Kamis, 28 Juni 2012

PERENCANAAN PEMBELAJARAN





Perencanaan merupakan suatu alat untuk mencapai suatu tujuan  tertentu. Perencanaan (Mudjiarto, 2002:41)1 merupakan patokan dan alat kendali yang harus diikuti dalam pelaksanaan kegiatan. Untuk memudahkan dan mengarahkan guru dalam kegiatannya mencapai tujuan pembelajaran agar tidak terjadi  penyimpangan dari tujuan yang ingin dicapai, guru memerlukan standar acuan kerja atau perencanaan yang mateng dan teruji kelayakannya untuk diterapkan dalam pembelajaran. Perencanaan yang mateng dijadikan sebagai patokan pembelajaran akan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan juga kegiatannya  terkendali pada suatu proses yang tepat.
Tidak selamanya perencanaan bisa memberikan manfaat yang maksimal, tetapi perencanaan mutlak sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, Mudjiarto: 44.2 Perencanaan memang  tidak akan mampu meramalkan dengan sempurna apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, ataupun memecahkan semua permasalahan. Namun, proses perencanaan yang tepat, bagaimanapun juga akan mengurangi jumlah ketidak pastian. Proses perencanaan juga akan membantu memperbaiki tujuan yang telah ditetapkan, serta memperbaiki metode untuk melakukan penilaian, karena itu tidak bisa ditinggalkan dalam kegiatan sekolah.
Filsafat perencanaan, Husaini Usman,2005:53,3  terdiri dari (1) sintesis, bahwa perencanaan adalah proses psikologi dalam bentuk pembelajaran yang menekankan pada transaksi interpersonal, (2) rasionalisme, bahwa perencaaan dipandang sebagai suatu bentuk pengambilan keputusan, suatu proses yang mengikuti langkah-langkah prosedural dalam pengambilan keputusan, (3) pengembangan organisasi, bahwa perencanaan adalah sebagai salah satu metode perencanaan proses pembelajaran mengenai kesadaran dan prilaku anggota organisasi, (4) empirisme, membagi teori perencanaan atas : alirang yang memusatkan perhatiannya pada aspek politik dan realitas fungsi ekonomi pada skala nasioal dan yang memfokuskan perhatiannya pada berbagai studi politik pembangunan kota.
Berdasarkan hal di atas, maka sebelum melakukan pengorganisasian perlu direncanakan apa yang akan diorganisasikan, siapa saja yang diorganisasikan, kapan diorganisasikan, bagaimana mengorganisasikan. Demikian juga, sebelum melakukan pelaksanaan, terlebih dulu perlu direncanakan apa yang akan dilaksanakan, siapa yang melaksanakan,  dimana dilaksanakan, bagaimana melaksanakan. Sebelum pengawasan terlebih dalu perencanaan apa yang akan diawasi, siapa yang mengawasi dan diawasi, bilamana diawasi dan bagaimana mengawasi. Sebelum pembelajaran dilaksanakan guru harus membuat perencanaan apa yang diajarkan, kepada siapa diajarkan, dimana dan kapan diajarkan serta media dan alat apa digunakan , bagaimana mengajarkan, bagaimana mengevaluasi hasil belajar dan tindakan selanjutnya.
            Perencanaan  (Husaini Usman, 2005:55)4 adalah proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternative (pilihan) mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan penilaian dan penilaiannya atas hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Perencanaan, H. Syaiful Sagala, 2000:46,5   adalah awal dari proses-proses rasional, dan mengandung sifat optimisme yang didasarkan atas kepercayaan bahwa akan dapat mengatasi berbagai macam permasalahan. Perencanaan adalah proses menentukan sasaran, alat, tuntutan-tuntutan, taksiran, pos-pos tujuan, pedoman dan kapasitas (commitment) yang menghasilkan program-program sekolah yang terus berkembang. Dengan kata lain perencanaan ialah kegiatan yang akan dilakukan  di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan. 
            Perencanaan pembelajaran menurut Muhaimin, 2002:219:6  meliputi strategi pengorganisasian isi (materi) pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran. Tugas pembuat perencanaan pembelajaran,  Muhammad Joko Sosilo, 2007:155,7 adalah (1) memahami standar kompetensi dan silabus yang berlaku secara nasional dan local yang sudah dikembangkan oleh Depdikas dan Dinas Pendidikan Kbupaten, (2) mengembangkan silabi sesuai sesuai dengan kondisi siswa dan kebutuhan masyarakat sekitar sekolah, (3) mengembangkan materi ajar, (4) merumuskan indicator pencapaian kompetensi, dan (5) mengembangkan instrument penilaian. Rencana pembelajaran memuat metode pembelajaran, perkiraan waktu, pemanfaatan fasilitas, pola penilaian dan tindak lanjut.  
            Husaini Usman mengemukakan tujuan perencanaan adalah : (1) untuk standar pengawasan yaitu untuk mencocokkan pelaksanaan dengan perencanaannya, (2) untuk mengetahui kapan selesainya suatu kegiatan, (3) untuk mengetahui biaya dan mutu pekerjaan, (4) untuk mengetahui siapa  saja yang terlibat, (5) untuk mendapatkan kegiatan yang sistematis, (6) utuk meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga, dan waktu, (7) untuk memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan, (8) untuk menyerasikan dan meterpadukan beberapa subkegiatan, (9) utuk menditeksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui, (10) untuk mengarahkan pada pencapaian tujuan. Menurut Suwarna8  tujuan perencanaan adalah : (1) untuk pengganti keberhasilan yang diperoleh secara untung-utnungan atau nasib mujur, (2) sebagai alat untuk menemukan dan memecahkan masalah, (3) untuk memanfaatkan sumber secara efektif.  
            Perencanaan (Mudjiarto,2002:47):9 merupakan alat untuk mengarahkan  kegiatan sekolah. Perencanaan juga merupakan suatu patokan atau pedoman yang selalu harus dipegang oleh semua pihak di sekolah, untuk mencapai suatu tujuan yang telah disepakati bersama. Merencanakan kegiatan disekolah berarti ada keinginan untuk eramalkan atau memperkirakan apa yang akan terjadi, dan langkah apa yang harus dijalani. Menurut Husiani, manfaat perencanaan adalah (1) sebagai alat atau standar pelaksanaan dan pegawasan agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan, (2) melalui perencanaan dapat dilakukan pemilihan berbagai alternatif terbaik, penyusunan skala prioritas baik sasaran maupun kegiatan, dan dapat dihindarkan kebocoran-kebocoran atau pemborosan sumberdaya pembangunan, (3) membantu manager menyesuaikan diri dengan perubahan lingkunga, (4) memudahkan dalam koordinasi pihak terkait, (5) meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti, (6) menghemat sumberdaya yang ada. Perencanaa, Suwarna, memberikan dua keuntungan besar yaitu (1) sebagai suatu alat utuk menganalisis, mengidentifikasi, dan memecahkan masalah sesuai dengan yang diinginkan, (2) memiliki daya ramal dan kontrol yang baik, karena didukung dengan langkah-langkah : a) perumusan kebutuhan secara spesifik dan nyata, b) penggunaan logika, proses setapak demi setapak utuk menuju perubahan yang diharapkan, c) perhatian dan penentuan salah satu di antara macam-macam pendekatan yang lebih sesuai situasi dan kondisi, d) penetapan mekanisme feedback yang memberi informasi tentang kemajuan, hambatan-hambatan serta perubahan-perubahan yang diperlukan, e) penggunaan istilah dan langkah yang jelas, mudah dikomunikasikan dan dipahami orang lain.
            Perencanaan (Husaini Usman,2005:55)10 mengandung unsur-unsur: (1) sejumlah kegiatan yang ditetapkan sebelumnya, (2) adanya proses, (3) hasil yang ingin dicapai, dan (4) manyangkut masa depan dalam waktu tertentu. Perencanaan menurut Handoko,2003,11 adalah (1) pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi, (2) penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, metode, system, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembelajaran sebagai suatu system, Suwarna, 2007:34,12  terdiri atas komponen : input, proses, output dan outcome. Komponen input system pembelajaran dapat berupa siswa, materi, metode, alat, media pembelajaran, perangkatr-perangkat pembelajaran yang lain termasuk persiapan atau pereencanaan pembelajaran. Komponen proses berupa tempat atauaktivitas berinteraksinya berbagai input. Komponen output berupa prestasi belajar, perubahan sikap, perubahan prilaku, skor atau nilai penguasaan materi suatu mata pelajaran dan lain lain, komponen outcome berupa seberapa jauh  nilai atau prestasi belajar memiliki makna  atau dapat menopang keberhasilan pembelajaran lain.
Perencanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru berujud penyusunan satuan pembelajaran (SP)  atau  satuan acara pembelajaran (SAP), dan dapat pula dalam bentuk rancangan pembelajaran (RP). Dasar penyusunan SP atau RP adalah pemahaman guru tentang komponen-komponen pembelajaran yang dalam kurikulum 1994 (samlemen1997)13 terdiri dari :  (1) Komponen tujuan pembelajaran, (2) Komponen  materi pembelajaran, (3) Komponen  kegiatan belajar mengajar (KBM),  (4) Komponen  metode pembelajaran,  (5) Komponen  media pembelajaran, dan  (6) Komponen  evaluasi pembelajaran.
Tujuan pembelajaran dapat di bedakan kedalam tujuan pembelajaran umum  (TPU/TUP) dan tujuan khusus pembelajaran atau tujuan pembelajaran khusus (TKP/TPK). Tujuan-tujuan ini dalam upaya menunjang ketercapaian tujuan kurikuler (TK) atau disebut juga dengan tujuan mata pelajaran, tujuan institusional (TI) atau disebut juga tujuan lembaga dan tujuan nasional (TN) atau disebut juga tujuan pendidikan di negara Indonesia.
Komponen kurikulum 2004 (KBK)14 terdiri dari : Standar Kompetensi (SK), Komponen Kopetensi Dasar (KD),  indikator kompetensi (IK),  komponen pembelajaran : kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan akhir,  komponen metode pembelajaran,  komponen alat / media, bahan dan sumber pembelajaran,  komponen penilaian (evaluasi) pembelajaran.

Contoh Model SP Kurikulum 1994

Bidang studi            : .....................................
Pokok bahasan       : .....................................
Sub pokok bahasan: …………………………
Kelas                     : ……………………….
Semester                : ……………………….
Waktu                    : …………………………..




Tujuan pembelajaran (TPU,TPK)
Materi pembelajaran
Kegiatan pembelajaran
Metode pembelajaran
Media pebelajaran
Evaluasi pembelajaran








Contoh model SP SP KBK
       Mata pelajaran                         : …………………
       Kelas / semester                       : ………………….
       Alokasi waktu              : ………………….
       Aspek / sub aspek                    : ………………….
Standar kompetensi
Kompetensi dasar
Indicator kompetensi
Pengalaman pelajar
metode
Media/alat dan sunber
Evaluasi / penilaian









Komponen pembelajaran ini harus di bedakan dengan komponen pendidikan yang terdiri dari :  komponen guru / pendidik,  komponen siswa / si terdidik,  komponen kurikulum pendidikan, dan  komponen sarana dan prasarana pendidikan.
Ketika membicarakan komponen pendidikan, maka harus pula diketahui jenis jenis lembaga pendidikan yang terdiri dari :  Lembaga pendidikan formal (sekolah),  Lembaga pendidikan non formal (keluarga),  Lembaga pendidikan masyarakat,  Lembaga pendidikan pramuka,  Lembaga pendidikan media massa.

Model – model Perencanaan Pembelajaran.
            Ada sebelas model perencanaan pembelajaran yang dikemukakan oleh Suwarna15 yaitu : (1) System Approach for Educational (SAFE),  (2) Michigan State Uiversity Instructional System Development Model, (3) Prject MINERVA Instructional System Design, (4) Model Kemp, (5) Teaching Research System, (6) Banathy Instructional Development System, (7) Model Dick & Carey, (8) Model Kombinasi Kemp & Dick, (9) Instructional Development Institute (IDI),  (10) Prosedur Pengembagan Sistem Instruksional (PPSI), (11) Model Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). (12) Pembelajaran CBSA (cara belajar siswa aktif) Muhammad Joko Susilo ,2007:156,16 mengemukakan  penyusunan perencanaan pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).


