Kamis, 28 Juni 2012

MICROTEACHING




Pelaksanaan pembelajaran baik dalam sekala besar maupun kecil bahwa  keefetifan guru, menurut Moedjiarto, 2002:68,4 merupakan salah satu karakteristik yang berpengaruh pada prestasi akademik siswa di sekolah. Artinya semakin efektif seorang guru melakukan tugas dan kegiatannya, maka akan semakin tinggi  prestasi akademik siswa yang diperolehnya. Keefektifan pembelajaran akan terjadi apabila guru telah secara mateng mengkaji berbagai tenis, strategi dan metode dan segala yang terkait denga tugasnya serta ia pernah memperaktikkannya di dalam kegiatan microteaching.
Microteaching (Suwarna, 2006:26)5  sebagai proses menuju guru yang profesional yang menjadi bagian dari tugas mahasiswa untuk berlatih baik di ruangan kuliah atas bimbingan dosen ataukah di tempat lain yang memungkinkannya untuk dapat melaksanakan microteaching.  Tugas ini harus telah dilaksanakan oleh mahasiswa mulai dari  persiapan pengajaran, pelaksanaan dan tindak lanjutnya dengan menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
Dengan perkuliahan microteaching ditujukan untuk membentuk guru yang efektif dan profesional  

PENGERTIAN MICROTEACHING

            Microteaching (bahasa Iggeris) terdiri dari dua unsur kata yaitu micro yang berarti kecil dan teaching berarti pengajaran (Wojowasito).1 Berdasarkan  gabungan kedua kata tersebut maka kata microteaching berarti pengajaran dalam bentuk kecil. Pengajaran yang dilakukan dalam ruangan khusus tempat peraktik pengajaran atau peserta didik yang diajarkan sebagai objek pelatihan pembelajaran terbatas berbeda dengan jumlah peserta didik dalam kelas normal dan komponen keterampilan mengajar terbatas, juga memperkecil ruang lingkup pembahasan dan waktu yang digunakan untuk mengajar.  Yatiman (1999)2 mengutip definisi dari Richard N. Jensen (1974) microteaching adalah suatu sistem yang memungkinkan seorang calon guru mengembangkan keterampilannya dalam menerapkan teknik mengajar tertentu. Dengan demikian tugas yang diperaktikkan dalam ruangan tersebut terbatas pada hal-hal tertentu. Mc. Laughlin & Moulton mengemukakan pengajaran mikro adalah metode latihan penampilan yang dirancang secara jelas dengan jalan mengisolasi bagian-bagian komponen dari proses mengajar, sehingga guru ( calon guru )  dapat menguasai setiap komponen satu persatu dalam situasi mengajar yang disederhanakan ( Hasibuan )3    Dapat saja keterampilan yang ditunjukkan oleh calon guru atau mahasiswa satu atau dua keterampilan, seperti  keterampilan membuka pembelajaran, ataukah keterampilan penguasaan materi, keterampailan bertanya ataukah keterampilan menutup pembelajaran, keterampilan memberikan penguatan ataukah keterampilan mengadakan variasi, keterampilan mengelola kelas ataukah keterampilan mengkondisikan belajar yang optimal, dan sebagainya. Selain mengembangkan keterampilan yang telah dimiliki juga hendaknya memperbaiki keterampilan tersebut agar lebih baik dari sebelumnya.
 Hasibuan mengutip Mc. Knight, 1971, Pengajaran mikro dirumuskan sebagai pengajaran dalam sekala kecil atau mikro yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan dan memperbaiki keterampilan yang lama.4  Pengertian mocro teaching ini ( Soetomo, 1993: 75)5 adalah pengajaran yang terbatas, yang dilaksanakan dengan jumlah murid yang diperkecil (5 -10 orang), alokasi waktu dipersingkat (10 – 15 menit ), kegiatan mengajar dilakukan dengan fokus keterampilan mengajartertentu ( misalnya keterampilan bertanya), dan denganbahan pelajaran yang mencakup satu dua aspek yang sedrhana. Pengajaran mikro dilaksanakan berdasarkan ciri-ciri yang sesuai  dengan apa telah disebutkan pada definisi tersebut.
 Ciri-ciri mikro pengajaran antara lain :
1) dilaksanakan dalam ruang, waktu, materi, siswa dan  tujuan yang terbatas,
2) pengajaran mikro lebih teliti dan mendalam karena dilaksanakan langsung bersama supervisor dengan mendapat penilaian dan perbaikan dari peserta dan tim penilainya  sehingga hasil pembelajarannya dapat disaksikan langsung,
3) pengajaran mikro membutuhkan media rekam untuk mengenal diri untuk perbaikan di masa mendatang.      
            Berdasarkan ciri-ciri tersebut jelas ada perbedaan antara pengajaran  macro atau pengejaran  sebenarnya dalam sekala besar dengan pengajaran yang berlangsung dalam microteaching.




