Jumat, 03 Februari 2012

Kiat Mendidik Anak

Akhir-akhir kita patut waspada dengan kehidupan anak-anak, yang berada di tengah arus globalisasi, dengan perkembangan iptek serta informasi yang pesat. Di satu sisi, perkembangan iptek memberi kemudahan dan mendukung aktualisasi peran kehidupan kita, akan tetapi dampak buruknya pun begitu terasa. Sebut salah satu contohnya ‘benda mungil’ televisi, yang bagi sebagian anak seolah sudah menjadi – sesuatu yang amat menarik dan istimewa-.
Melalui televisi, anak mencontoh dan menginginkan dirinya seperti apa yang ada di dalam televisi. Mungkin tidak masalah kalau acara yang ditontonnya bermanfaat dan bersifat mendidik. Akan tetapi kenyataannya, banyak tayangan televisi yang sesungguhnya dapat merusak dan membahayakan perkembangan serta perilaku mereka. Tayangan fim yang berbau kekerasan, percintaan, kesyirikan, sifat hidup hedonisme sering kita jumpai termasuk pada acara kartun yang paling digemari anak-anak. Kadang televisi bagi sebagian anak lebih ditaati ketimbang guru atau orang tuanya.
Belum lagi pergaulan anak dan remaja saat ini yang amat mengkhawatirkan, sebagai imbas dari modernisasi budaya barat. Nampaknya kebiasaan dan pergaulan mereka sudah jauh dari norma, baik agama maupun norma masyarakat. Pergaulan bebas, penggunaan narkoba, perkelahian pelajar dan pacaran sudah menjadi budaya remaja saat ini.
Selayaknya berbagai kenyataan tersebut, mendapat perhatian para orang tua. Mengapa? Karena peran orang tua amat besar pengaruhnya dalam mendidik anak, yang apabila tidak serius menanganinya anak bisa terjebak dan jatuh didalamnya. Harapan agar anak tumbuh cerdas dan sholih akan menjadi sirna.
Keberadaan anak dalam Islam
Islam merupakan agama yang begitu indah dan sempurna, didalamnya telah diatur bagaimana mengarungi kehidupan ini termasuk tentang anak. Ternyata, Islam begitu memperhatikan masalah yang satu ini.
Dalam Al Qur’an surat An-nisa ayat 9, Allah SWT berfirman yang artinya
‘ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka, anak-anak yang lemah dan mereka (orang tua) khawatir terhadap (kesejahteraan). Oleh karena itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan mereka mengucapkan perkataan yang benar.’
Bunyi ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap orang tua perlu memikirkan sekaligus mempersiapkan agar anak-anaknya berada dalam keadaan baik atau sejahtera. Jangan sampai anak-anaknya nanti menjadi lemah. Lemah dalam apa? Lemah dalam keimanan, ekonomi, ilmu pengetahuan, keterampilan, akhlaq dan lemah fisiknya.
Beberapa hal mendasar tentang keberadaan anak patut kita pahami,
Pertama, anak merupakan perhiasan dunia dan penyenang hati. Maksudnya bahwa hadirnya anak bagi orang tua menjadi kebanggaan dan akan membawa kebahagiaan.
Kedua, anak juga sebagai ujian dan amanah. Dalam hal ini anak menjadi tanggung jawab orangtua untuk mengurus dan mendidiknya. Anak merupakan titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban di akherat kelak.
Ketiga, mendidik anak merupakan perbuatan yang sangat mulia. Barang siapa yang berhasil mendidik anak, maka pahalanya melimpah dan akan dimasukkan dalam surga.
Keempat, ketika mendidik anak, para orang tua akan dihadapkan pada berbagai masalah, tantangan dan ujian yang berat terlebih di era saat ini. Maka orang tua perlu memiliki ilmu yang memadai, di samping kesabaran dan keikhlasan semata-mata hanya mengharap ridlo Allah SWT.
Kiat mendidik anak
Mendidik bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi mendidik anak sendiri yang setiap harinya berada di tengah-tengah keluarga. Mau tidak mau segala kelebihan dan kekurangan orang tua akan dengan mudah dilihat dan diketahui mereka.
Beberapa kiat yang perlu dilakukan dalam rangka mendidik anak adalah,
Pertama, mendidik dengan sifat keteladanan. Sifat ini merupakan faktor terpenting dan utama. Mengapa? Karena akan membekas pada diri anak. Sikap lemah lembut, kejujuran, tanggung jawab dan menghargai merupakan teladan yang harus diberikan orang tua. Jangan harap anak akan bersikap ramah kalau orang tuanya suka marah. Begitu pula, tak mungkin anak rajin ke masjid kalau orangtuanya sering terlambat atau bahkan meninggalkan sholat.
Kedua, mendidik dengan nasehat. Melalui nasehat akan membuka mata, hati dan pikiran anak akan kesadaran tentang hakikat sesuatu. Dalam memberi nasehat perlu dilakukan dengan ramah dan tepat. Ramah dalam penyampaiannya dan tepat waktunya.
Ketiga, mendidik dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Pada hakikatnya setiap anak butuh perhatian dan kasih sayang orang tua. Persoalannya, ketika orang tua sibuk dengan pekerjaan, maka menjadi terabaikan atau bahkan tak peduli sama sekali. Biasanya anak akan mengalami broken home dan akhirnya lari ke tempat atau lingkungan yang buruk. Perhatian yang penuh dan kasih sayang tulus kepada anak merupakan keniscayaan.
Keempat, dalam mengajarkan sesuatu perlu memperhatikan situasi kondisi yang tepat serta sesuai dengan kemampuan. Anak-anak bukan orang dewasa, mereka terkadang masih senang bermain. Butuh kesabaran ketika mengajarnya jangan sampai ketika mereka belum bisa, lantas orang tua memarahi. Sifat ini tentu tidak tepat di samping anak akan menjadi frustasi.
Kelima, hendaklah orang tua bersikap adil dan tidak membeda-bedakan terhadap anak-anaknya. Tidak boleh dalam keluarga ada anak emas dan menganaktirikan yang lain. Semua diperlakukan sama dan mendapat perhatian serta kasih sayang. Kalau orang tua pilih kasih timbul iri dengki dan bisa menimbulkan persaingan bahkan permusuhan.
Keenam, berikan pendidikan yang mampu mengembangkan akal dan hati secara terpadu dan seimbang. Tidak hanya akal (kecerdasan) yang diperhatikan tetapi kalbunya juga. Sehingga akan tumbuh anak yang cerdas dan sholeh, kaya dan tawadlu, rajin sholat dan pekerja keras.
Ketujuh, tegakkan aturan di rumah dengan benar dan disiplin. Aturan sebaiknya dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan seluruh anggota keluarga. Misalnya kapan boleh nonton televise?, Tayangan apa? Kapan waktunya belajar dsb. Bila ada yang melanggar maka secara konsekuen diberi sanksi yang bersifat mendidik. Sanksi tidak hanya berlaku bagi anak tetapi juga orang tua sendiri.
Kedelapan, orang tua perlu mengetahui teman atau lingkungan, di mana anak bermain dan bergaul. Jangan sampai mereka berada di lingkungan dan pergaulan yang buruk. Namun usahakan tidak kaku dan terlalu membatasi pergaulan mereka.
Kesembilan, berikan pujian (reward) ketika anak berhasil menunjukkan prestasi atau perilaku yang baik. Anak yang rajin sholat tidak salah diberi hadiah, prestasi belajarnya meningkat dibelikan sepeda/mainan yang sesuai keinginan. Sebaliknya, ketika anak melakukan kesalahan, perlu ditegur dan diberi nesehat secara bijak. Walau salah, anak tetap ingin dihargai dan dimaklumi kesalahannya, tidak lantas dimarahi secara berlebihan.
Kesepuluh, budayakan untuk gemar membaca. Alangkah baiknya apabila di rumah ada perpustakaan keluarga sehingga seluruh anggota termotivasi untuk senang membaca dan mengkaji ilmu.
Demikian sepuluh kiat praktis berkenaan dengan mendidik anak. Perlu diingat, bahwa terjadinya fenomena anak yang nakal, berani menentang orang tua dan senang hura-hura salah satunya disebabkan kegagalan orang tua dalam mendidik mereka.
Mendidik anak membutuhkan ilmu, kesabaran dan keiklasan. Mungkin dirasa berat, akan tetapi apabila kita mengetahui bahwa salah satu investasi pahala yang tidak terputus ketika seseorang meninggal dunia adalah anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya. Semoga dengan perjuangan dan didikan orang tua, akan tampil anak-anak yang sholih, cerdas dan bermanfaat bagi sesamanya.
Walahu ‘a lam bhisshowab