PERENCANAAN PEMBELAJARAN  MODEL KBK
            Kurikulum berbasis kompetensi (Muhammad Joko Susilo,2007:100)17 dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Untuk mendapatkan hasil yang baik diperlukan perencanaan pembelajaran yang dibuat secara baik, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, sehingga perencanaan tersebut dapat menggambarkan  seluruh keriteria yang dibutuhkan dalam pencapaian suatu tujuan pembelajaran, melalui proses proses yang disiapkan secara matang. Proses-proses dalam perencanaan pembelajaran adalah sebagai berikut:  
1.Pemilihan Materi Pelajaran
            Materi pembelajaran secara garis besar, Abdul Gafur,2003,18  adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus diajarkan oleh guru disatu pihak, dan dipelajari siswa di pihak lain. Secara khusus, materi pembelajaran terdiri dari fakta, konsep, prinsip, prosedur, dan sikap atau nilai. Termasuk materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa senarah, lambing, nama tempat, nama orang, dsb. Termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi, cirri khusus, komponen atau bagian sesuatu obyek. Perinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan materi pembelajaran adalah prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan, dengan criteria standar kompetensi  dan kompetensi dasar.
            Langkah pemilihan materi pembelajaran (1) Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdiri dari a) kognitif yang meliputi pengetahuan, pemahaan, aplikasi, sintesis, analisis, dan penilaian, b) psikomotorik yang meliputi gerak awal, semi rutin, dan rutin, c) sikap yang meliputi pemberian respon, apresiasi, penelitian, dan internalisasi ; (2) Identifikasi jenis materi pelajaran yang berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau psikomotorik.
            Agar menjadi mudah dalam mengidentifikasi materi pembelajaran, Abdul Gafur,19 mengemukakan diagram.

                                    Proses pemilihan materi pembelajaran
    Pilih kompetensi dasar
    Yang akan diajarkan
                                                                      Materi Pembelajaran Fakta 
                                                                        Contoh:
                                                                        Jenis-jenis binatang memamah 
     Apakah kompetensi dasar                          biak, tanaman berbiji tunggal,
     berupa mengingat fakta?                            Nama-nama bulan dalam setahun.
                                                                        Kata kunci:
                                                                         Nama,jenis,jumlah,tempat.
  Apakah kompetensi dasar berupa               Materi pembelajaran konsep.
   Mengemukakan suatu definisi,                   Contoh;
   menjelaskan, mengklasifikasika                 Bujursangakar ialah empat persegi panjang
   beberapa contoh / sesuai dengan                 yang keempat sisinya sama panjag. Kata
   definisi                                                         kunci, definisi, klasifikasi, ciri-ciri
                                                                
                                                                                                                                                                          
      
      Apakah kompetensi dasar                              Materi pembelajaran prinsip.                 
      Berupa menjelaskan                                       Contoh:
      Hubungan antara berbagai                              Jika permintaan naik, sedangkan
      Konsep, sebab-akibat?                                    Penawaran tetap, maka harga
                                                                              akan naik.
                                                                              Kata kunci:
                                                                              Hubungan, sebab-akibat, jika, maka 

     Apakah kompetensi dasar yang                          Materi pembelajaran prosedur.       
     harus dikuasai berupa menjelaskan                    Contoh:    
     langkah-langkah mengerjakan                           Cara mengukur suhu badan,  
     sesuatu sesuai dengan prosedur                          menggunakan termometer.
     tertentu ?                                                              kata kunci : langkah-lngkah 
                                                                                  mengerjakan tugas secara urut.


                                                                                     
                                                                                                                        Materi pembelajaran aspek afektif / sikap
     Apakah siswa diminta untuk memilih                Contoh: Sikap jujur, motivasi tinggi
     sikap tertentu terhadap suatu obyek                    minat belajar besar, menjauhi perbuat
     atau kejadian ?                                                       tercela, dsb.
                                                                                 Kata kunci : sikap atau nilai
                                                                                      .

    Apakah siswa dimita untuk melakukan              Materi pembelajaran aspek motorik
     suatu perbuatan dengan menggunakan              Contoh :
     sebagian atau keseluruhan anggota                    Lompat tinggi, lompat galah, lari 100
     badan?                                                                Meter, berenang, tinju, pencak              
                                                                                silat, dsb.
                                                                                Kata kunci: Kegiatan fisik.


















Satuan Palajaran
 
Tim Perekayasa Kurikulum
 
Perguruan Tinggi
 
MGMP Sekolah
 
P``Gambar 1. Penyusunan  Satuan Pembelajaran KTSP             Gambar 2. Penyusunan Rencana KBM

Penyusunan Rencana Penilaian Hasil Belajar Siswa Penyusunan Jadwal KBM















Perbedaan Kurikulum 1994 dengan  Kurikulum 2006   (M.Joko Susilo,2007)20

Asapek
Kurikulum 1994
Kurikulum 2006
Kewenangan pengembangan
Seluruhnya berada di tagan pusat dan daerah hanya kebagian pegembangan kurikulum local dengan porsi 80 % pusat dan 20 % daerah
Pusat hanya mengembangkan kompetensi sebagai sebagai standar sedangkan elaorasi kompetensi diserahkan daerah/ sekolah dalam bentuk silabus
Pendekatan pembelajaran
Sebagian besar berbasis konten / isi
Berbasis kompetensi
Penataan isi /  konten (struktur program)
Tidak terjadi penataan materi, jam belajar, dan struktur program
Terjadi penataan materi, jam belajar, dan struktur program


Perbedaan Kurikulum 1994 dengan Kurikulum  Berbasis Kompetensi (Mulyasa,2002)21
NO
KURIKULUM 1994
KBK
1
Menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan, yang menekankan pada isi atau materi berupa pengetahua, pemahaman, aplikasi, analisis, sintetsis, dan evaluasi yang diambil dari bidang bidang ilmu pengetahuan
Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada dimasyarakat
2
Standar akademis yang diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik
Standar kompetensi yang memperhatikan perbedaan individu,baik kemampuan, kecepatan belajar, maupun konteks sosial budaya
3
Berbasis konten, sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulisi denga sejumlah ilmu pengetahuan (transfer knowledge)
Berbasis kompetensi, sehingga peserta didik berada dala proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan
4
Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi, sehingga Deodiknas memonopoli pengembangan ide dan konsepsi kurikulum
Pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi, sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum
5
Materi yang dikembangkan dan diajarkan di sekolah seringkali tidak sesuai dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah
Sekolah diberi keleluasaan utuk menyusun da mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat megakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah
6
Guru merupakan kurikulum yang menentukan segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas
Guru sebagai fasilitator yag betugas mengondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar peserta didik
7
Pengetahuan keterampilan dan sikap dikebangkan melalui latihan, seperti latihan mengerjakan soal
Pengetahuan, keterampilan, dan sikap dikembangkan berdasarka pemahama yang aka membentuk kompetensi individual
8
Pebelajaran cenderung hanya dilakuka di dalam kelas, atau dibatasi oleh empaty dinding kelas
Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadiya kerjasama antara sekolah, masyarakat, dan dunia kerja dalam membentuk kompetensi peserta didik
9
Evaluasi nasional yang tidak dapat meyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik
Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar














BAGAN SYSTEM APPROACH FOR EDUCATIONAL (SAFE)
MEILAI
KEBUTUHAN
1
MENENTUKAN TUJUAN MISI

2
MENENTUKAN PERSYARATAN PENAMPILAN MISI

3
MENENTUKAN HAMBATAN

4
MENENTUKAN PROFIL MISI
MENENTUKAN PERSYARATAN DAN HAMBATAN

5
MELAKUKAN ANALISIS FUNGSIONAL
MENENTUKAN PERSYARATAN DAN HAMBATAN

6                                                                                                                                                                                                                                                        ANALISA SISTEM
MELAKUKAN ANALISIS TUGAS
MENENTUKAN PERSYARATAN DAN HAMBATAN
APA       
7                                                                                                                                             
MELAKUKAN ANALSIS METODE DAN ALAT
MENENTUKAN PERSYARATAN DAN HAMBATAN

8                                                                                       MEMBUAT KEPUTUSAN FINAL (TERUS BERHENTI)











 


1                                                                             MENGIDENTIFIKASI STRATEGI PERENCANAAN MASALAH

2                                              MENDESAIN PENGELOLAAN/ RENCANA PELAKSANAAN UNTUK SETIAP ALTERNATIF

3                                                    MENGANALISA ALTERNATIF DARI SEGI KEEFEKTIFAN DAN KEUNTUNGA BIAYA
 


4                                                                                                                                             
MEMILIH RENCANA PENGELOLAAN DAN PELAKSANAAN
YANG MEMPUNYAI KEEFEKTIFAN BIAYA YANG OPTIMAL

BAGAIMANA
5                                                                                                                                             
MENYUSUN RECANA VALIDASI ATAU TES LAPANGAN
(METODE/ALAT/MEDIA) SEPERTI YANG DIPERLUKAN
SINTESIS SISTEM


 

6                                                           INPLEMENTASI/ PNGELOLAAN PEMANTAUAN RENCANA PELAKSANAAN


7                                                                                MENGEVALUASI PENAMPILAN (PROSES DAN PRODUK)

8                                                                     MEREVISI UNTUK MENCAPAI PRESTASI YANG DIPERSYARATKAN












BAGAN MODEL DICK & CAREY


                                                                                                                                  REVISI

                                                                                                                                  
                                                MELAKSNAKAN                                                                                                                                DESAIN DAN
                                                ANALISIS PEMBEL                                                                                                                       MELAKSANAKAN
                               AJARAN                                                                                                                                         EVALUASI FORMATIF



















 

IDENTIFIKASI
         TPU


 

                                                                        IDENTIFIKASI
                                                                                TPK

                                                   


 


                                                                                         MENGEMBANGKAN
                                                                                         TES ACUAN KRITERIA               


            
                                                                                                           MENGEMBANGKAN
                                                                                                           STRATEGI
                                                                                                           PEMBELAJARAN







 



                                                                                                                                       MENGEMBANGKAN
                                                                                                                                        DAN MEMILIH SUMBER
                                                                                                                                       ALAT & MEDIA
                                                                                                                                        PEMBELAJARAN



                                             IDENTIFIKASI
                                             KEMAMPUAN AWAL
                                             DAN KARAKTERISTIK
                                             SISWA


                                                                                                                                                                                                                DESAIN DAN
                                                                                                                                                                                                                MELAKSANAKAN
                                                                                                                                                                                                                EVALUASI SUMATIF





DIAGRAM SISTEM PERENCANAAN PEMBELAJARAN SEDERHANA

MENGIDENTIFIKASI           MENGIDENTIFIKASI           MENGIDENTIFIKASI
















                                                    
                                                          MEREVISI

BAGAN MICHIGAN STATE UNIVERSITY INSTRUCTIONAL
SYSTEM DEVELOPMENT MODEL
                                                                                 MENENTUKAN TUJUAN PENDIDIKAN UMU
                                                                                                                    PERTI, FAKULTAS, JURUSAN, MT KULIAH
 
                                                                    
                                                                                                                                                      MULAI


 

 
                                                                                                                       MENGUMPULKAN DATA MASUKAN


 


                                                                                                              MENENTUKAN PRILAKU AWAL  DAN AKHIR


 


     MENGEMBANGKAN
       RASIONAL UNTUK                                                                MENGKOMBINASIKAN SELURUH DATA MASUKAN
    UJIAN AWAL & AKHIR
 

                                                                                                                MENGEMBANGKAN CONTOH PENGAJARAN
                                                                                                                         UNTUK ISI PELAJARAN TERTENTU
                                 MERENCANAKAN
                                        STRATEGI
                                                                                                                       MEMILIH BENTUK INFORMASI YANG                                               
                                                                                                                                           REFRESENTATIF


 



