Jumat, 03 Februari 2012

Cara Membuat Anak Senang Belajar


Mendengar kata belajar anak menjadi enggan untuk melakukannya, oleh karena itu diperlukan suatu cara agar anak mau mempelajari hal-hal yang baru.  Berikut ini merupakan beberapa cara dalam membuat proses belajar menjadi menyenangkan bagi anak.
  1. Untuk anak yang berusia pra sekolah, ajarkan kepada mereka sesuatu yang baru seperti mengenali nama-nama benda yang ada di sekitarnya.
  2. Untuk merangsang daya pikir serta kreativitas mereka, siapkan alat-alat tulis seperti buku menggambar, pensil warna, crayon dan lain-lainnya.
  3. Berikan kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan bebas yang bermanfaat bagi perkembangannya.
  4. Bantu anak dalam mengerjakan sesuatu kegiatan pertama kalinya, kemudian berikan kesempatan untuk melakukannya tanpa bantuan.
  5. Kenalkan anak pada jadwal, sehingga pada saat mereka melakukan suatu kegiatan dapat diselesaikan dalam jangka waktu tertentu
  6. Biasakan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan anak, pada saat-saat tertentu secara terus menerus.
  7. Bagi anak yang duduk di sekolah dasar, selalu tanyakan dan temani mereka dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya.
  8. Tuntun anak apabila kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolahnya.
  9. Ciptakan suasana nyaman di sekitar rumah, agar anak dapat berkonsentrasi dalam belajar.

Siswa menggunakan laptop di kelas sebagai bagian dari strategi guru kreatif

Menggunakan laptop terbukti sangat membantu guru dalam membuat anak senang belajar. Maklum anak-anak jaman sekarang adalah individu yang menyenangi sekali teknologi informasi dalam segala bentuknya. Dengan menggunakan laptop guru menjadi orang yang sangat mengerti siswanya. Hal ini dikarenakan dengan cepat siswa menggunakan sampai-sampai jika tidak direncanakan guru akan kerepotan sendiri. Kerepotan yang saya maksud adalah bisa saja karena antusiasnya siswa jadi cepat selesai atau malah menjadi sangat tergantung pada bantuan gurunya karena program yang digunakan oleh guru, asing untuk mereka. Hal yang buruk lagi bisa terjadi adalah ketika siswa kita malah membuka situs yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran yang berlangsung.
Jika anda ingin menggunakan laptop sebagai bagian dari pembelajaran inilah caranya;

  • pikirkan dahulu tujuan pembelajaran dalam satu kalimat, misalnya siswa akan mencari informasi, siswa membuat presentasi atau siswa menggunakan laptop dan internet untuk berkomunikasi dengan orang lain.
  • tentukan terlebih dahulu, apakah siswa akan menggunakan internet atau hanya mengolah bahan yang sudah ada.
  • jika ingin gunakan internet siapkan dahulu alamat situs yang akan siswa kunjungi. Kumpulkan jadi satu di situs scoop.it lalu minta siswa untuk hanya membuka situs yang sudah anda tentukan
  • siapkan pertanyaan sebagai panduan jika meminta siswa untuk mencari di mesin pencari google.
  • Meminta siswa untuk langsung mencari jawaban pertanyaan begitu saja ke google seperti meminta siswa masuk ke hutan buas, karena bisa saja mereka akan nyasar ke situs yang kurang mendidik.
  • siapkan sederet pertanyaan yang bisa membuat siswa fokus dalam mengerjakan tugas dari anda dengan menggunakan laptop dan internet
  • minta siswa untuk saling mengajari, hal ini mencegah anda untuk sibuk berkeliling menolong siswa anda padahal ada siswa yang bisa membantu temannya.
  • pastikan semua siswa mengerti hal yang anda perintahkan, membiarkan siswa menggunakan laptop saat mereka belum jelas apa yang mesti dikerjakan hanya akan membuat siswa mengerjakan hal yang lain.
  • Sekali lagi laptop hanya alat untuk belajar, ia tidak akan pernah menggantikan peran guru. Seorang guru walaupun menggunakan laptop mesti sadar juga bahwa tidak begitu saja laptop menggantikan perannya dalam mengajar siswa, apalagi jika laptop hanya digunakan untuk mengisi waktu atau hanya untuk main saja. Dengan laptop proses belajar mengajar di kelas mesti bertambah efektif dan makin membuat siswa cinta dan senang belajar
Apakah anda punya pengalaman yang sama seperti saya alami? Bagaimana anda membuat siswa tetap mau belajar walau sebenarnya mereka inginnya bermain games dengan laptop?