TUJUAN MICROTEACHING
            Sebagaimana diketahui microteaching merupakan proses pelatihan para calon guru dalam skala kecil yang dititik beratkan pada penguasaan beberapa keterampilan saja maka tujuannyapun terbatas pada hal-hal tersebut. Suwarna6 mengemukakan beberapa tujuan microteaching sebagai berikut.    
  1. Menemukan tingkah laku calon pengajar dan memperoleh umpan balik sebagai hasil supervisi,
  2. Menemukan dan melengkapi pengajaran yang bersifat dinamis dalam proses belajar mengajar
  3. Menemukan model-model penampilan seorang guru dalam pembelajaran, menggunakan hasil supervisi sebagai dasar diagnostik dan remidi untuk mencapai tujuan latihan keterampilan
Hasibuan7 mengutip, Dwight Allen, tujuan pengajaran mikro adalah :
a.Bagi mahasiswa calon guru :
      1)  Memberi pengalaman mengajar yang nyata dan latihan sejumlah keterampilan dasar mengajar secara terpisah.
      2)  Calon guru dapat mengembangkan keterampilan mengajarnya  sebelummereka terjun kekelas yang sebenarnya
      3)   Memberikan kemungkinan bagi calon guru untuk mendapatkan bermacam-macam keterampilan dasar mengajar serta memahami kapan dan bagaimana keterampilan itu diterapkan
b. Bagi guru
      1)   memberikan penyegaran dalam program pendidikan
      2)  guru mendapatkan pengalaman pengajaran yang bersifat individual demi demi perkembangan profesinya
      3)  mengembangkan sikap terbuka bagi guru terhadap pembaharuan yang berlangsung di pranatan pendidikan
Guru maupun mahasiswa atau calon guru masing-masing mendapat pengerauh dari pelaksanaan microteaching karena mereka terlibat secara langsung dalam merubah sikap mengajar dan dalam usaha meningkatkan diri sebagai guru yang efektif dan profesional.    

FUNGSI MICROTEACHING
Fungsi pengajaran mikro :
Untuk mengetahui umpan balik tampilan guru untuk mengetahui performance (tampilan kinerja diri sendiri si guru)
Tingkat performance :
  1. Imitating (peniruan), duplicating (mengadakan duplikasi) repeating (mengulan)
  2. Recognizing (mengingat kembali) recolling (hubungan kembali) classifying (mengkelasifikasi)
  3. Comparing (membanding), relating (menghubungkan), reformulating (merumuskan kembali), ilustrating (membuat ilustrasi)
  4. Expaling (menjelaskan), justifying (memutuskan yang lebih bai) predicting (meramal), estimating (memperkirangn) interpreting (menginterprpretasi) making chatical (membuat kritik).
  5. Creating (mencipta), discopering (menemukan), organizing (menyusun hipotese baru), formulating new problems (menyusun masalah)8

MANFAAT  PENGAJARAN  MIKRO
Sebelum kegiatan pengajaran yang sebenarnya, terlebih dahulu dilakukan pengajaran mikro agar pembelajaran makro lebih efektif. Suwarna mengemukakan pentingnya pengajaran adalah untuk mempersiapkan mental guru dengan baik sebelum melaksanakan tugas profesional keguruan dengan sebenarnya yang meliputi keterampilan membuat persiapan mengajar, terampil dalam  pelaksanaan pembelajaran, keterampilan melakukan  evaluasi, membantu calon guru untuk melakukan  tindak lanjut proses belajar mengajar.9  Dengan membekali mahasiswa melalui pengajaran mikro, (Hasibuan ,2008:51)10, ada beberapa manfaat yang diperoleh, yakni :  a) menimbulkan, mengembangan, dan membina keterampilan-keterampilan tertentu calon guru atau guru dalam mengajar, b) keterampilan mengajar yang esensial secara terkontrol dapat dilatihkan, c) balikan (feed back) yang cepat dan tepat dapat segera diperoleh, d) latihan memungkinkan penguasaan komponen keterampilan mengajar secara lebih baik, e) dalamsituasilatihan, calon guru dapat memusatkan perhatian secara khusus kepada koponen keterampilan yang objektif, f) menuntut dikembangkannya pola observasi yang sistematis dan objektif, g) mempertinggi efesiensi dan efektivitas enggunaan sekolah praktik dalam waktu praktek mengajar yang relatif singkat.

TAHAPAN PELAKSANAAN MICROTEACHING
Pengajaran mikro sama halnya dengan pengajaran di kelas yang sesungguhnya yaitu mempunyai tahapan tertentu yangharus dilalui guru atau calon guru. Tahapan menurut Hasibuan11 terdiri dari tiga yaitu :  tahap kognitif, tahap latihan, tahap balikan. Secara berturut calon guru hendaknya mengenal apa dan bagaimana pengajaran mikro, kemudian mengadakan pelatihan dalam kelompok kecil dengan materi, waktu dan keterampilan yang terbatas di depan  supervisor yang berfungsi untuk mengevaluasi dan selanjutnya memberikan balikan dan masukan kepada calon guru agar ia dapat melaksanakan pembelajaran di masa yang akan datang dengan lebih baik.
 Selanjutnya Hasibuan12 mengutif uraian Mapasso dan La Solo tentang langkah pelaksanaan pengajaran mikro sebagai berikut :
1) pengenalan tentang microteaching,
2) penyajian model dan diskusi,
3) perencanaan / persiapan microteaching,
4a) eraktik microteaching,
4b) observasi / perekaman,
5) diskusi / umpan balik,
6) perencanaan / persiapan ulang,
7a) praktek „ reteach”,
7b) observasi / perekaman ulang,
8) diskusi / umpan balik ulang.
  Dengan demikian, kata Soetomo13,  dimungkinkan untuk mengadakan observasi yang lebih cermat dan pencatatan yang lebih teliti, yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan untuk didiskusikan tentang penampilan yang bersangkutan, segi-segi mana yang masih ada kelemahan dan segi mana yang perlu perbaikan.  Dalam pelaksanaannya pengajaran mikro sebenarnya tidah jauh berbeda dengan pengajaran makro karena kedua macam pengajaran ini masing-amsing memerlukan persiapan. Guru dan calon guru atau mahasiswa perlu mempersiapkan  antara lain :
1.      apa yang diinginkan untuk dipelajari siswa
2.      tujuan pembelajaran apa yang sesuai dengan materi dan keadaan
3.      topik dan tugas apa pantas untuk disajikan
4.      metode serta pendekatan mana yang dapat digunakan agar sesuai selera materi, siswa, guru dan keadaan tertentu
5.      bagaimana mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan.
6.      sebagai guru yang ingin sukses bagaimanakah langkah agar menjadi guru yang efektif seperti persiapan tampilan, model, sikap bersama pembelajar sehingga masing-masing antara guru dan siswa saling ada keterkaitan menuju kesuksesan mencapai tujuan pembelajaran.
















