Senin, 14 Maret 2011

a

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini perkembangan dunia usaha menciptakan persaingan yang sangat kuat, dimana setiap perusahaan diharuskan untuk berusaha dan dapat menguasai pasar yang seluas-luasnya agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan. Dalam perkembangan dunia usaha ini perusahaan dituntut untuk menampilkan produk yang terbaik dan dapat memenuhi daya beli konsumen. Oleh sebab itu perusahaan harus melaksanakan pola pada manajemen yang profesional dalam operasi perusahaan. Sehingga perusahaan akan dapat mencapai tujuan dan kelangsungan perusahaan akan tetap berjalan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan meningkatkan volume penjualan. Untuk itu diperlukan suatu strategi yang dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan menggunakan peranan advertising yang efektif.
Untuk memperoleh hasil yang diinginkan maka advertising harus dilaksanakan dengan sepenuhnya dalam arti media serta sarana yang digunakan untuk advertising harus sesuai dengan produk yang dihasilkan. Apabila hal ini dilaksanakan dengan baik, maka pihak perusahaan dapat mencapai target penjualan yang ditetapkan.
Apabila kegiatan advertising tersebut tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam arti pemilihan media dan sarana yang kurang tepat, maka pihak perusahaan akan rugi karena advertising tersebut tidak akan mengenai sasaran dan tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Hal ini akan berpengaruh terhadap volume penjualan yang ditetapkan. Demikian juga apabila perusahaan tidak bisa melaksanakan kegiatan advertising, maka produk yang dihasilkan oleh perusahaan kurang dikenal oleh konsumen, akibatnya perusahaan kurang mempunyai konsumen yang akan memakai produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Yang pada akhirnya volume penjualan tidak sesuai dengan tujuan perusahaan.
Jika dikaitkan dengan volume penjualan, maka advertising mempunyai pengaruh terhadap peningkatan volume penjualan suatu perusahaan. Hal ini merupakan tantangan baik pihak perusahaan untuk mengadakan kegiatan advertising yang efektif. Selain itu kegiatan advertising ini juga sebagai alat untuk bersaing dengan perusahaan sejenis. Bila perusahaan ingin produknya bisa bersaing di pasar, maka salah satu kegiatan pemasaran yang harus dilaksanakan dengan sepenuhnya adalah advertising. Sebagaimana yang diharapkan perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk, untuk meningkatkan jumlah penjualan maka perlu suatu tindakan yang lebih efektif melalui pelaksanaan advertising.
Perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk merupakan perusahaan yang memproduksi rokok. Produksi rokok ini mengandalkan kualitas dan mutu dari perpaduan antara rasa tembakau, cengkeh, dan saos dari rokok tersebut. Dalam menjalankan aktivitasnya, perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk menghadapi permasalahan pada pemasaran hasil produksi, yaitu terbatasnya media dan sarana advertising yang dilakukan perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk selama ini adalah pembagian kalender, stiker label, serta kertas pembungkus yang digunakan oleh perusahaan.
Pemakaian media advertising ini kurang dapat menjangkau konsumen, karena media kalender, stiker dan kertas pembungkus. Jangkauannya hanya terbatas pada pedagang dan pelanggan.
Oleh karena itu penulis mengambil suatu kesimpulan berdasarkan latar belakang masalah bahwa Kurangnya Peranan Advertising yang Efektif Dalam Usaha Meningkatkan Volume Penjualan pada Perusahaan Rokok “Kebayak” Nganjuk.

B. Permasalahan
Dalam melaksanakan aktivitasnya, setiap perusahaan akan menjumpai suatu masalah atau rintangan. Masalah-masalah tersebut dapat menghambat jalannya perusahaan dan hal ini harus segera diantisipasi agar tujuan perusahaan dapat tercapai tidak terkecuali perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk mengalami permasalahan yang dirumuskan yaitu:
“Bagaimana peranan advertising yang efektif agar volume penjualan dapat di tingkatkan”.


C. Tujuan Penelitian
Adalah merupakan sasaran yang akan dicapai dalam melaksanakan penelitian.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui sebab, akibat dan masalah dari advertising yang diterapkan oleh perusahaan dalam meningkatkan volume penjualan dan hasil penjualan.
2. Ingin mengetahui pengaruh dan hubungan advertising dengan volume penjualan pada perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk.
3. Untuk mencari solusi pemecahan masalah advertising pada perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk guna meningkatkan volume penjualan.

D. Kegunaan Penelitian.
Adapun kegunaan atau manfaat suatu penelitian adalah sebagai berikut:
1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan suatu langkah-langkah yang diambil di dalam memecahkan suatu masalah.
2. Sebagai dasar atau bahan pertimbangan bagi pimpinan perusahaan di dalam pengambilan suatu keputusan dan kebijaksanaan dalam usaha mengatasi suatu masalah yang di hadapi perusahaan, terutama tentang pentingnya advertising.
3. Untuk menambah khasanah bacaan ilmiah sebagai bahan perbangdingan dalam penelitian berikutnya antara pengetahuan teori dengan praktek yang ada di lapangan.

BAB II
LANDASAN TEORI

Pada umumnya advertising adalah merupakan salah satu kegiatan yang dapat menunjang berhasilnya usaha pemasaran dari produk yang dihasilkan perusahaan. Dan sebelum kita bahas lebih lanjut sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu pokok permasalahan.

A. Pengertian Pemasaran
Menurut Basu Swastaha DH dan Irawan (2004:5) :
“Pemasaran adalah sautu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk memproduksikan dan mendistribusikan barang-barang dan jasa yang memuaskan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial”.
Jadi dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pemasaran merupakan suatu bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa dalam perorangan / kelompok yang mereka inginkan melalui pembuatan dan pertukaran produk dan nilai dengan pihak lain.
Dan juga pemasaran merupakan suatu interaksi yang berusaha untuk menciptakan hubungan pertukaran tetapi pemasaran bukanlah merupakan suatu cara yang sederhana sekedar untuk menghasilkan penjualan saja. Dalam hal ini, pertukaran hanyalah merupakan satu tahap dalam proses pemasaran. Sebenarnya, pemasaran itu dilakukan baik sebelum maupun sesudah pertukaran. Dan kegiatan-kegiatan di dalam pemasaran, semuanya ditujukan untuk memberikan kepuasan baik penjual maupun pembeli.

B. Pengertian Marketing Mix
Menurut Basu Swastha DH (2004:42) : “Marketing mix adalah kombinasi dari 4 variabel/kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yakni : produk, struktur harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi”.
Dari keempat unsur yang terdapat dalam kombinasi tersebut saling berhubungan, lagi pula kita meninjau konsep sistem sebagai keputusan dimana masing-masing elemen di dalamnya saling mempengaruhi juga, setiap variabel yang ada mempunyai banyak sekali sub variabel.
Perusahaan dapat memasarkan satu atau beberapa macam produk, baik yang ada hubungannya maupun tidak. Mereka dapat mendistribusikan lewat pedagang besar atau langsung kepada pengecer, dan seterusnya. Secara ringkas, masing-masing variabel marketing mix ini akan diuraikan sebagai berikut :
1. Produk
Dalam pengelolaan produk termasuk pula perencanaan dan pengembangan produk/jasa yang baik untuk dipasarkan oleh perusahaan. Perlu adanya suatu pedoman untuk mengubah produk yang ada, menambah produk baru, atau mengambil tindakan lain yang dapat mempengaruhi kebijaksanaan dalam penentuan produk. Selain itu, keputusan-keputusan juga perlu di ambil menyangkut masalah pembuatan merk, pembungkus, warna dan bentuk produk lainnya.
2. Harga
Dalam kebijaksanaan harga, manajemen harus menentukan harga dasar dari produknya, kemudian menentukan kebijaksanaan menyangkut potongan harga, pembiayaan ongkos kirim dan hal-hal lain yang berhubungan dengan harga.
3. Promosi
Promosi ini merupakan komponen yang dipakai untuk memberitahu dan mempengaruhi pasar bagi produk perusahaan. Adapun kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam promosi adalah : periklanan, personal selling, promosi penjualan, publisitas, hubungan masyarakat.
4. Distribusi
Sebagian dari tugas distribusi adalah memilih perantara yang akan digunakan dalam saluran distribusi, serta mengembangkan sistem distribusi yang secara fisik menangani dan menyangkut produk melalui saluran tersebut. Ini dimaksudkan agar produknya dapat mencapai pasar yang dituju tepat pada waktunya.
Pada uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pemasaran perusahaan dimulai dari konsumen dan berakhir pada konsumen pula. Manajemen harus menentukan sasaran pasarnya, menganalisa dan kemudian mengembangkan suatu program untuk mencapai pasar tersebut.

C. Pengertian Promosi
Menurut Basu Swashta DH dan Irawan (2004:349) : “Promosi adalah arus informasi / persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang / organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran”.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan, bahwa promosi adalah suatu arus informasi/persuasi satu arah dalam mengarahkan seseorang atau organisasi untuk membujuk calon pembeli secara pribadi untuk membeli suatu barang/jasa dan bertindak menguntungkan terhadap suatu ide yang mempunyai arti komersial ke penjualan.
Jadi, promsi merupakan salah satu aspek yang penting dalam manajemen pemasaran dan sering dikatakan sebagai “proses berlanjut”. Ini disebabkan karena promosi dapat menimbulkan rangkaian kegiatan selanjutnya dari perusahaan. Untuk itu diperlukan suatu strategi agar kegiatan promosi dapat berjalan dengan baik. Strategi di dalam kegiatan promosi ini disebut dengan promotional mix. Menurut basu Swastha DH dan Irawan (2004:39) : “Promotional mix adalah kombinasi strategi yang paling baik variabel-variabel periklanan, personal selling dan alat promosi yang lain, yang semuanya direncakana untuk mencapai tujuan penjualan.
Dari uraian di atas maka berikut ini akan diuraikan landasan teori yang berkaitan dengan advertising.