                                                                                                                            MENENTUKAN ALAT TRANSMISI


                                                                                                             MENGUMPULKAN, MENDESAIN, MEMPRODUKSI
                                                                                                                           MEDIA YANG TELAH DITENTUKAN


 



               
                                                                                                                                              MERAMPUNGKAN


 



                                                                                                                    TES LAPANGAN DENGAN KELOMPOK SISWA
                                                                                                                                       MENGEBANGKAN INSTRUMEN



               EVALUASI DENGAN MENG
              GUNAKAN DATA MAHASISWA                                                                    MENGIDENTIFIKASI DAN
                DAN INFORMASI MEDIA                                                                           MEMPERBAIKI KESALAHAN
                                                                                  
 
                                                                                                                             PENERAPAN KEPADA MATA KULIAH
                                                                                                        


                                                                                                                         EVALUASI DAN MENGULANG KEMBALI 
                                                                                                                         UNTUK MEMPERBAIKI SEBAGAIMANA
                                                                                                                                             DIPERLUKAN


Bagan projek MINERVA Instruksional Syatem Design
MENGUMPULKAN
DATA PEKERJAAN
 

MENGIDENTIFIKASI
PERSYARATAN LATIHAN

                                                                                           MERUMUSKAN                                                   MENYUSUN TEN        
                                                                                     TUJUAN PENAMPILAN                                               PENAMPILAN


 



      
          MEMILIH ISI                                                                                                                                       MEMILIH STRATEGI
     MATA PELAJARAN                                                                                                                                    INSTRUKSIONAL






 

MEMPRODUKSI
BAHAN INSTRUKSIONAL


 


      MENGEVALUASI                                                      MELAKSANAKAN                                              MELAKSANAKAN  
          KEGIATAN                                                                   KEGIATAN                                                                    DAN
      INSTRUKSIONAL                                                     INSTRUKSIONAL                                                MENGANALISA TES


 


TINDAK LANJUT LULUSAN





Bagan Model Kemp

               
     MENENTUKAN TOPIK  DAN TPU


 


 MENENTUKAN KARAKTERISTIK SISWA
 


 
        MENENTUKAN TOPIK DAN TPK







 


    MENENTUKAN MATERI PELAJARAN








 


              MENENTUKAN PRETES








 


MENENTUKAN KBM DAN SUMBER/ ALAT                                                 KOORDINASI SARANA PENDUKUNG







 


                          EVALUASI




Bagan Banathy Instructional Develomet System


































 

         ANALISIS DAN                                            ANALISIS DAN PERUMUSAN TUGAS-TUGAS BELAJAR
      PERUMUSAN TUJUAN



               MAKSUD                                    MENEMUKAN                        MENILAI                   MENGIDENTIFIKASI DAN
                SISTEM                                      TUGAS-TUGAS                   KOMPETENSI           KARAKTRISTIK TUGAS-TUGAS
                                                                      BELAJAR                            MASUKAN                       BELAJAR YANG AKTUAL
  
             SPESIFIKASI                                                                                      TES
                 TUJUAN                                                                                    MASUKAN


























 




                    TES                                                                            INPLEMENTASI DAN KONTROL KUALITAS
                 ACUAN
               PATOKAN                                            
                                                                                   ANALISIS FUNGSI                            ANALISIS KOMPONEN







 

                                                                                                                     
                                                                                                                      DISTRIBUSI





















 



                                                                                                                  
                                                                                                                   PENJADWALAN                                                                                                               
















 


                                                                                            IMPLEMENTASI DAN KONTROL KUALITAS



                                                                                   
                                                                                   LATIHAN SISTEM                                             TES SISTEM






























 


                                                                                                                        PELAKSANAAN



















 


                                                                                                                        MENGEVALUASI


 

                                                                      


 

                                                                                                      MENGUBAH UNTUK PENINGKATAN
















Perencanaan Model Kombinasi Kemp & Dick

Identifikasi Topik dan TPU

    Identifikasi Kemampuan awal                                                                                                                   Melaksanakan Analisis
         Dan Karaktristik Siswa                                                                                                                                Pembelajaran
Menuliskan TPK







 

Mengembangkan Tes Pengukuran Keberhasilan













 

Menentukan Materi Pelajaran












 

Mengembangkan Dan Memilih Sumber












 

Mengembangkan  Strategi Pembelajaran, Alata/ Media








          Revisi
Mengembangkan & Melaksanakan Evaluasi Formatif


 

Mengembangkan & Melaksaakan Evaluasi Sumatif





Perencanaan Model Deplopment Institute (IDI)

    Tahap I                          Fungsi 1                                          Fungsi 2                                       Fungsi 3                              
  Penentuan                        Identifikasi Masalah                      Analisis Setting                            Pengelolaa
   (Define)                          *  Analisis Kebutuhan                    * Audiensi                                    * Tugas
    *Tentukan Prioritas                        * Kondisi                                      * Tanggungjawab
    *Rumuskan Masalah                      * Sumber                                      * Jadwal





      Tahap II                       Fungsi 4                                         Fungsi 5                                       Fungsi 6
   Pengembangan               Identifikasi TPK                             Tentukan Metode                        Buat Prototipe
     (develop)                      * Tujuan Akhir                               * Belajar Mengajar                      * Paket Pembelajara
                                           * Tujuan antara                              * Media                                        * Instrumen Evaluasi
                                                                                                  * Materi






      Tahap III                      Fungsi 7                                          Fungsi  8                                      Fungsi  9
      Penilaian                       Testing Prototipe                            Analisis Hasil                              Implementasi
     (Evaluatio)                    * Ujicoba                                         * Tujuan                                       * Reviu
                                           * Kumpula Data                              * Metode                                      * Revisi
                                                                                                    * Teknik Evaluasi                       * Tentukan selanjutnya










Bagan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)

















































 


           I Perumusan Tujua                                                                         III. Kegiatan Belajar
           * Menetukan TPU/TIK                                                                        1. Merumuskan semua kemungkinan
           * Memenuhi 3 kriteria                                                                             kegiatan belajar untuk mancapai tujuan
             1.Menggunakan Istilah Oprasional                                                    2.Menetapkan kegiatan belajar
             2.Berbentuk Hasil Belajar                                                                     yang tak perlu ditempuh
             3. Hanya satu jenis tingkah laku                                                        3. Menetapkan kegiatan yang akan ditempuh
















 


           II. Pengembangan Alat Evaluasi                                                    IV.  Pengembangan Alat Evaluasi
               1.Menentukan jenis tes yang akan                                                  1.Merumuskan materi pelajaran
                  digunakan untuk menilai tercapai                                                2. Menetapkan metode yang dipakai
                  tidaknya tujuan                                                                             3. Alat pelajara/ buku-buku yang dipakai
               2. Merencanakan pertanyaan untuk                                                 4.Menyusu jadwal
                   menilai masing-masing tujuan













 


 V.   Pengembangan Alat Evaluasi
      1.Mengadakan Pretest
      2. Menyampaikan Materi pelajara
      3. Mengadakan posttest
      4. Perbaikan          








Bagan Model Kurikulum Berbasis Kompetensi  (KBK)


STANDARD KOMPETENSI


 

 
KEMAMPUAN DASAR







 


INDIKATOR / HASIL BELAJAR








 





MATERI PEMBELAJARAN










 


STRATEGI PEMBELAJARAN










 


PENILAIAN / ASSESMENT










 


TINDAK LANJUT







BAGAN TEACHING RESEARCH SYSTEM






























 

Tahap                         Mengidentifikasi                    Menentukan                              Mengidentifikasi 
Pendefinisian             Masalah                                  dan Memilih                               Populasi siswa
Dan                            Instruksional                            Stap Pendukung
Pengelolaa                                                                                                               
System                                                                                                                        Mengumpulkan Bahan
                                                                                    Menentukan                              Pengajaran
                                                                                     Konterol
                                                                                    Pengelolaan                            
                                                                                                                                     Menganalisis Contex
                                                                                                                                      Instruksional


















 



Tahap               Mengidentifikasi                    Menentukan                        Mengidentifikasi           Menentukan
Aalisis              Tujuan prilaku                        Tujuan khusus                    Type belajar                   Kondisi
Desain                                                                                                                                                Belajar                          Menentukan
                                                                                                                                                                                                Kegiatan
                                                                                                                                                                                                Instruksional
                          Menyusun                              Menyusun                                                                 Menentukan
                          Pengukuran                            Pengukur                                                                   Penyesuaian
                          Penampilan                            Penampilab khusus                                                   Perbedaan
                                                                                                                                                           Individual







 


                      
                      
                          Mengembangkan                   Uji coba                     Menganalisis                   Memodifikasi                   Mengulang
                           Prototipe                                Prototipe                   Hasil                                Sistem                               Kembali
                          Instruksional                                                             Ujicoba                           Instruksional





















 


Tahap                   Reviu                                    Menyelenggara          Menganalisis
Pengembangan     Tehnis &                               kan tes                      Tes
& Penilaian          Komunikasi                           Penampilan




Kegiatan  Cara Belajar Siswa Aktif(CBSA)

Menyiapkan Lembar Keja
 

Menyusun Tugas Bersama Siswa


 

Memberikan Informasi Kegiatan


 

Memberikan Bantuan dan Pelayanan


 

Menyampaikan Pertanyaan Membangun Pola Pikir


 

Mengarahkan /untuk Menyimpulkan dan Melayani siswa Lemah


 

Manyalurkan Bakat  Minat


 

Mengamati Aktivitas Siswa dan Pelaporan Siswa


MODEL SILABUS
Nasma sekolah           :________________________
Mata Pelajaran           : _______________________
Kelas                          : ________________________
Semester                     : ________________________
Standar Kompetensi   : ________________________

NO
KEMAMPUAN
DASAR
MATERI
PEMBELAJARAN
URAIAN ATERI
PEMBELAJARAN
PENGALAMAN
BELAJAR SISWA
ALOKASI WAKTU
SUMBER BAHA

Jabaran dari  standar kompetensi
Jabaran dari kemampuan dasar
Jabaran dari materi yang telah dirumuskan
Kegiatan belajar siswa yang dipilih untuk mencapai penguasaan kemampuan dasar
Waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing kemampua dasar
Jenis sumber bahan yang digunakan
Daftar acua:
Nama penulis, tahun terbit, judul buku, kota penerbit :nama penerbit22


PENENTUAN KOMPETENSI DASAR
Dapat menggunakan (1) bentuk prosedural seperti langkah mengerjakan tugas ; (2) bentuk hirarkis yang digunakan bila kompetensi yang satu dengan yang lain merupakan prasyarat ; (3) bentuk spiral bila pokok bahasan diberikan berulang dari kelas terendah ke jejang kelas lebih tinggi dan semakin luas dan mendalam ; (4) bentuk webb (jala)  bila suatu tema diintegrasikan pada beberapa mata pelajaran.


