Rabu, 27 Juni 2012

MODEL PENGAJARAN LANGSUNG

  1. RUANG LINGKUP PENGAJARAN LANGSUNG
1.      Istilah dan Pengertian
Meski tidak ada sinoniim dan resitasi yang berhubungan erat dengan Model Pengajaran Langsung (MPL), tetapi istilah model pengajaran langsung sering disebut juga dengan Model Pengajaran Aktif.
Pengajaran langsung adalah suatu model pengajaran yang bersifat teacher  center. Menurut Arends (1997), model pengajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaita dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur denan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Selain itu model pembelajaran langsung ditunjukan pula untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memproleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.
Cirri-ciri model pengajara lanmgsung (dalam kardi & Nur, 2000 : 3 adalah sebagai berikut :
1)                  Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar
2)                  Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran dan
3)                  Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil
Selain itu, juga dalam pengajaran langsung harus memenuhi suatu persyaratan, yaitu ada alat yang akandidemonstrasikan dan harus mengikuti tingkah laku mengajar (sintaks)
2.      Tujuan Belajar dan Hasil Belajar Siswa
Para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam pengetahuan, yakni pengetahuan deklaratif (dapat diungkapkan dengan prosedural) adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan procedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.suatu contoh pengetahuan deklaratif misalnya konsep tekanan, yaitu hasil bagi antara gaya (F) dan luas bidang benda yang dikenai gaya (A). jadi dapat ditulis secara matematis p = F/A. pengetahuan procedural yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif diatas adalah bagaimana memproleh rumus dan persamaantentang konsep takanan tersebut.
Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang studi, matematika, fisika dan kimia merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana atau informasi faktual, yaitu pengetahuan deklaratif sederhana yang diperoleh seseorang, namun dapat digunakan. Berbeda dengan informasi faktual , pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya memerlukan penggunaan pengetahuan dengan cara tertentu, misalnya membandingkan dua rancangan penlitian, menilai hasil karya seni. Sering kali penggunaan pengetahuan proudural memerlukan penguasaan pengetahuan deklaratif. Para guru selalu menghendaki agar siswa-siswa memproleh kedua macam pengetahuan tersebut, supaya mereka dapat melakukan segala sesuatu dengan berhasil.

3.      Sintks atau Pola Keseluruhan dan Alur Kegiatan Pembelajaran
Pada model pengajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali pengajaran dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru.
Pengajaran langsung menurut kardi (1997 : 3), dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan  atau praktik dan kerja kelompok. Pengajaran langsung digunakan langsung untuk menyampaikan pelajaran yang telah ditarnspormasikan langbsung oleh guru kepada siswa. Penyusun waktu yang duguanakan untuk mencapai tujuan pembelajran harus seefesien mungkin, sehingga guru dapat merancang tepat waktu yang digunakan.
Sintaks model pengajaran langsung tersebut disajikan dalam 5 tahap, seperti :





Sintaks Model Pengajaran Langsung

Fase
`Peran Guru
Fase 1
Mendemonstrasikan tujuan dan mempersiakan siswa
Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pemtingnya pelajaran, mempersiapkan untuk belajar.
Fase 2
Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Guru mendemontrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap
Fase 3
Membimbinmg pelatihan
Guru merencanakan dan memberi bimnbingan pelatihan awal
Fase 4
Mengecek pemahaman dan memberikan pemahaman umpan balik
Mencetak apakah siswa telah berhasil malakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.
Fase 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Guru mempersiapkan kesempatan melkukan pelatiha lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

Pada fase persiapan, guru memotivasi siswa agar siap menerima presentasi materi pelajaran yang dilaklukan melalui demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pengajaran diakhiri dengan pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihandan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa, pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan pada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajri ke dalam situasi kehidupan nyata.



4.      Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Pengajaran langsung memerlukan prencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif, pengajaran langsungmensyaratkan tiap detail  keterampilan atau isi didefinisikan secar seksama dan demonstrasi serta jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secaara seksama (kardi dan Nur, 2000 : 8).
Menurut kardi dan Nur (2000 :8-9), meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini tertama berpusat pada guru. Sistem pengelolaan yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memerhatikan, mendengarkan dan resitasi (tanya jawab). Pembelajaran                                                                                                                                                                 yang terencana. Ini tidak berati bahwa pembelajaran bersifat otoriter, dingin dan tanpa humor. Ini berati bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.

5.      Penelitian tentang Keefektifan Guru
Landasan penelitian dari model pengajaran langsung dan berbagai komponennya, bersal dari bermacam-macam bidang. Meskipun demikian, data penunjang empiriks yang paling jelas terhadap model pengajaran langsung berasal dari penelitian tentang keefektifan guru yang dilakuakan pada tahun 1970-an dan 1980-an.
Penelitian Stalling dan Kaskowitz (dalam Arends, 2001 : 267) menunjukkan pentingnya waktu yang dialokasikan pada tugas (time on task). Penelitian ini juga menyumbanag dukungan empiriks penggunaan pengajaran langsung. Beberapa orang guru menggunakan metode-metode yang sangat terstruktur dan formal, sedangkan guru-guru yang lain menggunakan metode-metode yang informal. Stalling dan kolegannya ingin mengungkapkan, manakah diantara program-program itu yang dapat berfungsi baik dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Prilaku guru dalam 166kelas diamati, siswa-siswa di tes. Banayk hal yang dapat diungkap alokasi waktu dan penggunaan tugas yang menggunakan model poengajaran langsung lebih berhasil dan memproleh tingkat keterllibatan yang tinggi daripada mereka yang menggunakan metode-metode informal dan berpusat pada siswa.

