Variabel penelitian ini adalah pelaksanaan kurikulum berbasis konpetensi. Untuk
memperoleh data digunakan alat pengumpul data yaitu (1) Angket yang bersifat tertutup
(2) Wawancara yang bersifat terpimpin (3) Observasi yang bersifat sistematik.
Pengumpulan dan pengolahan data
Langkah- langkah yang harus dilakukan dalam pengumpulan data adalah Tahap
Persiapan, tahap pelaksanaan, dan Pengolahan Data. Tahap persiapan digunakan untuk
mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan surat ijin penelitian, menguji
validitas angket yang telah disusun pada sampel per- cobaan, untuk mendapatkan angket
yang valid. Tahap pelaksanaan di lakukan dengan mengedarkan angket kepada setiap
responden, melaksana- kan wawancara kepada kepala sekolah dan siswa, serta
melakukan observasi terhadap dokumen Rencana Pengajaran (RP), Program tahunan
(Prota) dan soal-soal yang dibuat oleh guru kimia dan observasi terhadap kelengkapan
Laboratorium kimia. Data penelitian yang di kumpulkan, ditabulasi, dan dianalisis
dengan mencari Tingkat Keberhasil an KBK dengan menggunakan Rumus P = F/N x
100%. Dan kemudian dilakukan Penarikan Kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Sampel
Adapun Jumlah Responden yang menjawab Angket yang ditujukan kepada siswa kelas X
dan XI IA di SMA Kota Tanjung Balai berjumlah 751 orang, dengan perincian SMA
Negeri 1 sebanyak 175 siswa, SMA Negeri 2 sebanyak 175 siswa, SMA Negeri 3
sebanyak 113 siswa, SMA Swasta Tritunggal sebanyak 92 siswa, dan SMA Swasta
Sisingamangaraja sebanyak 196 siswa. Begitu juga dengan Jumlah Responden yang
menjawab Angket yang ditujukan kepada Guru kimia di SMA Kota Tanjung Balai
berjumlah 9 orang, dengan perincian SMA Negeri 1 sebanyak 3 guru, SMA Negeri 2
sebanyak 2 guru, SMA Negeri 3 sebanyak 1 guru, SMA Swasta Tritunggal sebanyak 1
guru, dan SMA Swasta Sisingamangaraja sebanyak 2 guru.
Pelaksanaan KBK Untuk Mata Pelajaran Kimia Di SMA Kota Tanjung Balai Dilihat Dari
22 Indikator
Pelaksanaan KBK Untuk Mata Pelajaran Kimia Di SMA Kota Tanjung Balai Dilihat Dari
22 Indikator secara jelas terdapat pada Tabel 1.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa pelaksanaan struktur kuri- kulum program studi ilmu
alam SMA di Kota Tanjung Balai idealnya sebesar (93,4%), persentase program
pencapaian hasil belajar idealnya sebesar (100%), tingkat keberhasilan guru kimia dalam
keterampilan me- laksanakan proses belajar mengajar kimia idaalnya sebesar (38%),
tingkat keberhasilan guru kimia dalam keterampilan melaksanakan evaluasi proses
belajar mengajar kimia idealnya sebesar (37,6%), Keterampilan menggunakan media
sumber idealnya sebesar (17,6%), Keterampilan mengelola kelas ideal nya sebesar
(35,2%), Keterampilan mengelola interaksi belajar mengajar kimia idealnya sebesar
(40,8%), Keterampilan mempersiapkan bahan ajar idealnya sebesar (60%), Ke-
terampilan melaksanakan penilaian dari segi prinsip dan tujuan idealnya sebesar (59,9%),
Keterampilan me laksanakan penilaian berkelanjutan idealnya sebesar (35%),
Keterampil- an melaksanakan penilaian kognitif idealnya sebesar (100%), Keterampil an
melaksanakan penilaian afektif idealnya sebesar (0%), Keterampilan melaksanakan
penilaian psiko motorik idealnya sebesar (51,4%), Kemandirian kepala sekolah dalam
melaksanakan KBK idealnya sebesar (42,7%), Tingkat keberhasilan pihak sekolah dalam
pengadaan sosialisasi kurikulum idealnya sebesar (26,7%), Usaha mendisiplinkan siswa
idealnya sebesar (20%), Pengembangan si- labus kimia idealnya sebesar (80%), Tingkat
keberhasilan pengawas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tanjung Balai
dalam pe- ngembangan sistem pemantauan idealnya sebesar (100%), Kelengkap an
fasilitas laboratorium kimia ideal nya sebesar (26,7%), Kelengkapan fasilitas
perpustakaan idealnya sebesar (35%), Pemberian Honorium idealnya sebesar (100%), Pe
ngembangan Materi kimia yang dilakukan oleh guru idealnya sebesar (89,3%).
Tabel 1. Persentase/ Tingkat Keberhasilan Pelaksanaan KBK Dilihat dari
22 Indikator di Kota Tanjung Balai
No
pe- laksanaan KBK dimana alat dan bahan kimia yang ada di 3 SMA jarang digunakan,
sedangkan di 2 SMA kota Tanjung Balai alat dan bahan kimia masih kurang memadai,
begitu juga dengan honorium yang diberikan kepada guru kimia yang melakukan
praktikum umumnya berjumlah sedikit, sehingga hal ini mengakibatkan praktikum kimia
sangat jarang dilakukan. Dan hal inilah yang mengakibatkan keadaan PKBS belum sesuai
dengan kondisi ideal KBK.
Gambar 3 Tingkat Kesesuaian Pelaksanaan Komponen Penilaian Berbasis Kelas di SMA Kota
Tanjung Balai (%)
Gambar 4 Tingkat Kesesuaian Pelaksanaan Komponen Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah
(PKBS) di SMA Kota Tanjung Balai (%)
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan Kurikulum Berbasis
Kompetensi untuk mata pelajaran kimia SMA di kota Tanjung Balai dilihat dari segi
komponen kurikulum dan hasil belajar idealnya sebesar ( 96,7%), Pelaksanaan
Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk mata pelajaran kimia SMA di kota Tanjung Balai
dilihat dari segi komponen Kegiatan Belajar Mengajar kimia idealnya sebesar ( 38,1%),
Pelaksanaan Ku rikulum Berbasis Kompetensi untuk mata pelajaran kimia SMA di kota
Tanjung Balai dilihat dari segi komponen Penilaian Berbasis Kelas idealnya sebesar
(49,2%), Pe- laksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk mata pelajaran kimia
SMA di kota Tanjung Balai di lihat dari segi komponen pengelolaan kurikulum berbasis
sekolah (PKBS) idealnya sebesar ( 57,8%), Tingkat Keberhasilan Pelaksanaan Ku
rikulum Berbasis Kompetensi di SMA Kota Tanjung Balai idealnya hanya sebesar
(37,1%- 57,8%)
SARAN
Perlu dilaksanakan Sosiali sasi KBK secara menyeluruh, guna membenahi Guru kimia
dalam meningkatkan kreativitas untuk me laksanakan kegiatan belajar mengajar kimia
dan Penilaian Berbasis Kelas yang sesuai dengan tuntutan KBK yang ideal, Perlu
dipersiapkan Fasilitas yang memadai seperti Laboratorium dan Perpustakaan oleh pihak
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan kelengkap an-kelengkapan belajar
yang me madai di sekolah oleh sekolah sebagai penyelenggara pendidikan dan guru
sebagai pelaksana pendidikan agar tuntutan dari KBK dapat terpenuhi secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Ant, (2004), Sekolah Berstandar Internasional Perlu Di perbanyak, Harian SIB, Senin, 1
November 2004.
Arikunto, S, 2001, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
, 2003, Prosedur
Penelitian, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Banjar, H, (2005), Semangat Berprestasi Yang Perlu Terus Menerus Di
tumbuhkembangkan, Harian Analisa, Jumat, 25 November 2005.
Departemen Pendidikan Nasional, (2003), Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia,
Jakarta.
Direktorat Pendidikan Menengah Umum Dirjen Dikdasmen Depdiknas, (2003), Pedoman
Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia, Jakarta.
Ibrahim, dan, Sudjana, N, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Penerbit Sinar Baru,
Bandung.
Mardapi, Dj, dan Ghofur, A, (2003), Pedoman Umum Pe ngembangan Penilaian, Proyek
Pelita, Depdiknas, Jakarta
Mulyasa, E, (2002), Kurikulum Berbasis Kompetensi, Penerbit Remaja Rosdakarya,
Bandung.
, (2004), Menjadi Kepala Sekolah Profesional Dalam Menyukseskan MBS dan
KBK, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung
, (2004), Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pem belajaran KBK,
Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.
Nadapdap, A, P, (2005), Beberapa Kendala Mengimplementas ikan KBK, Harian SIB,
Selasa 29 Maret 2005.
Nugraha, A, W, (2005), Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMA,
Pembekalan Mahasiswa PPL Jurusan Kimia Unimed, Medan.
Nurhadi, (2004), Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban, Penerbit Grasindo, Jakarta.
Simatupang, Z, dan Sianturi, P,(2004), Telaah Kurikulum Berbasis Kompetensi, Buku
Pegangan Kuliah Mahasis wa, FMIPA, Unimed, Medan.
Silitonga, P, M, (2005), Metodologi Penelitian, FMIPA, Unimed, Medan.
Sukmadinata, S, N, (2002), Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Penerbit
Remaja Rosdakarya, Bandung.
Unair, (2005), Tahun Ajaran Baru, Kurikulum Baru, http:// www.suara
merdeka.com/harian, Senin, 19 Juli 2004
Zubaedi, (2005), Membenahi Pendidikan Nasional, http:// www.warta
unair.ac.id/artikel/index/php, November 2004
Senin, 14 Maret 2011
Media Pembelajaran
Media PembelajaranKajian Pustaka: Media Pembelajaran
A. Media Pembelajaran
ImagePengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam Latuheru,1988:11). Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).
Jerold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara lain :
a. kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)
b. faktor ukuran (size); besar atau kecil
c. faktor warna (color): hitam putih atau berwarna
d. faktor gerak: diam atau bergerak
e. faktor bahasa: tertulis atau lisan
f. faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau gabungan antara gambar dan suara.
Selain itu, Jerold Kemp dan Diane K. Dayton (dalam Pribadi,2004:1.5) mengemukakan klasifikasi jenis media sebagai berikut :
a. media cetak
b. media yang dipamerkan (displayed media)
c. overhead transparancy
d. rekaman suara
e. slide suara dan film strip
f. presentasi multi gambar
g. video dan film
h. pembelajaran berbasis komputer (computer based learning)
Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga belajar). Pesan (informasi) yang disampaikan melalui media, dalam bentuk isi atau materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan (anak didik), dengan menggunakan salah satu ataupun gabungan beberapa alat indera mereka. Bahkan lebih baik lagi bila seluruh alat indera yang dimiliki mampu dapat menerima isi pesan yang disampaikan (Latuheru,1988:13).
Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata-kata, waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan.
Dari beberapa penjelasan media pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat, bahan ataupun berbagai macam komponen yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan untuk memudahkan penerima pesan menerima suatu konsep.
B. Fungsi dan Peranan Media Pembelajaran
Kehadiran media pembelajaran sebagai media antara guru sebagai pengirim informasi dan penerima informasi harus komunikatif, khususnya untuk obyek secara visualisasi. Dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam, khusunya konsep yang berkaitan dengan alam semesta lebih banyak menonjol visualnya, sehingga apabila seseorang hanya mengetahui kata yang mewakili suatu obyek, tetapi tidak mengetahui obyeknya disebut verbalisme. Masing-masing media mempunyai keistimewaan menurut karakteristik siswa. Pemilihan media yang sesuai dengan karakteristik siswa akan lebih membantu keberhasilan pengajar dalam pembelajaran. Secara rinci fungsi media memungkinkan siswa menyaksikan obyek yang ada tetapi sulit untuk dilihat dengan kasat mata melalui perantaraan gambar, potret, slide, dan sejenisnya mengakibatkan siswa memperoleh gambaran yang nyata (Degeng,1999:19).
Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad,2002:11) ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Fiksatif (fixative property)
Media pembelajaran mempunyai kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa/objek.
2. Manipulatif (manipulatif property)
Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.
3. Distributif (distributive property)
Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan yang terintegrasi dan secara bersamaan objek dapat menggambarkan kondisi yang sama pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian itu.
Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa fungsi dari media pembelajaran yaitu media yang mampu menampilkan serangkaian peristiwa secara nyata terjadi dalam waktu lama dan dapat disajikan dalam waktu singkat dan suatu peristiwa yang digambarkan harus mampu mentransfer keadaan sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan adanya verbalisme.
Proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik jika siswa berinteraksi dengan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi, semakin besar pula kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan siswa. Siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.
Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale (dalam Sadiman, dkk,2003:7-8) dalam klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, dimana partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman belajar yang diterima siswa. Penyampaian suatu konsep pada siswa akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan siswa terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep yang hanya melibatkan siswa untuk mengamati saja.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dengan penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagai contoh yaitu media pembelajaran komputer interaktif.
C. Teori Pengembangan Media
Berkembangnya komunikasi elektronik, membawa perubahan-perubahan besar dalam dunia pendidikan. Satu hal yang harus dihindari yaitu anggapan bahwa kedudukan guru akan digantikan oleh alat elektronik. Dengan keberadaan komunikasi elektronik, menambah pentingnya kehadiran guru. Berubahnya fungsi guru dan peranan guru dikaitkan dengan upaya untuk memecahkan salah satu masalah pendidikan yaitu, (1) dengan membebaskan guru kelas dari kegiatan rutin yang banyak, (2) melengkapi guru dengan teknik-teknik keterampilan kualitas yang paling tinggi, (3) pengembangan penyajian kelas dengan tekanan pada pelayanan perorangan semaksimal mungkin dalam setiap mata pelajaran, (4) mengembangkan pengajaran yang terpilih didasarkan pada kemampuan individual siswa. Dari penjelasan diatas tentang peran baru guru dalam dunia pendidikan diharapkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan, sehingga penggunaan berbagai macam media pembelajaran akan menggantikan berberapa fungsi instruksional dari guru (Sulaeman, 1988:24-25).
Pengembangan media pembelajaran didasarkan pada 3 model pengembangan yaitu model prosedural, model konseptual, dan model teoritik. Model prosedural merupakan model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Model konseptual yaitu model yang bersifat analitis yang memerikan komponen-komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen. Sedangkan model teoritik adalah model yang menunjukkan hubungan perubahan antar peristiwa.
Berdasarkan hal yang dikemukan diatas, pengembangan media berbantuan komputer interaktif yang dikembangkan mengikuti model prosedural dari The ASSURE, dimana langkah yang harus diikuti bersifat deskriptif yang terdiri dari 6 langkah yaitu analisis karakteristik siswa, penetapan tujuan, pemilihan media dan materi, pemanfaatan materi, pengikutsertaan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, evaluasi/revisi. Sedangkan model konseptual dari pengembangan media berbantuan komputer ini mengikuti teori belajar behavior yang dikemukakan oleh Gagne yaitu belajar yang dilakukan manusia dapat diatur dan diubah untuk mengembangkan bentuk kelakuan tertentu pada seseorang, atau mempertinggi kemampuan, atau mengubah kelakuannya (Nasution, 1988: 131), sehingga media pembelajaran yang dikembangkan berdasar pada “Programmed Instruction”. Sehubungan dengan penggunaan “Programmed Instruction”sebagai konsep media yang dikembangkan, maka teori belajar yang sesuai dengan karakter dari “Programmed Instruction” adalah teori belajar asosiasi, menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan tersebut akan semakin kuat apabila sering diulangi dan respon yang benar diberi pujian atau cara lain yang memberikan rasa puas dan senang (Nasution, 1988: 132
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
media pembelajaran
Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
Media menghasilkan keseragaman pengamatan
Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak
Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya:
Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif.
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu teknis.
Pemanfaatan Media Pembelajaran - Presentation Transcript
Media Pembelajaran
Peranan Media Pembelajaran
Karakteristik Media Pembelajaran
Pemilihan Media Pembelajaran
P rogram Media Pembelajaran
P eranan Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang berarti perantara atau pengantar, dengan kata lain Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima.
Media yang dirancang dengan baik dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.
Media sebagai alat bantu visual:
mendorong motivasi belajar
memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak
mempertinggi daya serap atau retensi belajar
N ilai Praktis Media
Memvisualkan yang abstrak (animasi peredaran darah)
Membawa objek yang sukar didapat (binatang buas/berbahaya)
Membawa objek yang terlalu besar (gunung, pasar)
Menampilkan objek yang tidak dapat diamati mata (mikro organisme)
Mengamati gerakan yang terlalu cepat (jalannya peluru)
Memungkinkan berinteraksi dengan lingkungannya
Memungkinkan Keseragaman pengalaman
Mengurangi resiko apabila objek berbahaya
Menyajikan informasi yang konsisten dan diulang sesuai dengan kebutuhan
Membangkitkan motivasi belajar
Dapat disajikan dengan menarik dan variatif
Mengontrol arah maupun kecepatan peserta didik
Menyajikan informasi belajar secara serempak dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan
Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
dll
K arakteristik Media Pembelajaran
Media Transparansi
Media Audio
Media Slide (Film Bingkai Suara)
Media Video
Media CD Multimedia Interaktif
Internet
Setiap media mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan media disesuaikan dengan kebutuhan (tujuan, sasaran, sarana, biaya, dan waktu pembuatannya).
K arakteristik Media Transparansi Overhead Tranparancy (OHT) merupakan per angkat lunak/software sedangkan perangkat kerasnya/ hardware adalah Overhead Projector (OHP). Selanjutnya Overhead Tranparancy (OHT) akan kita sebut dengan istilah “tranparansi”. Transparansi adalah lembar bening/plastik tembus pandang yang berisi pesan, penjelasan atau pelajaran yang akan disampaikan penyaji baik berupa tulisan maupun gambar. Ukuran dalam 24,5 cm x 19 cm, luar 30,5 cm x 27 cm.
K arakteristik Media Transparansi
Penggunaannya praktis
Mempunyai variasi teknik
Tahan lama/tidak mudah rusak
Tidak memerlukan ruang gelap
Mudah dioperasikan, sehingga tidak perlu operator
Dapat disajikan berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan
Waktu penyajian dapat bertatap muka dengan peserta didik
Dapat disiapkan sendiri oleh guru
Kelebihan media transparasi antara lain.
K arakteristik Media Transparansi
Memerlukan listrik
Memerlukan peralatan khusus untuk menampilkan yaitu Overhead Projector (OHP)
Memerlukan panataan yang khusus
Memerlukan kecakapan khusus dalam pembuatan
Menuntut cara kerja yang sistematis karena susunan urutan mudah kacau
Kekurangan media transparasi antara lain.
K arakteristik Media Audio Media audio adalah media yang menguta makan indra pendengaran. Pesan-pesan yang ak an disampaikan dapat dituangkan kedalam lambang-lamabang auditif, baik verbal (kata-kata) maupun non verbal (sound effect). Yang termasuk media audio antara lain radio dan kaset audio. Program audio (kaset) teramsuk salah satu media yang sudah memasyarakat hingga tingkat pedesaan.
K arakteristik Media Audio
Materi tak akan berubah
Biaya produksi relatif murah
Peralatan paling murah dibanding dengan media lainnya
Program kaset dapat disajikan di luar sekolah (wawancara, rekaman kegiatan, dll)
Rekaman dapat dihapus dan kaset dapat dipakai ulang
Penyajian sepenuhnya dikontrol penyaji
Kelebihan media audio antara lain. Kelemahan media transparasi antara lain.