 
Hukum







 



                 Ekonomi                                                                    Zakat                                                                      Sosial




















 



                                                     Komunikasi                                                                   SDM




KLASIFIKASI MATERI

FAKTA
KONSEP
PROSEDUR
PRINSIP
Menyebutkan kapan, dimana, berapa, siapa, bentuk apa,  peristiwa, dan lain-lain
Definisi, identifikasi, klasifikasi, ciri-ciri, hakekatn isi, dan lain lain
Bagan arus, langkah-langkah kerja, dan lain lain
Penerapan dalil, rumus, hipotesis, hubungan antar variable, paradigma, dan lain-lain

















RENCANA PEMBELAJARAN
Fakultas, Jurusan         :............................................................
Mata Pelajaran             :............................................................
Kelas, Semester           :.............................................................
Alokasi Waktu             :
Standar Kompetensi     :..............................................................
1.KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
   Kompetensi Dasar :...........................................................................................................................................................................
   Indikator :
............................................................................................................................................................................
2. MATERI POKOK DAN URAIANNYA
............................................................................................................................................................................
3. STRATEGI PEMBELAJARAN
    Pengalaman Belajar          : rumusannya diambil dari silabus
    Metode                              : eksprimen, demonstasi, diskusi, informasi dll
    Pendekatan                        : CTL,Keterampilan Proses,dll
    Langkah langkah pembelajaran
a.        Pendahuluan    
1)  Membuka Pelajaran
     Membuka pelajaran berisis salam, mengecek kesiapan siswa
2) Apersepsi (Prasyarat Pengetahuan)
Apersepsi berisi pertanyaan tentang pengetahuan yang telah diketahui dalam   kehidupan atau telah dipelajari pada pembelajaran yang lalu dan berhubungan dengan materi pokok  atau uraian materi pokok yang akan diberikan. Dan mengarah ke pembahasan berikutnya.
 3) Masalah (Topik materi)
Topik materi adalah masalah yang muncul dari apersepsi yang berupa klalimat pertanyaan dan sesuai dengan materi pokok yang akan dibahas
     b.    Kegiatan Inti 
Kegiatan inti berisi langkah langkah yang dilakukan dalam pembelajaran yang harus disesuaikan dengan metode dan pendekatan dengan mengutamakan aktivitas siswa sebagaimana rumusan silabus. Jika menggunakan LKS harus dilampirkan dalam rumusan ini.
b.       Penutup 
+Evaluasi proses
Pertanyaan tentang pengukuran penguasaan materi  yang telah disampaikan.
Pertanyaan langsung menggunakan lisan yang mengandung jawaban singkat dan jelas (short answer question atau pertanyaan tertutup).
+Rangkuman
  menyebutkan garis besar materi yang baru saja disampaikan
+Pemberian PR
+Pesan untuk peertemuan yang akan datang

                                                                    Pancor,................................2007
Menyetujui
Dosen Pangampu                                                      Mahasiswa



Drs. H. Humaidi Zain                                           .................................







SATUAN PELAJARAN
(format model PPSI)
Sekolah                        :
Kelas                           :
Semester                      :
Pokok Bahasan            :
Subpokok Bahasan      :
Waktu/jam Pertemuan :

I.                    TIU
II.                 TIK
III.               Materi Pelajaran
IV.              Kegiatan Pembelajaran
V.                 Metode,  alat,  media
VI.              Evaluasi
VII.            Sumber Bahan

                                                                                   Pancor,................,...................


            Mengetahui
          Kepala Sekolah                                                             Guru


          ......................                                                       ...............................


SP (model KBK, 1 )
Rencana Pembelajaran
                    Mata Pelajaran
                    Kelas/semester
                    Waktu
            Kompetensi Dasar (kemampuan dasar)
            Hasil belajar
            Indikator
            Materi
            Langkah-langkah pembelajaran
            Sarana dan Sumber belajar
            Penilaian
                                                                                  Pancor........................
            Mengetahui
            Kepala Sekolah                                                        Guru


            ........................                                                     ...........................

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­SP (model KBK 2 )

Rencana Pembelajaran
                    Nama Sekolah
                    Mata Pelajaran
                    Kelas/semester
                    Alokasi Waktu
            Standar Kompetensi
            Dasar Kompetensi
            Materi Pokok
            Indikator Pencapaian
            Metode
            Media
            Skenario pembelajaran (kegiatan awal, inti, akhir)
Penilaian ( instrumen & contoh instrumen )
Sumber Bahan

                                                                        Pancor,..,.................

Mengetahui
Kepala Sekolah                                                      Guru

..........................                                                 ...............................


RENCANA PEMBELAJARAN
(pendekatan kontekstual)

Mata pelajaran
Kelas
Semester
Waktu

  1. Tujuan
  2. Media
  3. Skenario pembelajaran (mempertanyakan pengalaman , membuat kelompok kerja siswa, membagikan alat dan bahan kerja, penuilitian materi peraktik,  laporan siswa tentang hasil penelitian atau peraktik, siswa enunjukkan hasil peraktik, siswa membuat catatan dan memberi istilah, laporan siswa secara lisan atas temuannya, guru memberikan komentar, membuat contoh-contoh sebagai perbandingan, membuat kesimpula).
  4. Penilaian  (kerja kelompok, LKS yang telah terisi, Catatn atau laporan tertulis siswa).



RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS CTL
Topik/Kegiatan                  : Mendeskripsikan Benda Misteri
Kompetensi Dasar             : Menulis Paragraf Deskreipsi
Bidang Studi                      : Bahasa Indonesia
Kelas/Semesteran              : 2/2
Waktu                                : 90 menit
  1. Tujuan
Melatih siswa mendeskripsikan ciri dan menemukan karakteristik benda-benda kemudian mengungkapkannya dalam sebuah paragraf dekriptif.
  1. Media
Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan media:
-         4 buah benda misteri yang dibungkus rapi (korek api, kotak sabun, akar pohon, dan lain lain)
-         1 lebar pengamatan
  1. Skenario Pembelajaran
1.      Guru menjelaskan rencana yaitu cara medeskripsikan atau menemukan ciri benda
2.      Siswa dibagi kepada beberapa kelompok
3.      Guru membagi benda yang telah disiapkan (masing kelompok tidak saling mengenal benda yang dibagikan).
4.      Siswa mendeskripsikan benda misteri dengan mengisi belangko yang ada
5.      setelah sesuai dengan waktu yang ditentukan, masing-masing kelompok mendeskripsikan dengan lisan dan yang lain menebak, dan secara bergiliran
6.      Siswa menyusun sebuah paragraf deskripsi  berdasarkan  data yang diperoleh secara kelompok.
  1. Penilaian
SATUAN PEMBELAJARAN (SP)
IDENTITAS MATA PELAJARAN
Jenjang pendidikan
Mata pelajaran
Kelas/Semester
Waktu
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR/KEMAMPUAN DASAR
MATERI POKOK
MATERI PELAJARAN
STRATEGI PEMBELAJARAN (SBM)
Taktik, pendekatan, keterampilan mengajar, strategi (kondisional)
MEDIA PEMBELAJARAN
PENILAIAN/ASESMEN DAN TINDAK LANJUT
SUMBER BACAAN
Buku paket, didukung degan : majalah, koran, brosur, buletin, jurnal, dll.


RENCANA PEMBELAJARAN (RP)
Pertemuan ke....
IDENTITAS MATA PELAJARAN
Jenjang pendidikan
Mata pelajaran
Kelas/semester
Waktu

KOMPETENSI DASAR
Siswa mampu : .................................................................................

MATERI POKOK
Sesuai silabus.......................................................
MATERI PEMBELAJARAN
Materi singkat
KRITERIA UNJUK KERJA (KUK)
Harus mencakup ketiga ranah:  kognitif, afektif, psikomotorik

STRATEGI PEMBELAJARAN (SBM)
Pendekatan
Metode
Langkah-langkah (membuka, kegiatan inti,menutup)

MEDIA PEMBELAJARAN
disesuaikan

PENILAIAN/ASESMEN

SUMBER BACAAN
        

MEDIA PEMBELAJARAN




PENDAHULUAN
            Secara sederhana, pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama, (Ahmad D. Marimba,1980;19)1 Menurut John S. Brubacher, bahwa pendidikan adalah proses dalam mana potensi – potensi, kemampuan kemampuan, kapasitas kapasitas manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaaan kebiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan kebiasaan yang baik, dengan alat (media) yang disusun sedemikian rupa, dan digunakan oleh manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuan tujuan yang ditetapkan (Sumitro dkk;17).2
            Berdasarkan batasan ini bahwa pendidikan mencakup berbagai dimensi seperti akal, perasaan, kehendak dan seluruh unsur atas kejiwaan manusia serta bakat dan kemampuannya melalui bimbingan yang dilakukan secara sadar dengan menggunakan bebagai media untuk mencapai suatu tujuan. Pendidikan yang dimaksud tentu saja bukan pendidikan dalam pengertian sederhana malainkan dalam pengertian menyeluruh, berkesinambungan, serta meliputi seluruh aspek kehidupan seseorang,  berlangsung sejak seseorang dilahirkan sampai hembusan nafas terakhir.  Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahan perubahan tingkah laku baik itelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagi individu dan makhluk sosial. Dalam mencapai tujuan tersebut siswa berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur guru melalui proses pengajaran ( Sujana, 2002, 1)3 Dengan demikian pendidikan dapat dijalankan diantaranya melalui proses belajar mengajar.
            Pembelajaran sebagai suatu proses, akan mencapai hasil maksimal jika seluruh yang terkait dengan prosesnya sempurna atau memadai kebutuhan pembelajaran. Pembelajaran dikatakan sempurna jika ketiga ranah sebagai objek pembelajaran mendapat sentuhan dan menghasilkan perubahan hasil pembelajaran yang sesuai tujuan. Proses perubahan dalam pembelajaran akan mudah mencapai tujuan jika disertai dengan media pembelajaran yang memadai seperti perpustakaan, laboratorium dan media lainnya.

MEDIA PEMBELAJARAN DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya intraksi antara seseorang dengan lingkungannya yang digambarkan dengan adanya suatu perubahan tingkah laku baik kognitif, apektif maupun psikomotoriknya.
            Hubungan yang terjadi selama proses balajar dipengaruhi oleh lingkungan yang berupa manusia ( murid, guru, karyawan, orang tua, da manusia sekitarnya), bahan pelajaran ( buku, modul, selebaran, majalah),  soofwear( casset CD, piringan hitam, casset recorder), hadwear ( komputer, OHV, Proyektor, radio, TV) dan sumber belajar l;ainnya seperti perpustakaan , laboratorium serta alam pada umumnya.
            Lingkungan belajar yang diatur oleh guru mencakup tujuan pengajaran, bahan pengajaran, metodologi pengajarandan penilaian pengajaran. Metodologi pengajaran adalah metode dan teknik yang digunakan guru dalam melakukan interaksinya dengan siswa agar bahan pengajaran sampai kepada siswa, sehingga siswa menguasai tujuan pengajaran. Media pengajaran sebagai alat bantu mengajar(  Sujana, 2002, 1)4
            Berdasarkan uraian di atas bahwa media pembelajaran berkedudukan sebagai alat bantu menyampaikan bahan pelajaran bukan sebagai tujuan pembelajaran

PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN
            Media berarti peratara (informasi), penengah, wahana, wadah.(kamus ilmiah populer) Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke pengirim pesan. Media segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat seta perhatian siswa sedemikia rupa sehingga proses belajar  terjadi  (Arief Sadiman dkk, 2002, 6),5 media adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk komunikasi (proses belajar mengajar),  (Ahmad Rohani dkk,1997,3 ).6 Apabila media itu membawa pesan pesan atau informasi yang bertujaun instruksional atau mengandung maksud maksud pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran, (Azhar Rsyad, 2004, 4 ).7 Dapat disimpulkan bahwa segala komponen sarana fisik yang  merangsang siswa untuk belajar dan membantu agar proses lebih mudah untuk mencapai tujuan disebut media pembelajaran.

SEJARAH PERKEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Repormasi dalam segala bidang kehidupan yang sedang bergulir pada saat ini, memberikan peluang sekaligus tantangan bagi para pendidik termasuk media pembelajaran. Pada awal kemerdekaan pendidikan bagi  para pelajar yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena menggabung dengan tentara pelajar digunakan media radio untuk menyajikan bahan pelajaran. Pada awal Orde Baru, dalam pembangunan lima tahun PELITA I telah dicantumkan secara eksplisit mengenai kebijakan penggunaan siaran radio dan televisi untuk peningkatan mutu dan pemerataan kesempatan pendidikan.
Dalam perkembangan berikutnya, dengan dibukanya pendidikan jarak jauh seperti SLTP terbuka, MTs Terbuka, Universitas terbuka, penggunaan siaran radio dan televisi semakin terasa dibutuhkan guna menyampaikan pesan pembelajaran kepada peserta didik. Demikian juga dalam pelaksanaan penataran guru jarak jauh, sistem balajar mandiri untuk meningkatkan kualitas guru sekolah dasar  dan lain  lain, peranan media pembelajaran sangat penting ( Yusuf Hadi Miarso, dalam Mengurai Benang Kusut Pendidikan 2003; 147).8
            Setelah era  globlisasi sekarang ini, pembelajaran terus menerus dituntut mengikuti perkembangan era ilmu pengetahuan dan teknologi informasi seperti internet, dan kemajuan ini tidak akan berakhir hingga disini tetapi terus dimodifikasi dengan lebih baik, lebih mudah dan lebih cepat dalam penggunaannya.