Inovasi Pembelajaran untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Menarik untuk dicermati, sajian data yang dihimpun oleh Pusat Pengujian Balitbang Depdiknas menunjukkan, bahwa rata-rata NEM SD untuk beberapa mata pelajaran masih rendah (Matematika: 5,2, IPA : 6,17). Untuk SLTP ternyata lebih rendah lagi (Matematika: 5,2 dan IPA: 4,85). Begitu pula laporan dari Reading Literacy Study (1994) sungguh mengejutkan, bahwa kemampuan membaca siswa SD kelas IV di Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dari sekitar 30 negara, sementara kemampuan IPA SLTA berada di urutan ke-33 dari 39 negara. (The Third International Mathematics and Science Study – Report, 1995).
Mengkritisi berbagai data dan laporan di atas, maka timbul beberapa pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana proses pembelajaran yang selama ini berlangsung? Dan bagaimana pula action ‘sang guru’ kita saat di kelas? Pertanyaan ini mungkin menjadi otokritik, tentang sejauhmana para guru telah melakukan inovasi dalam pembelajarannya.
Ditengarai selama ini, masih banyak guru yang belum melaksanakan tugas mengajarnya dengan optimal. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Dr. Soebagyo Brotosedjati mengatakan, “Hingga kini masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi pendidikan. Padahal salah satu kunci keberhasilan pendidikan terletak pada guru”. Menurut beliau masih ada sekira 47,5 % yang belum memenuhi standar kualifikasi sebagai guru.” (Suara Merdeka : 2002). Kenyataan ini begitu memilukan dan menjadi semacam “pil pahit” bagi dunia pendidikan. Sehingga tentu menjadi wajar sajian data di atas bahwa mutu pendidikan kita masih rendah.
Keberadaan guru dalam suatu proses pembelajaran sesungguhnya memiliki peran dan kedudukan yang signifikan. Dr. George Lozanov, seorang peneliti pendidikan dan tokoh Metode Pembelajaran Cepat dari Bulgaria berujar,” Pengaruh guru sangat jelas dalam kesuksesan siswa” (Lozanov : 1980). Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh pencetus Metode Belajar Quching (quantum teaching), Bobbi de Porter (2002) yang berpendapat bahawa guru itu sebagai penggubah keberhasilan belajar siswa.
Kedua pendapat tokoh tersebut barangkali ada benarnya, siswa akan lebih terkembangkan potensi, bakat dan minatnya manakala guru mampu membimbing dan mengarahkannya. Ketika di kelas, sebenarnya guru dituntut tidak hanya sebagai pen-transfer of knowledge ansich tetapi juga mampu memerankan diri sebagai pewaris nilai, pembimbing, fasilitator, rekan belajar, model, direktur dan motivator (Oemar Hamalik : 2001).
Pemahaman di atas bukan berarti guru sebagai sosok segala-galanya dan amat mendominasi. Siswa tetap diperlakukan sebagai subjek belajar yang memiliki kedudukan penting dalam proses pembelajaran.
Dengan berbagai atribut yanng sedemikian mulia namun sekaligus berat ini, maka menjadi sebuah keniscayaan (sine qua-non) bagi para guru untuk senantiasa melakukan berbagai inovasi dalam pembelajarannya. Kemampuan untuk melakukan inovasi ini tentu saja mensyaratkan sosok guru yang kreatif, produktif, cerdas, komitmen tinggi dan tidak merasa puas dengan keadaan yang sudah ada.

Inovasi Pembelajaran

Ketika mendengar kata inovasi, yang muncul di benak kita barangkali sesuatu yang baru, unik dan menarik. Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa kemanfaatan. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang ‘ baru ‘ atau ‘ lain ‘ dari biasanya, Begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan manusia (baca : siswa dan guru) yang memiliki karakteristik khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri, maju dan berprestasi.
Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi batasan, inovasi sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Dari pengertian ini nampak bahwa inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru, baik berupa alat, gagasan maupun metode. Dengan berpijak pada pengertian tersebut, maka inovasi pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Hasbullah (2001) berpendapat bahwa ‘baru’ dalam inovasi itu merupakan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi.
Menurut Gagne (1975), setidaknya ada empat fungsi yang harus dilakukan guru kaitannya sebagai motivator. Pertama, arousal function atau membangkitkan dorongan siswa untuk belajar. Kedua, expectancy funtion yaitu menjelaskan secara kongkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran. Ketiga, incentive function maksudnya guru memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai dalam rangka merangsang pencapaian prestasi berikutnya dan keempat, disciplinary function bahwa guru membantu keteraturan tingkah laku siswa.
Keempat fungsi tersebut, selayaknya diperankan dengan tepat oleh guru dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga diharapkan motivasi belajar siswa semakin lama akan semakin meningkat dan tinggi.