Daya jangkau terbatas (beda dengan radio)
Pengadaan, penggandaan, pendistribusian sedikit bisa mahal
K arakteristik Media Slide Media slide terdiri dari film aktachrome ( positif) berukuran 35 mm dipotong satu persatu dan diberi bingkai (2 x 2 inchi) yang terbuat dari karton atau plastik. Karena itu media slide disebut film bingkai suara. Program slide disajikan dengan slide projector yang dipadukan dengan suara yang menyertainya. Penyajian program slide bersifat klasikal.
K arakteristik Media Slide
Tahan lama
Guru sebagai nara sumber dan operator
Berwarna dan bersuara sehingga menarik
Dapat ditampilkan berulang-ulang
Kelebihan media slide antara lain. Kelemahan media slide antara lain.
Pembuatan memerlukan keterampilan khusus
memerlukan peralatan khusus (slide projector) dalam penyajiannya;
perlu ketelitian dalam penyiapan penyajiannya karena gambar sering keliru urutanya/tertukar atau terbalik.
K arakteristik Media Video Media video atau media audio visual yang menampilkan gerak saat ini semakin dikenal di kalangan masyarakat. Media ini berupa rekaman pada pita magnetic melalui kamera video. Meskipun media video hampir sama dengan media film dalam karakteristiknya, tetapi tidak dapat menggantikan film karena baik video maupun film mempunyai kelebihan dan kelemahannya. Out put pada saat ini dapat berupa video kaset, VCD maupun DVD.
K arakteristik Media Video
Mengutamakan objek yang bergerak.
Berwarna, bersuara, dan didukung oleh efek suara maupun visual.
Dapat menyajikan animasi apabila perlu menyajikan suatu proses.
Mudah menyajikannya.
Tidak memerlukan ruang gelap
Kelebihan media video antara lain. Kelemahan media video antara lain.
Perlu peralatan khusus untuk penyajiannya
Perlu tenaga listrik
Perlu kerja tim dan keahlian khusus dalam pembuatannya
K arakteristik CD Multimedia Interaktif
Multimedia berasal dari kata “multi” (banyak) dan “media”, sehingga mutimedia dapat diartikan sebagai gabungan dari berbagai media.
Program pembelajaran terdiri dari berbagai media yang disusun secara utuh, terintegrasi, dan mempunyai tujuan pembelajaran.
Jenis media antara lain: Teks/huruf, Audio, Video, Grafis, Animasi, Simulasi.
Pengertian:
K arakteristik CD Multimedia Interaktif
Bersifat fleksibel (dapat memilih materi maupun penggunaan waktu)
Bersifat self-pacing (kecepatan belajar tiap individu berbeda)
Bersifat content-rich (menyediakan informasi yang cukup banyak/ pengkayaan)
Bersifat interaktif (komunikasi dua arah, ada respon/feedback)
K arakteristik CD Multimedia Interaktif
Interaktif
Individual
Fleksibel
Cost effectiveness
Motivasi
Umpan balik
game/simulasi
Kontrol ada pada pengguna
Soal-soal
Animasi, video, musik, audio, ilustrasi, dll
Kelebihan CD Multimedia Interaktif
K arakteristik CD Multimedia Interaktif Kekurangan CD Multimedia Interaktif
Hanya akan berfungsi untuk hal-hal sebagaimana yang telah diprogramkan
Memerlukan peralatan (komputer) multimedia
Perlu kemampuan pengoperasian, untuk itu perlu ditambahkan petunjuk pemanfaatan
Pengembangannya memerlukan adanya tim yang profesional
Pengembangannya memerlukan waktu yang cukup lama
Tidak punya sentuhan manusiawi
K arakteristik Media Internet Media Internet merupakan media komunikasi berupa data, gambar, teks, video, maupun suara melalui jaringan komputer yang berskala internasional. Pengguna perlu memiliki identitas khusus, misal alamat IP (internet protocol). Protokol adalah tata cara jaringan berkomunikasi. Protokol ini, secara resmi dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol), merupakan cara standar untuk mempaketkan dan mengalamatkan data komputer (sinyal elektronik) sehingga data tersebut dapat dikirim ke komputer terdekat atau keliling dunia dan tiba dalam waktu yang cepat tanpa rusak atau hilang.
K arakteristik Media Internet
Berskala internasional
Mudah untuk mengirim dan menerima data
Individual
Fleksibel
Cost effectiveness untuk informasi yang didapat
Motivasi
Mendapat data berupa teks, video, audio, maupun gambar
Kelebihan media internet Kekurangan media internet
Perlu listrik
Perlu jaringan khusus
Lambat mendapat informasi kalau pemakai banyak
P emilihan Media
Perlunya Pemilihan media
Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran
Dipilih dan digunakan dengan benar
Tidak satupun media dapat mencapai tujuan belajar
P emilihan Media
Kriteria Pemilihan Media ada 7 faktor:
Tujuan
Penggunaan media (instruksional, informasi, hiburan)
Katagori Pembelajaran yang ingin dicapai:
Kognitif: berdasarkan pengetahuan faktual yang empiris (pengalaman)
Afektif: melibatkan perasaan dan emosi
Psikomotor: berhubungan dengan aktivitas fisik
Sasaran (karakter, jumlah, latar belakang, motivasi)
Waktu (pembuatan, penyajian)
Ketersediaan (pengembangan, peralatan)
Biaya
Karakteristik media (kelebihan dan kelemahan)
Mutu teknis (visual, audio)
P emilihan Media
Prosedur Pemilihan Media
Kegunaan materi
Kemenarikan
Mengena langsung dengan tujuan khusus
Format sajian
Mutakhir atau keotentikan materi
Konsep fakta terjamin kecermatannya
Memenuhi standar selera
Keseimbangan kontroversial
Tidak mengandung propaganda
Standar kualitas (gambar, narasi, efek, warna, dll)
Struktur materi direncanakan dengan baik
Proses uji coba atau validasi (tingkat keberhasilan)
P engembangan Media
Menganalisis kebutuhan dan karakteristik sasaran
Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dengan media
Mengembangkan materi pelajaran yang akan dicapai melalui media sesuai tujuan pembelajaran
Membuat draft atau prototype media sesuai jenis media yang telah ditentukan
Mengevaluasi atau menguji coba prototipa media yang telah dihasilkan
Mengadakan analisis hasil uji coba dan merevisi bila diperlukan
B agan prosedur umum pengembangan media Tidak Analisis kebutuhan dan karakteristik siswa Merumuskan tujuan pembelajaran Apakah perlu isi yang baku (apakah penting tidak mengubah isi? Memproduksi program Mengembangkan materi pelajaran Ya Melakukan evaluasi / uji coba Siap pakai
P emanfaatan Media Transparansi
Pengaturan Ruang
P emanfaatan Media Transparansi
Posisi Layar
KEYSTONE ELIMINATOR KEMIRINGAN LAYAR 30 0
P emanfaatan Media Transparansi
Pengoperasian OHP
a. Penempatan projektor
Transparansi yang akan digunakan
Overhead Projector (OHP)
Transparansi setelah digunakan
OHP Marker
Catatan
Bahan sajian
P emanfaatan Media Transparansi
Pengoperasian OHP
b. Penempatan layar berhadapan dengan projektor berjarak 2,5 m
2,5 m
90 0
P emanfaatan Media Transparansi
Pengoperasian OHP
Hubungkan OHP dengan sumber listrik
Letakkan OHT pada bidang kaca
Hidupkan OHP
Gunakan elevator untuk mencari posisi gambar
Atur fokus
P emanfaatan Media Transparansi
Teknik penyajian OHT
Teknik Taruk atau Sliding
Teknik Jendela atau Masking
Teknik Potongan atau Striping
Teknik Tumpang Tindih atau Overlays
Teknik Animasi
P emanfaatan Media Audio
1. Sebelum pemutaran program
Apabila secara klasikal
Mempelajari bahan cetak dan mendengarkan rekaman
Merangsang motivasi siswa
Mencatat hal-hal penting
Menjelaskan tujuan yang ingin dicapai
Menyiapkan bahan yang akan didiskusikan
Menjelaskan bagian yang sulit sebelum penyajian
Menjelaskan apa yang akan dilakukan siswa selama mendengarkan program
Membuat suasana yang tenang
Merangsang dan mempersiapkan siswa untuk membuat komentar maupun pertanyaan
P emanfaatan Media Audio
2. Pada saat pemutaran program
Guru dan siswa pada posisinya
Siswa mencatak hal-hal yang tidak mengerti maupun kurang jelas
Mengerjakan tugas (jka ada) sesuai dengan perintah dalam program
P emanfaatan Media Audio
3. Tindak Lanjut
Guru menginformasikan tugas-tugas dan latihan yang harus dikerjakan
Guru menginformasikan rencana pertemuan selanjutnya
Guru memotivasi siswa untuk tetap belajar dengan giat
P emanfaatan Media Audio
Contoh:
Klasikal Kelompok Individual
P emanfaatan Media Slide
Persiapan
Penempatan Layar, Projektor, dan Siswa
Kiri atau kanan papan tulis
Projektor tegak lurus dengan layar. Besar kecilnya gambar terganting jarak.
Atur tempat duduk siswa
Sesuaikan votage projektor dan tape recorder
Kaset maupun tape recorder berdekatan dengan projektor
Hubungkan kabel projektor dan tape dengan sumber listrik
P emanfaatan Media Slide
Persiapan
Guru
Pengusaan pengoperasian alat (tape recorder dan projektor)
Pelajari buku penyerta dan program slidenya.
Program
Periksa kelengkapan program
Masukkan slide sesuai dengan petunjuk
Preview dahulu sebelum disajikan
Periksa kaset audio
Siapkan lembar evaluasi kerja sesuai dengan jumlah siswa
P emanfaatan Media Slide
Pelaksanaan Penyajian
Pengantar/Pendahuluan
Guru menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan program
Apa yang diharapkan siswa
Diajukan pertanyan perangsang
Penyajian Program
Suasana tenang, fokus perhatian ke program
Satu kesatuan program (awal – akhir) tanpa putus
Gambar yang kurang fokus segera difokuskan
Volume disesuaikan dengan jumlah siswa
Kemacetan pada alat dan tidak dapat diatasi, kegiatn belajar dilanjutkan tanpa media tersebut
Tndak Lanjut
Setelah program dapat dilanjutkan dengan diskusi, tes, kuis,
atau menjelaskan bagian yang kurang jelas
P emanfaatan Media Video
Persiapan
Pelajari dahulu program
Kata atau istilah yang perlu dijelaskan sebelum menyaksikan program
Dilakukan preview 2 atau 3 siswa.
Persiapan peralatan
Pelaksanaan
Yakin semua peralatan sudah siap
Penjelasan program: Tujuan yang ingin dicapai, Menjelaskan kata atau istilah, Sikap siswa
Peralatan, program, dan siswa siap segera dimulai
Dipandang perlu penjelasan program dapat dihentikan sementara
Tindak Lanjut
Setelah program dapat dilanjutkan dengan diskusi, tes, kuis, atau menjelaskan bagian yang kurang jelas
P emanfaatan Modul
Pemanfaatan modul
Modul terbagi empat komponen: Kegiatan Siswa, Petunjuk Guru, Tes Akhir Modul, dan Kunci Tes Akhir Modul
Siswa dapat belajar sendiri dimana saja dan kapan saja (belajar secara mandiri). Kehadiran guru pamong masih perlu untuk siswa yang relatif masih muda dan juga untuk kegiatan kelompok.
P emanfaatan Modul
Persiapan
Jadwal pemanfatan modul dipadukan dengan kegiatan belajar tatap muka
Guru mempelajari isi modul yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga mempunyai kesiapan dalam membimbing
Pelajari petunjuk guru secara cermat
Pelajari petunjuk belajar pada setiap modul
Mengenalkan sistem mandiri dengan modul untuk siswa baru
P emanfaatan Modul
Pelaksanaan
Mengarahkan siswa untuk mempelajari modul secara benar, yaitu:
Membaca pendahuluan pada setiap modul secara cermat, karena terdapat petunjuk belajar, tujuan umum modul, alat dan bahan yang perlu disiapkan, alokasi waktu, dan sebagainya.
membaca tujuan khusus dan pokok-pokok materi yang terdapat pada setiap kegiatan
mempelajari uraian materi
mengerjakan semua latihan kemudian mencocokkan jawabannya dengan melihat kunci jawaban menyarankan agar siswa tidak melihat kunci jawaban
mencatat hal-hal yang tidak dipahami, kemudian didiskusikan dengan teman dalam kelompok atau dibahas di dalam kelas bersama guru.
P emanfaatan Modul
Pelaksanaan
M emantau kegiatan dan kemajuan belajar siswa, ketika mereka mempelajari modul secara mandiri.
memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari modul
menegur siswa yang mempelajari modul secara tidak benar
membimbing siswa untuk mendiskusikan kesulitan/ permasalahan yang mereka hadapi dalam kelompok
memberikan umpan balik/tanggapan/jawaban terhadap permasalahan/kesulitan yang tidak dapat dipecahkan dalam kelompok
melaksanakan tes akhir modul secara klasikal.
P emanfaatan Modul
Tindak Lanjut
M emberikan tugas-tugas lanjutan/pengayaan kepada siswa
menginformasikan tentang materi modul pada pertemuan berikutnya
menganjurkan siswa agar mempelajari modul secara mandiri di rumah.
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Pemanfaatan media
Modul terbagi empat komponen: Kegiatan Siswa, Petunjuk Guru, Tes Akhir Modul, dan Kunci Tes Akhir Modul
Siswa dapat belajar sendiri dimana saja dan kapan saja (belajar secara mandiri). Kehadiran guru pamong masih perlu untuk siswa yang relatif masih muda dan juga untuk kegiatan kelompok.
Kaset Audio/video bersifat melengkapi modul
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Sebelum pemutaran program
Apabila program akan dimanfaatkan secara klasikal di TKB, guru mempersiapkan diri dengan:
Mempelajari bahan-bahan cetak yang telah tersedia atau catatan mengenai program tersebut dan memperhatikan rekamannya sebelum dimanfaatkan.
Merangsang motivasi siswa agar memperhatikan program tersebut dengan baik.
Membuat catatan tentang hal-hal penting
Menjelaskan tujuan yang ingin dicapai oleh program.
Menyiapkan bahan yang akan didiskusikan.
Memperhatikan bagian yang sukar dalam program tersebut dan apabila perlu menjelaskan terlebih dahulu sebelum program disajikan.
Menjelaskan apa yang harus dilakukan siswa waktu memperhatikan program, misalnya mencatat, menirukan, dll.
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Sebelum pemutaran program
Mempersiapkan siswa untuk memperhatikan program dengan jalan memberi rangsangan dan memusatkan perhatian mereka melalui komentar maupun pertanyaan.
Guru dapat menyiapkan siswa untuk memperhatikan dengan baik dengan cara;
Membuat suasana ruangan yang sejuk misalnya dengan menutup pintu dan jendela kaca diberi (gordyn ) agar siswa dapat lebih memusatkan perhatiannya pada program.
Mengajak siswa mendengarkan dengan tenang dan sopan serta memusatkan perhatiannya pada program.
Mempersiapkan siswa untuk memperhatikan program dengan jalan memberi rangsangan dan memusatkan perhatian mereka melalui komentar maupun pertanyaan.
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Pada Saat pemutaran program
Guru dan siswa harus berada pada tempatnya masing-masing, dan tidak berjalan ke sana ke mari yang dapat mengganggu perhatian siswa yang sedang tercurah pada program yang didengarkan
Siswa harus mencatat bagian atau hal-hal yang kurang/ belum jelas/belum dimengerti untuk ditanyakan/didiskusikan setelah program berakhir
Mengerjakan tugas-tugas (jika ada) sesuai dengan perintah dalam program.
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Tindak Lanjut
Guru menginformasikan tugas-tugas dan latihan-latihan yang harus dikerjakan.
Guru menginformasikan tentang rencana pertemuan selajutnya
Guru memotivasi siswa untuk tetap belajar dengan giat.
M ultimedia
Multimedia berasal dari kata “multi” dan “media”.
Multi berarti banyak, sehingga mutimedia dapat diartikan sebagai gabungan dari berbagai media yang terintegrasi.
Pengertian
Jenis Media
Teks/huruf
Audio
Video
Grafis
Animasi
M ultimedia
Teks/huruf
Untuk menerangkan materi
Sebagai keterangan tambahan di samping visual
Sebagai penekanan materi
Hypertexts
M ultimedia
Audio/suara
Audio sangat efektif apabila dikombi-nasikan dengan media lainnya.
Apabila pengguna malas membaca dapat mendengarkan audionya saja.
Audio dapat digunakan untuk memancing perhatian, sangat cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu.
Jenis Audio: narasi, sound effect, suara asli, musik background, dll.
M ultimedia
Grafis
Media (ilustrasi maupun foto ) yang cocok untuk mengidentifikasi benda.
Mengkonkritkan sesuatu yang abstrak.
Penggunaan grafis disertai teks akan menghemat untuk memahaminya.
Sebagai daya tarik agar tidak membosankan.
M ultimedia
Video
Untuk menerangkan sesuai dengan aslinya
Gambaran nyata
Dokumentasi
Daya tarik pengguna
Penyeimbang/pelengkap program multimedia
M ultimedia
Animasi
Media yang sangat efektif untuk proses terjadinya/perubahan.
Membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit.
Dapat menjelaskan konsep yang sulit sehingga mudah untuk dimengerti.
Dapat memvisualkan yang sulit diambil oleh kamera video.
M ultimedia
Kelebihan
Interaktif
Individual
Fleksibel
Cost effectiveness
Motivasi
Umpan balik
game/simulasi
Kontrol ada pada pengguna
Animasi, video, musik, audio, ilustrasi, dll
M ultimedia
Kekurangan
Hanya akan berfungsi untuk hal-hal sebagaimana yang telah diprogramkan
Memerlukan peralatan (komputer) multimedia
Perlu kemampuan pengoperasian, untuk itu perlu ditambahkan petunjuk pemanfaatan
Pengembangannya memerlukan adanya tim yang profesional
Pengembangannya memerlukan waktu yang cukup lama
Tidak punya sentuhan manusiawi
M ultimedia
Terima kasih
A. Media Pembelajaran
ImagePengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam Latuheru,1988:11). Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).
Jerold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara lain :
a. kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)
b. faktor ukuran (size); besar atau kecil
c. faktor warna (color): hitam putih atau berwarna
d. faktor gerak: diam atau bergerak
e. faktor bahasa: tertulis atau lisan
f. faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau gabungan antara gambar dan suara.
Selain itu, Jerold Kemp dan Diane K. Dayton (dalam Pribadi,2004:1.5) mengemukakan klasifikasi jenis media sebagai berikut :
a. media cetak
b. media yang dipamerkan (displayed media)
c. overhead transparancy
d. rekaman suara
e. slide suara dan film strip
f. presentasi multi gambar
g. video dan film
h. pembelajaran berbasis komputer (computer based learning)
Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga belajar). Pesan (informasi) yang disampaikan melalui media, dalam bentuk isi atau materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan (anak didik), dengan menggunakan salah satu ataupun gabungan beberapa alat indera mereka. Bahkan lebih baik lagi bila seluruh alat indera yang dimiliki mampu dapat menerima isi pesan yang disampaikan (Latuheru,1988:13).
Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata-kata, waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan.
Dari beberapa penjelasan media pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat, bahan ataupun berbagai macam komponen yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan untuk memudahkan penerima pesan menerima suatu konsep.