  1. PELAKSANAAN PENGAJARAN LANGSUNG
Sebagaimana halnya setiap mengajar, pelaksanaan yang baik model pengajaran langsung memerlukan tindakan-tindakan yang keputusan-keputusan yang jelas dari guru selama berlangsungnya perencanaan, pada saat melaksanaan pembelajaran, dan waktu menilai hasilnya. Beberapa diantara tindakan-tindakan tersebut dapay di jumpai pada model-model pengajaran yang lain, langkah-langkah atau tindakan tertentu merupakan ciri khusus pengajaran langsung. Ciri utama unik yang terlihat dalam melaksanakan suatu pengajaran langsung adalah sebagai berikut :
1.      Tugas-tugas Perencanaan
Pengajaran langsung dapat diterapkan di bidang study apapun, namun model ini paling sesuai untuk  mata pelajaran yang berorientasi pada penampilan atau kinerja seperti menulis, membaca, matematika, musik dan pendidikan jasmani. Di samping itu pengajaran langsung juga cocok untuk mengajarkan komponen-komponen keterampilan dari mata pelajaran sejarah dan sains.
a.       Merumuskan Tujuan
Untuk merumuskan tujuan pembelajaran dapat digunakan model Mager dalam Kardi  dan Nur (2000 : 18), Mager mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran khusus harus sangat spesifik. Tujuan yang di tulis dalam format Mager di kenal sebagai tujuan prilaku dan terdiri dari tiga bagian :
1)      Perilaku siswa, apa yang akan dilakukan siswa/jemis-jemis perilaku siswa yang diharapkan guru untuk dilakukan sebagai bukti bahwa tujuan itu telah tercapai.
2)      Situasi Pengetesan, di bawah kondisi tertentu perilaku itu akan teramati atau di harapkan terjadi
3)      Kriteria Kinerja, di tetapkan standar atau  tingkat kinerja sebagai standar atau tingkat kinerja yang dapat diamati.
Singkatnya, menurut Mager tujuan yang baik perlu berorientasi pada siswa dan spesifik, mengandung uraian yang jelas tenteng situasi penilaian (kondisi evaluasi), dan mengandung tingakat ketercapaian kinerja yang di harapkan (kriteria keberhasilan).
b.      Memilih Isi
Kebanyakan guru pemula meskipun telah beberapa tahun mengajar, tidak dapat mengharapkan akan menguasai sepenuhnya materi pelajaran yang di ajarkan. Bagi mereka yang masih dalam proses menguasai sepenuhnya m,ateri ajar, disarankan agar dalam memilih materi ajar mengacu pada GBPP kurikulum yang berlaku dan buku ajar tertentu (Kardi dan Nur, 2000 : 20).
c.       Melakukan Analisis Tugas
Analisis tugas adalah alat yang digunakan oleh guru untuk mengidentifikasi dengan presisi yang tinggi hakikat yang setepatnya dari suatu keterampilan atau butir pengetahuan terstruktur dengan baik, yang akan di ajarkan oleh guru. Ide yang melatar belakangi analisis tugas ialah bahwa informasi atau keterampilanyang kompleks tidak dapat dipelajari semuanya dalan kurun waktu tertentu. Untuk mengembangkan pemahaman yang mudah dan pada akhirnya penguasaan, keterampilan dan pengertian kompleks itu lebih dahulu harus di bagi menjadai komponen bagian, sehingga dapat diajarkan berurutan dan logis dan tap demi tahap (Kardi  dan Nur, 2000 : 23).
d.      Merencanakan Waktu dan Ruang
Pada pengajaran langsung, merencanakan dan mengelola waktu merupakan kegiatan yang sangat penting. Ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh guru yaitu memastikan bahwa waktu yang telah disediakan sepadan dengan bakat dan kemampuan siswa dan memotivasi siswa agar mereka tetap melakukan tugas-tugasnya denga perhatia yang optimal, mengenal dengan baik siswa-siswa yang akan di ajar, sangat bermanfaat untuk menentukan alokasi waktu pembelajaran. Merencanakan dan mengelola ruang untuk pengajaran langsung juga sama pentingnya.