D. Advertising
1. Pengertian Advertising
Advertising adalah merupakan suatu kegiatan yang segala besar manfaatnya bagi para pengusaha di dalam usahanya untuk meningkatkan volume penjualan, advertising adalah salah satu bagian / bentuk aktivitas promosi, yang dewasa ini diperlukan di dalam pemasaran hasil produk di suatu perusahaan.
Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas, maka disajikan beberapa pendapat dari para ahli tentang pengertian advertising.
Menurut Alex S. Nitisemito (2003:126) :
“Advertising adalah suatu kegiatan dalam bidang marketing yang bertujuan untuk meningkatkan omzet penjualan dengan jalan mempengaruhi konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung”.
Menurut Basu Swastha (2004:245) :
“Advertising adalah komunikasi non individual, dengan sejumlah biaya, melalui berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan, lembaga non laba, serta individu-individu”.
Menurut Soehardi Sigit (2002:50) mengemukakan tentang advertising sebagai berikut:
“Cara penyajian dengan cetakan, tulisan, kata-kata, gambar atau menggunakan orang, produk atau jasa yang dilakukan oleh suatu lembaga (perusahaan) dengan maksud untuk mempengaruhi dan meningkatkan penjualan, pemakaian atau untuk memperoleh suara, dukungan atau pendapat”.
Berdasarkan dari definisi tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan advertising adalah cara untuk memperkenalkan produk barang dan jasa serta untuk mempengaruhi konsumen melalui media-media tertentu dengan maksud untuk meningkatkan volume penjualan.

2. Fungsi dan Tujuan Advertising
Beberapa fungsi advertising dalam pemasaran produk perusahaan, menurut Basu Swastha (2004:246) :
a. Memberikan informasi
b. Membujuk atau mempengaruhi
c. Menciptakan kesan
d. Memuaskan keinginan
e. Sebagai alat komunikasi.

Secara garis besar hal tersebut di atas dapatlah dijelaskan sebagai berikut:
a. Memberikan informasi
Advertising berfungsi memberikan informasi lebih banyak daripada lainnya kepada konsumen baik tentang barangnya, harganya ataupun informasi lain yang dapat berguna bagi konsumen.
b. Membujuk atau mempengaruhi
Advertising tidak hanya bersifat memberitahukan saja, tetapi juga bersifat membujuk atau mempengaruhi kepada calon pembeli potensial dengan menyatakan bahwa produknya lebih baik dari produk yang lain.
c. Menciptakan kesan
Dengan adanya advertising konsumen akan mempunyai kesan tertentu terhadap produk yang diiklankan. Dalam hal ini pemasangan iklan harus memperhatikan hal-hal lainnya, misalnya dalam penggunaan warna, bentuk dan ilustrasi yang menarik.
d. Memuaskan keinginan
Sebelum melakukan pembelian orang biasanya ingin diberitahu dahulu baik mengenai barang maupun harganya. Kadang-kadang orang juga ingin dibujuk untuk melakukan sesuatu yang baik bagi mereka untuk melakukan pembelian, sehingga dapat memuaskan keinginan.
e. Sebagai alat komunikasi.
Advertising adalah suatu alat untuk membuka komunkasi dua arah yaitu antara penjual dan pembeli. Dengan advertising memudahkan keinginan mereka untuk terpenuhi sehingga terjadi pertukaran yang memuaskan.
Adapun tujuan advertising yang utama adalah menjual atau meningkatkan penjualan barang jasa atau ide. Adanya kegiatan advertising sering mengakibatkan terjadinya penjualan dengan segera, meskipun banyak juga penjualan yang baru terjadi pada waktu mendatang.
Menurut A. Rahman Prawiraamidjaja (2005:32) tujuan dari advertising adalah:
a. Pengenalan dan penerimaan produk
b. Menarik langganan baru
c. Memperluas kegiatan di daerah baru
d. Mengadakan pembelian percobaan
e. Menambah nilai dari suatu barang
f. Membantu kegiatan personal selling
g. Mendorong penjualan barang-barang yang tidak laku

Untuk lebih jelasnya penulis akan menjelaskan secara terperinci tujuan dari advertising adalah sebagai berikut :
a. Pengenalan dan penerimaan produk
Suatu produk yang dipasarkan secara luas dan agar tetap dikenal oleh konsumen, maka harus menggunakan suatu cara pelaksanaan advertising yang meyakinkan para konsumennya bahwa produk yang ada sudah tersedia di pasaran.
b. Menarik langganan baru
Sejumlah kegiatan advertising yang digambarkan dengan maksud untuk menyebarkan informasi sebelum pembeli potensial mengadakan keputusan untuk pembelian, dengan harapan bahwa hal ini merupakan faktor yang mempengaruhi dalam mempertimbangkan mengenai nama (brand) yang akan dibeli.
c. Memperluas kegiatan di daerah baru
Tujuan advertising disini adalah untuk melakukan pendekatan kepada pembeli potensial yang tidak dapat dijangkau oleh salesman.
d. Mengadakan pembelian percobaan
Dengan mengadakan pembelian percobaan atau pengenalan produk diharapkan pembeli memperoleh kepuasan dan nantinya akan menajdi langganan setia.
e. Menambah nilai dari suatu barang
Pada advertising yang dilaksanakan dijelaskan mengenai kelebihan produk yang ditawarkan, yang mana kelebihan tersebut tidak dapat dicapai oleh pembeli yang mengadakan penyelidikan kebutuhan. Sehingga dengan demikian dapat menambah nilai dari suatu barang.
f. Membantu kegiatan personal selling
Dengan dilaksanakannya advertising akan mempermudah salesman dalam menjalankan tugasnya, karena konsumen telah mengenal produk yang dipromosikan tersebut.

g. Mendorong penjualan barang-barang yang tidak laku
Dengan advertising yang dilakukan secara terus-menerus akan mendorong kenaikan nilai barang tersebut. Diharapkan untuk melaksanakan advertising yang terus-menerus agar tercipta konsumen baru dan produknya laku.
Jadi tujuan tersebut dapat direalisir apabila permintaan dapat diperluas, karena masyarakat merasa memerlukan barang tersebut, keinginan untuk membeli barang tersebut mulai tumbuh dan berpengaruh dari pesaing dapat dipatahkan, dengan demikian hal tersebut di atas dapat dicapai apabila dilaksanakan suatu program advertising yang efektif.
3. Macam-macam Bentuk Advertising
Beberapa macam cara dalam advertising dapat digolongkan atas dasar penggunaannya karena perbedaan tersebut sangat tergantung pada tujuan perusahaan dalam program advertising.
Menurut Basu Swastha DH (2004:249) advertising dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk yaitu:
“a. Advertising barang
b. Advertising kelembagaan
c. Advertising nasional, regional dan lokal
d. Advertising pasar”
Untuk lebih jelasnya penulis akan menjelaskan mengenai macam-amcam advertising sebagai berikut:

a. Advertising barang
Dalam advertising barang pemasang iklan menyatakan kepada pasar tentang produk yang ditawarkan. Advertising barang dapat dibagi menjadi:
1) Primary demand advertising
Merupakan advertising yang mendorong permintaan untuk suatu jenis produk secara keseluruhan, tanpa menyebutkan merk ataupun produsennya.
2) Selective demand advertising
Hampir sama dengan primary demand advertising, hanya bedanya dalam selective demand advertising disebutkan merk produk yang ditawarkan.
Selain primari demand advertising dan selective demand advertising, barang juga dapat dibagi lagi menjadi :
1) Advertising langsung
Dimana penjual menginginkan adanya tanggapan yang cepat terhadap iklannya.
2) Advertising tidak langsung
Digunakan untuk mendorong permintaan dalam periode waktu yang lebih lama, yang menyatakan kepada konsumen bahwa produk tersebut ada dan menguntungkan.
b. Advertising kelembagaan
Dilakukan untuk menimbulkan rasa simpati terhadap penjual dan ditujukan untuk menciptakan goodwill kepada perusahaan. Advertising kelembagaan dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1) Petronage institusional advertising
Dalam advertising ini penjual berusaha memikat konsumen dengan menyatakan suatu motif membeli pada penjual tersebut, dan bukanya motif membeli produk tertentu.
2) Public relation institusional advertising
Advertising ini dipakai untuk membuat pengertian yang baik tentang perusahaan kepada karyawan, pemilik perusahaan kepada masyarakat umum.
3) Public service institusional advertising
Advertising ini memberikan dorongan kepada masyarakat untuk menggunakan kendaraan dengan hati-hati disini perusahaan asuransi jiwa dapat membantu.
c. Advertising nasional, regional dan lokal
Advertising ini juga dapat digolongkan menurut daerah geografis dimana kegiatan advertising dilaksanakan.
1) Advertising nasional
Merupakan advertising yang biasanya disponsori oleh produsen dengan distribusi secara nasional. Pasar yang menjadi sasaran adalah pasar nasional dan media yang digunakan adalah media yang mempunyai sirkulasi secara nasional.
2) Advertising regional
Adalah advertising yang hanya terbatas di daerah tertentu dari suatu negara. Biasanya advertising ini dilakukan oleh produsen yang mempunyai luas pasar pada skup regional.
3) Advertising lokal
Biasanya dilakukan oleh pengecer dan ditujukan kepada pasar lokal saja. Kalau advertising ini dilakukan oleh produsen lebih pada merk barangnya, sedangkan bila yang melakukan advertising pengecer maka lebih menonjolkan pada nama tokonya.
d. Advertising pasar
Penggolongan advertising yang lain adalah penggolongan yang didasarkan pada jenis atau sifat pasarnya. Oleh karena itu jenis advertising tergantung pada sasaran yang dituju, apakah konsumen, perantara atau pemakai industri.
Jenis advertising tersebut meliputi :
1) Consumer advertising
Advertising yang ditujukan kepada konsumen
2) Trade advertising
Advertising yang ditujukan kepada perantara pedagang, terutama pengecer.
3) Industrial advertising
Advertising yang ditujukan kepada pemakai industri.
4. Macam-macam Media Advertising
Adapun media advertising yang dapat digunakan menurut Alex S. Nitisemito (2003:126) adalah sebagai berikut :
“a. Radio
b. Televisi
c. Surat kabar
d. Majalah”
Penulis akan memberikan sedikit penjelasan mengenai hal di atas :
a. Radio
Dalam hal ini pemakaian alat advertising radio akan mencapai sasaran daerah yang lebih luas, karena daerah yang sulit dijangkau dapat diteroboskan dan kebanyakan radio sudah dimiliki oleh masyarakat.
b. Televisi
Dengan penyiaran yang cukup luas dan lebih efektif dalam mempengaruhi konsumen, sebab dengan televisi. Penyiaran yang berupa suara dan gambar sangat tepat untuk adanya penggunaan barang dan jasa yang sering banyak dipakai oleh umum (masyarakat).
c. Surat kabar
Jangkauannya luas sekali dan keuntungan ialah bahwa iklan yang dimuatnya dapat diulang kembali membacanya, sehingga untuk tujuan promosi tertentu.
d. Majalah
Media ini biasanya tidak terbuat setiap hari, tetapi seminggu sekali, sebulan sekali, atau dua minggu sekali dan biasanya pembaca ini adalah tertentu, misalnya : majalah wanita, majalah remaja, majalah anak-anak dan sebagainya.
Untuk menentukan alat media mana yang akan dipilih, maka beberapa faktor yang harus dipertimbangkan yaitu :
a. Siapa atau golongan mana yang akan membeli barang atau jasa yang dipromosikan.
b. Dimana daerah kediaman orang tersebut.
c. Berapa biaya yang ada untuk advertising
Berdasarkan hal tersebut di atas maka media yang dipergunakan untuk advertising tersebut misalnya :
a. Tempat mana yang sering dilewati calon pembeli, sehingga advertising yang akan dipasang selalu tampak oleh calon pembeli.
b. Berapa banyaknya jumlah yang akan dicetak di tiap-tiap media tersebut.
c. Majalah atau surat kabar apa yang umumnya dibaca di tempat calon pembeli.
5. Pemilihan Media Advertising
Apabila dalam memilih dan memakai dari beberapa alat advertising harus dapat disesuaikan dengan bentuk dari barang atau jasa yang akan dipromosikan.
Menurut Basu Swastha DH (2004:235) adalah:
a. Tujuan advertising
b. Sirkulasi media
c. Keperluan berita
d. Waktu dan lokasi dimana keputusan membeli dibuat
e. Biaya advertising
f. Kerja sama dan bantuan promosi y ang ditawarkan oleh media
g. Karakteristik media
h. Kebaikan dan keburukan media

Penulis akan memberikan sedikit penjelasan mengenai hal di atas sebagai berikut:
a. Tujuan advertising
Dari beberapa tujuan perusahaan yang ada dan terpenting adalah mengutamakan kecepatan sampainya berita kepada masyarakat atau pasar.
b. Sirkulasi media
Yang akan dipakai harus sesuai atau seluas pula distribusi produknya. Apabila distribusi produknya hanya meliputi daerah lokal saja, maka iklan yang diperlukan cukup dipasang pada media yang memiliki sirkulasi di daerah lokal tersebut.
c. Keperluan berita
Produk-produk yang diiklankan tidak saja menggunakan tulisan tetapi dapat dipadukan dengan gambar dimana hal itu tergantung dari produk tersebut.
d. Waktu dan lokasi dimana keputusan membeli dibuat
Faktor waktu dan tempat dimana keputusan membeli dibuat juga memberikan pengaruh dalam pemilihan media yang akan digunakan sering terjadi bahwa setelah seseorang melihat sebuah iklan kemudian dalam jangka waktu pendek mengambil keputusan untuk membeli. Keputusan yang diambil tidak selalu terjadi di rumah, tetapi dapat terjadi di jalan, kantor dan tempat lainnya.
e. Biaya advertising
Pertimbangan biaya dihubungkan dengan jumlah dana yang tersedia dan sirkulasi media yang digunakan. Makin luas sirkulasi media makin tinggi biaya advertisingnya.
f. Kerja sama dan bantuan promosi y ang ditawarkan oleh media
Faktor ini perlu dipertimbangkan dengan pemilihan media yang dapat memberikan kerja sama yang baik dalam pelaksanaan promosi agar dapat dicapai hasil yang optimal seperti yang diharapkan oleh perusahaan.
g. Karakteristik media
Untuk mengambil keputusan tentang media yang akan dipilih, perlu dipertimbangkan karakteristiknya. Dapat diambil contoh : radio, merupakan media yang dapat menimbulkan keinginan melalui telinga, sedangkan surat kabar dapat menimbulkan keinginan melalui mata.
h. Kebaikan dan keburukan media
Faktor lain perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media ini adalah faktor kebaikan dan keburukan dari media yang digunakan. Adapun kebaikan dan keburukan dari media yang ada dapat diambil contoh sebagai berikut:
1) Radio
Kebaikannya:
a) Biayanya relatif rendah
b) Dapat diterima oleh siapa saja
c) Dapat menjangkau daerah yang luas
Keburukannya:
a) Waktunya terbatas
b) Tidak dapat diterima atau mengemukakan suatu gambar
c) Pendengar sering kurang mendengarkan secara penuh, karena sambil melakukan pekerjaan lain.
2) Televisi
Kebaikannya :
a) Dapat dinikmati oleh siapa saja.
b) Waktu dan acara siarannya sudah tertentu
c) Dapat memberikan kombinasi antara suara dan gambar bergerak
Keburukannya :
a) Dinikmati hanya sebentar
b) Biayanya relatif tinggi
c) Kurang fleksibel
3) Surat kabar
Kebaikannya:
a) Biayanya relatif tidak mahal
b) Sangat fleksibel
c) Dapat dinikmati lebih lama
Keburukannya :
a) Mudah diabaikan
b) Cepat basi atau terbuang
4) Majalah
Kebaikannya :
a) Dapat dinikmati lebih lama
b) Pembacanya lebih efektif
c) Dapat menemukan gambar yang menarik

Keburukannya :
a) Biaya relatif tinggi
b) fleksibilitasnya rendah.
6. Sasaran Advertising
Menurut R.H.A. Rahman Prawiamidjaja (2005:45) cara mencapai sasaran yang diharapkan, maka yang perlu diperhatikan sebagai berikut :
a. Harus menimbulkan perhatian
Dalam sasaran tersebut perusahaan harus dapat menimbulkan perhatian baik secara khusus maupun umum, tetapi alangkah baiknya apabila ditujukan ke arah khusus artinya hanya kepada media yang sesuai.
b. Dapat menarik konsumen
Apabila perusahaan telah membuat papan nama atau media lainnya, selain dapat menimbulkan perhatian juga dapat menarik konsumen hal ini dapat dilakukan perusahaan dengan jalan menciptakan merk yang lebih dari produk yang sama.
c. Dapat menimbulkan keinginan
Sebenarnya menarik perhatian saja belum cukup bagi perusahaan, karena papan nama media lainnya harus dapat menimbulkan seseorang untuk membeli. Untuk usaha tersebut perusahaan harus mengetahui motif-motif konsumen dalam membeli suatu barang.
7. Syarat-syarat Pelaksanaan Advertising
Di dalam melaksanakan advertising yang baik, maka diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
Menurut Basu Swastha (2003:138), mengemukakan syarat-syuarat pelaksanaan advertising antara lain sebagai berikut :
a. Merk/cap/brand
Di dalam melaksanakan advertising guna meningkatkan volume penjualan harus dapat menciptakan merk atau cap untuk menimbulkan loyalitas, kepercayaan dan kemantapan serta kebanggaan terhadap barang yang dibelinya, sehingga advertising yang dilakukan akan mencapai yang dikehendaki.
b. Kualitas
Agar perusahaan dapat mencapai omzet penjualan maka dalam memproduksi barang harus memperhatikan mutu barang yang dipasarkan. Untuk itulah pentingnya menjaga mutu barang atau jasa yang akan dijual agar kepercayaan dari masyarakat tidak berkurang terhadap barang atau jasa yang dijual.
c. Harga
Persyaratan ini dalam kegiatan penjualan harus benar-benar diperhatikan karena apabila harga yang ditetapkan terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan mutu barang yang dijual maka akan mengecewakan konsumen, untuk itu perusahaan harus dapat menetapkan keadaan barang yang ditawarkan.
d. Modal
Untuk melakukan advertising diperlukan modal atau dana yang memadai, hal ini berarti sebelum melaksanakan kegiatan tersebut perusahaan untuk mempertimbangkan modal yang tersedia pada perusahaan untuk mengembangkan perusahaan.