Contoh dan Bentuk Inovasi yang Sederhana

Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pembelajaran.
Ditengarai bahwa dunia anak (baca : TK dan SD) merupakan dunia bermain, tetapi acapkali guru melupakan hal ini. Semestinya setiap guru dalam setiap proses pembelajarannya menciptakan suasana yang menyenangkan (fun), menggairahkan (horee), dinamis (mobile), penuh semangat (ekpresif) dan penuh tantangan (chalenge).
Oleh karena itu berbagai inovasi dapat dicoba untuk dikembannngkan walaupun amat sederhana. Beberapa bentuk inovasi yang sempat penulis cobakan, diantaranya:

Pembuatan yel-yel

Yel-yel ini biasanya dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, guru mengajak siswa untuk bersama-sama mengucapkan beberapa yel yang telah diajarkan kepada mereka.
Tujuannya :
1. menumbuhkan semangat belajar siswa.
2. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
3. mewujudkan hubungan yang akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
Berbagai variasi yel dapat diciptakan oleh guru, dengan mengubah lagu tertentu yang sudah dihapal siswa serta menggunakan kepalan tangan, suara yang bersemangat, mimik muka serta kekompakan siswa dalam pengucapannya.
Penulis membagi pembuatan yel ini dalam dua bagian, yaitu yel-yel kelas, yang memberi semangat untuk pengkondisian kelas sehingga siswa siap belajar (apersepsi dan motivasi), dan yel-yel mata pelajaran yaitu memberi semangat untuk mengikuti pelajaran tertentu.
Di bawah ini, contoh-contoh yel yang telah dibuat dan dilakukan ketika akan dimulai proses pembelajaran.
Contoh Yel-yel kelas
KELASKU….KELASKU….KELASKU
YANG TERBAIKK… OK ! ALLOHU AKBAR !
AKU ANAK SHOLEH !!!!!!! ……………..
DEDEED….DEDEED…..DEDEED……….ALLOHU AKBAR !
Contoh yel-yel mata pelajaran
Pelajaran Matematika
MATE… MATE… MATIKU……MATEMATIKA
AKU SENANG BEL-LAJAR MATEMATIKA
YES !!!! ALLOHU AKBAR !
Pelajaran IPA
IPAAA….IPAA….IPAAA I PE A
ILMU,,,, PENGETAHUAN,,,, ALAM
IS THE BEST , OH YEE… ALLOHU AKBAR !
Pelajaran IPS
IPSSSSSS… IPSSSSSSSSSS…IPSSSSSSSSSSSS…
I LIKE IT …. I LIKE IT, OH LALA…. OH LALA
ALLOHU AKBAR !
Pelajaran Bahasa Indanesia
BI……….BI…………..BI…………………
WOW KERREEEN………ALLOHU AKBAR !
Semua yel-yel selalu diakhiri dengan lafadz takbir, sambil mengepalkan tangan kanan ke atas. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan nilai kepada siswa bahwa semua yang ada di dunia ini adalah kecil, yang maha besar dan maha angung hanyalah Alloh azza wa zalla, pemilik alam semesta dan pemberi ilmu pengetahuan.
Pemberian Reward
Berdasarkan pangalaman di lapangan, anak kelas bawah (baca : SD) amat senang apabila usaha belajarnya dihargai dan mendapat pengakuan dari guru, walaupun amat sederhana. Oleh karena itu, para guru nampaknya jangan terlalu pelit untuk menberikan penghargaan, selama dilakukan dengan memperhatikan waktu dan cara yang tepat. Penghargaan itu sendiri dapat dimaknai sebagai alat pengajaran dalam rangka pengkondisian siswa menjadi senang belajar.
Tujuannya:
1. mendorong siswa agar lebih giat belajar.
2. memberi apresiasi atas usaha mereka.
3. menumbuhkan persaingan yang sehat antar siswa untuk meningkatkan prestasi
Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan sesuai kesempatan yang ada. Penulis membaginya dalam beberapa macam, yakni dalam bentuk ucapan, tulisan, barang/benda dan penghargaan khusus. Seyogyanya penghargaan ini dapat menjadi kebanggaan siswa akan eksistensi dirinya, yang nantinya meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi diri.
Penghargaan berupa ucapan.
Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan direncanakan terlebih daluhu atau bersifat spontan saja. Yang terpenting bahwa setiap siswa yang menunjukkan suatu usaha, maka layak dihargai. Pemberian pujian bagi siswa yang berpatisipasi aktif dalam proses pembelajaran, seperti kata-kata YESS ! (sambil mengancungkan jempol tangan), Excelent (dua jari membentuk huruf V), Thankyou Very Much (kedua tangan diacungkan ke atas) dll.
Penghargaan berupa tulisan.
Hal ini dapat dilakukan setiap hari, ketika siswa mengerjakan tugas atau PR. Penghargaan ini diberikan dengan cara guru menuliskan di buku catatan atau tugas siswa, berupa kata pujian, terutama bagi siswa yang berhasil mendapat nilai bagus (80-100). Kalimat pujian tersebut diantaranya “ selamat, you are the best student “ , “ Alhamdulillah, kamu anak pintar “ , “ pacu terus prestasimu “ ,
Penghargaan berupa barang/benda
Berbagai benda sebenarnya dapat dijadikan alat penghargaan, baik benda yang sudah ada maupun yang telah dimodifikasi/disiapkan.
Penulis misalnya memberikan penghargaan berupa bintang, terbuat dari kertas karton/asturo berukuran kecil bagi siswa yang mendapat nilai tinggi (80-100) baik latihan soal, tugas maupun PR.
Kalung medali pelajaran, terbuat dari gabus yang menyerupai sebuah medali dengan menggunakan tali warna. Medali dibuat khusus untuk setiap mata pelajaran, dan diberikan kepada siswa setiap selesai ulangan harian. Siswa yang mendapat nilai tertinggi dalam ulangan harian berhak menerima medali.
Sewaktu-waktu tidak ada salahnya apabila guru memberikan penghargaan berupa uang jajan, walaupun dengan nilai nominal yang relatif kecil. Bagi siswa terkadang bukan besar kecilnya uang tetapi kebanggaan mendapatkannya dari guru yang dicintainya.
Penghargaan khusus
Penghargaan ini sifatnya spontan dan insidental, di mana siswa yang berhasil menjawab dengan tepat pertanyaan dari guru dimungkinkan untuk istirahat atau pulang terlebih dahulu.
3. Pemberian sanksi
Dalam sebuah proses pembelajaran perlu ada semacam aturan main (rule of the game). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, termasuk perlu adanya sanksi yang disepakati bersama antara guru dengan siswa. Tetapi diupayakan dalam pemberian saknsi ini betul-betul bersifat pedagogis (mendidik).
Tujuannya :
1. terwujudnya kelas yang tertib, namun diupayakan tetap menyenangkan.
2. penanaman disiplin kepada anak.
3. mendidik siswa untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan.
Kotak Soal
Dibuat dari bekas wadah susu atau makanan lain, yang berbentuk segi empat, kemudian dibungkus kertas kado, dengan warna yang menarik ditempel di dinding kelas sejumlah mata pelajaran, sehingga setiap mapel memiliki kotak soal tersendiri.
Tujuannya :
mendorong siswa agar senang mempelajari soal sesuai keinginannya setiap saat.
Memberi kesempatan memanfaatkan waktu luang untuk mempelajari soal-soal.
Soal ini dibuat dengan berbagai bentuk, seperti soal cerita, kuis, siapa aku, tanya jawab, dll. Di tulis di kertas asturo atau kertas lain dengan bentuk yang menarik.