B. Fungsi dan Peranan Media Pembelajaran
Kehadiran media pembelajaran sebagai media antara guru sebagai pengirim informasi dan penerima informasi harus komunikatif, khususnya untuk obyek secara visualisasi. Dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam, khusunya konsep yang berkaitan dengan alam semesta lebih banyak menonjol visualnya, sehingga apabila seseorang hanya mengetahui kata yang mewakili suatu obyek, tetapi tidak mengetahui obyeknya disebut verbalisme. Masing-masing media mempunyai keistimewaan menurut karakteristik siswa. Pemilihan media yang sesuai dengan karakteristik siswa akan lebih membantu keberhasilan pengajar dalam pembelajaran. Secara rinci fungsi media memungkinkan siswa menyaksikan obyek yang ada tetapi sulit untuk dilihat dengan kasat mata melalui perantaraan gambar, potret, slide, dan sejenisnya mengakibatkan siswa memperoleh gambaran yang nyata (Degeng,1999:19).
Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad,2002:11) ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Fiksatif (fixative property)
Media pembelajaran mempunyai kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa/objek.
2. Manipulatif (manipulatif property)
Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.
3. Distributif (distributive property)
Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan yang terintegrasi dan secara bersamaan objek dapat menggambarkan kondisi yang sama pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian itu.
Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa fungsi dari media pembelajaran yaitu media yang mampu menampilkan serangkaian peristiwa secara nyata terjadi dalam waktu lama dan dapat disajikan dalam waktu singkat dan suatu peristiwa yang digambarkan harus mampu mentransfer keadaan sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan adanya verbalisme.
Proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik jika siswa berinteraksi dengan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi, semakin besar pula kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan siswa. Siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.
Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale (dalam Sadiman, dkk,2003:7-8) dalam klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, dimana partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman belajar yang diterima siswa. Penyampaian suatu konsep pada siswa akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan siswa terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep yang hanya melibatkan siswa untuk mengamati saja.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dengan penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagai contoh yaitu media pembelajaran komputer interaktif.
C. Teori Pengembangan Media
Berkembangnya komunikasi elektronik, membawa perubahan-perubahan besar dalam dunia pendidikan. Satu hal yang harus dihindari yaitu anggapan bahwa kedudukan guru akan digantikan oleh alat elektronik. Dengan keberadaan komunikasi elektronik, menambah pentingnya kehadiran guru. Berubahnya fungsi guru dan peranan guru dikaitkan dengan upaya untuk memecahkan salah satu masalah pendidikan yaitu, (1) dengan membebaskan guru kelas dari kegiatan rutin yang banyak, (2) melengkapi guru dengan teknik-teknik keterampilan kualitas yang paling tinggi, (3) pengembangan penyajian kelas dengan tekanan pada pelayanan perorangan semaksimal mungkin dalam setiap mata pelajaran, (4) mengembangkan pengajaran yang terpilih didasarkan pada kemampuan individual siswa. Dari penjelasan diatas tentang peran baru guru dalam dunia pendidikan diharapkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan, sehingga penggunaan berbagai macam media pembelajaran akan menggantikan berberapa fungsi instruksional dari guru (Sulaeman, 1988:24-25).
Pengembangan media pembelajaran didasarkan pada 3 model pengembangan yaitu model prosedural, model konseptual, dan model teoritik. Model prosedural merupakan model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Model konseptual yaitu model yang bersifat analitis yang memerikan komponen-komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen. Sedangkan model teoritik adalah model yang menunjukkan hubungan perubahan antar peristiwa.
Berdasarkan hal yang dikemukan diatas, pengembangan media berbantuan komputer interaktif yang dikembangkan mengikuti model prosedural dari The ASSURE, dimana langkah yang harus diikuti bersifat deskriptif yang terdiri dari 6 langkah yaitu analisis karakteristik siswa, penetapan tujuan, pemilihan media dan materi, pemanfaatan materi, pengikutsertaan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, evaluasi/revisi. Sedangkan model konseptual dari pengembangan media berbantuan komputer ini mengikuti teori belajar behavior yang dikemukakan oleh Gagne yaitu belajar yang dilakukan manusia dapat diatur dan diubah untuk mengembangkan bentuk kelakuan tertentu pada seseorang, atau mempertinggi kemampuan, atau mengubah kelakuannya (Nasution, 1988: 131), sehingga media pembelajaran yang dikembangkan berdasar pada “Programmed Instruction”. Sehubungan dengan penggunaan “Programmed Instruction”sebagai konsep media yang dikembangkan, maka teori belajar yang sesuai dengan karakter dari “Programmed Instruction” adalah teori belajar asosiasi, menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan tersebut akan semakin kuat apabila sering diulangi dan respon yang benar diberi pujian atau cara lain yang memberikan rasa puas dan senang (Nasution, 1988: 132
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
media pembelajaran
Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
Media menghasilkan keseragaman pengamatan
Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak
Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya:
Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif.
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu teknis.
Pemanfaatan Media Pembelajaran - Presentation Transcript
Media Pembelajaran
Peranan Media Pembelajaran
Karakteristik Media Pembelajaran
Pemilihan Media Pembelajaran
P rogram Media Pembelajaran
P eranan Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang berarti perantara atau pengantar, dengan kata lain Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima.
Media yang dirancang dengan baik dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.
Media sebagai alat bantu visual:
mendorong motivasi belajar
memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak
mempertinggi daya serap atau retensi belajar
N ilai Praktis Media
Memvisualkan yang abstrak (animasi peredaran darah)
Membawa objek yang sukar didapat (binatang buas/berbahaya)
Membawa objek yang terlalu besar (gunung, pasar)
Menampilkan objek yang tidak dapat diamati mata (mikro organisme)
Mengamati gerakan yang terlalu cepat (jalannya peluru)
Memungkinkan berinteraksi dengan lingkungannya
Memungkinkan Keseragaman pengalaman
Mengurangi resiko apabila objek berbahaya
Menyajikan informasi yang konsisten dan diulang sesuai dengan kebutuhan
Membangkitkan motivasi belajar
Dapat disajikan dengan menarik dan variatif
Mengontrol arah maupun kecepatan peserta didik
Menyajikan informasi belajar secara serempak dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan
Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
dll
K arakteristik Media Pembelajaran
Media Transparansi
Media Audio
Media Slide (Film Bingkai Suara)
Media Video
Media CD Multimedia Interaktif
Internet
Setiap media mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan media disesuaikan dengan kebutuhan (tujuan, sasaran, sarana, biaya, dan waktu pembuatannya).
K arakteristik Media Transparansi Overhead Tranparancy (OHT) merupakan per angkat lunak/software sedangkan perangkat kerasnya/ hardware adalah Overhead Projector (OHP). Selanjutnya Overhead Tranparancy (OHT) akan kita sebut dengan istilah “tranparansi”. Transparansi adalah lembar bening/plastik tembus pandang yang berisi pesan, penjelasan atau pelajaran yang akan disampaikan penyaji baik berupa tulisan maupun gambar. Ukuran dalam 24,5 cm x 19 cm, luar 30,5 cm x 27 cm.
K arakteristik Media Transparansi
Penggunaannya praktis
Mempunyai variasi teknik
Tahan lama/tidak mudah rusak
Tidak memerlukan ruang gelap
Mudah dioperasikan, sehingga tidak perlu operator
Dapat disajikan berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan
Waktu penyajian dapat bertatap muka dengan peserta didik
Dapat disiapkan sendiri oleh guru
Kelebihan media transparasi antara lain.
K arakteristik Media Transparansi
Memerlukan listrik
Memerlukan peralatan khusus untuk menampilkan yaitu Overhead Projector (OHP)
Memerlukan panataan yang khusus
Memerlukan kecakapan khusus dalam pembuatan
Menuntut cara kerja yang sistematis karena susunan urutan mudah kacau
Kekurangan media transparasi antara lain.
K arakteristik Media Audio Media audio adalah media yang menguta makan indra pendengaran. Pesan-pesan yang ak an disampaikan dapat dituangkan kedalam lambang-lamabang auditif, baik verbal (kata-kata) maupun non verbal (sound effect). Yang termasuk media audio antara lain radio dan kaset audio. Program audio (kaset) teramsuk salah satu media yang sudah memasyarakat hingga tingkat pedesaan.
K arakteristik Media Audio
Materi tak akan berubah
Biaya produksi relatif murah
Peralatan paling murah dibanding dengan media lainnya
Program kaset dapat disajikan di luar sekolah (wawancara, rekaman kegiatan, dll)
Rekaman dapat dihapus dan kaset dapat dipakai ulang
Penyajian sepenuhnya dikontrol penyaji
Kelebihan media audio antara lain. Kelemahan media transparasi antara lain.
Daya jangkau terbatas (beda dengan radio)
Pengadaan, penggandaan, pendistribusian sedikit bisa mahal
K arakteristik Media Slide Media slide terdiri dari film aktachrome ( positif) berukuran 35 mm dipotong satu persatu dan diberi bingkai (2 x 2 inchi) yang terbuat dari karton atau plastik. Karena itu media slide disebut film bingkai suara. Program slide disajikan dengan slide projector yang dipadukan dengan suara yang menyertainya. Penyajian program slide bersifat klasikal.
K arakteristik Media Slide
Tahan lama
Guru sebagai nara sumber dan operator
Berwarna dan bersuara sehingga menarik
Dapat ditampilkan berulang-ulang
Kelebihan media slide antara lain. Kelemahan media slide antara lain.
Pembuatan memerlukan keterampilan khusus
memerlukan peralatan khusus (slide projector) dalam penyajiannya;
perlu ketelitian dalam penyiapan penyajiannya karena gambar sering keliru urutanya/tertukar atau terbalik.
K arakteristik Media Video Media video atau media audio visual yang menampilkan gerak saat ini semakin dikenal di kalangan masyarakat. Media ini berupa rekaman pada pita magnetic melalui kamera video. Meskipun media video hampir sama dengan media film dalam karakteristiknya, tetapi tidak dapat menggantikan film karena baik video maupun film mempunyai kelebihan dan kelemahannya. Out put pada saat ini dapat berupa video kaset, VCD maupun DVD.
K arakteristik Media Video
Mengutamakan objek yang bergerak.
Berwarna, bersuara, dan didukung oleh efek suara maupun visual.
Dapat menyajikan animasi apabila perlu menyajikan suatu proses.
Mudah menyajikannya.
Tidak memerlukan ruang gelap
Kelebihan media video antara lain. Kelemahan media video antara lain.
Perlu peralatan khusus untuk penyajiannya
Perlu tenaga listrik
Perlu kerja tim dan keahlian khusus dalam pembuatannya
K arakteristik CD Multimedia Interaktif
Multimedia berasal dari kata “multi” (banyak) dan “media”, sehingga mutimedia dapat diartikan sebagai gabungan dari berbagai media.
Program pembelajaran terdiri dari berbagai media yang disusun secara utuh, terintegrasi, dan mempunyai tujuan pembelajaran.
Jenis media antara lain: Teks/huruf, Audio, Video, Grafis, Animasi, Simulasi.
Pengertian:
K arakteristik CD Multimedia Interaktif
Bersifat fleksibel (dapat memilih materi maupun penggunaan waktu)
Bersifat self-pacing (kecepatan belajar tiap individu berbeda)
Bersifat content-rich (menyediakan informasi yang cukup banyak/ pengkayaan)
Bersifat interaktif (komunikasi dua arah, ada respon/feedback)
K arakteristik CD Multimedia Interaktif
Interaktif
Individual
Fleksibel
Cost effectiveness
Motivasi
Umpan balik
game/simulasi
Kontrol ada pada pengguna
Soal-soal
Animasi, video, musik, audio, ilustrasi, dll
Kelebihan CD Multimedia Interaktif
K arakteristik CD Multimedia Interaktif Kekurangan CD Multimedia Interaktif
Hanya akan berfungsi untuk hal-hal sebagaimana yang telah diprogramkan
Memerlukan peralatan (komputer) multimedia
Perlu kemampuan pengoperasian, untuk itu perlu ditambahkan petunjuk pemanfaatan
Pengembangannya memerlukan adanya tim yang profesional
Pengembangannya memerlukan waktu yang cukup lama
Tidak punya sentuhan manusiawi
K arakteristik Media Internet Media Internet merupakan media komunikasi berupa data, gambar, teks, video, maupun suara melalui jaringan komputer yang berskala internasional. Pengguna perlu memiliki identitas khusus, misal alamat IP (internet protocol). Protokol adalah tata cara jaringan berkomunikasi. Protokol ini, secara resmi dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol), merupakan cara standar untuk mempaketkan dan mengalamatkan data komputer (sinyal elektronik) sehingga data tersebut dapat dikirim ke komputer terdekat atau keliling dunia dan tiba dalam waktu yang cepat tanpa rusak atau hilang.
K arakteristik Media Internet
Berskala internasional
Mudah untuk mengirim dan menerima data
Individual
Fleksibel
Cost effectiveness untuk informasi yang didapat
Motivasi
Mendapat data berupa teks, video, audio, maupun gambar
Kelebihan media internet Kekurangan media internet
Perlu listrik
Perlu jaringan khusus
Lambat mendapat informasi kalau pemakai banyak
P emilihan Media
Perlunya Pemilihan media
Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran
Dipilih dan digunakan dengan benar
Tidak satupun media dapat mencapai tujuan belajar
P emilihan Media
Kriteria Pemilihan Media ada 7 faktor:
Tujuan
Penggunaan media (instruksional, informasi, hiburan)
Katagori Pembelajaran yang ingin dicapai:
Kognitif: berdasarkan pengetahuan faktual yang empiris (pengalaman)
Afektif: melibatkan perasaan dan emosi
Psikomotor: berhubungan dengan aktivitas fisik
Sasaran (karakter, jumlah, latar belakang, motivasi)
Waktu (pembuatan, penyajian)
Ketersediaan (pengembangan, peralatan)
Biaya
Karakteristik media (kelebihan dan kelemahan)
Mutu teknis (visual, audio)
P emilihan Media
Prosedur Pemilihan Media
Kegunaan materi
Kemenarikan
Mengena langsung dengan tujuan khusus
Format sajian
Mutakhir atau keotentikan materi
Konsep fakta terjamin kecermatannya
Memenuhi standar selera
Keseimbangan kontroversial
Tidak mengandung propaganda
Standar kualitas (gambar, narasi, efek, warna, dll)
Struktur materi direncanakan dengan baik
Proses uji coba atau validasi (tingkat keberhasilan)
P engembangan Media
Menganalisis kebutuhan dan karakteristik sasaran
Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dengan media
Mengembangkan materi pelajaran yang akan dicapai melalui media sesuai tujuan pembelajaran
Membuat draft atau prototype media sesuai jenis media yang telah ditentukan
Mengevaluasi atau menguji coba prototipa media yang telah dihasilkan
Mengadakan analisis hasil uji coba dan merevisi bila diperlukan
B agan prosedur umum pengembangan media Tidak Analisis kebutuhan dan karakteristik siswa Merumuskan tujuan pembelajaran Apakah perlu isi yang baku (apakah penting tidak mengubah isi? Memproduksi program Mengembangkan materi pelajaran Ya Melakukan evaluasi / uji coba Siap pakai
P emanfaatan Media Transparansi
Pengaturan Ruang
P emanfaatan Media Transparansi
Posisi Layar
KEYSTONE ELIMINATOR KEMIRINGAN LAYAR 30 0
P emanfaatan Media Transparansi
Pengoperasian OHP
a. Penempatan projektor
Transparansi yang akan digunakan
Overhead Projector (OHP)
Transparansi setelah digunakan
OHP Marker
Catatan
Bahan sajian
P emanfaatan Media Transparansi
Pengoperasian OHP
b. Penempatan layar berhadapan dengan projektor berjarak 2,5 m
2,5 m
90 0
P emanfaatan Media Transparansi
Pengoperasian OHP
Hubungkan OHP dengan sumber listrik
Letakkan OHT pada bidang kaca
Hidupkan OHP
Gunakan elevator untuk mencari posisi gambar
Atur fokus
P emanfaatan Media Transparansi
Teknik penyajian OHT
Teknik Taruk atau Sliding
Teknik Jendela atau Masking
Teknik Potongan atau Striping
Teknik Tumpang Tindih atau Overlays
Teknik Animasi
P emanfaatan Media Audio
1. Sebelum pemutaran program
Apabila secara klasikal
Mempelajari bahan cetak dan mendengarkan rekaman
Merangsang motivasi siswa
Mencatat hal-hal penting
Menjelaskan tujuan yang ingin dicapai
Menyiapkan bahan yang akan didiskusikan
Menjelaskan bagian yang sulit sebelum penyajian
Menjelaskan apa yang akan dilakukan siswa selama mendengarkan program
Membuat suasana yang tenang
Merangsang dan mempersiapkan siswa untuk membuat komentar maupun pertanyaan
P emanfaatan Media Audio
2. Pada saat pemutaran program
Guru dan siswa pada posisinya
Siswa mencatak hal-hal yang tidak mengerti maupun kurang jelas
Mengerjakan tugas (jka ada) sesuai dengan perintah dalam program
P emanfaatan Media Audio
3. Tindak Lanjut
Guru menginformasikan tugas-tugas dan latihan yang harus dikerjakan
Guru menginformasikan rencana pertemuan selanjutnya
Guru memotivasi siswa untuk tetap belajar dengan giat
P emanfaatan Media Audio
Contoh:
Klasikal Kelompok Individual
P emanfaatan Media Slide
Persiapan
Penempatan Layar, Projektor, dan Siswa
Kiri atau kanan papan tulis
Projektor tegak lurus dengan layar. Besar kecilnya gambar terganting jarak.
Atur tempat duduk siswa
Sesuaikan votage projektor dan tape recorder
Kaset maupun tape recorder berdekatan dengan projektor
Hubungkan kabel projektor dan tape dengan sumber listrik
P emanfaatan Media Slide
Persiapan
Guru
Pengusaan pengoperasian alat (tape recorder dan projektor)
Pelajari buku penyerta dan program slidenya.
Program
Periksa kelengkapan program
Masukkan slide sesuai dengan petunjuk
Preview dahulu sebelum disajikan
Periksa kaset audio
Siapkan lembar evaluasi kerja sesuai dengan jumlah siswa
P emanfaatan Media Slide
Pelaksanaan Penyajian
Pengantar/Pendahuluan
Guru menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan program
Apa yang diharapkan siswa
Diajukan pertanyan perangsang
Penyajian Program
Suasana tenang, fokus perhatian ke program
Satu kesatuan program (awal – akhir) tanpa putus
Gambar yang kurang fokus segera difokuskan
Volume disesuaikan dengan jumlah siswa
Kemacetan pada alat dan tidak dapat diatasi, kegiatn belajar dilanjutkan tanpa media tersebut
Tndak Lanjut
Setelah program dapat dilanjutkan dengan diskusi, tes, kuis,
atau menjelaskan bagian yang kurang jelas
P emanfaatan Media Video
Persiapan
Pelajari dahulu program
Kata atau istilah yang perlu dijelaskan sebelum menyaksikan program
Dilakukan preview 2 atau 3 siswa.
Persiapan peralatan
Pelaksanaan
Yakin semua peralatan sudah siap
Penjelasan program: Tujuan yang ingin dicapai, Menjelaskan kata atau istilah, Sikap siswa
Peralatan, program, dan siswa siap segera dimulai
Dipandang perlu penjelasan program dapat dihentikan sementara
Tindak Lanjut
Setelah program dapat dilanjutkan dengan diskusi, tes, kuis, atau menjelaskan bagian yang kurang jelas
P emanfaatan Modul
Pemanfaatan modul
Modul terbagi empat komponen: Kegiatan Siswa, Petunjuk Guru, Tes Akhir Modul, dan Kunci Tes Akhir Modul
Siswa dapat belajar sendiri dimana saja dan kapan saja (belajar secara mandiri). Kehadiran guru pamong masih perlu untuk siswa yang relatif masih muda dan juga untuk kegiatan kelompok.