2.      Langkah-langkah Pembelajaran Model Pengajaran Langsung
Langkah-langkah pengajaran model pengajaran langsung pada dasarnya mengikuti pola-pola pembelajaran secara umun. Menurut Kardi dan Nur (2000 : 27-43), langkah-langkah pengajaran langsung meliputi tahapan sebgai berikut :
a.       Menyampaikan Tujuan dan Menyiapkan Siswa
Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pelajaran itu.
b.      Menyampaikan Tujuan
Siswa perlu mengetahui dengan jelas, mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pembelajaran tertentu, dan mereka perlu mengethui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran itu. Pemyampaian tujuan kepada siswa dapat dilakukan guru melalui rangkuman rencana pembelajaran denga cara menuliskannya di papan tulis atau menempelkan informasi tertulis pada papan bulletin, yang berisi tahap-tahap dan isinya, serta alokasi waktu yang disediakan untuk setiap tahap.
c.       Menyiapkan Siswa
Kegiatan inti bertujuqan untuk menarik perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang akan dimiliklinya yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari.
d.      Presentrasi dan Demonstrasi
Fase kedua pengajaran langsung adalah melakukan persentasi atau demontrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci untuk berhasil ialah mempersentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif.
e.       Mencapai Kejelasan
Hasil-hasil penelitian secara konisten menunjukan bahwa kemampuan guru untuk memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, mempunyai dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. Sementara itu, para peneliti dan pengamat terhadap guru pemula dan sebelun berpengalaman menemukan banyak penjelasan yang kabur dan membingungkan. Hal ini pada umunya terjadi pada saat guru tidak menguasai sepenuhnya pokok isi bahasan yang dikerjakannya, dan tidak menguasai tekhnik komunikasi yang jelas.

f.        Melakukan Demonstrasi
Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi, bahwa sebagian besar yang dipelajari (hasil belajar) berasal dari mengamati orang lain. Belajar dengan meniru tingkah laku orang lain dapat menghemat waktu, menghindari siswa dari belajar melalui “trial and eror”
Agar dapat mendemonstrasikan suatu konsep atau keterampilan dengan berhasil, guru perlu dengan sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasio untuk menguasai komponen-komponennya.
g.       Mencapai Pemahaman dan Penguasaan
Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memerhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demonstrasi ini berarti, bahwa jika guru menghendaki agar siswa-siswanya dapat melakukan sesuatu yang benar, guru perlu berupaya agar segala sesuatu yang didemonstrasikan juga benar, banyak contoh yang menunjukan, bahwa anak/siswa bertingkah laku denga tidak benar karena mencontoh tingkah laku orang lain yang tidak benar.
h.       Berlatih      
Agar dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latiahan yang intensif dan memerhatikan asfek-asfek penting dari keterampilan atau konsep yang didemonstrasikan.
i.         Memberikan Latihan terbimbing
Salah satu tahap penting dalam pengajaran langsung adalah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan pelatihan terbimbing. Keterlibatan siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar langsung dengan lancar, dan memungkinkan siswqa menerapkan konsep/keterampilan pada situasi yang baru.
Menurut Kardi dan Nur (2000 : 35-36), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menerapkan da melakukan pelatihan, yaitu :
1)         Menugasi siswa melakukan latiha singkat dan bermakna
2)         Memberikan pelatihan pada siswa sampai benar-benar menguasai konsep/ketrempilan yang dipelajari
3)        Hati-hati terhadap latihan yang berkelanjutan, pelatihan yang dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa
4)        Memerhattkan tahap-tahap awal pelatihan yang mungkin saja siswa melakukan keterampilan yang kurang benar atau bahkan salah tanpa di sadari.
j.        Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Tahap ini kadang-kadang disebut juga dengan tahap resitasi, yaitu huru memberikan beberapa pertanyaan lisan taupun tertuliskepada siswa dan guru memberikan respon terhadap jawaban siswa. Kegiatan ini merupakan aspek penting dalam pengajaran langsung, karena tanpa mengetahui hasilnya latiahan tidak mempunyai manfaat bagi siswa. Guru dapat menggunakan berbagai cara untuk memberikan unpan balik, sebagai mana umpan balik secar lisan, tes, dan kompoter tertulis, tanpa umpan balik spesifik, siswa tak mungkin dapt memperbaiki kekurangannya, dan tidak dapat mencapai tingkat penguasaan keterampilan yang mantap.
Menurut Kardi dan Nur (2000 : 38-42), untuk memberikan umpan balik yang efektif kepda siswa yang jumlahnya banyak dapat digunakan beberapa pedoman yang patut dipertimbangkan, sebagai berikut :
1)         Memberikan unpan balik sesegera mungkin setelah latihan
2)        Mengupayakan agar umpan balik jelas dan spesifik mungkin agar dapat membantu siswa dalam keterampilan.
3)        Umpan balik ditujukan langsung pada tingkah laku dan bukan pada maksud yang tersirat dalam tingkah laku tersebut.
4)        Menjaga umpan balik sesuai dengan tahap pengembangan siswa
5)        Memberikan pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar.
6)        Apabila memberi umpan balik yang negatif, tunjukan bagaiman melakkukan dengan benar.
7)        Membantu siswa memusatkan perhatiannya pada proses bukan pada hasil.
8)        Mengajari siswa cara memberi umpan balik kepada dirinya sendiri, dan bagaiman menilai keberhasilan kinerjanya sendiri. Belajar bagaimana menilai keberhasilan sendiri dan memberikan umpan balik kepada dirinya sendiri merupakan hal pentiang yang perlu dipelajari oleh siswa.
k.      Memberikan kesempatan latihan mandiri
Pada tahap ini, guru memberikan tugas kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang barusaja diperoleh secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan oleh siswa secara pribadi yang dilakukan di rumah atau di luar jam pelajaran. Menurut Kardi dan Nur (2000 : 42-43), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memberikan tugas mandiri yaitu :
ü   Tugas rumah yang diberikan bukan merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran, tetapi merupakan kelnjutan dari pelatihan untuk pembelajaran berikutnya.
ü   Guru seyogianya mengimformasikan kepada orang tua siswa tentang tingkat keterlibatan mereka dalam membimbing siswa di rumah
ü   Guru perlu memberikan umpan balik tentang hasil tugas yang dibeikan kepada siswa di rumah