Pokjar (Kelompok Belajar)

Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap kelompok dipilih satu ketua yang mampu memimpin dan membantu anggotanya.
Tujuannya :
Matih kerjasama antara siswa
Menanamkan jiwa kepemimpinan dan saling membantu
Terjadi pertukaran pengetahuan dan memungkinkan siswa yang sudah paham mengajari teman lainnya .
Dalam pelajaran tertentu, guru memberikan masalah kemudian siswa mendiskusikanya dalam kelompok. Adapun tempat pengerjaannya diserahkan sepenuhnya pada mereka, asal waktunya ditetapkan dengan jelas. Mereka boleh mengerjakan di kelas (in-door) atau diluar kelas (out-door) seperti perpustakaan, halaman sekolah, aula atau mushola.
Bagi kelompok yang berhasil meraih nilai tertinggi dan paling cepat, akan diberi penghargaan berupa bintang kelompok, yang nantinya ditempel di dinding dengan menggunakan gabus berukuran 100 cm x 75 cm. Gabus tersebut diberi tulisan “ Alhamdulillah, Mamah….. Mamah……….. inilah bintang kelompokku………”.
6. Perpustakaan Kelas
Penanaman kebiasaan membaca harus selalu ditumbuhkan. Kehadiran perpustakaan kelas merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan. Berbagai buku yang bersifat ringan dan dapat menggugah kreativitas siswa bisa dijadikan referensi. Majalah Bobo, Annida, Anak Sholeh, buku cerita, kisah sahabat dan petualangan hewan merupakan pilihan bagi mereka.
Tujuannya :
Menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, karena membaca adalah kunci pengetahuan.
Memanfaatkan waktu luang secara baik.
Adapun sumber bukunya dapat diperoleh dari sumbangan siswa sendiri yakni membawa buku bacaan bekas dari rumah, membeli atau sumbangan.

Mading Kelas

Kehadiran majalah dinding (mading) kelas menjadi satu terobosan yang cukup baik. Diantara siswa ada yang dipilih menjadi pengurus mading. Mereka ada yang bertugas sebagai pimpinan redaksi, reporter, ilustrasi atau pencari berita.
Tujuannya :
Menampung hasil karya siswa berupa gambar, cerita/karangan, puisi, atau pengalaman pribadi.
Membiasakan siswa untuk menulis, segala ide, impian dan harapan dapat ditumpahkan dalam karya tulis.
Menumbuhkan semangat belajar dan membaca.
Biasanya siswa akan senang, apabila karyanya dilihat oleh teman-temannya. Hasil karya yang ditempel bisa saja sengaja dibuat oleh siswa di rumah atau hasil tugas mata pelajaran tertentu.
8. Setting Kelas
Untuk sekolah yang full day school kemungkinan besar siswa akan merasa jenuh dan capek berada terus di sekolah atau kelas. Oleh karena itu bagaimana menciptakan ruangan dan suasana kelas yang meminimalisir kejenuhan mereka.
Setting kelas dapat dilakukan oleh guru dengan cara penataan ruangan, pemasangan gambar, tulisan yang memotivasi, warna-warni yang menyolok, hiasan yang menggugah poster dll. Contohnya poster dapat ditempel di dinding kelas. Bunyi poster misalnya, “ BELAJAR ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN “, “ MEMBACA MENJADI KEBUTUHANKU “, AKU INGIN MENJADI ANAK PINTAR DAN SHOLEH “, “ BELAJAR ITU IBADAH, BERPRESTASI ITU INDAH.”
Setiap minggu sekali, siswa diperbolehkan untuk berpindah tempat duduknya, sesuai keinginan mereka. Papan tulis, setiap semester sekali dapat dirubah posisinya, sesuai kesepakatan dengan siswa.
Mencatat dengan Peta Pikiran
Hasil temuan mutakhir menunjukan bahwa otak manusia memiliki kehebatan yang luar biasa, ada otak kiri dan otak kanan. Untuk mengembangkan kemampuan otak kanan yang penuh dengan imajinasi, siswa diajarkan cara menulis dengan menggunakan peta pikiran.
Tujuannya :
Mempermudah mengingat/menghapal materi pelajaran.
Menulis sambil menggambar disertai warna akan lebih menarik dan tidak jenuh.
Mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitas anak.
Guru harus menyusun terlebih dahulu materinya yang sesuai. Siswa diberi kebebasan untuk mewarnai, menggambar dan membuatnya sendiri.
Penggunaan alat peraga
Alat peraga boleh dikatakan sebagai salah satu pendukung kesuksesan pembelajaran, karena dengan media ini biasanya pembelajaran menjadi lebih menarik. Berbagai media dapat dibuat guru walaupun sederhana.
Tujuannya :
Memperjelas materi yang disampaikan, karena siswa melihat secara langsung.
Menarik siswa sehingga penbelajaran lebih hidup dan dinamis.
Sebagai sarana untuk menambah pemahaman siswa tentang materi mata pelajaran, terutama media yang berupa permainan.
Media yang dapat dibuat misalnya kartu permainan perkalian. pembagian dan pengurangan. Angka gabus berwarna (matematika), fuzel IPA, PP IPA, kartu permainan IPA (IPA), PP IPS, mata angin, gambar, denah (IPS), kartu berpasangan, papan sinonim/antonim (B. Indonesia). Prinsip utama dari pembuatan alat peraga adalah dengan media maka pembelajaran lebih bermakna dan menggairahkan.
Pembelajaran sambil bermain
Kegiatan ini amat tergantung pada gurunya. Pembelajaran tidak harus selalu serius, siswa duduk manis semua di meja, mendengarkan ceramah guru dengan tidak boleh melirik kiri dan kanan. Sebenarnya dimungkinkan pembelajaran dengan mengadopsi berbagai permainan yang sering dilihat oleh anak-anak di TV seperti kuis siapa aku, tebaklah, siapa berani dll.
Selain itu guru bisa mengembangkan metode ini berdasarkan pengalaman di lapangan. Contohnya dalam pelajaran B. Indonesia, mengadakan permainan tebak kata, di mana setiap siswa menyiapkan kata yang telah dipahami artinya, kemudian dia mengemukakan huruf awal sambil menyebutkan ciri-cirinya. Permainan peribahasa, dengan cara melanjutkan peribahasa yang telah diucapkan siswa lain, apabila ada yang salah maka, dia maju ke depan untuk bernyanyi (nasyid).
Begitu banyak bentuk permainan yang dapat dilakukan oleh guru, dan kesemuanya bertujuan untuk lebih menarik siswa dalam pembelajaran.
PENUTUP
Inovasi pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dan mesti dimiliki atau dilakukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran akan lebih hidup dan bermakna. Berbagai inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa agar lebih giat dan senang belajar.
Seperti yang telah dipaparkan, pada hakekatnya sifat inovasi itu amat relatif, dalam arti inovasi yang kita lakukan sebenarnya barangkali sudah tidak asing bagi orang lain. Tetapi sebagai seorang guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak, maka tidaklah salah apabila terus-menerus melakkukan inovasi dalam pembelajaran.
Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali dan mencari berbagai terobosan, pendekatan, metode dan sistem pembelajaran merupakan salah satu penunjang akan munculnya berbagai inovasi-inovasi baru yang segar dan mencerahkan.
Penulis memandang, tanpa dibarengi kemauan dari guru untuk selalu berinovasi dalam pembelajarannya, maka dimungkinkan pembelajaran akan dirasa menjenuhkan oleh siswa. Di samping itu, guru tidak akan terkembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Inovasi akhirnya menjadi sesuatu yang harus dicoba untuk dilakukan, sesederhana apapun.