P emanfaatan Modul
Persiapan
Jadwal pemanfatan modul dipadukan dengan kegiatan belajar tatap muka
Guru mempelajari isi modul yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga mempunyai kesiapan dalam membimbing
Pelajari petunjuk guru secara cermat
Pelajari petunjuk belajar pada setiap modul
Mengenalkan sistem mandiri dengan modul untuk siswa baru
P emanfaatan Modul
Pelaksanaan
Mengarahkan siswa untuk mempelajari modul secara benar, yaitu:
Membaca pendahuluan pada setiap modul secara cermat, karena terdapat petunjuk belajar, tujuan umum modul, alat dan bahan yang perlu disiapkan, alokasi waktu, dan sebagainya.
membaca tujuan khusus dan pokok-pokok materi yang terdapat pada setiap kegiatan
mempelajari uraian materi
mengerjakan semua latihan kemudian mencocokkan jawabannya dengan melihat kunci jawaban menyarankan agar siswa tidak melihat kunci jawaban
mencatat hal-hal yang tidak dipahami, kemudian didiskusikan dengan teman dalam kelompok atau dibahas di dalam kelas bersama guru.
P emanfaatan Modul
Pelaksanaan
M emantau kegiatan dan kemajuan belajar siswa, ketika mereka mempelajari modul secara mandiri.
memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari modul
menegur siswa yang mempelajari modul secara tidak benar
membimbing siswa untuk mendiskusikan kesulitan/ permasalahan yang mereka hadapi dalam kelompok
memberikan umpan balik/tanggapan/jawaban terhadap permasalahan/kesulitan yang tidak dapat dipecahkan dalam kelompok
melaksanakan tes akhir modul secara klasikal.
P emanfaatan Modul
Tindak Lanjut
M emberikan tugas-tugas lanjutan/pengayaan kepada siswa
menginformasikan tentang materi modul pada pertemuan berikutnya
menganjurkan siswa agar mempelajari modul secara mandiri di rumah.
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Pemanfaatan media
Modul terbagi empat komponen: Kegiatan Siswa, Petunjuk Guru, Tes Akhir Modul, dan Kunci Tes Akhir Modul
Siswa dapat belajar sendiri dimana saja dan kapan saja (belajar secara mandiri). Kehadiran guru pamong masih perlu untuk siswa yang relatif masih muda dan juga untuk kegiatan kelompok.
Kaset Audio/video bersifat melengkapi modul
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Sebelum pemutaran program
Apabila program akan dimanfaatkan secara klasikal di TKB, guru mempersiapkan diri dengan:
Mempelajari bahan-bahan cetak yang telah tersedia atau catatan mengenai program tersebut dan memperhatikan rekamannya sebelum dimanfaatkan.
Merangsang motivasi siswa agar memperhatikan program tersebut dengan baik.
Membuat catatan tentang hal-hal penting
Menjelaskan tujuan yang ingin dicapai oleh program.
Menyiapkan bahan yang akan didiskusikan.
Memperhatikan bagian yang sukar dalam program tersebut dan apabila perlu menjelaskan terlebih dahulu sebelum program disajikan.
Menjelaskan apa yang harus dilakukan siswa waktu memperhatikan program, misalnya mencatat, menirukan, dll.
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Sebelum pemutaran program
Mempersiapkan siswa untuk memperhatikan program dengan jalan memberi rangsangan dan memusatkan perhatian mereka melalui komentar maupun pertanyaan.
Guru dapat menyiapkan siswa untuk memperhatikan dengan baik dengan cara;
Membuat suasana ruangan yang sejuk misalnya dengan menutup pintu dan jendela kaca diberi (gordyn ) agar siswa dapat lebih memusatkan perhatiannya pada program.
Mengajak siswa mendengarkan dengan tenang dan sopan serta memusatkan perhatiannya pada program.
Mempersiapkan siswa untuk memperhatikan program dengan jalan memberi rangsangan dan memusatkan perhatian mereka melalui komentar maupun pertanyaan.
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Pada Saat pemutaran program
Guru dan siswa harus berada pada tempatnya masing-masing, dan tidak berjalan ke sana ke mari yang dapat mengganggu perhatian siswa yang sedang tercurah pada program yang didengarkan
Siswa harus mencatat bagian atau hal-hal yang kurang/ belum jelas/belum dimengerti untuk ditanyakan/didiskusikan setelah program berakhir
Mengerjakan tugas-tugas (jika ada) sesuai dengan perintah dalam program.
P emanfaatan Media Terpadu (modul dengan kaset audio/video)
Tindak Lanjut
Guru menginformasikan tugas-tugas dan latihan-latihan yang harus dikerjakan.
Guru menginformasikan tentang rencana pertemuan selajutnya
Guru memotivasi siswa untuk tetap belajar dengan giat.
M ultimedia
Multimedia berasal dari kata “multi” dan “media”.
Multi berarti banyak, sehingga mutimedia dapat diartikan sebagai gabungan dari berbagai media yang terintegrasi.
Pengertian
Jenis Media
Teks/huruf
Audio
Video
Grafis
Animasi
M ultimedia
Teks/huruf
Untuk menerangkan materi
Sebagai keterangan tambahan di samping visual
Sebagai penekanan materi
Hypertexts
M ultimedia
Audio/suara
Audio sangat efektif apabila dikombi-nasikan dengan media lainnya.
Apabila pengguna malas membaca dapat mendengarkan audionya saja.
Audio dapat digunakan untuk memancing perhatian, sangat cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu.
Jenis Audio: narasi, sound effect, suara asli, musik background, dll.
M ultimedia
Grafis
Media (ilustrasi maupun foto ) yang cocok untuk mengidentifikasi benda.
Mengkonkritkan sesuatu yang abstrak.
Penggunaan grafis disertai teks akan menghemat untuk memahaminya.
Sebagai daya tarik agar tidak membosankan.
M ultimedia
Video
Untuk menerangkan sesuai dengan aslinya
Gambaran nyata
Dokumentasi
Daya tarik pengguna
Penyeimbang/pelengkap program multimedia
M ultimedia
Animasi
Media yang sangat efektif untuk proses terjadinya/perubahan.
Membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit.
Dapat menjelaskan konsep yang sulit sehingga mudah untuk dimengerti.
Dapat memvisualkan yang sulit diambil oleh kamera video.
M ultimedia
Kelebihan
Interaktif
Individual
Fleksibel
Cost effectiveness
Motivasi
Umpan balik
game/simulasi
Kontrol ada pada pengguna
Animasi, video, musik, audio, ilustrasi, dll
M ultimedia
Kekurangan
Hanya akan berfungsi untuk hal-hal sebagaimana yang telah diprogramkan
Memerlukan peralatan (komputer) multimedia
Perlu kemampuan pengoperasian, untuk itu perlu ditambahkan petunjuk pemanfaatan
Pengembangannya memerlukan adanya tim yang profesional
Pengembangannya memerlukan waktu yang cukup lama
Tidak punya sentuhan manusiawi
M ultimedia
Terima kasih
pengertian mikro teaching
Micro teaching adalah suatu tindakan atau kegiatan latihan belajar-mengajar dalam situasi laboratoris (Sardirman, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar).
Ciri-ciri pokok Micro Teaching :
1. Jumlah subyek belajar sedikit sekitar 5-10 orang
2. Waktu mengajar terbatas sekitar 10 menit
3. Komponen mengajar yang dikembangkan terbatas
4. Sekadar real teaching
Maksud dan tujuan micro teaching
Maksud yaitu meningkatkan performance yang menyangkut keterampilan dalam mengajar atau latihan mengelola interaksi belajar mengajar.
Tujuan adalah membekali calon guru sebelum sungguh-sungguh terjun ke sekolah tempat latihan praktek kependidikan untuk praktek mengajar (Sardiman, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar ).
Perbedaan micro teaching dan teaching
Micro teaching :
1. Dilaksanakan dalam kelas laboratorium
2. Sekadar real teaching
3. Siswa 5 s/d 10 orang
4. Waktu sekitar 10 menit
5. Bahan terbatas
6. Ketrampilan yang dilatihkan meliputi semua teaching skill dalam porsi yang terbatas dan terpisah-pisah.
7. Dibutuhkan alat-alat laboratori agar dapat diperoleh suatu feedback yang obyektif.
Teaching :
1. Dilaksanakan dalam real class room
2. Merupakan real class room teaching
3. Siswa 30 s/d 40 orang
4. Waktu sekitar 45 menit
5. Bahan luas
6. Ketrampilan yang di demonstrasikan semua teaching skill dan terintegrasi
7. TIdak dilengkapi dengan alat-alat laboratori.
Ciri-ciri pokok Micro Teaching :
1. Jumlah subyek belajar sedikit sekitar 5-10 orang
2. Waktu mengajar terbatas sekitar 10 menit
3. Komponen mengajar yang dikembangkan terbatas
4. Sekadar real teaching
Maksud dan tujuan micro teaching
Maksud yaitu meningkatkan performance yang menyangkut keterampilan dalam mengajar atau latihan mengelola interaksi belajar mengajar.
Tujuan adalah membekali calon guru sebelum sungguh-sungguh terjun ke sekolah tempat latihan praktek kependidikan untuk praktek mengajar (Sardiman, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar ).
Perbedaan micro teaching dan teaching
Micro teaching :
1. Dilaksanakan dalam kelas laboratorium
2. Sekadar real teaching
3. Siswa 5 s/d 10 orang
4. Waktu sekitar 10 menit
5. Bahan terbatas
6. Ketrampilan yang dilatihkan meliputi semua teaching skill dalam porsi yang terbatas dan terpisah-pisah.
7. Dibutuhkan alat-alat laboratori agar dapat diperoleh suatu feedback yang obyektif.
Teaching :
1. Dilaksanakan dalam real class room
2. Merupakan real class room teaching
3. Siswa 30 s/d 40 orang
4. Waktu sekitar 45 menit
5. Bahan luas
6. Ketrampilan yang di demonstrasikan semua teaching skill dan terintegrasi
7. TIdak dilengkapi dengan alat-alat laboratori.
Sabtu, 12 Maret 2011
Statistika dalam Penelitian Kuantitatif
Statistika dalam Penelitian Kuantitatif
Ringkasan:
Dalam melakukan penelitian kuantitatif, kita seringkali mengalami kesulitan tentang metode statistika mana yang akan digunakan. Hal ini umumnya disebabkan kita tidak mendapatkan materi penelitian yang lengkap dan terintegrasi, selain itu buku-buku yang kita temui pun umumnya tidak membahas hal tersebut secara menyeluruh.
Artikel ini berusaha memberikan pengetahuan praktis awal bagi anda yang ingin melakukan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode-metode statistika.
Artikel ini merupakan sebuah work in progress, dalam artian materinya akan terus diperbarui. Tentu saja masukan maupun kritikan dari anda-anda yang membacanya sangat diharapkan, agar saya bersemangat menulisnya. :)
Pendahuluan
Jika kita mendengar kata penelitian, satu hal yang mungkin langsung terlintas di pikiran kita adalah "mesti rumit dan dilakukan oleh orang yang hebat sekali". Hal tersebut tidak sepenuhnya benar maupun salah, karena penelitian ada banyak sekali macamnya, misalnya penelitian di laboratorium yang dinamakan eksperimen, dan ada juga penelitian yang namanya field study. Rumit tidaknya penelitian yang akan kita lakukan, tergantung pada kebutuhan akan hasil penelitian yang diinginkan, semakin banyak kebutuhannya, tentu saja penelitian akan menjadi semakin rumit.
Seringkali kita tidak menyadari bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari kita seringkali sudah melakukan penelitian, misalnya dalam membeli suatu barang yang berharga mahal seperti komputer, kita tentu saja melakukan penelitian ke toko-toko komputer untuk membandingkan harga, fitur, maupun jaminannya. Memilih pacar ataupun calon suami/istri mungkin juga bisa digolongkan sebagai penelitian. Namun tentu saja kedua macam penelitian ini berbeda dengan penelitian yang biasa kita baca di jurnal ilmiah, karena mungkin dalam melakukan penelitian tersebut kita seringkali tidak menggunakan metode ilmiah melainkan terkadang hanya emosi saja, terlebih lagi dalam hal mencari pacar. :)
Untuk selanjutnya dalam artikel ini, kita tidak akan membahas penelitian yang tidak ilmiah semacam itu lagi. Namun lebih kepada penelitian yang akan kita gunakan dalam membuat laporan, skripsi, tesis ataupun disertasi.
Berdasarkan data yang dikumpulkan ataupun analisisnya penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian kualitatif ataupun penelitian kuantitatif. Celakanya selama masa kuliah, kita seringkali diajarkan bahwa penelitian kuantitatif itu lebih "baik" daripada penelitian kualitatif. Dan kita pun dengan naifnya menganggap demikian, karena biasanya penelitian kuantitatif menggunakan alat-alat matematika dan statistika yang rumit-rumit, sehingga terkesan canggih. Apakah memang demikian kenyataannya ?
Julia Brannen dalam bukunya "Memadu Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif" menyatakan bahwa metode kuantitatif dan kualitatif itu ada manfaatnya masing-masing. Jika kita tidak tahu tentang obyek yang akan kita teliti, ada baiknya kita terlebih dulu melakukan penelitian kualitatif, agar kita dapat "feel the object". Secara ringkas, jika kita ingin mengetahui secara mendalam tentang suatu obyek penelitian, gunakanlah metode kualitatif, jika tidak dapat digunakan metode kuantitatif. Yang paling baik tentu saja, bila kita dapat menggabungkan kedua metode tersebut, agar dapat diperoleh keunggulan masing-masing metode.
Metode penelitian kualitatif biasanya dilakukan dengan cara :
* Wawancara
* Observasi
* Etnografi
Selanjutnya kita hanya akan membahas metode penelitian kuantitatif saja, karena berdasarkan pengamatan saya terhadap skripsi-skripsi maupun tesis-tesis, umumnya metode yang digunakan adalah kuantitatif.
Tanpa banyak basa-basi lagi, mari kita mulai.
Aplikasi Statistika
Salah satu metode kuantitatif yang banyak digunakan untuk analisis data adalah dengan menggunakan statistika. Namun sayangnya, materi-materi statistika yang diajarkan di universitas dan buku-buku statistika yang kita jumpai hanya membahas tentang statistika saja tanpa menghubungkannya dengan penelitian. Hal ini saya alami sendiri, waktu memperoleh materi Statistika I dan II semasa masih lugu dahulu, yang diajarkan adalah bagaimana menghitung mean, median, modus, menguji hipotesis dengan t-test, F-test, anova, dan sebagainya. Perhatikan bahwa yang diajarkan adalah "bagaimana menghitung" bukannya "bagaimana manfaat semua itu, bagaimana kaitannya dengan hal lain". Mudah-mudahan hal tersebut cuma dialami oleh saya saja yang mungkin tidak menyimak, karena tertidur ataupun mengantuk di kelas. :)
Luar biasa gawatnya terjadi ketika harus melakukan penelitian kuantitatif dengan menggunakan statistika. Karena tidak paham secara integratif metode statistika untuk penelitian, maka banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari-cari referensi tentang hal tersebut, yang tentu saja sulit ditemui di perpustakaan ataupun toko-toko buku yang hanya menjual buku-buku praktis misalnya saya menjumpai sebuah buku SPSS yang hanya mengajarkan cara menjalankan program SPSS, cara memasukkan data ke sana, menyimpannya, dan lain-lain hal yang bisa dibaca langsung di manual SPSS. Aneh bin ajaib.
Untunglah ada Internet, sehingga saya dapat memperoleh "sedikit" pengetahuan tentang penerapan statistika dalam penelitian.
Saya akan mulai mendiskusikan metode-metode statistika yang umum digunakan dalam penelitian dan bagaiman menginterpretasikan mereka.
Distribusi Frekuensi
Teknik ini mungkin merupakan teknik yang paling mudah dan paling banyak digunakan untuk mendeskripsikan data. Distribusi frekuensi mengindikasikan jumlah dan persentase responden, obyek yang masuk ke dalam kategori yang ada.
Teknik ini biasanya digunakan untuk memberikan informasi awal dalam penelitian tentang obyek atau responden.
Cross-Tabulations
Bila distribusi frekuensi digunakan untuk memberikan informasi yang menggambarkan keseluruhan sampel atau populasi yang diteliti, cross-tabulation adalah sebuah teknik visual yang memungkinkan peneliti menguji relasi antar variabel.
Kedua teknik yang telah disebutkan di atas digunakan untuk menggambarkan data yang dikumpulkan selama penelitian, ini hanya merupakan awal tugas peneliti. Tugas berikutnya adalah menjelaskan temuan-temuan ini dan dapat membuat sebuah generalisasi tentang populasi yang lebih besar. Maka digunakanlah inferential statistics.
Korelasi
Metode ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi.
Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat.
Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut :
+ atau - 0.80 hingga 1.00 korelasi sangat tinggi
0.60 hingga 0.79 korelasi tinggi
0.40 hingga 0.59 korelasi moderat
0.20 hingga 0.39 korelasi rendah
0.01 hingga 0.19 korelasi sangat rendah
Satu hal yang perlu diingat adalah "korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat". Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan "lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi".
Regresi
Regresi digunakan ketika periset ingin memprediksi hasil atas variabel-variabel tertentu dengan menggunakan variabel lain. Dalam bentuknya yang paling sederhana yang hanya melibatkan dua buah variabel, yaitu variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent), misalnya lama waktu belajar dengan nilai ujian. Regresi sederhana berusaha memprakirakan nilai ujian dengan lamanya waktu belajar.
Analisis regresi mengindikasikan kepentingan relatif satu atau lebih variabel dalam memprediksi variabel lainnya.
t-test
Teknik t-test digunakan bila periset ingin mengevaluasi perbedaan antara efek. Sebagai contoh, periset mungkin tertarik dalam perbedaan kepuasan kerja untuk orang-orang yang berbeda tingkat pendidikannya. Teknik analisis yang banyak digunakan adalah membandingkan dua kelompok, misalnya mereka yang mendapat pendidikan universitas dengan mereka yang tidak, dengan menggunakan mean kelompok sebagai dasar perbandingan. t-test akan mengindikasikan apakah perbedaan antara kedua kelompok tersebut signifikan secara statistika.
F-test
F-test menguji apakah populasi tempat sampel diambil memiliki korelasi multiple (R) nol atau apakah terdapat sebuah relasi yang signifikan antara variabel-variabel independen dengan variabel-variabel dependen.
Analisis Validitas
Untuk melakukan analisis validitas dapat digunakan metode Pearson Product Moment (bila sampel normal, $>$ 30) ataupun metode Spearman Rank Correlation (bila sampel kecil, $<$ 30). Analisis Reliabilitas Internal Untuk analisis reliabilitas internal dapat digunakan metode Cronbach's Alpha. Jika koefisien yang didapat $>$ 0.60, maka instrumen penelitian tersebut reliabel.
Penutup
Demikianlah informasi ringkas tentang aplikasi metode-metode statistika yang dapat digunakan dalam melakukan penelitian kuantitatif. Semoga dapat bermanfaat.
Ringkasan:
Dalam melakukan penelitian kuantitatif, kita seringkali mengalami kesulitan tentang metode statistika mana yang akan digunakan. Hal ini umumnya disebabkan kita tidak mendapatkan materi penelitian yang lengkap dan terintegrasi, selain itu buku-buku yang kita temui pun umumnya tidak membahas hal tersebut secara menyeluruh.