      










Catatan:
  1. Prof. Drs. S. Wojowasito, Drs. Tito Wasito W., Kamus Inggris Indonesia – Indonesia Inggris,  Hasta, Badung, 1980,
  2. Yatiman, P. (1999), Pemberdayaan Supervisor dan Praktikandengan VariasiModel Pengajaran Mikro, Makalah
  3. Drs.J.J. Hasibuan, Dip.Ed.& Drs. Moedjono, Proses Belajar Mengajar (2008), Remaja Rosda Karya, Bandung, hal. 44
  4. Ibid
  5. Drs. Soetomo, 1993, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, Usaha Nasional, Surabaya, hal.  75
  6. Suwarna, M.Pd. dkk, 2006, Pengajaran Mikro, Tiara Wacana, Yogjakarta, hal. 5
  7. Hasibuan, Op Cit.
  8. Suwarna, Op cit. hal.6
  9. Ibid
  10. Hasibuan, Op cit.
  11. Ibid
  12. Ibid

Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together)



Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan  akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen  dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil belajar akademik stuktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan keterampilan social
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan tiga langkah yaitu :
a)      Pembentukan kelompok;
b)      Diskusi masalah;
c)      Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh  Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :
  1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
  2. Memperbaiki kehadiran
  3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
  4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
  5. Konflik antara pribadi berkurang
  6. Pemahaman yang lebih mendalam
  7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
  8. Hasil belajar lebih tinggi

Motivasi


BAB II
PEMBAHASAN
1.1       Pengertian Motivasi
Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern(kesiap-siagaan). Berawal dari kata ” motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah aktif . Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu,terutama bila dibutuhkan untuk mmencapai tujuan sangat dirasakan /mendesak
Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin Melakukan aktivitas belajar.

Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa terjadi perbedaaan motivasi belajar pada diri masing-masing orang,Maslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkat di antaranya:
  • Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, dan hasrat seksual
  • Perbedaan rasa aman (safety needs), baik secara mental, fisik, dan intelektual
  • Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs) yang diterimanya
  • Perbedaan harga diri (self esteem needs). Contohnya prestise memiliki mobil atau rumah mewah, jabatan, dan lain-lain.
  • Perbedaan aktualisasi diri (self actualization), tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Ahli lain Mc.Cleland berpendapat bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang mendasar yaitu :
1.      Kebutuhan akan Kekuasaan : Kebutuhan kekuasaan terwujud dalam keinginan mempengaruhi orang lain.
Sebagai ilustrasi : Seorang siswa kelas dua SMP mengajak teman – temannya berkemah. Jika sebagian teman merasa sepakat, ia merasa senang, jika ada yang membantah, ia berupaya agar teman tersebut menyetujuinya.
2.      Kebutuhan untuk Berafiliasi : Kebutuhan berafiliasi tercermin dengan terwujudnya bersahabat dengan orang lain.
Sebagai ilustrasi : Seorang siswa menghimpun rekan bermain tenis meja, tanpa membedakan asal usul , kebutuhan berprestasi terwujud dalam keberhasilan melakukan tugas yang di bebankan.  
3.      Kebutuhan Berprestasi
Sebagai ilustrasi : seorang siswa memimpin untuk memenangkan permainan bola voli menghadapi sekolah , siswa tersebut juga ikut lomba baca puisi dan memenangkan.
1.2              Pentingnya Motivasi dalam Belajar
Penelitian psikologi banyak menghasilkan teori – teori motivasi prilaku, subyek terteliti dalam motivasi  ada yang berupa hewan dan ada yang berupa manusia. Peneliti yang menggunakan hewan adalah tergolong peneliti biologis dan behaviorisme. Peneliti yang menggunakan terteliti manusia adalah peneliti kognitif.temuan ahli – ahli tersebut bermanfaat untuk bidang industri, tenaga kerja, urusan pemasaran, rekruiting militer, konsultasi dan pendidikan. Para ahli berpendapat bahwa motivasi prilaku manusia berasal dari kekuatan  mental umum, insting , dorongan, kebutuhan, proses kognitif, dan interaksi.
Prilaku yang penting bagi manusia adalah belajar dan bekerja, belajar menimbulkan perubahan mental pada diri siswa. Bekerja menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri pelaku dan orang lain.motivasi belajar dan bekerja merupakan penggerak kemajuan masyarakat. Kedua motivasi tersebut perlu dimiliki oleh siswa SLTPdan SLTA. Sedangkan Guru SLTP dan SLTA dituntut memperkuat motivasi siwa SLTPdan SLTA. (Monks,Knoers,SitiRahayu,1989;Biggs&Telfer,1987;Winkel,1991).
Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut :
1)      Menyadarkan Kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir
Sebagai Ilustrasi : setelah seorang siswa membaca suatu bab buku bacaan, di bandingkan dengan temannya sekelas yang juga membaca bab tersebut, ia kurang berhasil menangkap isi dari buku tersebut, sehingga ia terdorong untuk membaca lagi.
2)       Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar
Sebagai ilustrasi : jika terbukti usaha belajar seorang siswa belum memadai, maka ia berusaha setekun temannya yang belajar dan berhasil.
3)       Mengarahkan kegiatan belajar
Sebagai Ilustrasi : setelah ia ketahui bahwa dirinya  belum belajar secara serius, terbukti banyak bersenda gurau misalnya, maka ia akan mengubah prilaku belajarnya.
4)       Membesarkan Semangat Belajar
Sebagai ilustrasi : jika ia menghabiskan dana belajar dan masih ada adik yang di biayai orangtua, maka ia berusaha agar cepat lulus.
5)       Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja
( di sela – selanya adalah istirahat dan bermain) yang berkesinambungan; individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat belajar.
Sebagai ilustrasi : setiap hari di harapkan siswa untuk belajar di rumah, membantu pekerjaan orang tua, dan bermain dengan teman yang sebaya, apa yang dilakukan di harapkan dapat berhasil dan memuaskan.
Kelima hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya motivasi tersebut disadari oleh pelaku sendirinya. Bila motivasi di sadari oleh pelaku, maka sesuatu pekerjaan, dalam hal ini tugas belajar akan terselesaikan dengan baik.
Motivasi belajar juga penting diketahui  oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru , manfaat itu sebagai berikut :
1)      Membangkitkan , meningkatkan dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil; membangkitkan,bila siswa tidak bersemangat;meningkatkan,bila semangat belajarnya timbul tenggelam;memelihara, bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan belajar.
2)      Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam – macam ; ada yang acuh tak acuh, ada yang tidak memusatkan perhatian, ada yang bermain di samping  yang semangat untuk belajar.di antara yang bersemangat belajar ada yang yang tidak berhasil dan berhasil.dengan bermacam ragamnya motivasi belajar tersebut, maka guru dapat menggunakan bermacam – macam  strategi belajar mengajar.
3)       Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu di antara bermacam – macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi,penyemangat,pemberi hadiah dan pendidik.
4)       Memberi peluang guru untuk ” unjuk kerja rekayasa pedagois, tugas guru adalah membua semua siswa belajar sampai berhasil. Tantangan profesionalnya justru terletak pada mengubah ” siswa tak berminat menjadi bersemangat belajar.”mengubah” siswa cerdas yang acuh tak acuh menjadi bersemangat belajar.
1.3              Jenis dan Sifat Motivasi
Motivasi sebagai kekuatan mental  individu memiliki tingkat – tingkat, para ahli ilmu jiwa mempunyai pendapat yang berbeda tentang kekuatan tersebut. Perbedaan pendapat tersebut umumnya didasarkan pada penelitian tentang prilaku belajar pada hewan, meskipun mereka berbeda pendapat tentang tingkat kekuatannya,tetapi umumnya mereka sependapat baha motivasi tersebut dapat di bedakan menjadi dua jenis yaitu Motivasi Primer dan Motivasi Sekunder.
Para ahli psikologi berusaha menggolong-golongkan motif-motif yang ada dalam diri manusia atau suatu organisme, ke dalam beberapa golongan menurut pendapatnya masing-masing. Woodworth menggolongkan dan membagi motif-motif tersebut menjadi tiga jenis :
1)      Kebutuhan-kebutuhan organis (Organic Motive)
Motif ini berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam tubuh (kebutuhan-kebutuhan organis), seperti : lapar/haus, kebutuhan bergerak dan beristirahat/tidur, dan sebagainya.
2)      Motif-motif darurat (Emergency Motive)