Indikator seorang guru berhasil mengelola perilaku siswa di kelasnya


Sebagai seorang guru, dalam keseharian ditangan kitalah tanggung jawab untuk mengelola perilaku siswa. Baik atau buruk perilaku siswa, tugas kita lah untuk merubah yang buruk dan memelihara hal yang baik. Ada beberapa indikator yang saya yakin berguna untuk mengukur sejauh mana kita sudah melakukan yang terbaik dalam mengelola siswa. Semuanya saya dapat dari situs teachers.net. silahkan menikmati indikator-indikator berikut ini.
Indikator seorang guru berhasil mengelola perilaku siswa di kelasnya
1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
2. Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.
3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)
6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari
Ada dua hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak.
1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.

12 Cara Membuat Siswa di Kelas Menjadi Siswa yang Kreatif


Setiap tahunnya sebagai guru kita menimbang-nimbang siapa yang menjadi murid kita tahun ajaran ini. Menimbang-nimbang yang saya maksud adalah menimbang perilaku, kemampuan akademis serta yang terpenting kemampuan sosialisasi murid kita di kelas. Berbekal informasi dari guru lainnya guru bisa memaknainya sebagai informasi awal dalam upaya untuk melejitkan potensi siswa di kelas. Salah satu cara membuat siswa mengenali sendiri potensi dan kemampuannya adalah dengan membuat mereka menjadi siswa yang kreatif. Mari terlebih dahulu merubah pandangan bahwa kreativitas hanya ada di dunia seni. Kreativitas bisa dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja. Dengan kreativitas semua bidang kehidupan akan semakin maju karena inovasi yang lahir dari kreativitas.
Sama seperti guru yang kreatif, siswa yang kreatif akan membuat dunia pendidikan Indonesia maju. Di masa depan siswa yang kreatif juga akan mewarnai Indonesia dengan kiprahnya dan sumbangsihnya. Untuk itu tugas guru untuk jadikan siswa nya kreatif. Berikut adalah cara membuat siswa di kelas menjadi kreatif;
1. Minta siswa mengajarkan siswa lainnya sebagai bagian dari strategi belajar
2. Latih siswa untuk berpendapat dengan jelas dan lancar, sebagai cara membuat siswa percaya diri di depan teman
3. Biasakan siswa untuk bisa berpartisipasi dalam kelompok
4. Buat kegiatan di kelas agar siswa bisa berpikir mandiri sekaligus menjadi pemecah masalah
5. Siapkan penugasan bagi siswa yang di ujung penugasannya siswa diminta mengekspresikan diri secara kreatif bisa dengan drama, komik atau hal lain yang menuntut siswa kreatif
6. Sering-seringlah meminta siswa bekerja sama dalam kelompok agar mereka terbiasa bekerja sama dengan orang lain
7. Sering-sering memberi penugasan yang kreatif misalnya daripada sekedar meminta siswa merangkum isi buku, lebih baik meminta siswa mendisain ulang covernya
8. Mengikut sertakan ‘suara’ siswa dalam perencanaan pengajaran. Dengan demikian siswa biasa mengungkapkan pikiran dan berani mengungkapkan pendapat.
9. Saat membahas sesuatu di kelas, sering2 lah bertanya, "apa yang terlintas dipikiranmu ketika mendengar kata......"
10. Berikan pekerjaan rumah yang berkualitas pada siswa, bukan yang sekedar membuat siswa pusing. Misalnya daripada meminta siswa mengerjakan soal pilihan ganda, lebih baik meminta siswa melakukan wawancara, memotret gambar lewat hp kemudian memberikan komentar dan banyak kegiatan lainnya yang membuat siswa tertantang.
11. Memperbanyak diskusi dan interaksi antar siswa di kelas, mengurangi ceramah dan komunikasi satu arah di kelas, hanya dari guru pada siswa.
12. Menciptakan budaya menjelaskan di kelas, bukan sekedar menjawab yang betul. Artinya jika ada siswa yang menjawab betul minta ia menjelaskan alasannya dengan demikian siswa yang lain bisa terbantu dalam berusaha untuk mengerti.
Ke 12 cara diatas sudah saya praktekan di kelas, hasilnya siswa menjadi senang belajar, hubungan guru dan siswa juga menjadi semakin demokratis. Siswa akan menganggap gurunya adalah seorang yang mau mendengar dan juga orang yang senang belajar.
Salah satu ciri individu yang kreatif adalah senang belajar, semoga tips di atas bisa membantu anda. Punya tips lain yang terbukti ampuh membuat siswa menjadi semakin kreatif? yuk berbagi lewat komentar