Mudahnya Belajar Bilangan Bulat dengan Petak Pintar


Salah satu materi yang membuat siswa kelas V SDN 7 Selebung Ketangga, Kecamatan Keruak, Lombok Timur kesulitan dalam belajar matematika adalah materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Guru selama ini mengajar dengan menggunakan garis bilangan, namun hal tersebut masih belum mampu membuat siswa memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat tersebut.

Belajar bilangan bulat dengan menggunakan petak pintar
Ahmadin, guru di kelas itu berusaha untuk mencari jalan keluar agar siswa-siswanya senang belajar matematika dan mudah memahami konsep tersebut.   Setelah berdiskusi dengan Kepala Sekolah dan fasilitator, akhirnya ditemukan sebuah alat untuk mempermudah dan membuat siswa senang mempelajari konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.  Alat itu diberi nama Petak Pintar. Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga ini adalah: Kertas HVS, spidol untuk membuat garis petak, dan batu krikil minimal 20 atau daun-daunan atau biji-bijian.
Berikut langkah-langkah yang telah dilakukan Pak Ahmadin bersama siswa di kelasnya:
  • Secara berpasangan siswa membuat petak-petak sebanyak dua kolom di atas kertas HVS yang disediakan.  Satu kolom untuk bilangan positif, dan satu kolom lagi untuk bilangan negatif. Jumlah petak dalam satu kolom minimal sepuluh dan maksimal tidak ada batasnya, tergantung ukuran petak dan panjang kertas.
  • Siswa mencari alat bantu seperti batu kerikil atau daun-daunan, atau biji-bijian.
  • Siswa mengambil dua macam benda yang berbeda dan menentukan benda mana yang akan dijadikan bilangan positif dan mana yang akan dijadikan bilangan negatif.
  • Guru memberikan soal kepada siswa, misalnya 5 + (-3).  Siswa menyimpan 5 bunga (representasi bilangan positif) dan menyimpan 3 kerikil (representasi bilangan negatif).
  • Siswa diinformasikan bahwa apabila satu bunga bertemu dengan satu kerikil hasilnya akan nol.
  • Siswa mengambil pasangan benda yang hasilnya nol dan menghitung yang tersisa.  Maka akan diperoleh sisa 2 bunga, yang berarti hasilnya adalah 2.
  • Selanjutnya guru memberi soal yang berbeda.
Cara menggunakan alat peraga ini dalam pembelajaran:
  1. Guru memberikan contoh cara penggunaan alat peraga ini.
  2. Secara berkelompok siswa diberikan tugas menghitung hasil penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan alat peraga ini.
  3. Hasil penghitungan tiap kelompok dibuktikan kebenarannya di depan kelas secara bergilir.
Hasil belajar penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan alat peraga ini membuat siswa senang belajar dan lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.