Artikel ini berusaha memberikan pengetahuan praktis awal bagi anda yang ingin melakukan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode-metode statistika.
Artikel ini merupakan sebuah work in progress, dalam artian materinya akan terus diperbarui. Tentu saja masukan maupun kritikan dari anda-anda yang membacanya sangat diharapkan, agar saya bersemangat menulisnya. :)
Pendahuluan
Jika kita mendengar kata penelitian, satu hal yang mungkin langsung terlintas di pikiran kita adalah "mesti rumit dan dilakukan oleh orang yang hebat sekali". Hal tersebut tidak sepenuhnya benar maupun salah, karena penelitian ada banyak sekali macamnya, misalnya penelitian di laboratorium yang dinamakan eksperimen, dan ada juga penelitian yang namanya field study. Rumit tidaknya penelitian yang akan kita lakukan, tergantung pada kebutuhan akan hasil penelitian yang diinginkan, semakin banyak kebutuhannya, tentu saja penelitian akan menjadi semakin rumit.
Seringkali kita tidak menyadari bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari kita seringkali sudah melakukan penelitian, misalnya dalam membeli suatu barang yang berharga mahal seperti komputer, kita tentu saja melakukan penelitian ke toko-toko komputer untuk membandingkan harga, fitur, maupun jaminannya. Memilih pacar ataupun calon suami/istri mungkin juga bisa digolongkan sebagai penelitian. Namun tentu saja kedua macam penelitian ini berbeda dengan penelitian yang biasa kita baca di jurnal ilmiah, karena mungkin dalam melakukan penelitian tersebut kita seringkali tidak menggunakan metode ilmiah melainkan terkadang hanya emosi saja, terlebih lagi dalam hal mencari pacar. :)
Untuk selanjutnya dalam artikel ini, kita tidak akan membahas penelitian yang tidak ilmiah semacam itu lagi. Namun lebih kepada penelitian yang akan kita gunakan dalam membuat laporan, skripsi, tesis ataupun disertasi.
Berdasarkan data yang dikumpulkan ataupun analisisnya penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian kualitatif ataupun penelitian kuantitatif. Celakanya selama masa kuliah, kita seringkali diajarkan bahwa penelitian kuantitatif itu lebih "baik" daripada penelitian kualitatif. Dan kita pun dengan naifnya menganggap demikian, karena biasanya penelitian kuantitatif menggunakan alat-alat matematika dan statistika yang rumit-rumit, sehingga terkesan canggih. Apakah memang demikian kenyataannya ?
Julia Brannen dalam bukunya "Memadu Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif" menyatakan bahwa metode kuantitatif dan kualitatif itu ada manfaatnya masing-masing. Jika kita tidak tahu tentang obyek yang akan kita teliti, ada baiknya kita terlebih dulu melakukan penelitian kualitatif, agar kita dapat "feel the object". Secara ringkas, jika kita ingin mengetahui secara mendalam tentang suatu obyek penelitian, gunakanlah metode kualitatif, jika tidak dapat digunakan metode kuantitatif. Yang paling baik tentu saja, bila kita dapat menggabungkan kedua metode tersebut, agar dapat diperoleh keunggulan masing-masing metode.
Metode penelitian kualitatif biasanya dilakukan dengan cara :
* Wawancara
* Observasi
* Etnografi
Selanjutnya kita hanya akan membahas metode penelitian kuantitatif saja, karena berdasarkan pengamatan saya terhadap skripsi-skripsi maupun tesis-tesis, umumnya metode yang digunakan adalah kuantitatif.
Tanpa banyak basa-basi lagi, mari kita mulai.
Aplikasi Statistika
Salah satu metode kuantitatif yang banyak digunakan untuk analisis data adalah dengan menggunakan statistika. Namun sayangnya, materi-materi statistika yang diajarkan di universitas dan buku-buku statistika yang kita jumpai hanya membahas tentang statistika saja tanpa menghubungkannya dengan penelitian. Hal ini saya alami sendiri, waktu memperoleh materi Statistika I dan II semasa masih lugu dahulu, yang diajarkan adalah bagaimana menghitung mean, median, modus, menguji hipotesis dengan t-test, F-test, anova, dan sebagainya. Perhatikan bahwa yang diajarkan adalah "bagaimana menghitung" bukannya "bagaimana manfaat semua itu, bagaimana kaitannya dengan hal lain". Mudah-mudahan hal tersebut cuma dialami oleh saya saja yang mungkin tidak menyimak, karena tertidur ataupun mengantuk di kelas. :)
Luar biasa gawatnya terjadi ketika harus melakukan penelitian kuantitatif dengan menggunakan statistika. Karena tidak paham secara integratif metode statistika untuk penelitian, maka banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari-cari referensi tentang hal tersebut, yang tentu saja sulit ditemui di perpustakaan ataupun toko-toko buku yang hanya menjual buku-buku praktis misalnya saya menjumpai sebuah buku SPSS yang hanya mengajarkan cara menjalankan program SPSS, cara memasukkan data ke sana, menyimpannya, dan lain-lain hal yang bisa dibaca langsung di manual SPSS. Aneh bin ajaib.
Untunglah ada Internet, sehingga saya dapat memperoleh "sedikit" pengetahuan tentang penerapan statistika dalam penelitian.
Saya akan mulai mendiskusikan metode-metode statistika yang umum digunakan dalam penelitian dan bagaiman menginterpretasikan mereka.
Distribusi Frekuensi
Teknik ini mungkin merupakan teknik yang paling mudah dan paling banyak digunakan untuk mendeskripsikan data. Distribusi frekuensi mengindikasikan jumlah dan persentase responden, obyek yang masuk ke dalam kategori yang ada.
Teknik ini biasanya digunakan untuk memberikan informasi awal dalam penelitian tentang obyek atau responden.
Cross-Tabulations
Bila distribusi frekuensi digunakan untuk memberikan informasi yang menggambarkan keseluruhan sampel atau populasi yang diteliti, cross-tabulation adalah sebuah teknik visual yang memungkinkan peneliti menguji relasi antar variabel.
Kedua teknik yang telah disebutkan di atas digunakan untuk menggambarkan data yang dikumpulkan selama penelitian, ini hanya merupakan awal tugas peneliti. Tugas berikutnya adalah menjelaskan temuan-temuan ini dan dapat membuat sebuah generalisasi tentang populasi yang lebih besar. Maka digunakanlah inferential statistics.
Korelasi
Metode ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi.
Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat.
Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut :
+ atau - 0.80 hingga 1.00 korelasi sangat tinggi
0.60 hingga 0.79 korelasi tinggi
0.40 hingga 0.59 korelasi moderat
0.20 hingga 0.39 korelasi rendah
0.01 hingga 0.19 korelasi sangat rendah
Satu hal yang perlu diingat adalah "korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat". Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan "lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi".
Regresi
Regresi digunakan ketika periset ingin memprediksi hasil atas variabel-variabel tertentu dengan menggunakan variabel lain. Dalam bentuknya yang paling sederhana yang hanya melibatkan dua buah variabel, yaitu variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent), misalnya lama waktu belajar dengan nilai ujian. Regresi sederhana berusaha memprakirakan nilai ujian dengan lamanya waktu belajar.
Analisis regresi mengindikasikan kepentingan relatif satu atau lebih variabel dalam memprediksi variabel lainnya.
t-test
Teknik t-test digunakan bila periset ingin mengevaluasi perbedaan antara efek. Sebagai contoh, periset mungkin tertarik dalam perbedaan kepuasan kerja untuk orang-orang yang berbeda tingkat pendidikannya. Teknik analisis yang banyak digunakan adalah membandingkan dua kelompok, misalnya mereka yang mendapat pendidikan universitas dengan mereka yang tidak, dengan menggunakan mean kelompok sebagai dasar perbandingan. t-test akan mengindikasikan apakah perbedaan antara kedua kelompok tersebut signifikan secara statistika.
F-test
F-test menguji apakah populasi tempat sampel diambil memiliki korelasi multiple (R) nol atau apakah terdapat sebuah relasi yang signifikan antara variabel-variabel independen dengan variabel-variabel dependen.
Analisis Validitas
Untuk melakukan analisis validitas dapat digunakan metode Pearson Product Moment (bila sampel normal, $>$ 30) ataupun metode Spearman Rank Correlation (bila sampel kecil, $<$ 30). Analisis Reliabilitas Internal Untuk analisis reliabilitas internal dapat digunakan metode Cronbach's Alpha. Jika koefisien yang didapat $>$ 0.60, maka instrumen penelitian tersebut reliabel.
Penutup
Demikianlah informasi ringkas tentang aplikasi metode-metode statistika yang dapat digunakan dalam melakukan penelitian kuantitatif. Semoga dapat bermanfaat.
Konsep-Konsep Dasar Penelitian
Konsep-Konsep Dasar Penelitian
E. VARIABEL
Variabel penelitian adalah objek yang diteliti yang memiliki nilai yang bervariasi. Dengan demikian sesuatu yang hanya mempunyai satu nilai (tidak mempunyai nilai yang bervariasi) tidak dapat dinyatakan sebagai variabel, tetapi konstanta (constant).
1. Kualitatif dan Kuantitatif
Qualitative Variable, adalah variabel yang datanya berupa data kualitatif (skala nominal atau ordinal).
Quantitative Variable, adalah variabel yang datanya berupa angka (skala ordinal, interval, atau rasio).
2. Bebas dan Terikat
Variabel Bebas (Independent Variable), adalah variabel yang mempengaruhi variabel yang lain (variabel terikat).
Variabel Terikat (Dependent Variable), adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain (variabel bebas).
Dua pengertian di atas memperlihatkan bahwa istilah dua jenis variabel ini muncul pada penelitian (study) pengaruh.
Contoh: Pada penelitian tentang ”Pengaruh IQ terhadap Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika”, yang menjadi VB adalah ”IQ” dan yang menjadi VT adalah ”Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika”.
Catatan: Pada penelitian korelasional tidak dikenal istilah variabel bebas dan terikat, karena;
a. Pada hubungan relasional tidak ada variabel yang ”mempengaruhi” (VB) maupun ”dipengaruhi” (VT).
Contoh: Hubungan Kemampuan Berbahasa Arab dan Kemampuan Berbahasa Inggris Mahasiswa.
b. Pada hubungan resiprokal tiap variabel ”mempengaruhi” dan ”dipengaruhi” oleh variabel yang lain, sehingga penentuan VB dan VT menjadi rancu.
Contoh: Hubungan Motivasi dan Hasil Belajar Mahasiswa.
3. Kontrol dan Ekstrane
Ketika peneliti merasa tidak puas dengan hasil yang ditunjukkan oleh variabel bebas dan variabel terikat yang dianalisis, maka perlu dilakukan analisis lanjutan dengan memperhitungkan variabel-variabel yang lain (variabel-variabel penjelas) yang dapat lebih menjelaskan realitas yang sesungguhnya. Analisis lanjutan ini disebut dengan analisis penjelas (elaboration). Sedangkan variabel yang perlu diperhitungkan dalam analisis ini antara lain adalah variabel kontrol dan variabel ekstrane.
Control Variable, adalah variabel yang dikendalikan pengaruhnya terhadap variabel terikat. Pengendalian ini dilakukan dengan menggunakan nilai yang sama (dijadikan konstanta).
Contoh: Jika meneliti tentang ”Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika” (VT) yang diduga dipengaruhi oleh IQ-nya (VB), maka variabel lain yang juga diduga berpengaruh terhadap ”Nilai” dimaksud seperti ”Minat” dikendalikan (VK), yaitu dengan menggunakan satu nilainya saja seperti mahasiswa yang memiliki minat belajar Statistika yang ”Tinggi”.
Control variable ini sering ditemukan pada penelitian di bidang eksakta, terutama pada penelitian eksperimental. Pada bidang sosial, pengontrolan variabel lebih sulit dilakukan terutama pada penelitian observasional.
Catatan: Pengontrolan variabel yang berpengaruh terhadap VT selain dapat dilakukan dengan cara membuat variabel menjadi konstanta (secara metodologis), juga dapat dilakukan dengan pengontrolan secara statistis/matematis. Pengontrolan secara statistis dapat dilihat secara eksplisit pada analisis-analisis parsial.
Extraneous Variable, adalah variabel yang diabaikan pengaruhnya terhadap variabel terikat, karena pengaruhnya dianggap tidak signifikan.
Contoh: Jika meneliti tentang ”Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika” (VT) yang diduga dipengaruhi oleh IQ-nya (VB), maka variabel lain yang juga diduga berpengaruh terhadap ”nilai” dimaksud namun dianggap pengaruhnya kecil (negligible) sehingga tak berarti (nonsignificant) seperti ”Penggunaan Ruangan ber-AC”, diabaikan.
4. Antara dan Moderator
Variabel-variabel lain yang juga dapat memberikan kontribusi dalam analisis penjelas adalah sebagai berikut:
Intervening Variable, adalah variabel yang menjadi perantara efek dari VB ke VT. Dengan demikian VB secara langsung memberikan efek terhadap VI, kemudian VI memberikan efek terhadap VT yang di dalamnya termasuk efek (tak langsung) dari VB.
Contoh: Pada penelitian tentang ”Pengaruh IQ terhadap Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika”, sebenarnya pengaruh dari ”IQ” (VB) tidaklah langsung terhadap ”Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika” (VT), tetapi melalui suatu variabel lain yaitu ”Proses Belajar Statistika” (VI).
Moderator Variable, yaitu variabel yang memberikan dampak terhadap pengaruh VB kepada VT.
Contoh: Pada penelitian tentang ”Efek Motivasi terhadap Proses Belajar Mahasiswa di Kelas pada Mata Kuliah Statistika”, peneliti menduga bahwa motivasi yang diukur sebelum perkuliahan dilaksanakan berdampak positif terhadap proses belajar yang diamati secara langsung. Namun hasil penelitian ternyata tidak sesuai dengan dugaan tersebut. Bisa saja dampaknya tidak signifikan atau bahkan dampaknya negatif.
Peneliti kemudian menduga bahwa hal ini terjadi karena pengaruh dari ”Cara Mengajar Dosen” yang membuat mahasiswa yang motivasinya tinggi tetapi proses belajarnya di kelas tidak baik atau sebaliknya. Jika kemudian ”Cara Mengajar Dosen” ikut dilibatkan dalam penelitian, maka ia berkedudukan sebagai VM.
Dampak VM terhadap pengaruh VB kepada VT selain dijelaskan melalui prosesnya sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, juga dapat dijelaskan melalui pengaruhnya terhadap VB sekaligus terhadap VT, sehingga modelnya digambarkan sebagai berikut:
Contoh: Dari contoh penelitian tentang ”Efek Motivasi terhadap Proses Belajar Mahasiswa di Kelas pada Mata Kuliah Statistika”, sebenarnya dapat dipandang bahwa ”Cara Mengajar Dosen” memberikan dampak terhadap ”Motivasi Belajar” mahasiswa sekaligus terhadap ”Proses Belajar” mereka.
Catatan: Jika melihat kedudukannya dalam model, maka VM sebenarnya adalah VB. Tetapi karena VM dimunculkan untuk menjelaskan pengaruh VB terhadap VT, maka kedudukan VM dalam analisis dianggap sebagai VB Kedua (Secondary Independent Variable).
Jika bukan dalam analisis penjelas maka model kedua yang menggambarkan kedudukan VM, dapat membuat kedudukan VB berubah menjadi VI dengan model sebagai berikut:
5. Komponen, Pengganggu, dan Penekan
Beberapa variabel lain yang juga dapat memberikan kontribusi dalam analisis penjelas adalah sebagai berikut:
Component Variable, adalah bagian dari suatu variabel yang apabila diperlakukan sebagai variabel tersendiri akan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih baik.
Contoh: Tes IQ (VB) diduga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar dalam mata kuliah Statistika (VT). Mungkin akan lebih baik jika setiap bagian dari Tes IQ dianalisis sebagai VB yang terpisah yaitu: Tes Verbal (VB1), Tes Spasial (VB2), Tes Logikal (VB3), dan Tes Numerikal (VB4) sehingga dapat diketahui komponen Tes IQ mana yang berpengaruh atau tak berpengaruh signifikan serta yang mana yang pengaruhnya paling signifikan terhadap hasil belajar dalam mata kuliah Statistika (VT). Mungkin juga akan lebih baik lagi jika hasil belajar Statistika dianalisis komponennya secara terpisah (dianggap sebagai variabel-variaabel tersendiri) juga.
Distractor Variable, yaitu variabel yang dapat mengungkapkan bahwa kesimpulan yang benar dari suatu analisis adalah kebalikan dari apa yang disimpulkan pada desain sebelumnya.
Contoh: Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggan suatu bank ternyata lebih banyak dari masyarakat yang berdomisili jauh dibandingkan yang dekat dengan bank dimaksud.
Hasil penelitian ini tentu mengherankan. Namun jika dilakukan analisis dengan melibatkan perbandingan jarak rumah populasi dengan lokasi bank saingan terdekat yang diklasifikasikan atas ”lebih dekat” atau ”lebih jauh”, ternyata memberikan hasil bahwa sebaliknya yaitu seseorang dalam memilih bank ternyata memilih yang jaraknya lebih dekat dengan rumahnya.
Dengan demikian ”Perbandingan Jarak dengan Bank Kompetitor” lebih layak dijadikan VB dibandingkan menggunakan ”Jarak Rumah Populasi dengan Bank Tertentu”.
Supressor Variable, yaitu variabel yang menekan pengaruh suatu variabel terhadap variabel yang lain.
Contoh: Diduga bahwa ”Reaksi terhadap Perubahan Harga” (VT) dari kelompok masyarakat berpenghasilan (VB) rendah lebih signifikan dibanding kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Namun hasil pengujian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan.
Ketika kemudian masyarakat yang diteliti dibedakan juga atas dasar tingkat pendidikan, terlihat bahwa tingkat pendidikan rendah dan tinggi berbeda secara signifikan dalam hal reaksi terhadap perubahan harga. Peneliti mungkin terjebak dalam pemikiran bahwa ”Tingkat Penghasilan” sudah bukan merupakan variabel yang signifikan lagi untuk melihat ”Reaksi Masyarakat terhadap Perubahan Harga”. Hasil analisis memperlihatkan variabel ”Tingkat Pendidikan”-lah yang berpengaruh.
Namun jika variabel ”Tingkat Pendidikan” dibuat konstan (dijadikan VK), maka akan dapat dilihat bahwa tingkat penghasilan memberi pengaruh yang signifikan. Hal ini menjelaskan bahwa pengaruh ”Tingkat Penghasilan” telah ditekan oleh ”Tingkat Pendidikan”.
6. Eksogen dan Endogen
Exogeneous Variable, adalah variabel yang dianggap memiliki pengaruh terhadap variabel yang lain, namun tidak dipengaruhi oleh variabel lain dalam model.
Endogeneous Variable, adalah variabel yang dianggap dipengaruhi oleh variabel lain dalam model.
Contoh Model:
Variabel Eksogen ----------------Variabel Endogen
(klik gambar untuk memperjelas tulisan)
Dari model di atas dapat dilihat bahwa:
a. ”Cara Mengajar Dosen” adalah VB, ”Motivasi Belajar Mahasiswa” adalah VI, dan ”Proses Belajar Mahasiswa” adalah VT.
b. ”Cara Mengajar Dosen” karena tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain adalah Vex.
c. ”Motivasi Belajar Mahasiswa” adalah VEn, karena dipengaruhi oleh variabel ”Cara Mengajar Dosen. ”Proses Belajar Mahasiswa” juga Ven karena dipengaruhi oleh ”Motivasi Belajar Mahasiswa”.