17 alasan mengapa kita mesti menjadi guru yang lebih baik

Berikut 17 alasan mengapa aku tidak mau menyerahkan anak-anakku kepada lembaga pendidikan bernama sekolah formal:
1. Orang tua membayar guru untuk melakukan satu hal saja yaitu: menolong anak-anak belajar. Tetapi jika anak-anak tidak belajar, guru tidak mungkin mencoba cara-cara baru sampai ada satu cara yang berhasil membuat mereka semua paham. Guru akan terus melanjutkan pelajaran untuk mengejar target kurikulum dengan meninggalkan anak-anak  yang tetap tidak paham. Kegagalan sebenarnya ada pada sistem: satu orang dewasa mengajar banyak anak, tetapi kesalahan dilimpahkan pada anak-anak. Anak-anak ditempeli cap bodoh, pemalas, diberi ranking terendah, bahkan belakangan ada cerita tentang guru yang berani memberi label ADHD kepada anak-anak didiknya.
2. Kalau anak-anak menjadi pintar, sekolah yang berbangga diri dan dipuja-puja. Kalau anak-anak nilainya buruk, yang salah anak itu sendiri bahkan orang tuanya dinilai tidak becus membimbing anak belajar atau menjatuhkan tuduhan tentang kondisi keluarga yang tidak harmonis. Anak yang menyulitkan sekolah akan ditendang keluar. Sekolah tidak akan pernah mau bertanggung jawab atau pun mengakui bahwa telah gagal mendidik anak.
3. Anak-anak yang paling membutuhkan bimbingan malah dihukum dengan nilai buruk, disetrap, ranking rendah, dan dihancurkan kepercayaan dirinya. Tidak manusiawi.
4. Sekolah boleh-boleh saja menjalankan hukuman keras, kekerasan fisik, atau pun tekanan mental kepada anak-anak didiknya atas pelanggaran minor, dan anak-anak tidak diberi kesempatan diadili secara proporsional. Orang tua lebih sering tidak diberi tahu sekolah soal insiden yang melibatkan anaknya.
5. Guru boleh-boleh saja menurunkan nilai rata-rata ujian anak ataupun memberikan nilai di bawah lima kepada anak-anak yang dianggapnya tidak menurut atau sering membolos. Bahkan guru tidak malu-malu mengancam murid-muridnya soal hal ini meskipun tindakan itu merupakan pemalsuan data prestasi akademik, dan berarti guru-guru ini berdusta. Guru seperti ini terutama guru untuk mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dan Agama yang menentukan kenaikan kelas atau kelulusan.