Lokasi/alamat pelaksanaan praktik yang baik
:
SDN 7 Selebung Ketangga, Kecamatan Keruak, Lombok Timur
Tingkat pendidikan
:
SD/MI
Lingkup pendidikan
:
kelas
Masalah/Latar belakang – Mengapa praktik yang baik ini dianggap penting? Praktik ini dilaksanakan untuk mengatasi masalah apa?
:
Salah satu materi yang membuat siswa kelas V SDN 7 Selebung Ketangga, Kecamatan Keruak, Lombok Timur kesulitan dalam belajar matematika adalah materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Guru selama ini mengajar dengan menggunakan garis bilangan, namun hal tersebut masih belum mampu membuat siswa memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat tersebut.
Tujuan praktik yang baik
:
Meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat
Penjelasan: strategi, proses/langkah kegiatan/sumber atau materi yang dibutuhkan
:
  • Secara berpasangan siswa membuat petak-petak sebanyak dua kolom di atas kertas HVS yang disediakan.  Satu kolom untuk bilangan positif, dan satu kolom lagi untuk bilangan negatif. Jumlah petak dalam satu kolom minimal sepuluh dan maksimal tidak ada batasnya, tergantung ukuran petak dan panjang kertas.
  • Siswa mencari alat bantu seperti batu kerikil atau daun-daunan, atau biji-bijian.
  • Siswa mengambil dua macam benda yang berbeda dan menentukan benda mana yang akan dijadikan bilangan positif dan mana yang akan dijadikan bilangan negatif.
  • Guru memberikan soal kepada siswa, misalnya 5 + (-3).  Siswa menyimpan 5 bunga (representasi bilangan positif) dan menyimpan 3 kerikil (representasi bilangan negatif).
  • Siswa diinformasikan bahwa apabila satu bunga bertemu dengan satu kerikil hasilnya akan nol.
  • Siswa mengambil pasangan benda yang hasilnya nol dan menghitung yang tersisa.  Maka akan diperoleh sisa 2 bunga, yang berarti hasilnya adalah 2.
  • Selanjutnya guru memberi soal yang berbeda.
Hasil, dampak atau perubahan dari praktik yang baik
:
Pemahaman siswa terhadap konsep dasar penjumlahan dan pengurangan menjadi lebih baik.
Informasi pelaku dan/kontributor – nama dan alamat
:
Selamet Riyadi
Fasilitator pendamping SDN 7 Selebung Ketangga
Kecamatan Keruak,kabupaten Lombok Timur
Kontak: Moderator

6 tanda siswa senang belajar dengan kita


1. Siswa mengatakan begini kepada kita sebagai gurunya, “Pak, dirumah saya coba-coba lakukan hal yang kita lakukan di kelas kemarin itu lho..!”
2. Siswa bertemu dengan kita dan langung ingat hari ini ada pelajaran kita di kelasnya.
3. Siswa bertanya dengan tidak sabar kepada kita sebagai gurunya sebelum pelajaran berlangsung, ” Pak kalo hari ini kita akan belajar apa ya?”

4. Ada siswa dari kelas lain yang satu paralel dengan kelas yang kita ajar lebih dahulu, tiba-tiba datang dan bilang ” Pak, kelas saya mau juga belajar seperti itu..!”
5. Kita sedang sibuk berceramah atau menerangkan sesuatu pembukaan kegiatan di depan kelas tiba-tiba ada siswa yang bilang, “Pak ..kapan kita mulai?” atau “Pak ..ayo kerjakan sekarang!”
6. Saat kita masuk ke kelas,siswa langsung mengatakan setengah berteriak, “Pak, saya mau belajar seperti kemarin..!”

Guru Berprestasi Mampu Buat Siswa Senang Belajar


Wamendiknas Prof. Dr. Fasli Jalal saat buka acara, Jumat (12/8).
Jakarta (Dikdas): Guru dapat dikatakan berprestasi bila mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Suasana yang terbangun tersebut pada gilirannya membuat murid dengan sendirinya terpanggil, senang, dan aktif untuk belajar. “Tugas guru yang pertama adalah menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang mampu membuat siswa senang belajar,” kata Prof. Dr. Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional di Jakarta, Jumat sore (12/8).

Fasli Jalal berkata demikian saat menyampaikan sambutan pada acara pembukaan Pemberian Penghargaan Guru Daerah Khusus dan Guru Pendidikan Khusus Berdedikasi Serta Pemilihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tahun 2011 yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Hadir dalam acara pejabat eselon I dan II di lingkungan Kemdiknas, guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tutor undangan.     

Lebih lanjut Fasli Jalal bercerita, di banyak negara, jika waktu libur tiba, anak-anak membuat resah orangtua. Mereka gelisah, bertanya-tanya kapan bisa kembali ke sekolah dan kenapa libur sekolah begitu lama. “Karena mereka menemukan kebahagiaan di sekolah,” ungkapnya. Guru-guru di sana mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.   

Keberhasilan guru itu, tambah Fasli Jalal, ditopang oleh kemampuan ilmu pengetahuan, kompetensi, moralitas, akhlak, iman, takwa, dan kepribadian guru yang tangguh. “Pada akhirnya mendapatkan hasil belajar yang luar biasa,” jelasnya.

Guna mecapai tujuan ke arah sana, Pemerintah tak akan henti-hentinya memberi semangat kepada guru-guru yang berjuang di garda terdepan dalam bentuk pemberian penghargaan tunjangan. Tunjangan khusus satu kali lipat gaji pokok bagi guru-guru di daerah khusus.

Tunjangan tak hanya diberikan kepada guru negeri. Guru swasta juga dapat. “Kepada mereka guru-guru di daerah khusus, yang berjalan kaki berkilo-kilo, masuk sungai, berlayar ke pulau-pulau, dan melayani anak-anak di dalam hutan dan pegunungan, mari kita beri tepuk tangan yang hangat pada mereka!” seru Fasli Jalal diikuti riuh tepuk tangan hadirin.

Fasli Jalal menekankan bahwa aktivitas guru memberi harapan dan manfaat besar pada bangsa, yang akan terasa untuk berpuluh-puluh tahun ke depan. “Karena yang kita sasar adalah sebuah tujuan besar,” tuturnya, “menyiapkan anak-anak kita sehingga ia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia tapi kokoh kepribadiannya, cerdas secara holistik untuk semua kecerdasan jamak yang dimiliki sesuai bakat dan minat potensinya tapi dia juga sehat, mempunyai tanggung jawab sebagai warga negara, dan demokratis.”


Peserta
Dalam laporannya, Hamid Muhammad, Ph.D, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kemdiknas, mengatakan, acara pemberian penghargaan merupakan kerja bareng Ditjen Pendidikan Dasar, Ditjen Pendidikan Menengah, dan Ditjen PAUDNI. Acara akan berlangsung tujuh hari, 12-18 Agustus 2011.    