3.      Strategi Pembelajaran Modeling
Satu ciri dalam pembelajaran langsung adalah diterapkan strayegi modeling. Strategi modeling adalah strategi yang dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa seseorang dapat belajar melalui pemgamatan prilaku orang lain. Strategi belajar modeling berangkat dari teori belajar sosial, yang juga disebut belajar melalui observasi atau menurut Arends disebut juga dengan teori pemodelan tingkah laku (Kardi dan Nur, 2000 : 11).

Berbeda dengan para pakar psikologi tingkah laku murni, para pakar teori pemodelan tingkah laku percaya, bahwa sesuatu tiu telah dipelajari apabila pengamat memerhatikan dengan sadar bahwa tingkah laku, dan kemudian menyimpan di dalam ingatan jangka panjang. Prilaku demikian dapat dituangkan kembali dalam perbuatan serupa oleh si pengamat.
Menurut Bandura (1986) ada empat elemen penting yang perlu diperhatiakan dalam pembelajaran melalui pengamatan. Keempat elemen itu adalah perhatian (atensi, mengulang (retensi), mengolah (produksi), dan motivasi.
Ada dua alasan yang mendasari mengapa di terapkan strategi modeling dalam suatu pembelajaran. Alasan pertama adalah utuk mengubah prilaku baru peserta didik melalui  model pengamatan pembelajaran yang dilatihkan adalah perlu. Dengan melalui pengamatan guru (model) yang dilakukan kegiatan semisal demonstrasi atau eksprimen, maka peserta didik dapat meniru prilaku atau langkah-langkah yang di modelkan atau terampil melakukan kegiatan seperti yang dimodelkan. Alasan yang kedua adalah mendorong prilaku peserta didik tentang apa yang dipelajari, memperkukat atau memperlemah hambatan.
Teori pembelajaran sosial memberikan penjelasan tentang peran paengamatan dalam pebelajaran. Teiri ini menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran prilaku dan penekanannya pada proses mental internal. Teoru pembelajaran sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura, seperti yang dikutip oleh kardi dan Nur (2000 : 11) menyatakan bahwa “ sebagian besar manusia belajar memlalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain.” Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan (modeling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah penting pelatihan pada peserta didik dalam melatihkan keterampilan proses.
Langkah modeling menurut Bandura terdiri dari fase atensi, fase retensi, fase produksi dan fase motivasi yang dalam pelatihan dilksanakan sebagai berikut :
Fase atensi : (1) guru (model) memberi contoh kegiatan tertentu (demonstrasi) di depan siswa sesuai dengan skenario`yang telah di sepakati. Peseta didik melakukan observasi terhadap keterampilan guru dalam melakukan kegiatan tersebut menggunakan lembar observasi yang telah disediakan, (2) guru bersama-sama peserta didik mendiskusikan hasil pengamatan yang dilakukan. Tujuan diskusi ini adalah untuk mencari kekurangan dan kesulitan peserta didik dalam mengamati langkah-lanngkah kegiatan yang disampaikan oleh guru dan untuk melatih peserta didik dalam meggunakan lembar observasi.
Fase Retensi : (1) diisi dengan kegiatan guru menjelaskan struktur langkah-langkah kegiatannya (demonstrasi) yang telah diam,ati oleh pesrta didik, untuk menunjukan langkah-langkah tertentu yang telah disajikan.
Fase Produksi, pada peserta ini peserta didik ditugasi utuk menyiapkan langkah-langkah kegiatannya  (demonstrasi) sendiri sesuai dengan langkah-langkah yang telah dicontohkan, hanya dari sudut yang berbeda. Selanjutnya, hasil kegiatan yang disajikan dalam bentuk diskusi kelas yang dilakukan secara bergiliran. Guru dan peserta diskusi akan memberikan refleksi pada saat diskkusi sesudah KBM berlangsung. Hal ini dilakukan bergabtian terhadap kelompok yang lain.
Fase motivasi berupa persentasi hasil kegiatan atau simpulan dan kegiatan diskusi. Pada saat diskkusi kelompok lain deberi kesempatan untuk menyampaikan hasil pengamatannya.
Akhirnya guru da peserta didik kan emnyimpulkan hasil kegiata serta overview untuk memberikan justifikasi hasil kegiatan yang telah dilakukan.
DAFTAR PUSTKA

Ibrahim,  M.,  Rachmadiarti, F.,  dan  Ismono.2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universsitas Press.
Ismail. 2003. Model-model Pembelajaran. Jakarta : Dit. Pendidikan Lanjutan Pertama.
Hasibuan, J.  J.  dan Moedjiono.  Proses belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Trianto.  2007.  Model Pembelajaran Terpadu (Integrate Model) dalam teori Praktik. Prestasi Pustaka: Jakarta.
Wiryawan, S.  A.,  dan Noorhadi.  1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Universitas Terbuka.