7. Teramati dan Laten
Observed Variable, adalah variabel yang dapat ”diamati” secara langsung.
Latent Variable, adalah variabel yang tidak dapat ”diamati” secara langsung namun harus dikonstruk sedemikian rupa dari berbagai indikator.
Catatan: Indikator yang digunakan untuk mengukur VL adalah Variabel Teramati (VTm) atau Observed Variable/Manifest Variable.
VTm sering muncul dalam penelitian-penelitian eksakta.
Dalam penelitian sosial – humaniora (behavioristic), variabel yang digunakan seringkali berupa variabel yang tidak dapat diamati secara langsung, namun harus dikonstruk sedemikian rupa.
Variabel ”Warna Kulit”, adalah variabel yang dapat diamati secara langsung baik dengan teknik observasi, angket, maupun yang lainnya. Tetapi variabel ”Motivasi” tidaklah dapat diamati secara langsung, karena secara konseptual motivasi adalah ”proses neuro-psikologis dalam diri seseorang”. Oleh karena itu variabel seperti motivasi harus diukur dengan cara:
a. Mengamati akibatnya → reflective indicators
b. Mengamati faktor (penyebabnya) → formative indicators
c. Mengamati bagian-bagiannya → correlative indicators.
Model-model di atas menggunakan one level factor yang dianalisis dengan first order factor analysis. Tetapi jika model kedua dan ketiga digabungkan, maka akan didapatkan two level factor yang mencakup gabungan indikator-indikator formatif dan korelatif. Untuk menganalisis model two level factor digunakan second order factor analysis.
Catatan: Analisis faktor dengan indikator korelatif dan resiprokal (hubungan simetrik) antara lain dapat menggunakan program SPSS, Lisrel, EQS yang berbasisikan rumus korelasi. Dalam analisis multivariat, analisis faktor seperti ini diklasifikasikan sebagai analisis multivariat yang bersifat interdependensi dan merupakan teknik parametrik.
Analisis faktor dengan indikator formatif antara lain dapat menggunakan program-program berbasisikan metode Partial Least Square seperti Smart PLS, Visual PLS, PLS-GUI, PLS Graph yang berbasiskan rumus multipel regresi. Dalam Second-Order Multivariate Analysis, analisis seperti ini termasuk dalam kategori dependensi dan masuk dalam kategori nonparametrik.
Analisis faktor dengan indikator reflektif seharusnya berbasiskan rumus multivariate regression, namun penulis belum menemukan program yang khusus untuk ini. Karenanya dalam praktek, yang digunakan adalah analisis berbasiskan korelasi.
E. VARIABEL
Variabel penelitian adalah objek yang diteliti yang memiliki nilai yang bervariasi. Dengan demikian sesuatu yang hanya mempunyai satu nilai (tidak mempunyai nilai yang bervariasi) tidak dapat dinyatakan sebagai variabel, tetapi konstanta (constant).
1. Kualitatif dan Kuantitatif
Qualitative Variable, adalah variabel yang datanya berupa data kualitatif (skala nominal atau ordinal).
Quantitative Variable, adalah variabel yang datanya berupa angka (skala ordinal, interval, atau rasio).
2. Bebas dan Terikat
Variabel Bebas (Independent Variable), adalah variabel yang mempengaruhi variabel yang lain (variabel terikat).
Variabel Terikat (Dependent Variable), adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain (variabel bebas).
Dua pengertian di atas memperlihatkan bahwa istilah dua jenis variabel ini muncul pada penelitian (study) pengaruh.
Contoh: Pada penelitian tentang ”Pengaruh IQ terhadap Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika”, yang menjadi VB adalah ”IQ” dan yang menjadi VT adalah ”Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika”.
Catatan: Pada penelitian korelasional tidak dikenal istilah variabel bebas dan terikat, karena;
a. Pada hubungan relasional tidak ada variabel yang ”mempengaruhi” (VB) maupun ”dipengaruhi” (VT).
Contoh: Hubungan Kemampuan Berbahasa Arab dan Kemampuan Berbahasa Inggris Mahasiswa.
b. Pada hubungan resiprokal tiap variabel ”mempengaruhi” dan ”dipengaruhi” oleh variabel yang lain, sehingga penentuan VB dan VT menjadi rancu.
Contoh: Hubungan Motivasi dan Hasil Belajar Mahasiswa.
3. Kontrol dan Ekstrane
Ketika peneliti merasa tidak puas dengan hasil yang ditunjukkan oleh variabel bebas dan variabel terikat yang dianalisis, maka perlu dilakukan analisis lanjutan dengan memperhitungkan variabel-variabel yang lain (variabel-variabel penjelas) yang dapat lebih menjelaskan realitas yang sesungguhnya. Analisis lanjutan ini disebut dengan analisis penjelas (elaboration). Sedangkan variabel yang perlu diperhitungkan dalam analisis ini antara lain adalah variabel kontrol dan variabel ekstrane.
Control Variable, adalah variabel yang dikendalikan pengaruhnya terhadap variabel terikat. Pengendalian ini dilakukan dengan menggunakan nilai yang sama (dijadikan konstanta).
Contoh: Jika meneliti tentang ”Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika” (VT) yang diduga dipengaruhi oleh IQ-nya (VB), maka variabel lain yang juga diduga berpengaruh terhadap ”Nilai” dimaksud seperti ”Minat” dikendalikan (VK), yaitu dengan menggunakan satu nilainya saja seperti mahasiswa yang memiliki minat belajar Statistika yang ”Tinggi”.
Control variable ini sering ditemukan pada penelitian di bidang eksakta, terutama pada penelitian eksperimental. Pada bidang sosial, pengontrolan variabel lebih sulit dilakukan terutama pada penelitian observasional.
Catatan: Pengontrolan variabel yang berpengaruh terhadap VT selain dapat dilakukan dengan cara membuat variabel menjadi konstanta (secara metodologis), juga dapat dilakukan dengan pengontrolan secara statistis/matematis. Pengontrolan secara statistis dapat dilihat secara eksplisit pada analisis-analisis parsial.
Extraneous Variable, adalah variabel yang diabaikan pengaruhnya terhadap variabel terikat, karena pengaruhnya dianggap tidak signifikan.
Contoh: Jika meneliti tentang ”Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika” (VT) yang diduga dipengaruhi oleh IQ-nya (VB), maka variabel lain yang juga diduga berpengaruh terhadap ”nilai” dimaksud namun dianggap pengaruhnya kecil (negligible) sehingga tak berarti (nonsignificant) seperti ”Penggunaan Ruangan ber-AC”, diabaikan.
4. Antara dan Moderator
Variabel-variabel lain yang juga dapat memberikan kontribusi dalam analisis penjelas adalah sebagai berikut:
Intervening Variable, adalah variabel yang menjadi perantara efek dari VB ke VT. Dengan demikian VB secara langsung memberikan efek terhadap VI, kemudian VI memberikan efek terhadap VT yang di dalamnya termasuk efek (tak langsung) dari VB.
Contoh: Pada penelitian tentang ”Pengaruh IQ terhadap Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika”, sebenarnya pengaruh dari ”IQ” (VB) tidaklah langsung terhadap ”Nilai yang Dicapai Mahasiswa dalam Perkuliahan Statistika” (VT), tetapi melalui suatu variabel lain yaitu ”Proses Belajar Statistika” (VI).
Moderator Variable, yaitu variabel yang memberikan dampak terhadap pengaruh VB kepada VT.
Contoh: Pada penelitian tentang ”Efek Motivasi terhadap Proses Belajar Mahasiswa di Kelas pada Mata Kuliah Statistika”, peneliti menduga bahwa motivasi yang diukur sebelum perkuliahan dilaksanakan berdampak positif terhadap proses belajar yang diamati secara langsung. Namun hasil penelitian ternyata tidak sesuai dengan dugaan tersebut. Bisa saja dampaknya tidak signifikan atau bahkan dampaknya negatif.
Peneliti kemudian menduga bahwa hal ini terjadi karena pengaruh dari ”Cara Mengajar Dosen” yang membuat mahasiswa yang motivasinya tinggi tetapi proses belajarnya di kelas tidak baik atau sebaliknya. Jika kemudian ”Cara Mengajar Dosen” ikut dilibatkan dalam penelitian, maka ia berkedudukan sebagai VM.
Dampak VM terhadap pengaruh VB kepada VT selain dijelaskan melalui prosesnya sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, juga dapat dijelaskan melalui pengaruhnya terhadap VB sekaligus terhadap VT, sehingga modelnya digambarkan sebagai berikut:
Contoh: Dari contoh penelitian tentang ”Efek Motivasi terhadap Proses Belajar Mahasiswa di Kelas pada Mata Kuliah Statistika”, sebenarnya dapat dipandang bahwa ”Cara Mengajar Dosen” memberikan dampak terhadap ”Motivasi Belajar” mahasiswa sekaligus terhadap ”Proses Belajar” mereka.
Catatan: Jika melihat kedudukannya dalam model, maka VM sebenarnya adalah VB. Tetapi karena VM dimunculkan untuk menjelaskan pengaruh VB terhadap VT, maka kedudukan VM dalam analisis dianggap sebagai VB Kedua (Secondary Independent Variable).
Jika bukan dalam analisis penjelas maka model kedua yang menggambarkan kedudukan VM, dapat membuat kedudukan VB berubah menjadi VI dengan model sebagai berikut:
5. Komponen, Pengganggu, dan Penekan
Beberapa variabel lain yang juga dapat memberikan kontribusi dalam analisis penjelas adalah sebagai berikut:
Component Variable, adalah bagian dari suatu variabel yang apabila diperlakukan sebagai variabel tersendiri akan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih baik.
Contoh: Tes IQ (VB) diduga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar dalam mata kuliah Statistika (VT). Mungkin akan lebih baik jika setiap bagian dari Tes IQ dianalisis sebagai VB yang terpisah yaitu: Tes Verbal (VB1), Tes Spasial (VB2), Tes Logikal (VB3), dan Tes Numerikal (VB4) sehingga dapat diketahui komponen Tes IQ mana yang berpengaruh atau tak berpengaruh signifikan serta yang mana yang pengaruhnya paling signifikan terhadap hasil belajar dalam mata kuliah Statistika (VT). Mungkin juga akan lebih baik lagi jika hasil belajar Statistika dianalisis komponennya secara terpisah (dianggap sebagai variabel-variaabel tersendiri) juga.
Distractor Variable, yaitu variabel yang dapat mengungkapkan bahwa kesimpulan yang benar dari suatu analisis adalah kebalikan dari apa yang disimpulkan pada desain sebelumnya.
Contoh: Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggan suatu bank ternyata lebih banyak dari masyarakat yang berdomisili jauh dibandingkan yang dekat dengan bank dimaksud.
Hasil penelitian ini tentu mengherankan. Namun jika dilakukan analisis dengan melibatkan perbandingan jarak rumah populasi dengan lokasi bank saingan terdekat yang diklasifikasikan atas ”lebih dekat” atau ”lebih jauh”, ternyata memberikan hasil bahwa sebaliknya yaitu seseorang dalam memilih bank ternyata memilih yang jaraknya lebih dekat dengan rumahnya.
Dengan demikian ”Perbandingan Jarak dengan Bank Kompetitor” lebih layak dijadikan VB dibandingkan menggunakan ”Jarak Rumah Populasi dengan Bank Tertentu”.
Supressor Variable, yaitu variabel yang menekan pengaruh suatu variabel terhadap variabel yang lain.
Contoh: Diduga bahwa ”Reaksi terhadap Perubahan Harga” (VT) dari kelompok masyarakat berpenghasilan (VB) rendah lebih signifikan dibanding kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Namun hasil pengujian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan.
Ketika kemudian masyarakat yang diteliti dibedakan juga atas dasar tingkat pendidikan, terlihat bahwa tingkat pendidikan rendah dan tinggi berbeda secara signifikan dalam hal reaksi terhadap perubahan harga. Peneliti mungkin terjebak dalam pemikiran bahwa ”Tingkat Penghasilan” sudah bukan merupakan variabel yang signifikan lagi untuk melihat ”Reaksi Masyarakat terhadap Perubahan Harga”. Hasil analisis memperlihatkan variabel ”Tingkat Pendidikan”-lah yang berpengaruh.
Namun jika variabel ”Tingkat Pendidikan” dibuat konstan (dijadikan VK), maka akan dapat dilihat bahwa tingkat penghasilan memberi pengaruh yang signifikan. Hal ini menjelaskan bahwa pengaruh ”Tingkat Penghasilan” telah ditekan oleh ”Tingkat Pendidikan”.
6. Eksogen dan Endogen
Exogeneous Variable, adalah variabel yang dianggap memiliki pengaruh terhadap variabel yang lain, namun tidak dipengaruhi oleh variabel lain dalam model.
Endogeneous Variable, adalah variabel yang dianggap dipengaruhi oleh variabel lain dalam model.
Contoh Model:
Variabel Eksogen ----------------Variabel Endogen
(klik gambar untuk memperjelas tulisan)
Dari model di atas dapat dilihat bahwa:
a. ”Cara Mengajar Dosen” adalah VB, ”Motivasi Belajar Mahasiswa” adalah VI, dan ”Proses Belajar Mahasiswa” adalah VT.
b. ”Cara Mengajar Dosen” karena tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain adalah Vex.
c. ”Motivasi Belajar Mahasiswa” adalah VEn, karena dipengaruhi oleh variabel ”Cara Mengajar Dosen. ”Proses Belajar Mahasiswa” juga Ven karena dipengaruhi oleh ”Motivasi Belajar Mahasiswa”.
7. Teramati dan Laten
Observed Variable, adalah variabel yang dapat ”diamati” secara langsung.
Latent Variable, adalah variabel yang tidak dapat ”diamati” secara langsung namun harus dikonstruk sedemikian rupa dari berbagai indikator.
Catatan: Indikator yang digunakan untuk mengukur VL adalah Variabel Teramati (VTm) atau Observed Variable/Manifest Variable.
VTm sering muncul dalam penelitian-penelitian eksakta.
Dalam penelitian sosial – humaniora (behavioristic), variabel yang digunakan seringkali berupa variabel yang tidak dapat diamati secara langsung, namun harus dikonstruk sedemikian rupa.
Variabel ”Warna Kulit”, adalah variabel yang dapat diamati secara langsung baik dengan teknik observasi, angket, maupun yang lainnya. Tetapi variabel ”Motivasi” tidaklah dapat diamati secara langsung, karena secara konseptual motivasi adalah ”proses neuro-psikologis dalam diri seseorang”. Oleh karena itu variabel seperti motivasi harus diukur dengan cara:
a. Mengamati akibatnya → reflective indicators
b. Mengamati faktor (penyebabnya) → formative indicators
c. Mengamati bagian-bagiannya → correlative indicators.
Model-model di atas menggunakan one level factor yang dianalisis dengan first order factor analysis. Tetapi jika model kedua dan ketiga digabungkan, maka akan didapatkan two level factor yang mencakup gabungan indikator-indikator formatif dan korelatif. Untuk menganalisis model two level factor digunakan second order factor analysis.
Catatan: Analisis faktor dengan indikator korelatif dan resiprokal (hubungan simetrik) antara lain dapat menggunakan program SPSS, Lisrel, EQS yang berbasisikan rumus korelasi. Dalam analisis multivariat, analisis faktor seperti ini diklasifikasikan sebagai analisis multivariat yang bersifat interdependensi dan merupakan teknik parametrik.
Analisis faktor dengan indikator formatif antara lain dapat menggunakan program-program berbasisikan metode Partial Least Square seperti Smart PLS, Visual PLS, PLS-GUI, PLS Graph yang berbasiskan rumus multipel regresi. Dalam Second-Order Multivariate Analysis, analisis seperti ini termasuk dalam kategori dependensi dan masuk dalam kategori nonparametrik.
Analisis faktor dengan indikator reflektif seharusnya berbasiskan rumus multivariate regression, namun penulis belum menemukan program yang khusus untuk ini. Karenanya dalam praktek, yang digunakan adalah analisis berbasiskan korelasi.
statistik2
3
BAB 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan,
mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data.
Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data.
Istilah 'statistika' (bahasa Inggris:statistics) berbeda dengan 'statistik' (statistic). Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data
1.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang akan saya bahas meliputi statistika yang digunakan dan
jenis-jenis yang dapat digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Memberikan pengetahuan lebih mengenai statistika dan penggunaannya
untuk menyimpulkan suatu data.
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Makalah Metodologi Penelitian ini adalah sebagai berikut :
BAB 1 : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang penulisan Makalah Metodologi Penelitian, ruang lingkup penelitian Makalah Metodologi Penelitian, tujuan dan manfaat dari penelitian, metodologi yang digunakan serta sistematika penulisan Makalah Metodologi Penelitian ini.
4
BAB 2 : PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang pengenalan istilah statistika dan jenis-jenis
statistika yang dapat digunakan
BAB 3 : PENUTUP
Bab ini berisikan tentang simpulan terhadap penulisan makalah Metodologi Penelitian. Bagaimana Statistik dapat merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data.
5
BAB 2
Pembahasan
2.1 Sejarah
Penggunaan istilah statistika berakar dari istilah istilah dalam bahasa latin modern statisticum collegium ("dewan negara") dan bahasa Italia statista ("negarawan" atau "politikus").
Gottfried Achenwall (1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan mengartikannya sebagai "ilmu tentang negara (state)". Pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi "ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data". Sir John Sinclair memperkenalkan nama (Statistics) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris. Jadi, statistika secara prinsip mula-mula hanya mengurus data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah setiap saat.
Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 statistika mulai banyak menggunakan bidang-bidang dalam matematika, terutama probabilitas. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah, statistika inferensi, dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil). Penggunaan statistika pada masa sekarang dapat dikatakan telah menyentuh semua bidang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi hingga linguistika. Bidang-bidang ekonomi, biologi dan cabang-cabang terapannya, serta psikologi banyak dipengaruhi oleh statistika dalam metodologinya. Akibatnya lahirlah ilmu-ilmu gabungan seperti ekonometrika, biometrika (atau biostatistika), dan psikometrika.
Meskipun ada kubu yang menganggap statistika sebagai cabang dari
matematika, tetapi orang lebih banyak menganggap statistika sebagai bidang yang
7
Sedangkan statistika inferensial lebih dari itu, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan prediksi observasi masa depan, atau membuat model regresi.
2.3 Jenis Penelitian
Tujuan umum bagi suatu penelitian berbasis statistika adalah menyelidiki hubungan sebab-akibat, dan lebih khusus menarik suatu simpulan akan perubahan yang timbul pada peubah (atau variabel) respon (peubah dependen) akibat berubahnya peubah penjelas (explanatory variables) (peubah independen).
Terdapat dua jenis utama penelitian: eksperimen dan survei. Keduanya sama-sama mendalami pengaruh perubahan pada peubah penjelas dan perilaku peubah respon akibat perubahan itu. Beda keduanya terletak pada bagaimana kajiannya dilakukan.
Suatu eksperimen melibatkan pengukuran terhadap sistem yang dikaji, memberi perlakuan terhadap sistem, dan kemudian melakukan pengukuran (lagi) dengan cara yang sama terhadap sistem yang telah diperlakukan untuk mengetahui apakah perlakuan mengubah nilai pengukuran. Bisa juga perlakuan diberikan secara simultan dan pengaruhnya diukur dalam waktu yang bersamaan pula. Metode statistika yang berkaitan dengan pelaksanaan suatu eksperimen dipelajari dalam rancangan percobaan (desain eksperimen).