8. Langkah-langkah Dalam Penyusunan Advertising
Penyusunan advertising yang efektif adalah advertising yang dilaksanakan melalui media yang tepat, dan ditujukani kepada masyarakat dengan berita yang tepat dan waktu yang tepat pula.
Menurut R.H.A. Rahman Prawiraamidjaja (2005:41) mengemukakan sebagai berikut :
a. Pemilihan headle yang menarik
Yang dimaksud headle adalah nama dari perusahaan yang diiklankan dipakai sebagai pemikat, tetapi hal tersebut belum tentu menarik apra konsumen yang membaca. maka usahakan judul advertising bisa merebut perhatian pembaca dan menciptakan keinginan untuk membeli serta dapat merangsang rasa ingin tahu setiap pembaca advertising.
b. Pemilihan ilustrasi yang menarik
Sebelum menentukan kata-kata yang menarik pada advertising, terlebih dahulu membuat gambar yang menarik, karena ilustrasi masalah yang pokok dalam advertising perdagangan.
c. Pemilihan lay out yang baik
Besarnya advertising harus tergantung pada maksud, dimana salah satu kota yang berbeda, menggunakan iklan sedang di lain kota tidak menggunakan iklan.
d. Pemilihan gambar yang tepat
Advertising dengan menggunakan gambar akan lebih cepat memberikan perhatian pembaca, karena gambar dapat menceritakan kepada konsumen tentang produk yang diiklankan dari pada banyak kota-kota yang berkepanjangan sehingga konsumen malas untuk membacanya.
e. Pemilihan warna yang sesuai
Warna yang menarik adalah faktor yang sagat penting, oleh karena itu warna yang digunakan pada gambar advertising harus menyolok dan dipilih warna-warna yang dapat menambah atau menghidupkan gambar pada advertising tersebut.

9. Penyusunan Anggaran Advertising
Ada empat metode dalam menentukan jumlah pengeluaran untuk advertising harus dilakukan oleh perusahaan tiap tahun.
Menurut Siswanto Soetojo (2001:1920) adalah sebagai berikut:
a. Prosentase hasil penjualan
Setelah ditentukan hasil penjualan produk yang direncanakan untuk satu periode tertentu, maka jumlah anggaran periklanan dapat diperhitungkan sebesar prosentase tertentu dari hasil penjualan produk tertentu.
b. Anggaran periklanan produk atau perusahaan pesaing
Cara kedua untuk menentukan dana periklanan produk adalah dengan jalan mempergunakan jumlah anggaran periklanan produksi pesaing.
c. Jumlah dana yang tersedia
Adakalanya terjadi dana periklanan yang dapat disediakan oleh suatu perusahaan tertentu tidak begitu besar, sehingga dalam keadaan begitu tidak ada pilihan kecuali harus menggunakan dana tersebut.
d. Tujuan periklanan sebagai pedoman penyusunan anggaran
Agar anggaran yang disusun dapat tepat jumlahnya maka tujuan yang ingin dicapai oleh kegiatan periklanan harus diformulasikan secara jelas dan kongkrit.


10. Cara Menilai Advertising
Meskipun dalam pemilihan media advertising sudah memperhitungkan banyak faktor, tetapi sangatlah sukar mengukur efektivitas suatu advertising yang dijalankan perusahaan.
Namun dalam pihak efektivitas advertising perlu ditingkatkan dan juga perlu dicari penilaian efektivitas advertising yang lebih baik.
Menurut basu Swastha DH (2004:257) metode yang dapat digunakan yatiu:
a. Inquiry test
Test yang dilakukan dengan meminta tanggapan atau keterangan-keterangan secara langsung kepada pendengar atau pembaca tetnang barang-barang yang diadvertisingkan
b. Recognization test
Yaitu test memberikan gambar atau melalui media tertentu dengan tidak menyebutkan nama perusahaan kepada sejumlah masyarakat dan meminta keterangan apapun yang pernah dilihat atau diketahui sebelumnya.
c. Sales result test
Yaitu tes yang dilakukan dengan membandingkan hasil penjualan di beberapa kota atau daerah yang salah satu diantara kota atau daerah tersebut menggunakan advertising dan yang lainnya tidak menggunakan advertising sama sekali. Setelah diketauhi hasilnya maka pihak perusahaan akan mengevaluasi mana yang seharusnya dilaksanakan.


E. Hubungan Advertising Terhadap Volume Penjualan
Kegiatan advertising yang dilakukan perusahaan mempunyai beberapa tujuan, diantaranya adalah meningkatkan volume penjualan. Sesuai dengan pengertian advertising dimuka, dimana advertising merupakan kegiatan usaha untuk membujuk atau mempengaruhi calon pembeli agar mau membeli barang yang diadvertisingkan tersebut, dengan kata lain advertising untuk meningkatkan volume penjualan.

Advertising didefinisikan menurut Alex S. Nitisemito (2004:129) : “Advertisingkan adalah salah satu kegiatan dalam marketing yang bertujuan meningkatkan volume penjualan, dengan mempengaruhi konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung”.
Dalam hal ini jelas kegiatan advertising sangat memegang peranan dalam usaha meningkatkan volume penjualan.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Definisi Operasional Variabel
1. Advertising
Advertising adalah salah satu jenis promosi yang merupakan indikator non individual tidak langsung dan indikator pengukurannya dilakukan dengan menghitung jumlah biaya yang digunakan dalam penggunaan berbagai media, seperti : surat kabar, majalah, radio, televisi dan lain-lain yang dilakukan oleh perusahaan setiap tahun dalam satuan Rp./tahun dari tahun 2005-2009.
2. Volume Penjualan
Volume penjualan adalah jumlah produk yang dijual dalam suatu periode tahunan. Pengukuran dilakukan dalam satuan Rp/tahun dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.

B. Ruang Lingkup Penelitian
Supaya pembahasan dapat lebih terarah dan jelas, serta untuk menghindari tanggapan yang meluas dari pembahasan maka sengaja diberikan suatu batasan :
1. Pembahasan hanya terbatas pada bidang pemasaran, khususnya mengenai advertising dalam rangka meningkatkan volume penjualan pada perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk.
2. Pembahasan yang berorientasi pada tujuan jangka pendek.
3. Pembahasan hanya berorientasi dikhususkan pada masalah intern.
C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yaitu : pabrik rokok “Kebayak” yang beralamatkan di Jalan Yos Sudarso No. 16, Nganjuk.

D. Jenis Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Data tersebut akan menjadi data sekunder kalau digunakan oleh orang yang tidak berhubungan dengan penelitian yang bersangkutan. Data ini bisa diperoleh dari hasil wawancara.
Contoh : struktur organisasi, data penjualan perusahaan, jumlah karyawan.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang tidak diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. Jadi data sekunder berasal dari tangan kedua, ketiga dan seterusnya. Artinya melewati satu pihak/lebih yang bukan peneliti. Karena itu perlu adanya pemeriksaan penelitian. Bukan berarti bahwa data sekunder kurang bermutu dibandingkan dengan data primer, bahkan kalau mungkin data sekunder dicari lebih dahulu barangkali ada yang cocok dengan penelitian. Dengan demikian akan menghemat biaya, waktu dan tenaga.
Misalnya : koran, buku-buku perpustakaan, dokumen, arsip dan surat-surat penting perusahaan mengenai aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.


E. Teknik Pengumpulan Data
Studi lapangan
Penulis mengadakan peninjauan secara langsung ke perusahaan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan cara :
1. Observasi
Penulis mengadakan pengawasan secara langsung ke obyek penelitian
2. Wawancara
Dalam hal ini penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan beberapa staf perusahaan.
3. Dokumentasi
Cara ini dilakukan dengan mempelajari dan mencatat data dari dokumen yang ada dari obyek penelitian untuk kemudian dihimpun, diolah dan dianalisa guna pembahasan lebih lanjut.

F. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul sesuai dengan kebutuhan maka langkah selanjutnya adalah melakukan penganalisaan terhadap hal-hal yang menimbulkan masalah baik kualitatif maupun kuantitatif.
1. Analisa Kualitatif
Yaitu penulis akan menganalisa menyangkut program pemasaran penjualan advertising dan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
2. Analisa Kuantitatif
Yaitu menganalisa dengan menggunakan rumus-rumus atau teknikk-teknik statistik perusahaan.

Adapun rumus yang digunakan:
a. Analisa regresi
Tujuan untuk menguji pengaruh dan meramalkan volume penjualan yang akan datang, bila telah diketahui biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan advertising, dipergunakan persamaan regresi:
Y = a + bx
b =
a =
Dimana:
Y = Penjualan
X = Biaya advertising
n = Banyaknya data
a = Konstanta
b = Koefisien regresi linier sederhana
b. Analisis korelasi
Yaitu untuk mengetahui hubungan antara biaya advertising dengan penjualan, yang rumusnya adalah sebagai berikut :
r =
Keterangan :
r = koefisien korelasi
n = jumlah tahun
y = hasil penjualan
x = biaya promosi penjualan
Batasan-batasan r adalah :
r = 1 atau mendekati 1, dikatakan hubungan sangat kuat dan searah
r = -1 atau mendekati -1, dikatakan hubungan sangat kuat dan berlawanan.
r = 0 atau mendekati 0, dikatakan tidak ada hubungan sama sekali.
Dalam hal ini tanda (+) dan (-) pada koefisien korelasi memiliki arti tersendiri bila r positif, maka korelasi antara 2 variabelnya bersifat searah. Bila r = negatif, maka korelasi antara kedua variabelnya bersifat tidak searah.
c. Uji t Korelasi
Analisa ini digunakan untuk mengetahui pengaruh parsial antara advertising dengan volume penjualan, menurut Anton Dajan dapat dirumuskan sebagai berikut:
t =
Keterangan :
n = jumlah data
r = koefisien korelasi
r² = koefisien determinasi
Dalam hal ini menggunakan taraf keyakinan sebesar 0,05.