PROSES BELAJAR SEBAGAI PROSES KOMUNIKASI
Jika seorang tumbuh dewasa, pertama tama ia butuh akses ke benda benda, tempat tempat, proses proses, peristiwa peristiwa, dan catatan catatan. Ia butruh melihat, menyentuh, mencoba coba, mengubah, menangkap, apapun yang ada dipanggung yang bermakna ( Ivan Illich dalam menggugat pendidikan; 527).9  Wacana yang dikemukakn Ivan ini menggambarkan bahwa peroses belajar mengajar merupakan kegiatan komunikasi antar sesuatu terutama denngan manusia. Didalam Kamus Ilmiah Populer10 ; komunikasi adalah hubugan timbal balik antar manusia. Dengan demikian komunikasi adalah sebuah proses yang terus berkembang karena bukan sesuatu pekerjaan yang terisolasi dari kejadian, padahal kejadian itu terus berubah mengikuti perubahan perubahan yang dilakukan manusia sendiri.
Guru adalah seorang komunikartor, karena dia akan menyampaikan rencana rencana pembelajarannya pada siswa, kemudian dia juga akan mengatuir siswa dalam kelasnya dari awal dia masuk kelas sampai mengakhiri kelas, dan dia juga akan menjleaskan bahan bahan ajar pada siswa, bahkan harus menjelaskan berbagai bahan ajar yang belum dipahami siswa dengan baik. Komunikasi guru pada siswa ada dua macam, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Kpmunikasi verbal adalah komunikasi dengan kata, baik diucapkan maupun ditulis dan komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang tidak menggunakan kata kata, tidak bisa didengar dan juga tidak bisa dibaca dalam uraian kata kata tertulis. Komunikasi non-verbal hanya dipahami dari berbagai isyarat gerakan anggota tubuh yang mengekspresikan sebuah pesan, (Dede Rosyada, 150, 153),11 untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif, anda harus melihatnya, mendengarnya, dan merasakannya, (Tony Stockwell dalam Revolusi Cara Belajar; 298).12
Berdasarkan paparan di atas proses belajar mengajar adalah suatu proses komunikasiau  kegiatan menyampaikan informasi oleh guru dan peserta didik berupa pengetahuan, keahlian, skill, ide, pengalaman, dan sebagainya.

FUNGSI DAN KEGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
            Pembelajaran terus mengalami perkembangan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, kuranglah memadai kalau sumber belajar hanya berasal dari guru atau berupa media buku teks atau audio visual. Kondisi ini mulai dirasakan perlu ada cara baru dalam mengomonikasikan pesan verbal maupun noverbal. Kecenderungan pembelajaran dewasa ini adalah sistem belajar madiri dalam program terstruktur. Untuk itu perlu dioersiapokan sumber belajar secara khusus yang memungkikan dapat dipergunakan para pelajar secara langsung. Sumber belajar jenis  ini lazimnya berupa media yang dipersiapkan oleh kelompok guru dengan tenaga ahli media sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Guru dan ahli media berintraksi dengan pelajar berdasarkan satu tanggungjawab bersama.
            Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan kualitas tenaga guru yang profesional, salah satu jalan yang perlu ditempuh adalah dengan membekali para guru agar mampu mengembangkan berbagai media pembelajaran. Guru harus dapat mempersiapkan bahan pembelajaran yang sistematis dan terprogram seperti buku ajar, modul, atau media lain yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pelajar akan lebih mandiri dalam melakukan kegiatan pembelajaran.(Muhaimin; 2002; 157 ).13
            Media dalam kegiatan proses belajar memang berfungsi instrumental, artinya Cuma alat saja, bukan tujuan. Jadi sebagai alat, media bisa digunakan untuk berbagai ragam tujuan, tetapi tidak untuk semua tujuan. Karena swtiap media memiliki ciri (karateristik) khasnya masing masing, sehingga hanya dapat digunakan utuk tujuan tujuan yang khas dan sesaui pula. Dalam perspektif dan metodologi pendidikan kritis, media juga adalah bahasanya para fasilitator pelatihan. Media digunakan oleh para fasilitator bukan semata mata karena media memang efektif membantu proses pemahaman, tetapi karena penggunaan media itu sendiri memang merupakan suatu keharusan jika ingin taat asas pada filosofi pendidikan kritis yang menekankan mutlaknya para peserta belajar dan memproduksi pengetahuan dari penglaman mereka sendiri, bukan dari hafalan teori, kaidah dan rumus rumus orang lain dan, untuk itu seorang fasilitator tidak akan bisa melakukannya jika ia hanya bicara melulu, apalagi pidato atau ceramah monolog tanpa diskusi dengan para peserta. Bahkan, diskusi mestinya terjadi antara para peserta sendiri, sementara failitator hanya menyediakan sarana da prosesnya saja. Sarana dan proses itulah media, bahasanya para fasilitator.  Ini yang membedakan seorang fasilitator dengan seorang manajer atau guru atau dosen, misalnya yang juga mungkin menggunakan media yang sama, tetapi lebih sebagai peraga atau penggambaran (illustration), sebagai pemanis dan pemikatomongan atau ceramah dan kuliahnya agar lebih menarik dan tidak membosankan. Bagi seorang fasilitator, media bukan hahya berfungsi sebagai illustrasi, tetapi sekaligus sebagai sendi (code) untuk peserta berpikir tentang sesuatu, mendiskusikannya bersama, berialog untuk menemukan suatu kesimpulan dan jawaban mereka sendiri. Dengan demikian, fasilitator menjadikan sendiri tersebut sebagai suatu gambaran yang hidup (animation) tentang suatu kejadian, gejala, atau permasalahan yang nyata tertentu. Itu pula sebabnya  mengapa fasilitator sering juga disebut sebagai animator. ( Mansour Fakih, 75 ).14
            Kegunaan media sebagai berikut :(1).memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat  verbalistis (dalam bentuk kata kata atau lisan belaka), (2). mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera' seperti misalnya : a. objek yang terlalu besar- bisa digantikan dengan realita, gambar, film, atau model; b. objek yang terlalu kecil- dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau gambar; c.gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau high speed photography; d. kejadian atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu bisa ditampilkan lagi liwat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal; e.objek yang terlalu kompleks (misalny mesin mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lai lain; f. objek yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim dan lain lian) dapat divisualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lai lai;; (3). Dengan menggunakan  media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pendidikan  berguna untuk : a. menimbulkan kegairahan belajar; b.memungkinkan intraksi yang lebih langsung antyara anak didik dengan lingkungan denga kenyataan; c.memungkinkan anak didik belajar sendiri sendiri menurut kermampua dan minatnya; (4). Denga sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkuangan dan pengalaman yang berbeda, sedangka kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama utuk setiap siswa, maka guru akan banyak  mengalami kesul;itan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Apabila bila latar belakang lingkungan guru denga siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan kemampuannya dalam : a. memberikan perasngsang yang sam; b. mempersamaka pengalaman; c. menimbulkan persepsi yang sama (Arief S. Sadiman dkk : 2002; 16 ).15
            Ada beberapa alasan, mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses bejar siswa antara lain :a). pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; b). bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkikan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik; c). metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata mata komunikasi verbal melalui penuturan kata kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran; d) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi uuga aktifitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasika dan lai lai (Nana Sujana, 2002, 2)16
            Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini memungkinkan siapa saja untuk dapat meningkatkan kemampuan dalam pengembangan multi media.  Multimedia dapat digunakan untuk menunjag berbagai bidang, seperti presentasi, visualisasi, alat bantu pendidikan, game, dan lain lain. Penggunaa multimedia seperti :: presentasi bisnis, aplikasi pelatihan dan pendidikan, information delivery, promosi da penjualan, produktivity, teleconferencing, film, virtual reality, aplikasi web, game. ( Ariesto Hadi Sutopo; 2003; 22 ),17 khususnya media visual, mengandung empat fungsi yaitu : (a). fungsi atensi; menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampulkan atau menyertai teks materi pelajaran, (b).fungsi afektif; gambar visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa; (c). fungsi kognitif; gambar memperlacar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar, (d).fungsi kompensatoris; membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengoraganisasikan informasi dalam teks dan mengimngatnya kembali, ( Levie & Lentz , yang dikutip oleh Azhar Arsyad, 2004; 16 ).18
Hal ini berarti bahwa agar proses komunikasi dapat berjalan secara efektif dan efesien, guru perlu mengenal tentang peranan dan fungsi media instruksional edukatif, karena media sangat dipengaruhi oleh ruang, waktu, peserta didik, sarana prasrana yang tersedia serta pengetahuan atau pengalaman guru yang meggunakannya.(Ahmad Rohani;1997; 6 )19 Walhasil, semakin jelas pula bahwa penggunaan media oleh seorang fasilitator dalam proses pendidikan kritis didasari pada suatu landasan filosofi dan teori  perubahan sosial yang sagat mendasar. Jika dalam kenyataan kesehariannya, mereka nampak sedemikian sederahana dan terkesan sangat praktis dengan berbagai media tersebut , tidak berarti mereka tidak bisa memiliki filosofi dan toeritis yang kuat. Dengan kata lain, media sebagai bahasa da sendi ditangan seorang fasilitator pendidika kritis, adalah pemicu awal dari keseluruhan proses perubahan sosial yang sesungguhnya.( Mansour Fakih; 2001; 76).20
            Dalam peraktik kehidupan kita sehari hari terlihat fungsi media yang sangat menakjubkan terutama media elektronik,  dapat menyampaikan pesan  dengan sangat cepat dan peraktis, dapat digunakan belajar dari jarak jauh secara langsung seperti penggunaan HP , internet, dan lain lain.