6. Atmosfer sekolah bersifat destruktif terhadap orientasi dan nilai-nilai agama Islam.
Jika sekolah menentukan seragam olahraga adalah celana pendek, tidak ada yang bisa menentang. Jam pelajaran agama Islam, guru agama menyuruh memakai kerudung. Tetapi saat pelajaran olahraga, siswi-siswi pakai celana pendek dan pameran paha. Absurd.
Pacaran tidak ada dan dihindari dalam ajaran Islam, namun kebanyakan siswa-siswi sekolah sudah mengenal cinta-cintaan dengan lawan jenis sejak usia sangat dini.
Belum lagi peredaran obat terlarang, pornografi, dan rokok di sekolah.
Siswi-siswi wajib berenang kalau tidak mau nilai olahraganya dikurangi, tidak perduli meskipun mereka pakai jilbab.
Falsafah sekolah adalah: peraturan sekolah harus diutamakan, peraturan Tuhan bisa diatur sesuai sikon, kehidupan beragama dipisahkan dari kehidupan sekular. Mungkin ini sebabnya di negara yang beragama ini banyak pejabat yang ibadahnya rajin, tetapi korupsi jalan terus.
7. Kecepatan pelajaran di kelas sering kali tidak sesuai dengan kecepatan individu setiap anak. Anak-anak berbakat yang jauh lebih maju  dari teman-teman sekelasnya dipaksa mengerjakan tugas-tugas yang ditetapkan guru. Anak yang sudah bisa membaca harus tetap  mengeja huruf. Anak yang sudah lancar menulis harus tetap menulis satu kalimat yang sama 100 kali meskipun dia ingin mengarang cerita. Kalau si anak menolak, dia dianggap membangkang guru. Sangat jarang anak-anak seperti ini boleh lompat kelas. Akibatnya mereka jenuh, tugas sekolah menjadi siksaan sekaligus penghinaan terhadap harga diri mereka.
Sementara anak-anak yang lambat seringkali ditinggal begitu saja. Seorang guru dengan blak-blakan mengatakan,”Dengan jumlah murid  yang banyak, guru tidak pasang target semua murid harus bisa.” Horor.
8. Percobaan sains di laboratorium yang dilengkapi peralatan ekstensif hanyalah pengulangan rutin dari pengetahuan pakem yang sudah jamak diketahui. Hasil percobaan yang ’salah’ tidak dihargai. Anak-anak sekolah dengan jas lab yang keren itu tidak akan pernah diizinkan melakukan percobaan sains  yang benar-benar eksperimental. Sayangnya anak-anak itu sudah diperbodoh sedemikian rupa sehingga tidak terpikirkan atau tidak berani protes.
9. Para siswa sekolah swasta dengan perpustakaan super lengkap ternyata tidak mempunyai waktu untuk membaca buku-buku koleksi perpustakaan. Terlalu banyak tugas sekolah, terlalu banyak ujian, terlalu banyak buku teks yang harus dibaca, tidak sempat lagi untuk membaca buku-buku lain. Jadi buat apa perpustakaan dengan rak-rak buku menjulang itu? Cuma polesan pemanis agar orang tua murid bersedia membayar SPP lebih mahal.
10. Sekolah membuat anak-anak berpikir bahwa hanya ada satu cara melihat masalah, hanya ada satu jawaban terhadap pertanyaan,  tidak boleh mempertanyakan atau pun menggugat segala hal yang ditetapkan oleh otoritas atau pakar atau kunci jawaban. Apa yang  tertulis di kunci jawaban itulah yang benar, tidak peduli kenyataan bilang apa, tidak peduli akal dan nalar bilang apa.
11. Sekolah mempunyai standar tersendiri tentang apa yang dihargai dan apa yang tidak, dan anak-anak harus menurut. Juara Olimpiade  Fisika, dihargai. Juara menulis, tidak terlalu. Anak-anak jadi sibuk berpikir apa yang menyenangkan guru-guru, bukan  dahaganya sendiri akan ilmu pengetahuan. Singkatnya, sekolah hanya mau menumbuhkan minat, kreativitas, daya pikir, dan potensi anak-anak yang sesuai dengan visi sekolah. Berapa banyak anak-anak yang bakatnya dimandulkan oleh sekolah karena sekolah tidak bisa menghargai bakat mereka? Mereka dipaksa belajar hal-hal trivial, tidak bermakna dalam kehidupan keseharian mereka, hanya demi nilai rapor dan penghargaan guru.
12. Kurikulum sekolah adalah tetap, tidak boleh diubah-ubah, tidak boleh disesuaikan dengan minat masing-masing anak.