Motif ini timbul jika situasi menuntut timbulnya tindakan yang cepat dan kuat karena perangsang dari luar yang menarik manusia atau suatu organisme. Contoh motif ini antara lain : melarikan diri dari bahaya, berkelahi dan sebagainya
3)      Motif-motif obyektif (Objective Motive)
Motif obyektif adalah motif yang diarahkan/ditujukan ke suatu obyek atau tujuan tertentu di sekitar kita. Motif ini timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita (kita menyadarinya).
Contoh : motif menyelidiki, menggunakan lingkungan.
Selain pengklasifikasian di atas, Burton menggolongkan/membagi motif-motif tersebut menjadi dua, yaitu motif intrinsik dan motif ekstrinsik :
1. Motif Intrinsik : Motif intrinsik adalah motif yang timbul dari dalam seseorang untuk berbuat sesuatu atau sesuatu yang mendorong bertindak sebagaimana  nilai-nilai yang terkandung di dalam obyeknya itu sendiri.
Motivasi intrinsik merupakan pendorong bagi aktivitas dalam pengajaran dan dalam pemecahan soal. Keinginan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, keinginan untuk memahami sesuatu hal, merupakan faktor intrinsik yang ada pada semua orang .
2. Motif Ekstrinsik : Motif ekstrinsik adalah motif yang timbul dari luar/lingkungan. Motivasi ekstrinsik dalam belajar antara lain berupa penghargaan, pujian, hukuman, celaan atau ingin meniru tingkah laku seseorang.
Teori behaviorisme menjelaskan motivasi sebagai fungsi rangsangan (stimulus) dan respons, sedangkan apabila dikaji menggunakan teori kognitif, motivasi merupakan fungsi dinamika psikologis yang lebih rumit, melibatkan kerangka berpikir siswa terhadap berbagai aspek perilaku.
1.4              Strategi  Guru untuk Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa
1)      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2)      Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3)       Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4)      Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5)       Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6)       Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7)       Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8)       Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9)       Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10)   Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
1.5              Prinsip Motivasi Belajar
Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang mantab serta diakibatkan oleh pengalaman. Belajar adalah suatu hal yang membedakan antara manusia dan binatang. Ada banyak perilaku perubahan pengalaman, serta dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar. Para ahli pendidikan dan psikolog sependapat bahwa motivasi amat penting untuk keberhasilan belajar.
Pembahasan motivasi belajar tidak bisa terlepas dari masalah-masalah psikologi dan fisiologi, karena keduanya ada saling keterkaitan.  Yang perlu di pahami dalam Prinsip-prinsip motivasi belajar adalah sebagai berikut:
  • Memuji lebih baik daripada mencela.
Perlu diketahui bahwa manusia cenderung akan mengulangi perbuatan yang mendapat pujian atau apresiasi dari pihak lain
  • Memenuhi kebutuhan psikologi
  • Motivasi intrinsik lebih efektif daripada ekstrinsik
  • Keserasian antara motivasi
  • Mampu manjelaskan tujuan pembelajaran
  • Menumbuhkan perilaku yang lebih baik
  • Mampu mempengaruhi lingkungan
  • Bisa diaplikasikan dalam wujud yang nyata.
Dalam proses pembelajaran, meningkatkan motivasi belajar melibatkan pihak-pihak sebagai berikut.
1. Siswa
Siswa bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri untuk meningkatkan motivasi belajar pada dirinya agar memperoleh hasil belajar yang memuaskan.  Motivasi berupa tekad yang kuat dari dalam diri siswa untuk sukses secara akademis, akan membuat proses belajar semakin giat dan penuh semangat.
2. Guru
Guru bertanggungjawab memperkuat motivasi belajar siswa lewat penyajian bahan pelajaran, sanksi-sanksi dan hubungan pribadi dengan siswanya. Dalam hal ini guru dapat melakukan apa yang disebut dengan menggiatkan anak dalam belajar. Usaha-usaha yang digunakan dalam mengiatkan  adalah :
a. Mengemukakan pertanyaan
b. Memberi ganjaran
c. Memberi hadiah
d. Memberi hukuman/sanksi
Kreativitas serta aktivitas guru harus mampu menjadi inspirasi bagi para siswanya. Sehingga siswa akan lebih terpacu motivasinya untuk belajar, berkarya, dan berkreasi. 
3. Orang tua atau keluarga dan lingkungan
Tugas memotivasi belajar bukan hanya tanggungjawab guru semata, tetapi orang tua juga berkewajiban memotivasi anak untuk lebih giat belajar. Selain itu motivasi sosial dapat timbul dari orang-orang lain di sekitar siswa, seperti dari tetangga, sanak saudara, atau teman bermain. 
Fungsi keluarga adalah sebagai motivasi utama bagi peserta didik, karena memiliki intensitas yang lebih tingi untuk menanamkan motif-motif tertentu bagi proses pembelajaran anak.
Hal paling mendasar yang digunakan sebagai motivasi dasar dalam islam adalah, pentingnya menanamkan unsur-unsur ideologi dalam proses pembelajaran, sehingga dalam proses perjalanan pembelajaran siswa tidak mengalami kegoncangan jiwa yang bisa menghambat hasil dari pendidikan itu sendiri. 
1.6              Motivasi Pembelajaran
Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut)  ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar.
Ada pandangan yang menyebutkan bahwa pendidikan itu didapat oleh siswa, bukan diterima. Pandangan senada menyatakan bahwa guru tidak dapat memberikan pendidikan apapun kepada siswa, tetapi siswa itulah yang harus mendapatkannya. Pandangan-pandangan yang menekankan faktor penting keaktifan siswa ini tentu saja tidak bermaksud mengecilkan arti penting pengajaran. Namun pada kenyataannya pengajaran menjadi sesuatu yang terabaikan. Memang pada akhirnya hasil yang dicapai oleh siswa dari belajarnya tergantung pada usahanya sendiri, tetapi bagaimana usaha itu terkondisikan banyak dipengaruhi oleh faktor pengajaran yang dilakukan oleh guru.
Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk belajar.
a)      Peran Motivasi dalam Proses Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin. Motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha belajar siswa.
Peranan guru untuk mengelola motivasi belajar siswa sangat penting, dan dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas belajar yang didasarkan pada pengenalan guru kepada siswa secara individual.
Berbagai faktor yang mempengaruhi motivasi dapat dijelaskan dengan menggunakan berbagai teori, di antaranya Maslow dengan hierarki kebutuhannya, kebutuhan untuk berprestasi, teori atribusi, dan model ARCS. Berbagai faktor yang dijelaskan perlu dipahami dan dipertimbangkan dalam merancang kegiatan pembelajaran.