KLASIFIKASI DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN

A.Klasifikasi Media Pembelajaran
            Kegiatan belajar mengajar menggunakan media diharapkan dapat membawa hasil yang baik, karena dengan media dapat mempermudah siswa menerima pesan pendidikan. Media pembelajaran akan tepat guna apabila jenis yang digunakan sesuai dengan kemampuan guru menggunakannya. Ada beberapa jenis media pengajaran yang biasa digunakan dalam proses pengajaran. Pertama, media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik dan lain lain. Media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model penampang, model susun, model kerja, mpck up, diorama dan lain lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP dan lain lain. Keempat penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran, ( Sudjana, 2002; 3 ).21 Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan  kedalam empat kelompok, yaitu (1) media hasil teknologi cetak, (2) media hasil teknologi audio-visual, (3) media hasil teknologi yang berdasarkan komputer, dan (4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer, ( Azhar Arsyad; 29 ).22 Mansour Fakih23 mengklasifikasi media kepada : (1). Simulasi seperti permainan,  bermain peran, forum teater, (2).audio seperti rekaman suara / musik, siaran radio, (3). Visual seperti : foto-foto,gambar grafis, bahan cetakan, (4) audio visual seperti slide suara, film dokumenter & film cerita, (5). Multimedia seperti : pertunjukan & upacara, teknik teknik riset partisipatoris, jarigan internet dan e-mail.. Klasifikasi media instruksional edukatif menurut jenisnya (1). Berdasarkan indra yang digunakan: media audio, media visual, media audio visual. (2) berdasarkan jenis pesan yaitu: media cetak, media non cetak, media grafis, media non grafis. (3) berdasarkan sasarannya yaitu: media jangkauan terbatas (tape), media jangkauan yang luas (radio, Pers). (4) berdasarkan penggunaan tenaga listerik (elektronik) yaitu : media elektronika, media non elektronika. (5). Media asli dan tiruan yaitu berupa (a) spesimen makhluk hidup seperti akuarium, terrarium, kebun binatang, kebun percobaan, insektarium, (b). spesimen mati seperti : herbarium, diorama, taksidemi, awetan hewan dalam botol, awetan dalam cairan plastik (bioplastik), (c).spesimen benda mati seperti batu batuan, mineral dan lain lain, (c).benda asli buka makhluk hidup seperti : kereta api, pesawatterbang dan lain lain, (d) model tiruan dari benda asli disebabkan karena terlalu besar , terlalu kecil, terlalu rumit, terlalu jauh seperti model irisan lapisan bumi, model penampang daun, model atom, model susunan tubuh manusia, model bulat bumi(globe), model kerja makrokosmos, model perbandingan besar kecil pelanet, (6). Media grafis seperti bagan, grafik, poster, karikatur, gambar, komik, (7). Media bentuk papan seperti : papan tulis, papan pengumuman, papan planel, papan pameran, papan magnet, papan demonstrasi,  (8). Media yang disorotkan seperti : slide, film strip, mikroskop (9). Media yang dapat didengar seperti: radio, kaset audio, (10)media pandang dengar seperti televisi, (11). Media bahan cetak buku, pamflet, majalah, koran, dan sebagainya.( Ahmad Rohani; 18-24 ).24  Dari berbagai jenis dan klasifikasi media tersebut penggunaannya tergantung kepada tujuan pengajaran, materi pelajaran, tempat dimana menggunakannya, kemampuan guru menggunakannya dalam proses belajar mengajar serta kemudahan memperoleh medianya.
B. Pemilihan Media Pembelajaran.
            Dalam penggunaan media pembelajaran agar efektif dan efesien, guru hendaknya telah memiliki keterampilan membuat media pengajaran sederhana, mampu memilih media yang sesaui dalam pembelajaran, memahami cara  menggunakan dan tindak lanjut dari media pembelajaran yang digunakan, mengetahui bagaimana yang efektif seta apakah akan membawa pengaruh terhadap kualitas pembelajaran.
            Dasar pertimbangan untuk memilih suatu media  sangatlah sederhana, yaitu dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan atau tidak. beberapa faktor perlu dipertimbangkan, misalnya: tujuan instruksional yang ignin dicapai, karaktristik siswa atau sasaran, jenis rangsangan belajar yang diinginkan(audio, visual, gerak, dan seterusnya), keadaan latar atau lingkungan, kondisi setempat, dan luasnya jangkauan yang ingin dilayani. (Arief Sadiman: 82 ).25 Dari tinjauan psikolgis, yang mejadi pertimbangan pemilihan media pembelajaran adalah: motivasi, perbedaan individual, tujuan pembelajaran, organisasi isi, persiapan sebelum belajar, emosi, partisipasi, umpan balik, penguatan, latihan dan pengulangan, penerapan, (Azhar Arsyad, 73 ).26 Adapun dasar pertimbangan untuk membeli media jadi ada pertanyaan pertanyaan praktis yang dapat diajukan yaitu : a.apakah media yang bersangkutan relevan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai? b. apakah ada sumber informasi, katalog, dan sebagainya mengenai media yang bersangkutan? c. apakah perlu dibentuk tim untuk mereviu yang terdiri dari para calon pemakai? d. apakah ada media dipasaran yang telah divalidasikan? e. apakah media yang bersangkutan boleh direviu terlebih dahulu? f. apakah tersedia format reviu yang sudah dibakukan? (Arief Sadiman: 82).27  Dengan demikian pertimbangan pemilihan media pembelajaran selalu terkait dengan keseuaian dengan sumber daya manusia yang menggunakannya  dan sumber daya alam yang akan digunakan.
            Kriteria pemilihan media dikemukakan oleh Sudjana,28 sebagai berikut,  yaitu  a) ketepatannya dengan tujuan pengajaran, b) dukungan terhadap isi bahan pelajaran, c) kemudahan memperoleh media, d) kemampuan guru dalam menggunakannya, e) tersedia waktu untuk menggunakannya, f) sesuai dengan taraf berpikir siswa, (Media Pengajaran; 5 ),  menurut Azhar Arsyad,29 kriteria pemilihan media adalah 1. sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai 2. tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi, 3.praktis, luwes dan bertahan, 4. guru trampil menggunakannya, 5. pengelompokan sasaran, 6. mutu teknis.( Media Pembelajaran: 75 ), Sadiman mengemukakan  tiga prosedur dalam pemilihan media yaitu :1.model flowchart yang meggunakan sistem pengguguran( eleminasi) dalam pengambilan keputusan pemilihan,  2. model matriks yang menangguhkan proses pengambilan  sampai seluruh kriteria pemilihanya diidentifikasi, dan 3. model cheklist yang juga menangguhkan keputusan pemilihan sampai semua kriterianya dipertimbangkan.
            Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemilihan media pembelajaran hendaknya memiliki keriteria : relevansi SDM, materi, tujuan, dan keadaan yang terkait dengan pembelajaran.
            Dalam praktiknya tidak ada media yang secara mutlak belaku untuk segala kondisi disebabkan  oleh perubahan yang terjadi secara terus menerus baik fisik tempat belajar, hubungan guru dan pelajar,  peranan guru dan kecakapan mengajar. Tetapi nilai optimis memperoleh hasil pembelajaran yang memuaskan dari kecakapan memilih dan menggunakan media sangat diharapkan.  

  


                       


TEORI PEMBELAJARAN



PENGERTIAN
            Teori dalam WJS Poerwadarminta1 diartikan pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesratu peristiwa; asas-asas dan hokum-hukum umum yang menjadi dasar sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan; pendapat cara-cara dan atur-aturan untuk melakukan sesuatu. Dalam Pius A. Partanto, teori diartikan, dalil (ilmu pasti); ajaran atau pahan (pandangan) tentang sesuatu berdasarkan kekuatan akal (ratio); patokan dasar atau garis-garis dasar sains dan ilmu pengetahuan; pedoman praktek.2
            Menurut  McKeachie dalam Margaret E. Bell Gredler teori adalah seperangkat asas yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata. Satu cirri teori yang penting ialah bahwa teori itu membebaskan penemuan penelitian secara individual dari kenyataan kesementaraan waktu dan tempat untuk digantikan dengan suatu dunia yang lebih luas.3
                Pembelajaran adalah upaya unruk membelajrkan siswa. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan bagaimana cara mengorganisasikan ,menyampaikan, menata pebelajaran untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dengan demikian pembelajaran mencakup kegiatan mengajar dan belajar. Menurut Joyce,19964  mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekpresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar.  Menurut Winkel5 belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilanm nilai, dan sikap.perubahan itu bersifat tetap dan berbekas.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa teori pembelajaran merupakan suatu pandangan dan pedoman  atau garis-garis dasar membelajarkan siswa agar mengalami perubahan sesuai yang diinginkan melalui perencanaan yang matang.
 Sesuai dengan perjalanan waktu, tempat, dan sumber daya manusia yang mengalami perubahan maka teori belajarpun juga beragam.

Teori Pembelajaran
            Dalam teori pembelajaran ini dikemukakan bagaimana belajar menurut para ahli yang melakukan penelitian tentang belajar sebagai berikut:
            Vernon smith6 mengemukakan teori belajar tradisional dengan beberapa bentuknya :
  1. tidak ada teori yang dirumuskan secara koheren yang membahas kegiatan belajar dalam system pendidikan tradisional
  2. motivasi didasari hukuman ganjaran atau hadiah, dan persaingan.
  3. belajar dengan menghapal dan menyimpan informasi tanpa bantuan catatan ditekankan dalam sistem pendidikan tradisional
  4. psikologi behavior memiliki pengaruh yang jelas terhadap system pensdidikan tradisional.
  5. psikologi kognitif tidak banyak pengaruhnya terhadap system pendiddikan tradisional
  6. kurikulum tersembunyi memainkan peran kunci dalam kehidupan para pelajar
  7. pada umumnya proses pengajaran didalam system pendidikan tradisional tidak dituntun oleh teori tertentu
  8. modus dominant pengajaran; guru bicara
  9. system pendidikan tradisional punya berbagai cara untuk mengelompokkan siswa-siswi untuk diajar
  10. segelintir modus pengejaran mendominasi system pendidikan tradisional
Margaret7 mengutip teori dari enam ahli sebagai berikut :
  1. Teori kondisioning operan Skinner, jenis teori kontingensi,fokus pada pengaturan bagi konsekwensi tingkah laku si belajar
  2. Kondisi belajar Gagne, jenis teori kognisi tugas, fokusnya hubungan fase-fase pemerosesaninformasi dengan jenis tugas belajar dan pembelajaran
  3. Teori pengolah informasi, jenis teori kognisi, focus proses memperoleh informasi, mengingat dan memecahkan masalah
  4. Epistimologi perkembangan Piaget, jenis teori perkembangan kognitif, focus pertumbuhan kecerdasan dari asa bayi hingga dewasa
  5. Teori belajar social Bandura, jenis teori lonteks social, focus pengamatan pada, dan proses internal akan tingkah laku yang dijadikan model
  6. Teori atribusi Weiner, jenis teori konteks social, focus pengaruh kepercyaan belajartentang keberhasilan dan kegagalanpada tingkah laku yang berkaitandengan prestasi.
Muhibbin Syah6 mengutip teori belajar dari :
  1. Edward L. Thorndike yang dikenal teori S-R Bond Theory atau teori koneksionidme bahwa belajar adalah hubungan atara stimulus dan respon
  2. Ivan Pavlov yaitu teori pembiasaan klasik disebut juga  pembiasaan yang dituntut yaitu rangsangan yang mampu mendatangkan respons yang dipelajari, sedangfkan respon yang dipelajari itu sendiri.
  3. Tokoh Psikologi yaitu teori psikologi kognitif bahwa belajar adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavior. Piaget (psikolog) menyimpulkan bahwa anak-anak memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya sendiri untuk belajar.
John Dewey (1859) dalam Tum UNY mengemukakan teori Dewey learnig by doing (cara belajar siswa aktif). Merupakan suatu pendekatan dalam pegelolaan system pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif enuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari belajar aktif. Menurut Dewey, guru berperan untuk menyediakan sarana begi siswa untuk dapat belajar. Dengan peran serta siswa dan guru dalam belajar aktif akan tercipta suatu pengalaman belajar yang bermakna. Untuk itu guru diharapkan memiliki kemampuan :
  1. memanfaatkan sumber belajar di lingkungan secara optimal dalam proses pembelajaran.
  2. berkreasi dan engembangkan gagasan baru
  3. mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh di masyarakat.
  4. memperjelas relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat.
  5. mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan prilaku siswa secara bertahap sesuai dengan kemampuannya
  6. menerapkan prinsip-prinsip belajar altip.
Banyak lagi teori belajar yang lain yang pada perinsipnya bahwa belajar merupakan usaha mengisi memori, menyesuaikan diri, menentukan sikap terhadap diri dan lingkungan yang sangat komplek yang dibuktikan dengan adanya perubahan sesuai dengan tujuan pembelajaran. .
 