Metode inquiry



 Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi ( 2004 )
Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005).
Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini – sesuai dengan Taxonomy Bloom – siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.
Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.
Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.
Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.
Langkah-langkah pelaksanaan metode inquiry:
1. Orientasi
Adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah:
Ø Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
 Menjelaskan pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untukØ mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inquiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
Ø Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah diantaranya:
Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan akanØ memiliki motivai yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji.
  • Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
  • Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
  1.  Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenaranya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki setiap individu sejak lahir. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan harus dibina. Salah satu cara yang harus dilakukan guru untuk mengembangkan hipotesis siswa adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh karena itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mampu mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berari mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Meumuskan kesimpulan
Adalah poses mendeskrisikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukan pada siswa data mana yang relevan.


MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE GRUP INVESTIGASI ( GI)



Santyasa mengungkapkan pembelajaran kooperatif tipe GI didasari oleh gagasan John Dewey tentang pendidikan, bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan di dunia nyata yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi. Menurut Winataputra (1992:39) model GI atau investigasi kelompok telah digunakan dalam berbagai situasi dan dalam berbagai bidang studi dan berbagai tingkat usia. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan mengetes hipotesis.
Menurut Depdiknas (2005:18) pada pembelajaran ini guru seyogyanya mengarahkan, membantu para siswa menemukan informasi, dan berperan sebagai salah satu sumber belajar, yang mampu menciptakan lingkungan sosial yang dicirikan oleh lingkungan demokrasi dan proses ilmiah. Menurut Winataputra (1992:63) sifat demokrasi dalam kooperatif tipe GI ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. Guru dan murid memiliki status yang sama dihadapan masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. Jadi tanggung jawab utama guru adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara kooperatif dan memikirkan masalah sosial yang berlangsung dalam pembelajaran serta membantu siswa mempersiapkan sarana pendukung. Sarana pendukung yang dipergunakan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan para pelajar untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok.
Ibrahim, dkk. (2000:23) menyatakan dalam kooperatif tipe GI guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa heterogen dengan mempertimbangkan keakraban dan minat yang sama dalam topik tertentu. Siswa memilih sendiri topik yang akan dipelajari, dan kelompok merumuskan penyelidikan dan menyepakati pembagian kerja untuk menangani konsep-konsep penyelidikan yang telah dirumuskan. Dalam diskusi kelas ini diutamakan keterlibatan pertukaran pemikiran para siswa.
Slavin (dalam Asthika, 2005:24) mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut:
1) Tahap Pengelompokan (Grouping)
Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta mebentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini: 1) siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan kategori-kategori topik permasalahan, 2) siswa bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, 3) guru membatasi jumlah anggota masing-masing kelompok antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.
Misalnya:
1) Dalam sub pokok bahasan turunan fungsi aljabar, sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat, guru menyampikan topik yang akan diinvestigasi seperti: (a) Bila y = c maka y’= 0 (c konstanta), (b) Bila y = ax maka y’ = a (a konstanta), dan (c) Bila  y = axn  maka y’ = a.n.xn-1 (a dan n konstanta)
2) Setelah penyampaian topik bahasan yang akan diinvestigasi: (a) guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih topik yang menarik untuk dipilih dan membentuk kelompok berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, (b) Guru membatasi anggota kelompok 4 sampai 5 orang dengan cara mengarahkan siswa dan memberikan suatu motivasi kepada siswa supaya bersedia membentuk kelompok baru dan memilih topik.
 2) Tahap Perencanaan (Planning)
Tahap Planning atau tahap perencanaan tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang: (1) Apa yang mereka pelajari? (2) Bagaimana mereka belajar? (3) Siapa dan melakukan apa? (4) Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut?
Misalnya  pada topik Bahasan, Bila y = c maka y’= 0    dimana c konstanta, pada tahap ini: 1) siswa belajar tentang turunan fungsi yang nilainya konstan, 2) siswa belajar dengan menggali informasi, bekerjasama dan berdiskusi, 3) siswa membagi tugas untuk memecahkan masalah topik tersebut, mengumpulkan informasi, menyimpulkan hasil investigasi dan mempresentasikan di kelas, dan (4) siswa belajar untuk mengetahui sifat turunan fungsi aljabar yang bernilai konstan.
 3) Tahap Penyelidikan (Investigation)
Tahap Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut: 1) siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki, 2) masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok, 3) siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat. Misalnya: 1) siswa menemukan cara-cara pembuktian sifat turunan fungsi aljabar yang bernilai konstan, 2) siswa mecoba cara-cara yang ditemukan dari hasil pengumuplan informasi terkait dengan topik bahasan yang diselidiki, dan 3) siswa berdiskusi, mengklarifikasi tiap cara atau langkah dalam pemecahan masalah tentang topik bahasan yang diselidiki.
 4) Tahap Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut:
 1) anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proteknya masing-masing,    2) anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, 3) wakil dari masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi.
Misalnya: 1) siswa menemukan bahwa turunan fungsi aljabar yang bernilai konstan nilainya adalah 0 jadi rumus yang diberikan terbukti, 2) siswa menemukan bahwa turunan fungsi aljabar yang bernilai konstan nilainya adalah 0 yang dibuktikan dengan definisi turunan dan limit fungsi, 3) siswa membagi tugas  sebagai pemimpin, moderator, notulis dalam presentasi investigasi.
5) Tahap Presentasi (Presenting)
Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut: (1) penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian,  (2) kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar, (3) pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan.  Misalnya: 1) siswa yang bertugas untuk mewakili kelompok menyajikan hasil atau simpulan dari investigasi yang telah dilaksanakan, 2) siswa yang tidak sebagai penyaji, mengajukan pertanyaan, saran tentang topik yang disajikan, 3) siswa mencatat topik yang disajikan oleh penyaji.
 6) Tahap evaluasi (evaluating)
Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut: 1) siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman efektifnya, 2) guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan, 3) penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa. Misalnya: 1) siswa merangkum dan mencatat setiap topik yang disajikan, 2) siswa menggabungkan tiap topik yang diinvestigasi dalam kelompoknya dan kelompok yang lain, 3) guru mengevaluasi dengan memberikan tes uraian pada akhir siklus.
 

