Kamis, 28 Juni 2012

Pembelajaran Matematika Menurut Paham Konstruktivisme


Ditulis pada 11 September 2011
Hi sahabat, setelah kemarin kita membahas tentang Prinsip-prinsip Kunci Teori Konstruktivisme Vygotsky, kini kita akan bercerita tentang aplikasi teori tersebut dalam pembelajaran matematika.
Pandangan konstruktivistik tentang pembentukan pengetahuan adalah subjek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksi dengan lingkungannya. Melalui bantuan struktur-struktur kognitif ini, subjek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subjek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi. Pembelajaran Matematika Menurut Paham Konstruktivisme.
Hal terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si pebelajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Merekalah yang harus bertanggungjawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivisme, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata, http:/puslit.petra.ac.id/journals/interior/.)
Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si pebelajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si pebelajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan, tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

Pembelajaran Matematika Menurut Paham Konstruktivisme

Werrington dan Kamii (Suherman, 2001), menjelaskan suatu pendekatan pembelajaran pembagian dengan menggunakan pecahan tanpa mengajarkan algoritma tentang mengali dan membagi. Dalam kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan  masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak. Namun guru siswa setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan yang dicapai tentang apa yang masuk diakalnya.
Pendekatan ini secara radikal berbeda dengan pendekatan tradisional dimana guru adalah seseorang yang selalu diikuti jawabannya. Di dalam kelas konstruktivis para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi penyelesaian, debat antara satu dengan yang lainnya, berfikir secara kritis tentang cara terbaik untuk menyelesaikan setiap masalah.
Cobb (Suherman, 2001) mengatakan bahwa dari perspektif  konstruktivisme, belajar matematika bukanlah suatu proses pengepakan pengetahuan secara hati-hati, melainkan hal mengorganisir aktivitas dan berfikir konseptual, didefinisikan oleh Cobb bahwa belajar matematika merupakan proses di mana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika.
Para ahli matematika setuju bahwa belajar matematika adalah manipulasi aktif dari pemaknaan bukan hanya bilangan dan rumus-rumus saja. Mereka menolak paham bahwa matematika dipelajari dalam satu koleksi yang berpola linier.
Ada perbedaan yang sangat berarti pada pembelajaran matematika dengan paradigma konstruktivisme dan dengan pendekatan tradisional. Di dalam konstruktivisme peranan guru bukan pemberi jawaban akhir atas pertanyaan siswa, melainkan mengarahkan siswa untuk membentuk (mengkonstruksi) pengetahuan matematika sehingga diperoleh struktur matematika. Sedangkan paradigma tradisional, guru mendominasi pembelajaran dan guru senantiasa menjawab dengan segera terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa. Paradigma konstruktivisme guru bernegosiasi dengan siswa artinya guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan kembali yang lebih menantang sehingga siswa berfikir lebih lanjut yang menyebabkan penguasaan konsepnya semakin kuat.
Dengan demikian pembelajaran matematika menurut paham konstruktivisme dapat dirumuskan bahwa seorang guru matematika hendaknya mempromosikan dan mendorong pengembangan setiap individu di dalam kelas untuk menguatkan konstruksi matematika, untuk pengajuan pertanyaan (posing), pengkonstruksian, pengeksplorasian, pemecahan, dan pembenaran masalah-masalah matematika serta konsep-konsep matematika. Guru juga diharapkan mencoba berusaha mengembangkan kemampuan siswa untuk merefleksikan dan mengevaluasi kualitas konstruksi mereka.