Dengan kesimpulan:
Ho ; A = 0, maka Ho ditolak yang berarti x dan y tidak saling mempengaruhi / berhubungan (t-hitung < t-tabel) Ho ; A  0, maka Hi diterima yang berarti x dan y saling berhubungan / mempengaruhi (t-hitung > t-tabel)).


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari uraian bab-bab terdahulu dapat dibuat suatu kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk menghadapi masalah dibidang pemasaran yaitu kurang efektifnya pelaksanaan advertising yang ada di perusahaan yang disebabkan terbatasnya media advertising yang ada di perusahaan yang disebabkan terbatasnya media adertising yang digunakan dan pelaksanaannya yang tidak kontinyu, sehingga volume penjualan menurun. Setiap perusahaan selalu membutuhkan kegiatan advertising, maka dari itu perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk harus melaksanakan advertising dengan baik agar kontinyuitas perusahaan bisa berjalan dengan lancar.
2. Dari analisa korelasi dapat disimpulkan bahwa antara biaya advertising dan penjualan mempunyai hubungan yang kuat dan positif. Artinya apabila perusahaan meningkatkan biaya advertising maka dapat meningkatkan penjualan. Dengan melaksanakan kegiatan advertising yang efektif maka produk perusahaan akan lebih dikenal masyarakat atau konsumen yang luas dan dapat mempengaruhi untuk membeli produk tersebut sehingga tujuan perusahaan akan tercapai.

3. Dari pembahasan masalah dapat diketahui bahwa pelaksanaan adertising yang efektif yaitu menggunakan media radio dan kalender dengan biaya Rp. 241.600.000 akan dapat meningkatkan penjualan pada tahun 2008 sebesar Rp. 1.144.094.500 menjadi Rp. 3.686.095.000 pada tahun 2009.

B. Saran-saran
Sehubungan dengan hal-hal yang telah penulis kemukakan di atas, maka disini penulis akan memberikan sedikit saran yang sekiranya dapat bermanfaat bagi perusahaan dan mendukung pemecahan masalah serta untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu:
1. Perusahaan hendaknya membina hubungan dan kerja sama yang baik dengan para konsumen agar nama perusahaan dapat tetap terjaga.
2. Perusahaan hendaknya dapat meningkatkan kualitas periode yang dihasilkan agar dapat menarik konsumen.
3. Perusahaan hendaknya lebih memperhatikan faktor informasi yang berkaitan dengan pasar, keinginan konsumen, daya beli, dan faktor ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia.
4. Perusahaan hendaknya tetap memelihara hubungan kerja yang baik antara pimpinan perusahaan dengan karyawannya, dengan demikian akan tercipta suasana yang dapat meningkatkan gairah kerja karyawan.
Demikian kesimpulan dan saran-saran yang dapat penulis kemukakan, diharapkan dengan mengambil langkah-langkah yang telah diuraikan di atas serta saran-saran yang penulis ketengahkan, maka masalah yang dihadapi perusahaan akan terpecahkan dan tujuan perusahaan rokok “Kebayak” Nganjuk akan tercapai.

judul skripsi

Pengaruh Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Menengah Umum di Bandung Pendidikan Matematika

Efektivitas model konstruktivis dalam pembelajaran matematika pada siswa SMU Pendidikan Matematika

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERSTRUKTUR DALAM UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS MATEMATIK SISWA SMP Pendidikan Matematika

PEMODELAN SPACE TIME AUTOREGRESSIVE MOVING AVERAGE (STARMA) Pendidikan Matematika

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA (Suatu Penelitian Terhadap Siswa Kelas X di SMA Negeri 6Bandung) Pendidikan Matematika

MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENTS (TGT) (Penelitian Terhadap Siswa MAN 1 Bandung Kelas X Tahun Ajaran 2004-2005) Pendidikan Matematika

TEKNIK PROBING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMP (Suatu Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa SMP Negeri 1 Margahayu Kelas VIII?I Semester 1 Tahun Ajaran 2006/2007 di KabupatenBandung) Pendidikan Matematika

Suatu pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan penalaran analogi matematika : studi eksperimen pada Madrasah Aliyah Negeri Kodya Bandar Lampung Pendidikan Matematika

ALJABAR OPERATOR PADA MEKANIKA KUANTUM DAN APLIKASINYA PADA PARTIKEL DALAM KISI SATU DIMENSI Matematika

UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS MATEMATIK SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY INTELLECTUALY REPETITION (AIR) (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa Kelas II SMKN 12 Bandung pada Pokok Bahasan Geometri Dimensi Dua) Pendidikan Matematika

PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL RECIPROCAL TEACHING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIKA SISWA SMP (Studi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 12Bandung) Pendidikan Matematika

PENERAPAN METODE IMPROVE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa Kelas IXH di SMPN 26Bandung)
1.STRATEGI HEURISTIC MODEL POLYA PADA PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA

2.Model pembelajaran matematika bernuansa bimbingan di sekolah lanjutan tingkat pertama : studi eksperimen di SLTP Kabupaten Karawang

3.Peningkatan Proses Dan Hasil Belajar Bidang Studi Matematika Melalui Model Pencapaian Konsep Di Sekolah Dasar : Penelitian Tindakan Di Kelas IV SDN Sukamulya II Kecamatan/Kabupaten Purwakarta)

4.Mengembangkan Kemampuan Pemahaman dan Kemampuan Penalaran Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama melalui Pembelajaran Berbasis Masalah yang Menekankan pada Representasi Matematik.

5.Kemampuan pemahaman matematika sistem SMA dikaitkan dengan kemampuan penalaran logik siswa dan beberapa unsur proses belajar mengajar, studi deskriptif analitis terhadap siswa SMA Negeri dari tujuh Kota di Jawa Barat

6.Pengaruh pembelajaran pola-pola visual dalam rangka peningkatan kemampuan mengelesaikan masalah-masalah matematika, eksperimen pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika di Kalimantan Barat

7.Menumbuhkembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi matematik siswa SMU melalui Strategi Thing-Talk-Write, studi eksperimen pada siswa kelas I SMUN di Kota Bandung,
Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah matematika siswa SLTP Negeri di Bandung melalui pendekatan pengajuan masalah

8.Kemampuan penalaran dan pemahaman matematika siswa kelas 3 SLTP Negeri di Kota Bandung
Pengaruh pembelajaran matematika kontekstual terhadap hasil belajar dan sikap siswa sekolah dasar kelas awal dalam matematika

9.HUBUNGAN PEMAHAMAN DIFERENSIAL DAN INTEGRAL TERHADAP PEMAHAMAN TEORI MEDAN I PADA MAHASISWA JPTE FPTK UPI

10.Meningkatkan kemampuan penalaran dan pemahaman matematika siswa sekolah lanjutan tingkat pertama melalui pendekatan pembelajaran open-ended, studi eksperimen pada siswa sekolah lanjutan pertama negeri di Kota Bandung
DIAGONALISASI BENTUK KUADRAT SERTA PENERAPANNYA DALAM MENENTUKAN PERMUKAAN KUADRIK (QUADRIC SURFACE) By: Sri Rahayuningsih (98320078)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-11 , with 2 file(s).


Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-13 04:23:00
STUDI DESKRIPTIF TENTANG TATA LETAK GEDUNGKAMPUS III UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG (KAJIAN SECARA TEORI GRAPH) By: ROUDATUL HASANAH (98320073)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-11 , with 1 file(s).


Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-13 09:37:00
HUBUNGAN KEMAMPUAN DALAM MENGGAMBAR DENGAN PENGUASAAN TRIGONOMETRI By: Netty Febrianingdyah (98320052)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-11 , with 1 file(s).


Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-14 10:08:00

ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL RUMUS-RUMUS SEGITIGA DALAM TRIGONOMETRI By: Ulfah Nurhidayati (98320036)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-12 , with 1 file(s).


Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-24 05:41:00

KAJIAN PENGAJARAN GEOMETRI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA LUAR BIASA (TUNA RUNGU) DI PARE KEDIRI By: SITI CHOTIMAH (97320016)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-22 , with 1 file(s).


Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-21 08:55:00

MODEL ANTRIAN UNTUK SINGLE CHANNEL-SINGLE PHASE By: Fitria Siswatinningrum (98320083)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-11-19 , with 2 file(s).


Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2003-01-13 11:42:00

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA(Studi kasus pada siswa kelas II Jurusan Tata Busana SMK Kartika V-I Malang) By: LILIS NUR HIDAYAH(98320041)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2003-03-13 , with 1 file(s).


Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2003-01-27 08:29:00

PENGARUH PENGUASAAN KONSEP dan KETERAMPILAN terhadapKEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL-SOAL APLIKASI pada BIDANG STUDI MATEMATIKA(Studi Kasus Siswa Kelas I SLTP Muhammadiyah I Malang Tahun Ajaran 2001/ 2002) By: MAMIK SETYANINGSIH(98320020)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2003-03-27 , with 1 file(s).

Dasar-dasar Strategi Belajar-Mengajar

Dasar-dasar Strategi Belajar-Mengajar
1. Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar
Yang dimaksud dengan strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya yang berjudul Strategy Policy and Central Management(1971 : 8), strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup keempat hal sbb :

  • Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha itu yang sesuai dengan aspirasi dan selera masyarakat.
  • Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama manakah yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran tersebut.
  • Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah apa saja yang akan ditempuh untuk mencapai sasaran tersebut.
  • Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria dan patokan ukuran yang harus dipergunakan untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan usaha tersebut.

2. Menetapkan Sasaran Kegiatan Belajar-Mengajar dalam Rangka Mengidentifikasi Entering Behavior Siswa

  • Sasaran-Sasaran Kegiatan Belajar-Mengajar

Setiap kegiatan belajar mengajar pasti mempunyai tujuan tertentu. Tujuan tersebut bertahap dan berjenjang mulai dari sangat operasional dan konkret sampai yang bersifat universal. Tujuan itu pada akhirnya harus diterjemahkan dalam ciri-ciri / sifat-sifat wujud perilaku dan pribadi dari manusia yang dicita-citakan. Sistem pendidikan harus melahirkan para warga Negara yang memiliki empat kemampuan, kecakapan dan sifat utama, yaitu :

  • Self realization, maksudnya manusia harus mampu mewujudkan dan mengembangkan bakat-bakatnya seoptimal mungkin.
  • Human relationship ( hubungan antarinsan )
  • Economic efficiency (efisiensi ekonomi
  • Civil responsibility, manusia harus memiliki tanggung jawab sebagai warga Negara.

b. Entering Behavior Siswa
Meskipun terdapat keragaman dari berbagai paham dan teori tentang makna perbuatan belajar, namun teori manapun pada akhirnya cenderung untuk sampai pada konsensus bahwa hasil perbuatan belajar itu dimanifestasikan dalam perubahan perilaku dan pribadi baik secara material-substansial, struktural-fungsional, maupun secara behavioral. Tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya pada saat akan memasuki kegiatan belajar mengajar inilah yang dimaksudkan dengan Entering Behavior. Entering Behavior ini akan dapat kita identifikasikan dengan berbagai cara, antara lain :

  • Secara tradisional, lazimnya para guru memulai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai bahan-bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
  • secara inovatif, guru-guru sudah mulai mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan cara melakukan pre-test sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.

Dengan mengetahui gambaran tentang entering behavior, siswa akan memberikan banyak sekali bantuan kepada guru, antara lain :

  • Untuk mengetahui seberapa jauh kesamaan individual antarsiswa dalam taraf kesiapannya, kematangannya, serta tingkat penguasaan dari pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai landasan bahan baru.
  • Dengan mengetahui disposisi perilaku siswa tersebut, guru akan dapat mempertimbangkan dan memilih bahan, metode, teknik, dan alat bantu belajar mengajar yang sesuai.
  • Dengan membandingkan nilai hasil pre-test dengan nilai hasil akhir, guru akan memperoleh indikator yang menunjukkan seberapa banyak perubahan perilaku yang terjadi pada siswa.

Mengingat hakikat perubahan perilaku itu dapat berupa penambahan, peningkatan hal-hal baru terhadap hal lama yang telah dikuasai, atau bahkan berupa pengurangan terhadap perilaku lama yang tidak diinginkan (merokok, mencontek, dsb) , maka sekurang-kurangnya ada tiga dimensi dari entering behavior itu yang perlu diketahui guru adalah :

  • Batas-batas cangkupan ruang lingkup materi pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai siswa.
  • Tingkatan dan urutan tahapan materi pengetahuan, terutama kawasan pola-pola sambutan atau kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang telah dicapai dan dikuasai siswa.
  • Kesiapan dan kematangan fungsi-fungsi psikomorik, proses-proses kognitif, pengalaman, mengingat, berpikir, afektif, emosional, motivasi, dan kebiasaan.

Sebelum merencanakan dan melaksanakan kegiatan mengajar, guru harus dapat menjawab pertanyaan :

  1. Sejauh mana batas-batas materi pengetahuan yang telah dikuasai dan diketahui oleh siswa yang akan diajar.
  2. Tingkat dan tahap serta jenis kemamupuan manakah yang telah dicapai dan dikuasai siswa yang bersangkutan.
  3. Apakah siswa sudah cukup siap dan matang untuk menerima bahan dan pola-pola perilaku yang akan diajarkan.
  4. Seberapa jauh motivasi dan minat belajar yang dimiliki oleh siswa sebelum belajar dimulai.