Kurikulum yang saklek ini menjelaskan kenapa kebanyakan guru marah-marah jika murid bertanya. Murid-murid tidak perlu  bertanya karena guru sudah tahu arah kurikulum. Pertanyaan dari murid tidak disambut baik sebab mengganggu kelancaran  jalannya pelajaran saja.
Sering kali kita mendengar cerita orang tua yang bangga karena anaknya kritis dan banyak bertanya. Pasti anak jenius, kata orang tuanya, tetapi setelah si anak dimasukkan sekolah, anak itu dianggap bodoh oleh gurunya karena ya itu… dia banyak bertanya. Pantas saja jenius macam Edison dan Einstein tidak bertahan di sekolah.
13. Sekolah bukan tanpa pengaruh buruk pada kejiwaan. Orang-orang yang lulus dari sekolah, baik ranking atau pun tidak, memiliki perasaan rendah diri, merasa bodoh tetapi berpura-pura pintar, merasa was-was yang tidak dapat dijelaskan, depresi tanpa sebab, tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, rentan terhadap peer pressure (tekanan pergaulan rekanan sebaya), kecanduan pada belanja dan kepemilikan barang.
Pada masa-masa bertumbuh yang penting, anak-anak telah diekspos pada rasa takut yang sedemikian besar di sekolah. Takut hukuman guru, takut nilai jelek, takut kalau ranking jelek akan jadi orang tidak berguna, takut, takut… Selama masa itu anak-anak tidak boleh banyak berbicara, diajari bahwa yang penting adalah maunya sekolah, sedangkan yang penting dan nyata bagi mereka adalah hal-hal bodoh yang tidak begitu penting. Anak-anak dikungkung dalam tembok sekolah, hanya boleh bergaul dengan orang-orang seumur yang sama-sama bego, sama-sama tidak tahu bagaimana cara bersosialisasi yang baik, sama-sama tidak tahu dunia luar.
14. Sekolah memisahkan teori dari konteks, meramu ilmu secara sedemikian rupa sehingga menjadi amat sangat membosankan.
Sejarah menjadi hapalan kering tahun-tahun peperangan, matematika menjadi operasi angka-angka tidak bermakna, fisika menjadi hapalan rumus-rumus entah dari mana datangnya. Betapa banyak anak-anak yang jadi alergi matematika, fisika, sejarah, geografi gara-gara sekolah.
15. Sekolah menekankan pada hapalan, bukan pengertian utuh. Anak-anak yang mendapat nilai bagus di sekolah adalah anak-anak yang mahir menelan bulat-bulat hapalan, lalu mengeluarkannya tanpa ditelaah lagi saat ulangan. Tidak seperti disangka banyak orang, sekolah tidak berani kok mengajarkan logika kepada murid-muridnya.
Sekolah bukan tempat menjadi pintar melainkan tempat menjadi penurut. Kalau murid-murid sungguh-sungguh pintar, pasti susah diatur, banyak protes, guru-guru kalah ilmu, dan jangan-jangan murid-murid minta homeschooling semua.
16. Ada guru-guru sekolah yang paling takut apabila murid-murid lebih pintar dari mereka, dan mereka berupaya dengan segala cara untuk menunjukkan bahwa murid-murid lebih bodoh, baik dengan pe-er yang luar biasa sulit, mengeluarkan soal ujian yang tidak pernah diajarkan, maupun standar nilai yang tidak jelas dan sulit mencapai nilai tinggi. (Sebaliknya, orang tua yang menjalankan homeschooling bersyukur ketika anak-anak menjadi lebih pintar.)
17. Sering aku bertanya-tanya, kenapa dulu di sekolah “ini” tidak diajarkan? Bagi aku, “ini” adalah teori kepemimpinan, pengelolaan uang, manajemen waktu, cara negosiasi, dan cara berpikir kritis, yang kalau aku pikir sekarang sebenarnya pengetahuan dasar.
Pertanyaan itu sendiri cukup mengguncangkan aku, jangan-jangan sekolah bukan tempat ideal menghabiskan masa kecil.
Betul kata John Holt (bapak gerakan homeschooling), kebanyakan pelajaran yang diajarkan sekolah tidak dapat aku ingat, dan dari sedikit yang aku ingat ternyata tidak banyak berguna.
Aku yakin hanya lingkungan alami, yakni keluarga, orang-orang terdekat, dan kehidupan nyata yang bisa mengajarkan hal-hal penting untuk masa depan anak, bukan lingkungan artifisial bernama sekolah formal. Dari situ aku mulai berpikir, homeschooling, mengapa tidak?###