Quantum Teaching


1. Pengertian, Asas dan Tujuan Quantum Teaching
  1. Pengertian
Adapun pengertian Quantum Teaching Menurut Bobby De Porter yaitu:
“Quantum Teaching adalah konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan.”[1]
Quantum Teaching menjadikan segala sesuatu berarti dalam proses belajar mengajar, setiap kata, pikiran, tindakan asosiasi dan sampai sejauhmana mengubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran.
Sebagaimana ungkapan di atas, Colin Rose juga berpendapat bahwa Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar yang berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap siswa. Metode ini sarat dengan penemuan-penemuan terkini yang menimbulkan antusiasme siswa.[2] Quantum Teaching menjadikan ruang-ruang kelas ibarat sebuah konser musik yang memadukan berbagai instrumen sehingga tercipta komposisi yang menggerakkan dari keberagaman tersebut. Sebagai guru yang akan mempengaruhi kehidupan murid, anda seolah-olah memimpin konser saat berada di ruang kelas.
  1. A s a s
Adapun asas Quantum Teaching adalah bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. Hal ini mengingatkan kita pada pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Memasuki terlebih dahulu dunia mereka berarti akan memberi izin untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan mereka menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Dengan mengaitkan apa yang diajarkan oleh guru dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang didapatkan dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, dengan mudah dunia siswa dibawa ke dunia guru atau pengajar. Guru akan memberikan pemahaman tentang isi dunia itu.
  1. Tujuan
Adapun tujuan Quantum Teaching adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Terdapat perbedaan antara tujuan dan prioritas. Tujuan merupakan hasil akhir yang ingin diraih. Sedangkan prioritas merupakan tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam mencapai tujuan. Menciptakan suasana yang dinamis dalam belajar, dengan memadukan berbagai unsur-unsurnya serta melakukan penggubahan, merupakan tahapan-tahapan untuk mencapai ilmu pengetahuan yang luas sebagai tujuan.
  1. 2. Prinsip dan Model Quantum Teaching
  2. Prinsip
Adapun prinsip Quantum Teaching adalah sebagai berikut:
1)      Segalanya berbicara
2)       Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.[3]
3)      Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam penggubahan kita, mempunyai tujuan. Oleh karena itu, Kathy Wagone membuat istilah yang memotivasi: “tetapkanlah sasaran tersebut agar bisa berprestasi setiap harinya”.[4]
4)      Pengalaman Sebelum Pemberian Nama
Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses yang paling baik terjadi ketika siswa telah mendapatkan informasi sebelum memperoleh kesimpulan dari apa yang mereka pelajari.
5)      Akui Setiap Usaha
Belajar mengandung resiko. Belajar berarti keluar dari kenyamanan. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Seperti kata Noelle c. Nelson bahwa pujian atau penghargaan kepada seseorang atas karyanya memunculkan suatu energi yang membangkitkan emosi positif.[5]
6)      Jika Layak Dipelajari, Layak Pula Dirayakan
Perayaan adalah sarapan para pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan minat dalam belajar. Sehubungan dengan itu, Dryden berpesan bahwa ingatlah selalu untuk merayakan setiap keberhasilan.[6]
  1. M o d e l
Adapun model Quantum Teaching terdiri atas dua tahap, tahap pertama disebut konteks, dan tahap kedua adalah isi.[7]
1) Tahap Pertama (Konteks)
Yang dimaksud dengan tahap pertama atau konteks yaitu tahap persiapan sebelum terjadinya interaksi di dalam kelas. Berhubungan dengan konteks, ada empat aspek yang harus dipersiapkan:
a)      Suasana, termasuk di dalamnya keadaan kelas, bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa simpati dengan siswa, dan sikap terhadap sekolah dan belajar.
b)      Landasan, yaitu kerangka kerja: tujuan, keyakinan, kesepakatan, prosedur, dan aturan bersama yang menjadi pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar.
c)      Lingkungan, yaitu cara menata ruang kelas, pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, dan semua hal yang mendukung proses belajar.