b)      Lingkungan Belajar yang Memotivasi Proses Belajar Siswa
Usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa memerlukan kondisi tertentu yang mengedepankan keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Sejauh mungkin siswa perlu didorong untuk mampu menata belajarnya sendiri dan menggunakan interaksi antarpribadi dengan teman dan guru untuk mengembangkan kemampuan kognitif/intelektual dan kemampuan sosial. Di samping itu, keterlibatan orang tua dalam belajar siswa perlu diusahakan, baik berupa perhatian dan bimbingan kepada anak di rumah maupun partisipasi secara individual dan kolektif terhadap sekolah dan kegiatannya.
c)      Problematika motivasi siswa dalam belajar
Pemimpin adalah seorang yang mampu mempengaruhi orang lain, dengan beberapa persyaratan, antara lain, memiliki intelektualitas yang tingi, mampu melakukan hubungan sosial yang baik, kematangan emosional, fisik yang baik, imajiner dan mau berkerja keras. Akan tetapi dalam kenyataan di lembaga pendidikan  kita jarang dijumpai seorang guru yang memiliki kriteria di atas.
Ada beberapa persyaratan yang harus dimaksimalkan dalam memecahkan problematika tersebut, karena dalam kenyataanya manusia selalu mengharapkan adanya nasehat dan petunjuk dari orang lain sebagai bentuk kebutuhan primer dari fitrah manusia itu sendiri. Diantara problematika yang perlu di antisipasi dalam lembaga pendidikan kita adalah:
1. Kurangnya Memadukan Motif-Motif Kuat Yang Sudah Ada
Misalnya motif untuk menjadi sarjana tidak dipadukan dengan motif untuk  menonjolkan diri yang kebetulan ada pada diri siswa agar berhasil dalam belajar.
2. Tidak Adanya Kejelasan  Tujuan Yang Hendak Dicapai
Semakin jelas tujuan belajar semakin kuat motif untuk mencapainya, setidak-tidaknya semakin efektif berbuat. Oleh karena itu sangat ideal apabila guru merumuskan dengan jelas tujuan belajar.
3. Tidak Adanya Rumusan Tujuan Sementara
Suatu kegiatan yang mempunyai tujuan yang jauh dapat dipenggal-penggal hingga didapat tujuan sementara atau tujuan jangka pendek.
 4. Kurangnya Merangsang Pencapaian Kegiatan
Semakin dekat tujuan, semakin kuat motif untuk mencapainya. “Kedekatan tujuan” dapat dilakukan dengan membuat tujuan sementara, sebab mencapai tujuan sementara menyadarkan siswa dalam usaha mencapainya.
5. Tidak Adanya Situasi Persaingan
Pada umumnya dalam diri setiap individu ada usaha untuk menonjolkan diri atau ingin dihargai. Kecenderungan ini dapat disalurkan dalam persaingan sehat di mana guru menciptakan suasana setiap siswa giat berusaha.
6. Kurangnya Menumbuhkan Persaingan Dengan Diri Sendiri.
Siswa diberi tugas yang berbeda sehingga siswa itu sendiri yang akan melihat tugas mana yang paling baik hasilnya. Dengan demikian dia dapat mempergunakan upaya yang digunakan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang paling baik hasilnya.
7. Kurang Maksimalnya Laporan Hasil Yang Dicapai
Apabila telah selesai pekerjaan siswa maka beritahukan hasilnya sehingga dia semakin giat mencapainya lagi dengan lebih baik. Inilah keuntungan yang utama bila hasil pekerjaan diberitahukan pada setiap orang.
8. Tidak Adanya  Contoh Yang Positif Dari Pendidik
Guru yang mengharapkan sesuatu dari siswanya harus juga memperlihatkan yang dimintainya itu terpancang dalam diri guru. Dengan demikian siswa menilai guru tersebut bekerja baik. Hal ini menimbulkan kegairahan belajar dalam diri siswa. Lebih jelasnya, seorang guru harus mempunyai strategi pendekatan yang mampu mempengaruhi siswa dalam belajar.
1.7              Upaya-Upaya Peningkatan Motivasi
            Untuk menentukan upaya-upaya peningkatan motivasi, indikatornya banyak sekali. Karakteristik siswa dan mata pelajaran sangat menentukan untuk menentukan upay-upaya tersebut. Siswa yang mempunyai motivasi belajar dan berprestasi intrinsik yang kuat berbeda penanganannya dengan siswa yang bermotivasi belajar dan berprestasi ekstrinsiknya yang kuat. Siswa yang bermotivasi atau beraspirasi melanjutkan pendidikan, berbeda dengan siswa beraspirasi mencari pekerjaan setelah tamat SLTP. Begitu pula pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan motivasi belar IPA berbeda dengan mata pelajaran Bahasa Inggris, IPS, Bahasa Indonesia, atau Muatan Lokal. Di sisi lain faktor-faktor terjadinya penurunan motivasi belajar dan berprestasi juga turut menentukan pemilihan upaya yang akan dilakukan. Oleh karena itu sangat mustahil dalam tulisan ini untuk menyajikan upaya peningkatan motivasi sesuai dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran. Lagi pula (Davies, 1971) mengatakan sering terjadi strategi yang paling baik adalah tanpa menghiraukan ada atau tidak adanya motivasi, akan tetapi memusatkan pada penyampaian materi dengan cara yang begitu rupa sehingga motivasi siswa dapat dimunculkan dan diperkuat selama proses belajar. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan hasil belajar di atas juga merupakan upaya-upaya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa terutama siswa SLTP Terbuka.