Acara diikuti oleh Pendidik dan Tenaga Kependidikaan (PTK) berprestasi dan berdedikasi sebanyak  506 orang dari unsur guru, kepala sekolah, pengawas, dan tutor se-Indonesia. Selama di Jakarta mereka akan mengikuti berbagai kegiatan. “Baik kegiatan seleksi melalui penilaian portofolio, tes tertulis, presentasi, dan wawancara, hingga mengikuti acara-acara kenegaraan dan ceramah dari berbagai nara sumber,” urai Hamid Muhammad.* (Billy Antoro)  

BELAJAR SENANG DAN SENANG BELAJAR

Di dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa manusia merupakan makhluk yang mempunyai sifat cinta kepada kesenangan. Sifat itulah yang membuat manusia mengerahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk memburu kesenangan. Meskipun secara umum kesenangan itu diidentikkan dengan harta dan kekuasaan, tetapi ada beberapa orang yang memiliki kesenangan yang dianggap orang lain bukan kesenangan. Contohnya adalah belajar. Bagi kebanyakan orang, belajar bukanlah sebuah kesenangan, tetapi ada beberapa orang yang menganggapnya sebagai kesenangan.
Mengapa hal itu bisa terjadi ? Jawabannya adalah belajar itu sendiri. Artinya, seseorang bisa senang kepada sesuatu karena dia belajar menyenangi hal itu. Keinginan belajar untuk menyenangi itu kemudian menjadikan hal yang tidak disenangi menjadi sebuah kesenangan.
Dalam hal ini, faktor yang menjadi penentu keberhasilan dari proses ini adalah adaptasi. Seseorang yang mampu beradaptasi  dengan cepat, maka dia mampu menyenangi sesuatu dengan cepat.
Ketika seorang siswa memasuki sebuah lembaga pendidikan, hal pertama kali yang harus dilakukan adalah adaptasi terhadap lingkungan sekolah. Adaptasi sangat penting, karena hal ini sangat berkaitan erat dengan kenyamanan siswa dalam belajar. Selain beradaptasi dengan teman dan guru yang tidak kalah pentingnya adalah siswa harus beradaptasi dengan kegiatan belajar. Dalam proses adaptasi ini peran guru sangat krusial, yaitu membantu siswa agar bisa belajar menyenangi kegiatan belajar di sekolah. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membua suasana kelas yang menyenangkan.

Salah satu cara menciptakan suasana kelas yang menyenangkan adalah bermain. Johan Huizinga, seorang profesor, teoritisi budaya dan sejarawan Belanda mengatakan bahwa  bahwa manusia adalah homo lendus (makhluk yang suka bermain). Untuk memenuhi hasrat bermainnya itu manusia menciptakan aneka permainan mulai dari yang paling sederhana hingga berteknologi tinggi.  Begitu pula dengan siswa, mereka membutuhkan permainan dalam belajar. Pengabaian terhadap insting bermain ini dalam belajar akan membuat siswa tidak akan mampu menyenangi kegiatan belajar .
Apabila kita  membuat angket kemudian disebarkan pada siswa yang berisi pertanyaan pelajaran apa yang disenangi, maka jawaban yang diperoleh adalah : Olahraga, Seni Budaya dan TIK. Mengapa pelajaran-pelajaran itu paling disukai siswa ?. Jawabannya adalah karena ke tiga pelajaran paling banyak mengandung permainan .  Namun, apabila permainan dalam tiga pelajaran tersebut dihilangkan (misalnya dibuat hanya teori saja tanpa praktek), yang terjadi adalah siswa menjadi tidak senang terhadap pelajaran tersebut. Berangkat dari kenyataan itu, sangat diperlukan guru-guru yang terampil membuat permainan serta mampu mengaplikasikannya dalam belajar.
Guru tidak harus menciptakan suatu permainan yang baru untuk bisa diaplikasikan di kelas. Guru bisa mencontoh dan memodifikasi ragam bentuk permainan yang sudah dikenal. Misalnya, monopoli, ular tangga dan TTS.  Selain itu, model-model kuis yang banyak ditayangkan di televisi dapat dimodifikasi dan  diterapkan dalam pembelajaran.  Permainan dalam bentuk digital seperti game dan animasi adalah  yang paling bagus dan menarik. Tetapi pembuatannya tidak mudah,  karena membutuhkan ketrampilan khusus dari guru. Membuat permainan dalam belajar tidaklah sulit bagi guru. Yang menjadi masalah adalah maukah dan sempatkan guru membuatnya dalam keadaan beban mengajar yang sangat tinggi akibat sertifikasi ?.
Adalah hak siswa untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan ketika belajar di kelas. Terpenuhinya hak ini akan  membawa dampak yang positif,  yaitu siswa akan senang belajar. Prilaku ini akan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan tujuan pendidikan kita semua.

cara agar anak rajin belajar

Banyak papa dan mama mengeluh dan bingung mencari cara agar anak rajin belajar. Rajin belajar? Coba anda ingat-ingat ketika anda masih kecil, apakah anda sendiri juga rajin belajar? :) Apakah anda juga langsung menurut begitu disuruh untuk belajar oleh papa dan mama? Pertanyaan diatas merupakan satu input balik agar kita sebagai papa dan mama tidak menekan terlalu keras pada anak untuk rajin belajar. Ingin anak rajin belajar itu baik, tapi pahamilah dan sadarilah juga kalau anak anda juga seperti anda waktu kecil dulu.
Nah, bagaimana cara sederhana agar anak rajin belajar?

Mulai segala sesuatu dengan pikiran

Dalam sebuah seminar, pembicara mengatakan kalau sebuah karakter atau sifat, misalnya sifat yang rajin belajar, itu tidak otomatis terbentuk. Semua anak dilahirkan sama, dari bayi, belajar berdiri, belajar berjalan, belajar berbicara, belajar membaca dan akhirnya mereka sekolah. Semua sama.
Yang berbeda adalah bagaimana mereka menghabiskan waktu 24 jam sehari itu.
Dimulai dari pikiran, dilakukan setiap hari sehingga menjadi kebiasaan dan kebiasaan itu menjadi karakter seseorang.
Anak kami suka melihat princess, dia ingin menjadi seperti princess. Papa dan mama memberikan masukan tiap saat, “Princess itu pintar membaca, pintar menulis, kalau ditanya jawabnya cepat dan keras”. Satukan keinginan anak anda dan keinginan anda, ucapkan sesering mungkin pada anak anda karena disitu pikiran mereka dibentuk.