d)     Rancangan, yaitu penciptaan terarah unsur-unsur penting yang menimbulkan minat siswa, mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar menukar informasi.
2) Tahap Kedua (Isi)
Tahap kedua (isi) merupakan tahap pelaksanaan interaksi belajar, hal-hal yang berhubungan dengan bagian ini adalah:
a)      Presentasi, yaitu penyajian pelajaran dengan berdasarkan prinsip-prinsip Quantum Teaching sehingga siswa mereka dapat mengetahui banyak hal dari apa yang dipelajari. Tahap ini juga diistilahkan pemberian petunjuk, yang bermodalkan dengan penampilan, bunyi dan rasa berbeda.
b)      Fasilitas, yaitu proses untuk memadukan setiap bakat-bakat siswa dengan kurikulum yang dipelajari, dengan kata lain bagian ini menekankan bagaimana keahlian seorang pengajar sebagai pemberi petunjuk, langkah-langkah apa yang akan ditempuh untuk mengakomodasi karakter siswa.
c)      Keterampilan Belajar, yaitu bagian yang mengajarkan bagaimana trik-trik dalam belajar yang tentu berdasarkan pada prinsip-prinsip Quantum Teaching, sehingga para siswa memahami banyak hal, meskipun dalam waktu yang singkat.
d)     Keterampilan Hidup, bagian ini mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan efektif dengan orang lain sehingga terbina kebersamaan dalam hidup. Keterampilan hidup diistilahkan juga keterampilan sosial.
  1. B. Relevansi Proses Belajar Mengajar dengan Quantum Teaching
  2. 1. Pengertian dan Komponen Proses Belajar Mengajar
Pengertian Proses Belajar Mengajar Menurut Sardiman AM yaitu:
“bahwa proses belajar mengajar merupakan kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi, yakni siswa sebagai pihak yang belajar, dan guru sebagai pihak yang mengajar, dengan siswa sebagai subyek pokoknya.”[8]
Sedangkan tujuan proses belajar mengajar sama dengan tujuan pendidikan, yang menurut Redja Mudya Harjo yaitu:
“untuk pengembangan kemampuan-kemampuan pribadi secara optimal dengan tujuan-tujuan sosial yang bersifat manusia seutuhnya, yang dapat memainkan peranannya sebagai warga dalam berbagai lingkungan persekutuan hidup dan kelompok sosial.”[9]
Adapun komponen proses belajar mengajar merupakan hal-hal penting yang tidak dapat diabaikan dalam proses belajar mengajar, dikarenakan hal-hal penting tersebut mesti dilalui untuk mencapai tujuan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.[10] Diibaratkan pada sebuah mesin, jika salah satu dari komponennya tidak berfungsi, maka mesin tersebut tidak akan dapat beroperasi. Oleh karena itu, setiap tenaga pengajar perlu memahami komponen-komponen dalam proses belajar mengajar, sehingga mereka dapat mempersiapkan segala sesuatu demi kelancaran aktifitasnya.
Adapun komponen-komponen proses belajar mengajar akan dipaparkan seperti berikut:
  1. Tujuan proses belajar mengajar
Tujuan proses belajar mengajar adalah adanya hal-hal ideal yang menjadi target atau sasaran yang mesti dicapai dalam proses belajar mengajar. Adapun tujuan yang mesti dicapai dalam proses belajar mengajar adalah memperoleh pemahaman dan keterampilan. Pemahaman yang dimaksudkan adalah peserta dalam proses belajar mengajar memiliki banyak pengetahuan dengan cara kreatif berpikir, membaca dan menulis. Sedangkan keterampilan adalah memiliki keahlian dalam memecahkan setiap persoalan, terampil menyampaikan pengetahuan kepada orang lain, serta terampil melukiskan pengetahuannya dalam tulisan.
  1. Bahan Pelajaran (Materi)
Setelah merumuskan tujuan, kemudian diikuti langkah pemilihan bahan pelajaran yang sesuai dengan kondisi tingkatan siswa yang akan menerima pelajaran, jelasnya bahan pelajaran merupakan isi dari proses interaksi tersebut.
  1. Guru dan Siswa
Guru dan siswa adalah salah satu komponen proses belajar mengajar, yakni yang memberikan pengajaran dan yang menerima pelajaran. Sebagai guru profesional, mereka mesti memenuhi syarat-syarat dalam melaksanakan tugasnya. Adapun beberapa syarat tersebut adalah :
1)      Harus memiliki bakat sebagai guru
2)      Harus memiliki keahlian sebagai guru
3)      Memiliki kepribadian yang baik dan terintegrasi
4)      Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas
Menurut Maslow, siswa memiliki beberapa kebutuhan, yaitu:
1)      Kebutuhan akan keselamatan, yaitu kebutuhan yang timbul setelah kebutuhan fisiologis. Tiap orang berusaha menjaga keselamatan dan keamanan dirinya dari gangguan luar, atau situasi-situasi yang tidak menyenangkan.