pengelolaan kelas yang berhasil

Pembaca sekalian, tulisan ini dibuat menyambut respon dari Ibu Ayu yang menanyakan mengenai indikator pengelolaan kelas yang berhasil. Uniknya melalui upaya menjawab pertanyaan beliau saya malah mendapat hal-hal yang baru. Salah satu yang membuat saya terkejut adalah perihal memberikan siswa konsekuensi, yang ternyata sama dengan mengancam siswa. Semuanya saya dapat dari situs teachers.net. silahkan menikmati indikator-indikator berikut ini.

1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
2. Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.
3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)
6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari
Ada dua hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak.
1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.

mengelola perilaku siswa, yaitu tegas dan sabar


Sebagai seorang guru, dalam keseharian ditangan kitalah tanggung jawab untuk mengelola perilaku siswa. Baik atau buruk perilaku siswa, tugas kita lah untuk merubah yang buruk dan memelihara hal yang baik dari siswa. Dalam beberapa tahun terakhir saya sebagai guru saya menemukan 2 resep yang bisa saya bagi dengan anda.
Tegas
Mohon bedakan tegas dan galak apalagi kejam, tegas berarti melakukan kewenangan kita sebagai guru agar siswa mau mengikuti peraturan atau disiplin yang telah digariskan di kelas dan di sekolah.
Tegas kepada perilaku siswa yang mengganggu iklim di kelas. Hal ini penting karena kepentingan bersama di kelas adalah untuk belajar dan mengajar.
Tegas kepada perilaku siswa bukan kepada siswanya. Jika kita tegas kepada siswa yang terjadi maka hanya kepada siswa-siswi tertentu lah kita akan tegas, dan bukan pada perilakunya. Tidak heran jika banyak kelas yang didalamnya ada ‘trouble maker’ sebutan itu ada karena guru tidak jeli kepada perubahan kecil ke arah lebih baik yang diperbuat oleh siswa terlanjur mendapat cap.
Sabar
Sikap sabar diperlukan karena kita percaya bahwa siswa cepat atau lambat akan berubah perilakunya buruknya. Banyak guru yang memilih mendidik dengan hati dan bukan dengan amarah. Hal ini karena mereka percaya bahwa apa yang mereka lihat dari siswa mereka sekarang belum tentu menjadi hal yang kekal saat siswa sudah menjadi dewasa nanti.
Sabar juga bisa berarti doa, saat melihat perilaku yang kurang dari siswa, jika yang kita lakukan adalah menyumpah dalam hati maka umpatan kita malah akan menjadi kenyataan. Bersikap sabar juga bisa berarti mendoakan yang terbaik bagi siswa, mendoakan perubahan sekecil apapun itu dari siswa kita dikelas.
Sabar membuat hari-hari kita sebagai guru menjadi lebih ringan dan lebih mudah. Sebaliknya jika kita tidak mempunyai kesabaran maka yang terjadi dalam banyak kesempatan sebagai guru yang kita lakukan hanya sibuk mengeluh dan mempertanyakan ‘kenapa’ dan ‘mengapa’ banyak sekali kekurangan di kelas kita. Bayangkan, maka hari-hari kita akan diisi oleh rasa pesimis dan lupa akan inovasi.

hal yang sering dilupakan para guru

robot-teacher-saya-japan-1.jpg
10. Belajar dari pengalaman guru lainnya
9. Punya waktu untuk diri sendiri
8. Punya kaidah pertahanan diri demi mencegah stress
7. Menabung, merencanakan pengeluaran dan tidak lebih besar pasak daripada tiang.
6. Punya peraturan di kelas
5. Mondar mandir atau berjalan-jalan saat mengajar, dan tidak duduk diam dibaik meja
4. Tidak kenal menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi siswa
3. Punya lingkaran teman sesama guru yang saling mendukung dan positif
2. Punya blog
Dan yang paling penting
1. Mau dan cepat belajar dalam hal mengelola kelas

Menciptakan kelas yang ‘ramah intelektual’? Kenapa tidak?