Pelajaran dari les matematika

Kami mendapatkan konfirmasi tentang cara agar anak rajin belajar ini dari sebuah les matematika anak kami yang setiap hari memberi PR. Setelah bertanya dan konsultasi dengan guru pembimbing les tersebut, tujuan PR itu bukanlah untuk menjadikan anak itu pintar dan hafal, tapi lebih mengarahkan pada kebiasaan tiap hari mengerjakan PR.
Kebiasaan tiap hari mengerjakan PR itu yang kami ingat. Memang tidak mudah pada awalnya. Anak kami juga mengeluh capek, ngantuk dsb kalau disuruh kerjain PR, namun sebagai papa mama teruslah mendorongnya. Kami memberikan point, “Oh, kamu sudah pintar 1 kali ya” bila dia mengerjakan PR hari itu… “Bila pintar sampai 10 kali, nanti papa dan mama belikan boneka”, beri penghargaan.
Setelah terbiasa dengan 1 PR matematika, kami menambahkan PR membaca tiap hari, beri point juga dan beri reward juga. Sekarang PR anak kami menjadi matematika, membaca, menulis dan itu dilakukan setiap hari.
Perlu kesabaran dari papa dan mama dalam membimbing anak melewati masa-masa bosan dan masa-masa jenuh. Beri sedikit PR bila anak mengalami masa itu, bukan tidak ada PR, tapi sedikit PR.
Tips tambahan dari:
  • bintangtimur.blogdetik.com:  “Papa dan mama ikut juga memegang buku atau koran disekitar anak”. Tentu ini akan menciptakan ’suasana’ belajar di dalam rumah.
Thanks bintangtimur.
Ada tips lain agar anak rajin belajar? Share bersama kami agar berguna bagi papa dan mama yang lain.

Cara Membuat Anak Senang Belajar


Mendengar kata belajar anak menjadi enggan untuk melakukannya, oleh karena itu diperlukan suatu cara agar anak mau mempelajari hal-hal yang baru.  Berikut ini merupakan beberapa cara dalam membuat proses belajar menjadi menyenangkan bagi anak.
  1. Untuk anak yang berusia pra sekolah, ajarkan kepada mereka sesuatu yang baru seperti mengenali nama-nama benda yang ada di sekitarnya.
  2. Untuk merangsang daya pikir serta kreativitas mereka, siapkan alat-alat tulis seperti buku menggambar, pensil warna, crayon dan lain-lainnya.
  3. Berikan kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan bebas yang bermanfaat bagi perkembangannya.
  4. Bantu anak dalam mengerjakan sesuatu kegiatan pertama kalinya, kemudian berikan kesempatan untuk melakukannya tanpa bantuan.
  5. Kenalkan anak pada jadwal, sehingga pada saat mereka melakukan suatu kegiatan dapat diselesaikan dalam jangka waktu tertentu
  6. Biasakan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan anak, pada saat-saat tertentu secara terus menerus.
  7. Bagi anak yang duduk di sekolah dasar, selalu tanyakan dan temani mereka dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya.
  8. Tuntun anak apabila kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolahnya.
  9. Ciptakan suasana nyaman di sekitar rumah, agar anak dapat berkonsentrasi dalam belajar.

Siswa menggunakan laptop di kelas sebagai bagian dari strategi guru kreatif

Menggunakan laptop terbukti sangat membantu guru dalam membuat anak senang belajar. Maklum anak-anak jaman sekarang adalah individu yang menyenangi sekali teknologi informasi dalam segala bentuknya. Dengan menggunakan laptop guru menjadi orang yang sangat mengerti siswanya. Hal ini dikarenakan dengan cepat siswa menggunakan sampai-sampai jika tidak direncanakan guru akan kerepotan sendiri. Kerepotan yang saya maksud adalah bisa saja karena antusiasnya siswa jadi cepat selesai atau malah menjadi sangat tergantung pada bantuan gurunya karena program yang digunakan oleh guru, asing untuk mereka. Hal yang buruk lagi bisa terjadi adalah ketika siswa kita malah membuka situs yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran yang berlangsung.
Jika anda ingin menggunakan laptop sebagai bagian dari pembelajaran inilah caranya;

  • pikirkan dahulu tujuan pembelajaran dalam satu kalimat, misalnya siswa akan mencari informasi, siswa membuat presentasi atau siswa menggunakan laptop dan internet untuk berkomunikasi dengan orang lain.
  • tentukan terlebih dahulu, apakah siswa akan menggunakan internet atau hanya mengolah bahan yang sudah ada.
  • jika ingin gunakan internet siapkan dahulu alamat situs yang akan siswa kunjungi. Kumpulkan jadi satu di situs scoop.it lalu minta siswa untuk hanya membuka situs yang sudah anda tentukan
  • siapkan pertanyaan sebagai panduan jika meminta siswa untuk mencari di mesin pencari google.
  • Meminta siswa untuk langsung mencari jawaban pertanyaan begitu saja ke google seperti meminta siswa masuk ke hutan buas, karena bisa saja mereka akan nyasar ke situs yang kurang mendidik.
  • siapkan sederet pertanyaan yang bisa membuat siswa fokus dalam mengerjakan tugas dari anda dengan menggunakan laptop dan internet
  • minta siswa untuk saling mengajari, hal ini mencegah anda untuk sibuk berkeliling menolong siswa anda padahal ada siswa yang bisa membantu temannya.
  • pastikan semua siswa mengerti hal yang anda perintahkan, membiarkan siswa menggunakan laptop saat mereka belum jelas apa yang mesti dikerjakan hanya akan membuat siswa mengerjakan hal yang lain.
  • Sekali lagi laptop hanya alat untuk belajar, ia tidak akan pernah menggantikan peran guru. Seorang guru walaupun menggunakan laptop mesti sadar juga bahwa tidak begitu saja laptop menggantikan perannya dalam mengajar siswa, apalagi jika laptop hanya digunakan untuk mengisi waktu atau hanya untuk main saja. Dengan laptop proses belajar mengajar di kelas mesti bertambah efektif dan makin membuat siswa cinta dan senang belajar
Apakah anda punya pengalaman yang sama seperti saya alami? Bagaimana anda membuat siswa tetap mau belajar walau sebenarnya mereka inginnya bermain games dengan laptop?

Indikator seorang guru berhasil mengelola perilaku siswa di kelasnya


Sebagai seorang guru, dalam keseharian ditangan kitalah tanggung jawab untuk mengelola perilaku siswa. Baik atau buruk perilaku siswa, tugas kita lah untuk merubah yang buruk dan memelihara hal yang baik. Ada beberapa indikator yang saya yakin berguna untuk mengukur sejauh mana kita sudah melakukan yang terbaik dalam mengelola siswa. Semuanya saya dapat dari situs teachers.net. silahkan menikmati indikator-indikator berikut ini.
Indikator seorang guru berhasil mengelola perilaku siswa di kelasnya
1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
2. Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.
3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)
6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari
Ada dua hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak.
1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...