2)      Kebutuhan memiliki dan mencintai yaitu kebutuhan akan kasih sayang dalam keluarga dan kebersamaan dalam masyarakat
3)      Kebutuhan akan penghargaan, ialah keinginan seseorang akan penilaian yang baik dari orang lain, ingin dihormati, merasa mampu, percaya atas kemampuannya menghadapi hidup di dunia ini.
4)      Kebutuhan untuk menonjolkan diri adalah kebutuhan tertinggi, ingin dianggap orang yang terbaik, ingin menjadi orang ideal, dan lain-lain.[11]
  1. Strategi dalam proses belajar mengajar
Salah satu komponen penting untuk mencapai keberhasilan proses belajar mengajar adalah strategi. Strategi adalah penghubung antara siswa dan guru, dimana dengan strategi kita dapat mengembangkan pengajaran. Berbagai strategi yang dapat digunakan berdasarkan pada tujuan yang akan dicapai. Strategi dalam proses belajar mengajar, tentunya dirumuskan oleh guru yang bertindak sebagai pengarah baik dari segi materinya, tugas-tugas pada komunikasi, media, maupun suasana lingkungan belajar yang diciptakan. Jika strategi tidak dirumuskan, maka guru tidak akan mengetahui bagaimana perkembangan siswa dan tentunya secara umum tujuan pembelajaran tidak tercapai.
  1. Sarana (alat)
Alat atau sarana merupakan komponen yang tak terpisahkan dalam proses belajar mengajar. Sarana sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan sarana juga harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan juga disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang pendidikan, maka semakin banyak pula tercipta sarana-sarana yang digunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru haruslah menyesuaikan penggunaan sarana tersebut dengan tetap berpatokan pada tujuan sehingga dapat tercapai secara efektif dan efisien.
  1. Evaluasi
Evaluasi perlu dilakukan sebab untuk melihat sejauhmanakah bahan yang diberikan kepada peserta didik dengan metode tertentu dan sarana yang telah ada dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Tegasnya penilaian atau evaluasi ini merupakan baromater untuk mengukur tercapainya proses belajar mengajar.
  1. 2. Quantum Teaching sebagai Strategi Belajar Mengajar
Quantum Teaching merupakan konsep yang diturunkan dari Quantum Learning yang mempunyai motto membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan. Dari konsep Quantum Learning yang akan diterapkan dalam dunia bisnis, maka dibuatlah Quantum Bisnis, begitu pula konsep Quantum Learning yang akan diterapkan dalam interaksi belajar mengajar, maka dirancanglah konsep Quantum Teaching.
Quantum Teaching merupakan sebuah strategi untuk mempraktekkan Quantum learning di ruang-ruang kelas, berusaha memberikan kiat-kiat, petunjuk, dan seluruh proses yang dapat menghemat waktu, mempertajam pemahaman dan daya ingat, membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.
Berdasarkan tujuan dari proses belajar mengajar, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa untuk dapat mendapatkan wawasan yang luas, pembentukan sikap dan memberikan keterampilan, konsep Quantum Teaching inilah langkah atau strategi yang komprehensif untuk meraih tujuan tersebut.

[1]Bobby De Porter, Quantum Teaching, alih bahasa oleh Ary Nilandari (Cet. XI; Bandung: Kaifa, 2003), h. 3.
[2]Colin Rose, dalam Dave Maier, Accelerated Learning (Cet.I; Bandung: Kaifa; 2001), h. 247.
[3]Bobby De Porter, op.cit., h. 7.
[4]Kathy Wagone, Seni Meraih Sukses Sederhana, alih bahasa oleh Arman Prayitno, (Cet. I; Batam; Interaksara, 2004), h. 7.
[5]Noelle C. Nelson, Jeannine L. Calaba, The Power of Appreciation,alih bahasa oleh Yulianto Rahmat, (Cet. I; Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2005), h. 7.
[6]Gordon Dryden, Revolusi Cara Belajar, (Cet. VIII; Bandung: Kaifa, 2004), h. 327.
[7]Bobby De Porter, op.cit., h. 9.
[8]Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Cet. XI; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 14.
[9]Redja Mudya Harjo, Pengantar Pendidikan (Cet. XI; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), h. 12.
[10]Hamalik Oemar, Proses Belajar Mengajar (Cet. III; Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 77.
[11]Abraham Maslow, dalam Oemar Hamalik, op.cit., h. 96.

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...