Dalam mengelola sebuah kelas terkadang kita hanya berorientasi pada upaya membentuk sebuah kelas yang ramah secara emosional. Artinya sebuah kelas diupayakan agar menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua secara emosional, baik untuk guru maupun siswanya bebas dari bullying, siswa kepada siswa, guru kepada siswa atau bahkan siswa kepada guru. Diharapkan dengan menjadi kelas yang ramah secara emosional semua warga di kelas bisa belajar dengan baik dan guru sebagai orang dewasa dikelas juga bisa mengajar dengan baik pula.
Tulisan ini akan membahas tahap lanjut dari sebuah kelas yang ramah secara emosional. Tahap yang saya maksudkan adalah sebuah kelas yang ramah secara intelektual. Sebuah kelas adalah gambaran sebuah masyarakat intelektual. Didalamnya terjadi pertukaran informasi, presentasi, diskusi dan semua hal yang membuat warga didalamnya tercerahkan dan mendapat pengetahuan baru yang berguna bagi hidupnya kelak.
Dengan demikian apa yang terjadi jika sebuah kelas tidak ramah intelektual? Maka yang terjadi adalah guru hanya menghantarkan pengetahuan yang bersifat satu arah. Tidak terjadi pertukaran informasi, diskusi dan tanya jawab yang berkualitas, aktivitas pembelajaran yang menantang bahkan inisiatif dari siswa sebagai subyek pembelajaran.
Dalam buku ‘Asking better question’ ada beberapa faktor yang membuat sebuah kelas menjadi kelas yang ramah secara intelektual.
  • Lay out kelas. Kelas yang baik tidak mempunyai susunan meja dan kursi yang berderet kebelakang. Tetapi usahakan agar siswa duduk berhadap-hadapan dalam grup. Biarkan mereka bekerja dalam center-center.
  • Buatlah interaksi dikelas yang melibatkan sebuah proses informasi. Sebaiknya hindari membuat siswa hanya mengulang dan menerima dengan pasif apa yang guru sampaikan. Usahakan membuat siswa menyelesaikan sebuah masalah secara bersama-sama, mencari pembuktian, menilai opini yang guru atau rekannya lontarkan.
  • Gunakan bahasa yang bernilai, artinya sebuah bahasa yang lebih dari sekedar pengertian yang akan ditelan mentah-mentah oleh siswa. Jadi biarkan siswa berhipotesa, mempertanyakan asumsi, membuat prediksi, dan menyimpulkan sesuatu.
  • Saat merencanakan pembelajaran dikelas, gunakan pertanyaan dan keingin tahuan siswa sebagai sebagai bumbu untuk membuat arah pembelajaran anda menjadi lebih menarik dimata siswa.

Resep mengelola perilaku siswa



200px-anak_sd_di_ciwidey.jpg
Perilaku manusia adalah hal yang sangat komplek sekali untuk dipelajari. Kita semua percaya bahwa semua perilaku adalah hasil proses pembelajaran yang terus menerus. Yang pada akhirnya tertanam dalam memori dan outputnya dapat kita lihat saat kita menghadapi krisis.

Dengan demikian ada dua pengertian penting yang bisa kita dapat dari perilaku yaitu :
  • Pengalaman-pengalaman yang kita alami sebelumnya dalam memecahkan sebuah masalah.
  • Campuran olahan kimia terbaru yang ada di otak kita.

Murid mungkin tidak punya keinginan utuk merubah pola dalam berprilaku di karenakan hal tesebut tidak cocok dengan apa yang dipandang baik oleh guru.
Lebih lanjut mereka yang ingin merubah perilaku namun kadang terperangkap oleh respon mereka terhadap hal yang sudah mereka alami.
Ada beberapa zat kimia yang ada dalam otak seperti cortisol,adrenalin, dan dopamine yang memainkan peranan penting sebagai pemicu memori. Semua hasil ingatan pengalaman tersebut disimpan didalam bagian otak yang dinamakan Amygdala. Amygdala adalah tempat otak menyimpan episode-episode ingatan kita dalam otak yang berperan dalam menyimpan penerimaan emosi yang banyak sekali.