Upaya – Upaya peningkatan motivasi, pada situasi pembelajaran secara umum :
a. Pengembangan Bahan Pembelajaran
      Pada sistem SLTP dan SMU Terbuka, siswa belajar secara mandiri melalui bahan belajar utama berupa modul cetak yang ditopang oleh berbagai media non cetak. Berbagai macam jenis media tersebut harus menarik dan mudah dipahami siswa, kalau tidak maka motivasi belajar dan motivasi berprestasi siswa akan menurun. Berarti upya peningkatan motivasi belajar dan berprestasi siswa SLTP dan SMU Terbuka dimulai dengan pengembangan bahan belajar mandirinya.
Upaya-upaya dan usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pengembanagan bahan belajar sudah dilakukan dengan mengacu kepada teknik-teknik, konsep-konsep atau teori-teori pengembangan dan penulisan modul. Misalnya, menggunakan ilustrasi, gambar, dan grafis, menggunakan bahasa yang sederhana sehingga memudahkan siswa memahaminya, penyajian materi dari yang sederhana ke kompleks, dari yang mudah ke sukar, dari yang konkrit ke yang abstrak, dan penampilan serta perwajahan berwarna.Penyediaan jenis media yang disesuaikan karakteristik mata pelajaran ini, dimungkinkan guru atau siswa dalam proses pembelajaran dapat memilih jenis media yang sesuai karakteristik dan pola pembelajaran yang diinginkannya, dan memungkinkan pemanfaatannya secara kombinasi. Berarti kehadiran berbagai jenis media, memungkinkan proses pembelajaran sesuai dengan minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa. Dengan kata lain kehadiran berbagai jenis media dalam sistem SLTP Terbuka, membuka dan mendorong motivasi siswa untuk melakukan aktivitas belajar dan mecapai keberhasilan dalam belajar. Berarti pemanfaatan media oleh siswa dan guru dalam proses pembelajaran secara maksimal akan memungkinkan peningkatan hasil belajar siswa. Perlu pula diperhatikan dan dicatat oleh Kepala sekolah, Guru Bina, dan Guru Pamong bahwa media atau sumber belajar di samping dapat meningkatkan pengaruh motivasional siswa, “misalnya seorang guru/tokoh masyarakat sebagai sumber belajar dapat bertindak sebagai motivator bagi seorang siswa, namun perlu hati-hati kadang-kadang pada saat yang sama ia justru menghancurkan motivasi siswa yang lain”.
b. Awal Pembelajaran
      Di TKB siswa belajar mandiri dan dalam kelompok kecil dibawah bimbingan atau kontrol dari Guru Pamong. Dalam 2 (dua) hari dalam seminggu mereka mengikuti belajar melalui tatap muka di SLTP Induk atau tempat lain, di bawah bimbingan Guru Bina (Guru Mata Pelajaran).
Pada awal pelajaran kelompok di TKB dan belajar melalui tatap muka, Guru Pamong dan Guru Bina, hendaknya memulai pelajaran atau pertemuan dengan
Pertama; Menyapa siswa, misalnya selamat berjumpa, selamat siang/sore dan diikuti dengan mencek kehadiran siswa; Kegiatan ini dimaksudkan untuk memusatkan perhatian siswa pada situasi pembelajaran yang akan di mulai. Dengan demikian baik fisik dan mentalnya terjaga dan siap mengikuti pelajaran. Memusatkan perhatian berarti motivasi siswa sudah mulai muncul;
Kedua; Mengutarakan mata pelajaran, judul, dan nomor modul yang akan dibahas atau didiskusikan, dan diikuti dengan penjelasan singkata materi yang lalu serta kaitannya dengan modul yang didiskusikan. Perhatian siswa terhadap mata pelajaran bersangkutan susdah lebih dipusatkan. Melalu penjelasan hubungan materi yang lalu dengan materi yang dibahas sekarang, berarti guru merangsang siswa untuk memunculkan informasi berupa fakta, konsep, prosedur, dan prinsip yang telah ada dalam ingatan jangka panjangnya (long term memory). Informasi yang telah dipunyai itu dapat mempermudah mempelajari informasi yang baru.
Ketiga; Membentuk kelompok (belajar kelompok di TKB); siswa diatur duduknya dalam kelompok yang dipimpin oleh seorang temannya, dan dijelaskan berapa lama mereka belajar mandiri, diskusi kelompok, dan diskusi dalam kelompok besar seluruh siswa di TKB tersebut. Melalui pengelompokan ini, berdasarkan teori belajar arah diri, siswa dapat berinteraksi antar teman, saling tukar menukar pendapat dan pikiran, dan dapat membahas masalah secara bersama. Melalui kegiatan semacam ini dapat mengembangkan konsep diri dan kemampuan memecahkan masalah bagi siswa. Pada sekolah-sekolah di negara Eropah kegiatan semacam ini ditunjang oleh komputer menggunakan bahasa LOGO dengan program grafik kura-kura (turtle graphics)
Untuk menunjang beberapa upaya tersebut di atas, pada setiap bagian pendahuluan modul, selalu menggunakan bahasa sapaan, kaitan isi modul dengan modul sebelumnya, tujuan, pokok-pokok materi, petunjuk cara mempelajari modul, dan petunjuk mengerjakan tes akhir modul sebagai balikan hasil belajar. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa waktu belajar mandiri.
c. Saat Proses Pembelajaran
Pertama; Membuat suasana kelas yang mengandung persaingan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan saksama, terarah, dan jelas secara umum kemudian perkelompok (per TKB pada tatap muka). Namun demikian, kurangi persaingan untuk memperoleh ganjaran dan kegiatan yang memberikan ganjaran yang berkaitan dengan akademik.
Kedua; Menciptakan kondisi kelas yang mendukung terjadinya interaksi antar siswa, saling menukar pengalaman dan pengetahuan melalui teknik atau metode diskusi;
Ketiga; Tingkatkan motivasi dan perhatian ke arah siswa yang kelihatan kurang perhatian atau motivasi dengan menggunakan kode gerakkan mata, intonasi suara yang sekali-sekali keras dan bersemangat.
Keempat; Manfaatkan dan gunakan berbagai macam media dan teknik atau metode secara bergantian sesuai dengan spsifikasi materi yang dibahas dan didiskusikan.
d. Akhir Pembelajaran
Pertama; Beriakan balikan (umpan balik) pada saat jawaban pertanyaan oleh siswa, hasil jawaban siswa setiap tes. Dalam memberikan balikan, guru hendaknya memberikan penjelasan jawaban yang benar seharusnya bagaimana, bila jawaban siswa hampir betul atau betul berikan pujian misalnya; bagus sekali, betul sekali dsb. Tetapi bila jawabannya belum betul, janganlah memberikan balikan dengan mengatakan salah, bodoh. Dalam hal ini, alangkah baiknya gunakan bahasa yang menyenangkan, misalnya, jawabanmu belum betul, atau kamu sebenarnya pintar mungkin belum berusaha dengan baik, dan sebagainya.
Kedua; Pada akhir pertemuan atau kegiatan, usahakan materi yang dibahas tadi dibuatkan atau dijelaskan secara singkat rangkumannya dengan tepat, jelas, dan singkat.
Ketiga; Pada akhir kegiatan perlu juga diperingatkan siswa waktu pertemuan lagi, kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan siswa sebelum kegiatan berikutnya, atau memberikan pekerjaan rumah.
Keempat; Pada sat kegiatan berakhir, ucapkan selamat sore atau siang, dan selamat bertemu lagi pada pertemuan yang akan datang.
Selain dari berbagai upaya tersebut di atas, ada pula upaya-upaya lain yang lebih umum dan di luar kegiatan pembelajaran di kelas, seperti berikut.
Pertama; Biasakan memberikan ganjaran berupa hadiah alat tulis, buku pelajaran, atau bea siswa bagi siswa yang masuk kategori 10 besar pada setiap tingkat kelas dan tiap semester.
Kedua; Pada waktu pembagian raport, siswa yang termasuk dalam 10 besar diumumkan di muka orang tua murid, dan dipanggil untuk maju dan berdiri di muka kelas.
Ketiga; Adakan kegiatan olah raga dan kesenian, pertandingan olah raga dan kesenian antar kelas, antar tingkat, dan atar sekolah. Berikan hadiah dan piagam bagi yang berhasil juara, baik perorangan maupun kelompok.
Keempat; Khusus siswa SLTP dan SMUTerbuka, berilah kesempatan mereka untuk mengikuti upacara penaikan dan penurunan bendera, sekali gus sebagai petugasnya. Lebih bagus kegiatan tersebut bergabung dengan siswa-siswa SLTP Induknya.
e. Kehadiran Guru Bina dan Guru
            Kehadiran guru bina dan guru pamong dalam pembelajaran tutorial tatap muka dan belajar di TKB akan meningkatkan motivasi belajardan motivasi berprestasi siswa. Guru mata pelajaran yang bersangkutan di samping membantu siswa memecahkan kesulitan, juga diharapkan meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya siswa yang bermotivasi rendah. Kehadiran guru mata pelajaran yang sehari-harinya mengajar dan sebagai guru SLTP reguler (Induk), memunculkan perasaan/keyakinan siswa bahwa mereka betul-betul bersekolah di SLTP Negeri, walaupun rata-rata hanya dua hari dalam seminggu bertemu dengan guru-guru mata pelajaran (guru bina) dan Kepala Sekolahnya. Pertemuan yang demikian, dapat memunculkan dan meningkatkan rasa senang, menambah wawasan, menambah jumlah kawan dari berbagai TKB dan dari SLTP Induk, dan bahkan dapat menghilangkan ketegangan. Kalau demikian kegiatan pembelajaran melalui tatap muka ini dapat meningkatkan motivasi belajar dan berprestasi siswa, khususnya siswa-siswa yang bermotivasi rendah. Hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan hasil belajar siswa. Perlu ditambahkan bahwa, penentuan waktu (hari dan jamnya) dalam pelaksanaan pembelajaran melalui tatap muka di SLTP Terbuka di dasarkan waktu luang bagi siswa itu sendiri. Pada sistem SLTP dan SMU Terbuka, selain ada pengelompokkan pada pembelajaran tatap muka, juga ada kegiatan belajar dalam kelompok kecil dan mandiri di TKB masing-masing. Pada waktu belajar di TKB, siswa dikelompokkan dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 5 orang siswa. Dalam kelompok kecil ini siswa diberikan kebebasan untuk menentukan waktunya berapa lama mereka belajar mandiri, kemudian berdiskusi untuk memecahkan kesulitan yang dialami setiap siswa, dan merumuskan kesulitan-kesulitan yang akan diajukan untuk didiskusikan seluruh siswa di TKB tersebut. Selama kegiatan belajar mandiri dan diskusi kelompok, guru pamong bersikap proaktif memonitor, memantau, mengarahkan, membantu memecahkan kesulitan bila kebenaran informasinya tidak diragukan. Suasana belajar rileks, tanpa ada tekanan, siswa bebas memilih mata pelajaran yang didiskusikan asal sesuai dengan jadwal yang ada. Kondisi belajar seperti ini memungkinkan gejolak emosi siswa pada taraf yang normal atau moderat sehingga memungkinkan pembangkitan dan peningkatan motivasi siswa. Berdasarkan berbagai sumber, pada saat emosi seseorang berada pada taraf moderat, akan membuka peluang munculnya motivasi termasuk motivasi belajar dan berprestasi
            Dalam kondisi emosi moderat. seseorang dapat melakukan aktivitasnya dengan baik, mampu membangkitan informasi-informasi dalam memorinya, baik memori jangka panjang maupun jangka pendek. Belajar itu sendiri akan berlangsung dengan baik dan efektif bila mampu mengkaitkan dan menghubungkan informasi yang sudah dimiliki dengan informasi-informasi yang baru.
1.8       Tips Meningkatkan Motivasi Belajar
Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi.