Catatan
1.        Poerwadarminta,W.J.S.1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Indonesia
2.   Al Barry, MDJ, dkk, 1994, Kamus Ilmiah Populer, Arkola, Surabaya
3.   Maergaret, E. Bell  Gredler, Belajar dan Membelajarkan, Rajawali, Jakarta,1978
4.   Ibid
5.   Ibid
6.   Ibid
7.   Ibid
8.   Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, Rosda Karya Bandung, 2004
9.   TIM Pendidikan UNY, Kurikulum Berbasis Kompetensi,UN Yogjakarta, 2002

PEMBELEJARAN TUNTAS




            Ketuntasan dalam pembelajaran merupakan masalah penting, karena menyangkaut masa depan siswa, lebih labih bagi mereka yang mengalami keuslitan dalam belajar. Pendekatan pembelajaran tuntas adalah satu usaha inovasi pendidikan yang bertujuan meningkatkan motivasi serta usaha berlajar untuk mencapai tingkat penguasaan bagi siapapun. Pembeljaran tuntas harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh semua warga sekolah, karena suatu kenyataan di sekolah-sekolah banyak yang belum melaksanakan pembelajaran tuntas, tetapi masih menggunakan pembelajarannya secara konvensional. Hakekat belajar adalah suatu aktifitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri individu yang belajar. Perubahan terjadi karena usaha keras dari inrividu yang bersangkutan. Belajar dipengaruhi oleh berbagai factor yang bahan yang dipelajari, factor instrumental, lingkungan, kondisi si pelajar. Faktor-faktor tersebut diatur sedemikian rupa  agar mempuyai pengaruh yang membantu tercapainya hasil belajar yang optimal.
            Pembelajaran bukan hanya fungsi guru semata, melainkan fungsi sumber-sumber belajar lain yang digunakan oleh pembelajar untuk belajar sendiri. Bilamana orang telah tahu bagaimana sebenarnya orang belajar maka pembelajaran akan berusaha merumuskan cara - cara  untuk membuat orang belajar dengan baik.  Oleh akrena itu pemilihan metode mengajar yang memberi peluang kepada anak didik untuk turut berpartisipasi aktif secara optimal did ala kegiatan pembelajaran akan meruapakan langkah awal yang utaa menuju keberhasilan mencapai kompetensi yang ditetuka.
            Metode pembelajaran  adalah cara untuk mempermudah anak didik mencapai kopetensi tertentu, baik metode mengajar guru maupun metode belajar siswa. Winarno Surahmad mengemukakan bahwa makin baik metode akan makin efektif pula pencapaian tujuan belajar.pembelajaran tuntas mengajukan model : jika setiap murid diberikan waktu yang sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan dan jika ia menghabiskan waktu yang diperluka, maka besar kemungkinan murid akan mencapai tingkat penguasaan itu. Block 1971 mengemukakan bahwa tingkat penguasaan belajar ditentukan oleh perbandingan antara waktu yang sebenarnya digunakan dalam belajar dengan waktu yang diperlukan untuk belajar, dan waktu yang benar-benar digunakan untuk belajar ditentukan oleh jumlah waktu yang diperbolehkan untuk belajar da ketekuan. Sedangka waktu yang dibutuhkan untuk belajar dipegaruhi oleh bakat, kualitas kegiatan belajar.
            Startegi belajar  tuntas menganut pendekatan individual sekalipun dilakukan secara kelasikal tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa, sehingga pembelajaran memungkikan perkembangan potensi masing-masing siswa secara optimal. Hal dilakukan karena  adanya keyakinan terhadaan perbedaan individu masing-masing siswa. Pembelajaran tuntas menggunakan maju dan berkelanjutan, oleh karena itu maka standar kompetensi dan kombpetensi dasar garus dinyatakan secara jelas dan pembelajaran secara terpecah-pecah menjadi satuan-satuan, dan siswa belajar secara bertahap selangkah demi selangkah baru beranjak kepada kompetensi berikutnya.
Pebelajaran tuntas dapat diperhatikan dalam criteria :
1. Persiapan  .
       a. Tingkat ketuntasan ditukur dari performance siswa dalam setiap unit atau kompetensi dengan nilai 75.
      b. Saruan acara pembelajaran : dibuat untuk satu minggu pembelajaran dan dipakai sebagai pedoman guru serta diberikan kepada siswa
      c. Pandangan terhadap kemampuan siswa saat memasuki satuan pembelajaran tertentu : kemampuan hamper sama, amun tetap ada variasi

2. Pelaksanaan Pembelajaran:
      a. Bentuk pembelajaran dala satu unit kompetensi atau kompetensi dasar : dilaksanakan melalui pendekatan klasikal, kelompok dan individual
      b. Cara pembelajaran dalam setiap uit kompetensi atau kemampuan dasar : pembelajaran dilakuka elalui mendengarkan, membaca secara terkontrol, berdiskusi dan belajar secara individual
      c. Orientasi pembelajaran : pada terminal performance siswa (kompetensi atau kemampuan dasar) secara individual
      d. Peranan guru : sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan siswa secara individual
      e. Fokus kegiatan pembelajaran : ditujukan kepada masing-masing siswa aecara individual
      f. Penentuan keputusan mengenai satuan-satuan pembelajaran : ditentukan oleh siswa dengan bantuan guru

3. Umpan Balik
     a. Instrumen umpan balik : menggunakan berbagai jenis serta bentuk tagihan secara bekelanjutan
     b. Cara membnatu siswa : menggunakan system tutor dalam diskusi kelompok dan tutor yang dilakukan secara individual.

4. Perbaikan hasil evaluasi
            Siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat diatasi dengan cara remedial dan pengayaan  Pelaksanaan dengan pemberian bimbingan secara khusus, peberian tugas atau perlakuan secara khusus dan secara disederhanakan, pada kompetensi yang belum dikuasai. Sedangkan pengayaan dilakuka dengan pemberian bahan bacaan tambahan, peberuan tugas menganalisa materi, pemberian soal dan embantu guru membimbing teannya yang lain, dengan materi yang belum dikuasai siswa.    

PEBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)


            Pembelajaran Kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata yang dialami siswa dan mendorongnya membuat hubungan anatara pengetahuan siswa dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai pribadi, anggota keluarga dan masyarakat yang berguna bagi siswa. Pembelajaran kontekstual berjalan  secara alamiah denga kegiatan siswa bekerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa, yang kebih utama adalah strategi pembelajaran, metode kerja dan penyelesaian masalah dari pada hasil.
            Pendekatan kontekstual ini berdasarkan pmehaman bahwa belajar bukan hanya sekadar menghafal, mengingat saja tetapi akan lebih bermakna jika mengahsilkan keterampilan dan hasil kerja. Oleh karena itu dalam pembelajaran ini siswa harus memahami makna belajar, kegunannya dan cara mencapai tujuan, karena mereka menyadari sendiri akan manfaat pelajaran itu dalam kehidupannya. Siswa dalam pembelajaran kontekstual sebagai diri sendiri dalam mencapai hasil belajar sesuai dengan krbutuhan hidupnya, dengan guru hanya berfungsi sebagai  pengarah dan pebimbing. Guru membantu mencapai tujuan belajar siswa, dan lebih banyak menguasai strategi, metode bimbingan dari pada peberian informasi. Guru dan siswa bekerja sama dalam menemukan hal-hal baru dari proses menemukan sendiri berdasarkan pengetahuan yang bersifat luas dan memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.
            Pebelajaran kontekstual memiliki criteria sebagai berikut :
  1. menyandarkan pada memori spasial
  2. pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan individu siswa
  3. cenderung memadukan beberapa bidang
  4. selalu mengaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa
  5. menerapkan penilaian autentik melalui penerapan praktis dala pemecahan masalah
Komponen utama dan langkah pembeljaran kontekstual :
  1. konstruktivisme; berusaha mengembangkan pemikiran siswa, agar bekerja sendiri, menemukan sendiri, mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya dan keterampilannya yang baru
  2. menemukan; siswa berusaha sendiri secara maksimal menemukan semua topik
  3. bertanya; mengembangkan rasa ingin tahu melalui bertanya
  4. masyarakat belajar; menciptakan suasana terus belajar dalam kelompok
  5. permodelan; guru menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran
  6. refleksi; guru melakukan refleksi di setiap akhir pertemuan
  7. penilaian yang sebanarnya; guru melakukan penilaian dengan berbagai cara yang beragam
Ketujuh komponen tersebut menunjukkan posisi siswa dalam konteks berakna, menghubungkan sendiri antara pengetahuan awal dengan materi yang sedang dipelajari. Guru dalam posisi sebagai pengarah dan pembimbing hendaknya memperhatikan beberapa hal : 1) merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan metal siswa, 2) membetuk kelompok belajar yang saling ketergantungan, 3) menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri dengan karateristik : kesadaran berpikir, penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan, 4) mempertimbangkan keragaan siswa, 5) memperhatikan multiple intelegensi, 6) menggunakan tekniuk bertanya, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi, 7) menerapkan penilain autentik.
            Pembelajaran kontekstuan memiliki karateristik : 1) adanya kerja sama, 2) saling menunjang, 3) menyenangkan, 4) menggairahkan, 5) terintegrasi, 6) kaya sumber, 7) siswa aktif, 8) saling  memberi dan mebantu antar siswa, 9) siswa kritis, guru aktif, 10) laporang lengkap kepada orang tua baik hasil keterampilan, hasil kerja, nilai rapor dan sebagainya.
Penilaiannya secara autentik dengan karakter :1) penilaian selama dan sesudah pembelajaran, 2) formatif dan sumatif, 3) mengukur keterampilan dan performann, 4) berkesinambungan, 5) terintegrasi, 6) sebagai umpan balik. Penilaian meliputi : 1) kinerja 2) observasi sistemik, 3) portopolio,  4) jurnal sain, 5) umpan balik dan refleksi.
Dalam mengembangkan berpikir tinggi, guru memperhatikan proses berpikir otak belahan kiri  dan berpikir otak sebelah kanan.
Otak kiri memiliki karakter : 1) tertarik pada proses penemuan yang bersifat bagian-bagian dari suatu komponen, 2)  bersifat analisis, 3) mementingkan tata urutan secara sekuensial dan serial, 4) temporal dan terikat pada waktu kini, 5) verbal, matematis, musical. Otak kanan 1) tertarik pada proses pengintegrasian dari bagian-bagian suatu komponen enjadi satu kesatuan yang bersifat utuh dan meyeluruh, 2) bersifat rasional konstruksional dan mebangun suatu pola, 3) simultan dan parallel, 4) lintas runag dan tidak terikat pada waktu, 5) visual litas ruang dan musical.
Cara berpikir tersebut terkait dengan :
1. kreativitas :  toleransi tinggi untuk makna ganda, berpikir bebas, devergen, berani ambil resiko, imajinatif, sensitive
2. motivasi :     tekun dalam bidang yang diminatinya, intens dalam menghayati perasaan dan nilai, bebas
3. berpikir keritis : dapat kesenjangan antara kenyataan dan kebenaran, mengacu pada hal-hal yang ideal, mampu menganalisis dan mengevaluasi.