Stimulan

Untuk mengerti perilaku anak didik yang tidak sesuai aturan di sekolah, kita perlu mengetahui stimulan apa yang menyebabkan kita atau anak dididik berperilaku seperti itu.
Ada bagian-bagian dari otak yang ternyata mendukung hal tersebut. Tetapi pada saat yang sama otak ternyata juga punya mekanisme untuk mengurangi hal tersebut untuk kemudian di rubah menjadi hal-hal yang membantu kita dalam bertindak.

Pada anak didik yang terjadi adalah mereka lebih mudah untuk mengingat ruangan-ruangan yang ada di ruangan merah otak mereka secara jelas dan kadang mereka sebut hal tersebut sebagai mimpi buruk.
Kejadian-kejadian yang ada di ruangan merah dan oranye otak dan bagaimana kita menanganinya membantu kita untuk membentuk kepribadian

Bagaimana menggunakan ruang-ruang yang ada di otak

Sekarang pikirkan sebuah situasi di kelas. Buatlah sebuah daftar yang akan mengirim anda menuju ruangan orange atau merah.
Reaksi anda dalam menangani perilaku murid kadang secara tidak sadar adalah merupakan reaksi yang impulsive (reaktif) menurutkan kata hati dan sayangnya diulang dan terus diulang.
Anak didik yang sedang melanggar aturan kadang menjadi bagitu cepat tanggap terhadap reaksi ruangan merah atau oranye dari guru atau orang yang ada di sekitarnya .
Indikasikanlah salah satu dari hal ini yang membuat anda begitu emosional.

Apa yang harus anak didik dan guru lakukan untuk mengendalikan perilaku


1. kesadaran emosional
  • mengenali emosi yang terjadi (marah, kecewa, sedih)
  • Secara mental siap untuk menghadapi situasi krisis
  • Mengerti sebab-sebab terjadinya insiden yang melibatkan perasaan emosi
2. Mengendalikan Emosi
  • Mampu mengekspresikan emosi tanpa menjadi reaktif
  • Mampu menunda kegembiraan yang berlebihan
  • Mengurangi kecurigaan
3. Empati, membaca emosi orang lain
  • Mampu melihat dari perspektif orang lain
  • Sensitif
  • Mengasihi orang lain
4. Motivasi diri
  • Bertanggung jawab terhadap tindakan kita
  • Mampu memfokuskan diri dalam setiap pekerjaan
5. Mengelola hubungan
  • Mampu mengerti dan menganalisis hubungan
  • Mampu mengelola dan meyelesaikan konflik
  • Mengambil peran sebagai pemimpin dan anggota grup
  • Mempunyai skill dalam berkomunikasi dengan orang lain
  • Mempunyai kemampuan berbagi, bekerjasama dan mendampingi orang lain.

Mengendalikan ruangan-ruangan yang ada dalam otak kita

Yang kita harus lakukan sekarang adalah menyemangati diri kita maupun siswa untuk dapat mengendalikan ruangan dalam otak kita. Berikut ini rincian yang harus kita lakukan :

Ruangan Biru

  • Menjadi termotivasi untuk mengontrol ruangan yang ada di otak mereka
  • Berusaha menggambarkan keuntungan apabila merubah perilaku mereka menjadi lebih baik.
  • Menggambarkan pencapaian yang realistis
  • Relaksasi

Ruangan Hijau

  • Mengenali dan menamai emosi dan respon psikologis
  • Mengerti penyebab dari insiden yang bersifat emosional
  • Mengelola pemicu-pemicu yang sifatnya negatif, mencari pemicu yang sifatnya positip.
  • Menulis tujuan-tujuan, berbagi dengan orang yang dipercayai.
  • Mengidentifikasikan kelemahan dan kekuatan.
  • Merencanakan pemecahan untuk mengetahui masalah
Ruangan Orange
  • Siapkan mental untuk membuat kesepakatan dengan situasi yang ada.
  • Tentukan pilihan yang terbaik berdasarkan rencana awal.
  • Jelaskan situasi-situasi yang berbeda dari bergagai macam sudut pandang
  • Ambil tanggung jawab dari setiap tindakan

Ruangan Merah

  • Arahkan diri sendiri dan orang lain dari stimulan atau pemicu yang negatif
  • Latihan bernapas
Jangan coba untuk mengaburkan inti masalah

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...