3. Pola-pola Belajar Siswa
a. Mengidentifikasi pola-pola belajar siswa
Gagne (Lefrancois 1975:114-120) mengkategorikan pola-pola belajar siswa ke dalam 8 tipe dimana yang satu merupakan prasyarat bagi yang lainnya/yang lebih tinggi hierarkinya. Kedelapan tipe belajar itu ialah:
• Tipe I:Signal Learning (belajar signal atau tanda, isyarat)
Tipe belajar ini menduduki tahapan hierarki (yang paling dasar). Signal learning dapat didefinisikan sebagai proses penguasaan pola dasar perilaku yang bersifat involunter (tidak disengaja dan didasari tujuannya). Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini ialah diberikan stimulus secara serempak perangsang-perangsang tertentu dengan berulang-ulang.
• Tipe II:Stimulus-Respons Learning (belajar stimulus-respons, sambut rangsang)
Tipe belajar II ini termasuk ke dalam operant or instrumental condition (Kible,1961) atau belajar dengan trial and error (Thorndike). Kondisi yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya tipe belajar ini ialah faktor reinforcement.
• Tipe III:Chaining (mempertautkan) dan tipe IV:Verbal Association (asosiasi verbal)
Kedua tipe belajar ini setaraf, ialah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lainnya. Tipe III berkenaan dengan aspek-aspek perilau psikomotorik dan tipe IV berkenaan dengan aspek-aspek belajar verbal. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya proses belajar ini antara lain secara internal terdapat pada diri siswa harus sudah terkuasai sejumlah satuan-satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Di samping itu, prinsip contiguity, repetition, dan reinforcement masih tetap memegang peranan penting bagi berlangsungnya proses chaining dan association tersebut.
• Tipe V:Discrimination Learning (belajar mengadakan perbedaan)
Dalam tahap belajar ini, siswa mengadakan diskriminasi (seleksi dan pengujian) di antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya kemudian memilih pola-pola sambutan yang dipandangnya paling sesuai. Kondisi yang utama untuk dapat berlangsungnya proses belajar ini ialah siswa telah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta memiliki kekayaan pengalaman (pola-pola satuan S-R)
• Tipe VI:Concept Learning (belajar konsep, pengertian)
Berdasarkan pesamaan cirri-ciri adari sekumpulan stimulus dan juga objek-objeknya ia membentuk suatu pengertian atau konsep-konsep. Kondisi utama yang diperlukan bagi proses berlangsungnya belajar tipe ini ialah terkuasainya kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
• Tipe VII:Rule Learning (belajar membuat generalisasi, hukum-hukum)
Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi dari berbagai konsep (pengertian) dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal sehingga siswa dapat membuat konklusi tertentu.
• Tipe VIII:Problem Solving (belajar memecahkan masalah)
Pada tingkat ini siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah (memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik) dengan menggunakan berbagai rule yang telah dikuasainya. Menurut John Dewey (Loree,1970:438-439) dalam bukunya How We Think, proses belajar pemecahan masalah itu berlangsung sebagai berikut:
ü Become aware of the problem (menyadari adanya masalah)
ü Clarifying and defining the problem (menegaskan dan merumuskan masalahnya)
ü Searching for facts and formulating hypotheses (mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis)
ü Evaluating proposed solution (mengevaluasi alternatif pemecahan yang dikembangkan)
ü Experimental verification (mengadakan pengujian atau verifikasi secara eksperimental, uji coba)
b. Memilih system belajar mengajar (pengajaran)
Dewasa ini, para ahli teori belajar telah mencoba mengambarkan cara pendekatan atau system pengajaran atau proses belajar-mengajar. Diantara berbagai system pengajaran yang banyak menarik perhatian orang akhir-akhir ini ialah:
• Enquiry-Discovery Learning (belajar mencari dan menemukan sendiri)
Dalam system belajar-mengajar ini, guru menyajikan bahan pelajaran yang tidak dalam bentuknya yang final. Siswalah yang diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukannnya sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedurnya yaitu stimulasi-perumusan masalah-pengumpulan data-analisis data-verifikasi-generalisasi.
System belajar-mengajar ini dikembangkan oleh Bruner (Lefrancois,1975:121-126). Pendekatan belajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Kelemahannya, antara lain memakan waktu yang banyak dan kalau kurang terpimpin dan terarah, dapat menjurus kepada kekaburan atau materi yang dipelajarinya.
• Expository Learning
Dalam sistem ini, guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik, dan lengkap sehingg asiswa tingal menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib. Secara garis besar prosedurnya ialah periapan-petautan-penyajian-evaluasi. Ausubel berpendapat bahwa pada tingkat-tingkat belajar yang lebih tinggi, siswa tidak selau harus mengalami sendiri. Siswa akan mampu dan lebih efisien memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Yang penting siswa dikembangkan penguasaannya atas kerangka konsep-konsep dasar atau pla-pola pengertian dasar tentang sesuatu hal sehingga dapat mengorganisasikan data, informasi, dan pengalaman yang bertalian dengan hal tersebut.
• Mastery learning (belajar tuntas)
Proses belajar yang berorientasi pada prinsip mastery learning ini harus dimulai dengan penguasaan bagian terkecil untuk kemudian baru dapat melanjutkan ke dalam satuan (modul) atau unit berikutnya. Atas dasar itu maka dewasa ini telah dikembangkan system pengajaran berprogram dan juga system pengajaran modul, bahkan Computer Assisted Instruction (CAI). Dengan tercapainya tingkat penguasaan hasil pelajaran yang tinggi, maka akan menunjukkan sikap mental yang sehat pada siswa yang bersangkutan.
• Humanistic Education
Teori belajar ini menitikberatkan pada upaya membantu siswa agar ia sanggup mencapai perwujudan diri (self realization) sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya. Karakteristik utama metode ini, antara lain bahwa guru hendaknya tidak membuat jarak yang tidak terlalu tajam dengan siswa. Sasaran akhir dari proses belajar mengajar menurut paham ini ialah self actualization yang seoptimal mungkin dari setiap siswa.
c. Pengorganisasian satuan kelompok belajar siswa
Gage dan Barliner (1975:447-450), juga Norman MacKenzie dan rekan-rekannya (UNESCO,1972:126) menyarankan pengorganisasian kelompok belajar siswa ke dalam susunan sebagai berikut:
• N=1. Pada situasi ekstrem, kelompok belajar mungkin hanya terdiri atas seorang siswa atau seorang siswa bekerja individual saja.metode belajarnya bisa disebut dengan tutorial, pengajaran berprogram, studi individual, atau independent study,
• N=2-20. Kelompok belajar kecil, mungkin terdiri atas 2 sampai 20 siswa. Mtode belajar seperti ini biasanya disebut dengan metode diskusi atau seminar.
• N=2-40. Kelompok besar mungkin berkisar antar 20-40 siswa. Metode ini disebut metode belajar mengajar kelas. Metodenya mungkin bervariasi, sesuai dengan kesenangan dan kemampuan guru unuk mengelolanya.
• N=40 lebih besar atau ukuran kelompok melebihi 40 orang. Metode belajar-mengajar lazim disebut (ceramah) atau the lecture.
4. Beberapa metode dan Teknik Mengajar
Sejak ratusan tahun yang lalu, orang telah mengembangkan berbagai metode dan teknik mengajar untuk dapat membantu siswa dalam proses menerima materi pelajaran.
Menurut Joice dan Weil (Gage and Barliner, 1975:444-447) telah mengelompokkan model-model belajar ke dalam empat orientasi, yaitu :
(1) information processing orientation
(2) social-interaction orientation
(3) person orientation
(4) behavior-modification orientation
Beberapa metode mengajar yang banyak digunakan oleh para guru antara lain:
(1) Metode Ceramah
Ceramah atau kuliah merupakan metode belajar tradisional dimana bahan disajikan oleh guru secara monologue sehingga pembicaraan lebih bersifat satu arah. Peran guru lebih banyak dalam hal keaktifannya untuk memberikan materi pelajaran, sementara siswa mendengarkan dengan teliti serta mencatat yang pokok-pokok dari pernyataan yang dikemukakan oleh guru.
(2) Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan cara lain dalam belajar-mengajar dimana guru dan siswa, bahkan antarsiswa terlibat dalam suatu proses interaksi secara aktif dan timbal balik dari dua arah.
5. Menetapkan Strategi Evaluasi Belajar Mengajar
Tujuan akhir dari tindakan evaluasi, serta bagaimana mengembangkan dan memilih instrumennya yang memenuhi syarat telah kita bahas dalam unit-unit terdahulu. Yang menjadi persoalan sekarang, kapan pengukuran dan evaluasi itu dilakukan, serta bagaimana menafsirkan hasilnya bagi pengambilan keputusan dan tindak lanjutnya.
a. Beberapa Model Desain Pelaksanaan Evaluasi Belajar
Berdasarkan maksud atau fungsinya, terdapat beberapa model desain pelaksanaan evaluasi belajar-mengajar. Di antaranya ialah evaluasi; sumatif, formatif, refleksi, dan kombinasi dari ketiganya.
Evaluasi sumatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan setelah berakhirnya kegiatan belajar-mengajar, atau sering juga kita kenal dengan istilah lain, yaitu post test. Pola evaluasi ini dilakukan kalau kita hanya bermaksud mengetahui tahap perkembangan terakhir dari tingkat pengetahuan atau penguasaan belajar (mastery learning) yang telah dicapai oleh siswa. Asumsi yang mendasarinya ialah bahwa hasl belajar itu merupakan totalitas sejak awal sampai akhir, sehingga hasil akhir itu dapat kita asumsikan dengan hasil. Hasil penilaian ini merupakan indikator mengenai taraf keberhasilan proses belajar-mengajar tersebut. Atas dasar itu, kita dapat menentukan apakah dapat dilanjutkan kepada program baru atau harus diadakan pelajaran ulangan seperlunya.
Evaluasi formatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan selama masih berjalannya proses kegiatan belajar-mengajar. Mungkin kita baru menyelesaikan bagian-bagian atau unit-unit tertentu dari keseluruhan program atau bahan yang harus diselesaikan. Tujuannya ialah apabila kita menghendaki umpan-balik yang secara (immediate feedback), kelemahan-kelemahan dari proses belajar itu dapat segera diperbaiki sebelum terlanjur dengan kegiatan lebih lanjut yang mungkin akan lebih merugikan, baik bagi siswa maupun bagi guru sendiri. Bila dibiarkan kesalahan akan berlarut-larut. Dengan kata lain, evaluasi formatif ini lebih bersifat diagnostik untuk keperluan penyembuhan kesulitan-kesulitan atau kelemahan belajar-mengajar (remedial teaching and learning), sedangkan reevaluasi sumatif (EBTA) biasanya lebih berfungsi informatif bagi keperluan pengambilan keputusan, seperti penentuan nilai (grading), dan kelulusan.
Evaluasi reflektif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan sebelum proses belajar-menagjar dilakukan atau sering kita kenal dengan sebutan pre-test. Sasaran utama dari evaluasi reflektif ini ialah untuk mendapatkan indikator atau informasi awal tentang kesiapan (readliness) siswa dan disposisi (keadaan taraf penguasaan) bahan atau pola-pola perilaku siswa sebagai dasar penyusunan rencana kegiatan belajar-menagjar dan peramalan tingkat keberhasilan yang mungkin dapat dicapainya setelah menjalani proses belajar-menagjar nantinya. Jadi, evaluasi reflektif lebih bersifat prediktif.
Pengguanaan teknik pelaksanaan evaluasi itu secara kombinasi dapat dan sering juga dilakukan terutama antara reflektif dan sumatif atau model pre-post test design. Tujuan penggunaan model dilaksanakan evaluasi ini ialah apabila kita ingin mengetahui taraf keefektivan proses belajar-mengajar yang bersangkutan. Dengan cara demikian, kita akan mungkin mendeteksi seberapa jauh konstribusi dari komponen-komponen yang terlibat dalam proses belajar-mengajar tersebut. Sudah barang tentu model ini pun lebih bersifat diagnostik, tetapi lebih komprehensif.
b. Beberapa Cara untuk Menginterprestasikan Hasil Penilaian
Untuk dapat menafsirkan hasil penilaian dari evaluasi yang dilaksanakan, kita perlu patokan atau ukuran baku atau norma. Dalam evaluasi, kita mengenal dua norma yang lazim dipergunakan untuk menumbang taraf keberhasilan belajar-menagjar, yaitu apa yang disebut (1) criterion referenced dan (2) norm referenced, seperti telah disinggung di atas.
Criterion referenced evaluation ( PAP = Penilaian Acuan Patokan ) merupakan cara mempertimbangkan taraf keberhasilan siswa dengan memperbandingkan prestasi yang dicapainya dengan kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu (preestabilished criterion).
Norm referenced evaluation ( PAN = Penilaian Acua Norma) merupakan cara memertimbangkan taraf keberhasilan belajar siswa, dengan jalan memperbandingkan prestasi individual siswa dengan rata-rata prestasi temannya, lazimnya kelompoknya.
Atas dasar kedua norma itulah seseorang dinyatakan lulus atau tidak lulus, atau berhasil atau tidak berhasil (pass-fail). Norma kelulusan itu biasanya disebut batas lulus (passing grade).
Dalam criterion referenced evaluation ( PAP ) angka batas lulus itu lazimnya dipergunakan angka nilai 6 dalam skala 10 atau 60 dalam skala 100, atau 2+ slaam skala -4, atau C dalam skala A-E. adapaun filosofi yang melandasi sistem penilaian ini ialah teory mastery learning, dimana seseorang dapat dianggap memenuhi syarat kecakapannya (qualified) kalau menguasai minimal 60% dari hasil yang diharapkan. Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia persayaratan ini dikenakan terutama terhadap mata pelajaran dasar yang penting yaitu PMP, agama, bahasa Indonesia dan sebaginya, yang berarti bahwa sistem pendidikan di Indonesia sangat mengutamakan pembinaan warga negara yang baik, beragama dan berdasarkan kebudayaan bangsanya.
Dalam norm referenced evaluation ( PAN ), norma itu dapat dipergunakan dengan berbagai cara, misalnya (1) ukuran rata-rata prestasi kelompoknya, (2) ukuran penyebaran nilai prestasi kelasnya, dan (3) ukuran penyimpangan dari ukuran rata-rata prestasi kelompoknya (mean,range, and standard deviation).