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

            Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.1 Dalam bahasa Inggris pembelajaran merupakan padanan dari kata  instruction yang berarti proses membuat orang belajar.2  Dengan demikian pembelajaran merupakan hubungan timbal balik antara guru murid dan sumber belajar dalam usaha merubah diri melalui mengajar dan belajar, tujuannya ialah membantu orang belajar. Hubungan antara guru murid bukan hubungan social biasa tetapi bersifat mendidik dan terdidik, yaitu proses hubungan yang dapat membawa perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri individu yang belajar, menurut Pyle (1979) proses belajar mengajar sebagai suatu proses berubahnya bentuk tingkah laku tertentu yang secara relatif permanent. Disamping permanent perubahan tingkah laku tersebut hendaknya bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan fisik (Gagne, 1977), dan juga bukan karena perubahan kondisi fisik yang temporer sifatnya (Snelbeckker,1974).3 Oleh karena itu belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari iteraksi antara pembelajar dengan sumber-sumber belajar.
Gagne dan Briggs mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu rangkaian kejadian (events) yang mempengaruhi pembelajar sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah.4 Thomas Gordon mengemukakan   Pengajaran adalah suatu sistuasi yang bersifat universal, setiap orang melakukan hal ini.5 Menururt Margaret E. Bell Greler belajar adalah proses orang memperoleh kecakapan, keterampilan, dan sikap.6 Thorndike mengemukakan bahwa kekuatan orang untuk mengubah dirinya sendiri, artinya, untuk belajar, barangkali merupakan satu hal yang paling mengesankan mengenai dirinya.7   Carl Rogers mengemukakan bahwa satu-satunya kegiatan belajar yang besar pengaruhnya terhadap perilaku adalah belajar yang menemukan diri dan dilakukan sendiri.8   lebih bebas lagi apa yang dkemukakan oleh Paulo Friere sebagai berikut : para guru dan para murid, sama-sama bertindak dalam dan terhadap kenyataan, sama-sama menjadi subjek.9
Pembelajaran tidak terbatas pada hal tertentu saja, akan tetapi mencakup semua yang mungkin mempunyai pengaruh langsung pada proses belajar manusia seperti lingkungan alam sekitar, bahan cetak, gambar, program radio, televise, film slide, gabungan dari bahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan orang tua terhadap anaknya, atasan yang mengajar bawahannya, pelatih mengajar pemainnya, suami mengajar istrinya dan sebaliknya sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka memanipulasi lingkunga tersebut. Juka seseorang  telah mengetahui bagaimana sebenarnya orang belajar, maka  pembelajaran akan berusaha merumuskan cara untuk membuat oeang belajar dengan baik seperti bagaimana seorang guru memegang prinsip-prinsip belajar.
Prinsip umum pembelajaran sebagaimana dikemukakan Filbeck (1974) sebagai berikut :
1) Prinsip, respon yang berakibat menyenangkan pembelajar; implikasi : perlunya umpan balik positif dengan segera, keharusan pembelajar untuk aktif membuat respons, perlunya pemberian latihan (exercise) dan tes;  
2) prinsip, kondisi atau tanda untuk menciptakan prilaku tertentu; implikasi : perlunya kejelasan mengenai standar kompetensi maupun kompetensi dasar, penggeunaan variasi metode dan media,
3) prinsip peberian akibat yang menyenangkan, implikasi: pemberian isi/materi pokok yang berguna, imbalan dan penghargaan terhadap keberhasilan pembelajar, seringnya pemberian latihan dan tes,
4) Prinsip, treansfer pada situasi lain, implikasi : pemberian kegiatan belajar yang mirip dengan kondisi dunia nyata, pemberian contoh-contoh riil/ nyata,
5) Prinsip, Generalisasi dan pembedaan sebagai dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks, Implikasi : perlunya keseimbangan dalam emberikan contoh (baik-buruk,poritif-negatif,ganjil-genap, konkrit-abstrak,dsb.
6) Prinsip, Pengaruh status mental terhadap perhatian dan ketekunan Implikasi : perlunya menarik/memusatkan perhatian pembelajar
7) Prinsip, Membagi kegiatan ke dalam langkah-langkah kecil  Implikasi : Penggunaan buku teks terprogram (programmed texts atau programmed instruction), pemenggalan kegiatan menjadi kecil-kecil, disertai latiha dan umpan balik
8) Prinsip, Pemodelan bagi materi yang kompleks Implikasi :penggunaan metode dan media yang dapat menggambarkan model (simplikasi) dari benda/krgiatan nyata.
9) Prinsip, Keterampilan tingkat tinggi terbentuk dari keterampilan –keterampilan dasar, Implikasi : Standar komptensi maupun kompetensi dasar hendaknya dirumuskan seoperasional mungkin dan diturunkan/dijabarkan melalui analisis instrukdional.
10) Prinsip, Pemberian informasi tentang perkembangan kemampuan pembelajar, Implikasi : urutan pembelajaran dimulai dari yang sederhana bertahap menuju ke yang makin kompleks (the widening horizons or expanding community),kemajuan garus diinformasikan.
11) Prinsip, Variasi dalam kecepatan belajar Implikasi : pentingnya penguasaan materi prasyarat,kesempatan untuk maju menurut kecepatan masing-masing.12)Prinsip, Persiapan/kesiapan, Implikasi : Pemberian kebebasan kepada pembelajar untuk memilih waktu, cara dan sumber lain.    

     

Rabu, 27 Juni 2012

Peran Guru Sebagai Pembimbing


Perubahan paradigma pembelajaran dari pembelajaran pasif (teacher-centered) ke pembelajaran aktif (student-centered), menghendaki adanya perubahan peran guru dalam proses pembelajaran. Salah satu peran yang harus dijalankan guru adalah sebagai pembimbing. Peran guru sebagai pembimbing pada dasarnya adalah peran guru dalam upaya membantu siswa  agar dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui hubungan interpersonal yang akrab dan saling percaya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh guru yaitu sebagai pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya.
Peran Guru Sebagai Pembimbing
Guru berusaha membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri dan produktif.  Siswa adalah individu yang unik. Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan dan sebagainya. Di samping itu setiap individu juga adalah makhluk yang sedang berkembang. Irama perkembangan mereka tentu tidaklah sama juga. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing.
Hubungan guru dan siswa seperti halnya seorang petani dengan tanamannya. Seorang petani tidak bisa memaksa agar tanamannya cepat berbuah dengan menarik batang atau daunnya. Tanaman itu akan berbuah manakala ia memiliki potensi untuk berbuah serta telah sampai pada waktunya untuk berbuah. Tugas seorang petani adalah menjaga agar tanaman itu tumbuh dengan sempurna, tidak terkena hama penyakit yang dapat menyebabkan tanaman tidak berkembang dan tidak tumbuh dengan sehat, yaitu dengan cara menyemai, menyiram, memberi pupuk dan memberi obat pembasmi hama. Demikian juga halnya dengan seorang guru. Guru tidak dapat memaksa agar siswanya jadi ”itu” atau jadi ”ini”. Siswa akan tumbuh dan berkembang menjadi seseorang sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Tugas guru adalah menjaga, mengarahkan dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya. Inilah makna peran sebagai pembimbing. Jadi, inti dari peran guru sebagai pembimbing adalah terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru dengan siswa yang dibimbingnya
Lebih jauh, Abin Syamsuddin (2003) menyebutkan bahwa guru sebagai pembimbing dituntut untuk mampu mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).  Berkenaan dengan upaya membantu mengatasi kesulitan atau masalah siswa, peran guru tentu berbeda dengan peran yang dijalankan oleh konselor profesional. Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah siswa yang mungkin bisa dibimbing oleh guru yaitu masalah yang termasuk kategori ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan.
Dalam konteks organisasi layanan Bimbingan dan Konseling, di sekolah, peran dan konstribusi guru sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah :
  • Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
  • Membantu konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
  • Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada konselor.
  • Menerima siswa alih tangan dari konselor, yaitu siswa yang menuntut konselor memerlukan pelayanan khusus. seperti pengajaran/latihan perbaikan,  dan program pengayaan.
  • Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
  • Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
  • Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
Jika melihat realita bahwa di Indonesia jumlah  tenaga konselor profesional memang masih relatif terbatas, maka  peran guru sebagai pembimbing tampaknya menjadi penting. Ada atau tidak ada konselor profesional  di sekolah, tentu   upaya pembimbingan terhadap siswa mutlak diperlukan. Jika kebetulan di sekolah sudah tersedia tenaga konselor profesional, guru bisa bekerja sama dengan konselor bagaimana seharusnya membimbing siswa di sekolah. Namun jika belum, maka kegiatan pembimbingan siswa tampaknya akan bertumpu pada guru.
Agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai pembimbing, berikut ini  beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Guru harus memiliki  pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Misalnya pemahaman  tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman tentang potensi dan bakat yang dimiliki anak, dan latar belakang kehidupannya. Pemahaman ini sangat penting, sebab akan menentukan teknik dan jenis bimbingan yang harus diberikan kepada mereka.
  2. Guru dapat memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan keunikan yang dimilikinya.
  3. Guru seyogyanya  dapat menjalin hubungan yang akrab, penuh kehangatan dan saling percaya, termasuk di dalamnya berusaha menjaga kerahasiaan data siswa yang dibimbingnya, apabila data itu bersifat pribadi.
  4. Guru senantiasa memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengkonsultasikan berbagi kesulitan yang dihadapi siswanya, baik ketika sedang berada di kelas maupun di luar kelas.
  5. Guru sebaiknya dapat memahami prinsip-prinsup umum konseling dan menguasai teknik-tenik dasar konseling untuk kepentingan pembimbingan siswanya, khususnya ketika siswa mengalami kesulitan-kesulitan tertentu dalam belajarnya

Belajar Matematika

Tips Belajar Matematika

Setiap orang memiliki cara yang unik dalam belajar yang mungkin saja antara yang satu dengan yang lainnya saling berbeda. Oleh sebab tidaklah benar andai dikatakan bahwa model belajar yang satu lebih unggul dibanding model belajar yang lain. Semua tergantung dengan kebiasaan dan potensi masing-masing. Seseorang memang selalu memiliki kecenderungan terhadap model atau cara belajar tertentu. Apakah itu visual, auditorial ataupun kinestetik.
Dalam tulisan ini saya akan memberikan beberapa tips yang bisa Anda ikuti ketika belajar matematika. Beberapa tips mungkin saja cocok dengan Anda, tetapi mungkin juga beberapa tips yang lainnya kurang cocok. Tidak ada yang salah dengan hal itu! Yang perlu diperhatikan adalah Anda tahu potensi dan posisi atau cara dan model belajar yang cocok dan Anda rasakan berguna unntuk mendapatkan hasil belajar yang optimal.

Belajar Matematika tidak Seperti Menonton Olah Raga

Anda tidak bisa belajar matematika cukup dengan hanya datang ke kelas, melihat guru menerangkan lalu mengerjakan soal. Tetapi lebih dari itu, Anda harus terlibat aktif di dalam setiap proses pembelajaran. Selain datang dan hadir di ruangan kelas ketika pembelajaran berlangsung, Anda juga harus selalu memperhatikan apa yang sedang dijelaskan, membuat catatan setiap materi dengan baik dan tersusun rapih, mengerjakan beberapa pekerjaan rumah meskipun tidak diwajibkan oleh guru. Anda juga perlu belajar dalam jadwal yang teratur, tidak hanya belajar ketika akan diadakan tes. Seperti itulah proses belajar yangn harus Anda lalui.
Pada kenyataannya seringkali kebanyakan siswa sekolah bahkan seorang mahasiswa sekalipun, belajar lebih keras hanya ketika mereka akan menghadapi tes matematika. Sementara di lain waktu dia tidak pernah mengulangi pelajaran yang diterimanya di kelas. Belajar demikian tentunya tidak akan berhasil optimal.

Memahami Prinsip Dasar itu Penting

Walaupun ada saatnya Anda perlu menghapal beberapa bagian ketika belajar matematika, tetapi matematika bukanlah pelajaran hapalan. Sehingga untuk menguasai beberapa konsep matematika, menghapal rumus itu tidaklah cukup. Tentu berbeda halnya ketika Anda akan menghadapi tes pelajaran sejarah. Cukup menghapal nama, kejadian atau peristiwa sejarah atau waktu berupa sekumpulan tanggal, bulan dan tahun, sepertinya Anda bisa melewati tes itu dengan baik.
Selain menghapal beberapa rumus, Anda juga perlu mengetahui beberapa hal yang berkaitan dengan rumus itu, termasuk darimana rumus itu ditemukan (penurunannya), atau batasan-batasan apa saja yang harus dipenuhi agar rumus itu bisa digunakan dengan tepat.
Beberapa rumus seringkali bersifat umum, sehingga diperlukan identifikasi dan analisa jika ingin menggunakan rumus tersebut untuk menyelesaikan sebuah persoalan terkait. Jika Anda tidak memahami bagaimana rumus itu bekerja dan prinsip-prinsip yang ada dibalik rumus itu, bukan tidak mungkin menggunakan rumus justru menjadi terasa lebih sulit. Anda harus mengingat dan memperhatikan itu, atau malah Anda hanya akan mendapatkan jawaban yang keliru.

Matematika itu Ilmu Terstruktur

Matematika adalah ilmu terstruktur dan bertingkat. Hampir semua materi matematika yang akan Anda pelajari itu saling berkaitan. Untuk bisa memahami beberapa konsep lebih tinggi diperlukan pemahaman terhadap konsep di bawahnya. Sehingga agar tidak bermasalah dengan beberapa konsep di level yang lebih tinggi, konsep-konsep di level sebelumnya itu harus dikuasai dan tidak boleh dilupakan.
Ketiga hal di atas adalah hal utama yang harus Anda perhatikan ketika belajar matematika. Tips di atas tentunya tidak hanya berlaku bagi siswa sekolah, tapi berlaku bagi siapa saja yang ingin belajar matematika di luar sekolah (Homeschooling). Jika ada tips lain yang ingin Anda tambahkan, Anda bisa menuliskannya di kolom komentar. Semoga berguna!

Catatan Yang Ditampilkan

Formulir

Formulir Daftar Peserta Didik Nama Lengkap: NIS: Kelas: Tambah Peserta Daftar Peserta Didik N...