Tips-tips berikut untuk meningkatkan
motivasi belajar kita:
1.      Bergaullah dengan orang-orang yang senang belajar
Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan berprestasi, akan membuat kita pun gemar belajar. Selain itu, coba cari orang atau komunitas yang mempunyai kebiasaan baik dalam belajar.
2.      Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai tempat kepada orang-orang yang pernah atau sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-orang yang mendapat beasiwa belajar di luar negeri, atau
3.      orang-orang yang mendapat penghargaan atas sebuah presrasi.
Kebiasaan dan semangat mereka akan menular kepada kita. Seperti halnya analogi orang yang berteman dengan tukang pandai besi atau penjual minyak wangi. Jika kita bergaul dengan tukang pandai besi, maka kita pun turut terciprat bau bakaran besi, dan jika bergaul dengan penjual minyak wangi, kita pun akan terciprat harumnya minyak wangi.
4.      Belajar apapun
Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal maupun nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit komputer, belajar menulis, membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain lain-lainnya.
5.      Belajar dari internet
Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung dengan kumpulan orang-orang yang senang belajar. Salah satu milis dapat menjadi ajang kita bertukar pendapat, pikiran, dan memotivasi diri. Sebagai contoh, jika ingin termotivasi untuk belajar bahasa Inggris.
6.      Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran positif
Di dunia ini, ada orang yang selalu terlihat optimis meski masalah merudung. Kita akan tertular semangat, gairah, dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orang-orang atau berada dalam komunitas seperti itu, dan sebaliknya.
7.      Cari motivator
Kadangkala, seseorang butuh orang lain sebagai pemacu atau mentor dalam menjalani hidup. Misalnya: teman, pacar, ataupun pasangan hidup. Anda pun bisa melakukan hal serupa dengan mencari seseorang/komunitas yang dapat membantu mengarahakan atau memotivasi Anda belajar dan meraih prestasi.


Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...