PENGERTIAN STRATEGI, METODE DAN TEKNIK BELAJAR MENGAJAR
Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad)
Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dan metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh berikut:
Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah Metode-metode mengajar bagi para mahasiswa program Akta IV, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:
1. Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
2. Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.
3. Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
4. Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.
Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.
KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR
Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan:
1. Expository dan Discovery/Inquiry :
“Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran.
Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik – discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar.
Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturut-turut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:
Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan : Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya.
Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia merigemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut.
Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dan sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah.
Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik.
Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengkombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2. Discovery dan Inquiry :
Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai”
Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya.
Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan
2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III)
3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan.
6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan
7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan.
8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya.
Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi:
1. Menemukan masalah
2. Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan
3. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan
4. Perumusan keterangan yang diperoleh
5. Analisis proses inquiry.
3. Pendekatan konsep :
Terlebih dahulu harus kita ingat bahwa istilah “concept” (konsep) mempunyai beberapa arti. Namun dalam hal ini kita khususkan pada pembahasan yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar. Suatu saat seseorang dapat belajar mengenal kesimpulan benda-benda dengan jalan membedakannya satu sama lain. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah memasukkan suatu benda ke dalam suatu kelompok tertentu dan mengemukakan beberapa contoh dan kelompok itu yang dinyatakan sebagai jenis kelompok tersebut. Jalan yang kedua inilah yang memungkinkan seseorang mengenal suatu benda atau peristiwa sebagai suatu anggota kelompok tertentu, akibat dan suatu hasil belajar yang dinamakan “konsep”.
Kita harus memperhatikan pengertian yang paling mendasar dari istilah “konsep”, yang ditunjukkan melalui tingkah laku individu dalam mengemukakan sifat-sifat suatu obyek seperti : bundar, merah, halus, rangkap, atau obyek-obyek yang kita kenal seperti rambut, kucing, pohon dan rumah. Semuanya itu menunjukkan pada suatu konsep yang nyata (concrete concept). Gagne mengatakan bahwa selain konsep konkret yang bisa kita pelajari melalui pengamatan, mungkin juga ditunjukkan melalui definisi/batasan, karena merupakan sesuatu yang abstrak. Misalnya iklim, massa, bahasa atau konsep matematis. Bila seseorang telah mengenal suatu konsep, maka konsep yang telah diperoleh tersebut dapat digunakan untuk mengorganisasikan gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan. Proses menghubung-hubungkan dan mengorganisasikan konsep yang satu dengan yang lain dilakukan melalui kemampuan kognitif
4. Pendekatan Cara Belajar Stswa Aktif (CBSA)
Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa. Kegiatan belajar-mengajar tidak lagi berpusat pada siswa (student centered).
Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.
Hakekat dad CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:
o Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan
o Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan
o Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap
Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.
Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar karena memang sengaja dirancang untuk itu.
Prinsip-prinsip CBSA:
Dan uraian di atas kita ketahui bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:
a. Dimensi subjek didik :
o Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
o Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
o Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.
b. Dimensi Guru
o Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
o Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
o Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
o Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat kemampuan masing-masing.
o Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
c. Dimensi Program
o Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
o Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
o Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
d. Dimensi situasi belajar-mengajar
o Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
o Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
Rambu-rambu CBSA :
Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.
a. Berdasarkan pengelompokan siswa :
Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru hams disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.
b. Berdasarkan kecepatan nzasing-rnasing siswa :
Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.
c. Pengelompokan berdasarkan kemampuan :
Pengelompokan yang homogin han didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satukelompok maka hal mi mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.
d. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat :
Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.
e. Berdasarkan domein-domein tujuan :
Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah: 1) Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek cipta. 2) Domein afektif, aspek sikap. 3) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.
Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah: 1) Keterampilan intelektual. 2) Strategi kognitif. 3) Informasi verbal. 4) Keterampilan motorik. 5) Sikap dan nilai.
Di samping pengelompokan (klasifikasi) tersebut di atas, masih ada pengelompokkan yang lebih komprehensif dalam arti meninjau beberapa faktor sekaligus seperti, wawasan tentang manusia dan dunianya, tujuan serta lingkungan belajar. Pendapat ini dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Marsha Well dengan mengemukakan rumpun model-model mengajar sebagai berikut :
a. Rumpun model interaksi sosial
b. Rumpun model pengelola informasi Rumpun model personal-humanistik
c. Rumpun model modifikasi tingkah laku.
T. Raka Joni mengemukakan suatu kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:
1. Pengaturan guru-siswa :
o Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan antara : Pengajaran yang diberikan oleh seorang guru atau oleh tim
o Hubungan guru-siswa, dapat dibedakan : Hubungan guru-siswa melalui tatap muka secara langsung ataukah melalui media cetak maupun media audio visual.
o Dari segi siswa, dibedakan antara : Pengajaran klasikal (kelompok besar) dan kelompok kecil
(antara 5 – 7 orang) atau pengajaran Individual (perorangan).
2. Struktur peristiwa belajar-mengajar :
Struktur peristiwa belajar, dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara ketat, misalnya guru tidak boleh menyimpang dari persiapan mengajar yang telah direncanakan. Akan tetapi dapat terjadi sebaliknya, bahwa tujuan khusus pengajaran, materi serta prosedur yang ditempuh ditentukan selama pelajaran berlangsung. Struktur yang disebut terakhir ini memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana langkah langkah yang akan ditempuh.
3. Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan :
Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada siswa. Pesan tersebut dapat diolah sendiri secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan mengolah dengan bantuan sedikit atau banyak dan guru. Pengajaran yang disampaikan dalam keadaan siap untuk ditedma siswa, disebut strategi ekspositorik, sedangkan yang masih harus diolah oleh siswa dinamakan heudstik atau hipotetik. Dan strategi heuristik dapat dibedakan menjadi dua jenis ialah penemuan (discovery) dan penyelidikan (inquiry), yang keduanya telah diterangkan pada awal bab ini.
4. Proses pengolahan pesan :
Dalam peristiwa belajar-mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak dari contoh-contoh konkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu kesimpulan (generalisasi atau pnnsip-pnnsip yang bersifat umum). Strategi belajar-mengajar yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke umum tersebut, dinamakan strategi yang bersifat induktif.
Pemilihan strategi belajar-mengajar
Titik tolak untuk penentuan strategi belajar-mengajar tersebut adalah perumusan tujuan pengajaran secara jelas. Agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, selanjutnya guru harus memikirkan pertanyaan berikut : “Strategi manakah yang paling efektif dan efisien untuk membantu tiap siswa dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan?” Pertanyaan ini sangat sederhana namun sukar untuk dijawab, karena tiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda. Tetapi strategi memang harus dipilih untuk membantu siswa mencapai tujuan secara efektif dan produktif.
Langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut; Pertama menentukan tujuan dalam arti merumuskan tujuan dengan jelas sehingga dapat diketahui apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa, dalam kondisi yang bagaimana serta seberapa tingkat keberhasilan yang diharapkan. Pertanyaan inipun tidak mudah dijawab, sebab selain setiap siswa berbeda, juga tiap guru pun mempunyai kemampuan dan kwalifikasi yang berbeda pula. Disamping itu tujuan yang bersifat afektif seperti sikap dan perasaan, lebih sukar untuk diuraikan (dijabarkan) dan diukur. Tujuan yang bersifat kognitif biasanya lebih mudah. Strategi yang dipilih guru untuk aspek ini didasarkan pada perhitungan bahwa strategi tersebut akan dapat membentuk sebagaimana besar siswa untuk mencapai hasil yang optimal.
Namun guru tidak boleh berhenti sampai disitu, dengan kemajuan teknologi, guru dapat mengatasi perbedaan kemampuan siswa melalui berbagai jenis media instruksional. Misalnya, sekelompok siswa belajar melalui modul atau kaset audio, sementara guru membimbing kelompok lain yang dianggap masih lemah.
Kriteria Pemilihan Strategi Belajar-mengajar, menurut Gerlach dan Ely adalah:
1. Efisiensi :
Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta memperhatikan ciri-cirinya. Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Strategi ekspository tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan strategi inquiry mungkin oleh suatu konsep, bukan hanya sekedar menghafal.
Strategi ini lebih tepat. Guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga. Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga.
Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa untuk mempelajari konsep atau pnnsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan menyelidiki.
2. Efektifitas :
Strategi yang paling efisien tidak selalu merupakan strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Bila tujuan tercapai, masih harus dipertanyakan seberapa jauh efektifitasnya. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada strategi yang lain, maka strategi itu efisien. Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan.
3. Kriteria lain :
Pertimbangan lain yang cukup penting dalam penentuan strategi maupun metode adalah tingkat keterlibatan siswa. (Ely. P. 186). Strategi inquiry biasanya memberikan tantangan yang lebih intensif dalam hal keterlibatan siswa. Sedangkan pada strategi ekspository siswa cenderung lebih pasif. Biasanya guru tidak secara murni menggunakan ekspository maupun discovery, melainkan campuran. Guru yang kreatif akan melihat tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dimiliki siswa, kemudian memilih strategi yang lain efektif dan efisien untuk mencapainya.

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...