( Skor maksimal ideal – Skor minimal ideal)
Berdasarkan harga Mi dan SDi maka dibuat tabel konversi untuk pengkategorian masing-masing variabel sebagai berikut :
Mi + 1SDi sampai Mi + 3SDi = Tinggi
Mi - 1SDi sampai < Mi + 1SDi = Sedang
Mi - 3SDi sampai < Mi - 1SDi = Rendah
(Suharsimi Arikunto, 2001:40)
         2.         Uji Persyaratan Analisis
a.    Uji Normalitas Data
Pengujian normalitas data dimaksudkan untuk menguji apakah data yang telah terkumpul  tersebut, skor dalam variabel yang diteliti telah menghampiri distribusi normal atau tidak. Varibel-variabel yang akan diuji normalitasnya adalah variabel tentang prestasi belajar matematika pada pokok bahasan operasi aljabar yang diberikan dengan menggunakan LKS yang diterapkan dengan pendekatan pembelajaran konstruktivisme dan yang tidak menggunakan LKS yang diterapkan dengan pendekatan konstruktivisme.
Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan rumus Chi-Kuadrat yaitu sebagai berikut:
Keterangan :
X2= Harga Chi kuadrat
fo = Frekuensi observasi
fh = Frekuensi harapan.   
          ( Suharsimi Arikunto, 1998 :279)
Dengan kriteria keputusan jika Xhitung < dari X2 tabel dengan taraf signifikan 1% maka data tersebut normal dan sebaliknya jika Xhitung > X2 tabel maka data tersebut tidak normal.

b.   Uji Homogenitas Data
Homogenitas sampel menunjukkan pada keadaan sampel yang sama. Apabila peneliti akan mengeneralisasikan maka peneliti harus yakin bahwa kelompok-kelompok yang membentuk sampel berasal dari populasi yang sama. Dalam penelitian ini untuk menguji homogenitas sampel digunakan uji Bartlet dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
        X2         = Koofesien Bartlet
Ln 10   = 2,3026
B          = Satuan Bartlet
Ni        = Besaran ukuran sampel
B          =
S2         =
(Nana Sudjana, 1996: 105)
Dengan kriteria keputusan jika Xhitung < dari X2 tabel dengan maka data tersebut homogen dan sebaliknya jika Xhitung > X2 tabel maka data tersebut tidak homogen.
         3.         Tehnik Pengujian Hipotesis
Menurut Sugiyono (2010: 86), hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara atau kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Hal serupa dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1998: 67), bahwa “hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan  penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”.
Dengan demikian untuk menguji hipotesis yang dikemukakan pada bab sebelumnya digunakan uji t (t-test) dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
X1     = Rata-rata kelompok eksperimen
X2     = Rata-rata kelompok kontrol
S       = Standar deviasi total
n1        ­= Jumlah sampel kelompok eksperimen
n2      = Jumlah sampel Kelompok control
(Sugiyono, 2010:211)
Kriteria pengujian adalah sebagai berikut : jika t-hitung lebih besar dengan t-tabel dengan taraf signifikan 1% maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sebaliknya jika t-hitung lebih kecil dari t-tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.












DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Ali. 2009.Diktat Perkuliahan EHB.Selong:STKIP
Arikunto, S.2001. Dasar-Dasar Evaluasi Belajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi IV. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, S.2006. Prosedur Penelitian (Suatu pendekatan Praktik). Jakarta: Rineka Cipta
Djamarah, Saiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya; Usaha Nasional.
Http://203.130.201.221/materirembuknas2007/komisi%201/subkom-3-KTSP/SD/powerpoint/11_pengembangan_bahan_ajar.ppt. 25 April 2011.
Http://ahliswiwite.wordpress.com.  1 Mei 2011.
Irzani. 2009. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Yogyakarta: Media Grafindo Press.
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahmat, Cece dkk. 2006. Psikologi Pendidikan. Bandung: UPI PRESS.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana.
Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasi Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


Sudjana, Nana. 1996. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar: Jakarta: Sinar Baru Algesindo.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Suparno, Paul.1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.Yogyakarta: Kanisius
Tim. 2006. Pedoman Skripsi STKIP Hamzanwadi. Selong: STKIP Hamzanwadi

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...