Dalam survai, di sisi lain, tidak dilakukan manipulasi terhadap sistem yang dikaji. Data dikumpulkan dan hubungan (korelasi) antara berbagai peubah diselidiki untuk memberi gambaran terhadap objek penelitian. Teknik-teknik survai dipelajari dalam metode survei.
Penelitian tipe eksperimen banyak dilakukan pada ilmu-ilmu rekayasa, misalnya teknik, ilmu pangan, agronomi, farmasi, pemasaran (marketing), dan psikologi eksperimen.
Penelitian tipe observasi paling sering dilakukan di bidang ilmu-ilmu sosial
atau berkaitan dengan perilaku sehari-hari, misalnya ekonomi, psikologi dan
pedagogi, kedokteran masyarakat, dan industri.
BAB 3
Penutup
3.1 Simpulan
Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu
alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi
dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri). Statistika juga
digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk
merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang
sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan
sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau
quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam
pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.
10
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Statistik
http://www.scribd.com/doc/7400604/Soal-Statistika-Peluang
http://www.scribd.com/doc/5091539/Statistika-Dasar
BAB 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan,
mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data.
Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data.
Istilah 'statistika' (bahasa Inggris:statistics) berbeda dengan 'statistik' (statistic). Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data
1.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang akan saya bahas meliputi statistika yang digunakan dan
jenis-jenis yang dapat digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Memberikan pengetahuan lebih mengenai statistika dan penggunaannya
untuk menyimpulkan suatu data.
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Makalah Metodologi Penelitian ini adalah sebagai berikut :
BAB 1 : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang penulisan Makalah Metodologi Penelitian, ruang lingkup penelitian Makalah Metodologi Penelitian, tujuan dan manfaat dari penelitian, metodologi yang digunakan serta sistematika penulisan Makalah Metodologi Penelitian ini.
4
BAB 2 : PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang pengenalan istilah statistika dan jenis-jenis
statistika yang dapat digunakan
BAB 3 : PENUTUP
Bab ini berisikan tentang simpulan terhadap penulisan makalah Metodologi Penelitian. Bagaimana Statistik dapat merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data.
5
BAB 2
Pembahasan
2.1 Sejarah
Penggunaan istilah statistika berakar dari istilah istilah dalam bahasa latin modern statisticum collegium ("dewan negara") dan bahasa Italia statista ("negarawan" atau "politikus").
Gottfried Achenwall (1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan mengartikannya sebagai "ilmu tentang negara (state)". Pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi "ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data". Sir John Sinclair memperkenalkan nama (Statistics) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris. Jadi, statistika secara prinsip mula-mula hanya mengurus data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah setiap saat.
Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 statistika mulai banyak menggunakan bidang-bidang dalam matematika, terutama probabilitas. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah, statistika inferensi, dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil). Penggunaan statistika pada masa sekarang dapat dikatakan telah menyentuh semua bidang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi hingga linguistika. Bidang-bidang ekonomi, biologi dan cabang-cabang terapannya, serta psikologi banyak dipengaruhi oleh statistika dalam metodologinya. Akibatnya lahirlah ilmu-ilmu gabungan seperti ekonometrika, biometrika (atau biostatistika), dan psikometrika.
Meskipun ada kubu yang menganggap statistika sebagai cabang dari
matematika, tetapi orang lebih banyak menganggap statistika sebagai bidang yang
7
Sedangkan statistika inferensial lebih dari itu, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan prediksi observasi masa depan, atau membuat model regresi.
2.3 Jenis Penelitian
Tujuan umum bagi suatu penelitian berbasis statistika adalah menyelidiki hubungan sebab-akibat, dan lebih khusus menarik suatu simpulan akan perubahan yang timbul pada peubah (atau variabel) respon (peubah dependen) akibat berubahnya peubah penjelas (explanatory variables) (peubah independen).
Terdapat dua jenis utama penelitian: eksperimen dan survei. Keduanya sama-sama mendalami pengaruh perubahan pada peubah penjelas dan perilaku peubah respon akibat perubahan itu. Beda keduanya terletak pada bagaimana kajiannya dilakukan.
Suatu eksperimen melibatkan pengukuran terhadap sistem yang dikaji, memberi perlakuan terhadap sistem, dan kemudian melakukan pengukuran (lagi) dengan cara yang sama terhadap sistem yang telah diperlakukan untuk mengetahui apakah perlakuan mengubah nilai pengukuran. Bisa juga perlakuan diberikan secara simultan dan pengaruhnya diukur dalam waktu yang bersamaan pula. Metode statistika yang berkaitan dengan pelaksanaan suatu eksperimen dipelajari dalam rancangan percobaan (desain eksperimen).
Dalam survai, di sisi lain, tidak dilakukan manipulasi terhadap sistem yang dikaji. Data dikumpulkan dan hubungan (korelasi) antara berbagai peubah diselidiki untuk memberi gambaran terhadap objek penelitian. Teknik-teknik survai dipelajari dalam metode survei.
Penelitian tipe eksperimen banyak dilakukan pada ilmu-ilmu rekayasa, misalnya teknik, ilmu pangan, agronomi, farmasi, pemasaran (marketing), dan psikologi eksperimen.
Penelitian tipe observasi paling sering dilakukan di bidang ilmu-ilmu sosial
atau berkaitan dengan perilaku sehari-hari, misalnya ekonomi, psikologi dan
pedagogi, kedokteran masyarakat, dan industri.
BAB 3
Penutup
3.1 Simpulan
Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu
alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi
dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri). Statistika juga
digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk
merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang
sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan
sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau
quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam
pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.
10
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Statistik
http://www.scribd.com/doc/7400604/Soal-Statistika-Peluang
http://www.scribd.com/doc/5091539/Statistika-Dasar
statistik
All research reports use roughly the same format. It doesn't matter whether you've done a customer satisfaction survey, an employee opinion survey, a health care survey, or a marketing research survey. All have the same basic structure and format. The rationale is that readers of research reports (i.e., decision makers, funders, etc.) will know exactly where to find the information they are looking for, regardless of the individual report.
Once you've learned the basic rules for research proposal and report writing, you can apply them to any research discipline. The same rules apply to writing a proposal, a thesis, a dissertation, or any business research report.
The most commonly used style for writing research reports is called "APA" and the rules are described in the Publication Manual of the American Psychological Association. Any library or bookstore will have it readily available. The style guide contains hundreds of rules for grammar, layout, and syntax. This paper will cover the most important ones.
Avoid the use of first person pronouns. Refer to yourself or the research team in third person. Instead of saying "I will ..." or "We will ...", say something like "The researcher will ..." or "The research team will ...".
A suggestion: Never present a draft (rough) copy of your proposal, thesis, dissertation, or research paper...even if asked. A paper that looks like a draft, will interpreted as such, and you can expect extensive and liberal modifications. Take the time to put your paper in perfect APA format before showing it to anyone else. The payoff will be great since it will then be perceived as a final paper, and there will be far fewer changes.
Chapter 1 INTRODUCTION
1.1. Background
The researcher has chosen to study the language usage in the Philippines because the country is the classic example of local language policy. For over five hundred years this interference affected language usage in all sectors of life. The Philippine became an American territory on the day the Treaty of Paris was signed. The first and perhaps the master stroke in the plan to use education as an instrument of colonial policy, was the decision to use English as the medium of instruction. With American textbooks, Filipinos started learning not only a new language but also a new way of life, alien to their traditions. Based on Ethnological Databases in 1980, 52% of Filipinos in the Philippines claim to speak English as a second language. If accurate, this makes the Philippines one of the largest English speaking countries in the world. The use of English in almost every domain of Philippine life gave birth to a new variety of English, called Philippine English. Due to the multi-dialectical attribute of the Philippine, substrata varieties of Philippine English also exist (Agana, 1999).
Having lived and worked in the Philippines for a period of nearly eight nearly eight years, the researcher was constantly aware of the problems arising from this special situation. This personal experience will be invaluable in guiding the consideration of the issues and the proposals the researcher intends to make, based on this study, for future language policy.
1.2. Statement of the Problem
The present language and educational situation serves as an impetus for the researcher to study the influences of the English language in the Philippines by tracing its presence and influences from the early 1800’s to the present by looking at the language and educational policies and programs formulated and implemented across the generations. In other words, the problem here deals with the historical development of English used in the Philippines and Filipino, the national language of the Philippines.
The problems to be discussed in this research are:
1. Why is English used as the medium of instruction in all schools and universities?
2. What is the importance of English usage in educational system in relation to student's social life and future opportunities?
To answer these questions, the writer embarked on an intensive research work geared towards the ample fulfillment of these answers and several outlying questions.
1.3. Objectives of the Study
The general objectives of this study are:
to analyze how American-English affects language policies and programs of the Philippines in terms of educational system;
to analyze how American-English affection was institutionalized in the educational system.
The special objectives of this study are:
to look at educational and language policies and see up to what extent these language policies and programs in educational system are influenced by English presence in Philippine society;
to find out the present status of the English language among Filipinos, as the result of bilingual educational system from 1974 until 1980s.
1.4. Significance of the Study
This study is particularly important because debates as to the reinstatement of English as the sole media of instruction in Philippine schools and universities are presently taking center stage given the steadily worsening performance of students in national entrance examinations and professional licensing exams given in English. Not a few blame the current Bilingual Education Policy of the Department of Education, which they contend only serves to confuse students given its dual aim of promoting both English and Filipino. Those who purposely diminish English importance in the country are to go against what the rest of the world is doing.
This research is connected with social development of tile Philippines in relation to the usage of English and development of Filipino (Tagalog) language since this language is still developing. The researcher hopes to give light on these points, to investigate the influences American - English has over the country's language policies and why it is constantly mired in Philippine language controversies, and also how to develop better language policies in bilingual education system.
1.5. Definition of Key Terms
1. Language Planning- Deliberate language change; changes in the system of language code or speaking or both that are planned by organizations that are established for such purpose or given a mandate to fulfill such purposes.
2. Bilingual Education - Simultaneous teaching of two more language dialects or vernaculars. In case of the Philippines, English and Pilipino / Filipino are to be taught in schools and colleges. Experiments were done in 1960- 1966 and proved the value of adequately trained teachers, carefully prepared materials, and excellent supervision. This study disproved notion that the teaching or use of three languages simultaneously would confuse children. (Rubin, J and Jernudd, B.(eds) 1975).
3. Pilipino/Filipino- Pilipino is the national language of the Philippines, an artificial language in development. From Pilippino a new language shall be developed, which will be called later as Filipino. Pilipino will then be replaced by Filipino as the national language. Pilipino is derived from Tagalog. Tagalog became the basis of the Pilipino language.
4. Tagalog- was the dialect spoken in the eight united Philippine provinces during Spanish colonial rule. It is the lingua franca of Manila and its neighboring provinces and is understood in almost of the part of Luzon. Manila is the seat of the Government; became the basis of Pilipino/Filipino. No other dialect is widely spoken or understood. It also dominates the Philippine cultural lifestyle. (www.angelfire.com/aka/RJPA/ Directory/ecolinguistics.html) 27.2.2006.
Chapter 2 REVIEW OF LITERATURE
The writer has extensively covered studies and works of both Filipino and other foreign authorship in preparing for this study. The following works contributed and helped the researcher a great deal in this present study.
Regarding the early presence of American-English in the Philippines, the researcher obtained references from Cuesta (1958). Cuesta gave an account of the English language during the American Regime. It was stated that as early as 1903, the American government began sending Filipino students to American colleges and upon their return they were assigned to teach in public schools. She likewise delved into me major phases of the English language which proved difficult for Filipinos. These phases included pronunciation, grammar, rhetoric, style and idioms.
On the present Bilingual Education Policy (BEP), scholarly works have been written by authors like Pascasio (1973), Bonifacio (1977), Ramos (1990), Otanes, Sevilla, Gonzalez, Segovia and Sibayan (1988).
Gonzalez and Sibayan (1988) for instance, made a comprehensive study regarding the scholastic achievements nationwide after eleven years of the Bilingual Education Policy’s implementation. Also teacher competence and proficiency was measured through a battery of tests.
Sibayan and Gonzalez’s study revealed that: 1) almost all adults (administration, faculty and parents), except for the Pilipino faculty, were non-committal towards the BEP and were not favorably disposed to the expanded use of Pilipino; 2) Pilipino teachers in general, when compared with the rest of the faculty, fare badly and are not significantly better in Pilipino than their peers, and 3). Tagalog students enjoy a real advantage over non-Tagalogs. It is recommended by the survey team that compensatory education be given to students from minority groups to mitigate this inequality.
In a similar study to Sibayan and Gonzalez’s, Segovia (1988) investigated the BEP’s implementation in the tertiary level. Segovia and her team concluded that based on their findings, tertiary level administrators, teachers, professors, and students perceive Pilipino to be the language of unity and/or national identity; however, one can be a nationalist even without the facility for communication in Pilipino. The respondents perceive English as a language of socio-economic mobility, educational advancement and international understanding.
Sevilla’s (1988) study gave the writer an idea of the awareness levels regarding the BEP among parents and among government and non-government organizations. Sevilla’s study provided the basis for the writer’s report on English’ presence and utilization in the government and business scenes.
Of valuable assistance are the works of Fishman, Pascasio and Bowen on bilingualism included in Sibayan and Gonzalez’s edited work “Language Planning and the Building of a National Language” (1977).
Works related to the researcher’s topic are quite numerous. However, the above mentioned works provided the bulk of the materials used by the researcher in writing this study.
Chapters 3 RESEARCH METHODOLOGY
3.1. Research Framework
The framework from this study is a historical research which is based on the chronological events. This research is synthesized, abstracted and explored from theories and scientific thinking in order to solve the problem.
3.2. Research Method
In preparation for this study the researcher will trace the introduction of American English in the Philippines, using a historical approach. From there the researcher will consider the status of American English in the country at present, taking careful note of the gradual integration of American English into Philippine society, particularly education. It is the educational system which is the main channel through which language policies are carried out.
Historical research has been defined as the systematic and objective location, evaluation and synthesis of evidence in order to establish facts and draw conclusions about past events (Borg, 1963). It qualifies as a scientific endeavor from the standpoint of its subscription to the same principles and the same general scholarship that characterizes all scientific research.
The values of historical research have been categorized by Hill and Garber (1950) as follows:
It enables solutions to contemporary problems to be sought in the past;
It throws light on present and future trends;
It stresses the relative importance and the effects of the various interactions that are to be found within all cultures;
It allows for the revolution of data in relation to selected hypothesis, theories and generalizations that are presently held about the past.
There are drawbacks to historical research. It is an attempt to reconstruct a previous age using data from the personal experiences of others, from documents and records. Researchers have to contend with inadequate information so that their reconstructions tend to be sketches rather than portraits.
Ultimately, historical research is concerned with a broad view of the conditions and not necessarily the specifics which bring them about, even though such a synthesis is rarely achieved without intense debate or controversy, especially on matters of detail. Despite these drawbacks, the ability of history to employ the past to predict the future, and to use the present to explain the past, gives it a dual and unique quality which makes it especially useful for all sorts of scholarly study and research.
Indeed the particular value of historical research in the field of education is unquestioned. It can yield insights into some educational problems that could not be achieved by any other means. Furthermore, it can help to establish a sound basis for further progress and change, and show how and why educational theories and practices developed. It enables educationalists to use former practices to evaluate newer, emerging ones and it can contribute to fuller understanding of the relationship between politics and education. These elements are always interrelated.
Historical research may be structured by a flexible sequence of stages beginning with the selection and evaluation of a problem or area of study. Then follows the definition of the problem in more precise terms, the selection of sources of data, collection, classification and processing of the data, and, finally, the evaluation and synthesis of the data into a balanced and objective account of the subject under investigation. The principle difference between the method of historical research and other research method used in education is highlighted by Borg:
“In historical research, it is especially important that the student carefully defines his problem and appraises its appropriateness before committing too fully. Many problems are not adaptable to historical research methods and cannot be adequately treated using this approach.” (Borg, 1963)
Once a topic has been selected and its potential and significance for historical research evaluated, the next stage is to define it more precisely, or delimit it so that a more potent analysis will result. Too broad or too vague a statement can result in the final report lacking direction or impact “Research must be a penetrating analysis of a limited problem, rather than the superficial examination of a broad area. The weapon of research is the rifle not the shotgun” (Best, 1970). Gottschalk (1951) recommends that four questions be asked in identifying a topic:
Where do the events take place?
Who are the people involved?
When do the events occur?
What kinds of human activity are involved?
As Travers (1969) suggests, the scope of a topic can be modified by adjusting the focus of any one of the four categories; the geographical area involved can be increased or decreased; more or fewer people can be included in the topic; the time span involved can be increased or decreased; and the human activity category can be broadened or narrowed.
The student must exercise strict self-control in his study of historical documents or he will find himself collecting much information that is interesting but is not related to his area of inquiry (Hockett, 1955).
This research approach is qualitative, which means the following:
(The researcher) captures and discovers meaning once he becomes immersed in the data.
Concepts are in the form of themes, motifs, generalizations, and taxonomies.
Measures are created in an ad hoc manner and are often specific to the individual setting or researcher.
Data are in the form of words from documents, observations, and transcripts.
Theory can be causal or non causal and is often inductive.
Research procedures are particular and replication is very rare.
Analysis proceeds by extracting themes or generalizations from evidence and organizing data to present a coherent, consistent picture (Neuman, 1994).
It is historical and chronological, putting all the historical data in chronological order. Due to limited sources, most of the research done for this work will be based on a survey of the published works of noted Philippine and foreign linguists, language planners, and educators.
3.3. Research Data
One of the principal differences between historical research and other forms of research is that historical research must deal with data that already exists.
“History is not science of direct observation, like chemistry or physics. The historian like the geologist interprets past events by the traces they have left; he deals with the evidence of man’s past acts and thought. But the historian, no less than scientist, must utilize evidence resulting on reliable observation. The difference in procedure is due to the fact that the historian usually does not make his own observations, and that those upon whose observations he must depend are, or were, often if not usually untrained observers. Historical method is...a process supplementary to observations, a process by which the historian attempts to test the truthfulness of the reports of observations made by others” (Hockett, 1955).
3.4. Research Instruments
Sources of data may be classified into two main groups: primary sources, which are the life blood of historical research; and secondary sources, which may be used in the absence of, or to supplement, primary data.
Primary sources of data have been described as those items that are original to the problem under study. Category two includes not only written and oral testimony given by actual participants or witnesses, but also the participants themselves. Whether or not these sources were meant for the intent purpose of passing on information is irrelevant. If a source is, intentionally or unintentionally, capable of transmitting a first-hand account of an event, it is considered a source of primary data.
Secondary sources are those that do not bear a direct physical relationship to the event being studied. This includes third person accounts etc. Best (1970) points out those secondary sources are of limited worth because of the errors that result when information is passed on from one person to another. The importance of using primary sources where possible cannot be stressed enough. The value, too, of secondary sources should not be minimized.
The review of the literature in other forms of educational research is regarded as a preparatory stage to gathering data and serves to acquaint researchers with previous research on the topics they are studying (Travers, 1969). The function of the review of the literature in historical research is different in that it provides the data for research; the researchers’ acceptance or otherwise of their hypotheses will depend on their selection of information from the review and the interpretation they put on it. Borg (1963) has identified other differences: one is that the historical researcher will have to peruse longer documents than the empirical researcher who normally studies articles very much more succinct and precise. And one final point document in education often consists of unpublished material and is therefore less accessible than reports of empirical studies in professional journals.
3.5. Scope and Research Location
3.5.1. Scope
The scope of this research is the influence of American-English on Philippine language planning and policy. The research work done on this work is primarily concerned itself with the investigation of these influences of American-English on Philippine language policies as implemented in the educational system and the effects thereof.
This study also gives a brief account of the still existing Philippine language controversy and the “entrenchment and assimilation” of American-English in Philippine Media, Government and the society as a whole.
It would be most ideal to be able to report on the actual processes that take place in the formulation. Planning and implementation of language policies and interviewing members of the Philippine language Cultivation Council and/or of the Language Planning Board could have been carried out. However due to time and resource constraints, and their unavailability for an audience, this remains to be an ideal.
3.5.2. Research Location
The research location was inhabitants of Manila, Dagupan City, Baguio City, and Ilocos region. The researcher met and interviewed them. The researcher will elaborate this topic later in the dissertation.
3.6. Data Collection Technique
Data and information gathered from records and documents must be carefully evaluated so as to attest their worth for the purpose of the particular study. Evaluation of historical data and information is often referred to historical criticism and the reliable data yielded by the process are known as historical evidence. Historical evidence has thus been described as that body of validated facts and information which can be accepted as trustworthy. Historical criticism is usually undertaken in two stages: first, the authenticity of the source is appraised; and second, the accuracy or worth of the data is evaluated. These two processes are known as external and internal criticism respectively.
External criticism is concerned with establishing the authenticity or genuineness of data. It authenticates the document (or other source) itself rather than the information it contains. It therefore sets out to uncover frauds, forgeries, hoaxes, inventions or distortions.
After the document authenticity has been established, the next task is to evaluate the accuracy and worth of the data contained therein. This presents a more difficult problem than external criticism does. The credibility of the author of the documents has to be established. A number of factors must be taken into account, that is 1) whether they were trained observers of the events, 2) kinds of their relationships to the events, 3) to what extent they were under pressure, from fear or vanity, to distort or omit facts, 4) what the intents of the authors of the documents were, 5) to what extent they were experts at recording those particular events, 6) they were too antagonistic or too sympathetic to give true picture, 7) how long after the event they recorded their account, and 8) whether they are in agreement with other independent witnesses.
A particular problem that arises from these questions is that of bias. There are three generally recognized sources of bias: those arising from the subject being interviewed, those arising from themselves as researchers and those arising from the subject-researcher interaction (Travers, 1969).
3.6.1. Data Collected from People
The researcher met people in Dagupan City and distributed questionnaires, and the respondents answered and the researcher collected the data in 1987. The discussion oh this topic will be discussed further in the dissertation.
3.6.2. Data Collected from Documents
The researcher collected documents from Philippine Government archives, and various bureaus. The discussion on these documents will be elaborated in the dissertation.
Bibliography
Alzona, E. 1932. History of Education in the Philippines: 1965-1930. 1st ed. Manila: University of the Philippines Press.
Once you've learned the basic rules for research proposal and report writing, you can apply them to any research discipline. The same rules apply to writing a proposal, a thesis, a dissertation, or any business research report.
The most commonly used style for writing research reports is called "APA" and the rules are described in the Publication Manual of the American Psychological Association. Any library or bookstore will have it readily available. The style guide contains hundreds of rules for grammar, layout, and syntax. This paper will cover the most important ones.
Avoid the use of first person pronouns. Refer to yourself or the research team in third person. Instead of saying "I will ..." or "We will ...", say something like "The researcher will ..." or "The research team will ...".
A suggestion: Never present a draft (rough) copy of your proposal, thesis, dissertation, or research paper...even if asked. A paper that looks like a draft, will interpreted as such, and you can expect extensive and liberal modifications. Take the time to put your paper in perfect APA format before showing it to anyone else. The payoff will be great since it will then be perceived as a final paper, and there will be far fewer changes.
Chapter 1 INTRODUCTION
1.1. Background
The researcher has chosen to study the language usage in the Philippines because the country is the classic example of local language policy. For over five hundred years this interference affected language usage in all sectors of life. The Philippine became an American territory on the day the Treaty of Paris was signed. The first and perhaps the master stroke in the plan to use education as an instrument of colonial policy, was the decision to use English as the medium of instruction. With American textbooks, Filipinos started learning not only a new language but also a new way of life, alien to their traditions. Based on Ethnological Databases in 1980, 52% of Filipinos in the Philippines claim to speak English as a second language. If accurate, this makes the Philippines one of the largest English speaking countries in the world. The use of English in almost every domain of Philippine life gave birth to a new variety of English, called Philippine English. Due to the multi-dialectical attribute of the Philippine, substrata varieties of Philippine English also exist (Agana, 1999).
Having lived and worked in the Philippines for a period of nearly eight nearly eight years, the researcher was constantly aware of the problems arising from this special situation. This personal experience will be invaluable in guiding the consideration of the issues and the proposals the researcher intends to make, based on this study, for future language policy.
1.2. Statement of the Problem
The present language and educational situation serves as an impetus for the researcher to study the influences of the English language in the Philippines by tracing its presence and influences from the early 1800’s to the present by looking at the language and educational policies and programs formulated and implemented across the generations. In other words, the problem here deals with the historical development of English used in the Philippines and Filipino, the national language of the Philippines.
The problems to be discussed in this research are:
1. Why is English used as the medium of instruction in all schools and universities?
2. What is the importance of English usage in educational system in relation to student's social life and future opportunities?
To answer these questions, the writer embarked on an intensive research work geared towards the ample fulfillment of these answers and several outlying questions.
1.3. Objectives of the Study
The general objectives of this study are:
to analyze how American-English affects language policies and programs of the Philippines in terms of educational system;
to analyze how American-English affection was institutionalized in the educational system.
The special objectives of this study are:
to look at educational and language policies and see up to what extent these language policies and programs in educational system are influenced by English presence in Philippine society;
to find out the present status of the English language among Filipinos, as the result of bilingual educational system from 1974 until 1980s.
1.4. Significance of the Study
This study is particularly important because debates as to the reinstatement of English as the sole media of instruction in Philippine schools and universities are presently taking center stage given the steadily worsening performance of students in national entrance examinations and professional licensing exams given in English. Not a few blame the current Bilingual Education Policy of the Department of Education, which they contend only serves to confuse students given its dual aim of promoting both English and Filipino. Those who purposely diminish English importance in the country are to go against what the rest of the world is doing.
This research is connected with social development of tile Philippines in relation to the usage of English and development of Filipino (Tagalog) language since this language is still developing. The researcher hopes to give light on these points, to investigate the influences American - English has over the country's language policies and why it is constantly mired in Philippine language controversies, and also how to develop better language policies in bilingual education system.
1.5. Definition of Key Terms
1. Language Planning- Deliberate language change; changes in the system of language code or speaking or both that are planned by organizations that are established for such purpose or given a mandate to fulfill such purposes.
2. Bilingual Education - Simultaneous teaching of two more language dialects or vernaculars. In case of the Philippines, English and Pilipino / Filipino are to be taught in schools and colleges. Experiments were done in 1960- 1966 and proved the value of adequately trained teachers, carefully prepared materials, and excellent supervision. This study disproved notion that the teaching or use of three languages simultaneously would confuse children. (Rubin, J and Jernudd, B.(eds) 1975).
3. Pilipino/Filipino- Pilipino is the national language of the Philippines, an artificial language in development. From Pilippino a new language shall be developed, which will be called later as Filipino. Pilipino will then be replaced by Filipino as the national language. Pilipino is derived from Tagalog. Tagalog became the basis of the Pilipino language.
4. Tagalog- was the dialect spoken in the eight united Philippine provinces during Spanish colonial rule. It is the lingua franca of Manila and its neighboring provinces and is understood in almost of the part of Luzon. Manila is the seat of the Government; became the basis of Pilipino/Filipino. No other dialect is widely spoken or understood. It also dominates the Philippine cultural lifestyle. (www.angelfire.com/aka/RJPA/ Directory/ecolinguistics.html) 27.2.2006.
Chapter 2 REVIEW OF LITERATURE
The writer has extensively covered studies and works of both Filipino and other foreign authorship in preparing for this study. The following works contributed and helped the researcher a great deal in this present study.
Regarding the early presence of American-English in the Philippines, the researcher obtained references from Cuesta (1958). Cuesta gave an account of the English language during the American Regime. It was stated that as early as 1903, the American government began sending Filipino students to American colleges and upon their return they were assigned to teach in public schools. She likewise delved into me major phases of the English language which proved difficult for Filipinos. These phases included pronunciation, grammar, rhetoric, style and idioms.
On the present Bilingual Education Policy (BEP), scholarly works have been written by authors like Pascasio (1973), Bonifacio (1977), Ramos (1990), Otanes, Sevilla, Gonzalez, Segovia and Sibayan (1988).
Gonzalez and Sibayan (1988) for instance, made a comprehensive study regarding the scholastic achievements nationwide after eleven years of the Bilingual Education Policy’s implementation. Also teacher competence and proficiency was measured through a battery of tests.
Sibayan and Gonzalez’s study revealed that: 1) almost all adults (administration, faculty and parents), except for the Pilipino faculty, were non-committal towards the BEP and were not favorably disposed to the expanded use of Pilipino; 2) Pilipino teachers in general, when compared with the rest of the faculty, fare badly and are not significantly better in Pilipino than their peers, and 3). Tagalog students enjoy a real advantage over non-Tagalogs. It is recommended by the survey team that compensatory education be given to students from minority groups to mitigate this inequality.
In a similar study to Sibayan and Gonzalez’s, Segovia (1988) investigated the BEP’s implementation in the tertiary level. Segovia and her team concluded that based on their findings, tertiary level administrators, teachers, professors, and students perceive Pilipino to be the language of unity and/or national identity; however, one can be a nationalist even without the facility for communication in Pilipino. The respondents perceive English as a language of socio-economic mobility, educational advancement and international understanding.
Sevilla’s (1988) study gave the writer an idea of the awareness levels regarding the BEP among parents and among government and non-government organizations. Sevilla’s study provided the basis for the writer’s report on English’ presence and utilization in the government and business scenes.
Of valuable assistance are the works of Fishman, Pascasio and Bowen on bilingualism included in Sibayan and Gonzalez’s edited work “Language Planning and the Building of a National Language” (1977).
Works related to the researcher’s topic are quite numerous. However, the above mentioned works provided the bulk of the materials used by the researcher in writing this study.
Chapters 3 RESEARCH METHODOLOGY
3.1. Research Framework
The framework from this study is a historical research which is based on the chronological events. This research is synthesized, abstracted and explored from theories and scientific thinking in order to solve the problem.
3.2. Research Method
In preparation for this study the researcher will trace the introduction of American English in the Philippines, using a historical approach. From there the researcher will consider the status of American English in the country at present, taking careful note of the gradual integration of American English into Philippine society, particularly education. It is the educational system which is the main channel through which language policies are carried out.
Historical research has been defined as the systematic and objective location, evaluation and synthesis of evidence in order to establish facts and draw conclusions about past events (Borg, 1963). It qualifies as a scientific endeavor from the standpoint of its subscription to the same principles and the same general scholarship that characterizes all scientific research.
The values of historical research have been categorized by Hill and Garber (1950) as follows:
It enables solutions to contemporary problems to be sought in the past;
It throws light on present and future trends;
It stresses the relative importance and the effects of the various interactions that are to be found within all cultures;
It allows for the revolution of data in relation to selected hypothesis, theories and generalizations that are presently held about the past.
There are drawbacks to historical research. It is an attempt to reconstruct a previous age using data from the personal experiences of others, from documents and records. Researchers have to contend with inadequate information so that their reconstructions tend to be sketches rather than portraits.
Ultimately, historical research is concerned with a broad view of the conditions and not necessarily the specifics which bring them about, even though such a synthesis is rarely achieved without intense debate or controversy, especially on matters of detail. Despite these drawbacks, the ability of history to employ the past to predict the future, and to use the present to explain the past, gives it a dual and unique quality which makes it especially useful for all sorts of scholarly study and research.
Indeed the particular value of historical research in the field of education is unquestioned. It can yield insights into some educational problems that could not be achieved by any other means. Furthermore, it can help to establish a sound basis for further progress and change, and show how and why educational theories and practices developed. It enables educationalists to use former practices to evaluate newer, emerging ones and it can contribute to fuller understanding of the relationship between politics and education. These elements are always interrelated.
Historical research may be structured by a flexible sequence of stages beginning with the selection and evaluation of a problem or area of study. Then follows the definition of the problem in more precise terms, the selection of sources of data, collection, classification and processing of the data, and, finally, the evaluation and synthesis of the data into a balanced and objective account of the subject under investigation. The principle difference between the method of historical research and other research method used in education is highlighted by Borg:
“In historical research, it is especially important that the student carefully defines his problem and appraises its appropriateness before committing too fully. Many problems are not adaptable to historical research methods and cannot be adequately treated using this approach.” (Borg, 1963)
Once a topic has been selected and its potential and significance for historical research evaluated, the next stage is to define it more precisely, or delimit it so that a more potent analysis will result. Too broad or too vague a statement can result in the final report lacking direction or impact “Research must be a penetrating analysis of a limited problem, rather than the superficial examination of a broad area. The weapon of research is the rifle not the shotgun” (Best, 1970). Gottschalk (1951) recommends that four questions be asked in identifying a topic:
Where do the events take place?
Who are the people involved?
When do the events occur?
What kinds of human activity are involved?
As Travers (1969) suggests, the scope of a topic can be modified by adjusting the focus of any one of the four categories; the geographical area involved can be increased or decreased; more or fewer people can be included in the topic; the time span involved can be increased or decreased; and the human activity category can be broadened or narrowed.
The student must exercise strict self-control in his study of historical documents or he will find himself collecting much information that is interesting but is not related to his area of inquiry (Hockett, 1955).
This research approach is qualitative, which means the following:
(The researcher) captures and discovers meaning once he becomes immersed in the data.
Concepts are in the form of themes, motifs, generalizations, and taxonomies.
Measures are created in an ad hoc manner and are often specific to the individual setting or researcher.
Data are in the form of words from documents, observations, and transcripts.
Theory can be causal or non causal and is often inductive.
Research procedures are particular and replication is very rare.
Analysis proceeds by extracting themes or generalizations from evidence and organizing data to present a coherent, consistent picture (Neuman, 1994).
It is historical and chronological, putting all the historical data in chronological order. Due to limited sources, most of the research done for this work will be based on a survey of the published works of noted Philippine and foreign linguists, language planners, and educators.
3.3. Research Data
One of the principal differences between historical research and other forms of research is that historical research must deal with data that already exists.
“History is not science of direct observation, like chemistry or physics. The historian like the geologist interprets past events by the traces they have left; he deals with the evidence of man’s past acts and thought. But the historian, no less than scientist, must utilize evidence resulting on reliable observation. The difference in procedure is due to the fact that the historian usually does not make his own observations, and that those upon whose observations he must depend are, or were, often if not usually untrained observers. Historical method is...a process supplementary to observations, a process by which the historian attempts to test the truthfulness of the reports of observations made by others” (Hockett, 1955).
3.4. Research Instruments
Sources of data may be classified into two main groups: primary sources, which are the life blood of historical research; and secondary sources, which may be used in the absence of, or to supplement, primary data.
Primary sources of data have been described as those items that are original to the problem under study. Category two includes not only written and oral testimony given by actual participants or witnesses, but also the participants themselves. Whether or not these sources were meant for the intent purpose of passing on information is irrelevant. If a source is, intentionally or unintentionally, capable of transmitting a first-hand account of an event, it is considered a source of primary data.
Secondary sources are those that do not bear a direct physical relationship to the event being studied. This includes third person accounts etc. Best (1970) points out those secondary sources are of limited worth because of the errors that result when information is passed on from one person to another. The importance of using primary sources where possible cannot be stressed enough. The value, too, of secondary sources should not be minimized.
The review of the literature in other forms of educational research is regarded as a preparatory stage to gathering data and serves to acquaint researchers with previous research on the topics they are studying (Travers, 1969). The function of the review of the literature in historical research is different in that it provides the data for research; the researchers’ acceptance or otherwise of their hypotheses will depend on their selection of information from the review and the interpretation they put on it. Borg (1963) has identified other differences: one is that the historical researcher will have to peruse longer documents than the empirical researcher who normally studies articles very much more succinct and precise. And one final point document in education often consists of unpublished material and is therefore less accessible than reports of empirical studies in professional journals.
3.5. Scope and Research Location
3.5.1. Scope
The scope of this research is the influence of American-English on Philippine language planning and policy. The research work done on this work is primarily concerned itself with the investigation of these influences of American-English on Philippine language policies as implemented in the educational system and the effects thereof.
This study also gives a brief account of the still existing Philippine language controversy and the “entrenchment and assimilation” of American-English in Philippine Media, Government and the society as a whole.
It would be most ideal to be able to report on the actual processes that take place in the formulation. Planning and implementation of language policies and interviewing members of the Philippine language Cultivation Council and/or of the Language Planning Board could have been carried out. However due to time and resource constraints, and their unavailability for an audience, this remains to be an ideal.
3.5.2. Research Location
The research location was inhabitants of Manila, Dagupan City, Baguio City, and Ilocos region. The researcher met and interviewed them. The researcher will elaborate this topic later in the dissertation.
3.6. Data Collection Technique
Data and information gathered from records and documents must be carefully evaluated so as to attest their worth for the purpose of the particular study. Evaluation of historical data and information is often referred to historical criticism and the reliable data yielded by the process are known as historical evidence. Historical evidence has thus been described as that body of validated facts and information which can be accepted as trustworthy. Historical criticism is usually undertaken in two stages: first, the authenticity of the source is appraised; and second, the accuracy or worth of the data is evaluated. These two processes are known as external and internal criticism respectively.
External criticism is concerned with establishing the authenticity or genuineness of data. It authenticates the document (or other source) itself rather than the information it contains. It therefore sets out to uncover frauds, forgeries, hoaxes, inventions or distortions.
After the document authenticity has been established, the next task is to evaluate the accuracy and worth of the data contained therein. This presents a more difficult problem than external criticism does. The credibility of the author of the documents has to be established. A number of factors must be taken into account, that is 1) whether they were trained observers of the events, 2) kinds of their relationships to the events, 3) to what extent they were under pressure, from fear or vanity, to distort or omit facts, 4) what the intents of the authors of the documents were, 5) to what extent they were experts at recording those particular events, 6) they were too antagonistic or too sympathetic to give true picture, 7) how long after the event they recorded their account, and 8) whether they are in agreement with other independent witnesses.
A particular problem that arises from these questions is that of bias. There are three generally recognized sources of bias: those arising from the subject being interviewed, those arising from themselves as researchers and those arising from the subject-researcher interaction (Travers, 1969).
3.6.1. Data Collected from People
The researcher met people in Dagupan City and distributed questionnaires, and the respondents answered and the researcher collected the data in 1987. The discussion oh this topic will be discussed further in the dissertation.
3.6.2. Data Collected from Documents
The researcher collected documents from Philippine Government archives, and various bureaus. The discussion on these documents will be elaborated in the dissertation.
Bibliography
Alzona, E. 1932. History of Education in the Philippines: 1965-1930. 1st ed. Manila: University of the Philippines Press.
Langganan:
Komentar (Atom)
Catatan Yang Ditampilkan
Formulir
Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...
-
Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...
-
Sejarah Ilmu Matematika Kata "matematika" berasal dari kata μάθημα(máthema) dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai ...
-
Soal No. 1 Diberikan 4 buah garis dalam koordinat cartesius seperti terlihat pada gambar berikut. Tentukan gradien dari keempat garis ...